Tampilkan postingan dengan label blogger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blogger. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 April 2017

Everybody’s Hurt di “KARTINI”


"Ibuuu!" jerit seorang gadis kecil sambil ditarik-tarik dua anak laki-laki.
"Panggil Nyi!" kata salah satu anak laki-laki yang sepertinya sudah hendak remaja.
"Itu ibu kita!" tangis si gadis pecah. 

Film Kartini seolah hendak memberikan tempo lambat dengan sorotan kaki dan lutut yang bergantian memasuki lantai, tetapi yang terjadi tak lama dari itu adalah ... banjir airmata. 

Kartini yang disutradarai Hanung Bramantyo ini mengambil kisah Kartini sebelum menikah. Bahwa Kartini sejatinya telah menjadi 'Si Kartini' sejak kecil. Dia mengembangkan sayapnya sendiri dan kemudian tetap melambung terbang walau akhirnya menikah. 

Namun, Kartini tidak bangkit sendirian. Jika kunci menuju 'pintu keluar' kamar pingitan tidak diberikan oleh masnya, Kartono, mungkin dia masih merutuki dalam gelap terkait tradisi menuju seorang Raden Ayu. Dan Kartini mungkin tidak akan mendapat kesempatan meraih pendidikan Belanda saat kecil, jika romonya tidak menikahi seorang putri bangsawan sebagai istri kedua. 

Masing-masing generasi wanita Jawa dengan caranya sendiri berkorban demi kehidupan keturunannya yang lebih baik.

Beberapa waktu buat Daun Semanggi, ternyata Het Klaverblad merupakan nama pena Kartini bersaudari

Perjuangan yang nyata memiliki halangan yang nyata pula bagi Kartini, tetapi karena diambil dari kehidupan nyata, tak ada orang yang benar-benar ditokohkan jahat murni, semuanya memiliki alasan yang tak kalah pilu. Dengan kata lain, semua orang punya lukanya sendiri walau tujuannya sama. 

Film yang dibuka dengan airmata ini, ditutup dengan airmata pula. 

Sudah lama ingin lihat film Kartini, karena sempat ada penawaran pre screening bareng alumni FIB UI tanggal 7 April lalu. Sayangnya, waktunya ga cocok sama ibu-ibu. Eh masih diberi rezeki nonton saat tawaran pre screening muncul di grup Komunitas Emak-emak Blogger, boleh bawa teman lagi. Waktu dan tempatnya pun cucok. Dan saya pun cuss ke cinema XXI hollywood. 

Yang saya perhatikan di sini adalah Dian Sastro yang memang banyak menggunakan bahasa Belanda walau pernah berkeliaran di kampus yang sama dengan Distro di FIB UI, sayalah yang mengambil jurusan bahasa Belanda. Dan bagi saya, pengucapan Dian di film ini bagus sekali. Ga jadi deh mau saya kritik. Terbayang latihannya. 

Cara Hanung meramu momen-momen Kartini saat melahap buku dan berkorespondensi pun cukup menarik. Kita dibawa ke imajinasi Kartini dan kemudian turut merasakan besarnya keinginan Kartini untuk pergi ke Belanda.

Saya tergelitik ketika mendengar sebaris dialog saat ayah Kartini ditentang keluarganya terkait beasiswa pendidikan Kartini ke Belanda. "Kalau dibiarkan, nanti ditiru orang miskin. Nanti bisa ada anak tukang kayu jadi raja!" ^^

Saya punya kebiasaan tidak membaca siapa saja para pemainnya dalam sebuah film sebelum menonton, jadi saya terkaget-kaget bahkan hingga credit title. Eh ternyata ada Djenar, eh ternyata ada Reza Rahadian (orang ini ada di mana-mana yak), eh ternyata itu Acha Septiasa. Dan jangan lupa, Christine Hakim juara aktingnya. 

Keluar dari bioskop rasanya ingin segera melahap lebih banyak lagi tentang Kartini. Teringat akan buku kumpulan surat Kartini yang merupakan hadiah tapi lama tak disentuh. Belum lagi bakal ada novel Kartini  yang bersanding dengan filmnya dan akan diterbitkan oleh noura Publishing tak lama setelah filmnya resmi meluncur di bioskop-bioskop. Must have. Biar semangat jadi perempuan. 

Walau Kartini tidak jadi mengambil beasiswa pendidikan ke Belanda, tetapi kini di Belanda justru tertera namanya sebagai nama jalan. Jadi bagaimana cara kita mengapresiasi perjuangan Kartini? Tentu lebih dari menjadikan tanggal 21 April sebagai hari kebaya nasional kaaan ^^

Menulisi Kutipan Kartini di tas. Iseng ^^

"kita bisa menjadi manusia sepenuhnya tanpa berhenti menjadi wanita sesungguhnya." R. A. Kartini. Namun semua itu perlu usaha, perjuangan. 

Seperti kata Mas Kartono, "jika cita-cita bisa dihadiahkan, kamu tidak akan bisa jadi Pandita Ramambai"





Minggu, 29 Mei 2016

Agar Si Bayi dengan Kulit Sensitif tetap Aktif




"Bu, nanti untuk mandi dede bayinya pakai Lactacyd ya bu. Tahu, kan?” tanya seorang dokter spesialis anak ke saya.
“Iya, saya punya di rumah. Yang pink itu, kan” jawab saya percaya diri.
“Bukan.” Terdengar suami mendengus sambil geleng-geleng.
“Ini lactacyd baby. Saya tuliskan di resep ya.” Kata dokternya lagi.
 “Masa mau dipakaikan lactacyd kamu sih, yang bener aja?” gumam suami sekeluarnya kami dari ruang dokter.
Ya, maap. Kirain bisa multifungsi.

Foto Si Sulung, enam tahun lalu
Hayo, coba cari mana Lactacyd Baby-nya?


Itu enam tahun lalu.
Kala itu si sulung baru mengalami bulan pertamanya di dunia dan kemudian ditemukan ada semacam burik/panau di pahanya. Biasalah, anak pertama. Bingung dong. Akihrnya ketika jadwal imunisasi, kami konsultasikan hal ini dan kemudian dokter meresepkan Lactacyd Baby (iyes, ada babynya dan warnanya biru). Yah, itulah pertama kalinya saya tahu bahwa lactacyd bukan melulu tentang masalah kewanitaan ^^ Dari si sulung lalu ada anak kedua, hingga anak ketiga ... ketiganya kebagian diberi resep lactacyd baby. Lah, ini kenapa anak zaman sekarang pada sensi kulitnya ya? Apa kualitas air kita semakin buruk?



Pada event Mother & BaBy di Igor’s Pastry & Cafe di Wijaya, Sabtu kemarin, saya jadi tahu lebih banyak tentang kulit sensitif bayi dan terutama tentang si Lactacyd. Karena jujur, walau sudah digunakan untuk tiga anak, saya belum yakin apakah saya menggunakannya dengan tepat atau tidak.



Dalam video lactacyd baby dan ditekankan dalam penjelasan Dokter Liem Hua Ling bahwa kulit bayi itu memang lebih sensitif daripada kulit orang dewasa. Hal itu dikarenakan selain lapisannya lebih tipis, juga karena ph-nya lebih tinggi, yaitu sekitar 6-7. Keadaan itulah yang menyebabkan mudahnya mengalami iritasi seperti kemerahan, gartal, sibarrhea, dan ruam popok. Nah, untuk meminimalisir iritasi, maka para orangtua harus pandai-pandai memilih popok, pakaian bayi, dan cairan pembersih untuk pakaian atau untuk mandi yang aman untuk kulit bayi. Satu lagi, pilihlah cairan pembersih yang sudah teruji secara klinis dan yang membantu menurunkan ph bayi seperti ph normal dewasa.



Dipandu oleh MC Sisca Baker, Tara Amel @mamaofsnow sebagai blogger mom berbagi cerita ketika anaknya mengalami iritasi, dia kemudian mencari informasi dan ternyata di forum-forum, Lactacyd Baby memang banyak direferensikan oleh para ibu untuk bayi mereka. Ternyata, yang kulitnya sensitif bukan bayi saya doang hehehe ... Di acara ini saya menemukan ada banyak mama-mama yang memiliki anak dengan ragam kesensitifan kulit. Aku tidak sendiriaaaan. Ada yang memang keturunan, ada juga karena faktor luar atau pencetus.

Saya jadi ingat si bungsu, whew urusan kulitnya ga kelar-kelar. Mungkin ph-nya juga tinggi sehingga setiap kali berkeringat maka akan timbul merah-merah di leher dan tangan. Belum lagi soal alergi makanan. Eh, tapi ini sebenarnya si bungsu sensitif kulitnya atau alergi?

Menurut Dr. Liem alergi itu sendiri mempunyai definisi reaksi berlebihan dari kulit atau tubuh yang disebabkan oleh benda asing. Jadi alergi dapat mencakup seluruh tubuh, sedangkan sensitif biasanya hanya pada area tertentu. Biasanya di daerah lipatan tuh, makanya para orangtua tidak boleh malas membersihkan area lipatan pada bayi.

Disebutkan Lactacyd Baby mengandung ekstrak susu untuk menjaga kelembaban kulit bayi. Nah, kalau yang alergi susu bagaimana?

Mba Marketing Communication dari Lactacyd Baby menjelaskan  bahwa alergi susu pada anak itu sifatnya lactose intollerant. Artinya terkait dengan saluran pencernaan. Sedangkan Lactacyd Baby digunakan untuk bagian luar tubuh. Hmm bolehlah Dek, nenek kasihan karena kamu ga bisa minum susu sapi, tapi kamu selalu bisa mandi susu ^^



Nah, saya baru dapat pencerahan nih. Ketika si bungsu lagi panen merah-merah di badannya, saya seperti biasa menggunakan lactacyd yang diteteskan ke dalam bak mandinya. Eh tapi kok lama banget sih hilangnya? Kan si baby ini tumben awet putihnya, jadi kalau lihat kulitnya bruntusan gitu kasihan.

Ternyataaaaaa .... penggunaan lactacyd baby dengan cara mencampurkan 3-4 sendok teh lactacyd baby ke dalam air mandi bayi itu untuk perawatan. (hmm ... kemarin itu nyampe 3-4 sendok teh ga ya? Mikir sendiri). Kalau anaknya  sedang kumat iritasinya maka teteskan lactacyd baby ke kapas atau kain kasa lalu ditotol-totol (iki opo ya bahasane ^^’) ke bagian yang iritasi.

Info ini saya dapat dari testimoni seorang mama yang duduk di samping saya loh. Hoalaaah .. coba kalau si mama ini ga mengacungkan tangan, mungkin saya masih tersesat.

Oh, ada satu lagi, untuk si kulit sensitif air mandinya justru disarankan yang suhu ruang, bukan yang terlalu hangat atau terlalu dingin. Air dingin akan meningkatkan ph kulit bayi. Air yang terlalu hangat akan membuat kulit yang teriritasi jadi gatal. Dan mandikan bayi tidak lebih dari lima menit. Nah loooh ... yang suka berlama-lama di kamar mandi ^^ (tunjuk tangan).

Okelah kalau begitu, selanjutnya akan lebih baik memafaatkan Lactacyd Baby. Apalagi si bungsu lagi lucu-lucunya niy, biar si bayi berkulit sensitif ini bisa tetap aktif, ga sibuk urus gatal-gatal sana sini.

Rabu, 25 Mei 2016

RABUku: There's Something about MAN Insan Cendikia Serpong

Sejak kemenangan gemilangnya di ajang Olimpiade Indonesia Cerdas, saya jadi kepo soal sekolah MAN Insan Cendikia Serpong. Harus saya akui, selama ini  memandang sebelah mata instansi pendidikan yang menggunakan awalan 'madrasah' khususnya di Jakarta. Karena saya tidak tahu standar di daerah, tapi di Jakarta, mereka yang masuk madrasah biasanya adalah mereka yang tidak diterima di sekolah negeri. Itu persepsi saya dulu. Begitu melihat sepak terjang MAN IC saya melongo ... Eh keren juga ini Aliyah.
Semakin saya tahu, semakin keliatan bloonnya saya karena baru tahu apa dan bagaimana MAN IC itu. Proses seleksi yang ketat, hanya menerima lulusan terbaik, whew ... Cadas. Jadi malu sendiri saya. Dan yang lebih membuat ketercengangan itu berbumbu, salah satu teman SD saya lulusan sekolah itu. Hanya dia kayanya yang meneruskan ke jalur Aliyah dari sekian banyak lulusan SD Muhammadiyah Tebet.
So, ketika kawan saya ini pengumuman bahwa akan terbit buku tentang kehidupan di sekolah asrama MAN IC Serpong, saya tidak pikir panjang lagi. Anda what a surprise, kawan saya itu menjadi salah satu kontributor buku yang berjudul Dormistory.
Dormistory sendiri seperti pelipur lara karena belum membeli buku serupa tentang pesantren di Jawa Barat yang salah satu kontributornya adalah salah satu rekan kerja sewaktu di Mizan Bandung. Dan kayanya memang ga bisa lepas dari Mizan karena editornya adalah The living legend, pak Hernowo. Toh, saya agak cemas buku ini akan menjadi semacam testimoni panjang yang akan terasa membosankan di tengah buku. Rupanya, Komunitas Blogger Insan Cendikia ini tidak main-main dengan perannya sebagai pencetus dan pelaksana terbitnya buku ini.
Bagi Anda yang belum tahu, MAN IC adalah sebuah sekolah asrama berbasis agama tapi bukan pesantren. Saya mengutip Muhammad Diba Azmi Sharif di hlm. 48 ".. Merupakan sekolah tempat nilai spiritual dijadikan landasan moral dan akademis dalam menciptakan peradaban intelektual." Keren. Dan ini bukan sekadar ucapan. Bukan sekadar kantin tanpa penjaga yang melayani sendiri proses bayar membayarnya, melainkan juga ujian tanpa dijaga guru tapi tidak ada yang mencontek.
Padahal zaman saya SMA, kawan-kawan menggunakan kebisingan kereta lewat untuk bertanya saat ujian. Ya, sekolah saya di samping rel. ^^
Dengan menjadi tempat berkumpulnya para juara dari berbagai SMP, bisa terbayang kan bagaimana situasinya? Penuh kompetisi. Namun dari kisah Muhammad Nabil Satria Tadarus, saya menyimak bagaimana tranformasi dirinya memandang sebuah prestasi. "Belajar untuk Ibadah. Prestasi untuk Dakwah." ini kata-kata yang cocok bagi saya yang tidak kompetitif dan suka menggunakan alasan itu untuk tidak melakukan apa-apa.
Seperti yang terjadi di film-film, ada juga yang awalnya merasa tidak ikhlas masuk ke MAN IC. Ketidakikhlasan itu berimbas pada prestasinya, ada yang nilainya jeblok, ada yang mentalnya jeblok hingga sempat 'kabur' ke rumah untuk merenung. Namun, yang menonjol di sini adalah bagaimana sebuah sistem sekolah tetap memberikan supporter tidak hanya untuk otaknya melainkan juga hatinya. Bagaimana seorang guru asuh dihormati sedemikian rupa hingga muridnya malu sendiri jika mengecewakannya dengan nilai atau sikap yang buruk. Seingat saya, mengidolakan guru itu berhenti selepas SD atau malah TK.
Ya, memang isinya adalah anak-anak yang haus ilmu. 'Gila' belajar. Ambisius. Tapi ga tahu ya, saya merasa bahwa manusia dapat meraih begitu banyak jika vitamin otak dan hatinya tercukupi. Saya tidak menemukan tentang anak yang harus belajar dengan lampu remang-remang karena tidak ada listrik, atau yang harus mengobrak-abrik toko buku loak demi mencari referensi. Fasilitas itu ada dan memang dipakai dengan sebaik-baiknya oleh para murid. Ah, saya jadi ingat perpustakaan di sekolah saya yang ga jelas statusnya.
Anyway, buku ini memberikan gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang MAN IC, yang sangat pas bagi mereka yang tengah mencari sekolah menengah untuk dirinya sendiri atau untuk anaknya. Zaman sekarang ini, sekadar penjelasan dari brosur seringkali tidak memuaskan, testimoni dari para orang tua juga mungkin tidak tepat sasaran. Cerita dari para alumni lah yang lebih orisinil. membuat kita paham apa yang diharapkan dan bagaimana mengusahakannya. Buku ini juga somehow cocok bagi Anda yang mengalami keadaan bosan belajar atau menuntut ilmu. These people are awesome n so are you.
Oia, buku ini kayanya hanya dijual via alumninya, aku pun kemarin daftar via open PO hehehe jadi jangan sampai ketinggalan info. Bisa mampir ke FB: Maya UMM Abdillah yaa ^^

Kamis, 19 Mei 2016

KAMYStory: Asyik Mewarnai bersama Anak


Tren mewarnai kini sedang mewabah. Para illustrator Indonesia kebanjiran ide dan order untuk buku-buku mewarnai yang semakin menjamur. Ada yang dalam bentuk buku ukuran besar atau kecil bahkan kini menjual dalam bentuk poster siap dibingkai. Yang awalnya berjudul Colouring for adults, jadi ada versi anak-anak atau segala usia. Tak hanya mewarnai, sekarang ada pula yang namanya Doodle, alias coret-coret ala saya waktu sekolah dulu ^^. Terutama untuk pelajaran yang banyak cerita atau hapalannya.


Memang sudah lama sekali sejak saya rutin coret-coret, karena memang tidak ada waktunya lagi sejak berhenti kerja. Sampai kemudian si sulung mengajak saya turut mewarnai bersamanya. Biasanya, kami menggambar atau mewarnai masing-masing. Makanya saya sebenarnya agak enggan menurutinya karena buku mewarnainya kecil, ya ga nyamanlah buat mewarnai bersama. Dan lagian masih ada anak nomor dua, mau taruh di mana tuh tangan n krayon?

But then again, saat bermain dengan anak memang sejatinya menyingkirkan pikiran-pikiran rumit seperti itu. Just do it. And, it turned out to be Fun ^^


Saat menghadiri #playdateStaedtler di twin house, Sabtu lalu, saya jadi bersemangat karena ini akan jadi playdate yang tenang. Hehehe tenang tapi berantakannya tingkat tinggi. Itu yang biasanya terjadi di rumah kami saat anak-anak memutuskan untuk mewarnai dan hal lain di sekitarnya. Well, bagi anak kedua dan ketiga saya peralatan mewarnai lebih menarik dijadikan alat bermain yang lain seperti memilah warna, bongkar-bongkar untuk si bayi, membuat bentuk-bentuk dari pensil warna atau spidol, dan lain-lain. Eh rupanya mba Danesya alias Mama Dio yang menjadi pembicara di playdatestaedtler baru saja mengadakan giveaway tentang aktivitas anak dengan pensil warna yang ternyata membuahkan banyak ide-ide bermain yang menarik dengan pensil warna selain untuk mewarnai.


Pensil warna sekaligus cat air staedtler sendiri pun juga memiliki multi kebiasaan. Selain berfungsi sebagai pensil warna dan bisa berubah menjadi cat air-waktu saya SD hal ini ajaib sekali ^^ tapi juga bisa digunakan di berbagai media seperti Kanvas dan tas blacu. Seperti yang kami lakukan kemarin.


Saya dan Safir memilih tas blacu sebagai media. Tapi akhirnya lebih memilih menggunakan spidol ketimbang pensil warna. Kakaknya malah yang kemudian sibuk mewarnai dengan pensil di buku gambar yang juga termasuk dalam goodie bag. Serasa dapat harta Karun gitu mereka.




Biasanya kalau lagi tandem mewarnai sama anak, mereka suka sambil cerita macam-macam. Maklum, anak saya kadang ga mau jawab kalau ditanya model interogasi gitu. Jadi sebenarnya ga tenang-tenang amat hehehe .. Begitu juga para emak-emak pun sharing tentang membagi waktu antara kegiatan anak dengan me time. Bagi ibu bekerja, me time-nya ya pas meeting. Bagi ibu rumah tangga, me time-nya tentu saja ketika anak tidur hehehe ....


 Dari sini pula saya mendapat informasi baru bahwa pensil berbentuk segi tiga yang juga dikeluarkan staedtler menjadi salah satu alat yang tepat dalam membantu anak-anak yang terlambat bicara untuk mengasah motorik halusnya. Bentuk segitiga ini memang pas dengan lekuk jari saat memegang pensil sehingga tidak membuat tangan cepat lelah.




Matahari semakin tinggi. Kami yang mewarnai di halaman twin house pun mulai merasa lapar. Walau hanya tangan yang bergerak, tapi mewarnai itu bisa bikin lapar banget hehehe ...


Sambil makan ya sambil ngobrol sama perwakilan staedtler Indonesia. Rupanya ini kali pertama membuat playdate karena ingin menampilkan pensil warna selain dalam wujud lomba. Staedtler juga rutin mengunjungi sekolah-sekolah untuk sesi mewarnai, bisa juga memberikan pelatihan bagi para guru TK. Perkantoran juga bisa kok. Katanya, kalau untuk perkantoran mereka akan berikan lembar mewarnai yang sangat besar sehingga bisa dikerjakan oleh kelompok berisi empat orang. Hmm semacam no gadget activity. Untuk membentuk hubungan yang real ^^ Cocok kan buat kantor yang banyak berkomunikasi via media digital.


 Begitu perut terisi dan memutuskan untuk pulang, anak-anak malah enggan. "Asyik banget di sini," katanya.

Iya deh yang baru dapat pensil warna dan spidol baru ^^

Lain kali buat lagi yaa staedtler Indonesia.

Senin, 21 Desember 2015

Tidur Lelap untuk Bayi Pintar dan Ibu Sehat

Jangan pernah meremehkan pentingnya tidur yang lelap. Deepak Chopra menjelaskan dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa saat seseorang tidur lelap, racun-racun dalam tubuh akan keluar. Sebaliknya saat seseorang tidak mengalami tidur yang berkualitas akan rentan terkena obesitas, peradangan, gangguan usus, bahkan Alzheimer. Nah, loh!


Padahal untuk ibu-ibu punya bayi seperti saya bisa tidur lelap bin pulas apalagi lama itu adalah peristiwa langka. Tahu dong kenapa, karena si bayi sebentar-sebentar bangun dan nangis. Saking langkanya kalau ditanya mau hadiah apa di Hari Ibu mendatang, tak sedikit yang bilang, "saya cuma mau tidur."


Nah, dalam rangka inilah produsen pospak pertama dan nomor satu di dunia, Pampers, mengadakan temu blogger ibu-ibu di Hotel Double Tree by Hilton Cikini pada Sabtu lalu. Dokter  Dr. dr. Soedjatmiko SpA (k), Msi, hadir sebagai pembicara pertama menjelaskan bahwa tidur adalah proses stimulasi. Bayi akan terganggu tidurnya dikarenakan dua hal, suara dan lingkungan. Suara meliputi bising, teriak, dan semacamnya, sedangkan lingkungan bisa dikarenakan panas, dingin, pakaian atau popok yang basah karena urin atau muntah.


Yang perlu digarisbawahi adalah sewajar apa pun bayi yang kerap terbangun, ternyata jika kondisi tidur pulas (kondisi REM dan non REM) tak kunjung bisa diraih bayi hingga usia dua tahun maka si anak akan mengalami gangguan dalam perkembangan emosi, fisik, hingga kognitif. Tuh, bahaya kan?


Siapa pun juga tak tega melihat bayi yang tidak nyaman tidurnya. Begitu juga dengan salah satu karyawan P & G. Beliau seorang kakek yang kasihan melihat cucunya tidur gelisah dengan popok kainnya. Lalu dia pun terpikir untuk menciptakan popok sekali pakai yang nyaman dipakai. Itulah asal muasal Pampers, 59 tahun yang lalu. Pionir sejati hingga kata 'pampers' menjadi jamak digunakan secara internasional alih-alih 'diapers'.


Artika Sari Devi selaku brand ambassador Pampers pun berbagi pengalamannya terkait membuat anak bisa tidur dengan nyenyak. Menurutnya ritual-ritual yang harus dijaga adalah memastikan anak kenyang, tirai ditutup dan penerangan diredupkan, dan jangan lupa membacakan cerita (eh sama dengan saya dong). Memastikan pakaian dan spreinya bersih terutama pospak sebagai bahan yang paling dekat dengan kulit bayi.


Ibu dari Abby dan Zoey ini menyebutkan bahwa anak pertamanya sempat mengalami dermatitis atopik. Yaitu sebuah keadaan si bayi mengalami biang keringat parah dan tidak bisa disembuhkan karena faktor keturunan. Time will heal, katanya ... Sehingga ketika Artika beralih ke Pampers terasa banget perbedaan kualitas tidur anaknya. Dilalah pas anak kedua tidak ada masalah sama sekali, jadi santai banget ....


Wah, jangan-jangan sama dengan #babyMeutia niy. Biang keringatnya parah banget dan walau dia termasuk bayi anteng walau gatal, saya curiga dia semakin sering bangun bukan hanya karena lapar tapi juga karena biang keringatnya merambah ke bokong. Sebagai pengguna pospak di saat anak tidur, makanya berusaha pilih pospak yqng bisa tetap nyaman digunakan dalam waktu lama. Nah, Dia mungkin bisa garuk-garuk kepalanya, tapi bokongnya? Pe er banget ^^' jadi kasihan.


Padahal aneh juga saya pikir, sudah pakai AC kok bokongnya malah keringetan? Ternyata, pospak yang saya pakai tidak se-breathable seperti Pampers. Butiran gel Pampers tidak hanya mengunci basahan lebih cepat, juga terbukti 99,9% kering. Eh ini ga cuma iklan. Pada even Pampers Baby Active ini ada pembuktiannya secara langsung. Saya kalau ga lihat sendiri juga suudzonnya ah itu pasti trik kamera. Eh ternyata beneran. Tak hanya itu, Pampers juga tidak menghalangi kulit bokong untuk bernapas. Demonstrasinya menarik deh, ada air hangat dituang ke Pampers, lalu dibalik dan ditutup gelas kosong, hasilnya? Berembun. Magic. Hehehe se-magic dokter Soedjatmiko yang sempat-sempatnya melakukan aksi sulap saat pembahasan materi.


So, it was a fun event. Baby Meutia ga rewel, digemesin sama Artika, difotoin sama ibu-ibu yang lain malah, pulangnya bawa Pampers sekantung. Alhamdulillah. Kado buat bayi, kado buat ibunya juga hehehe yuk bobo dulu ah. ^.^ Siapa tahu bisa foto Meutia lagi bobo cantik #pakaiPampers. Tanggal 22 Desember 2015 nanti bagi yang memiliki bayivberusia 0-36 bulan bisa upload foto si kecil dan testimoni ibu dengan hashtag #pakaiPampers ke wall fanpage Pampers Indonesia. Menangkan kesempatan untum si kecil jadi model di majalah Mother & Baby bersama Brand Ambassador Pampers Indonesia, Artika Sari Devi. Asyiik ^.^https://mobile.facebook.com/PampersIndonesia?fc=f&showPageSuggestions&_rdr

Senin, 07 Desember 2015

Deg-deg Serr Ikutan Liga Blogger Indonesia


Pada dasarnya saya orangnya minder, tapi suka lomba. Bagi saya, lomba bukan sekadar mengalahkan lawan, melainkan mengalahkan penyakit dalam diri sendiri. Makanya rasanya lebih deg-deg serr ketika jemari ini mendaftarkan blog ini sebagai pendaftar di Liga Blogger Indonesia atau LBI. Ada sisi diri yang lain yang komentar, "ealah nambahin kerjaan aja. Udahan ibu rumah tangga, ga pakai ART, anak tiga, ada yang bayi pulak. Macam orang kurang tugas saja, bah!"
Liga Blogger Indonesia adalah kontes bagi para blogger yang akan dimulai sejak Januari 2016. Well, sebenarnya sejak bulan ini sudah diadakan babak kualifikasi untuk menyaring peserta yang tahun ini mencapai 85 orang. Dari setiap grup hanya akan terpilih 10 orang yang akan lanjut ke kompetisi yang sebenarnya.
As I was saying, utamanya adalah berlomba mengalahkan penyakit dalam diri sendiri, tapi bukan berarti saya berpikir "menang syukur, kalah juga ga papa. Woles." Jika saya tidak memberikan performa terbaik dalam kompetisi ini, maka perlombaan dalam diri itu bisa-bisa berlangsung terlalu singkat. Jika saya tidak berada dalam kelompok orang-orang terpilih, saya tidak akan terpacu meningkatkan kualitas tulisan saya. Dan terlebih penyakit saya akan segera kambuh.
Emang sakit apa sih, bu?
Saya berstatus ibu beranak tiga tanpa ART tidak serta merta memastikan bahwa rapor urusan rumah tangga saya bagus semua. Oh, tidaaak. Saya punya masalah-masalah mendasar dan si masalah mendasar ini harus ditertibkan. Salah satunya dengan ikutan Liga Blogger Indonesia.
1.       Manajemen Waktu
Tidak semua wanita hebat dalam melakukan multitask, mereka suka melakukannya tetapi belum tentu jago menyelesaikannya. Salah satunya saya. Menambah tantangan dengan ikutan LBI adalah cara saya memaksa diri untuk mengatur waktu dengan lebih baik. Jika saya lolos, kompetisi ini berlangsung selama tiga bulan loh. Jangan dianggap remeh urusan tulis-menulis ini. Bisa sangat melelahkan. Naaaah, saya harus pintar memanjemen waktu biar badan tetap sehat, akal tetap jernih saat berhadapan dengan anak-anak dan urusan rumah tangga.
2.       Disiplin
Mudah menyerah adalah satu penyakit saya. Penyakit yang membuat saya sulit mewujudkan teori 7 habitsnya Stephen R. Covey. Disiplin dan konsistensi saya mudah buyar. Terutama jika terkena halangan yang bernama "keteteran".  Dalam seminggu membuat tiga posting blog dan salah satunya adalah tema yang ditentukan oleh panitia adalah tujuan saya. Bukan sekadar posting, tetapi postingan yang bagus, inspiratif, dan bermanfaat. Ganbatteeee!!!!
3.       Kreativitas
Dan postingan yang bagus itu perlu kreativitas. Saya harus tinggalkan sifat "yang penting lulus" semasa kuliah. I must do it. And do it best!!!
Jadi wajarlah jika saya deg-degan, karena tantangan ini diharapkan akan mengubah banyak hal dalam diri saya. Seharusnya sih ke arah yang lebih baik hehehe ... bagaimana tidak? Melihat daftar pesertanya saya jadi merasa selama ini masih melihat permukaan dunia blog. Saya harus menahan napas dan menyelam untuk menyaksikan betapa ada lebih banyak hal yang terjadi di dunia para blogger ini. just keep swimming, just keep swimming ... 
Hadiahnya? Eh serius saya malah ga tahu ada hadiahnya wakakakak ... 

Selasa, 27 Oktober 2015

Blogger: Merajut Mimpi dan Inspirasi Lewat Tulisan

Selamat Hari Blogger Nasional, semuanyaa ^^ Dalam rangka itu pula, saya mau tulis yang nostalgia tentang perjalanan saya sebagai seorang blogger.


Dari Buku Harian hingga Multiply yang Tergusur
Blog bagi masa kecil saya adalah buku harian. Seolah PR dari sekolah kurang banyak untuk olahraga jemari saya. Menulis bagi saya selalu disempatkan, sejak SD hingga kuliah. Mulai tulisan saya masih besar-besar hingga kecil-kecil. Lewat organizer-organizer milik papa saya hingga buku tulis biasa yang disampul cantik. Itulah blog saya. Sebagai anak kamar bin rumahan, saya tidak punya banyak info tentu saja, banyak rahasia, dan itulah isi buku harian saya. Rahasia perasaan saya.  Tempatnya senantiasa tersembunyi.

Memasuki dunia kerja, saya berkenalan dengan yang namanya Friendster. Kolom blognya saya isi dengan puisi-puisi galau, maklum, masih labil. Tak lama, saya diajarkan tentang multiply. Friendster menghilang, multiply merajalela. Isinya bukan lagi puisi, tetapi saya jadikan buku harian virtual saya. Which is not really a good idea. Terlalu curhat pun berbahaya, entah berapa kali saya kena tegur akibat pemaparan subjek dan objek yang terlalu gamblang.

Pada laman multiply ini karena agak lama usianya, saya kemudian mengembangkan sayap dengan menulis review buku. Maksud awal sih untuk promosi buku terbitan kantor sendiri, but I can’t deny, i was enjoying it. Sesuai dengan jobdesk saya menangani buku-buku selfhelp, saya tertarik membuat tips ala ala dalam blog saya. Banyaklah trial dan error di multiply ini sehingga begitu tergusur dan saya gaptek dalam proses pemindahan datanya, saya agak-agak syok. Dan kemudian meliburkan diri dari blog. Benar-benar libur panjang.

Melatikoekieku.blogspot.co.id yang sudah kadung dibuat pun vakum begitu lama dalam bisu.Namun, saya tak pernah berhenti menulis. Ga bisa. Saya lebih banyak bermain di note facebook. Hingga kemudian hasrat menulis saya tergoda oleh informasi lomba blog. Sayangnya, note facebook tidak termasuk dalam kategori blog. Dan si situs kosong itu pun tersentuh lagi. Siapa sangka, lomba blog bisa sangat menarik perhatian dan menimbulkan efek ingin ikut lagi dan lagi. Dua tahun di-PHP-in, akhirnya satu per satu tulisan terisi.  Saya kembali. Kini lebih terarah. Mudah-mudahan.


Perawatan  Blog
Segala sesuatu yang sudah kita berikan nama berhak memiliki perawatan. Begitu pula dengan blog. Menjaga konsitensi posting adalah salah satunya. Seperti halnya buku harian, saya terbiasa menggunakan satu jenis buku untuk satu tema curhat. Misal, masa SD banyak masalah tentang orangtua, masa SMP labil, jadi temanya campur-campur. Masa SMA saya berisi tentang kecengan, dst. Saya tidak pernah tuh, di buku harian SMA tahu-tahu ngomongin urusan pelajaran misalnya. Itu saya omongin di buku harian gank (ceile punya gank). Nah, begitu juga dengan blog. Perawatan disesuaikan dengan pengunjung.  

Saya mengalami banyak naik turun dalam hal ini. Awalnya tidak terlalu peduli dengan jumlah pengunjung, tetapi kemudian bertanya pada diri sendiri, “jadi, kenapa tidak simpan saja tulisanmu di file document dalam laptopmu?”

Tema pun juga menjadi perhatian. Bagaimana caranya agar tidak campur aduk warnanya. Ikut lomba pun pilih-pilih. Ya, sesuai image bawaan profil, ya sesuai tema besar blog. Pemilihan tema harian khusus di hari Rabu, Kamis, Jumat, dan Minggu membantu saya lebih fokus. Biar ga maksa nulis setiap hari sehingga akhirnya bikin tulisan seadanya yang berujung curhat dan kemudian tahu-tahu ada yang protes. Toh, tugas utama saya kan ibu rumah tangga yang 24/7 bergulat sama urusan anak-anak, jadi bikin target ga setiap hari posting bagi saya cukup make sense.


Mencurahkan Waktu
Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya 24/7 berada di sekitar anak-anak, jadi di antara sekitar anak-anak itu tentu saja saya pernah posting blog hehehe ... Paling mantep pas nyusuin anak. Udah juga lama nyusunya, mata ngantuk, ya sudahlah ponsel jadi penyelamat mata. Kapan lagi waktunya? Pas tidur siang. Biasanya untuk bikin konsep. Nah dirapihkannya pas anak-anak tidur malam. Di situ merangkap pula sharing postingan. Atau kadang-kadang baru di-share early in the morning. 

Memposting blog bagi saya harus disempatkan, Seringkali itu saya jadikan sebagai cara saya tetap waras. You know, i don't always spend much time talking to my peers makanya perlu wadah untuk segala kata-kata yang sudah menjadi jatah harian saya. Percaya tidak percaya, dengan mencatat diri sebagai blogger dan masuk dalam komunitas, saya jadi lebih menjaga jarak dalam berkomentar. You are what you post. tadinya saya pikir itu akan menghambat kreativitas dan kebebasan berekspresi saya, eh tapi ternyata ga loh. itu membantu saya memilih siapa yang jadi contact saya, siapa yang di unfollow hehehe ... 



Kita Selalu Dikelilingi Inspirasi
Saya tidak mobile-mobile amat sih, tapi saya selalu usahakan kemana pun saya pergi itu ke tempat yang baru. Kadang pakai modus mencari lokasi yang asyik buat suami motret ^^ Dan biar saya ga manyun karena kakinya pendek, saya jadikan di sekitar saya sebagai sumber berita. Semua bisa jadi berita kok, kalau mau agak lebar buka matanya hehehe ... ga usah jauh-jauh, tempat main anak, buku-bukunya, sering saya jadikan sumber postingan saya. Intinya, dekat tapi jangan intim. 


Menghadiri Undangan dan Anak-anak
Begitu agak kondusif sedikit, biasanya saya mulai berburu undangan blogger. Tentu saja asal temanya sesuai dengan tema besar blog saya. Itu yang pertama. Yang kedua adalah, waktu dan tempat. Itu penting banget karena sekarang dah ga bisa keluyuran di hari kerja, karena ada anak yang sekolah, ada yang ga, ada yang masih nyusu juga. Nah, lengkap deh.

Kalaupun di akhir pekan, saya tidak bisa yang jauh banget dari area Kalibata dan Tebet. Pokoknya paling lama satu jam perjalanan deh.  Jadi kalau harus ke Bekasi, Tangerang, dll yah sudahlah .. dengan berat hati saya tinggalkan. Next time ... selalu ada next time. Itu kata saya menghibur diri.
Itulah sebabnya saya lebih giat mendekatkan diri pada komunitas-komunitas blogger, supaya corong informasinya lebih banyak. Jadi lebih banyak pilihan.

Bawa anak-anak pun bukan perkara mudah. Saya harus sadar diri mengambil tempat paling belakang atau yang agak mojok-mojok jauh gitu. Maklum, anaknya lumayan cerewet. Mau ambil foto pilihannya, paling pertama atau paling belakangan. Rasanya suka gemes sendiri kalau kamera di ponsel ga mampu menjawab tantangan sendiri hehehe ... yah sudahlah. Kalau sudah begini, ya pintar-pintar sendirilah. Karena posting laporan dari undangan itu saya lebih menekankan terkait menjaga hubungan baik dengan pihak penyelenggara sih. Walau memang sering jadi ada lomba blog setelah undangan blogger ini.  Makanya ingin punya materi foto yang baik. Sebagai bentuk penghargaan.


Blog Bayangan dan Blog Berbayar
Hehehe masih ada sih blog lain yang terkait dengan portal berita tertentu. Saya bingung mau isi apaan kecuali kalau ada lomba yang mereka adakan. Mungkin harus ada postingan rutin setidaknya sebulan sekali di blog-blog itu.

Blog berbayar? Hmmm ... pernah ngalamin bikin situs sih. Aduuuh kok banyak banget yang harus dirancang ya? Nanti deh ya? Boleh ya? Kalau sudah settle semua. Soalnya aku orang detail tapi lupaan, nah repot kan hehehe




Lucu juga sih ketika menuliskan data di profil sebagai seorang blogger. Rasanya  ge er gimana gitu. Belum yang menghasilkan pundi-pundi uang sih. Konsisten saja dulu, itu prinsip saya. Mimpi dapat banyak undangan ke banyak tempat liburan keren bareng anak-anak masih tergantung mantap dalam hati saya ^^ Selamat #hariBloggerNasional, semuaaa  (lagi)

Minggu, 04 Oktober 2015

Tujuh Alasan Gagal Ikut Lomba Blog




Salah satu momen penting sebagai blogger bagi saya adalah ketika berurusan dengan lomba blog. Apakah Anda blogger yang suka ikut lomba blog? Konon blogger yang tidak mengasahdirinya dengan mengikuti lomba blog itu ... apa ya, kok saya lupa. Pokoknya kurang kompetenlah. Katanyaa ...
Awalnya saya tidak terlalu ingin ikutan lomba, tetapi kemudian saya melihat dengan mengikuti lomba otak kita terpacu memikirkan bagaimana cara menuliskan tema tertentu. Lomba blog memang melelahkan. Tak jarang saya bisa libur posting blog hampir sebulan setelah mengejar menulis beberapa blog dalam satu bulan. Nafas bloggernya masih pendek ^^
Apakah Anda suka ikut lomba tapi jarang atau bahkan belum pernah pecah telur sekalipun? Tenaaang ... jangan menyerah. Coba terus. Mereka yang menang lomba blog itu sejatinya juga banyak kalah, jadi jangan khawatir. Karena itu semua lebih baik daripada sudah meniatkan ikut tapi akhirnya malah gagal ikutan lomba.
Gagal ikutan lomba itu rasanya nyesek banget buat saya. Sudah rajin-rajin cari info lombanya yang seringkali harus memungut dari sumber-sumber yang berbeda-beda. Even mbah google saja tidak cukup. Harus rajin lihat grup FB, blog orang, twitter, dan lain-lain. Ada begitu banyak usaha untuk sebuah informasi. Dan ternyata informasi itu tidak bisa dimanfaatkan .. n it hurts #lebay

Emang apa saja sih yang bisa mengakibatkan para blogger gagal ikut lomba?
1.       Mismanajemen Waktu antara Lomba Satu dengan Lainnya
Ada banyak bookmark info lomba blog di gadget kamu. Telah dijuduli sesuai dengan tanggal dateline-nya. Ealah ngerjainnya dari yang dateline-nya paling belakangan. Akhirnya grabak grubuk dan yaaah ... kelewatan deh.
Metode mengerjakan sesuatu yang lebih mudah itu memang betul, tetapi jadi tidak tepat jika yang sudah mepet masih ingin dikerjakan juga. Fokus, bu. Fokus. Kalau kelewat ya sudahlah. Tulisan yang dibuat dalam keadaan lelah juga ga akan menarik.

2.       Salah pasang tanggal dateline
Kebanyakan blogger membuat bookmark untuk setiap info lomba yang ditemuinya. Agar lebih mudah, judul link-nya diberi judul sesuai tanggal dateline. Lebih mudah dicari dan lebih runut. Namun alangkah nyeseknya ketika sudah menyiapkan draft posting sedemikian hingga, siap dipublish, sedang membaca kelengkapan lomba eeeeh rupanya dateline-nya baru saja lewat kemarin. Atau lebih keki lagi, sudah liwat bulan kemarin. #pengsaan

3.       Dateliners Garis Keras yang Gagal
Waktu tinggal dua jam lagi menuju pukul 12 malam. Jemari bergerak semakin lincah mengetikkan ide demi ide sesuai adrenaline yang kian meningkat. Sudah selesai. Bersiap memasang dandanannya, waktu tinggal satu jam lagi, pasti bisa. Eh lima belas menit terakhir, “ooeeee ...!!!” Bayi nangis minta disusuin.... Goodbye, so loooong .... Tidur sajalah.

4.       Jebakan Formulir Pendaftaran
Formulir yang turut menutup diri sesuai dengan jam yang tertera di dateline itu suka bikin gemes. Saya punya masalah dengan segala hal terkait formulir. I hate form. Adddaaaaa aja yang aneh-aneh dari mengisi formulir. Ya inilah itulah ... ya tahu-tahu pakai captcha. Dan begitu mau klik ‘oke’ eh waktu sudah pukul 12.03. What the ... #tarik2rambut #tidurlagi

5.       Internet Gagal Total
Postingan sudah siap setengah jam sebelum pukul 12, tinggal pencet ‘publish’ eh sinyal internet kabur entah ke mana. Connect-disconnect-connect-disconnect-connect dan yap sudah lewat jadwalnya, buibuuuu .... #nangisBisik2 #tidurlagi
 
6.       Salah Kamar
Sudah pede sejuta, postingan sudah terpublish di blog. Tinggal urusan share di sosial media. Sambil baca-baca harus mention ke siapa eh ternyata tulisannya bukan dipasang di blog, tetapi di situs mereka. Kudu daftar lagi. Login lagi. Eeaaaa ketemu formulir lagi. Dan lewat sudah batas waktunya.

7.       Bak Sangkuriang  
Inilah yang terjadi jika mengejar beberapa lomba blog sekaligus tetapi waktunya mepet. Emangnya dikira nulis itu gampang, bos? Lagi mikir-mikir buat dua atau tiga tema lomba, eh dah lewat aja gituh dateline-nya ... hiks ...


Itulah suka dukanya seorang blogger. Semua yang saya tulis di atas itu pengalaman pribadi saya. Salah satu pelajarannya adalah ciptakan peluangmu. Peluang untuk menang lomba blog dengan cara fokus pada satu per satu hal. Jika fokus maka posting lomba satu per satu pun akan selesai dengan sempurna. Bagaimana mau berpeluang menang, jika tidak bertindak laiknya juara dengan berbuat sebaik mungkin, meninggalkan hampir tak ada celah? So, act best and you will get the best. InsyaAllah ...  

Rabu, 30 September 2015

Emak Ngeblog, Keluarga Bahagia



Dunia tulis menulis sudah menjadi keseharian saya sejak saya kecil. Ketidakmampuan saya untuk mengungkapkan ekspresi secara verbal dan spontan, membuat saya bersahabat baik dengan buku dan pena. Buku harian menjadi saksi transformasi saya dari bocah, ABG, hingga mahasiswi galau.


