Lelah dengan urusan capres 2014, membuat mata saya terang benderang saat melihat update status salah satu laman boyband Korea saya. TAEYANG EYES, NOSE, LIPS YG COVER PROJECT by YOU. Proyek promonya YG entertainment untuk salah satu member Bigbang, Taeyang.
Cover music? Ah, sudah lama ingin membuatnya. Sering terbentur dengan alasan-alasan yang kemudian terdengar mengada-ngada. Kenapa ga sekarang? Emang sih, Taeyang bukan bias pertama saya, posisi pertama masih ditempati TOP doong. Namun, kalau mengaku VIP BIGBANG harus bisa menunjukkan dukungan, kan?
Tapi mau bikin kaya apa ya?
1. Diferensiasi
Ini sih kaya waktu jadi editor in chief, setiap mau mengusulkan judul buku harus ada tuh kolom diferensiasi. Nah, mikirlah saya mau bedain apanya. Secara perlengkapan minim. Ga mau jadi jiper mikirin di luar sana pada niat-niat banget kalau bikin music cover. Lagian proyek ini lebih ke bagaimana saya menantang diri saya.
Bahasa Korea ga lancar. Artinya ga hapal. Sedangkan saya ga bisa menghayati nyanyian kalau ga benar-benar mengerti arti tiap baitnya. Ya suds, buat versi bahasa Indonesia.
Mengubah ke bahasa lain itu bukan perkara mudah jika hendak dinyanyikan juga. Seperti kata Tablo saat membuat cover version Eyes, Nose, Lips dalam bahasa Inggris, seperti membuat lagu baru.
Saya ambil liriknya dari terjemah bahasa Inggris. Lalu saya coba terjemahkan, lalu disamakan rimanya, coba dinyanyikan, terus diedit (tetep ya diedit, dasar editor). Semuanya dikerjain pas anak-anak tidur siang. Nyanyinya bisik-bisik, wong cuma ngetes pas atau tidak rimanya.
2. Hapalkan
Awalnya saya langsung mencoba rekam dengan ponsel, tapi di situ terlihat wajah saya yang terlihat menghapal. Bibir komat-kamit dan suka ada jeda bengong. Yah, rekamannya ntar dulu kalau gitu. Saya pun mencoba menghapalnya benar-benar. Sambil cuci piring, sambil jemur baju, sambil mandi ... Padahal Yusuf Mansur di kultum ramadhan malah suruhnya hapalan Quran. Duh. In sya Allah masih sempetin tadarus koooook, beneran deh. Belum sampai hapalan memang.
Nah, efek dari menghapal ini memberi efek yang signifikan buat saya karena mengurangi mata kedip-kedip, bibir kedut-kedut, dan bisa fokus pada mimik.
3. Mimik
Eyes, Nose, Lips adalah lagu tentang orang yang belum move on. Jadilah depresi. Gimana coba mau akting depresi kalau di balik pintu kamar kedengeran bocah-bocah cekakak-cekikik mencurigakan? Tapi akhirnya saya yang harus move on, kalau mau lancar dalam satu take, relakanlah anak-anak main apa pun. Biar cepat selesai. Emang itu hanya video 4 menit, tapi bikinnya dah dari kemarin....
4. Setting
Latar belakang jadi penting. Karena saya ga bisa terlalu mobile jadi ya pilihannya cuma di sekitar unit. Coba di kamar, gorden ditutup eh jadi gelap. Di balkon terang, tapi kok ya ga enak ya sambil liatin jemuran? Mana sempit pulak. Lalu subuh-subuh coba keliling Kalibata City. Mau pakai latar ujung-ujung tower, banyak yang lalu lalang. Belum lagi burung-burung bercuitan. Lah, ga pas ma lagu depresi.
Coba di taman bermain, kebetulan habis hujan. Eh karena di samping parkiran motor, ramelah sama mereka yang mau berangkat kerja. Kok ya dah pada berangkat jam segini? Bising jalan raya. Ada OB yang lagi nyapu. Ada sopir lagi cuci mobil. Ah, ga bisa ngumpet gue. Malu tauuu .... Akhirnya kembali ke kamar, dengan sudut pandang yang berbeda. Rupanya saya ga bagus kalau di shoot dari depan hehehe ... Embem.
Dan karena sudah mepet deadline dan ayahnya anak-anak ga kunjung berhasil bawa ke taman tanpa saya, jadilah video saya masih terdengar suara anak-anak main.
5. Kostum
Untung close up. Itu pun dah pusing mikir kerudungnya. Mau yang simpel, ga ribet, ga warna warni. Ga pakai pasmina karena kan terlalu menjuntai. Mau biasa aja, kok ga pantes sama lagunya. Pakai jilbab instan, keliatan ibu-ibunya. Yah walau Taeyang cuma pakai celana doang di MVnya, saya yah versi jilbaban lah. Jadi saya pakai model pas pemilu. Haiyah.
6. Peralatan
Kenali peralatanmu. Ini penting loh. Saya tadinya mau pakai ponsel saja, tapi ingat kalau lumia itu harus terkoneksi internet kalau mau transfer video, kayanya ribet ya. Jadi saya minta pinjem kamera suami.
Saya yang malas tanya banyak-banyak ketemu suami yang malas jelasin banyak-banyak. Niy orang ga takut gue rusakin ya barangnya? Ga tahu apa dia, tanganku kan bau. Barang elektronik banyak yang rusak di tanganku. Learning by doing lah.
Tadinya mau sambil pegang, tapi pegal. Coba pakai tripod. Nah, belajar deh cara pasang kamera ke tripod. Ga sempurna karena beberapa kali kameranya ngedongak. Dan karena di atas kasur, kaki saya menahan tripod itu agar tetap stabil.
Ah, tapi rupanya saya ga tahu cara memindah fokusnya. So, video itu fokus di background sedangkan saya blur hehehe ....
7. Partner in Crime
Yang membuat saya menunda-nunda adalah ga ada partner in crimenya. Saya sempat meminta bantuan tetangga (tp beda tower), tapi waktunya ga nemu. Maklum, ibu-ibu juga.
Tapi itu saja sudah cukup. Setidaknya ada teman berbagi ide ngaco. Yang sempat mau syuting di taman Honda lah. Mau syuting jarak jauh trus nanti suaranya dubbing pake peralatan tetangga yang lain yang di unitnya punya perlengkapan suara. Maklum ada yang suaminya music director salah satu stasiun tv. Haiyah, niat banget.
Ini membuat saya semakin termotivasi menyelesaikannya. Malu dong, dah diskusi panjang lebar tapi ga jadi. Itu mah ati yang dulu. Hehehe ...
Nah setelah semua itu, jadi deh video saya. Enjoy =D
Yg mau liat solahkan ke http://m.youtube.com/watch?feature=youtu.be&v=VrNnUj8y3ZI
Tampilkan postingan dengan label korea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korea. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 Juli 2014
Minggu, 09 Februari 2014
Bukan K Wave Debutan
Sejak akhir Januari hingga pertengahan Februari nanti, setiap akhir pekan Kalibata City Square jadi meeting point buat para alay Kpop karena mengusung Lunar New Year, Seollal Love. Imlek dan valentine rasa Korea. Halah. Yang paling ramai sih kompetisi cover dance-nya. Saya sampai minder mau berdiri di dekat panggung. Maklum, setelan emak-emak kelar masak terus bawa dua bocah ngecek kegiatan di mal. Sedangkan yang datang, pakai gaya koreah semua. Baju ala korea (eh baju saya juga belinya di ebay korea), rambut warna warni (rambutku juga pink, eh tapi ketutupan jilbab), fans boyband tertentu (bok, foto TOP Bigbang bertebaran di hape saya), lha terus kenapa gue minder yak.
Entahlah, mungkin sedang membayangkan seandainya saya lebih dulu mengenal kpop. Eh, rupanya pernyataan dibantah lagi, saya bukan debutan kalau soal kpop, kok. (berantem sendiri di kepala).
