Jumat, 31 Juli 2015

JJS: Perjalanan Pertama Penuh Tantangan dan Kenangan ke Jawa Tengah

Setiap hari adalah liburan bagi anak-anak kami, maklum masih belum rutin sekolah. Namun, mereka selalu menantikan saat-saat ayahnya turut libur agar bisa bepergian yang jauh alias yang pakai taksi. Perjalanan jauh pertama mereka menjadi motivasi bagi saya untuk menambah daftar tujuan wisata setiap tahunnya. Efeknya ituloh yang luar biasa.

Saat pertama kali diajak mudik sama mertua, saya agak cemas. Ya karena bawa dua anak masih balita. Tapi saya pun tak kuasa menolak, sejak menikah saya tidak pernah mudik sedangkan di kampung mertua ada makam bapak mertua.

Sebenarnya masalahnya di saya, saya ini termasuk rewel di perjalanan. Mabuk darat dan mudah kesal apalagi jika bepergian dengan orang yang ga biasa ngurusin saya. Sindrom bungsu kayanya hehehe .... Ibu mertua saya pun sudah tua, khawatirnya saya jadi ngambeg-ngambegan karena ga sependapat sama beliau. Tahu kan, di perjalanan jauh pasti ada aja.

Pelan-pelan saya persiapkan segala sesuatunya. Pengennya ga bawa banyak tentengan karena kan anak-anak termasuk dalam kategori ‘tentengan’. Makanan dan baju adalah keharusan. Persiapan kalau-kalau ada yang muntah di mobil dan persiapan kalau macet di entah di mana dan anak-anak (termasuk ibunya) rese kalau lapar hehehehe.

Tantangan dimulai sejak malam pertama. Memang rencananya kami akan berangkat setelah si ayah pulang kantor ealah mau libur panjang juga macetlah jalanan Jakarta, saya dan anak-anak sudah bete nunggunya.

Sudah datang si ayah, mobil sewaannya belum datang. Nah selama nunggu ini, si anak kedua langsung muntah-muntah. Dikasih air muntah, disusuin muntah. Si ayah sempat mau cancel perjalanan, tapi saya mendelik. “Ayo berangkat sekarang juga!”

Bahkan ketika mobil sewaan akhirnya datang jam 11 malam dan kami sedang di lift, anak kedua ini masih muntah. Lucunya, begitu menyentuh mobil, dia langsung tidur. Tidur sepulas-pulasnya. ^^
Ketika akhirnya lepas dari Jakarta dan ketemu Pantura ealah lagi perbaikan jalan jelang bulan puasa. Muacetnyaaaa ... sekarang giliran si sulung. Dia ga bisa tidur karena mobilnya diam saja, akhirnya saya pangku dan mulai mengarang cerita seperti ritual sebelum tidur kami. Cerita habis, anaknya merem.

Syukur alhamdulillah juga trek Pantura itu lurus aja, secara mabuk darat tapi ga bisa minum antimo karena harus tetap sadar saat mengawasi anak-anak. Dan karena jadi ibu-ibu pula, saya harus merasakan duduk di mobil memangku dua bocah yang tertidur selama berjam-jam. Kesemutan sangat.

Setelah akhirnya  lepas dari jalur yang muacetnya bukan main itu dan sudah mendekati Purworejo, eh kami salah jalan. Dan terpaksalah kami melewati jalur yang dua kali lipat lebih jauh dan keadaan jalannya rusak banget itu. Benar-benar perjalanan yang terasa lama. Saya sibuk mengondisikan diri saya untuk tetap tenang biar anak-anak ga ikutan rungsing.




yang habis muntah-muntah baru bangun


Akhirnya kami tiba di Purworejo. Di sana kami bertemu dengan adiknya ibu dan beberapa saudara lain. Ibaratnya saya dikenalkanlah di kampung sebagai menantu. Sedangkan anak-anak senang banget lihat ayam, kambing, bebek bertebaran. Hehehe anak kota amat yak. Dan dua malam di sana, satu harinya hujan lebat. Baju yang dicuci tak kunjung kering. Syukurnya kami masih sempat ke alun-alun Purworejo yang menurut pengakuan ibu mertua malah belum pernah ke sana. Lhaaa ... si ibu ^^
Beduk terbesar itu masih ada di masjid, anak-anak mah senang main di menaranya sembari menunggu saya shalat.

Menariknya, di alun-alun Purworejo kami bertemu dengan teman saya sewaktu masih kerja dulu. Dia juga sedang liburan ke Purworejo bersama keluarga. Jadi deh kami menghabiskan sore sambil mengelilingi dua pohon besar yang ada di tengah-tengah alun. Pohonnya ada namanya, saya pikir nama laki-laki dan perempuan eh ternyata nama laki-laki dua-duanya ^^ ya pantaslah mitosnya bukan mitos percintaan. Konon jika mengelilingi setiap pohon berlawanan arah jarum jam sebanyak tiga kali, usahanya bisa sukses.


