Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Maret 2014

10 DVD Original Wajib Punya

Saat menyetrika malam tadi, saya ditemani film Mr & Mrs. Smith di globaltv. Saya selalu suka film itu. Bahkan mendamba memiliki dvd originalnya sebagai bentuk apresiasi tertinggi untuk film tersebut. Maklum, kita dibanjiri produk bajakan dan menikmatinya.

Nah sebelum berlarut-larut di Mr & Mrs. Smith, saya buatkan daftar film favorit saya di tv atau layar lebar hingga wajib punya versi originalnya:

1. Mr. & Mrs.Smith

Sebenarnya saya tidak terlalu ngefans film action. Namun, untuk yang satu ini saya lebih merasa ini film roman ketimbang film laga. Film yang berkisah tentang suami istri yang ternyata sama-sama mata-mata untuk dua agen berbeda ini, seolah menceritakan Brad Pitt dan Angelina Jolie yang sebenarnya. Maksud saya dengan fakta bahwa keduanya jagoan.
  Sejak sejoli itu masih menyangkal kena cinlok di film ini, saya sudah lihat dari binar mata keduanya. Kebetulan dua-duanya termasuk seleb favorit saya. Mereka dah keren banget dah berdua, dan film ini semacam saga untuk mereka berdua.

2. 71: Into the Fire

Lagi-lagi film laga. Film tentang prajurit pelajar yang menjaga salah satu batas wilayah Korea Selatan saat perang Korea ini diangkat dari kisah nyata. Dan daya tarik dari film ini tak lain adalah tentu saja TOP bigbang atau Choi Seung Hyung. Dia dapat penghargaan untuk perannya di film ini. Dan ... Ada sebuah senyum yang sangat menarik terpapar di sini. Haiyah. Perannya memang tewas di akhir cerita tapi hati lega karena tidak ada adegan cinta-cintaan sama sekali. Tabi ku amaaan =)

3. Gone with the Wind
Love the classics. Walau film jadul tapi kisahnya sangat mengangkat tema kekuatan wanita. Karakter utamanya, Scarlett, benar-benar mengalami jungkir balik perkembangan karakter. Jadi bukan hero atau anti hero melainkan total humanis. Gak lucu film klasik beginian hanya punya versi bajakannya. Mau baca novelnya kok males ya ...

4. Moulin Rouge
Inilah saat saya kembali mendapatkan wadah untuk film musikal modern. Soundtrack nya luar biasa. Diambil dari lagu-lagu berbagai genre lalu diaransemen ala dunia panggung kabaret.
Kisah seorang penari utama kabaret dengan penggemarnya ini jadi terasa epic. Nicole Kidman keren banget di sini. And she can sing! Duetnya bersama  Ewan McGregor dengan lagu Come What May jadi salah satu lagu romantis kesukaan saya. Namun, belakangan terganggu dengan ingatan salah satu adegan Glee season 4 yang menyanyikan lagu ini. Bukannya apa-apa, yang menyanyikan itu duet Kurt Hummel dan Blaine Anderson. Jadi rada geuleuh ... >.<

5. Step Up 2
Dari semua sekuel step up, yang kedua yang menurut saya paling gila jogednya. Si muka culun itu asli keren banget, walau bukan pemeran utama. Efek tarian dan non tariannya terlihat berkesinambungan secara natural. Tidak terlalu terkonsep seperti Step Up 3. Nonton ini ga boleh ada risiko putus-putus karena kepingnya baret akibat sering diputar.

6. Romeo & Juliet

Ini adalah gabungan dari karya klasik, soundtrack keren, dan cowok ganteng. Serius, buat saya Leonardo paling ganteng di film ini. Yeah ga terlalu suka dengan Claire Danes-nya sih. Gara-gara film ini, bahkan cincin kawin saya juga perak =P.

Soundtracknya menghipnotis. Saya serasa dibawa melayang dalam lamunan Shakespeare saat menuliskannya.

7. Kuch Kuch Hota Hai
India is the best lah buat musikal. Dan Kuch Kuch Hota Hai adalah momen perubahan film India yang harus punya paket lengkap di tiga jam filmnya (cinta, balas dendam, dan tangisan). Film ini seluruhnya hanya bercerita tentang cinta remaja. Soundtracknya segar walau masih tidak dinyanyikan oleh pemeran aslinya. Dan iramanya bahkan digunakan di beberapa film lain seperti Kabhi Kushi Kabi Gham dan Mohabbatein. Sejarahlah dia.

8. Meteor Garden
Oh Tao Ming Se ... Meteor Garden versi Taiwan ini sesuatu banget deh. Mulai awalnya nonton pas lagi UTS di kampus. Harusnya belajar malah ngejar beberapa episode semalaman. Pokoknya gila banget deh. Belum lagi banjir air mata di adegan di antara pintu tertutup antara Tao Ming Se dan SanChai. Makanya cukup perlu yang musim 1 aja, musim 2-nya lebih bombay airmatanya. Gak tega, aku .... Buahuahuahua ....

9. Friends

Won Bin saudara-saudara. Kolaborasi dengan artis Jepang. Jadilah film ini separuh dorama dan kdrama. Lagi-lagi bagi saya ini momen. Momen peralihan dari jpop ke kpop =). Pokoke Won Bin cakep banget dah di sini. Ketemunya artis Jepang yang lagi hot banget zaman itu pulak. Ck ck ck ....

10. Chocolat
Ga afdol kalau ga masukin mas Johnny Depp di sini. Dan di antara film ajaib miliknya, saya memilih Chocolat. I love the ideas of the chocolate itself. Menatap bung Johnny di sini serasa makan dark chocolate dengan bubuk cabai. Membara ... Wakakakak .... Berbeda dengan film-film yang saya sebut sebelumnya, film ini justru minim back sound apalagi soundtrack =) Sunyi ... Tapi manis dan lumer di mulut. Halah ....

So, what's yours?

Rabu, 12 Februari 2014

Shirley Temple, Kenangan dan Inspirasi

Saya sedikit berkerut dahi ketika melihat posting page fb Taylor Swift. Secarik kertas bertuliskan, "There is nothing greater than love. Nothing. -Shirley Temple"

Kenapa dia tiba-tiba bicara tentang Shirley Temple? Rupanya, hari ini  Shirley Temple meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Suka lupa menyebut ini jika ada artis yang meninggal dunia.

Saya terkejut. Bukannya dia sudah lama wafat? Eh, rupanya saya salah. Saya ingat terakhir kali melihat update-nya di koran ketika saya SD atau SMP, di sana disebutkan dia sudah menjadi nenek dan menjadi perwakilan PBB. Tentu saja setelah dua puluh tahun berlalu, wajar jika saya pikir Shirley Temple sudah meninggal sejak lama.

Film-film Shirley Temple menghiasi masa SD saya. Dulu televisi swasta masih gandrung menayangkan film-film musikal klasik. Itu adalah masa-masa awal saya meyakini bahwa film musikal bisa nyata terjadi. Yang saya maksud di sini adalah keadaan bernyanyi dan menari kapan pun, di mana pun. Saya bernyanyi saat menyapu, mencuci, menulis, berjalan kaki. Dan kebanyakan dari mereka adalah lagu karangan sendiri.
Bisa dikatakan seri film Shirley Temple merupakan salah satu cikal bakal saya ingin menjadi penulis lagu (dulu sih tepatnya ingin menjadi penyanyi yang menciptakan lagu sendiri).

Dan satu yang paling melekat di saya adalah koleksi baby doll yang dikenakannya. Stoking dan sepatu pantofel klasik berwarna cerah. Bahkan sampai sekarang saya masih kepengen jas winter selutut dengan kancing besar. Hanya untuk dipakaikan ke Malika. Saya suka celana dalam pendek putih berenda yang dikenakannya dan sering tersingkap saat menari. Semuanya ingin diaplikasikan ke Malika. (iyalah, masa saya yang pakai) Dan semua koleksi busana Shirley Temple saat itu, bagi saya ... Endless. Corak dan rendanya .... Masih terbayang-bayang.

Sayang Malika tidak memiliki rambut bergulung seperti Amynya. Jika iya, mungkin saya akan lebih gila lagi mencari baju ala Shirley Temple.

Film-film Shirley seperti Little Colonel dan Wet Willie Wenka memang tipikal. Biasanya melibatkan hidup kaya dan miskin dan selalu berakhir bahagia dan kaya raya, juga kisah anak piatu yang punya ayah keren, gadis lincah yang kadang usil tapi baik luar biasa ... Anak idaman deh.

Shirley Temple artis cilik yang karir aktingnya hanya mampu menampung wajah imutnya. Walau sempat menyelamatkan industri perfilman Hollywood yang nyaris bangkrut kala itu, hollywood tak mampu mengangkat pamornya lagi ketika muka imut chibi-chibi itu beranjak besar.

Tapi dia tak patah arang. Tidak tenggelam dalam keputusasaan. Hingga beritanya pun tidak ramai karena tidak terlibat skandal apa pun. Menikah dua kali lalu setelah itu muncul sebagai politikus. Pernah menderita kanker payudara dan kemudian menjadi juru bicara sesama survivor.

Dan kini dia sudah tiada, meninggalkan karya yang mungkin banyak anak Indonesia tidak tahu. Sosok anak imut yang tidak sok imut, tidak serba princess ga jelas =P bye bye Temple Black ...