Korea mulai bangkit usai perang Korea alias perang saudara yang berkepanjangan sekitar tahun '60 an. Akhir tahun '80-an dimulailah masa kebangkitan Korea. Saya sendiri mengenal produk Korea sejak saya duduk di bangku SD. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas lima atau enam. Teman-teman saya sibuk menyebar koleksi kertas surat. Kertas surat yang paling keren adalah jika ada tulisan 'made in Japan'. Yup, kero keropi, hello kitty, seven ups, dll, jadi koleksi wajib di kantung plastik mereka.
Tapi saya bukan termasuk di dalam kategori mereka. Saya bukan anak yang diberi uang saku, atau setelah akhirnya diberi pun, uang itu tidak terlalu cukup untuk pergaulan. Dan karena alasan itu, saya pun lebih memilih kertas surat bertuliskan 'made in korea'.
Sebagai penikmat ilustrasi, saya merasa sama senangnya melihat goresan tinta di kertas surat itu. Saya tidak merasa kalah keren dengan keropi bersaudara yang original milik teman-teman saya karena ilustrasi si made in korea itu memang bagus walau karakternya tidak populer. Dan lagi aksaranya terlihat lucu dengan adanya lingkaran-lingkaran, berbeda dengan aksara Jepang yang semua berbentuk kotak sedangkan mandarin terlalu tajam ujungnya.
(1993-1996) Lalu ketika masuk bangku SMP, saya diberi hadiah buku harian. Melihat bagian belakangnya, lagi-lagi made in korea. Itu buku harian resmi saya yang pertama. Biasanya saya menggunakan hibah buku agenda dari papa. Dan seiring kebiasaan saya menulis di buku harian, saya pun juga senantiasa memilih buku-buku tulis made in korea sebagai buku harian saya hingga saya kuliah. Misinya, agar terlihat berbeda dengan harga murah =D.
(1996-1999) Saat SMA adalah masa-masa jayanya J pop. Dan di antara gencarnya berita tentang Britney di industri musik dan anime Jepang, saya menikmati berita kecil yang muncul di artikel Animonster. Tentang gadis muda berbakat, yang tariannya tidak kalah dengan Britney. Yup, BoA.
Saya bahkan mencari kaset kompilasi yang ada lagu BoA di dalamnya. Waktu itu dia sudah mengeluarkan single versi Jepang. Tak lama Rain muncul dan entah kenapa setiap tahun namanya selalu muncul sebagai salah satu most influenced people.
Di masa SMA itu pula transisi saya menyukai dorama ke k-drama. Dan yang membuat saya berpaling adalah, the one and only, Won Bin. Saya tidak tahan menonton Endless Love karena terlalu menguras air mata. Tipikal film korea. Maka dari itu ketika ada berita rilis film kolaborasi Jepang dan Korea yang dibintangi Won Bin dengan tajuk Friends, saya senang sekali. Rasanya saya selalu ingin mengulang adegan di bawah hujan salju itu.
Daftar komik yang dibeli kakak-kakak saya juga jadi beragam. Berawal dari Ragnarok, saya jadi tergiur mencari komik Korea yang benar-benar epik. Goretan kasar memang jadi ciri khas komik Korea saat itu. Dan setelah lama mencari (saya biasanya hanya modal pinjam punya abang atau kakak, jika saya mau membelinya itu berarti diniatkan untuk koleksi), akhirnya saya menemukan komik Tarian Langit saat pesta buku Gramedia. Dan serinya lengkap. Fiuuih.
(1999-200) Saat kuliah, saya sejenak melupakan entertainment Korea dan lebih menikmati drama Taiwan paling legendaris, Meteor Garden. Namun yang menarik adalah di kampus saya justru sedang kedatangan banyak mahasiswa Korea alih-alih mahasiswa Jepang. Saya suka saja melihat gaya mereka. Dari cara mereka melipat ujung celana jins (hanya satu lipatan besar) hingga faktor tindik yang tidak memengaruhi faktor imut-imut. Sayang, waktu itu saya menolak mengurus aplikasi beasiswa ke Korea yang saat itu gencar ditawarkan di kampus dengan alasan tidak matching dengan studi saya saat ini. Saya kan bukan pemburu beasiswa =D.
(2004-2011) Saat bekerja, fokus negara saya bergeser ke Amerika atau Inggris. Eropa pun jarang saya lirik. Dengan kakak-kakak yang sudah menikah dan meninggalkan rumah induk, saya praktis tidak mendapatkan lagi asupan informasi gratisan tentang negara-negara Timur Jauh. Toh, saya masih diberi kesempatan berurusan dengan orang Korea. Well, bukan saya yang berurusan langsung sih, tapi penerbit tempat saya bekerja memutuskan mengisahkan tentang pianis berjari empat asal Korea, Hee Ah Lee. Kami bahkan mengadakan mini show. Istimewanya? Ada puisi saya di buku memoar Hee Ah lee karya Kurnia Efendi itu. =D
(2010-sekarang) Saat cuti melahirkan Malika, saya jadi ada waktu nonton Indosiar dari siang sampai sore. Nonton drama Korea. Mengejar ketertinggalan. Mulai meng-update diri lagi. Setelah galau pilih idola akhirnya mantap pilih TOP Bigbang. Bahkan sempat nonton konser Bigbang 2012 lalu. Walau sekarang rasanya aneh saja karena mesem-mesem lihat music video dan di seberang sana ada suami yang berkerut dahinya plus manyun
Dan setelah tulis panjang-panjang, pertanyaannya adalah ... Siapa yang nanya, neng?
Wakakak ... Ini hanya tulisan menghibur diri. Walau belum pernah mampir ke Korea, belum pernah nyobain jadi stalker fans yang ngejar nonton konsernya di mana pun (bo, biayanya kudu dikali empat buat bayarin anak-anak), biarpun saya bukan yang jadi penonton setia kontes cover dance tadi siang, tapi yaaah ... Saya sudah lama temenan sama Korea. Again, sapa yang tanya, buuuu?
Entahlah, mungkin sedang membayangkan seandainya saya lebih dulu mengenal kpop. Eh, rupanya pernyataan dibantah lagi, saya bukan debutan kalau soal kpop, kok. (berantem sendiri di kepala).
Korea mulai bangkit usai perang Korea alias perang saudara yang berkepanjangan sekitar tahun '60 an. Akhir tahun '80-an dimulailah masa kebangkitan Korea. Saya sendiri mengenal produk Korea sejak saya duduk di bangku SD. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas lima atau enam. Teman-teman saya sibuk menyebar koleksi kertas surat. Kertas surat yang paling keren adalah jika ada tulisan 'made in Japan'. Yup, kero keropi, hello kitty, seven ups, dll, jadi koleksi wajib di kantung plastik mereka.
Tapi saya bukan termasuk di dalam kategori mereka. Saya bukan anak yang diberi uang saku, atau setelah akhirnya diberi pun, uang itu tidak terlalu cukup untuk pergaulan. Dan karena alasan itu, saya pun lebih memilih kertas surat bertuliskan 'made in korea'.
Sebagai penikmat ilustrasi, saya merasa sama senangnya melihat goresan tinta di kertas surat itu. Saya tidak merasa kalah keren dengan keropi bersaudara yang original milik teman-teman saya karena ilustrasi si made in korea itu memang bagus walau karakternya tidak populer. Dan lagi aksaranya terlihat lucu dengan adanya lingkaran-lingkaran, berbeda dengan aksara Jepang yang semua berbentuk kotak sedangkan mandarin terlalu tajam ujungnya.
(1993-1996) Lalu ketika masuk bangku SMP, saya diberi hadiah buku harian. Melihat bagian belakangnya, lagi-lagi made in korea. Itu buku harian resmi saya yang pertama. Biasanya saya menggunakan hibah buku agenda dari papa. Dan seiring kebiasaan saya menulis di buku harian, saya pun juga senantiasa memilih buku-buku tulis made in korea sebagai buku harian saya hingga saya kuliah. Misinya, agar terlihat berbeda dengan harga murah =D.
(1996-1999) Saat SMA adalah masa-masa jayanya J pop. Dan di antara gencarnya berita tentang Britney di industri musik dan anime Jepang, saya menikmati berita kecil yang muncul di artikel Animonster. Tentang gadis muda berbakat, yang tariannya tidak kalah dengan Britney. Yup, BoA.
Saya bahkan mencari kaset kompilasi yang ada lagu BoA di dalamnya. Waktu itu dia sudah mengeluarkan single versi Jepang. Tak lama Rain muncul dan entah kenapa setiap tahun namanya selalu muncul sebagai salah satu most influenced people.
Di masa SMA itu pula transisi saya menyukai dorama ke k-drama. Dan yang membuat saya berpaling adalah, the one and only, Won Bin. Saya tidak tahan menonton Endless Love karena terlalu menguras air mata. Tipikal film korea. Maka dari itu ketika ada berita rilis film kolaborasi Jepang dan Korea yang dibintangi Won Bin dengan tajuk Friends, saya senang sekali. Rasanya saya selalu ingin mengulang adegan di bawah hujan salju itu.
Daftar komik yang dibeli kakak-kakak saya juga jadi beragam. Berawal dari Ragnarok, saya jadi tergiur mencari komik Korea yang benar-benar epik. Goretan kasar memang jadi ciri khas komik Korea saat itu. Dan setelah lama mencari (saya biasanya hanya modal pinjam punya abang atau kakak, jika saya mau membelinya itu berarti diniatkan untuk koleksi), akhirnya saya menemukan komik Tarian Langit saat pesta buku Gramedia. Dan serinya lengkap. Fiuuih.
(1999-200) Saat kuliah, saya sejenak melupakan entertainment Korea dan lebih menikmati drama Taiwan paling legendaris, Meteor Garden. Namun yang menarik adalah di kampus saya justru sedang kedatangan banyak mahasiswa Korea alih-alih mahasiswa Jepang. Saya suka saja melihat gaya mereka. Dari cara mereka melipat ujung celana jins (hanya satu lipatan besar) hingga faktor tindik yang tidak memengaruhi faktor imut-imut. Sayang, waktu itu saya menolak mengurus aplikasi beasiswa ke Korea yang saat itu gencar ditawarkan di kampus dengan alasan tidak matching dengan studi saya saat ini. Saya kan bukan pemburu beasiswa =D.
(2004-2011) Saat bekerja, fokus negara saya bergeser ke Amerika atau Inggris. Eropa pun jarang saya lirik. Dengan kakak-kakak yang sudah menikah dan meninggalkan rumah induk, saya praktis tidak mendapatkan lagi asupan informasi gratisan tentang negara-negara Timur Jauh. Toh, saya masih diberi kesempatan berurusan dengan orang Korea. Well, bukan saya yang berurusan langsung sih, tapi penerbit tempat saya bekerja memutuskan mengisahkan tentang pianis berjari empat asal Korea, Hee Ah Lee. Kami bahkan mengadakan mini show. Istimewanya? Ada puisi saya di buku memoar Hee Ah lee karya Kurnia Efendi itu. =D
(2010-sekarang) Saat cuti melahirkan Malika, saya jadi ada waktu nonton Indosiar dari siang sampai sore. Nonton drama Korea. Mengejar ketertinggalan. Mulai meng-update diri lagi. Setelah galau pilih idola akhirnya mantap pilih TOP Bigbang. Bahkan sempat nonton konser Bigbang 2012 lalu. Walau sekarang rasanya aneh saja karena mesem-mesem lihat music video dan di seberang sana ada suami yang berkerut dahinya plus manyun
Dan setelah tulis panjang-panjang, pertanyaannya adalah ... Siapa yang nanya, neng?
Wakakak ... Ini hanya tulisan menghibur diri. Walau belum pernah mampir ke Korea, belum pernah nyobain jadi stalker fans yang ngejar nonton konsernya di mana pun (bo, biayanya kudu dikali empat buat bayarin anak-anak), biarpun saya bukan yang jadi penonton setia kontes cover dance tadi siang, tapi yaaah ... Saya sudah lama temenan sama Korea. Again, sapa yang tanya, buuuu?
Jumat, 03 Januari 2014
REVIEW: Cocomong the series
"Hello everybody, I'm Cocomong."
