Tampilkan postingan dengan label Giveaway. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Giveaway. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Maret 2016

Percakapan Kematian antara Aku dan Aku


Halo, aku. Iya, kamu. Kamu adalah aku. Yang tengah menatap laptop begitu lama. Terpaku pada sebuah judul yang aku ketik sendiri.

In My Last 8 Days
Masih tidak tahu harus menulis apa tentang delapan hari terakhir kita? Apa yang begitu sulit? Bukankah kita dulu pernah merasa akan meninggal sebelum usia 30? Walau toh ketika usia itu lewat, kita justru berdoa agar diberi umur panjang. Life begins at 30. Kata orang.

Seingatku, kita dulu pernah bercita-cita meninggal dengan diiringi tangis oleh ribuan bahkan jutaan orang. Ya, dulu kita berharap menjadi orang terkenal. Bagaimana dengan sekarang? Can you imagine? Your last 8 days?

1. Jujur pada Suami
Akhirnya kau ketik juga poin pertama kita. Tapi kenapa jujur pada suami? Kita kan tidak pernah bohong pada dirinya? Unless ... oh aku tahu. Ini tentang jumlah utang kita, kan. Aku sarankan kita banyak-banyak cium tangannya agar dia mau melunasi utang kita dengan lapang dada. ^^  Bolehlah harta tak tersisa saat mati, tapi jangan sampai ada utang yang masih belum terlunasi.

2. Mohon Maaf
Ah, ini penting sangat. Kita tahu bahwa kita bukanlah orang sempurna. Sangat jauh dari sempurna. Bahkan perkataan dengan niat baik pun dapat menimbulkan sakit bagi orang lain. Aku setuju dengan poin ini. Kita akan minta maaf besar-besaran , pada mama papa karena hingga kini belum kesampaian memberi uang bulanan.  Pada kakak-kakak yang selalu dimintai tolong dan belum pernah membalas (dasar bungsu). Pada suami yang suka dicemberuti istri. Dan pada anak-anak yang ... sering dikecewakan Aminya.

What about the other? All friends and relatives?

Kita mungkin bisa gunakan sosial media. Buat permohonan maaf terbuka dan terbuka pula dengan segala balasan. Ingatkah kamu tentang isi khutbah terakhir Rasulullah?
"Barangsiapa yang punggungnya pernah aku pukul, maka ini punggungku, silahkan membalasnya."
 
Beranikah kita menghadapi semua komplenan orang tentang kita? Well, kebenaran itu seringkali menyakitkan, bukan?

We deserve it, anyway.

Aku setuju.

3. Surat untuk Anak-anakku
Ada senyum terukir di bibirmu. Pasti karena kamu ingat film India itu, Kuch Kuch Hota Hai. Surat untuk Anjani itu memang inspiratif sekali. Menulis surat untuk anak-anak pada tiap-tiap tahun istimewanya. Pada datang bulan pertama si sulung. Pada sunatan si anak tengah. Pada hari pertama sekolah si bungsu. Dan masih banyak lagi. Berapa banyak yang hendak kita tulis?

I don't know. As much as we could.

Surat untuk suami?
Eh, kamu malah nyengir. Ingat pertanyaan kita waktu itu ya? Saat kita bertanya pada suami apakah sekiranya kita boleh menikah lagi saat dia sudah meninggal. Dia menjawab, "Ya terserah kamu. Lha aku sudah meninggal ini." Dan itulah yang akan kita lakukan. Kita tak bisa mendikte pilihan kehidupan percintaannya. Hanya bisa berharap doa yang terbaik untuk dirinya dan anak-anak.

4. Foto dan Album Keluarga
Mungkin kalau sudah injury time begini, suami kita akan terdorong untuk membuat foto keluarga dengan seragam Liverpool. Agar bisa dibingkai dan dipajang di rumah. Tak hanya itu, kita harus cetak foto-foto sejak si sulung lahir. Dan menempelkannya bersama-sama anak-anak. Sambil saling berbagi cerita. Cerita yang mungkin tak akan mereka dengar lagi.

