Rabu, 25 Mei 2016

RABUku: There's Something about MAN Insan Cendikia Serpong

Sejak kemenangan gemilangnya di ajang Olimpiade Indonesia Cerdas, saya jadi kepo soal sekolah MAN Insan Cendikia Serpong. Harus saya akui, selama ini  memandang sebelah mata instansi pendidikan yang menggunakan awalan 'madrasah' khususnya di Jakarta. Karena saya tidak tahu standar di daerah, tapi di Jakarta, mereka yang masuk madrasah biasanya adalah mereka yang tidak diterima di sekolah negeri. Itu persepsi saya dulu. Begitu melihat sepak terjang MAN IC saya melongo ... Eh keren juga ini Aliyah.
Semakin saya tahu, semakin keliatan bloonnya saya karena baru tahu apa dan bagaimana MAN IC itu. Proses seleksi yang ketat, hanya menerima lulusan terbaik, whew ... Cadas. Jadi malu sendiri saya. Dan yang lebih membuat ketercengangan itu berbumbu, salah satu teman SD saya lulusan sekolah itu. Hanya dia kayanya yang meneruskan ke jalur Aliyah dari sekian banyak lulusan SD Muhammadiyah Tebet.
So, ketika kawan saya ini pengumuman bahwa akan terbit buku tentang kehidupan di sekolah asrama MAN IC Serpong, saya tidak pikir panjang lagi. Anda what a surprise, kawan saya itu menjadi salah satu kontributor buku yang berjudul Dormistory.
Dormistory sendiri seperti pelipur lara karena belum membeli buku serupa tentang pesantren di Jawa Barat yang salah satu kontributornya adalah salah satu rekan kerja sewaktu di Mizan Bandung. Dan kayanya memang ga bisa lepas dari Mizan karena editornya adalah The living legend, pak Hernowo. Toh, saya agak cemas buku ini akan menjadi semacam testimoni panjang yang akan terasa membosankan di tengah buku. Rupanya, Komunitas Blogger Insan Cendikia ini tidak main-main dengan perannya sebagai pencetus dan pelaksana terbitnya buku ini.
Bagi Anda yang belum tahu, MAN IC adalah sebuah sekolah asrama berbasis agama tapi bukan pesantren. Saya mengutip Muhammad Diba Azmi Sharif di hlm. 48 ".. Merupakan sekolah tempat nilai spiritual dijadikan landasan moral dan akademis dalam menciptakan peradaban intelektual." Keren. Dan ini bukan sekadar ucapan. Bukan sekadar kantin tanpa penjaga yang melayani sendiri proses bayar membayarnya, melainkan juga ujian tanpa dijaga guru tapi tidak ada yang mencontek.
Padahal zaman saya SMA, kawan-kawan menggunakan kebisingan kereta lewat untuk bertanya saat ujian. Ya, sekolah saya di samping rel. ^^
Dengan menjadi tempat berkumpulnya para juara dari berbagai SMP, bisa terbayang kan bagaimana situasinya? Penuh kompetisi. Namun dari kisah Muhammad Nabil Satria Tadarus, saya menyimak bagaimana tranformasi dirinya memandang sebuah prestasi. "Belajar untuk Ibadah. Prestasi untuk Dakwah." ini kata-kata yang cocok bagi saya yang tidak kompetitif dan suka menggunakan alasan itu untuk tidak melakukan apa-apa.
Seperti yang terjadi di film-film, ada juga yang awalnya merasa tidak ikhlas masuk ke MAN IC. Ketidakikhlasan itu berimbas pada prestasinya, ada yang nilainya jeblok, ada yang mentalnya jeblok hingga sempat 'kabur' ke rumah untuk merenung. Namun, yang menonjol di sini adalah bagaimana sebuah sistem sekolah tetap memberikan supporter tidak hanya untuk otaknya melainkan juga hatinya. Bagaimana seorang guru asuh dihormati sedemikian rupa hingga muridnya malu sendiri jika mengecewakannya dengan nilai atau sikap yang buruk. Seingat saya, mengidolakan guru itu berhenti selepas SD atau malah TK.
Ya, memang isinya adalah anak-anak yang haus ilmu. 'Gila' belajar. Ambisius. Tapi ga tahu ya, saya merasa bahwa manusia dapat meraih begitu banyak jika vitamin otak dan hatinya tercukupi. Saya tidak menemukan tentang anak yang harus belajar dengan lampu remang-remang karena tidak ada listrik, atau yang harus mengobrak-abrik toko buku loak demi mencari referensi. Fasilitas itu ada dan memang dipakai dengan sebaik-baiknya oleh para murid. Ah, saya jadi ingat perpustakaan di sekolah saya yang ga jelas statusnya.
Anyway, buku ini memberikan gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang MAN IC, yang sangat pas bagi mereka yang tengah mencari sekolah menengah untuk dirinya sendiri atau untuk anaknya. Zaman sekarang ini, sekadar penjelasan dari brosur seringkali tidak memuaskan, testimoni dari para orang tua juga mungkin tidak tepat sasaran. Cerita dari para alumni lah yang lebih orisinil. membuat kita paham apa yang diharapkan dan bagaimana mengusahakannya. Buku ini juga somehow cocok bagi Anda yang mengalami keadaan bosan belajar atau menuntut ilmu. These people are awesome n so are you.
Oia, buku ini kayanya hanya dijual via alumninya, aku pun kemarin daftar via open PO hehehe jadi jangan sampai ketinggalan info. Bisa mampir ke FB: Maya UMM Abdillah yaa ^^

1 komentar:

  1. Wah, terima kasih infonya ya bun, walaupun perjalanan anak saya masih panjang karena masih kecill.
    Tapi informasi bunda bermanfaat buat saya..

    BalasHapus