Seiring dengan berkembangnya teknologi media sosial, saya dan tulisan pun turut berkembang. Terlebih ketika saya mengetikkan nama lengkap saya di google. Rasanya gimanaaa gitu melihat nama saya banyak dipakai sebagai nama samaran korban pemerkosaan dan sebutan hotel mesum #nangisDiPojokan. Makanya saya bertekad memupblikasikan nama saya dengan banyak tulisan-tulisan bermutu. Demi nama baik saya #ciyeeeh


Pada blog melatikoekieku.blogspot.co.id ini saya lebih berhati-hati. Berulangkali saya tanyakan pada diri sendiri apa yang hendak dibagikan ke masyarakat. I mean, saya kan bukan pakar apa pun, jadi bingung juga kalau mau berbagi ilmu. Saya lebih suka berbagi pengalaman.


Keputusan ini bisa dibilang tepat bagi kebutuhan akal dan jiwa saya rupanya. Dengan status ibu rumah tangga dan pekerja lepas, blog saya yang kemudian memiliki 4 tema berbeda dalam satu minggu, ternyata mampu menjadi penjaga kewarasan saya.


Pengalaman yang paling banyak terjadi ketika rutinitas menjadi membosankan, melelahkan, atau bahkan menyebalkan. Jalan-jalan dan buku menjadi senjata  saya menghibur anak-anak (dan saya sendiri). Inspirasi itulah yang kemudian saya tuangkan di blog.


Akibatnya, segala rintangan menjadi menarik untuk dihadapi karena pasti akan menjadi isi blog yang menarik pula. Sebaliknya, jika saya tak memaksa diri untuk mengisi blog, baik sudah memiliki subjek atau belum, saya akan mengalami keadaan di mana bola memantul di dalam kotak yang sempit. Begitu keras awalnya, rungsing ke sana ke mari, lalu akhirnya diam tapi babak belur dan sedih. Sementara itu, apresiasi yang datang dalam setiap postingan mampu mengisi ulang semangat saya saat menghadapi anak-anak. Jadi merasa berguna gituuh ^.^


Lama-lama blog saya jadi lebih banyak review,  dan itu membuat saya lebih bersemangat lagi menghadiri undangan-undangan untuk para blogger yang ramah anak entah itu temanya atau tempatnya atau waktunya. Saat mendapat undangan ke Kidzania dan bisa bawa anak-anaklah yang membuat saya berpikir, mungkin kata Ollie Salsabila itu ada benarnya juga. Jika kamu ingin ke Korea maka tulislah tentang Korea sebanyak mungkin, maka jangan heran suatu hari kamu akan diundang langsung ke Korea.


Saya sih masih level berburu undangan hehehe belum diundang langsung. Tapi itu menjadi mimpi besar saya di dunia blog. Agar bisa diundang ke tempat-tempat keren dan boleh bawa anak-anak.

ke acara blogger, bawa bayi


Setelah saya mengundurkan diri jadi pekerja kantoran, prioritas utama dan nyaris satu-satunya ya anak-anak. Bukan berarti ibu bekerja tidak memprioritaskan anak loh ya, tapi lebih dalam artian, saya ingin bawa anak-anak ketika saya bekerja.

status: bawa dua anak dan lagi hamil ^^


Mereka sudah merasakan bahwa yang namanya ayah kerja itu artinya mereka ditinggal, sedangkan saya yang kadang terima orderan kue dan editan naskah, sudah kadung terbentuk bahwa kalaupun Amy bekerja itu di rumah atau bawa anak-anak. Makanya mimpi saya bisa dapat undangan ke tempat main terkeren di dunia dan boleh bawa anak-anak ^.^ Atau dapat undangan keliling stadion Anfield biar bapaknya anak-anak juga merasakan ditraktir istri walau ga kerja kantoran.

 nonton konser sendiri di singapura, lagi hamil pulak. semangat bakal punya cerita di blog ^^

Bukan uang banyak yang jadi tujuan utama saya (itu sih tujuan nomor tiga =P) melainkan pengalaman yang kaya tidak hanya untuk saya tetapi juga untuk anak-anak dan semoga bermanfaat pula bagi para pembaca blog saya.


Bicara soal prioritas, which is anak-anak, saya tidak bisa selalu standby laptop menyala setiap kali saya ada ide. Bisa senewen karena harus menjauhkan anak-anak dari laptop. Akhirnya saya lebih banyak mengoptimalkan ponsel saya. Ketika anak kedua baru lahir, dia bisa menyusu hingga berjam-jam. Saking lamanya, saya bahkan bisa membuat draft dan mempostingnya. Padahal lelet bingit internetnya.


Sekarang ga mau lagi begitu, frustasi. Dan karena 'buntutnya' nambah lagi, urusan ngisi blog itu benar-benar harus disempat-sempatkan, kalau tidak bisa sutriisss. Tentunya Dengan waktu yang lebih efisien.  Bikin draft di One Note Office, lalu kirim via email. Untuk foto, saya lebih suka apa adanya sih, kalau perlu mengkolase saya pakai aplikasi phototastic. Namun belakangan aplikasi ini menghilang, jadi saya lebih sering menggunakan Picasa di laptop. Sepertinya sudah saatnya saya harus update lagi. Entah software nya entah smartphone-nya. *kedip2 ke Emak Gaoel. ...  #kodeBanget ^_~


Makanya perlu banget internet yang senantiasa cepat kapan pun dinyalakan. Males banget kan, udah waktunya sedikit, ealah pake lelet pulak. Begitu akhirnya terhubung eh ada bayi yang nangis. #yahBegitulah


Untung punya senjata andalan, modem Smarfren. Kenapa senjata andalan? Tinggal di komplek apartemen begini sinyalnya susah, ibu-ibu ... Beda belokan, beda sinyal. Nah khusus letak unit saya, yang mempan cuma modem smartfren. Jadi begitu anak-anak tidur siang, langsung colok. Sambil nunggu kue mateng, bisa colok sebentar. Anak-anak lagi nonton TV, melipir dikit emaknya sambil colok laptop. Begitulah dunia multitasking ibu-ibu hehehe ....


Kenapa ga pilih yang kabel? Walau saya bukan orang yang mobile-mobile amat, tapi saya suka yang namanya perasaan bebas. Bebas internetan di mana saja. Banyak hal yang mampu membatasi gerak gerik kita, tapi soal internet ga perlu begitulah ^^


Semoga saya selalu konsisten berbagi hal positif demi kesehatan saya, dan demi kebahagiaan anak-anak (dan bapaknya anak-anak). syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain dan dapat membawa rahmat bagi saya dan keluarga. Amiiin. #goforit



Go For It Blog Competition

Sabtu, 13 Juni 2015

Ibu Percaya Diri, Keluarga Bahagia

Ketika hamil anak ketiga, saya dilanda ketidakpercayaan diri. Berulang kali saya berniat mempertanyakan alasan Tuhan membuat saya hamil lagi padahal saya masih jauh dari kategori orangtua yang baik. Dan isu percaya diri ini sempat menjadi subjek utama kala saya mengalami early baby blues.

Undangan bagi para ibu-ibu blogger ke acara parenting class yang bertempat di Hongkong Cafe, pada 30 Mei lalu ini pun saya ambil dengan suka cita. Saya perlu mengosongkan gelas. Jumlah anak seringkali tidak menunjukkan kemahiran orangtua dalam mengurusnya. Walau bisa dikatakan, saya sudah khatam dengan ilmu parenting. Pada akhirnya, praktiknya tidak pernah mudah.

Bertajuk “Happy Mommy, Healthy Baby”, acara ini secara garis besar mengangkat tema kepercayaan diri. Saya membawa si bayi dan meninggalkan dua anak lainnya bersama ayahnya. Yah, anggaplah me time.

Acara yang dihelat mommiesdaily.com bekerja sama dengan Transpulmin Baby Balsam dan Kamillosan ini, diawali dengan presentasi dari psikolog Anna Surti Ariani S. Psi., M. Psi., Psi. Dengan mengangkat subjek “Ibu Percaya Diri, Keluarga Bahagia”, psikolog Anna hendak menunjukkan bahwa kepercayaan diri seorang ibu atau ayah memang memiliki dampak langsung atas terbentuknya keluarga yang bahagia. Seorang ibu yang mengalami depresi dapat menyebabkan anak mengalami gangguan psikologis. 


Dengan mengutip Van Leon, dkk (2013), seperti ini:
Orangtua yang mengalami depresi -> kurang memonitori anak -> anak remaja alami gangguan psikis

Walau toh psikolog Anna juga menyatakan bahwa orangtua yang tidak percaya diri tidak serta merta membentuk anak yang tidak bahagia. Kenapa bisa begitu? Karena ada juga orangtua yang walau tidak percaya diri namun tetap berusaha keras membahagiakan keluarganya. Yah seperti pohon dengan dedaunan yang rimbun tapi akarnya keropos dengan cepat.

Kunci dari sebuah kepercayaan diri ada tiga langkah; kenali karakter positif saya, yakini karakter positif tersebut, lalu jalani. Contohnya; pada suatu hari kita terkejut, “Eh, ternyata saya bisa sabar ya.” Langkah selanjutnya katakan, “Saya memang penyabar, kok” dan kemudian “saya akan terus bersikap sabar”. Gampang, kan. (LOL)

But don’t worry, bahkan seorang psikolog pun memaklumi bahwa ada kalanya seseorang mengalami naik turun emosi. Yang penting selanjutnya adalah kembali ke jalan yang benar, secepatnya. Pikirkan bahwa kebahagiaan anak-anak bergantung dengan cara saya mengatur emosi.

Ada pun ciri-ciri bahwa kita mengalami depresi adalah ketika ada rutinitas yang berbeda, misal menjadi sulit makan atau bahkan terus-menerus makan. Jadi jika Anda melihat diri Anda atau orang-orang di sekitar Anda menunjukkan gejala-gejala seperti ini, itu berarti orang tersebut butuh pertolongan.

Ada satu sesi menarik di acara ini, saat itu psikolog Anna meminta kita menuliskan 2-3 karakter positif yang sejatinya ada pada diri orangtua, menurut kita. Setelah menuliskan kata “sabar”, “kreatif” dan “hangat” di sebuah kartu yang bergambar manis, kami diminta mengumpulkannya lalu kemudian kartu tersebut diambil lagi secara acak.


“Tidak ada yang namanya kebetulan.” Kata psikolog Anna. “Yang Anda dapatkan adalah karakter positif Anda yang belum Anda ketahui atau mungkin sudah Anda lupakan.”

Dan saya dapat apa? “Menjadi pendengar yang baik bagi anak” dan “Menjadi fans no. 1 bagi anak” Hmmm .... Actually, saya agak-agak berair mata ini saat membaca tulisan ini tapi saya tidak yakin sudah melakukan kedua hal ini atau belum.


“Masih ada kejutan lagi,” seru psikolog Anna. Nah loh. “Rogoh bagian bawah kursi yang Anda duduki, di sana ada gulungan kertas bertuliskan karakter positif. Ingat, tidak ada yang kebetulan.”

Nah, di sini baru lucu. Tebak saya dapat apa? “Rapi” Doeeeng ... ketahuan sama kakak-kakak saya mah pada senang mereka.



 Setelah ditutup dengan cara yang menyegarkan, dr. Elizabeth Yohmi Sp. A sekaligus Ketua SATGAS ASI IDAI memberikan pandangan tentang kaitan ASI dengan kesehatan bayi. Pun pembahasan ini terkait dengan kepercayaan diri seorang ibu. Tentu banyak informasi yang bertebaran bahwa kebanyakan kasus ASI kurang disebabkan oleh kurangnya ilmu tentang ASI dan kepercayaan diri si ibu. Informasi yang dipaparkan oleh dr. Elizabeth lebih banyak mengulik rasa ingin tahu para peserta. Dr. Elizabeth menekankan bahwa proses Inisiasi Menyusui Dini adalah langkah awal kesehatan bayi. Toh, beliau juga menyatakan bahwa tidak ada yang namanya IMD gagal.

Kebanyakan para ibu yang baru saja melahirkan melorot kepercayaan dirinya saat mengetahui jumlah ASI-nya ‘sedikit. Padahal lambung bayi yang baru lahir hanya sebesar kelereng dan bayi dapat bertahan selama empat hari tanpa ASI, jika si ibu mengalami kesulitan mengeluarkan ASI. Hal ini pernah saya alami pada anak pertama. Maklum, namanya anak pertama. Ibu saya terus menceritakan bahwa abang sulung saya minum 100 cc ASI begitu baru lahir, jadi ketika beliau lihat ASI saya hanya mengotori dasar botol, saya langsung dianggap memiliki ASI kurang. Sempat hendak memberi susu formula tapi syukurlah anak saya tidak suka dan benar saja di hari keempat dengan berbagai usaha, anak saya bisa menyusu dengan benar.


Itulah mengapa sangat disarankan untuk mendatangi klinik laktasi dari sebelum melahirkan. Kondisi tubuh yang lelah akibat melahirkan, justru membuat ibu baru merasa kehilangan fokus dan kemudian kepercayaan diri. Pengetahuan sejak dini tentang ASI akan mengatasi hal itu.

Menyusui pun ada tekniknya, pelekatan yang tepat akan mengoptimalkan jumlah ASI yang keluar. Kasus bayi rewel saat atau sesudah menyusui bisa jadi disebabkan oleh posisi mulut bayi yang tidak tepat. Pelekatan yang tepat adalah ketika si bayi  juga turut menghisap aveola atau daerah sekitar puting, jadi tidak hanya puting yang masuk ke mulut. Salah pelekatan juga bisa menyebabkan lecet pada puting. Nah, ini yang saya alami pada anak ketiga. Siapa bilang saya sudah lulus menyusui? Hehehehe ...

Saya merasa tersentil ketika dr. Elizabeth menjelaskan tentang tata tertib menyusui. Menyusui sejatinya sebagai pererat hubungan antara ibu dan anak oleh sebab itu, jangan menyusui anak sambil main ponsel (jiaaah ini anak kedua banget). Saat menyusui adalah waktunya memaksimalkan kelima panca indera anak. Belaian, pijatan, tatapan, percakapan atau nyanyian adalah yang semestinya kita lakukan saat menyusui. Tapi gimana dook, dia nyusunya lama bingiiiit kan pegal. (alesaaaaan aja gue).

Saya rasa penjelasan dr. Elizabeth ini cukup ramah, mengingat beberapa waktu sebelum acara ini mulai ramai lagi mom war terkait ASI dan konsumsi susu sapi. Padahal sebagai penyandang jabatan Ketua SATGAS ASI, saya sudah khawatir bakal mendengar doktrin-doktrin ekstrem. Eh, ternyata tidak.


Walau saya tidak mengikuti games dan makan siangnya karena suami harus segera meninggalkan anak-anak di rumah demi urusan pekerjaan, saya yakin sudah mengantungi lebih banyak ilmu hari ini dari yang saya dapatkan kemarin. Kiddos, here I come. Thank you, mommies daily. 

Untuk info lebih lanjut tentang Transpulmin Baby Balsam dan Kamillosan silahkan ke:
www.facebook.com/KehangatanIbu atau di twitter @KehangatanIbu