Malika and Safir have their new favorite cartoon series. It's Cocomong, another production from TOP Bigbang's city, Korea
The story goes to a monkey who look like a sausage or a sausage turned into a monkey (?) called Cocomong. It's a story of a refrigerator called cutie land.
THE CHARACTERS
All of the characters are taken by vegetables or fruit. Cocomong is an inventor and he has a robot version of him named Robocong.
Cocomong's bestfriend is Aromi. A rabbit that look like a boiled egg. But they always argue about everything.
Cocomong has a dog called Omong who was a prawn. There is also a cucumber who turned into an alligator who like to cook named Agle. Dorri is a hippo that came out of a raddish and a mushroom as his hats. Though he is the biggest member of cutie land, he is good in art. And don't forget Kaero, a donkey that look like a carrot. He is the funny guy.
Then we have Padak, the lousy chicken that came out of celery. She is very stubborn and one of the members that couldn't talk. The other members that couldn't talk are the trio Dookong, Saekong, and Naekong the pigs that came out of bean.
THE THEME
Cocomong itself is a soft movie yet understandable, just like Pororo. Unlike Doong Doong which still has some violence scenes or Mumuhug which has too many confusing characters and it made me hard to explain to Malika. She doesn't compromise with imaginative thing and she will keeps asking it until it sound real.
This series are suitable for preschooler because they show us how to behave to each other. And sometimes they remind each other to consume healthy food. There are less sugary products here, which is good. After Doong Doong promoted banana as their main dish, now my kids are eagerly want to eat sausage. It make me want to search about healthy sausage suppliers.
Malika and Safir haven't had problem with veggie and fruit, and they quite know much about them because I oftenly take them with me when I was buying veggie. But Cocomong makes them even more excited in knowing and dealing with veggie.
Cocomong has also game version which you can upload from apps store. I haven't try it yet.
Cocomong is aired every Monday to Friday at 6am or every Saturday & Sunday at 6.30 pm. Only on B channel.
"What are we going to do today? Let's find out!"
Malika and Safir have their new favorite cartoon series. It's Cocomong, another production from TOP Bigbang's city, Korea
The story goes to a monkey who look like a sausage or a sausage turned into a monkey (?) called Cocomong. It's a story of a refrigerator called cutie land.
THE CHARACTERS
All of the characters are taken by vegetables or fruit. Cocomong is an inventor and he has a robot version of him named Robocong.
Cocomong's bestfriend is Aromi. A rabbit that look like a boiled egg. But they always argue about everything.
Cocomong has a dog called Omong who was a prawn. There is also a cucumber who turned into an alligator who like to cook named Agle. Dorri is a hippo that came out of a raddish and a mushroom as his hats. Though he is the biggest member of cutie land, he is good in art. And don't forget Kaero, a donkey that look like a carrot. He is the funny guy.
Then we have Padak, the lousy chicken that came out of celery. She is very stubborn and one of the members that couldn't talk. The other members that couldn't talk are the trio Dookong, Saekong, and Naekong the pigs that came out of bean.
THE THEME
Cocomong itself is a soft movie yet understandable, just like Pororo. Unlike Doong Doong which still has some violence scenes or Mumuhug which has too many confusing characters and it made me hard to explain to Malika. She doesn't compromise with imaginative thing and she will keeps asking it until it sound real.
This series are suitable for preschooler because they show us how to behave to each other. And sometimes they remind each other to consume healthy food. There are less sugary products here, which is good. After Doong Doong promoted banana as their main dish, now my kids are eagerly want to eat sausage. It make me want to search about healthy sausage suppliers.
Malika and Safir haven't had problem with veggie and fruit, and they quite know much about them because I oftenly take them with me when I was buying veggie. But Cocomong makes them even more excited in knowing and dealing with veggie.
Cocomong has also game version which you can upload from apps store. I haven't try it yet.
Cocomong is aired every Monday to Friday at 6am or every Saturday & Sunday at 6.30 pm. Only on B channel.
"What are we going to do today? Let's find out!"
Langganan:
Postingan (Atom)