Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 November 2017

RABUku: Mengumpat Seperti Kapten Haddock


Pada adegan pertama lafaz itu disebut, saya menoleransi dengan berseloroh dalam hati. Mungkin seperti ketika seorang artis dikonfirmasi keterlibatannya dalam sesi foto di majalah Playboy Filipina, “iya, insya Allah, eh insya Allah ... “
Adegan kedua lafaz yang lain disebut lagi, saya toleransi lagi sambil membayangkan film Godfather, mafia yang tak jarang berdoa. Mungkin yang bikin film lebih dekat hubungannya dengan film-film seperti itu. Dipikirnya sama.
Begitu adegan ketiga dan serangkaian lafaz diucap berulang-ulang, saya mulai suudzon. Dan akhirnya mencoba mundur jauh karena ga baik menilai dalam keadaan berprasangka buruk.

Tokoh antagonis di media anak-anak sering membuat saya serba salah. Ketika anak-anak disuguhkan film nabi-nabi dan adegan perang, kata-kata “bodoh”, “mati kau”, dkk bertebaran. Dan ketika anak-anak melakukan reka ulang, kuping saya jengah rasanya. Kan aneh ya kalau saya membuat pernyataan bahwa anak-anak belajar penggunaan kata umpat dari film nabi-nabi.

Lalu muncullah film musikal anak-anak ini. Saya sih bukan pengamat film, hanya ibu-ibu biasa yang tahu jika seandainya waktu itu yang dibawa nonton adalah kakaknya, maka akan banyak protes yang dia lontarkan lalu aminya harus spare waktu itu meredakan emosi si anak dan meluruskan dugaan-dugaan dia yang seringkali terlalu imajinatif. Maklum, kejadian ini bukan hal baru bagi saya. Ini seperti ketika anak-anak bertanya, “ami, kok orang itu Islam tapi ga tutup aurat?” mereka belum dengar aja orang-orang yang menggunakan “jing” sebagai awalan atau akhir kalimat ^^ Hanya saja, bagi saya, jika memang bukan diambil dari kisah nyata, bacaan atau tontonan anak-anak itu lebih menyenangkan jika clear dari praduga dan stereotipe buruk.

Dalam menikmati kesustraan anak, Saya lebih tertarik dengan cara Kapten Haddock mengumpat, walau sosoknya agak antihero karena suka mabuk dan merokok tapi pilihan kata umpatannya legendaris, baik dalam bahasa aslinya atau saat penerjemahannya, yang prosesnya sama-sama ga mudah. Ada semacam intelektualitas linguistik karena sadar pasarnya adalah anak-anak. Sejuta topan badai, kepiting busuk, dkk itu masih terasa lucu saat direka ulang di bibir anak-anak.

Sedangkan untuk tokoh antagonis, saya lebih suka yang ga murni antagonis. I mean, setiap orang kan pasti ada sisi menyebalkan tapi bukan berarti jahat, karena 'jahat' itu kata yang tajam, kebayang kan perasaan Rangga? Begitu juga dengan peran jagoan,  ga harus yang jadi ketua kelas dan menang lomba marching band dan sains (seimbang yak otaknya ^^), tapi yah mungkin jadi ga seru ya filmnya hahahaha ...

Nah, kan ga mudah bikin kalimat yang bebas praduga kaya gitu. Makanya saya maju mundur dengan naskah cerita anak ^^ (alasan). Mungkin karena saya juga masih terperangkap dalam stereotipe buruk (sedih). Semoga yang terjadi menjadi dorongan bagi kita berkarya yang lebih baik ya ....

Minggu, 16 April 2017

Everybody’s Hurt di “KARTINI”


"Ibuuu!" jerit seorang gadis kecil sambil ditarik-tarik dua anak laki-laki.
"Panggil Nyi!" kata salah satu anak laki-laki yang sepertinya sudah hendak remaja.
"Itu ibu kita!" tangis si gadis pecah. 

Film Kartini seolah hendak memberikan tempo lambat dengan sorotan kaki dan lutut yang bergantian memasuki lantai, tetapi yang terjadi tak lama dari itu adalah ... banjir airmata. 

Kartini yang disutradarai Hanung Bramantyo ini mengambil kisah Kartini sebelum menikah. Bahwa Kartini sejatinya telah menjadi 'Si Kartini' sejak kecil. Dia mengembangkan sayapnya sendiri dan kemudian tetap melambung terbang walau akhirnya menikah. 

Namun, Kartini tidak bangkit sendirian. Jika kunci menuju 'pintu keluar' kamar pingitan tidak diberikan oleh masnya, Kartono, mungkin dia masih merutuki dalam gelap terkait tradisi menuju seorang Raden Ayu. Dan Kartini mungkin tidak akan mendapat kesempatan meraih pendidikan Belanda saat kecil, jika romonya tidak menikahi seorang putri bangsawan sebagai istri kedua. 

