Minggu, 29 Juni 2014

Menang Kalah Itu ...

Pagi ini saya membaca sebuah postingan yang menarik dari Gobind Vashdev. Alkisah ada seorang ibu didatangi dua anaknya yang hendak bertanding. Si ibu bingung harus membela yang mana, karena cintanya sama besar." Lalu disambung dengan kutipan, "saat mendoakan kemenangan itu artinya mendoakan kekalahan yang lain. Berdoalah untuk diberi kekuatan menerima apa pun yang terjadi."


Tulisan ini mengingatkan saya pada keseharian saya sebagai wasit 24 jam untuk dua bocah saya. Yang paling gres adalah ketika salah satunya berkata, "aku menang ... Kamu kalaaah."


Sejak dulu saya tidak suka orang-orang yang begini. Paling banyak di usia sebelum SMP. Rasanya pengen gue jitak aja. Oleh karena saya ga mau anak-anak saya dijitak orang lain, saya pun harus berulangkali  mengingatkan mereka untuk tidak mengatakan hal itu. Merasa senang karena menang tentu boleh, tetapi jika kemudian meledek yang kalah itu yang ga boleh. Instead you may say, "great job for you. Congratulation."


Biasanya saya akan gunakan adegan dari seri tv Sofia the First. Ketika James yang menang melakukan selebrasi berlebihan saat bertanding hingga akhirnya teman-temannya tidak mau bermain dengannya lagi.


Sama seperti pilpres kali ini, baru kampanye saja dah ngenye-ngenyein lawan. Saya terbayang pertandingan bulutangkis Indonesia-Malaysia di mana terjadi persaingan suporter, siapa yang paling menyebalkan. Seandainya saya ada di bangku penonton dan teman-teman jiran saya berada di bangku penonton lawan, apakah saya akan ikut bersikap menyebalkan? Saya rasa tidak.


Karena pada pilpres ini walau saya senang dengan antusiasmenya, tapi sedih saja membayangkan ketika pemenangnya diumumkan, itu berarti kemenangan si pemilih bodoh atau pemilih sesat (sesuai tudingan pendukung lawan masing-masing). Lagian bagus kan ada pilihan lebih dari satu ketimbang cuma satu, katanya ga mau balik ke zaman orba kok ya suka banget bersikap menyebalkan?


Cerdas itu bukan yang semangat tunjuk-tunjuk tulang tengkorak sambil bilang, "Pikiiiir!!!" sombong sekali. Gue yg IQ nya selalu paling tinggi biasa aja tuh. Banyak sejarah orang pintar yang baru dipuja setelah mati, betapa banyak salahnya manusia dalam menilai orang lain.


Beriman itu sesungguhnya berasal dari hati. Toh saya pernah baca bahwa Tuhan telah menakdirkan pemimpin suatu bangsa. Jika presiden terpilih sejalan dengan iman yg diyakini, ya bagus. Jika tidak sejalan, berarti itu tantangan kita untuk belajar beriman lebih dalam lagi. Iman (seharusnya) tidak goyah dalam keadaan apa pun.


Saya tahu ada yang tidak suka jika saya gunakan frase 'siapa pun presidennya'. Gimana ya, saya hanya berpikir, saya lahir dari generasi-generasi tua yang mengalami banyak sekali hal. Bergolak melawan penjajah, bangkit dari kemiskinan, kabur dari ancaman penggal oleh bangsa sendiri, hidup di luar negeri, kalau pas foto sekolah harus buka jilbab dan masih banyak lagi yang lain, tapi ada yang tidak berubah diucapkan dari generasi ke generasi, iman. Jaga imanmu.


Jadi pilihlah yang sesuai keyakinanmu. Lalu tepuktangan untuk siapa pun yang menang. Dan kemudian kembali lanjutkan tugas kita sebagai makhluk yang rahmatan lil alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar