Tampilkan postingan dengan label bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bayi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Agustus 2017

SELASHAring: 1, 2, 3 Mari Menyusui ...



Kalau dipikir-pikir, status beranak tiga dan yang bontot sudah berusia lebih dari dua tahun, rasanya kurang cocok jika ikut acara Cerita Bunda bersama Prenagen lactamom yang diselenggarakan haibunda.com dan bekerja sama dengan Prenagen dalam rangka Pekan ASI Sedunia 2017 pada 05 Agustus lalu di cafe dia.lo.gue, Kemang. Namun, nyatanya walau ada begitu banyak informasi yang bertebaran tentang ASI, tidak sedikit para ibu yang mengalami kesulitan saat hendak memberikan ASI pada anaknya. Maka, dengan datang ke acara seperti ini, saya bisa mengupdate informasi ke kawan-kawan, syukur-syukur bisa berbagi pengalaman. 

 "Bagi ibu mungkin sudah menjadi pengalaman menyusui yang kedua atau ketiga, tapi bagi si anak itu adalah pengalaman pertamanya." kata Dr. Yolanda Safitri, MPH (M) Konselor Laktasi; Bunda International Clinic sebagai narasumber pertama. 


Menyusui itu ternyata tidak seperti naik sepeda, karena melibatkan pihak lain sehingga butuh waktu untuk beradaptasi. Dan dari anak pertama hingga ketiga, cerita tentang menyusui tidak pernah sama. 


Anak Pertama: Pembuka Jalan yang Butuh Keberanian dan Kepercayaan Diri


Tantangan terbesar bagi saya usai melahirkan putri pertama saya bukanlah proses pelekatan bayi pada puting ibunya, melainkan tanggapan orangtua saya terkait ASI saya. Ketika bayi masih belajar dan belum berhasil, ASI diperah tapi cuma iseng-iseng basahin dasar botol, membuat saya akhirnya membeli susu formula. Kepala saya sudah pening dengan omongan sana-sini. 

"Tenang aja, lambung bayi baru lahir itu baru sebesar kelereng." Itu kata kawan saya via message. Kalimat yang seperti guyuran air di gurun pasir. Saya tak lagi menyalahi diri sendiri, dan punya sedikit tenaga untuk mengumpulkan kepercayaan diri.  Dan kuping perlahan tertutup dengan berbagai konten negatif. Fokus saling belajar bersama si sulung dalam menyusui. 

Pada hari ketiga, ASI saya akhirnya keluar dengan normal. Walau salah satu putingnya perlu disedot oleh si sulung dengan sangat kuat selama satu minggu pertama dan itu rasanya ... luar biasa, seperti mau melahirkan saja ^^' Alhamdulillah masih kebagian kolostrum yang ternyata masih berproduksi hingga 5 hari setelah melahirkan. 

Bagaimana dengan sufor yang dibeli? Saya berseru gembira ketika si sulung menolak diberi sufor, "YES!!!"


Tantangan berikutnya adalah menjadi busui yang bekerja. Seminggu pertama saya kembali bekerja, si sulung bingung puting, hingga saya pernah minta izin pulang lebih cepat untuk menyusui karena anak saya sama sekali menolak diberi ASIP. Dan beberapa hari, saya hipnoterapi, membisikinya selagi menyusu atau saat tengah ditimang hendak tertidur. "Kalau Ami kerja, Malika nyusunya lewat botol ya. Nanti Ami pulang, baru nyusu langsung lagi." Dan berhasil! 


Lingkungan kantor pun mendukung, walau belum memiliki ruangan khusus tapi saya diberi waktu untuk melakukan pumping di jam kerja. Begitu sudah agak ahli, saya bisa memerah sambil bekerja atau bahkan saat rapat. Ketika satu kantor diwajibkan ikut pelatihan di luar kota, saya nyaris tidak mau ikut karena ASIP saya terbatas dan anak masih ASI Eksklusif. Namun pimpinan saya, dengan semangat 'tetap bekerja walau menyusui' mengizinkan saya membawa bayi dan suami saat itu bersedia mengambil cuti dadakan, dan karena bawa rombongan, saya pun diberikan satu kamar sendiri di hotel. Sungguh terharu saya dibuatnya. 


Si sulung ini menjadi anak yang paling sebentar waktu menyusuinya karena di usia 10 bulan, saya sudah hamil lagi. Tanpa disapih, si sulung berhenti menyusu di usia 13 bulan. 



Anak Kedua: Si Penyundul yang Butuh Kesabaran 


Situasi saya saat melahirkan anak kedua agak berbeda. Sudah berhenti bekerja dan pindah ke rumah sendiri di usia bayi 40 hari. Saya pikir bisa jadi lebih fokus, tenang, dan sebagainya. Tapi ... eh ternyata ga juga loh. Karena si anak tengah ini, laki-laki, dan menyusunya bisa berjam-jam. Serius. Berjam-jam. Dari saya masih elus-elus ajak ngobrol, hingga ketiduran, lalu bangun lagi, itu anak masih saja nempel. Dan kalau saya lepas, anaknya bangun lalu minta nyusu lagi. Eh ya ampuuuun .... Mau minum saja ga bisa. Apalagi masih ada si kakak kecil. Dari dibujuk disuruh nonton sampai filmnya habis, belum kelar juga. Akhirnya si kakak turut nimbrung dengan mainannya di sisi lain ibunya. Menyusu sambil momong. Tak jarang menyusu sambil nulis blog, di hape jadul yang lemot, bisa loh jadi satu postingan.  Masih syukur terkadang dikirimi sayur daun katuk sama mama. Dan kalau si ayah belum berangkat kerja, si sulung bisa memuaskan rasa bermainnya. Atau saya bisa sejenak membetulkan posisi tubuh saya yang kaku berjam-jam ketika si ayah memandikan anak cowok ini atau mengajaknya berjemur. Pada saat-saat seperti ini, dukungan walau remeh-temeh itu sangat berarti loh. Hasilnya, anak laki ini betah menyusu hingga usia 2,5 tahun. 


Anak Ketiga: Si Bontot yang Menolak Disamakan


Baru saja saya buang bra menyusui saya setelah 4 tahun digunakan, merayakan hari bebas menyusui, eh saya hamil lagi. Persis satu bulan setelah si anak tengah berhenti menyusu. Hampir-hampir mirip dengan salah satu narasumber Ilma Rineta (Co-Foundaer Circle of Moms) yang juga menyusui nonstop dari tahun 2012, tiga dari empat anaknya adalah laki-laki, dan gragas juga menyusunya ^^' . Saya Cuma bisa elus dada dengarnya.

Pada kehamilan ketiga ini saya cuek luar biasa. Gayanya petantang-petenteng. Ah, gue dah jago lah. Tapi eh tapi, untuk pertama kalinya saya merasakan puting lecet oleh bayi yang ga punya gigi. Badan masih remuk usai melahirkan, tulang punggung masih kram, payudara bengkak, dan sobek ... huaaa rasanya mau nangiiiis ... Butuh waktu seminggu baru bisa normal. Itulah namanya kualat ^^' Dan ternyata  75% ibu menyusui mengalami puting lecet. Jadi itu biasa, normal seperti halnya masalah lain dalam menyusui mulai dari berat badan bayi turun (selama belum 10% dari BB bayi masih dianggap normal), bayi sebentar-sebentar menangis (bukan karena ASI kurang, melainkan karena ASI mudah dicerna bayi), hingga bayi kuning (dikarenakan organ tubuh bayi pun masih belajar mengelola bilirubinnya). Jadi, ga perlu khawatir. Perbaiki lagi pelekatannya. 

Bersyukur sudah tidak ada lagi lingkungan dengan konten negatif. Baik keluarga, kawan, hingga tetangga yang datang senantiasa membawa sesuatu yang mendukung saya selama menyusui di minggu-minggu pertama. 

Tantangan saya di anak ketiga adalah gizi. Saya terbiasa menurunkan prioritas diri saya terkait gizi makanan karena saya sudah tidak ada waktu memasak untuk diri saya sendiri. Akhirnya makan ala kadarnya. Sehingga banyak asupan seperti zat besi dan kalsium yang sudah menjadi isu saat hamil anak ketiga, yang tidak terpenuhi. Hal ini yang membuat saya curiga apakah itu yang menyebabkan gigi-gigi pertama anak saya tidak tumbuh dengan bentuk sempurna.  Tidak kotak mulus melainkan runcing-runcing gompal-gompal.  Hadooh. 

Tapi cukup sudah. Tiga pengalaman sudah lebih dari cukup bagi saya hehehe ... 


Terkadang kita lupa, saat menjadi busui, kita pun masuk ke kalangan VIP di rumah tangga.  Makanya memang harus selalu ingat bahwa di zaman sekarang ini support system untuk ibu menyusui sudah semakin membaik, seperti dengan begitu banyaknya pilihan susu khusus ibu menyusui yang rasanya pun enak. Konselor ASI bertebaran, seminar tentang ASI pun sering diselenggarakan, komunitas ASI juga beragam. Semoga dengan begini, para ibu menyusui semakin nyaman menyusui anaknya. Dengan perasaan bahagia dan penuh cinta.  

Minggu, 29 Mei 2016

Agar Si Bayi dengan Kulit Sensitif tetap Aktif




"Bu, nanti untuk mandi dede bayinya pakai Lactacyd ya bu. Tahu, kan?” tanya seorang dokter spesialis anak ke saya.
“Iya, saya punya di rumah. Yang pink itu, kan” jawab saya percaya diri.
“Bukan.” Terdengar suami mendengus sambil geleng-geleng.
“Ini lactacyd baby. Saya tuliskan di resep ya.” Kata dokternya lagi.
 “Masa mau dipakaikan lactacyd kamu sih, yang bener aja?” gumam suami sekeluarnya kami dari ruang dokter.
Ya, maap. Kirain bisa multifungsi.

Foto Si Sulung, enam tahun lalu
Hayo, coba cari mana Lactacyd Baby-nya?


Itu enam tahun lalu.
Kala itu si sulung baru mengalami bulan pertamanya di dunia dan kemudian ditemukan ada semacam burik/panau di pahanya. Biasalah, anak pertama. Bingung dong. Akihrnya ketika jadwal imunisasi, kami konsultasikan hal ini dan kemudian dokter meresepkan Lactacyd Baby (iyes, ada babynya dan warnanya biru). Yah, itulah pertama kalinya saya tahu bahwa lactacyd bukan melulu tentang masalah kewanitaan ^^ Dari si sulung lalu ada anak kedua, hingga anak ketiga ... ketiganya kebagian diberi resep lactacyd baby. Lah, ini kenapa anak zaman sekarang pada sensi kulitnya ya? Apa kualitas air kita semakin buruk?



Pada event Mother & BaBy di Igor’s Pastry & Cafe di Wijaya, Sabtu kemarin, saya jadi tahu lebih banyak tentang kulit sensitif bayi dan terutama tentang si Lactacyd. Karena jujur, walau sudah digunakan untuk tiga anak, saya belum yakin apakah saya menggunakannya dengan tepat atau tidak.



Dalam video lactacyd baby dan ditekankan dalam penjelasan Dokter Liem Hua Ling bahwa kulit bayi itu memang lebih sensitif daripada kulit orang dewasa. Hal itu dikarenakan selain lapisannya lebih tipis, juga karena ph-nya lebih tinggi, yaitu sekitar 6-7. Keadaan itulah yang menyebabkan mudahnya mengalami iritasi seperti kemerahan, gartal, sibarrhea, dan ruam popok. Nah, untuk meminimalisir iritasi, maka para orangtua harus pandai-pandai memilih popok, pakaian bayi, dan cairan pembersih untuk pakaian atau untuk mandi yang aman untuk kulit bayi. Satu lagi, pilihlah cairan pembersih yang sudah teruji secara klinis dan yang membantu menurunkan ph bayi seperti ph normal dewasa.



Dipandu oleh MC Sisca Baker, Tara Amel @mamaofsnow sebagai blogger mom berbagi cerita ketika anaknya mengalami iritasi, dia kemudian mencari informasi dan ternyata di forum-forum, Lactacyd Baby memang banyak direferensikan oleh para ibu untuk bayi mereka. Ternyata, yang kulitnya sensitif bukan bayi saya doang hehehe ... Di acara ini saya menemukan ada banyak mama-mama yang memiliki anak dengan ragam kesensitifan kulit. Aku tidak sendiriaaaan. Ada yang memang keturunan, ada juga karena faktor luar atau pencetus.

Saya jadi ingat si bungsu, whew urusan kulitnya ga kelar-kelar. Mungkin ph-nya juga tinggi sehingga setiap kali berkeringat maka akan timbul merah-merah di leher dan tangan. Belum lagi soal alergi makanan. Eh, tapi ini sebenarnya si bungsu sensitif kulitnya atau alergi?

Menurut Dr. Liem alergi itu sendiri mempunyai definisi reaksi berlebihan dari kulit atau tubuh yang disebabkan oleh benda asing. Jadi alergi dapat mencakup seluruh tubuh, sedangkan sensitif biasanya hanya pada area tertentu. Biasanya di daerah lipatan tuh, makanya para orangtua tidak boleh malas membersihkan area lipatan pada bayi.

Disebutkan Lactacyd Baby mengandung ekstrak susu untuk menjaga kelembaban kulit bayi. Nah, kalau yang alergi susu bagaimana?

Mba Marketing Communication dari Lactacyd Baby menjelaskan  bahwa alergi susu pada anak itu sifatnya lactose intollerant. Artinya terkait dengan saluran pencernaan. Sedangkan Lactacyd Baby digunakan untuk bagian luar tubuh. Hmm bolehlah Dek, nenek kasihan karena kamu ga bisa minum susu sapi, tapi kamu selalu bisa mandi susu ^^



Nah, saya baru dapat pencerahan nih. Ketika si bungsu lagi panen merah-merah di badannya, saya seperti biasa menggunakan lactacyd yang diteteskan ke dalam bak mandinya. Eh tapi kok lama banget sih hilangnya? Kan si baby ini tumben awet putihnya, jadi kalau lihat kulitnya bruntusan gitu kasihan.

Ternyataaaaaa .... penggunaan lactacyd baby dengan cara mencampurkan 3-4 sendok teh lactacyd baby ke dalam air mandi bayi itu untuk perawatan. (hmm ... kemarin itu nyampe 3-4 sendok teh ga ya? Mikir sendiri). Kalau anaknya  sedang kumat iritasinya maka teteskan lactacyd baby ke kapas atau kain kasa lalu ditotol-totol (iki opo ya bahasane ^^’) ke bagian yang iritasi.

Info ini saya dapat dari testimoni seorang mama yang duduk di samping saya loh. Hoalaaah .. coba kalau si mama ini ga mengacungkan tangan, mungkin saya masih tersesat.

Oh, ada satu lagi, untuk si kulit sensitif air mandinya justru disarankan yang suhu ruang, bukan yang terlalu hangat atau terlalu dingin. Air dingin akan meningkatkan ph kulit bayi. Air yang terlalu hangat akan membuat kulit yang teriritasi jadi gatal. Dan mandikan bayi tidak lebih dari lima menit. Nah loooh ... yang suka berlama-lama di kamar mandi ^^ (tunjuk tangan).

Okelah kalau begitu, selanjutnya akan lebih baik memafaatkan Lactacyd Baby. Apalagi si bungsu lagi lucu-lucunya niy, biar si bayi berkulit sensitif ini bisa tetap aktif, ga sibuk urus gatal-gatal sana sini.

Senin, 13 Juli 2015

Bebas Dehidrasi dan ASI Melimpah Saat Berpuasa


Banyak kejadian kenabian yang melibatkan air di dalamnya, salah satu yang paling populer adalah air zamzam, air yang muncul ketika dijejakkan oleh malaikat Jibril di dekat bayi Ismail yang menangis. Air zam-zam itulah yang menjadi sumber berkembangnya suatu daerah gersang bin bergurun bernama Mekkah.

Air zam-zam adalah salah satu bukti kebesaran Allah Swt. sejak zaman nabi Ibrahim. Dipergunakan jutaan liter per harinya, tetapi air zam-zam tidak pernah habis. Tak hanya itu, orang yang meminumnya pun akan merasa sangat segar. Sifat yang kurang lebih sama dengan ASI. Kebayang kan bahwa seorang bayi bisa bertahan bahkan tumbuh besar hanya dengan ASI selama enam bulan pertama hidupnya. Namun tentu saja harus pula didukung dengan asupan nutrisi yang baik oleh si ibu menyusui. Tak jarang, dalam kelompok ibu-ibu sering bercanda bahwa fase menyusui di 6 bulan pertama adalah tak ubahnya sapi perah, makan banyak minum banyak demi ASI melimpah.

Lalu bagaimana ketika bulan ramadhan tiba? Islam sangat menganjurkan untuk menyusui anak hingga usia anak mencapai dua tahun. Setidaknya ada dua bulan ramadhan yang akan dilewati. Agama Islam memang tidak membebani ibu hamil dan ibu menyusui dengan kewajiban berpuasa sekiranya hal itu akan membahayakan keselamatan bayi. Namun, menurut para konsultan ASI, produksi ASI itu tergantung niat dan kepercayaan diri. Seperti ketika Rasulullah dan tentara memenangkan perang Badar, saat itu mereka semua tengah berpuasa, tapi tekad yang ikhlas karena Allahlah yang membawa mereka ke kemenangan.

Begitu pula dengan menyusui saat berpuasa. Jika niat yang kukuh dan kepercayaan diri yang tinggi, ASI tidak akan berkurang walau si ibu menjalankan ibadah puasa. Meski begitu, ada pula anjuran untuk berpuasa saat menyusui ketika si bayi sudah berusia enam bulan karena sudah ada asupan lain.

Berangkat dari pengalaman pribadi dengan dua anak sebelumnya, masing-masing memiliki problematikanya sendiri-sendiri. Anak pertama berusia menjelang 6 bulan, ketika lambungnya mulai melakukan persiapan MPASI sehingga permintaan ASI melonjak pesat. Fisik yang lelah karena puasa dan saat itu masih bekerja dan harus terjebak macet berjam-jam tanpa minum bahkan setelah waktu berbuka mengakibatkan ASI berkurang. Syukur alhamdulillah dengan beberapa hari meliburkan diri dari puasa, si sulung lulus 6 bulan full ASI. Sedangkan anak kedua lain lagi. Bukan anaknya yang kekurangan ASI, melainkan sayanya yang kekurangan nutrisi sehingga beberapa kali membatalkan puasa karena sakit. Syukurnya usianya sudah lebih dari 6 bulan. Ketika anak ketiga, saya malah baru tahu bahwa konsumsi air yang harus diminum ibu menyusui adalah tiga liter air putih. Hanya air putih. Air-air berwarna lainnya tidak termasuk dalam target tiga liter tersebut. Lagipula menurut hadits yang dianjurkan untuk berbuka setelah kurma adalah air putih karena itulah yang murni. 

Nah, berbekal pengalaman sebelumnya, saya lebih optimis berpuasa sambil menyusui anak ketiga walau usianya baru dua bulan. Pertama, saya sudah punya stok ASIP. Kedua, si bayi tidak mengalami kesulitan dalam pertumbuhannya, jadi puasa sebulan dikurangi jatah datang bulan, harusnya tidak memberatkan.

Meski begitu, tetap saja harus ada strategi agar ibu menyusui tidak dehidrasi seperti pengalaman saya sebelumnya saat berpuasa dengan mencapai target tiga liter tersebut. Itulah yang diusung AQUA dengan metode 2+4+2, 2 gelas saat berbuka, 4 gelas sejak tarawih hingga menjelang sahur, 2 gelas terakhir saat sahur. Meminum air dalam jumlah banyak sekaligus justru mengurangi optimalisasi tubuh dalam menyerap nutrisi dalam air. Akhirnya kita mengalami beser di pagi hari dan kehausan sangat ketika siang menjelang. Apalagi kalau sambil menyusui, rasanya tenggorokan kering seketika.

Alhamdulillah dengan mematuhi metode 2+4+2 ini, hingga menjelang 10 hari terakhir Ramadhan, ASIP saya nyaris utuh. Jarang sekali digunakan.

Bagi ibu menyusui, metode ini tentu harus melibatkan ayah ASI. Ayah ASI bertugas sebagai pengawas saat waktu antara tarawih hingga menjelang sahur, jatah air putih sudah terpenuhi. Bagaimana? Pastikan ada AQUA di dekat tempat tidur si ibu, sehingga mudah dijangkau setiap kali si ibu usai menyusui bayi yang masih terbangun di tengah malamnya. Sediakan selalu di meja makan, di lemari pendingin, di dapur, di ruang tamu ... dalam bentuk galon, gelas, botol 500ml, botol 1500ml, botol travelling, pokoknya segala jenis botol yang dikeluarkan AQUA, sediakan, agar istri selalu ingat untuk minum. Males kan tengah malam bangun untuk menyiapkan sahur eh ga ada air.