Usai dari Purworejo kami menuju Borobudur. Panas terik menyambut kami di sana. Para pedagang pun semakin giat menawarkan topi dan kacamata. Bahkan ada jasa gendong anak. Maklum ga mungkin pakai stroller kalau ke Borobudur. Eh ternyata oh ternyata, baru saja naik separuh, hujan jatuh aja gitu. Lebat pulak. Lama juga. Basahlah kita walau pakai payung. Tadinya kami bertahan di tengah Borobudur tapi karena sudah kadung basah, kami cari jalan lain menuju puncak. Sampai di puncak, blas hujan berhenti. Eeaaa ... mau difoto pada lepek begini. Keep smiling ajalah pokoknya.
Setelah turun dan berganti baju, waktunya keliling Borobudur naik delman. Wah si sulung tak henti-hentinya menyanyikan lagu Naik Delman. Eyangnya jadi senang ^^


kuyup di  Borobudur

Setelah dari Borobudur, kami menuju Semarang. Semarang adalah kota tempat tinggal adik laki-laki ibu. Tadinya sih mau sambil wisata rumah ibadah eh lagi-lagi hujaaaaan deraaaas ... Jadi deh di rumah Pak Lek saja, wong Cuma semalam ini dan Pak Lek sedang sendirian juga. Beruntung rumah Pak Leknya besar dan banyak mainan cucu-cucunya jadi ga mati gaya hehehe ....


Dari Semarang kembali ke Jakarta dengan jalur yang lebih menyiksa lagi. Delapan belas jam! Ah sudahlah yang penting anak-anak ga rewel.

Selama di perjalanan yang panjang itu saya berkhayal, bagaimana nanti ceritanya jika anak-anak ikut mudik bersama nenek dan ampunek (orangtua saya)? Bertualang di jalur Sumatera karena orangtua saya perpaduan Padang – Aceh. Belum lagi adik-adik ibu saya banyak yang tinggal di Riau. Pekanbaru pasti sudah wajib.

Ada apa ya di Pekanbaru? Ada wisata alam ga ya? Kan anak-anaknya pecicilan, butuh ruang luas dan butuh yang ga ada di kota. Oh, kami bisa ketemu candi lagi. Candi Muara Takus yang konon merupakan bangunan bata terbesar di Sumatera. Air terjun Guruh Gemurai juga bisa jadi tujuan selanjutnya. Maklum di sini lihatnya malah air mancur, sintetik hehehe .... Kalau sudah ke Pekanbaru, yah sekalian mampir ke Batam. Main ke pulau kitaaa .... Anak-anak belum pernah tuh menyeberangi pulau. Lagian kalau ke Batam mah tinggal mampir ke Mak Linasasmita Dia tahu semua tentang Batam. Aman lah ...

Banyak tujuan terbentang usai mudik pertama ini. Sepertinya saya belum kapok karena perjalanan adalah pembelajaran yang bagus untuk anak-anak. Apalagi seminggu usai mudik bersama ini, ibu sakit. Dua minggu kemudian, ibu masuk RS. Suami sempat menunjukkan rekaman naik delman di Borobudur saat menungguinya. Memang momen itu yang sering ibu ceritakan pada orang-orang setibanya di Jakarta. Sebulan kemudian, ibu meninggal dunia. Meninggalkan kenangan yang masih melekat erat dalam ingatan si sulung walau sudah dua tahun berlalu. Kenangan naik delman bersama eyang. Alfatihah. 



9 komentar:

  1. yaah.. sedihhh mbaak.. tapi alhamdulilah ya permintaan mudik ibunya diturutin.. semoga beliau diterima disisiNYA ya..

    goodluck GAnya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya alhamdulillah ... Amiin .. Terima kasih doanya utk ibu ^^

      Hapus
  2. Kasian banget sama yang baru muntah-muntah. Hehehe. Ekspresinya bikin haru :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe mukanya memang memelas, mak =P

      Hapus
  3. wah berlibur sama anak-anak itu menyenagkan walau kadang ada yang rewel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg kaya gitu itu bisa jd satu postingan sendiri hehehe jd kadang2 dianggap inspirasi aja biar ga bete hehebe =D

      Hapus
  4. wahh.. saya masih belum berani mudik jalan darat atau naik kereta api ke jawa tengah, kampung suami, kalo lebaran :P

    tahun depan sih udah direncanakan mau mudik lebaran ke jawa tengah, tapi naik pesawat aja.. nabungnya dari sekarang.. hahahaaa emak-emak males ribet, padahal tentengannya baru satu nih... :)

    BalasHapus