Selasa, 13 Februari 2018

SELASHAring: Tiga Tahun Lagi Setelah Tiga Dekade, Lalu Apa?



Usia 30-an bagi saya berlalu seperti angin. Rasa-rasanya saya tak bisa mengkorelasikan usia dengan peristiwa tertentu di dekade ke-3 ini. Tahu-tahu saya sudah dihadapkan dengan kalender baru dengan tahun yang baru. 2018, itu artinya sebagai kelahiran 1981, saya akan menginjak usia 40 tahun dalam tiga tahun lagi. Itu pun kalau masih diberi napas. Saya pernah iseng-iseng meng-google dan ternyata usia kepala 4 ini terbilang istimewa sehingga ada doanya segala. Ga tahu deh itu doanya sahih atau ga. Apa pun, itu menunjukkan bahwa ada sesuatu di usia yang katanya saatnya kehidupan dimulai.

Di antara pesatnya laju 30-an, saya mencoba mengerem pelan-pelan. Tiga dekade ini .. .saya sudah berbuat apa? Saya sudah jadi apa? Dan ada hal yang menarik tanya dalam diri sendiri adalah, betapa nama saya mengalami metamorfosa setiap dekadenya.

0-12 tahun
Inilah usia saya lahir dan kemudian bertumbuh. Jenjang pendidikannya hingga lulus SD.  Panggil saya, Ati. Ati, bisa dikatakan nama kecil saya. Asli tercetus dari mulut orangtua saya. Dipenggal dari nama belakang saya, Melati. Ati si bontot, yang mudah ngambek, juga sangat manja. Namun, masa kecil tak selalu indah di angan itu, menjadi dasar kehidupan saya selanjutnya.


13-19 tahun
Inilah yang saya anggap masa ‘teen’ (karena memang baru dimulai di thirTEEN). Usia SMP dan SMA ketika masih labil, pencarian diri dkk. Dan ternyata berpengaruh pada panggilan saya. Macam-macam panggilannya. Saya menjadi banyak hal. Di sinilah saya membentuk alur kehidupan saya. Mungkin bentuknya tak sempurna, penuh coba-coba.  Dan berjilid-jilid buku harian menjadi saksi, bahwa saya pernah menjadi Dilan. Hanya tidak pernah mengecap keberuntungan seperti dirinya. Eh malah curhat.




20-29
“Mulai saat ini, nama kamu HP Melati.” Begitu kata dosen saya ketika pada tahun 2000, nilai kuliah saya tidak keluar. Rupanya nama yang saya singkat demi alasan UMPTN tidak bisa diubah lagi. Padahal saya berencana sementara saja memakai singkatan seperti itu, terlebih singkatannya, walau dari nama saya sendiri, serupa dengan singkatan nama gebetan saya di SMA. Tapi alih-alih baper, saya seperti tengah mendapatkan legitimasi nama panggung saya. Entahlah, saya suka berkhayal menjadi orang terkenal. Lalu kemudian saya bermimpi, someday this name will be known globally, bersanding dengan karya-karyanya. HP Melati kemudian menjadi semakin paten, ketika saya kemudian memilih memperkenalkan diri sebagai “Melati” pada klien di tempat kerja saya. Biar kelihatan profesional hehehe ... Bukan Ati yang kekanak-kanakan, tapi Melati yang anggun.



30-sekarang
Lalu kemudian usia 30 pun datang. Ketika saya mengundurkan diri dari pekerjaan, saya pikir habislah sudah karier si HP Melati. Namun, ternyata saya dikejutkan dengan kenyataan bahwa sejak itulah cikal bakal saya kemudian dipanggil oleh para tetangga dan anak-anaknya dengan  sebutan  “Ami” . Panggilan anak-anak ke saya. Dan lagu hidup saya pun kini tak lepas dari status saya sebagai Ami beranak tiga. Ami yang galak dengan anak-anak yang chaos. Sungguh, deretan postingan blog dan foto-foto di medsos terwujud lebih karena saya seorang Ami. I guess my life is not so bad at all.




Dari tiga dekade itu, saya merasa seperti tengah memasukkan beberapa sendok susu bubuk dengan aneka rasa dalam gelas yang berbeda. Akankah beberapa gelas itu menjadi satu gelas minuman yang benar-benar berbeda dari bahan awalnya?

If I die, apa yang akan orang-orang ingat akan diri saya? Selain bahwa saya kidal dan buta warna? Sesuatu yang akan diingat anak-anak jika melihat atau memikirkan sesuatu ketika aminya sudah tiada. Maunya sesuatu yang indah, yang menginspirasi. Bukan rentetan omelan seperti tengah ospek di setiap pagi.

Yes, I’m kinda monster mom.

Namun, lucunya, hal yang paling sering saya khayalkan adalah melakukan perjalanan panjang bersama anak-anak. Ah, mungkin saya hanya ingin jalan-jalan ^^

Entahlah ... saya beberapa kali pernah menonton film tentang orangtua dan anak yang melakukan perjalanan panjang. Oprah bahkan melakukan tantangan melakukan perjalanan panjang bersama sahabatnya, sesuatu yang sangat dia hindari karena tahu biasanya suka ada drama. Namun ketika melihat berita tentang sepasang kakek nenek keliling Eropa dengan mobil ber-plat B, saya merasa mimpi saya mungkin tidak sejauh itu.

I want to create our journey, our story.

Create atau cipta sebenarnya adalah motivasi yang sudah lama saya pendam atau lebih tepatnya lama saya tunda-tunda. Selama ini, hanya seperti memanaskan mobil di akhir pekan tanpa benar-benar mengendarainya. Hanya berkutat di blog yang juga tidak ambisius.

Menulis dan menyanyi adalah dua-duanya yang dapat saya lakukan secara alami. Dan sudah sejak lama sejak terakhir kali saya menuliskan ‘nyanyian’ saya. Dalam puisi, dalam larik, dalam prosa ... Maka saya rasa waktu tiga tahun lagi itu adalah saat yang tepat untuk comeback. Dan jejaknya dimulai dari sekarang. Saya mungkin bukanlah sosok yang cocok menjadi seorang influencer, tapi saya tak pernah keberatan jika dapat menghibur. Saya memang galak, but I love to tell stories ...

Lalu apa kesimpulannya?
Jelang usia 40 tahun ini akan menjadi sebuah perjalanan hidup bersama keluarga yang diiringi dengan nyanyian dan sebuah cerita yang tercipta di setiap belokannya. Saya kan mengisahkan lagu dan melagukan kisah ... dan akan saya bagikan kepada dunia. Tunggu saja tanggal mainnya. Insya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar