Minggu, 07 Juli 2024

Nilai 95 Tidak Cukup di PPDB

 


Oke, setelah membicarakan kisah PPDB dua tahun lalu ketika hendak memasukkan si anak sulung ke SMP, sekarang saatnya giliran anak kedua.

Berbeda dengan si sulung, anak kedua ini setelannya berbeda. Kami semua sepakat bahwa dia memang berbakat di matematika meski gayanya random cenderung absurd. Saya sudah pantau nilainya dari kelas 4. Persis seperti yang saya wanti-wanti pada si sulung, di atas 90 dan sepuluh besar di kelasnya. Ketika nilai semester pertama di kelas 6 keluar, saya sudah dapat nilai rata-rata rapornya. 95,2 dan 10 besar. Oh, aman. Pikir saya waktu itu.

Saya sudah buat beberapa nominasi. Mau yang sifatnya ambisius atau yang aman. Beberapa skenario juga dirancang. Untuk anak yang satu ini memang sengaja tidak diarahkan ke MTS, karena dia termasuk yang fokusnya ga sebanyak kakaknya. Dan melihat kakaknya cukup struggle di bahasa Arab, saya pikir lebih baik si anak laki satu-satunya ini mending fokus di SMPN saja. Kalaupun dia mau belajar yang lain-lain bisa baca buku pelajaran kakaknya. No pressure pressure lah intinya.

Tapi begitu peringkat sidaniranya keluar … jeeeng … 21. Wah ini sih kena potong dua kali. Rupanya di SD nya nilai tertingginya 98 dan kemudian yang berderet di bawahnya ya bisa jadi hanya bersaing di belakang koma. Makanya untuk nilai 95 kenanya di peringkat 21.

Kalau di sekolah kalian nilai 95 masuk rangking berapa?

Dan buyarlah semua nominasi SMP yang sudah saya kumpulkan. Belum lagi, wali kelasnya mengkonfirmasi kalau predikat dia juara 1 di wilayah Jakarta Selatan di ajang Literasi dan Numerasi itu tidak bisa masuk ke kurasi prestasi. Benar-benar mengandalkan nilai saja kalau begini.

Saya mengira-ngira Nilai AKhirnya akan berada di nilai 60an. Oke, baik. Searching lagi, kumpulkan 3 nominasi dan nominasi lain sebagai plan B. Saya cari berdasarkan jalur angkutan sampai ke arah Blok M dan ke Jakarta Timur lagi alias ke Condet. Pas buat list baru ini, saya mulai nervous karena si nilai akhir ini meski saya diberi link untuk menghitung tetapi entah kenapa tidak bisa saya gunakan. Jadi semuanya serba gamang.

Saatnya membuat akun PPDB dan di situlah saya mengetahui nilai akhirnya jadi … 55,5.

Ini ribetnya PPDB, formula penilaiannya sungguh punya terlalu banyak aspek sehingga ketika merujuk data sebelumnya jadi tidak bisa dijadikan pegangan karena suka masih ada error-error. Dan kalau meleset, efeknya itu 4 dimensi. Ada kawan yang bilang, jangan pasang target tinggi-tinggi makanya. Man, kalaupun memang ketinggian harusnya di bagian yang aman itu bisa diterima. Kan saya bikin beberapa lapis rencana tapi semuanya buyar. Berarti kan ibaratnya nilainya bukan sekadar dikurangi tetapi diakarkuadratkan. Jadi keciiil banget.

Panik mode on. Karena dari hasil mendata itu, nilai terendahnya rata-rata di 60. Gawat, terancam tidak ada yang masuk ini. Ketika sedang panik begini, jadi ingat si MTSN. Eh sudah tidak bisa daftar akun lagi. Ingat ya gaes, daftar akun PPDB di MTSN itu ada jangka waktunya, beda dengan PPDB SMPN. Seketika saya langsung merasa, did I do something wrong. Did I just push my son to wrong path. Macam-macam lah. Sampai saya kesal sendiri karena merasa sistem PPDB ini benar-benar bikin stress orangtua, apalagi kalau orangtuanya milenial. We were struggle when we were kids, learned my a** off just to get the best point, now we have to endure the same stress when we become parents?

Daftar SMP belum saya ubah, karena yah seperti masih berharap gitu lah. Saya lihat dari jalur prestasi non akademis harusnya masih ada kemungkinan. Dari datanya cukup banyak SMP di sekitar yang mayoritas nilai akhirnya di 30an. Memangnya bisa kalau tidak ada prestasi non akademis tapi mendaftar ke situ? Bisa. Intinya di nilai akhirnya cukup atau tidak.

Tibalah harinya. Hari pertama PPDB itu adalah momen pengembalian murid dari guru ke orangtua murid. Sudah pasti tidak bisa memantau dari pagi dan seperti biasa servernya sempat ngadat. Begitu acara selesai dan menjelang sore, saya cek lah kondisi medan pertempuran. Saya mau sumpah serapah pun jadi tak bisa. Semua SMP yang tadinya masih ada peluang di non akademis tiba-tiba nilainya di atas 60. I was like … gimana sih, rasanya kaya pupus harapan gitu loh.

Melihat saya panik mencari sekolah, si sulung berkomentar, “Lah, sama aja dong dia sama aku. Susah-susah juga cari sekolahnya.”

Mendengar dia berkomentar begitu, saya jadi curiga apa dia merasa bagaimana gitu dengan komentar saya tahun lalu (lihat postingan PPDB sebelum ini: Kenapa MTS?). Mental suka menyalahkan diri saya kumat lagi dan itu benar-benar bikin level stress menanjak tajam.

Ya sudah, setelah pura-pura menenangkan diri akhirnya bikin list SMP baru. Kali ini sudah dalam titik ya sudah pokoke harus negeri. Kenapa ngoyo banget? Melihat bapake yang senewen berhari-hari dengan situasi anaknya kemungkinan masuk swasta, lalu sibuk menyalahkan kegiatan leyeh-leyeh anaknya di hari libur, saya tahu itu artinya doi tidak punya dana untuk menyekolahkan ke swasta. So, harus dapatlah! Itu misi saya.

The show must go on, mau gue stress atau ga.

Saya buka google dan mulai menulis “SMP Negeri di Jakarta Selatan“ atau “SMP Negeri di Jakarta Timur” Karena itu yang paling bisa dijangkau dengan kendaraan umum. Saya catat semua SMP yang muncul lalu lihat rute jalannya, pantau durasi dan berapa banyak harus transit dan jalan kakinya. Setelah itu, saya lihat perolehan nilai di web PPDB.

Kuota jalur prestasi itu apalagi yang non akademis sangat sedikit. Jadi sering sekali dari semua list yang tersedia, posisinya selalu 3-5 dari posisi buncit. Setelah semalaman mencari, keesokan harinya saya mulailah memasukkan pilihan: SMP 15, SMP 46, dan SMP 209.