Tentu saja sekali lagi perlu diingatkan bahwa niat dan kepercayaan diri berperan besar pada pasokan ASI. Adalah hormon oksitosin yang memicu produksi ASI, oleh karena itu jangan membebani diri dengan banyak pemikiran. Cukup ingat metode 2+4+2. 2 gelas saat berbuka, 4 gelas sejak tarawih hingga menjelang sahur, dan 2 gelas saat sahur.  Jika dibawa santai dan menyerahkan segalanya pada Allah, in sya Allah produksi ASI akan tetap lancar dan si bayi tetap baik pertumbuhannya.

Jumat, 10 April 2015

Saat Ditanya Mau Kado Apa

Jelang melahirkan suka ge er kupingnya ketika ada teman yang bertanya, “mau kado apa?” Suka terharu gitu sik, hehehe ... Padahal teman saya mungkin memang bingung betulan, maklum sudah mau anak ketiga, jadi yaaah emang masih perlu apa lagi ya?

Sedangkan saya di minggu-minggu terakhir malah sudah malas memikirkan keperluan bayi. Bukannya bikin wishlist yang betul malah bikin wishlist yang sangat mendekati dengan kenyataan.

Memang sih anak ketiga sudah ga terlalu neko-neko juga kepengennya, apalagi tinggal di unit yang ‘gede’ banget ini, selektif banget jadinya. Mainan? Ah, sudah pengalaman, mainan kakak lebih menarik. Atau mainan si adik jadinya dimainin sama kakaknya. Ga usah lah. Baju? Sudah punya segambreng, padahal dulu sudah pernah dihibahin ke orang-orang segambreng. Dilalah, dapat banyak lungsuran. Alhamdulillah. Hmm apalagi ya?

Kepala saya berputar mencari-cari sesuatu dan kemudian berhenti pada suatu benda yang teronggok di pojokan. Ah, saya tahu. Saya perlu ransel baru.

Selama lima tahun berturut-turut, ransel bayi itulah yang saya pakai. Dapatnya juga dulu gratisan karena ikut kuis di majalah saat hamil anak pertama. Terpakai hingga sekarang. Dengan bahan kulit berwarna merah marun dan sedikit aksen garis vertikal, buatan cocopop ini emang ga keliatan seperti ransel perlengkapan bayi. Jadi ayahnya yang gayanya britpop masih pantes pakai ransel itu. Sekarang, model sejenis sudah tak ada.

Saya memang rada cerewet soal tas (yah dan segala atribut fashion lainnya) karena paham betul dengan tubuh sendiri. Walau penyuka ransel, tapi bahu saya yang kecil tidak bisa menampung ransel yang terlalu besar. Dan karena nanti akan pakai gendongan bayi dengan tali seperti tali ransel, saya jadi bingung kira-kira saya harus pakai yang seperti apa? Kalau terlalu tipis nanti ga pantes dipakai suami. Ransel dengan tali serupa apa muat di bahu saya? Belum lagi saya penganut banyak kantong  di tas itu baik hehehe ... lumayan buat sembunyiin barang berharga, karena saya tidak akan bawa tas lain untuk segala dompet dan hp. Nah, ribet kan? Sudah cari di mal, tapi ga ketemu. Ya suds, mari kita cari online.

Akhirnya saya coba buka www.shopious.com sebagai tempat fashion terlengkap, baru, dan terjangkau setiap hari. Tiga hal yang memang diperlukan untuk saya yang cerewet ini. Lebih lengkap soal Shopious bisa dilihat di video ini yaa.


Saya sadar bahwa mencari ransel itu pasti lebih sulit ketimbang mencari handbag. Sudah jamak bagi para wanita untuk lebih memilih handbag, saya sih lagi-lagi pertimbangan ukuran bahu. Paling mentok ya selempang karena saya butuh sesuatu yang handsfree. Namanya juga sambil pegang anak-anak, kalau ada apa-apa ya repot, apalagi rada alergi nanny, tangan prioritas buat anak-anaklah.

Jadi ketika saya buka folder backpack di www.shopious.com dan dapat jatah tiga halaman, saya sudah senang banget. Dan pencarian pun dimulai. Ga mau yang desainnya cewek banget—bye-bye tas desainer. Ga mau ransel yang kaya anak sekolahan—bye-bye merk tas sporty. Ga mau yang dari bahan kanvas karena kalau ada minuman tumpah di tas, langsung ketahuan—bye-bye tas dengan motif vintage. Cepet banget tereliminasinya hahahaha ....

Baguslah, foto-foto di galeri berguguran dengan segera. Dan mata pun melihat yang terpilih. Tabuh drumnya. Yang ini niiiy ....


Gambar diambil di sini

Hahaha kembali ke selera kpop. Ga niat sih, kalau niat mungkin sudah ambil tas dengan tulisan nama boyband korea, tapi sayang tidak ada edisi Bigbang dan bahannya kanvas hehehe. Kalau ditilik-tilik sih cukup besar ya (atau modelnya yang kecil?), terus bahannya bukan kanvas alias kulit. Warna hitam yang ga terlalu cewe banget buat ditenteng suami sesekali. Daaaan, orang ga bakal nyangka kalau tas beginian isinya popok, sabun bayi, susu, jus, dkk hahahaa. Ah mudah-mudahan ada kantong lagi di dalamnya, soalnya ga dikasih liat sih di fotonya. Mungkin biar ga ketahuan semua detailnya kali yaaa ...


Harga hanya Rp178000,- dan tersedia warna ungu dan hitam. Lha gue jadi promo begini. Nah, siapa yang mau beliin? Silahkan yang mau patungan hihihihiy.... 

Kamis, 02 April 2015

KAMYStory: Early Baby Blues

Hamil pertama dan kedua, yang namanya baby blues baru hinggap di minggu pertama pascamelahirkan. Eh, dilalah, di hamil ketiga, gejala baby blues itu datang lebih awal. Lebih tepatnya ketika usia kandungan menuju 8 bulan.


Awalnya saya bingung sendiri, kenapa ketika saya lagi galak sama anak-anak air mata juga turut berjatuhan. Lalu saya pikir dengan logika sok-sok an Fisika. Oleh karena ketika galak, perut menegang sehingga juga menekan kantung air mata. Well, agak jauh ya rutenya hehehe ... Kalau ada ketidaksepahaman sama suami lalu jadi ngomel-ngomel, langsung banjir deh matanya. Saya ingat-ingat lagi, kok kaya lagi baby blues ya? Emang ada ya baby blues sebelum melahirkan? Semacam early baby blues gitu?


Rupanya, menurut www.beyondblue.au , baby blues adalah gejala depresi yang bisa dialami selama masa kehamilan dan pada awal menjadi orangtua. Oalah, ternyata memang ada yang terjadi selama hamil. Obatnya apa, ya?


Belajar dari kehamilan satu dan dua, ga pakai obat apa-apa sih selain jalanin aja. Menjalani sambil terbingung-bingung, ternyata saya depresi juga ya, kirain sayanya saja yang aneh.  Sementara ini, yang lagi di depan mata sih adalah betapa banyaknya hal yang harus saya kerjakan selagi menunggu kelahiran (yang in sya Allah sehat walafiat dan lancar semua) di luar pekerjaan rumah tangga. Mulai buat to do list lagi, berharap segera mencentrang satu per satu. Keep myself busy. As if I have nothing else to do, hehehe .... Saya kaget juga ketika membuat to do list, ternyata tugasnya sebanyak ini? Dengan berbagai subjek pula. Jangan-jangan saya depresi karena mengabaikan tugas-tugas itu dan larut dalam lamunan-lamunan emosional.



Baiklah kalau begitu, sepertinya saya juga harus mulai pemanasan, pemanasan untuk rempong ketika mengurus tiga anak, biar ga kebawa-bawa rasa ingin bobonya .... Semangat!!

Kamis, 22 Januari 2015

KAMYStory: 10 Kado Bayi yang Paling Diinginkan


Seringkali saat hendak memberi kado untuk kelahiran anak ketiga dari keluarga atau teman, saya bingung, mau dikasih apa ya? Adalah umum diketahui bahwa kebanyakan orang lebih suka menyimpan perlengkapan bayinya bahkan hingga bertahun-tahun. Dengan cita-cita untuk dilungsurkan. Jadi ya saya bingunglah mau kasih apa. Tapi tenang, hal itu tidak berlaku untuk saya. Oleh karena tinggal di rumah yang ‘gede’ banget ini, saya mudah saja melungsurkan perlengkapan bayi sesegera mungkin. Orang-orang tua sering bilang tiap anak itu ada rezekinya, jadi ga usah takut tidak bisa kasih makan. Nah, kalau saya mengartikannya, jadi kenapa harus pusing soal baju?

 

Eh tapi dari sekian banyak perlengkapan bayi (yang jumlahnya kian menurun setiap kelahiran anak), ada tujuh yang benar-benar saya inginkan tapi malas mewujudkannya sendiri. Tenang, ini hanya bercanda, tapi beneran deh hamil anak ketiga inginnya yang realistis saja.

 

  1. Rumah landed di tengah kota dan memiliki minimal tiga kamar. Kalau teman-teman bertanya, “lo mau apa?” “lo perlu apa?” “Apa yang belum lo punya?” Saya lebih suka menjawabnya, saya mau rumah landed di tengah kota dan memiliki minimal tiga kamar. Hehehe ... maklumlah, saya sebenarnya ga kebayang juga membesarkan tiga bocah tengil di ruang terbatas seperti ini. Jadi demi meringankan beban suami, mungkin ada yang berminat patungan membelikan saya rumah?
  2. Biaya gratis persalinan dalam berbagai penindakan di RS Tambak. Anak ketiga biasanya tidak ditanggung lagi oleh perusahaan tempat suami bekerja, jadi yaaa ... Pakai BPJS? Bisa. Tapi RS yang ada dokter Botefilianya jauh, di RS Persahabatan. Beuuuh ...
  3. Paket pijat pascamelahirkan. Sejak lahir anak pertama ga pernah ngerasain dipijat. Badan rasanya rontok tak berkesudahan. Ada yang mau jadi sponsor?
  4. Stok pospak selama dua tahun. Baru saja saya menghapus popok dari daftar belanja dengan bangga eh ketemu tongkat bergaris dua lagi. Walau saya pengguna clodi, tapi kalau malam hari biasanya masih pakai pospak. Dan itu lumayan pengeluarannya. Ga banyak, hanya dua bungkus besar pospak berbagai ukuran per bulan selama dua tahun. Ada yang punya vouchernya ga ya?
  5. Selusin clodi. Ngomongin clodi jadi ingat deh, clodi yang saya punya sudah kadarluarsa alias sudah dipakai lebih dari dua tahun. Jadi yah, kudu beli baru. Ga banyak, selusin saja cukup kok, tapi insertnya dua lusin yaaa ... (halah)
  6. Baby wrap. Hanaroo baby wrapku sudah dipakai untuk dua anak, jadi yah sudah melar. Ada yang berminat membelikan yang baru untuk saya? Lebih cocok pakai itu ketimbang baby carrier lain. Hihihiy ...
  7. Paket sabun dan shampo plus deterjen bayi. Nah, ini nih ... deterjen bayi paling ga sampai 6 bulan pertama, sabun dan shampoo? Timeless. Makin banyak makin baik. Ga perlu make up bayi lainnya kooook.
  8. Akun rekening pendidikan. Jadi ingat kuis pelajar zaman dulu, pasti hadiahnya Tabanas. Ada ga yang mau hadiahin akun rekening pendidikan buat anak ketiga ini? Tapi diisiin yaaa ...
  9. Gratis suplai dan antar sayuran jadi selama satu tahun. Jujur, saya ini malas masak sayur, sedangkan untuk menyusui harus sering makan sayur. Nah, kan enak kalau ada yang sediain plus diantar ke Kalibata hehehehe ....
  10. Lupakan daftar di atas. Yang lebih penting doa dan dukungannya. Semoga saya bisa jadi ibu yang lebih baik dan bahagia. Demi anak-anak yang sehat, cerdas, dan juga bahagia dunia akhirat.