Tampilkan postingan dengan label rhenald kasali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rhenald kasali. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Maret 2017

RABUku: Duet Motivasi dari Noura Books



It's been a while since the last time I bought book for myself. Biasanya buku-buku anak yang memang pada dasarnya koleksi juga, hingga akhirnya 'dianiaya' sama anak3. 

Sejak pertemuan terakhir di Indonesia International Bookfair 2016 lalu, saya memang sudah menantikan buku dari Pak Rhenald Kasali. Walau Pak Rhenald sendiri malah mengatakan, hati-hati loh sama buku kumpulan kutipan. 

Penulis buku kedua malah sudah lamaaaaaa sekali tidak berjumpa. Ya, Gobind Vashdev. Dulu, saya yang kelola buku pertamanya, Happiness Inside. Begitu saya mengundurkan diri, kami tak bersua lagi.  Singkat kata, saya yang punya terlalu banyak alasan hehehe .... Membeli buku dari dirinya langsung saya maknai sebagai cara menjalin silaturahmi sekalian beli arang untuk dimasak bersama nasi karena mas Gobind juga buka lapak atas nama wisdom shop.


Nah, langsung ke laporan bukunya deh.


BAPER
by Rhenald Kasali

Eh jangan baper duluan. Ini tuw, Bawa Perubahan. Sejalan dengan buku-buku Rhenald Kasali sebelumnya, tema berubah masih dipakai oleh Pak Rhenald. Penekanannya adalah, "apakah Anda mau tetap jadi passenger atau driver?"

Menjadi seorang driver berarti kita didorong untuk mampu berinisiatif dan akhirnya berkreasi. Terbayang dong ya analogi sopir ini. Jadi sopir kan ga bisa pasif. 

Cara latihan menjadi seorang driver adalah traveling sendirian. Yak, sendirian. Dan jangan ngandelin paket tur yaa ... 

Hahaha ini masalah saya banget sebagai tukang nyasar. Jadi ketika harus bepergian jauh sendiri-which is baru satu kali kayanya-saya mendadak mengeluarkan segala radar reminder. Lelaah. Ya memang, walau sering protes karena merasa diatur-atur (baca: dilarang) orangtua atau kakak3, kenyataannya saya orang yang punya kelemahan dalam mengambil keputusan. Mungkin ini akibat ya, tapi kan dah kejadian. Dan mengubahnya itu suliiit banget. 

Maka ketika pak Rhenald menyarankan untuk bepergian sendiri sejak dini, saya jadi ingat anak-anaknya Erwin Parengkuan bahkan bepergian berdua saja (kakak beradik) ke Ceko. Oh my God. Gue melongo. Ibunya sampai nangis-nangis ketika sudah berpisah sama anaknya. Terkadang kita sering terlalu larut dalam rutinitas mengurus(i) anak, kan. 

Nah, ini yang kemudian menjadi semacam cita-cita saya untuk anak-anak. To travel alone. Bukan dalam rangka kabur dari rumah atau patah hati kaya bapaknya yaaaa ... 

Kembali ke buku. Isi buku ini berisi kutipan-kutipan pak Rhenald terkait tema di atas. Dibuat sedemikian hingga supaya menarik. Sayangnya tidak ada yang berupa handlettering (maaf, saya masih lagi norak2nya dengan handlettering). Rasanya terlalu maskulin. Rupanya wajar saja, yang menyusun adalah anak-anak didik (plus anak kandung) pak Rhenald dari Rumah Perubahan yang kebetulan cowok semua. But still beautiful kok. Apalagi karena pesan ketika pre order, saya dapat bonus notebook-nah saya jadi bisa latihan handlettering. 

Buku ini bisa jadi 'tampar moment' hingga reminder seandainya dah merasa jadi driver tapi lupa caranya. Dirancang hardcover tapi ringan, jadi dapat dibawa kemana-mana dan dibaca di manapun. 


99 Wisdom
by GOBIND VASHDEV
Jadiii sejak terakhir bertemu, saya lebih banyak kepo-in mas Gobind via FB. Nah kumpulan renungan ini berasal dari FB. Mas Gobind sendiri mengungkapkan pada awal bukunya yang diberi tajuk copyleft instead of copyright, yang intinya seluruh isi buku ini ada di FB, silahkan dibaca. Tapi bagi yang suka membaca dalam bentuk buku, maka penulis akan menanam pohon untuk setiap eksemplar yang terjual...

Ga usah kaget, ga usah bingung. Yah, walau mungkin memang akan banyak menganga kalau mengetahui sedikit demi sedikit tentang Gobind Vashdev dan keluarga. Another color in life. 