Posisi di SMP 15 pada pukul 8 adalah 10/12. Di sini saya baru ngeh kalau nilai akhir non akademis dan akademis itu berbeda. Jadi nilai si anak laki ini jadi tinggal 37,5 kalau di non akademis. Makin stress ga tuh …

Lalu pada pukul 10 peringkat turun jadi 12/12.

Pukul 12 terdepak.

Langsung lanjut ke SMP 46, posisi 5/7. Posisi ini lumayan awet sampai malam. Hari ketiga, beda lagi ceritanya.

Pukul 9 pagi, sudah terdepak dari SMP 46. Lanjut ke SMP 209 posisi 12/14. Saya sempat cek lagi pukul 11.30 karena kebetulan ada teman yang juga lagi PPDB SMA dan sepagian tadi dia update perihal orang-orang yang baru masukin nama anaknya sehingga mulai terjadi pergerakan yang signifikan meski proses seleksi akan berakhir beberapa jam lagi. Saya lihat, posisinya belum berubah. Oke, mari ishoma dulu.

Selesai ishoma, pukul 12.45. Resmi terdepak di tiga sekolah.

Waktu tinggal 75 menit lagi, entah bagaimana saya merasa harus cari lebih detail lagi. Lagi-lagi saya buka google dan saya ketik “SMP Negeri di … “ Saya runut per wilayah yang masih masuk akal jangkauannya. Pancoran, Pasar Minggu, Jagakarsa, Lenteng Agung, Condet, Kramat, Blok M, Setiabudi … Meski masih menemukan beberapa nama sekolah yang tidak saya temukan sebelumnya, tetap saja ada banyak sekali sekolah yang harus saya coret karena sudah tidak tersedia kuotanya. Tersisa satu, SMPN 247. Posisinya masih bisa 4 kursi lagi untuk nilai di bawah anak saya. Pukul 13.00 saya mendaftar lagi dengan pilihan satu sekolah itu. Eh kaget dong, karena ternyata posisinya jadi 9/10. Rupanya pada saat yang bersamaan, ada tiga anak yang mendaftar ke sana-mungkin nasibnya sama dengan saya-dan nilainya lebih tinggi.

Pukul 13.45 atau 15 menit menjelang pendaftaran jalur prestasi ditutup, saya memutuskan tutup laptop. Yah kalau terdepak juga pun sudah tidak ada opsi yang lain lagi.

Setengah jam kemudian, wali kelasnya chat wa saya berisi: Selamat ya sudah aman posisinya di SMPN 247.

Saya bahkan sudah tidak ada energi untuk lega. The power of didepak-depak itu ngefek banget ke saya. Saya lalu membuka screenshot daftar murid yang dikirim oleh walas. Tahu anak saya di posisi berapa? 10/10. Di 15 menit terakhir bisa-bisanya ada satu orang yang menggeser. Duh semoga yang terdepak sudah mendapatkan tempat yang lebih baik. Dan yang lebih menyebalkannya adalah, ketika seminggu kemudian saya lihat lagi daftar murid yang telah diterima, rupanya ada satu orang yang tidak melakukan lapor diri. Lah lo buat apa daftaaaaaaar!!! Bikin kesel aja. But anyway, semoga mereka memang punya alasan yang kuatlah. Soalnya suka sebel sama orang yang sudah ambil kuota eh tidak diambil karena mau coba yang lain-kan sayang itu bisa jadi jatah orang lain. Yah walau kalau di PPDB, yang tidak lapor diri kuotanya jadi digunakan untuk jalur tahap akhir. Cuma tetap saja kesal lihatnya. Jangan dibiasain lah kaya begitu. Ada orang yang jumpalitan buat dapat sekolah negeri oooy …

Kenapa kemudian tidak bisa lega-lega banget? Karena yang menjadi tugas selanjutnya adalah bagaimana caranya supaya tidak terjadi hal serupa di PPDB SMA. Les, eskul, lomba … oh my God apakah aku kini menjadi ibu-ibu ambis? Awalnya saya lihat orang lain ya kelihatannya begitu, tapi begitu kena dua kali PPDB SMP, jangan-jangan kalau ortu ga ambis, ya lo kelibas … ah damn.

Yang menarik adalah, ada orang-orang yang meng-aknowledge pergerakan saya di dunia PPDB dan memuji, kata mereka saya niat banget cari sekolah. Ya gimana, kantong kering mencekik dan jelas tidak ada peluang di zonasi pun di tahap akhir. Sungguh disayangkan memang banyak orangtua yang memilih tidak segitu berjibakunya karena tidak mengerti atau merasa terlalu rumit, sehingga ada yang menyerah atau menyuruh orang. Bahkan untuk metode bisa daftar lagi setelah terdepak di 3 pilihan saja, juga masih banyak yang tidak tahu- termasuk bapake kawanan dino. Ya karena se-tricky itu.

Ini tuh Jakarta, kebayang kan kalau di daerah?

Tahun depan saya akan kembali ke PPDB dan rasanya kepala makin cenat-cenut. Saya memberikan catatan tambahan untuk si sulung. Ini semester terakhir kamu, pe er masih banyak. Yang sabar ya … yuk kerja keras.

 

Minggu, 30 Juni 2024

Love Language – Paket Komik dari Abang lewat JNE

 



Beberapa bulan setelah saya menikah, abang saya dan keluarga pindah ke Inggris. Itu artinya sudah hampir 16 tahun yang lalu. Dari 16 tahun itu, rasanya satu tangan pun belum tuntas untuk menghitung momen mudiknya.

Kami empat bersaudara. Saya si bungsu dan si abang si tertua. Kemiripan karakter antara anak ujung ini memang membuat kami lebih banyak berinteraksi. Sebelum menikah, saya biasa duduk di lantai di samping kursinya, memandangi si abang tengah mengutak-utik gambar di komputer. Atau, dia akan selalu melongok ke kamar saya sepulang dia kerja-karena saya bertugas membereskan meja setelah makan malam dan dialah yang terakhir makan di pengujung hari.

Kami empat bersaudara. Dibesarkan dengan buku sebagai satu-satunya hiburan setelah TV yang juga dibatasi jamnya. Buku saat sakit, saat liburan, saat ke rumah teman atau ke rumah saudara, saat tidak ke mana-mana. Buku dibeli, buku dipinjam, atau majalah berlangganan. Bisa dikatakan love language kami adalah, buku.

Abang sulung saya itu termasuk yang pertama membeli buku sendiri dari uang jajannya. Buku komik beraliran mecha biasanya karena dia memang suka menggambar robot. Lalu kemudian dia mendapatkan majalah Annida gratis karena menjadi kontributor komik. Saya sebagai bungsu, setiap pulang sekolah cukup menunggu tiap minggu atau bulannya, komik-komik atau buku baru dari ketiga kakak saya. Seperti menanti kabar gembira, menunggu salah satu dari mereka berkata “Ada komik baru tuh.” Dan saya langsung menghambur ke kamarnya.

Dan ketika kami mulai hidup berpencar-pencar, adalah untaian kata yang mengobati kerinduan. Berbagi kabar dari milis, kemudian berlanjut ke media sosial. Si abang tidak banyak merangkai kata, tetapi dia tetap gasss semangat kreativitasnya dengan mengisi media sosialnya dengan karya-karya ilustrasinya yang dibuat versi video ketika dia menggambarnya. Like old times, tapi versi online.

Kemudian sejak e-commerce mulai ramai, dia pun mulai menitip dibelikan buku. Biasanya komik-komik karya kawan-kawannya. Dialamatkan ke rumah orangtua dengan harapan ketika mudik akan dibawa ikut ke Inggris. Dan ketika keponakannya semakin besar, dia pun mulai membeli komik tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk para keponakannya. Sehingga meski kemudian mudik itu menjadi semakin jarang terjadi, silaturahmi tak kemudian pudar meski di level keponakan yang memang tidak punya rekam jejak banyak akannya.

Saya yang biasanya akan memesankan buku sesuai permintaannya dan ketika paket diantar kurir JNE tiba di satpam saya bahkan masih menyambutnya dengan gembira dan berdebar. Betapa tidak, kecepatan kemunculan paket itu sering kali lebih cepat dari yang diharapkan. Ketika kembali ke rumah setelah menjemput anak-anak pulang sekolah, satpam akan berkata, “Bu, ada paket buku.” Dan saya langsung menghampirinya.

(Sumber: www.instagram.com/rumah_melati)


Lalu aksi kirim-kirim buku itu mengalami peningkatan. Rupanya abang saya ini gasss terus semangat kreativitasnya meski tengah di negara orang. Dia berkolaborasi dengan komikus Indonesia lain dan  membuat komik. Dan bukunya terbit di sini, sementara dia tetap tinggal di sana. Saya lalu menawarkan diri menjadi manajer penjualannya di sini. Jadi dia tetap bisa mempromosikan karyanya dan saya yang mengurus pengirimannya. Awalnya, dia ragu menerima permintaan saya karena tidak mau merepotkan saya yang punya 3 bocah di usia di bawah 10 tahun. Namun, saya bilang bahwa kantor JNE tersedia di Kalibata City. Selama masih di Kalibata City, tidak ada yang jauh dan merepotkan bagi saya. Lalu dibuatlah akun lapak bukunya di Instagram di mana saya sebagai adminnya juga.

Kantor JNE termasuk pelayanan kurir pertama yang tersedia di Kalibata City. Mulai dari masih serba manual pengisian datanya yang mengakibatkan antrian panjang hingga kini sudah menggunakan komputer dan kalau dari e-commerce bahkan langsung tercetak alamat pengirim dan penerima. Jadi sebenarnya tidak terlalu perlu saya mencetak stiker khusus untuk Alamat. But I still do it anyway karena itu ongkos branding yang murah ketimbang mencetak kemasan khusus.

Lalu terbitlah karya-karya kolaborasinya, serial Liqomik, Papomics, Palestina, dan Nusantara Warriors. Tak hanya karyanya, tetapi juga karya temannya yang lain. Dengan memiliki lapak buku, dia jadi bisa ikut membantu penjualan komik kawannya yang berpulang ke rahmatullah sebelum komiknya terbit. Komik Pahala Mengalir terbit secara gotong royong dan seluruh royaltinya untuk para ahli warisnya.


(Sumber: www.instagram.com/toko_new_rule)


Tidak berhenti di situ. Anak semata wayangnya pun mengikuti jejak sang ayah, ikut berkolaborasi dari jarak jauh dan terbitlah Comic Junior #1 Berbuat Baik. Saya yang sekadar menjadi admin pun merasa tengah connecting happiness melihat tanggapan pelanggan baik atas karya abang atau keponakan saya. Meski jauh dari komunitasnya, abang masih mendapat apresiasi di tanah air. Apalagi tidak pernah ada masalah dengan pengirimannya, semua tiba dengan selamat dan dapat dipantau kapan pun. Sehingga citra baik abang dan karyanya juga ikut terjaga.



Belakangan saya sedang rindu karya abang saya yang baru, sekadar agar bisa sering-sering silaturahmi ke JNE dan connecting happiness, my happiness karena bangga pada abang saya yang tak surut semangatnya dalam berkarya. Ayo, Bang, gasss terus semangat kreativitasnya.  


#JNE#ConnectingHappiness#JNE33Tahun #JNEContentCompetition2024 #GasssTerusSemangatKreativitasnya  

Senin, 24 Juni 2024

Kenapa MTSN?

 

Ini kisah PPDB dua tahun lalu. Kisah yang cukup membagongkan bagi saya hingga sulit saya tuliskan di media sosial saat itu. Sekarang, rasanya saya sudah siap karena tengah menjalani PPDB juga untuk si anak tengah. Waktu itu awal tahun 2022, saya baru saja mendapatkan nilai sidanira dan juga bocoran peringkat si sulung untuk masuk SMP. Dengan nilai rata-rata 89, dia berada di peringkat 30-an untuk satu Angkatan berjumlah 60 orang. Waktu itu, saya hanya mengira-ngira nilai akhirnya, lalu mencocokkan dengan data PPDB tahun lalu.

Sejak awal saya tahu, si sulung tidak akan bisa lewat jalur zonasi. Waktu PPDB SD saja, dia berada di posisi dua dari bawah karena usianya masih 6 tahun 3 bulan. Enam tahun kemudian, peluang masuk SMP lewat jalur zonasi tentu semakin kecil saja. Oleh sebab itu, target saya, bangku terakhir. Hal itu karena ya saya memang punya semangat tidak kasih pressure ke anak untuk ikut lomba saat masih duduk di bangku SD. Makanya, dia tidak punya catatan prestasi sama sekali.

Namun, saya tidak benar-benar sreg jika hanya mengharapkan bangku terakhir. Tentu tahu, bangku terakhir itu jumlahnya sangat sedikit dan tidak pasti sama dengan tahun lalu. Di tengah kebingungan itu, kawan saya berkomentar di WAG, “Kenapa ga coba MTS?”

Jujur hingga saat itu, saya masih merasa MTS itu seperti sekolah buangan. Itu hingga saya coba buka situsnya https://ppdb-madrasahdki.com/#/02 MTS itu sama gratisnya dengan SMP, begitu juga dengan jenjang di bawah dan di atasnya. Pembedanya adalah MTSN berada di bawah naungan Kementrian Agama.

Dan saya cek lah arsip tahun lalu lalu terpukau dengan nilai-nilainya. PPDB MTSN tidak menggunakan sistem presentil sehingga nilai yang diambil murni sidanira. Saya pikir, Wah, boleh juga nih.

Saya lalu membuat daftar incaran MTSN yang sesuai dengan jangkauan. MTSN 4 berada di posisi puncak, berlokasi di Jagakarsa. Lalu ada MTSN 6 yang berlokasi di Condet. Salah satu kekurangan dari MTSN adalah lokasinya yang minggiiiiir banget. Sebenarnya ada MTSN yang lebih dekat posisinya dari tempat tinggal saya di Kalibata City, masalahnya tidak accessible. Sebagai pengguna transportasi umum sejati, jarak sedekat itu tapi pulang pergi harus mengandalkan ojek yah sayang saja.

 

PPDB SMPN

Dan tibalah saatnya PPDB SMPN. PPDB MTSN sudah dimulai lebih dulu karena ada lebih banyak jalur yang digunakan, seperti jalur madrasah, boarding, zonasi, dan tahfidz. Saya sempat mempertimbangkan jalur tahfidz tapi minimal 3 juz dan si sulung ‘baru’ 2 juz dan tidak pernah sempat mengikuti sertifikasi karena terhadang pandemi sehingga berulangkali dibatalkan. So, I guess, bukan di situ jalannya. Kesempatannya hanya di jalur regular dan jalur akhir. Sementara untuk jalur akhir MTSN dilaksanakan bersamaan dengan PPDB tahap akhir SMPN. Jadi memang gongnya di jalur akhir banget semuanya.

Saat jalur prestasi, saya masih tenang karena memang tidak mengikutsertakan anak di jalur itu. Memantau penyisihan, berapa banyak siswa dari sekolah yang sama diterima di jalur prestasi. Saat jalur zonasi, juga seharusnya saya tenang karena tahu persis umur anak saya tidak akan masuk. Akan tetapi, saya stress juga melihat bahwa betapa sedikitnya kuota yang tersisa untuk zona 3 di sekolah mana pun. Hanya 3 atau 4 orang dan itu pun pasti sudah berusia lebih dari 13 tahun. Saya jadi memastikan, wah kalau begini sih anak kedua nanti juga tidak bisa ikut jalur zonasi.

Sementara itu, si bontot yang juga masuk PPDB untuk tingkat SD, nyaris terlupakan. Syukurnya umur dia lebih dari cukup atau 7 tahun lebih 2 bulan. Jadi, saya hanya perlu memasukkan satu nama sekolah dan membiarkannya begitu saja. Aman tentram tak tergeser banyak.

Tidak seperti sang kakak yang pada jalur reguler MTSN nilainya terus tergeser dan akhirnya tidak diterima di dua sekolah yang diincar. Tenang … masih ada jalur akhir. Saya melihat dari perolehan nilainya, seharusnya nilai anak saya ini masih bisa bersaing di bangku kosng.

Tibalah waktu penentuan. Jalur tahap akhir atau biasa disebut bangku kosong, karena memang merupakan akumulasi kuota-kuota yang tidak terpenuhi misalnya dari jalur nakes atau kjp atau bahkan karena ada yang tidak lapor diri setelah diterima dari salah satu jalur tersebut. Rata-rata jumlahnya sama dengan data tahun lalu. Saya memutuskan untuk fokus dulu di PPDB SMPN karena saya tidak mau nanti malah diterima dua-duanya, kasihan nanti ada jatah orang yang saya kemudian sia-siakan karena tidak lapor diri.

Walau punya rencana cadangan, tidak menyurutkan kegigihan saya mencari SMP yang bisa menerima nilai akhir anak saya. Kenapa harus gigih? Karena memang sesusah itu … Beberapa kali geregetan karena nilai-nilai terbawah di SMP-SMP hanya terpaut dua poin dari nilai akhir anak saya. Momen ini yang kemudian memicu komentar di dalam hati, ah coba nilai dia di atas 90. Komentar dalam hati ini memicu kilas balik ketika si sulung ini selalu bilang, “Cuma salah satu, kok.” “Masih 90 an kok.” Setiap kali saya tanya nilai ulangannya. Setelah itu, muncul kesal ke anaknya.

Melihat data bahwa nilai anak itu tidak diterima di berbagai SMP itu rasanya kaya ditolak. Sudah pula saya pengalaman pribadinya ditolak cowok terus, menghadapi ini tuh kena juga mentalnya. Tapi kan anakku ga bodoooh. 89 itu di sekolah lain masih sepuluh besaar. Teriak pikiran saya.

Setelah memastikan memang tidak ada SMP yang bisa didaftarkan, akhirnya langsung pindah haluan. Ke MTSN. Pagi-pagi sekali saya sudah cek di web PPDB MTSN, melihat sisa kuota. Saya buka MTSN 4. Hanya ada 4 kuota. Saya kaget sekali. Padahal data tahun lalu itu ada 20 kuota, kok ini jauh sekali perbedaannya. Meski angka ini sebenarnya lazim di SMPN. Kalau hanya 4 kursi, ya wassalam tidak bersaing lah nilainya. Jadi saya mencoret MTSN 4 dari list dan langsung mendaftar ke MTSN 6. Posisinya aman hingga hari akhir meski agak-agak tergeser di bagian tengah. Alhamdulillah …

Saya kemudian memberi catatan pada si sulung, “Kak, inilah makanya jangan menganggap remeh nilai-nilai kurang satu. Kamu bukannya ga pintar, tapi banyak orang yang lebih ngotot sama nilai. Nanti jangan sampai rata-rata di bawah 90 dan harus ikut eskul, aktif ikut lomba.” Si sulung mengangguk dalam diam.

 

PLOT TWIST

Yes, ada plot twist. Beberapa hari setelah fiks diterima dan sudah lapor diri, saya menerima telepon dari salah satu wali murid dari kelas sebelah. Saya sudah tahu itu siapa karena sebelumnya sudah ada yang memberitahu karena si wali murid itu juga mendaftar di MTSN 6. Ah, mau nanya soal daftar ulang mungkin, begitu pikir saya.

Saya sudah menyambut dengan riang karena akan punya anak sama-sama di MTSN 6, lalu dia bilang, “Oh ga jadi, dia masuk MTSN 4.”

Hah kok bisa. Saya ingat betul anaknya ini diterima di MTSN 6 sebagai pilihan kedua, sementara MTSN 4 pilihan pertama.

“Iya, jadi ternyata ada error di MTSN 4. Sebenarnya kuotanya bukan 4 tapi 20. Nah biar tidak ada penumpukan massa di sekolah, jadi hanya diberitahukan ke yang menghubungi langsung saja. Jadi semua yang terdata di PPDB mendaftar ke MTSN 4 akan diseleksi secara manual oleh pihak sekolah.”

I was like …. What … What on earth …

Saya punya nomor admin MTSN 4 tapi saya memutuskan tidak bertanya ketika melihat kejanggalan itu. Oh tidaaaaaak, apakah ini salahku?

Setelah beberapa sesi menyalahkan diri, saya menenangkan diri dengan bilang, “OK, ini qadarullah namanya, Ti.”

Iya, saya tidak menafikan takdir, cuma kenapa harus dikasih tahuuuu aaaaargh …

Saking plot twist-nya makanya saya baru bisa cerita sekarang. Karena rasanya masih aaaaargh aja hehehe …

Anyway, anaknya kemudian jadi anak MTS, doing great (at least for me) dan tahun depan sudah akan di arena PPDB lagi. Fiuuh …

Jumat, 20 Maret 2020

Social Distance Kawanan Dino di Hunian 36m2



Terhitung sejak Senin, 16 Maret 2020, baik anak-anak dan suami mengikuti anjuran Guberbur DKI dengan melakukan social distancing terkait meningkatnya status penyebaran Covid-19 menjadi pandemi. Work From Home dan Home Learning. Begitu bahasa kerennya. Alias apa-apa #dirumahsaja. Sebagai seorang ibu rumah tangga, hal ini bukan situasi baru, maklum masih punya anak kecil yang belum sekolah. Jaga kandang dah jadi pekerjaan utama saya. Belum lagi, saya pun termasuk introvert. Maka kerja di rumah (yang berduit maupun ga), olahraga via youtube, bikin konten di rumah, dah lazim ada di jadwal saya. Namun, rupanya tidak membuat saya jadi lebih mudah menghadapi semua ini.

Karena ini bukan liburan. Ketika anak bebas main game di ponsel, nonton sampai belekan, main di luar sampai dekil, atau ke mal hingga duit habis. No. It’s not like that. School from home artinya ada tugas yang disampaikan gurunya. Ada tahfidz yang kemudian jadi dilakukan via online.
Hari pertama, ketika semua masih kagok. Para orangtua lintangpukang. Koordinasi sana-sini. Dokumentasi, lalu share ke nomor yang terkait. Belum lagi anaknya bertingkah karena merasa tengah liburan. Yang dari pagi dah nagih soal, tapi karena belum ada dia jadi main dulu hingga siang. Dan begitu siang, sudah ga mood. Akhirnya butuh 3 jam untuk menyelesaikan 20 soal. Semua usaha ini dikalikan dengan jumlah anak. Itu pun masih ditambah, pertengkaran rutin para kawanan dino. Hasilnya? Senewen tingkat tinggi. Kepala saya pening, mata berkunang-kunang saat magrib menjelang.



Hari kedua, sudah ada jadwal. Disesuaikan dengan jam sekolah. Akhirnya dua ponsel saya jadi bermanfaat. Tadinya hanya satu yang diaktifkan, tapi karena masing-masing anak dapat tugas yang terkadang berupa soal baru yang tidak ada di buku, jadi yah masing-masing pegang, kecuali saya. Ketergantungan saya pada gawai diuji nih. Dari pukul 7 hingga pukul 12. Rupanya penjadwalan ini, membuat anak laki-laki saya kewalahan. Padahal di sekolah toh sama saja muatannya, entah kenapa motivasi berkurang. Mungkin karena tidak ada faktor main di lapangan, jajan di kantin ... Jadinya begitu pukul 11, dia mulai meraung-raung ga jelas. Cuma gara-gara tidak bisa jawab soal, yang dia dah tidak punya hati untuk berpikir jernih pun melihat di buku pelajarannya. Aksi ngambek yang dimulai dari pagi ini dan berlanjut ke siang ini, muncul lagi jelang sore. Akhirnya sesi tahfidz yang biasanya video call dan saya dampingi, saya lepas saja. Terserah deh hasilnya bagaimana. Hasil akhir? Entahlah ...


Hari ketiga, seperti hari kedua. Si kakak sudah bisa mengikuti ritme. Pagi-pagi mengerjakan soal di lorong hingga Om OB datang untuk bersih-bersih. Sebelum zuhur sudah rampung, meski dia ga harus menyetorkan foto kegiatan hari itu. Sementara si anak tengah, dan lagi-lagi anak laki, masih meneruskan mode berulahnya. Tugas dari sekolah sudah mulai bervariasi. Hari itu ada pelajaran agama yang diminta menyerahkan foto dan video saat tengah melaksanakan shalat dhuha dan fardhu. Meski dengan protes sana-sini, “kenapa harus difotoooooo!” akhirnya terlaksana juga tapi Amy ga sempat bikin background rapi. Ya sudah lah, biarin kelihatan jemuran bajunya. Ternyata tidak hanya itu tugas agamanya. Satu lagi, diminta membuat list perbuatan baik di rumah. Nah loh. Anaknya lagi rese begini. Alhasil, hingga jelang pukul 8, saya belum bisa kirim laporan, karena memang belum ada perbuatan baiknya. Wong, bikin kesel melulu. Ya sudah, saya serahkan pada si anak silahkan berasumsi sendiri, apa perbuatan baiknya hari ini. Ditulisnya, “mengambil selotip untuk Amy”. Iye, itu doang yang dia kerjain!!!! (breath in, breath out).



Hari keempat, setelah amukan pol Amy di hari Rabu, saya agak lelah kalau harus ngegas juga hari Kamis ini. Syukurnya gurunya kian kreatif memberikan tugas, dibagikannya video yang kemudian saya balas dengan permintaan voice note dari dirinya. Untuk mengobati rindu anak-anak muridnya. Well, actually, saya yang rindu mengirim anak-anak ke sekolah. Berasa ga sih kalau rasanya kurang berterimakasih pada guru-guru anak-anak kita? Hari ini edisi baper bin mellow lah. Saya pikir variasi tugas dari gurunya akan bikin anaknya lebih semangat. Eh mulai lagi dong tantrum ... kali ini bukan karena susah, tapi karena menurut si anak laki, terlalu banyak soal yang harus disalin sementara waktu sudah menunjukkan pukul 12. Setelah beberapa menit mendengar dia meraung-raung, saya putuskan mendekatinya. Elus-elus dadanya, tanya masalahnya apa. Yak, ilmu parenting Cuma bisa dilaksanakan kalau ortunya juga lagi waras. Kalau lagi ga, mending di kamar aja deh. Anyway, dalam derai airmatanya, si anak laki berucap, “buat apa aku terusin lagi, sudah jam 12!! Nanti ga dinilai lagi!!” Yaelah, anak cowo drama.

Lalu saya kirim pesan ke gurunya. Gurunya bilang akan menunggu, lalu menambahkan, “di sekolah juga tulisnya banyak tapi selesai.” Dan anaknya kemudian tenang sendiri dan mulai melanjutkan tugasnya. 30 menit kemudian, selesai. Eh tapi itu belum selesai, ada tugas PJOK. Saya pikir disuruh kirim video senam, rupanya diminta mengirimkan foto Perbuatan Menjaga Kebersihan di Rumah. Here we go again. Eh tapi rupanya si anak cowo malah semangat ketika diminta lap lemari buku dan difoto saat membereskan mainan- dengan catatan yang difoto pas taruh kotak mainannya, bukan lagi beberesnya. Malu rupanya dia kalau aib kamar kaya kapal pecah gara-gara dia tebar mainan terumbar bahkan viral di media sosial ^^. Urusan tahfidz juga lumayan. Dia jadi belajar menggunakan fitur mengakhiri video (iye, itu kali-kali pertama kawanan dino menggunakan fitur video call secara intens), mematikan suara alias mute saat group video call dan sekarang belajar menggunakan voice note.

Yap hari ini, hari kelima, ada satu pertanyaan yang diminta gurunya disampaikan via voice note. Harus tepuk tanganlah buat walikelas si anak cowo ini. Karena kalau di sekolah negeri kan yah tergantung kapasitas dan kreativitas gurunya supaya ga monoton kirim-kirim tugas untuk muridnya. Harus dijaga interaksinya. Mengingat belum tentu semua anak bisa diajak kumpul via zoom atau google classroom. Pagi ini, guru agamanya mengirimkan voice note agar setiap anak melakukan tadarus pagi. Pembiasaan yang memang dilakukan setiap Jumat. Mana harus difoto pulak. Anak cewe ribet harus pakai kerudung dan ganti celana panjang dan didobel jaket. Maklum belum pada mandi. Dan anak cowo (yes, dia lagi) ngambek karena terpaksa menghentikan tontonannya, Harry Potter and the Sorcerer Stone untuk ke sekian juta kalinya. Akhirnya tadarus sambil pangku alQuran tapi ditutup lalu lama-lama tiduran. Yeah, tadarusnya di luar kepala. Malah saya yang dikoreksi sama dia. But guess what, sekarang pukul 9 pagi, dan dia sudah selesai semua tugasnya. Mungkin karena lebih sedikit dan karena senang dengan salah satu latihan yang pakai google form, juga karena Harry Potter maraton di TV ... yah sudahlah.

Sehari-hari memang nyaris tidak berubah. Saya tetap membangunkan mereka saat subuh dan masih memberi kesempatan bagi mereka main di luar selama 30 menit karena aslinya mereka anak outdoor. Sementara bapaknya, meski judulnya work from home, lebih tepatnya bagi dia adalah work from coffee shop karena kayanya sulit bagi dia kerja kalau digelayutin sama kawanan dino. Sementara saya, yah porsi masak saya jadi banyak sih. Belum lagi diminta suami agak ngestok makanan sebelum harga naik. Kulkas saya yang biasanya isinya kembang es aja, jadi penuh, tumben. Walaupun kepadatan makanan ini sebenarnya akan habis dalam dua minggu, tapi setidaknya ga harus belanja setiap hari. Tapi tiap hari ada aja sih yang perlu dibeli, batere komporlah, roti lah, selai lah, sayur lah. Yah intinya dilakukan pagi-pagi banget biar ga ketemu banyak orang, belanja cepet-cepet, langsung pulang. Ga pakai selfie-selfie ... ^^

Semoga semakin hari kami semakin baik. Begitu juga bumi.


Jumat, 28 Februari 2020

JJS: Sail & Dinner Trip ke Museum Sejarah Jakarta & Pelabuhan Sunda Kelapa


Sudah lama sebenarnya ingin ikut tur dalam kota sama komunitas sejarah atau komunitas pejalan kaki. Kali ini dapat tema dan waktu yang pas bareng Indonesia Hidden Heritage. Yang saya incar adalah Pelabuhan Sunda Kelapanya dan disebutkan akan makan malam di Marina Batavia, persisnya di rooftop nya. Bayangan akan laut dan langit senja tentu membuat semangat saya melambung-lambung. Bayarnya cukup murah, Rp. 165000,- saja sudah termasuk makan malam.


Memang, bisa lebih murah kalau jalan sendiri, tapi yah beda berapa sih, terkadang kan bareng-bareng yang lain meski ga ada yang kenal bisa menciptakan pengalaman tersendiri. Maka setelah saya mampir ke dua Museum: Museum Bank Mandiri untuk melihat Pameran Opera Omnya dan Museum Bank Indonesia yang sebenarnya cuma mau numpang kamar kecil tapi jadinya tawaf juga di dalam sana, saya bertemu dengan rombongan dengan dresscode sailor alias nuansa garis biru putih. Hampir semuanya perempuan. Ada sih laki-laki, last minute tapi. Itu pun orang Indonesia yang baru balik dari Kanada. Lalu ada satu bule, karyawan IKEA. Kalau ga salah ingat, ada 11 orang belum terhitung pemandu dari Indonesia Hidden Heritage.




Awalnya, saya pun kaya yah relain lah, karena saya sudah beberapa kali ke Museum Sejarah Jakarta. Apalagi status saya lulusan Program Studi Belanda. Ceritanya sombong. Tapi rupanya dengan menggunakan guide dari Museum Sejarah Jakarta, saya baru tahu kalau ada yang namanya Ruang Mural. Saya selalu melewati ruangan ini tapi ga pernah benar-benar menyimak kalau isinya adalah bakal mural. Maklum, yang sudah diwarnai baru satu setengah sisi, selebihnya masih sketsa karena pelukis nya meninggal dunia. Duh kalau tahu begini, jadi ingat keterangan di pameran Opera Omnia terkait usaha para seniman mengembalikan lagi warna karya Leonardo da Vinci atau ya bahkan membuat replika dengan resolusi tinggi seperti yang dipamerkan di Museum Bank Mandiri. Harusnya sih bisa ya... soalnya sudah ada yang mulai pudar.. Malah saya inginnya diwarnai saja full.. Biar tuntas...





Setelah dari Museum Sejarah Jakarta, kami naik angkot dari depan Museum Bank Mandiri menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Lucu sih, ada yang sudah lama ga naik angkot, bahkan ada yang belum pernah naik angkot. Kayanya kalau trip begini memang ga bisa manja-manja, yang penting semua bareng-bareng.


Butuh sekitar 15 menit sebelum kami tiba di tujuan. Kebayang kalau kami memilih jalan kaki hahahah... Pelabuhan Sunda Kelapa pernah menjadi pelabuhan utama pada masanya. Kini, Pelabuhan Sunda Kelapa hanya beroperasi untuk kegiatan antar pulau. Yah, kan Jakarta punya banyak pulau. Banyak kapal-kapal phinisi bersandar. Dan tentu saja tumpukan kontainer yang menggelitik hasrat selfie saya. Di Pelabuhan Sunda Kelapa, kami mencoba naik perahu. Satu alasan kenapa saya tidak ajak kawanan dino, karena sudah menyangka akan naik perahu kecil yang sangat rentan terbalik kalau penumpangnya ga bisa tenang.




Langit biru terang dan air laut ga banyak sampah apalagi bau, jadi berperahu 30 menit itu terasa melayang begitu cepat. Sekadar melihat dua mercusuar merah dan hijau yang saya tidak tahu apa cerita di baliknya. Juga untuk merasakan berada di tepi Jakarta. Saya membayangkan, kapal-kapal dari Rotterdam pernah bersandar di sini.





Lepas naik perahu, kami berjalan ke destinasi terakhir yaitu Marina Batavia. Sebuah gedung tua berbatasan merah yang sempat terlihat dari perahu kami tadi. Saya yakin tempat ini dulunya adalah tempat yang terkait dengan urusan pelabuhan. Entah itu kantor atau tempat lelang. Yang pasti, itu bukan tempat makan dari dulu.




Meski kami disambut oleh patung dengan kostum tentara Belanda di gerbang, tapi interiornya justru lebih terasa nuansa tiongkoknya. Entah karena memang hari itu tengah perayaan cap go meh atau karena yang mengelola adalah keturunan Tionghoa. Apa pun, bagi saya itu menggemaskan, rasanya mau berlama-lama di situ. Tamu-tamunya juga banyak yang datang karena kumpul keluarga dalam rangka Cap Go Meh. Di sekitarnya, bersandar kapal-kapal modern... Milik pribadi kayanya.





Kami langsung ke lantai teratas untuk mengejar momen matahari terbenam.  Sayang, awan toska tengah tebal sehingga menutupi matahari. Namun, pemandangan laut dari balkon selalu membuat saya bahagia. Apalagi pemiliknya mengemasnya dengan cukup apik sehingga kami dapat berfoto-foto di berbagai sudut dengan antusias.


Sekalian saja ya saya review Marina Batavia hehehe... Saya secara pribadi suka tempatnya. Tempat ini sepertinya juga digunakan untuk acara perkawinan baik itu indoor atau outdoor. Yang menyenangkan adalah, disediakan tempat shalat. Dan tempatnya tuh cakep. Lucunya papan penunjuk musholla berada di ruangan yang saya yakini adalah tempat untuk pemberkatan perkawinan. Pokoknya ga selesai-selesai deh foto-fotonya






Acara diakhiri dengan makan malam bersama. Bercengkerama lebih lanjut dengan teman-teman baru. Hingga tibalah waktunya kami harus pulang. Nah, di sini nih baru ada kendala... Susah banget order taksi online. Kebanyakan maps nya akan mengarahkan lewat Ancol yang notabene jadi lebih jauh bahkan tersesat. Jadi lebih 30 menit kami menunggu dan untungnya bisa dilewati dengan mencari spot foto bahkan tiktok-an ...


Saya pasti akan ikutan lagi kalau waktu dan temanya pas. So far, dikeker terus di IG dan FBnya Indonesia Hidden Heritage jika ada info terbaru. So  much fun.

Rabu, 26 Februari 2020

RABUku: AYESHA (Uzma Jalaluddin) - Cinta lewat Prasangka




Kaya judul buku yang lain ya. Pride & Prejudice. Kebetulan buku ini disebut-sebut sebagai versi muslim untuk novel klasik ini loh. Dan ini buku terjemahan, bukan buku lokal. Penulisnya adalah keturunan India muslim yang sudah bermukim di Kanada sejak kecil. Dan budaya yang kental seperti di Indonesia, tentu menjadi tantangan bagi mereka, menjelang terbentuknya generasi pertama di negara yang jelas sangat bertolak belakang dari negeri asal mereka. 


Uzma Jalaludin menulis karena melihat koleksi di toko buku di Kanada jarang sekali buku bertema Islam. Kalaupun ada, seringkali yang diangkat adalah tema kekerasan. Padahal, namanya ibu-ibu kan butuh drama ya, butuh romance hehehe... Buku ini pun rampung setelah bertahun-tahun digarap pada 2018 lalu. Yah namanya juga ibu-ibu. Baru bisa mengerjakan yang lain kalau tugas utama sudah selesai. Apalagi, beliau pun bekerja sebagai guru SMA pun ibu dari 3 bujang.



Adalah Ayesha, seorang gadis yang membawa tumbler merah. Begitu yang tertangkap di pandangan Khalid. Tatapannya sayu... Dan cantik. Ayesha baru saja menerima pekerjaan sebagai guru pengganti di sebuah sekolah menengah di Toronto. Sebuah karier yang dianggap aman bagi keluarga besar Ayesha. Pilihan ini termasuk tidak populer, karena di kalangan India muslim di sana lebih mementingkan para wanita menikah muda ketimbang bekerja. Wanita bekerja dianggap sebagai bakal perawan tua alias gak laku. Tradisi perjodohan atau perkenalan keluarga pria ke keluarga wanita pun masih lazim, tapi Ayesha, karena umurnya, mulai mendapat tawaran-tawaran dari pria-pria yang tertolak. Ayesha sendiri tak peduli dengan nyinyiran keluarga besarnya, dia tak peduli telah banyak melanggar budaya-budayamya. Dia lebih memilih sibuk bekerja, dan rutin mengisi acara pembacaan puisi di salah satu lounge. Tentu saja, tak ada yang tahu soal hal ini kecuali sahabatnya, Clara. 

Sementara Khalid bekerja di bagian IT di perusahaan yang sama dengan Clara. Tapi Khalid berbeda. Dia menerima semua budayanya dengan lapang dada. Tak hanya penampilannya yang kerap menggunakan gamis dan berjanggut tebal, bahkan ke kantor. Dia juga pasrah bahwa dirinya akan menikahi gadis yang dipilihkan oleh ibunya. Meski wajah Ayesha telah menarik perhatiannya sejak pertama kali. 


Saat keduanya pertama kali bertemu muka, prasangka telah menyelimuti mereka. Ayesha merasa Khalid adalah orang yang kolot dan suka menghakimi. Sementara Khalid, merasa Ayesha bukan wanita baik-baik karena mendatangi acara di bar alias lounge tempat Ayesha membaca puisi. 


Sialnya, mereka berdua terpaksa berjumpa lagi di sebuah kepanitiaan acara masjid besar. Oleh karena pertemuan pertama yang tak sempurna, Khalid mengira bahwa Ayesha adalah Hafsah. Gadis muda yang dijodohkan sang ibu. Padahal Hafsah adalah sepupu Ayesha, yang seharusnya menangani acara komunitas tersebut. Akan tetapi karena sepupunya adalah remaja manja, dia seenaknya tidak datang dan terpaksa Ayesha mengaku sebagai Hafsah. 


Cinta Khalid semakin tumbuh. Dia bahagia, pilihan ibunya rupanya cocok dengan hatinya. Tapi Ayesha, perasaannya justru kian membuatnya tertekan. Dia tahu, pada akhirnya, kebenaran akan terungkap. Dan semua akan sirna. 


Ayesha memang meragukan cinta. Melihat ibunya yang hampir tak pernah membicarakan mendiang ayahnya. Sementara Khalid, dia hanya ingin membahagiakan ibunya, karena tahu sejak kakaknya dikirim ke India, ibunya kehilangan kebahagiaannya. 


Menarik melihat bagaimana Uzma mengangkat tema Islamofobia, sekaligus juga gambaran para muslim imigran di sana. Memang ada yang Amir, rekan kerja Khalid, yang senantiasa ke barat dan esoknya terbangun di rumah wanita yang berbeda setiap harinya. Tapi ada juga yang seperti Khalid, tak terpengaruh apa pun. Persahabatan Ayesha dan Clara yang meski jelas sangat berbeda, tidak melunturkan ketulusan mereka. Tanpa prasangka. Meski, dalam urusan percintaan, ada banyak prasangka yang lalu lalang. 


Dalam pengerjaannya, Uzma sama sekali tidak bermaksud membuat versi muslim novel Pride & Prejudice. Namun, karena memang itu buku klasik yang sudah berulang kali dia baca, secara tak sadar ada inspirasi yang tertutur di dalamnya. Meski begitu, Uzma berhasil memberikan cita rasa India muslim dengan sangat baik, sehingga bagi mereka yang belum membaca Pride & Prejudice pun akan merasakannya sebagai cerita yang sama sekali baru. 