5.   Mengosongkan Lemari
Aku tahu maksudmu. Kita sama-sama tidak tega membayangkan raut sedih suami, kan. Walau pembawaannya cuek tapi dia mudah mellow. Jangan sampai dia lama mellow di hadapan lemari baju. Menatapi baju-baju kita. Nanti dia akan simpan semua lagi. Mari sedikit mengurangi momen sedihnya dengan mengosongkan lemari baju. Sisakan tiga baju saja, sepertinya cukup. Biarkan kerudung disimpan, bisa dipakai anak-anak nanti.

6. Membagi Harta
Hehehe kita kan tidak punya harta. Oh, harta pusaka maksudnya. Yah namanya juga orang minang. Harus segera dibagi ke kedua anak perempuan kita, jadi hibah. Sedangkan mas kawin bolehlah dibagi sesuai hak waris nantinya. Kita percaya dua lelaki itu akan menggunakannya untuk kebaikan gadis-gadis yang menjadi tanggungjawab mereka dunia akhirat.

7.  Puasa
Eh. Puasa? Puasa bayar?
 
No. To clean ourself.

Oooh, sepertinya ada segelintir ingatan tentang ini. Tentang orang yang berpuasa menjelang meninggal, agar tidak banyak kotoran yang harus dibersihkan saat dimandikan terakhir kali. Ya, baiklah. Puasa sepertinya cara terbaik untuk tidak menambah-nambah dosa di saat-saat terakhir.

8. Menghabiskan Hari di Rumah Orangtua
Bukannya tidak cinta dengan rumah sendiri, kan? Awalnya lebih karena alasan teknis. Unit Kalibata city yang tini mini biti ini terlalu sempit untuk menampung orangtua dan kakak-kakak saya beserta anak-anaknya. Which is itulah cara kita menghabiskan hari. Dikelilingi keluarga tercinta. Makan masakan mama. Mendengar wejangan agama dari papa. Menyimak informasi terkini dari kakak-kakak. Dan menikmati keriuhan anak-anak dan keponakan yang bermain.
Nah, sudah delapan. Selesai.
Hei, tapi kenapa jadi sedih?

Do we really have to wait untill the last 8 days to do this? We could do this now. Everyday. Because we never know. Never ever know. When the angel of death will come for us.

But the question is, how bad do we want to do it? People say if we don't try the hardest then our dream might be not the biggest one.

Our first name is Hasanah. It means "good thing". Then let's make it good, shall we? For us, for them, for the loved ones. And may God give us His bless . And give us a peaceful death. Someday.

Amin.

Tulisan Ini Diikutkan dalam Giveaway Dnamora



























Kamis, 24 Desember 2015

KAMYStory: Perjalanan untuk Melepaskan

"Saat cinta itu ternyata bertepuk sebelah tangan, aku justru semakin mencintainya. Setiap waktu cinta itu terus kupupuk, kubiarkan berkembang hingga begitu menyesakkan dada dan nyeri di setiap nadi, lalu kemudian ... Aku muak dan berhenti."


Urusan jatuh cinta semasa remaja memang pelik. Apalagi jika masih labil. Salah satu rapor buruk saya dalam percintaan adalah, sulit move on. Masih mending move on diputusin pacar, lah ini move on dari ditolak cowo alias bertepuk sebelah tangan. Udahan ditolak, masiiiih aja stalking. Bertahun-tahun pula.


Urusan ga move on ini bermula saat saya SMA dan menggebet salah satu adik kelas saya. Saya menghabiskan waktu mengikuti kemanapun dia bergerak. Dari masuk sekolah, jam istirahat, jam nongrong, ekskul ... Pokoknya dibuntuti terus. Telepon tiap malam, walau anaknya ga pernah di rumah dan malah jadi ngobrol sama ibunya. Membelikan hadiah ulangtahun. Mencari tahu letak rumahnya sendiri. Macam-macamlah. Bahkan hingga saya kuliah, saya masih sering ke sekolah. Bahkan hingga si gebetan itu pindah kota, saya bela-belain menyisihkan 80% upah menerjemahkan saya untuk bayar wartel atau beli kartu telepon pintar. Awalnya saya pikir karena saya belum pernah ada kesempatan untuk PDKT, tapi ketika dia bilang punya girlfriend, saya baru sadar telah bertepuk sebelah tangan.