Tulisan Gobind sekilas berbeda dengan tulisan Rhenald. Namun, garis besarnya sama. Berubah. Kalau pak Rhenald cenderung progresif. Mas Gobind lebih destruktif. Tanpa batasan, tanpa tergesa. Embrace. Terima dan kasih. 


Bagi saya, dua buku nourabooks yang terbit di bulan yang bersandingan ini menjadi semacam amunisi untuk lebih giat menjadi orang yang lebih baik. 

Kalau kamu?

Rabu, 13 Mei 2015

RABUku: 30 Paspor di Kelas Professor


Kebayang tidak, tugas akhir kuliahmu adalah pergi ke luar negeri, sendirian, dalam waktu 1,5 bulan ke depan? Tidak hanya mahasiswa yang dibuat kaget, bahkan para orangtua pun dosen sejawat juga terkejut dengan keputusan sang professor, Rhenald Kasali. Bagaimana tidak, itu adalah mata kuliah Pemasaran Internasional, apa hubungannya dengan jalan-jalan?

Sekilas seperti tugas yang borju, yang hanya bisa dilakukan oleh para mahasiswa yang tidak memiliki masalah finansial. Namun, karena keterdesakannya sebagai tugas wajib kuliah, justru mereka yang harus berjuang sejak awallah yang mampu menghasilkan pengalaman-pengalaman hidup yang berbobot. Bukan sekadar laporan perjalanan.

Hal yang menarik adalah, pada zaman tiket pesawat sudah semakin terjangkau dan liburan ke luar negeri bukanlah hal asing bagi banyak orang, rupanya hanya sedikit orang yang pernah mengalami bepergian sendirian. Benar-benar sendirian, bukan ikut rombongan atau apa pun. Bahkan untuk usia mahasiswa pun, bepergian jauh sendiri menjadi pengalaman baru.


foto diambil dari bukupedia

Bepergian sendiri ke negeri orang mendorong seseorang untuk beradaptasi, menghadapi masalah-masalah seperti tersasar, ditipu, dan lain-lain sendirian tetapi justru pada saat itu pertolongan pun akan datang tanpa diduga-duga. Walau tetap saja, semua berawal dari tekad menghadapi semua itu sendirian dengan tegar. Itulah yang  sejatinya dibutuhkan para calon sarjana itu usai menyelesaikan kuliahnya. Tidak serta merta teori.

30 Paspor di Kelas Professor terbagi menjadi dua jilid oleh penerbit Noura Books, itu artinya ada 60 kisah mahasiswa  yang berbagi pengalaman berlibur di negeri orang. Ada yang tertinggal pesawat karena tertahan di bagian imigrasi akibat dikira teroris, ada yang mendadak jadi calo tiket demi mendapat uang transportasi dan akomodasi ke salah satu negeri termahal, Dubai, ada yang terpaksa main ‘aman’ karena walau sudah sering ke luar negeri, orangtuanya tidak mengizinkan anak gadisnya bepergian sendiri, ada yang ditipu di India, dan masih  banyak lagi.

Tentu dalam penulisannya juga terdapat ragam cara. Namun, bagi mereka yang mengalami kisah yang menarik, cerita itu akan mengalir begitu saja sambil memicu debaran jantung para pembacanya. Ada juga yang terjebak pada laporan perjalanan ketimbang makna yang dia ambil dari situ. Sehingga bertebaranlah nama-nama tempat yang mungkin tidak pula dideskripsikan secara detail.


foto diambil dari bukupedia


Namun, tetap buku yang dieditori J. S. Khairen ini menginspirasi bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Dan tentu saja membuat saya ingin menambah cap imigrasi di paspor saya. Bagi yang sudah sering jalan-jalan, mungkin akan tertantang untuk pergi sendirian. Dan yang paling saya ingin terapkan pada anak-anak adalah memberikan kesempatan pada mereka untuk melakukan perjalanan sendiri, sedini mungkin karena di situlah kemandiriannya teruji. Agar tidak seperti ibunya yang selalu tersasar karena takut bertanya pada orang.  Agar tidak menjadi orang yang tidak takut akan perubahan, menghadapi rintangan, dan kemudian menjadi individu yang mampu berpikir cepat dalam mengatasi masalah.


Sementara itu, baca bukunya dulu deh. Jilid 1 dan 2 tersedia di bukupedia dengan harga Rp64000,-. Siap-siap menatap tanggal merah, merancang petualanganmu sendiri.