Ini memang drama sederhana, akan tetapi senang rasanya bisa menikmati sebuah karya yang menjadi pionir literasi novel islami di negeri orang. Semoga semakin banyak tumbuh Uzma-uzma lain di luar sana.


Saya merasa beruntung bisa menghadiri peluncuran bukunya dan dihadiri pula oleh Uzma Jalaludin bersama suami yang tak henti menatap istrinya dengan bangga. Walau tak sempat berfoto bersama karena saya harus menghadiri rapat di tempat lain. Tadinya saya tak hendak meminta tanda tangannya, tapi kawan saya yang juga manajer Noura Publishing berujar, "Sudah jauh-jauh datang ke Jakarta, masa ga minta tanda tangan?" 


Jadi saya titipkan novel ini padanya, dan beberapa hari kemudian, tiba buku ini dengan  ucapan yang pasti sudah dipesan oleh kawan saya hahahaha... Thank you yaa... 

Rabu, 19 Februari 2020

RABUku: ENCORE - Merahnya Cinta Tami

Bermula dari keisengan saya bertanya pada satpam. Siapa tahu ada paket, pikir saya. Toh, saya sadar sedang tidak melakukan transaksi ke e-commerce dalam beberapa waktu belakangan. 

"Ada, bu." Jawab satpam menunjukkan nama saya tertera di buku catatannya. 
Saya jadi kaget sendiri. 

Begitu satpam keluar, dari bentuknya saya yakin itu berbentuk buku. Apa itu bukti terbit untuk editan saya? Tapi sepertinya semua sudah terkirim ... 

Begitu paket itu berpindah tangan, saya tengok pengirimnya. Laily Lanisy...

Who?
I have no idea. 

Abang saya memang sering memesankan buku untuk adik-adiknya di Jakarta meski dia masih betah di UK, tapi melihat nama pengirimnya, saya yakin itu bukan dari salah satu kawan abang yang memang ga sedikit adalah komikus kenamaan. I'm sure it's not comic. 

Sesampainya di unit, saya tutup pintu kamar. Tak ingin anak-anak ikut menyaksikan unboxing paket saya seperti biasa. Takut isinya buku nyeleneh. Saya buka hati-hati, tak ingin membuat sobek tulisan keterangan pengirim berikut nomor teleponnya. Dan saat saya keluarkan bukunya, saya makin bingung. 

Ternyata Laily Lanisy adalah nama seorang penulis. Penulis romance sepertinya. But I still don't know her. Ini dapat dari mana nama dan alamat saya. Kalau nomor telepon ya biasalah, kan memang saya cantumkan. Apa mungkin salah kirim?

Namun, bagi seorang buku antusias kaya saya, pantang mengembalikan buku ^^
Lalu saya buka plastik dan mulai membuka lembaran pertamanya. Untuk Melati. OK fix, bukan salah kirim.

So, this mysterious writer has sent me a book. Dan apa lah lagi yang bisa saya lakukan selain membacanya. 

It's a love story. About Tami. 
Laily Lanisy menyebutkan bahwa novel Encore adalah kumpulan semua kisah tentang Tami yang selama 20 tahun ini telah muncul dalam berbagai bentuk di media-media cetak, salah satunya muncul di majalah Gadis. Selama 20 tahun setia pada karakter yang sama. Wow. Saya nulis 50 halaman saja rasanya mau ganti ke cerita yang lain. 
Tami menderita leukimia. Tapi tidak ada yang tahu selain keluarganya. Kawan-kawannya melihat Tami sebagai mahasiswi yang aktif dan bandel karena sering terlambat atau bahkan mangkir. Mereka tidak tahu, aktifnya Tami karena sudah ada perkiraan tanggal kematiannya di depan mata. Mereka tidak tahu, mangkirnya Tami karena terkapar menjalani pengobatan. 

Tami menerima penyakitnya tapi bukan berarti menolak untuk hidup. Kedua orangtua yang sama-sama dokter, menjadikan rumahnya sebagai rumah sakit untuk memudahkan pengobatan bagi putri bungsunya. Dia cukup 'beruntung' karena menjadi salah satu yang pertama yang mencecap hasil eksperimen terkini. 

Tami tak menghentikan dirinya untuk jatuh cinta pada pria. Pada Bara. Lagipula, siapa yang bisa menolak datangnya cinta? Namun, dia tak yakin akan kuasa menerima cinta dari pria tersebut. 

Penulis mengambil sudut pandang empat tokoh, yaitu: Tami, Bara, Tommy (kakak Tami), dan Oki (mantan pacar Tommy) sebagai caranya meramu kisah. Sebuah kelompok support system. Yang memang sejatinya diperlukan, terutama jika ada salah satu anggotanya menderita kanker. Bagaimana Tommy yang bolak balik Jogja-Bandung di saat adiknya dalam keadaan terendah, atau betapa sedihnya ketika dia dengan berat hati tidak bisa menemani karena ada ujian di kampusnya. Bagaimana Oki yang meski sudah mantan, akan tetapi setelah sekian tahun bergaul dengan keluarga Tommy, tapi bagi Tami, Oki adalah kakak perempuannya. Sesuatu yang hanya dimengerti para sisterhood. 

Laily Lanisy menulis bagaimana Tami menerima cinta Bara, bagaimana Tommy menjadi semangat Tami, dan bagaimana Oki menjadi tempat Tami bersandar. Memangnya apa hubungannya dengan kanker? Banyak. Penyakit tersebut harus diakui tak hanya mampu menggerus tubuh tetapi juga jiwa. Toh tak melulu tentang Tami dan Bara, karena Tommy juga berulangkali muncul dengan tekadnya 'balikan' dengan Oki. Mantan kekasih sekaligus mantan tetangga di masa kecil. Yang sehat saja, punya masalah. Apalagi yang sakit. 

Dengan latar belakang Jogjakarta, kisah ini jadi mirip dengan Dilan dengan latar belakang Bandung. Rasanya ingin turut menyusuri tempat-tempat yang disebutkan di novel tersebut. 

Kisah Tami dan kanker darahnya ini sendiri mengingatkan saya pada sepupu saya (al Fatihah). Saya ingat dengan percakapan kami. Ada mimpi, ada cinta, tapi sulit sekali berharap. 

Cara Laily Lanisy menempatkan detail yang mungkin tidak sedetail Grey Anatomy, membuat bacaan ini mudah dicerna. Meski, karena kelebatan kenangan, seringkali saya harus jeda sedikit saat membacanya. Yah nuansanya agak serupa dengan The Fault in Our Star (yang kebetulan disebut juga di buku itu), dan syukurnya ga sedepresi Me before You. 

Usai membacanya, masih ada sedih yang menggantung. Dan sebelum saya tutup buku itu, saya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya cepat. 

Hidup ... seringkali tak sesuai yang kita rancangkan. Seindah apa pun itu ....