Apakah saya berhenti? Tidak saudara-saudara, saya bahkan semakin nekat. Mengemban misi ingin membuat si gebetan jatuh cinta dalam perjalanan satu hari. Aish, film drama banget lah. Padahal saya ini anak rumahan, tak pernah keluar kota sendirian. Ke Bekasi saja ga pernah sendiri. Ini mau ke Jawa Tengah.


Oleh karena masih perlu ongkos dari orangtua, saya katakan hendak ke rumah salah satu teman kuliah saya di Semarang. Berangkatlah saya dan kawan bersama ke Semarang dan menginap satu malam. Selanjutnya? Saya naik kereta ke kota si dia berada, sendirian. Itu pun bilang ke orangtua akan menginap di rumah saudara, jadi yah ga sendiri-sendiri amat.


Setibanya di sana langsung menjalankan aksi. Akhirnya bisa jalan bareng tapi ada yang aneh. Dia sudah seirama dengan kota itu. Kota yang sudah sepi pada jam 6 malam. Kota yang dinamikanya jauh lebih lambat dari Jakarta. Langkah tergesa saya bagaikan pitch yang aneh. Sungguh keadaan yang canggung. Walau akhirnya saya mengajaknya ikut pulang ke Jakarta bareng naik kereta (orangtuanya masih di Jakarta), rasa aneh itu kian menggelitik.


Pada kereta itu, di perjalanan 8 jam itu, tanpa alasan apa pun perasaan itu hilang sedikit demi sedikit tergilas roda kereta dan hilang sama sekali begitu saya turun dari taksi di depan rumah saya. Akhirnya saya melepaskan. Dia bukan untuk saya, jalan kami berbeda. 


Menariknya aksi hampir serupa saya lakukan pada 2014 lalu. Hanya saja alasannya agak konyol, saya ingin move on dari perasaan nge-fans dengan TOP BIGBANG dan karenanya saya nekat menggesek kartu kredit untuk membeli tiket konser YG Family di ... Singapura. Perjalanan sehari semalam. Meninggalkan dua bocah sama bapaknya demi si istri tidak bayangin cowok ganteng itu terus. Bahaya bos ^.^ Yang kemudian mengejutkan adalah, saya akhirnya berangkat dalam keadaan hamil 7 minggu.


Ke Singapura, sendiri, dan hanya bawa uang Rp500000,- (uang darurat sih Rp1000000,-). Saya hanya meyakinkan diri bahwa kalaupun saya mudah tersesat, pasti akan mudah pula mencari jalan kembali karena kota itu begitu teratur. Dan memang, salah turun di MRT dan nyasar sewaktu mencari hostel kawan saya adalah pengalaman bahwa kalau di Singapura jangan harap bisa ketemu jalan yang benar dari modal bertanya pada orang lain. Lihat peta, bu, petaaa .. Dan walau kaki sakit karena salah beli sepatu tapi teteup harus jalan kaki karena ga ada ojek untuk nyari si hostel. Perjalanan yang panjang dan melelahkan dan jadwal makan malam yang meleset jauh. Belum berhenti di situ, ketika akhirnya hendak kembali ke bandara, jadwal MRTnya habis, padahal tinggal dua stasiun lagi. Eeaaa ... Syukurlah saya bersama kawan.


Dan formula lama itu masih berhasil. Walaupun perih tapi berjalanlah sesuai petunjuk yang diberikan-Nya. Pasti sampai di tujuan yang sejati. Dan tujuan sejati itu adalah kembali ke rumah. (sambil elus perut waktu itu)


Yah, Setidaknya ga nangis bombay lagi ketika BIGBANG ke Jakarta atau ketika kawan saya itu dapat tiket gratis menyaksikan BIGBANG di MAMA Award di Hongkong. Saya sudah melepaskan .... Tak mungkinlah saya bisa nge dubsmash bareng TOP BIGBANG seperti si gadis shampo saat bersama Seungri BIGBANG. ^.^ Jalur kehidupan kami sudah kadung berbeda.


Semoga saya tak perlu melakukan perjalanan sendirian lagi. Ya, saat itu yang saya rasakan adalah tak enak jalan-jalan sendirian, terpaksa selfie terus hehehe bosen. Kemanapun saya melangkah, saya lebih tertarik ke tempat yang banyak anak-anaknya. Ah, saya memang sudah emak-emak.


Walau ada kalanya saya ingin pergi mencari sunyi, sungguh tak perlu waktu lama. Beri saya 24 jam, saya pasti sudah tak tahu harus berbuat apa.


Melakukan perjalanan sejatinya seperti mencari jawaban yang sebenarnya sudah ada namun tertutupi oleh penyangkalan. Dalam Islam pun dianjurkan untuk melakukan perjalanan bahkan kalau perlu hijrah, karena petunjuk Yang Mahakuasa tidak hanya berada di satu tempat, melainkan berserakan di mana-mana. Tak sedikit buku yang menuliskan catatan perjalanan yang menginspirasi, yang paling populer sekarang ini tentu Eat, Pray, and Love. Itu pula yang dilakukan Olie Salsabila dalam bukunya Passport to Happiness. Sebuah rangkuman empat tahun kehidupan dan mengunjungi 11 kota di seluruh dunia. Bukan sekadar travelling melainkan mencari jawaban dari persoalan hidup.


Kebahagiaan letaknya di hati, dan biarkan perjalanan membantumu membuka mata hati itu dengan rintangan dengan kegalauan, kita selalu dipaksa mencari jalan keluar karena seringkali sesuatu terjadi di luar kehendak kita.


Kini saya hanya ingin merajut kenangan bersama anak-anak di mana pun dan ke mana pun kami kan berada. Membuat cerita kami sendiri dan menitipkannya pada awan-awan yang berarak hingga suatu hari ketika anak-anak terbang mencari kisah baru, cerita-cerita itu akan selalu mengingatkan mereka akan kami, keluarga mereka, rumah mereka.

Tulisan ini diikutkan dalam GA Passport to Happiness oleh @GagasMedia

Sumber Foto Cover Buku: www.salsabeela.com

Rabu, 16 Desember 2015

Terbang dan Berbahagialah, Ma

"Mama mau ikut pengajian. Mau datang ke arisan ..." ujar mama lirih di dapur sambil mencuci piring. Deru air yang mengucur dari keran menyambut tetes-tetes airmatanya yang sudah tak tertahankan lagi. Saya yang di sampingnya hanya terdiam. Tak ada jawaban.
 
Mamaku lelah mengurusi anakku.
 
Jika hanya terpaku pada kalimat di atas, mungkin tersimpulkan bahwa mama tak suka dengan anak-anak. Namun keheningan membawa saya jauh ke masa lalu. Jauh sekali ke masa mama kecil.
 
Mama adalah anak tertua dari sepuluh bersaudara. Terlahir dalam tradisi minang, jelas ada begitu banyak tumpuan di pundaknya sejak dini. Terlahir prematur, mama baru bisa berjalan saat berusia empat tahun. Pada umur sekecil itu pun dia sudah punya beberapa adik. Dia ingat saat masih kecil disuruh amaknya duduk di pojok sambil selonjoran lalu ditaruhlah adik bayi di kakinya. Karena usianya terlalu kecil untuk menggendong.
 
Mama, hampir seumur hidupnya berpikir dan bertindak untuk keselamatan orangtua dan adik-adiknya. Mama berjuang mati-matian untuk menaikkan derajat keluarga yang hidup dalam kemiskinan, karena beliau sendiri mengalami betapa pahitnya hidup serba kekurangan. Merantau dari perkampungan di Sumatra Barat ke Jakarta di usia 16 tahun, lalu dari Jakarta terbang ke Belanda dan hidup di sana selama lebih dari 10 tahun. 
 
Merantau hingga ke negeri Belanda pun demi satu misi, mengubah hidup. Menjauhi segala aksi gaul demi menjaga diri agar bisa tetap sehat jasmani dan rohani karena ada keluarga di kampung yang menantikan rezeki halalnya. Belasan tahun di luar negeri, mama mungkin bisa dikatakan yang paling kuper, statusnya masih diselamatkan dengan jabatannya sebagai kepala kelompok para perawat Indonesia di Belanda. Mama adalah tipe orang yang berprestasi tapi tidak gaul.
 
Saya ingat suatu kali mama ditugaskan ke Bali, lalu pada akhir pekan mama diajak rekannya hangout di Lombok. Refreshing. Mama menolak. Dalam pikirannya, "bagaimana jika saat menyeberang saya tenggelam? Tenggelam saat hendak bersenang-senang padahal pergi ke Bali untuk bekerja." Saya bahkan tidak terpikir ke situ.
 
Puluhan tahun mama tidak punya teman. Yang ada hanya, anak buah. Hingga akhirnya beliau pensiun. Mulailah dia memasuki komunitas di sekitar lingkungan, arisan RT, arisan RW, pengajian si A, pengajian si B ... sempat berjalan lancar hingga saya kemudian melahirkan anak pertama dan masih bekerja, dan tanpa ART.
 
Sejak percakapan itu, hari demi hari berlalu dengan kegalauan saya. Di satu sisi, saya paham 'kelelahan' mama mengurus anak kecil. Dia butuh memiliki kehidupannya sendiri. Setelah sekian lama ... Dan akhirnya Tuhan menjawab kegundahan mama. Papa mengalami kecelakaan mobil dan mama sebagai perawat pensiunan fokus mengurusi papa sehingga tak bisa memegang anak saya. Saya pun selama sebulan hanya bekerja separuh hari, hingga kemudian saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Allah memberikan kejutan kecil di peristiwa itu, kehamilan kedua saya. Semua mungkin memang sudah takdirnya. Dan 40 hari usai melahirkan, saya pun pindah rumah.
 
Jika saat kita menikah seolah orangtua tengah melepas kita untuk terbang, saya merasa saat pindah rumah sayalah yang melepas ibu saya untuk terbang menikmati kehidupannya sendiri. Saya bahkan tak henti-hentinya terpukau bagaimana urusan arisan dan pengajian itu membawanya ke mana-mana di seluruh Indonesia. Bahkan sempat mampir ke Eropa. Pada satu foto yang diambil baru-baru ini, senyum mama begitu merekah. Bahagia. It's about time, mom. You deserve it.  Just fly freely and be happy.

Minggu, 04 Oktober 2015

Tujuh Alasan Gagal Ikut Lomba Blog




Salah satu momen penting sebagai blogger bagi saya adalah ketika berurusan dengan lomba blog. Apakah Anda blogger yang suka ikut lomba blog? Konon blogger yang tidak mengasahdirinya dengan mengikuti lomba blog itu ... apa ya, kok saya lupa. Pokoknya kurang kompetenlah. Katanyaa ...
Awalnya saya tidak terlalu ingin ikutan lomba, tetapi kemudian saya melihat dengan mengikuti lomba otak kita terpacu memikirkan bagaimana cara menuliskan tema tertentu. Lomba blog memang melelahkan. Tak jarang saya bisa libur posting blog hampir sebulan setelah mengejar menulis beberapa blog dalam satu bulan. Nafas bloggernya masih pendek ^^
Apakah Anda suka ikut lomba tapi jarang atau bahkan belum pernah pecah telur sekalipun? Tenaaang ... jangan menyerah. Coba terus. Mereka yang menang lomba blog itu sejatinya juga banyak kalah, jadi jangan khawatir. Karena itu semua lebih baik daripada sudah meniatkan ikut tapi akhirnya malah gagal ikutan lomba.
Gagal ikutan lomba itu rasanya nyesek banget buat saya. Sudah rajin-rajin cari info lombanya yang seringkali harus memungut dari sumber-sumber yang berbeda-beda. Even mbah google saja tidak cukup. Harus rajin lihat grup FB, blog orang, twitter, dan lain-lain. Ada begitu banyak usaha untuk sebuah informasi. Dan ternyata informasi itu tidak bisa dimanfaatkan .. n it hurts #lebay

