Kamis, 05 Maret 2015

KAMYStory: ‘Kadocholic’

Banyak dari kita yang memiliki hobi belanja, baik wanita maupun pria. Variannya pun berbeda-beda, khusus wanita biasanya terkait dengan fashion, entah itu bagcholic, shoecholic atau yang bebas gender seperti bookcholic. Ada yang bisa mengatur ke’cholic’annya itu, ada yang tidak. Nah, saya termasuk yang nyaris tidak bisa mengatur (agak denial sebenarnya pernyataan ini hehehe). Tapi sub varian saya agak berbeda, karena tidak bisa diukur dari tingkat kebutuhannya, yaitu ‘kadocholic’. Okelah ini pemerkosaan kata memang, tapi ga enak kalau bilang ‘presentcholic’.


Persisnya ga pernah tahu siy, tapi mungkin sejak kuliah ketika saya dapat uang jajan lebih. Saya menemukan hal yang sangat menyenangkan ketika bisa membelikan kado untuk teman-teman saya. Well, sejak SMP sebenarnya sering diajak teman-teman cowo untuk memilihkan kado buat pacar mereka. Mulai dari pacar yang memang teman sendiri, hingga pacar yang ga pernah dengar profilnya sama sekali kecuali di hari itu. Biasanya pas valentine tuh. Ah, saya lupa, waktu SMP kan juga nyari kado buat pacar (halah) sedangkansejak SMA sibuk cari kado buat kecengan yang ga ada satupun jadi suami hihihiy. ..  Emang ya, lawan jenis bikin kita konsumtif.


Saya sendiri termasuk jarang kasih kado ke teman pada saat itu, maklum tak punya duit. Biasanya saya kasih kartu buatan sendiri-dan dari bahan daur ulang. Rasanya dulu memang ingin memberkan yang sesuai profilnya. Apalagi kalau ketemu teman dengan kesukaan spesifik, senang banget nyari kadonya. Makanya pas kerja saya jadi royal banget.


Nah karena itulah saya jadi tidak bisa ukur berapa sebenarnya bujet untuk kado. Tidak bisa ukur kebutuhannya, karena rasanya ingin kasih ke semua orang setiap hari. Berasa sinterklas ya gue. Apalagi begitu sudah punya anak dan masuk sekolah, jadi ada kebutuhan untuk menyetok kado dari berbagai usia, jenis, dan warna hahaha.... Soalnya gimana ya? Saya kan jarang bawa uang tunai, jadi kalau tiba-tiba ketemu teman atau saudara yang jarang bersua terus bawa anak rasanya ingin kasih buah tangan atau tetiba anak pulang dengan goodie bag, hiya ada yang ultah, masa kita ga ngadoin balik? Yah, kalo kepepet kasih uang. Cuma berasa nenek-nenek gue, hehehe ....


Sasarannya pun suka tidak pandang bulu. Ga harus teman dekat, teman dekat itu membantu saya dalam pengelompokan profil, sukanya apa, tapi ada juga yang ga teman dekat tapi terkenal dengan kesukaan spesifiknya, ya biasanya saya kasih juga. Momennya juga ga harus selalu ultah karena terkadang ketemu barangnya ga pas jelang ultah. Seringnya aji mumpung, mumpung ada hepengnya. Makanya sering kejadian tagihan kartu kredit gede tapi barang yang ada di rumah ya itu-itu aja, ga ada bekasnya selain plastik pembungkus hahaha ... maafkeeun suami, kan bayar sendiri kok tagihannya.


Saya malah pada dasarnya tidak suka kasih kado uang, kok kaya ga kreatif. Kaya ga meluangkan waktu. Memang, ketika menerima kado saya lebih suka mendengar cerita di balik itu ketimbang kado itu sendiri. Semakin susah payah, semakin saya apresiasi. Yang ga bersusah payah tapi tepat pun juga saya apresiasi. Pokoknya keliatan deh mana yang asal-asalan. Tapi ga papa, sudah ada niat baik ... saya apresiasi juga. Toh, saya juga ga berharap apresiasi juga sih, kan pasti ga selalu kado saya pas buat keinginan para ‘korban’. Biasanya terlihat dari rautnya sih dan kalau saya tidak puas , jadi penasaran untuk cari kado yang lebih baik.


Yang lucu adalah ketika mengaku diri agak terobsesi membelikan kado, saya malah merasa belum pernah memberikan kado yang tepat gunjreng ke orang-orang terdekat saya. Semisal orang tua, my siblings, even suami. Kasih yang ecek-ecek kayanya ga maknyus. Level mereka dan kedekatan saya harusnya yang kasih kado semacam tiket inggris-jakarta pp, tur mudik padang-aceh bareng cucu dan menantu, nonton n masuk langsung ke stadion Anfield, bawa ketemu Michael Jordan, atau sekadar menyusuri jalan legendaris Sherlock Holmes. Banyak ya bo !


Yah sudahlah, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan belum sampai. Hal semacam inilah yang menjadi booster saya ketika memerlakukan uang. Emang ga selalu punya waktu untuk cari uang sih, uang yang ada saja habis terus hahahaha ... Konon, jangan tunggu punya uang banyak atau tunggu hari ultahnya tiba baru dikasih kado, whenever you like whenever you have something, it will always taste better when you share it. Tapi ingat ya, jangan kebablasan ... you can’t buy friendship anyway.


Jadi, beli kado apa bulan ini? (dipelototin suami)




3 komentar:

  1. Ayayaya.. kalau gitu, aku mau Mak, dikasih kado :D

    BalasHapus
  2. kayaknya kalau ke suami, saya baru sekali ngasih kado hehe

    BalasHapus