Masing-masing generasi wanita Jawa dengan caranya sendiri berkorban demi kehidupan keturunannya yang lebih baik.

Beberapa waktu buat Daun Semanggi, ternyata Het Klaverblad merupakan nama pena Kartini bersaudari

Perjuangan yang nyata memiliki halangan yang nyata pula bagi Kartini, tetapi karena diambil dari kehidupan nyata, tak ada orang yang benar-benar ditokohkan jahat murni, semuanya memiliki alasan yang tak kalah pilu. Dengan kata lain, semua orang punya lukanya sendiri walau tujuannya sama. 

Film yang dibuka dengan airmata ini, ditutup dengan airmata pula. 

Sudah lama ingin lihat film Kartini, karena sempat ada penawaran pre screening bareng alumni FIB UI tanggal 7 April lalu. Sayangnya, waktunya ga cocok sama ibu-ibu. Eh masih diberi rezeki nonton saat tawaran pre screening muncul di grup Komunitas Emak-emak Blogger, boleh bawa teman lagi. Waktu dan tempatnya pun cucok. Dan saya pun cuss ke cinema XXI hollywood. 

Yang saya perhatikan di sini adalah Dian Sastro yang memang banyak menggunakan bahasa Belanda walau pernah berkeliaran di kampus yang sama dengan Distro di FIB UI, sayalah yang mengambil jurusan bahasa Belanda. Dan bagi saya, pengucapan Dian di film ini bagus sekali. Ga jadi deh mau saya kritik. Terbayang latihannya. 

Cara Hanung meramu momen-momen Kartini saat melahap buku dan berkorespondensi pun cukup menarik. Kita dibawa ke imajinasi Kartini dan kemudian turut merasakan besarnya keinginan Kartini untuk pergi ke Belanda.

Saya tergelitik ketika mendengar sebaris dialog saat ayah Kartini ditentang keluarganya terkait beasiswa pendidikan Kartini ke Belanda. "Kalau dibiarkan, nanti ditiru orang miskin. Nanti bisa ada anak tukang kayu jadi raja!" ^^

Saya punya kebiasaan tidak membaca siapa saja para pemainnya dalam sebuah film sebelum menonton, jadi saya terkaget-kaget bahkan hingga credit title. Eh ternyata ada Djenar, eh ternyata ada Reza Rahadian (orang ini ada di mana-mana yak), eh ternyata itu Acha Septiasa. Dan jangan lupa, Christine Hakim juara aktingnya. 

Keluar dari bioskop rasanya ingin segera melahap lebih banyak lagi tentang Kartini. Teringat akan buku kumpulan surat Kartini yang merupakan hadiah tapi lama tak disentuh. Belum lagi bakal ada novel Kartini  yang bersanding dengan filmnya dan akan diterbitkan oleh noura Publishing tak lama setelah filmnya resmi meluncur di bioskop-bioskop. Must have. Biar semangat jadi perempuan. 

Walau Kartini tidak jadi mengambil beasiswa pendidikan ke Belanda, tetapi kini di Belanda justru tertera namanya sebagai nama jalan. Jadi bagaimana cara kita mengapresiasi perjuangan Kartini? Tentu lebih dari menjadikan tanggal 21 April sebagai hari kebaya nasional kaaan ^^

Menulisi Kutipan Kartini di tas. Iseng ^^

"kita bisa menjadi manusia sepenuhnya tanpa berhenti menjadi wanita sesungguhnya." R. A. Kartini. Namun semua itu perlu usaha, perjuangan. 

Seperti kata Mas Kartono, "jika cita-cita bisa dihadiahkan, kamu tidak akan bisa jadi Pandita Ramambai"





Senin, 01 Februari 2016

I am Hope The Movie: Akhir Apa yang Kau Inginkan?

sumber foto: twitter I am Hope


KANKER.
Saat kata-kata itu menghampirimu atau orang-orang terdekatmu, apa yang kamu harapkan? Kehidupan dengan penyakit atau kematian yang tenang?

Hampir 10 tahun berlalu, sejak saya berada di satu ranjang dengan sepupu saya yang belakangan pindah ke rumah saya demi pengobatannya. Setelah berhari-hari cerita ngalor-ngidul, akhirnya saya pun bertanya, “Rasanya gimana? Setelah dokter bilang penyakit itu?”
“Gue nangis, Ti. Padahal gue kan pengen menyelesaikan skripsi.”

Sepupu saya ini memang yang paling rajin belajar di antara saya dan sepupu lain yang satu angkatan. Angkatan kelahiran ’81 hanya ada tiga cewe dari satu nenek. Bulan lahirnya pun hanya terpaut dua bulan satu sama lain. Sepupu saya yang lain lahir bulan Februari, sepupu saya yang sakit lahir bulan April, dan saya lahir bulan Juni. Ketika saya dan sepupu yang lebih tua saling cekakak-cekikik tentang komik, sepupu yang sakit ini sibuk membaca buku pelajarannya. Sehingga mau tak mau saya agak menyunggingkan senyum, saat dia membagi perasaannya untuk segera menyelesaikan skripsi.

Dalam thriller I am Hope the Movie ini saya terpaku pada adegan Wanita Bernuansa Pelangi menampar Mia (diperankan oleh Tjajana Saphira) yang baru divonis kanker, “kalau lo emang merasa mau mati. lo ga akan buang waktu ..."

  
Saat pertama kali mendengar ibu saya bilang bahwa sepupu saya itu terkena kanker, saya mengira akan berhadapan dengan sepupu yang menangis meraung-raung di kamar. Nyatanya, tidak. Skripsi. Hanya itu yang dipikirkannya. Keinginannya menjadi seorang sarjana bidang ilmu biologi memang sudah menjadi impiannya sejak kecil. Hingga suatu kali mama pun harus memberikan teguran keras pada dirinya, “jangan pikir skripsi dulu, selesaikan pengobatan dengan baik terlebih dulu.”

Akhirnya sesi kemoterapi pun dia jalankan dengan lebih tenang. Saya malah yang sedih ketika dia menatap cermin dan mencabuti perlahan rambutnya yang memang sudah luluh. Kupikir kamulah yang paling jelas jalan hidupnya, menjadi si pintar yang gemilang. Tapi ... kini .Akhir cerita apakah yang kau harapkan? Bisik saya dalam hati.

Itulah yang dirasakan Mia. Pertunjukan teater garapannya terpaksa tertunda sejak vonis kanker menghampirinya.  Dia pun harus berjuang meneguhkan diri dan semangat di antara dorongan keluarga untuk menuntaskan pengobatan dan mewujudkan pertunjukkan teater yang memang sudah menjadi impiannya sejak kecil. Jalan hidup apakah yang akan dia pilih?

Film yang disutradarai oleh Adilla Dimitri ini dibintangi oleh sederet pemain film papan atas seperti, Fachry Albar, Tio Pakusadewo, Fauzi Baadila, Ine Febriyanti, Ray Sahetapi, dll. Adilla Dimitri pun bertindak sebagai penulis skenario dibantu oleh Renaldo Samsara. This is serious .... 

Lalu di manakah peran Wulan Guritno yang notabene adalah istri sang sutradara? Kunjungilah laman Gelang Harapan maka Anda akan tahu jawabannya. Bekerja sama dengan Uplek.com sebagai rekan media sosial, film ini bukan semata film empati terhadap penderita kanker, melainkan juga letupan inspirasi dan harapan terhadap segala masalah yang dialami manusia.

Lalu, akhir cerita apakah yang kau harapkan?

Sepupu saya meninggal dunia hampir sepuluh tahun yang lalu. Setelah sempat dinyatakan bersih dari kanker, dia segera meluncur ke luar kota untuk menyelesaikan skripsi. Kesehatannya memburuk saat skripsi itu hampir usai. Dan ternyata hanya bisa sampai di situ.

Dua hari usai ulang tahun saya, dia berpulang. Saya tak ada di sisinya saat itu. Bahkan hingga kini tak pernah menziarahi makamnya. Mungkin inilah cara-Nya agar saya senantiasa mengingat kehidupannya, alih-alih kematiannya. Terutama masa-masa kami berdua selama satu tahun bersama di atap yang sama. Rasanya seperti mendapat hak siar ekslusif. Perjuangannya menuntaskan skripsi pun bukannya sia-sia, jurusannya memberikan kelulusan istimewa untuk dirinya. Sepupu saya akhirnya menjadi seorang sarjana biologi.

Jadi jika saya ditanya tentang akhir cerita I am Hope the Movie, saya berharap film ini berakhir dengan Mia menjalani kehidupan. To live the life. Kematian adalah hal yang pasti bagi seluruh makhluk hidup, namun yang membedakannya adalah isi dari tanda strip yang tertera di antara tahun lahir dan matimu. So, be alive. Berhentilah berputus asa (mengutip lirik RAN)


Bagaimana denganmu? Apa akhir cerita film ini menurut versimu? Atau penasaran dengan versi Adilla Dimitri? Jangan  lupa ke bioskop mulai 18 februari ini bersama orang-orang kesayanganmu ya....

PRE SALE @IAmHopeTheMovie yang akan tayang di bioskop mulai 18 februari 2016. Dapatkan @GelangHarapan special edition ?#?IAmHope? hanya dengan membeli pre sale ini seharga Rp.150.000,- (untuk 1 gelang & 1 tiket menonton) di http://bit.ly/iamhoperk.Dari ?#BraceletOfHope 100% & sebagian dari profit film akan di sumbangkan untuk yayasan & penderita kanker sekaligus membantu kami membangun rumah singgah .
Follow Twitter @Gelangharapan dan @Iamhopethemovie
Follow Instagram @Gelangharapan dan @iamhopethemovie
Follow Twitter @infouplek dan Instagram @Uplekpedia
#GelangHarapan #IamHOPETheMovie #BraceletofHOPE #WarriorOfHOPE #OneMillionHOPE #SpreadHope”

Kamis, 22 Oktober 2015

KAMYStory: City of Bones dan Kesengsem Sama Jamily Couple


sumber: newsboxofficebuz.com

Dua malam lalu, di tengah malam saya ga sengaja nonton The Mortal Instrument, City of Bones di FOX. Kebetulan lagi nyetrika jadi butuh sedikit cahaya biar ga gelap-gelap amat lah. Namun, saya dikejutkan betapa saya kemudian lengket menontonnya. I mean, saya sudah tahu novel ini sejak lama. Belum baca sih, karena momennya bersamaan dengan novel-novel serupa Twilight itulah. Jadi saya yang ceritanya anti mainstream, ga baca novel-novel dengan tema itu.

Yang menjadi fokus perhatian saya adalah chemistry antara Jace dan Clary (diperankan oleh Jamie Bower dan Lily Collins), Perasaan yang timbul sama persis dengan ketika melihat Brad Pitt dan Angelina Jolie di Mr & Mrs Smith atau saat melihat G Dragon dan TOP di parodi Secret Garden >.<
Feelnya tuh dapet banget.

Saking terasa banget chemistrynya saya sampai khawatir sendiri ketika disebutkan di film kalau Jace dan Clary adalah kakak beradik. Kayanya ga relaaaaa gitu. Masa sih mereka ga dapat happy ending berdua? Untung ga keliatan sama suami kalau lagi galau sendiri emak-emak ini malam-malam.

sumber: fanpop.com


Saya pun bertekad beli novelnya. Eh tapi begitu lihat di toko buku, harganya seratus ribuan aja buuu ... ada enam seri pulak. Bakal lama banget dong bagi saya buat tahu akhir kisah cinta mereka. (penting banget yak khawatir segitunya ^^'). So, saya cari spoilernya dan agak lega membaca bocoran tentang status mereka berdua. (jadi bisa nyicil beli novelnya dengan tenang)


Petualangan jari saya belum berakhir karena ternyata James Bower dan Lily Collins aslinya emang pacaran. Tuuuuh kaaaaan!!!! Agak CLBK siy, pokoknya mereka pasangan di dunia nyata deh. And i love seeing them together walau gue bukan siapa-siapanya mereka hihihiy ... Menariknya pasangan ini nyaris bertolak belakang. Jamie yang agak bergaya rock and roll (mengingatkan saya pada gaya Jang Geun Suk di drama korea Mary Stayed Out All Night) sedangkan Lily Collins kaya ratu gothik gitu, cantik anggun tapi ada aroma rock and roll juga. But they both are fun person. Lihat interview mereka berdua yang cekakak cekikik itu rasanya seneeeeng banget. Haiyah.

sumber: people.com



Yah, mudah-mudahan langgeng ya pak, bu ... serinya ada 6 loh. Lumayan kan 6 tahun lagi bikin filmnya, jadi tetap bersama yak, biar asyik gitu nontonnya hehehe ...


Lama-lama saya mikir-mikir, kok kayanya pasangan ini terlihat familiar ya? hmmm ... kenapa ya?


wakakak ... abaikan saja foto ini ^^

Selasa, 12 Agustus 2014

Robin Williams dan Inspirasi

Pagi ini saya terpaku pada update status salah satu teman saya yang menuliskan "RIP Robin Williams". Rasanya tak percaya. Lalu di tengah lambatnya internet pagi itu, samar-samar saya baca, "apparent suicide". Entah kenapa saya tidak terkejut. Rasanya hanya hal tragis yang mampu meredam lebar senyumnya yang membuat matanya kian menyipit, terlebih di usianya yang semakin lanjut.

Padahal beberapa bulan lalu, saya baru menuliskan review The Crazy Ones untuk serial komedi televisi yang dia produseri setelah sekian puluh tahun meninggalkan dunia televisi. Saya merasa kematiannya ada hubungannya dengan proyek terakhirnya. Saya bersabar menunggu aliran sinyal untuk mencari tahu tentang motif kematian Robin Williams. Ya, istrinya memang menekankan bahwa keluarga lebih mementingkan apa yang telah Robin Williams lakukan selama hidupnya. Toh, rupanya rekam jejak hidupnya menunjukkan soal depresi dan ketergantungan obat-obatan yang dialaminya. Saya teringat karakter Robins di The Crazy Ones adalah seorang ayah yang dulunya seorang kreator iklan genius tapi kemudian terlarut dalam kegeniusannya sehingga menenggelamkan dirinya sebagai seorang alkoholik dan pengkonsumsi obat-obatan gangguan syaraf. Yang kalau lupa makan obat, pasti kumat. Hal yang mengingatkan pada artis lokal yang sedang hits beritanya.

Mengingat The Crazy Ones adalah proyek pribadinya, saya bertanya pada diri sendiri, apakah dia tengah merefleksikan dirinya sendiri? Saya jadi sedih. Sedih pada para penderita depresi yang tak kunjung tahu bagaimana cara menyembuhkan dirinya sendiri. Padahal pekerjaannya selama puluhan tahun adalah menghibur dunia dengan karakternya yang kocak tapi juga bisa sangat serius menghanyutkan. Saya jadi merasa sebagai obyek penerima, tak mampu membalas kembali.


INSPIRASI
Jika bicara tentang inspirasi, banyak teman mengungkapkan inspirasi yang didapatkan dari Robin Williams dari berbagai filmnya. Banyak film bagus tersebutkan di sana. Tapi belum ada yang menyebutkan film favoritku dari Robin Williams. Mungkin akibat banyak kontak yang saya unfollow hehehe ....

Namun, walau tidak ada yang bertanya, saya akan bilang Patch Adams sebagai inspirasi saya. Ini ada hubungannya dengan cara saya menghadapi anak-anak. Tahu kan, ini cerita tentang seorang dokter yang melakukan pendekatan humanis pada pasiennya. Si dokter dengan hidung merah ala badut. Walau diproduksi pada 1998, saya merasa sulitnya melakukan yang dia lakukan adalah ketika saya berhadapan dengan para pasien anak penderita kanker. Waktu itu saya masih aktif di Kelompok Pencinta Bacaan Anak dan saat itu adalah giliran saya mendongeng bagi mereka. Dan saya yakin, walau Robin Williams tidak tengah berakting sebagai dokter pun, dia mampu melakukannya jauh lebih baik dari saya. Ya iyalah, saya demam panggung gitu.

Rasanya saya masih harus belajar banyak dari karakter Robin Williams. Yak, baiklah, mari cari filmnya :)

Senin, 10 Maret 2014

10 DVD Original Wajib Punya

Saat menyetrika malam tadi, saya ditemani film Mr & Mrs. Smith di globaltv. Saya selalu suka film itu. Bahkan mendamba memiliki dvd originalnya sebagai bentuk apresiasi tertinggi untuk film tersebut. Maklum, kita dibanjiri produk bajakan dan menikmatinya.

Nah sebelum berlarut-larut di Mr & Mrs. Smith, saya buatkan daftar film favorit saya di tv atau layar lebar hingga wajib punya versi originalnya:

1. Mr. & Mrs.Smith

Sebenarnya saya tidak terlalu ngefans film action. Namun, untuk yang satu ini saya lebih merasa ini film roman ketimbang film laga. Film yang berkisah tentang suami istri yang ternyata sama-sama mata-mata untuk dua agen berbeda ini, seolah menceritakan Brad Pitt dan Angelina Jolie yang sebenarnya. Maksud saya dengan fakta bahwa keduanya jagoan.
  Sejak sejoli itu masih menyangkal kena cinlok di film ini, saya sudah lihat dari binar mata keduanya. Kebetulan dua-duanya termasuk seleb favorit saya. Mereka dah keren banget dah berdua, dan film ini semacam saga untuk mereka berdua.

2. 71: Into the Fire

Lagi-lagi film laga. Film tentang prajurit pelajar yang menjaga salah satu batas wilayah Korea Selatan saat perang Korea ini diangkat dari kisah nyata. Dan daya tarik dari film ini tak lain adalah tentu saja TOP bigbang atau Choi Seung Hyung. Dia dapat penghargaan untuk perannya di film ini. Dan ... Ada sebuah senyum yang sangat menarik terpapar di sini. Haiyah. Perannya memang tewas di akhir cerita tapi hati lega karena tidak ada adegan cinta-cintaan sama sekali. Tabi ku amaaan =)

3. Gone with the Wind
Love the classics. Walau film jadul tapi kisahnya sangat mengangkat tema kekuatan wanita. Karakter utamanya, Scarlett, benar-benar mengalami jungkir balik perkembangan karakter. Jadi bukan hero atau anti hero melainkan total humanis. Gak lucu film klasik beginian hanya punya versi bajakannya. Mau baca novelnya kok males ya ...

4. Moulin Rouge
Inilah saat saya kembali mendapatkan wadah untuk film musikal modern. Soundtrack nya luar biasa. Diambil dari lagu-lagu berbagai genre lalu diaransemen ala dunia panggung kabaret.
Kisah seorang penari utama kabaret dengan penggemarnya ini jadi terasa epic. Nicole Kidman keren banget di sini. And she can sing! Duetnya bersama  Ewan McGregor dengan lagu Come What May jadi salah satu lagu romantis kesukaan saya. Namun, belakangan terganggu dengan ingatan salah satu adegan Glee season 4 yang menyanyikan lagu ini. Bukannya apa-apa, yang menyanyikan itu duet Kurt Hummel dan Blaine Anderson. Jadi rada geuleuh ... >.<

5. Step Up 2
Dari semua sekuel step up, yang kedua yang menurut saya paling gila jogednya. Si muka culun itu asli keren banget, walau bukan pemeran utama. Efek tarian dan non tariannya terlihat berkesinambungan secara natural. Tidak terlalu terkonsep seperti Step Up 3. Nonton ini ga boleh ada risiko putus-putus karena kepingnya baret akibat sering diputar.

6. Romeo & Juliet

Ini adalah gabungan dari karya klasik, soundtrack keren, dan cowok ganteng. Serius, buat saya Leonardo paling ganteng di film ini. Yeah ga terlalu suka dengan Claire Danes-nya sih. Gara-gara film ini, bahkan cincin kawin saya juga perak =P.

Soundtracknya menghipnotis. Saya serasa dibawa melayang dalam lamunan Shakespeare saat menuliskannya.

7. Kuch Kuch Hota Hai
India is the best lah buat musikal. Dan Kuch Kuch Hota Hai adalah momen perubahan film India yang harus punya paket lengkap di tiga jam filmnya (cinta, balas dendam, dan tangisan). Film ini seluruhnya hanya bercerita tentang cinta remaja. Soundtracknya segar walau masih tidak dinyanyikan oleh pemeran aslinya. Dan iramanya bahkan digunakan di beberapa film lain seperti Kabhi Kushi Kabi Gham dan Mohabbatein. Sejarahlah dia.

8. Meteor Garden
Oh Tao Ming Se ... Meteor Garden versi Taiwan ini sesuatu banget deh. Mulai awalnya nonton pas lagi UTS di kampus. Harusnya belajar malah ngejar beberapa episode semalaman. Pokoknya gila banget deh. Belum lagi banjir air mata di adegan di antara pintu tertutup antara Tao Ming Se dan SanChai. Makanya cukup perlu yang musim 1 aja, musim 2-nya lebih bombay airmatanya. Gak tega, aku .... Buahuahuahua ....

9. Friends

Won Bin saudara-saudara. Kolaborasi dengan artis Jepang. Jadilah film ini separuh dorama dan kdrama. Lagi-lagi bagi saya ini momen. Momen peralihan dari jpop ke kpop =). Pokoke Won Bin cakep banget dah di sini. Ketemunya artis Jepang yang lagi hot banget zaman itu pulak. Ck ck ck ....

10. Chocolat
Ga afdol kalau ga masukin mas Johnny Depp di sini. Dan di antara film ajaib miliknya, saya memilih Chocolat. I love the ideas of the chocolate itself. Menatap bung Johnny di sini serasa makan dark chocolate dengan bubuk cabai. Membara ... Wakakakak .... Berbeda dengan film-film yang saya sebut sebelumnya, film ini justru minim back sound apalagi soundtrack =) Sunyi ... Tapi manis dan lumer di mulut. Halah ....

So, what's yours?

Rabu, 12 Februari 2014

Shirley Temple, Kenangan dan Inspirasi

Saya sedikit berkerut dahi ketika melihat posting page fb Taylor Swift. Secarik kertas bertuliskan, "There is nothing greater than love. Nothing. -Shirley Temple"

Kenapa dia tiba-tiba bicara tentang Shirley Temple? Rupanya, hari ini  Shirley Temple meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Suka lupa menyebut ini jika ada artis yang meninggal dunia.

Saya terkejut. Bukannya dia sudah lama wafat? Eh, rupanya saya salah. Saya ingat terakhir kali melihat update-nya di koran ketika saya SD atau SMP, di sana disebutkan dia sudah menjadi nenek dan menjadi perwakilan PBB. Tentu saja setelah dua puluh tahun berlalu, wajar jika saya pikir Shirley Temple sudah meninggal sejak lama.

Film-film Shirley Temple menghiasi masa SD saya. Dulu televisi swasta masih gandrung menayangkan film-film musikal klasik. Itu adalah masa-masa awal saya meyakini bahwa film musikal bisa nyata terjadi. Yang saya maksud di sini adalah keadaan bernyanyi dan menari kapan pun, di mana pun. Saya bernyanyi saat menyapu, mencuci, menulis, berjalan kaki. Dan kebanyakan dari mereka adalah lagu karangan sendiri.
Bisa dikatakan seri film Shirley Temple merupakan salah satu cikal bakal saya ingin menjadi penulis lagu (dulu sih tepatnya ingin menjadi penyanyi yang menciptakan lagu sendiri).

Dan satu yang paling melekat di saya adalah koleksi baby doll yang dikenakannya. Stoking dan sepatu pantofel klasik berwarna cerah. Bahkan sampai sekarang saya masih kepengen jas winter selutut dengan kancing besar. Hanya untuk dipakaikan ke Malika. Saya suka celana dalam pendek putih berenda yang dikenakannya dan sering tersingkap saat menari. Semuanya ingin diaplikasikan ke Malika. (iyalah, masa saya yang pakai) Dan semua koleksi busana Shirley Temple saat itu, bagi saya ... Endless. Corak dan rendanya .... Masih terbayang-bayang.

Sayang Malika tidak memiliki rambut bergulung seperti Amynya. Jika iya, mungkin saya akan lebih gila lagi mencari baju ala Shirley Temple.

Film-film Shirley seperti Little Colonel dan Wet Willie Wenka memang tipikal. Biasanya melibatkan hidup kaya dan miskin dan selalu berakhir bahagia dan kaya raya, juga kisah anak piatu yang punya ayah keren, gadis lincah yang kadang usil tapi baik luar biasa ... Anak idaman deh.

Shirley Temple artis cilik yang karir aktingnya hanya mampu menampung wajah imutnya. Walau sempat menyelamatkan industri perfilman Hollywood yang nyaris bangkrut kala itu, hollywood tak mampu mengangkat pamornya lagi ketika muka imut chibi-chibi itu beranjak besar.

Tapi dia tak patah arang. Tidak tenggelam dalam keputusasaan. Hingga beritanya pun tidak ramai karena tidak terlibat skandal apa pun. Menikah dua kali lalu setelah itu muncul sebagai politikus. Pernah menderita kanker payudara dan kemudian menjadi juru bicara sesama survivor.

Dan kini dia sudah tiada, meninggalkan karya yang mungkin banyak anak Indonesia tidak tahu. Sosok anak imut yang tidak sok imut, tidak serba princess ga jelas =P bye bye Temple Black ...

Selasa, 26 November 2013

RESENSI 12 MENIT: Jika Musik Bicara Lantang tentang Hidup dan Keluarga

Dua belas menit ini yang akan menentukan apakah kita akan juara. Dua belas menit ini yang akan menetukan apa yang akan kita kenang seumur hidup.

12 Menit mengambil latar Bontang, sebuah kota kecil yang hanya bisa dicapai lebih cepat menggunakan pesawat kecil dari Balikpapan, Kalimantan Barat. Dari seratus tiga puluh anggota marching band Vincero ini kisah ini berputar pada empat tokoh. Rene, sang pelatih asal Jakarta, yang memiliki berbagai prestasi gemilang baik sebagai pemain dan pelatih, merasa di atas angin ketika diminta melatih ke Kalimantan. Rupanya di Bontang, dia justru diragukan kehebatannya, baik oleh pihak investor maupun oleh anggotanya, bahkan kemudian oleh dirinya sendiri. Lalu ada Tara, juga asal Jakarta, penabuh drum berbakat tetapi kini harus berjuang dari nol pascakecelakaan yang menewaskan ayahnya dan menurunkan kemampuan mendengarnya hingga sepuluh persen. Elaine, lagi-lagi murid pindahan Jakarta, sang pemain biola yang bermimpi menjadi seorang field commander. Walau memiliki kepintaran luar biasa di bidang musik dan akademis, Elaine justru dihambat oleh keinginan ayahnya untuk memiliki anak seorang ilmuwan. Dan akhirnya, rasa pribumi dihadirkan oleh Lahang, laki-laki asal Dayak yang menjadi penari. Namun, dia senantiasa ragu karena harus meninggalkan ayahnya yang sakit demi latihan.

Dengan tiga tokoh utama asal Jakarta, rupanya Oka Aurora tidak membuat cerita ini didominasi masalah tipikal anak Jakarta. Karakter orang-orang Kalimantan yang cenderung tertutup rupanya dilakoni juga oleh Tara yang terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayahnya dan Elaine yang terpaksa latihan diam-diam demi menghindari murka ayahnya yang seorang Direktur di salah satu perusahaan gas di Bontang. Maka jadilah kisah yang bhineka tunggal ika seperti halnya Bontang sebagai tempat kecil dengan ragam ras dan agama berkumpul di sana.

Marching Band merupakan orkestra musik kolosal yang tidak hanya menampilkan harmonisasi musik tetapi juga kostum, konfigurasi bentuk, dan tentu saja adu tenaga. Bagaimana tidak, mereka tidak bermain musik sambil duduk tenang, melainkan berjalan mengitari lapangan dan tidak boleh hilang napas sedetik pun karena akan membuat nada miring di sana-sini. Semua itu dilakukan dalam 12 menit pertunjukan dan ratusan jam latihan.

Saya sendiri baru memahami marching band dari dekat ketika menjadi mahasiswi di Universitas Indonesia, Depok. Dan saya terkejut begitu melihat teman saya mendaftar. Bagaimana tidak, profilnya tidak seperti pencinta musik seperti saya yang sudah menjadi anak sanggar dan berposisi sebagai gitaris sewaktu SMA. Gadis pemalu itu kemudian kebagian menjadi peniup terompet kecil, alat musik yang mungkin tidak pernah dia impikan selama 18 tahun hidupnya. Lalu ada teman saya yang bertubuh pendek dan chubby dan ingin menjadi penari. Hanya marching band itulah yang mampu mewujudkannya tanpa dihina melainkan hanya dukungan besar antaranggotanya.  Dan ketika saya dan teman-teman menyaksikan pertunjukkan mereka di stadiun Soemantri Kuningan, yang saya rasakan adalah betapa manisnya buah dari sebuah kerja keras. Bahwa mereka juga mencintai musik seperti saya.

Itu pula yang hendak diceritakan Oka Aurora dalam 12 Menit. Membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada, mereka yang buta alat musik menjadi terpatri dengan alat musik itu. Tentu saja, seperti kata salah seorang pelatih tari di sebuah ajang idola penyanyi Korea,  “Tidak semua orang berbakat menari, tapi semua orang bisa menari. Kuncinya, latihan. Yang keras.”

 Walau menggunakan formula umum dalam naskah-naskah berlatar kelompok musik, saya terkesan bagaimana satu karakter dapat saling melengkapi dialog karakter lain dalam adegan yang berbeda. Seperti ketika Yoshuke, ayahanda Elaine habis kesabaran ketika mengetahui putri satu-satunya lebih memilih mengikuti kompetisi marching band ketimbang Olimpiade Fisika, dia berseru pada Rene, “Apa yang tidak penting bagi saya, tidak penting bagi Elaine!”

Sedangkan di dipan dalam sebuah rumah panggung sederhana, Lahang justru enggan mengikuti kompetisi karena ingin mendampingi ayahnya yang sakit kanker otak. Dalam sakitnya, si bapak berkata, “Nak, selama ini saya menyiapkanmu untuk menjalani hidupmu. Hidupmu.”

Dan dua dialog itu ditengahi apik di kepala saya dengan ucapan Rene pada Yoshuke, “Saya jadi menyadari betapa bersyukurnya saya memiliki ayah yang menginginkan saya jadi diri sendiri.”

Kemudian saya teringat Tara yang walau mendapat dukungan penuh dia senantiasa merasa sendiri. Pasca ayahnya meninggal dia justru dipindahkan ke kota kecil bersama oma opanya sedangnya ibundanya melakoni studi S2 di Inggris. Dan pada malam sebelum keberangkatan ke Jakarta si ibu hanya mampu memberi dukungan lewat text message. Mama datang atau tidak, Tara tetap harus memberikan yang terbaik. Si anak menjawab tak kalah mengabdi, Mama datang atau tidak, Tara tetap akan bermain untuk mama.

Harus saya akui, sosok Titi Rajo Bintang yang saya ketahui sebelumnya berperan sebagai Rene dalam filmnya, woro wiri dalam imajinasi saya. Memang itu seharusnya hal terlarang bagi seorang pembaca sejati, tetapi saya tidak bisa mengelak bahwa Titi RB justru adalah sosok paling tepat yang bisa ditemukan. Dia menunjukkan kekerenannya dalam bermusik saat menggarap musik untuk film Garuda di Dadaku. Menunjukkan sisi lain keseniannya kala beradu peran di film. Dan kini, di film 12 Menit, dia seolah tengah melakoni otobiografinya sendiri.

Buku ini sukses membuat saya banjir air mata hampir di setiap babnya. Mungkin karena saya sudah menjalani ketiga fase yang terhampar di cerita ini. Remaja labil, wanita mandiri, dan menjadi orang tua. Dan bahkan walau sudah begitu, tetap ada kalimat yang bergaung-gaung di kepala saya. Kalimat lama yang diucapkan Rene pada Elaine juga Lahang, Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Dan selesaikan sampai berhasil. Ya, hidup memang belum berakhir. Maka hiduplah seperti orang hidup, jangan seperti orang mati.[]