Emang apa saja sih yang bisa mengakibatkan para blogger gagal ikut lomba?
1.       Mismanajemen Waktu antara Lomba Satu dengan Lainnya
Ada banyak bookmark info lomba blog di gadget kamu. Telah dijuduli sesuai dengan tanggal dateline-nya. Ealah ngerjainnya dari yang dateline-nya paling belakangan. Akhirnya grabak grubuk dan yaaah ... kelewatan deh.
Metode mengerjakan sesuatu yang lebih mudah itu memang betul, tetapi jadi tidak tepat jika yang sudah mepet masih ingin dikerjakan juga. Fokus, bu. Fokus. Kalau kelewat ya sudahlah. Tulisan yang dibuat dalam keadaan lelah juga ga akan menarik.

2.       Salah pasang tanggal dateline
Kebanyakan blogger membuat bookmark untuk setiap info lomba yang ditemuinya. Agar lebih mudah, judul link-nya diberi judul sesuai tanggal dateline. Lebih mudah dicari dan lebih runut. Namun alangkah nyeseknya ketika sudah menyiapkan draft posting sedemikian hingga, siap dipublish, sedang membaca kelengkapan lomba eeeeh rupanya dateline-nya baru saja lewat kemarin. Atau lebih keki lagi, sudah liwat bulan kemarin. #pengsaan

3.       Dateliners Garis Keras yang Gagal
Waktu tinggal dua jam lagi menuju pukul 12 malam. Jemari bergerak semakin lincah mengetikkan ide demi ide sesuai adrenaline yang kian meningkat. Sudah selesai. Bersiap memasang dandanannya, waktu tinggal satu jam lagi, pasti bisa. Eh lima belas menit terakhir, “ooeeee ...!!!” Bayi nangis minta disusuin.... Goodbye, so loooong .... Tidur sajalah.

4.       Jebakan Formulir Pendaftaran
Formulir yang turut menutup diri sesuai dengan jam yang tertera di dateline itu suka bikin gemes. Saya punya masalah dengan segala hal terkait formulir. I hate form. Adddaaaaa aja yang aneh-aneh dari mengisi formulir. Ya inilah itulah ... ya tahu-tahu pakai captcha. Dan begitu mau klik ‘oke’ eh waktu sudah pukul 12.03. What the ... #tarik2rambut #tidurlagi

5.       Internet Gagal Total
Postingan sudah siap setengah jam sebelum pukul 12, tinggal pencet ‘publish’ eh sinyal internet kabur entah ke mana. Connect-disconnect-connect-disconnect-connect dan yap sudah lewat jadwalnya, buibuuuu .... #nangisBisik2 #tidurlagi
 
6.       Salah Kamar
Sudah pede sejuta, postingan sudah terpublish di blog. Tinggal urusan share di sosial media. Sambil baca-baca harus mention ke siapa eh ternyata tulisannya bukan dipasang di blog, tetapi di situs mereka. Kudu daftar lagi. Login lagi. Eeaaaa ketemu formulir lagi. Dan lewat sudah batas waktunya.

7.       Bak Sangkuriang  
Inilah yang terjadi jika mengejar beberapa lomba blog sekaligus tetapi waktunya mepet. Emangnya dikira nulis itu gampang, bos? Lagi mikir-mikir buat dua atau tiga tema lomba, eh dah lewat aja gituh dateline-nya ... hiks ...


Itulah suka dukanya seorang blogger. Semua yang saya tulis di atas itu pengalaman pribadi saya. Salah satu pelajarannya adalah ciptakan peluangmu. Peluang untuk menang lomba blog dengan cara fokus pada satu per satu hal. Jika fokus maka posting lomba satu per satu pun akan selesai dengan sempurna. Bagaimana mau berpeluang menang, jika tidak bertindak laiknya juara dengan berbuat sebaik mungkin, meninggalkan hampir tak ada celah? So, act best and you will get the best. InsyaAllah ...  

Kamis, 13 Maret 2014

Mengejar Ari-ari

Ada yang mengatakan bahwa ari-ari adalah 'kembaran' kita, atau dalam bahasa bulenya 'soulmate'. Maklum saja, semua bayi selalu membawa ari-ari dalam kandungan. Kelahiran selamatlah yang memisahkan mereka. Tradisi memaparkan bahwa ketika ari-ari dikubur itu dimaksudkan agar si anak selalu ingat tempat tinggalnya. Jika dilarungkan ke laut maka semoga si anak senantiasa tabah di perantauan. Dan pertanyaan saya sejak dulu adalah, di manakah ari-ari saya berada?

Nyaris tiga puluh tiga tahun yang lalu, saya akhirnya harus berpisah dengan ari-ari saya setelah sembilan bulan sepuluh hari berada di rahim mama saya. Saat itu, 17 Juni, adalah tanggal yang tercatat di akta kelahiran saya dengan stempel Kerajaan Belanda. Ya, saya lahir di negeri kincir angin. Hanya sekejap. Usia dua tahun saya sudah mudik bersama mama dan ketiga saudara saya ke Jakarta. Tak ada kenangan Eropa sama sekali, selain foto. Singkatnya, saya hanya numpang lahir. Toh, akta lahir saya cukup ampuh untuk mendapatkan akses komunitas populer di sekolah.



Hanya saja saya merasa hampa. Saya bahkan memasukkan pilihan sastra Belanda kala hendak mengikuti ujian UMPTN. Saya lulus. Dan empat tahun kemudian, dari si bungsu yang hanya bisa bengong saat orangtua dan kakak-kakak saya bercerita tentang Belanda menjadi salah satu yang bisa dijadikan rekan berbahasa Belanda bagi orangtua saya.

Satu kurangnya. Saya belum pernah ke sana. Saya tidak cukup pintar di kampus untuk meraih beasiswa summer course. Saya tidak cukup gesit mencari beasiswa strata 2. Saya tidak tertarik berkencan dengan bule Belanda--pasti dilarang oleh papa saya. Dan keluarga saya tidak sekaya itu untuk bisa bolak balik ke luar negeri.

Sejak mudik tahun 1983, itulah saat ketika saya 'terdampar' di Indonesia. Saya melihat orangtua, saudara dekat dan jauh, teman, rekan, tetangga, atau orang yang kebetulan duduk bersebelahan dengan saya di bus bergantian menambah cap imigrasi Belanda di paspornya. Lalu, saya kapan?

Bagi saya, Belanda bukan sekadar negara bekas penjajah. Sekarang trennya juga tidak se-hype Korea. Tapi saya merindukan rumah saya dulu. Rumah yang tak pernah saya ingat. Siapakah penghuninya kini?

 Seperti ada nyawa yang hilang, yang terlupakan.

Apakah ari-ari saya sudah berbaur dengan tanah berpasir yang turut menyuburkan warna warni tulip di sana? Apakah ari-ari saya hanyut di air yang memenuhi kanal-kanal di tanah datar Belanda. Kanal yang tak pernah meluap walau hujan deras sepanjang hari itu? Apakah ari-ari saya menjadi santapan anjing yang berkeliaran di sepanjang jalur sepeda, menyalak para pengendara sepeda yang berkendara dengan aman tentram tanpa khawatir disenggol motor? Ataukah ari-ari saya telah bergabung dengan debu melayang bersama angin melintasi museum yang konon memajang emas sebesar meja makan yang berasal dari Indonesia ?

Mungkin saya terlalu memikirkannya. Namun, bagaimana pun di sanalah tanah kelahiran saya. Tempat di mana sebuah takdir akan sangat berbeda jika mama saya tidak memutuskan mudik.

Saya masih menyimpan satu mimpi di antara banyak mimpi lain. Untuk bisa menapak tilas di sana. Sekadar merasakan udara yang sama dengan ari-ari saya.

 Akan lebih baik lagi jika kami empat bersaudara turut serta. Membuat jejak kenangan baru. Selfie beramai-ramai dengan hastag past & present. Lalu sekejap kemudian merindukan tanah air.

Tulisan ini ikutan giveaway 'MyDreamyVacation'