Rabu, 25 Mei 2016

Ulang Tahun yang Canggung




 Masa kecil saya tidak banyak dihiasi dengan perayaan ulangtahun, malah tidak pernah. Hal ini karena keluarga saya bukan penganut yang merayakan ulangtahun dan harus undang-undang teman sekelas, tetangga sekampung dan lain-lain. Tapi bukan berarti tidak diistimewakan, karena biasanya jika ada yang ulangtahun, pada akhir pekan mama akan memasak ayam goreng ala KFC dengan potongan besar dan boleh makan semampunya, kentang goreng, dan salada. Mohon maklum, kami ga boleh jajan. Jadi dibuatkan yang begini ya senang banget. Apalagi mama juga wanita bekerja jadi masakan di rumah biasanya sudah rutin dari hari ke hari. Sampai hapal hehehe ....

Dan yang membuat saya agak nyesek adalah hari ulang tahun saya jatuh pada pertengahan yang artinya sekolah libur. Jadi sudahlah ga ada perayaan, ga ada yang ucapin pula. Biasa lah, anak umur segitu lagi perlu pengakuan dari peergroup hehehe. Hingga suatu hari, ketika saya sedang bengong-bengong di hari ulangtahun saya, saya mendadak bangun dan beride, “saya mau buat pesta ulangtahun.”

Tanpa pikir panjang saya keluar rumah dan keliling Tebet Timur, menghampiri rumah kawan-kawan saya dan mengatakan bahwa saya mengadakan pesta ulang tahun. Yah, ga banyak yang berhasil karena mayoritas pada liburan. Setelah lelah, saya kembali ke rumah dan kemudian akal sehat saya kembali. “Ya  Allah, what have I done? Kalau beneran pada datang gimana?”
Siang hingga jelang sore itu saya gelisah. Ga berani bilang siapa-siapa di rumah. Orangtua saya belum pulang kerja. Entahlah, yang saya ingat saya banyak mondar-mandir saat itu.
Lalu suara yang bikin deg-degan itu terdengar. “Ati... “ kawan saya datang. Oh my Goood. Gue musti ngapain?
Kalau saya tidak salah ingat kakak saya yang bukakan pagar dan bengong-bengong ketika teman saya bilang kalau disuruh saya datang ke pesta ulang tahunnya. Alhasil satu rumah gempar, tamu sudah datang di pesta yang bahkan tidak dibicarakan sama sekali. Tiba-tiba keluar kue kaleng. Tiba-tiba ada yang masak mie instan (di rumah tidak stok mie, jadi kayanya ada yang pergi beli, entah siapa). Papa yang baru pulang juga iseng mengabadikannya dalam satu foto. Ah tapi sayang fotonya di rumah orangtua hehehe ... Saya? Saya Cuma cengar-cengir, bersyukur yang datang hanya dua kawan. Gimana kalau beneran banyak? Bisa di-bully setelah masuk sekolah hahaha ....
Pesta ulang tahun yang canggung itu mengganjal di hati saya cukup lama sehingga saya berinisiatif mengadakan pesta ulangtahun lagi. Waktu itu saya sudah lulus kuliah dan ingin kawan-kawan kampus berkumpul lagi di sela laju mereka menapaki awal karier. This time I’m going to do it right. Itu niat saya. Alhamdulillah, banyak kawan yang datang. Keluarga dan kawan berkerumun di sekitar saya. It was fun. Dan cukup untuk mengobati rasa malu pada pesta ulang tahun yang canggung sewaktu kecil itu.

Ulang tahun, sebenarnya lebih terasa istimewa bagi orangtua saya yang setiap tahun akan menceritakan bagaimana perjuangan mama di hari itu. Dan karena momen itu saya merasa bersyukur dan ingin berbagi. Tapi karena bukan orang yang kebanyakan duit, momen berbaginya dikumpulin dalam satu hari, di hari ulang tahun. Atau di bulan ulang tahun hehehe apa saja deh, itu pun kalau memang ada rezekinya. Kalau tidak ya saya berbagi senyum sajalah ... kan senyum adalah sedekah.

Selamat berbahagia bagi yang berulangtahun, bagi yang akan berulangtahun karena itu artinya that you were born. Kalian juara. Juara dari sekian ribu sperma. So make your life worthed in every single day.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke lima Warung Blogger.

3 komentar: