Jumat, 01 Mei 2015

JJS: Wisata Rumah Ibadah di Semarang


Usai lebaran tahun lalu, ketika saya belum ketahuan hamil, saya sekeluarga bertolak ke Semarang dalam rangka pernikahan sepupu suami. Ini bukan kali pertama bagi saya ke Semarang, hanya saja dari sekian kali ke sana, saya justru belum pernah benar-benar jalan-jalan bak turis lokal di ibukota Jawa Tengah itu. Makanya, pada kesempatan itu, usai pesta pernikahan, disiapkanlah satu hari khusus untuk jalan-jalan. Setelah browsing sana sini jelang subuh, ternyata tema keliling Semarang adalah “Wisata Rumah Ibadah”. Yuuk, mareee ...
1.      

Masjid Agung Semarang
Masjid Agung Semarang ini letaknya tidak jauh dari hotel kami, hotel Metro. Jangan salah, ini bukan Masjid Agung yang sekarang jadi ikon Semarang, tetapi memang ada banyak masjid agung or masjid raya di sini. Toh, masjid ini bukannya tidak punya prestasi, setidaknya pada zamannya, masjid ini pernah menjadi ikon juga sebelum ada masjid Raya yang berada di dekat simpang lima.
Pagi itu, masjid masih ditutup. Jadi kami berfoto di pelataran saja ditemani beduk yang ukurannya cukup besar. Sayang, di sekitar sini tidak ada jajanan yang gelar lapak pagi-pagi, jadilah saya lapar dan bersegera ke tujuan selanjutnya.



2.       GPIB Immanuel atau Gereja Blendoeg
Ketika tiba di pelataran gereja ini, saya jadi teringat tur studi yang pernah saya lakukan saat kuliah. Memegang status sebagai mahasiswa program studi Belanda, tempat-tempat seperti gereja dan kuburanlah yang paling sering kami datangi. Gereja ini juga dibangun pada masa penjajahan Belanda. Ada dua pintu masuk, yang menghadap jalan raya disambut dengan tulisan GPIB Immanuel sedangkan dari samping barulah ada tulisan Gereja Blendoeg.

Saya tidak masuk ke dalam, kirain tak boleh. Tapi begitu melihat rombongan bule-bule dengan bus boleh masuk, saya jadi kepingin. Sayang, sudah mau cabut. Gara-garanya ya karena lapar itu. Anak-anak juga rewel, paling adem sedikit pas main di taman depan gereja. Saya sendiri jadi terlibat ngobrol basa basi sama seorang tua di sana. Itu loh orang tua yang tiba-tiba muncul, beramah tamah lalu kita kasih uang. Bapak tua ini kebetulan bisa berbahasa Belanda, jadi saya balas lah sedikit-sedikit.



Intermezzo
Makan Pagi di Mbah Jingkrak
Well sebenarnya tidak persis di Mbah Jingkraknya sih. Rupanya menu Mbah Jingkrak terkenal dengan level sambalnya, jadi yah sepertinya tidak cucok untuk menu anak-anak. Jadi saya memilih menu dari papan resto sebelah, Bentuman . Gaya western, tapi enak kok. Dan ternyata, Bentuman justru lebih dulu didirikan ketimbang mbah Jingkrak.

Tempatnya juga nyaman dan luas. Yang menarik, di sana ada lele sebesar buaya. Gede banget. Ada kali semeter (buaya lebih panjang kali yaaa hehehe). Di bagian belakang juga ada kandang-kandang burung (plus burungnya). Buat anak-anakku sih ini dah keren banget. Buat kami, harganya bersahabat, bok!



3.       Masjid Agung Jawa Tengah
Jadi jika Anda baru pertama kali ke Semarang dan ingin ke masjid Agung yang terkenal itu, pastikan sebut dengan lengkap pada sopir Anda, masjid Agung Jawa Tengah atau Masjid Agung Propinsi. Konon, karena ada banyak sekali masjid agung atau raya, bisa sampai berebut imam di hari-hari besar loh. Oalah.

Dan masjid yang satu ini memang jelas bedanya dengan masjid-masjid yang lain di Semarang. Letaknya agak pinggir kota, tapi kalau melihat luasnya ya ga heranlah kudu minggir sedikit. Memang kompleksnya luas sekali. Ga tahu ya apakah sebesar masjid Istiqlal atau tidak. Salah satu yang membuatnya istimewa adalah, masjid itu juga punya payung raksasa seperti masjid di Madinah. Sayang, saat kami datang, payungnya menutup. Mungkin karena sepi, padahal panas banget loh. Lantai marmer serasa api saat dipijak. Jadi deh sesi foto-foto agak melipir sedikit. Masjid itu memang jadi objek menarik untuk foto-foto. Malah ada yang foto prewed sepertinya di sana. Eeaa ... asal jangan sambil pegang-pegang aja.

Saat shalat di dalamnya, kebersihan cukup terjaga. Awalnya saya agak takut akan tersesat saat mencari tempat wudhu dan shalat, tapi petunjuknya cukup jelas bagi saya yang suka nyasar.

Selain bangunannya, lagi-lagi daya tarik sebuah masjid adalah beduk yang besar dan ada mushaf Alquran yang besar pula. Dan entah kenapa, kayanya lazim banget pasang jam bandul tua di masjid. Harusnya jadi barang antik, tapi kalau melihat jumlahnya di masjid ini, kok kaya bukan barang antik lagi. Banyak soalnya.

Saya tidak tahu apakah ada fungsi lain yang dilaksanakan di masjid ini. Berharap ada perpustakaan sebagai pusat kajian islam dan lain-lain sih. Kios-kios suvenirnya juga kurang variatif, ah gimana sih cara bikin suvenir, lama-lama gue bikin sendiri nih.



4.       Klenteng Sam Poo Kong
Sore akan segera datang, kami menuju tujuan terakhir. Klenteng Sam Poo Kong. Sebenarnya saya penasaran ingin melihat masjid yang dibangun oleh laksamana muslim itu di komplek klenteng tersebut.

Ketika masuk area komplek, rasanya saya tengah berada di pelataran Istana Terlarang hahaha ... mungkin kalau di Istana Terlarangnya lebih keren lagi kali ya ... Ada sekitar 5 bangunan besar berciri tionghoa di sana. Dari bangunan pertama yang sepertinya difungsikan sebagai tempat jemaat beribadah jika sedang ramai—mungkin semacam balkon VIP saat nonton balapan, saya menangkap satu bangunan paling besar dengan lafal Allah dalam tulisan arab di tepi atapnya sebagai si masjid. Masjid yang dibangun Sam Poo Kong itu memang tidak lagi difungsikan sebagai masjid, tapi dari arah bangunan tersebut yang miring sendiri, saya tahu itu masjidnya. Pada monumen Cheng Ho sendiri tidak disebutkan terkait pembangunan masjid ini, pun tidak disebutkan bahwa beliau seorang muslim yang membangun masjid dan klenteng bersisian sebagai sarana beribadah para awak kapalnya. Hmm sepertinya saya harus ke Surabaya kalau mau shalat di masjid Cheng Ho. Oh iya, ternyata lafal Allah itu bukan tulisan arab melainkan gambar naga yang meliuk. Dari jauh terlihat seperti lafal Allah, entah kebetulan entah saya saja yang sok nyambung-nyambungin hehehe, soalnya hanya ada di bangunan eks masjid itu.


Jika saya perhatikan memang ada bangunan-bangunan baru dan fasilitas seperti gerbang untuk para difabel dan orang lansia juga patung-patung baru, dan semuanya tertera pembuatnya atau sumber dananya. Kebanyakan nama-nama para konglomerat dengan latar belakang perusahaan yang sudah tidak asing lagi.


Tiga klenteng (termasuk eks masjid) itu dipisahkan oleh kolam panjang karena memang tidak bisa dimasuki langsung, harus membayar (lagi) sekitar Rp40000,- per orang kecuali bagi yang hendak beribadah. Kalau malam mungkin lebih romantis kali ya dengan banyak lampion dan lilin-lilin yang dinyalakan di dalam klenteng, atau mungkin sudah tutup hehehe ...

HTM: Rp4500,- per orang. Anak-anak GRATIS




Intermezzo
Makan Malam di Pasar Semawis
Pasar Semawis adalah semacam bazar kuliner yang diadakan setiap akhir pekan di daerah Pecinan Semarang. Bagi tempat yang menjadi salah satu tujuan wisata dan masuk dalam program Visit Semarang, aku rasa perlu ada menu halal yang jelas hehehe. Maklum lah, di sana banyak penjual masakan ayam tapi juga jual masakan babi. Jadi kami berjalan cukup dalam di sepanjang jalan Semawis, guna mencari makanan yang aman walau tidak berlabel halal. Dapatlah ayam bacem lalu kami duduk di kursi dan meja plastik diiringi bunyi-bunyi burung walet yang sepertinya bersarang di atap rumah-rumah tua di kiri-kanan jalan itu.

Lucu juga sih suasananya, mengingat saya jarang lihat yang berjilbab di sana. Ada karaokean di tenda gitu, serasa lagi di Cina daratan-ketahuan banget gue jarang ke daerah Kota. Ramai tapi tidak riuh, jadi masih bisa ngobrol-ngobrol biasa.




Itu saja ulasan wisata rumah ibadah di Semarang, sebenarnya ada lagi. Yang katanya klenteng tertinggi di Indonesia, tapi tempatnya agak jauh, sudah bukan di kota lagi. Yah sudslah. Ini juga sudah banyak. Serasa bertualang singkat dari Arab, Belanda, lalu ke Cina.

14 komentar:

  1. Jalan -jalannya keren mbak, aku cuma sampai Sam poo kong :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe alhamdulillah mba, tapi masih penasaran mengunjungi yang lain di semarang. kayanya masih banyak yang menarik. :D

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Pengen ke semawis..suasana pasarnya kece mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  4. Pernah ke Semarang buat study tour ke Sido Muncul sama UNISSULA, tapi blm pernah mampir ke masjid agung yg ada payung itu. Next time kesana aahh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo ayooo ke sana ,,, ikon barunya semarang niy ... kalau mau lihat payungnya terbuka mungkin pas shalat jumat kali yaa

      Hapus
  5. keren mbak..aku yang sudah hampir setahun tinggal di semarang malah belum tahu pasar semawis.hehe...kapan2 mau kesana ah. thanks mbak

    http://drianisari.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk yuk ... ini juga stlh sekiam kalinya ke semarang br bisa ke sini ...

      Hapus
  6. Saya juga suka ngadem di masjid..adem lahir batin

    BalasHapus
  7. Aku sukak ukiran di permukaan pilarnya. Artistik banget :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa aku malah sempet norak gitu, dipegang2in sambil pandang2 dan bertanya sendiri ini bikinnya pake semen atau dipahat. Tp krn bangunan baru kayanya dicetak, but almost flawless loh. Yg bikin Niat beneran kayanya ...

      Hapus