Sabtu, 03 Oktober 2015

Nampan Ajaib Nasi Tumpeng

Nasi tumpeng, khususnya di kalangan suku Jawa, lekat dengan perayaan-perayaan khusus. Kelahiran, pernikahan, peresmian, dan masih banyak lagi hari-hari istimewa bahkan kematian pun ditandai dengan adanya nasi tumpeng. Saking istimewanya, tak jarang para perantau di belahan dunia lain pun, tak segan menampangkan nasi tumpeng walau ada berbagai tantangan untuk menampilkan nasi tumpen seorisinil mungkin, terutama wadah nampannya dan hiasan dari kulit pisang.


Sedangkan di tanah air, nasi tumpeng juga ada yang mengalami modifikasi, bahkan laiknya kue ulang tahun, nasi tumpeng bisa dibentuk menyerupai tokoh animasi Doraemon dan bentuk-bentuk lain yang lucu-lucu.  Mungkin semacam bento raksasa ^.^

sumber foto dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tumpeng


Jika menengok sejarahnya, nasi tumpeng sebenarnya sarat dengan nilai-nilai falsafah. Awalnya nasi tumpeng ini dibuat oleh masyarakat Jawa yang kala itu masih menganut paham kepercayaan. Namun kemudian nilai filsafatnya terkoreksi sejak Islam masuk.


Bentuk tumpeng yang kerucut sejatinya merupakan representasi Gunung Mahameru yang dianggap paling tinggi, yang paling dekat dengan langit, paling dekat dengan Tuhan. Ini adalah bentuk pemujaan pada Yang Mahatinggi.


Lauk yang mengiringinya harus berasal dari empat dunia. Dari bawah tanah, yaitu kacang-kacangan. Dari atas tanah, yaitu sayur mayur dan buah, ketimun, lalap, tomat. Hewan darat, biasanya diwakili oleh ayam dan telur rebus yang belum dikupas. Hewan laut, yaitu ikan bandeng atau ikan teri. Semuanya ini menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuan tertentu membutuhkan usaha yang menyeluruh. Makanya lebih sering digunakan pada saat hari-hari istimewa yang terkait denga nrasa syukur dan saat hendak melakukan sesuatu yang besar. 


Jika dipandang dari segi gizi, nampan tumpeng ini bak nampan ajaib. Sebuah hidangan buffet mini.


Ada banyak faktor kesehatan bermain di sini. Mengingat ini hanya ada pada perayaan istimewa maka tidak heran jika isinya begitu lengkap. Perbaikan gizilah istilahnya. Pertama, nasi sebagai sumber karbohidrat, baik itu yang kuning atau putih (nasi uduk). Sedangkan lauk pauknya jelas seiya sekata dengan semangat gizi berimbang, yaitu mengkonsumsi makanan dari berbagai alam. Dan semuanya itu mudah didapat oleh masyarakat Jawa kala itu. Semua tumbuh dan hidup di sekitar mereka. Jadi tidak perlu repot untuk sebuah hidup sehat.


Dan kini dengan era globalisasi, walau tanaman itu tak lagi ada di halaman belakang rumah, tetapi selalu ada banyak jalan mewujudkan nasi tumpeng meski di negeri orang sekalipun. Mengungkapkan syukur pada Yang Mahakuasa di mana pun berada dan menambahkan akar budaya Indonesia walau di tengah perantauan. Nasi tumpeng sebagai pertanda momen melakukan sebuah usaha yang besar, entah itu sebuah bisnis atau sesederhana menjalankan kehidupan. Yang kesemuanya itu harus dilakukan sambil mengingat Yang Mahabesar. 



untuk ikutan lombanya, klik di SINI yaa

5 komentar: