Tampilkan postingan dengan label Monas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Monas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2015

Seandainya Tugu Monas Direnovasi

Pada tanggal 1 Mei kemarin, Monas sempat rame oleh rombongan buruh. Sebelumnya tim Avenger juga mampir di sini. Ngomong-ngomong soal monas, terakhir kali saya ke sana adalah pas pameran alutista, plus ngoyo banget ngantri berjam-jam buat naik puncak monas. Tahun lalu sih denger-denger monas mau direnovasi, ga tahu di sebelah mananya, tapi kalau boleh saya mau sumbang usul nih, jikalau bingung monas mau diapain lagi. 





1. Monas yang ramah untuk para difabel dan pengguna stroller.
Untuk bisa masuk ke area monas, kita harus turun-naik tangga dan ga ada jalur landai. Jadi buat para ibu-ibu pendorong stroller ya see you bye bye deh ... Not to mention para pengguna kursi roda.

2. Ubin Kasar untuk Tangga
Tangga di monas itu semua terbuat dari marmer or granit, jadi kalau basah ya licin banget. Saya pun sempat terjatuh, mana lagi hamil muda. Syukur baik-baik saja. Kebayang kan kalau ada orang-orang tua yang menemani cucunya harus turun ekstra hati-hati di tangga itu. Tinggi pulak. Jadi selain lintasan landai, mbok ya tangga itu jangan pakai marmer, wong outdoor dan ga selalu ada tukang pel kok .... 



3. Berdayakan Lorong di antara Jalan Masuk menuju Monas
Mungkin yang Ahok bilang mau taruh para pedagang di underground monas itu maksudnya di lorong menuju monas kali ya? Karena lorong itu hampa sekali. Pasang kek foto-foto monas dari masa ke masa, atau jadikan itu galeri apa kek, daripada kosong dan kelihatan ada bocor di sana-sini.


4. We Want More about Monas
Judulnya monas, tapi pameran monasnya ga ada. Dibiarin aja tugu itu berdiri tanpa atribut apa pun. Pun di museum yang terletak di bagian bawah monas pun hanya bicara monas di miniaturnya yang terletak setelah pintu masuk.

Cari dong dokumentasi, misal siapa saja yang sudah pernah membuat miniatur monas dan dengan media apa. Kan zaman dulu pernah nge hits lah monas itu. Kalau ga ada, ya bikin event kaya gitu. Misal cupcake bertema monas? Saya pasti ikutan.

Yang saya ingat dulu monas pernah pakai dasi raksasa, lupa dalam rangka apa. Atau ada ga dokumentasi proses pembangunan monas? Jadi lebih hidup dikitlah museum itu, ga hanya pameran patung-patung kecil itu (mendadak lupa istilahnya).

4. Bisa Ga Liftnya Digedein?
Tahu kenapa antrian ke puncak monas bisa sepanjang dan selama itu? Pertama, liftnya cuma satu. Kedua, kapasitasnya cuma 5-7 orang. Kapan kelarnya?

Memang sih, lift itu disesuaikan lehernya si monas, tapi apa iya ga bisa digedein? Kalaupun ga bisa, buat lift tambahan dong di luar. Yang transparan. Pasti memacu adrenalin hahaha ...

5. Desain Ulang Interior Puncak Monas
Sudah ngantri berjam-jam eh begitu sampai di atas ruangannya mengecewakan. Panorama ketinggiannya masih keren tapi ruangannya itu loh. Pipa melintang dan menggantung di bawah. Tali temali bersilangan di bagian atas, itu pun ga atas banget, jadi ganggu di mata. Dari zaman baheula ga pernah diapa-apain niy ruangan. Makin jelek aja. Bikin dong yang keren bin beradab. Tapi suseh juga karena dah ada antrian panjang buat yang turun. Rempong.


But talk is cheap ... biayanya ga murah. Apa mungkin karena itu tugu monas tidak kunjung direnovasi? Hmm ...


Sabtu, 09 Agustus 2014

TRIP REVIEW: Tepat Akhirnya Naik Bus City Tour


Sejak mama cerita (iya, mama saya yang konon ga update berita itu) bahwa ada sebuah bus wisata gratis yang bisa dinaiki di halte Bundaran HI, saya sudah penasaran. Ga pernah terlalu tahu namanya, memang. Namun ketika Malika mulai jadi ‘freelance’, ide untuk keliling Jakarta naik bus wisata ini mengemuka. Hanya saja, waktunya tak pernah tepat.


Oleh karena niatnya untuk outdoor education trip buat anak-anak, saya merasa hari yang paling tepat adalah di hari kerja. Tapiiiii .... daerah HI, Thamrin dan teman-temannya itu kan macet yak. Maklumlah kawasan bisnis. Sedangkan kalau akhir pekan, kok ya ga pede bilangnya ke suami :p. Akhirnya niatan itu mundur terus. Hingga kemudian datanglah momen libur lebaran.


Itu pun diingatkan oleh berita di salah satu portal. Usai menghabiskan beberapa hari untuk bersilaturahmi, rasanya bagi kami yang di Jakarta ini juga ingin liburan. Again, tapiiiiii .... seperti yang kami ketahui pula, tujuan seperti Ragunan, Ancol, dan TMII pasti membludak. So, berita bus city tour atau dijuluki Mpok Siti ini, mengingatkan saya tentang kondisi ideal naik Mpok Siti. Mumpung jalanan Jakarta masih sepi. Eh ternyata di hari yang sama, keponakan saya memposting foto naik Mpok Siti. Duh, serasa didului. Hei, tungguin doooong.

 

Hery yang masih ragu dengan tata tertibnya pun menelepon kakaknya. Dan kesannya adalah, “ngantrinya ya ampuuun”. Hmmm, ternyata jadi inceran juga pas liburan begini. Yaaah, sepertinya akan menikmatinya di hari kerja yang macet.


Lalu bel berbunyi di hari Selasa. Salah satu teman saya bertanya soal halte city tour. Saya minta nimbrung saja. Apalagi kemarin, teman saya ini baru memposting foto jalanan Jakarta yang masih sepi. Mungkin karena anak sekolah baru masuk di hari Rabu. Inilah kesempatan saya. Now or never. *lebay


Dan buru-burulah saya menyiapkan makan. Ga sempat buat makan siang yang layak, karena hanya menghangatkan bihun. Ya suds, siapin dana buat jajan kalau begitu. Lumayan tuh bihun buat ganjel. Dan jangan lupa, air minum.


Titik temu di stasiun Gondangdia. Baguslah, saya tinggal naik kereta. Sengaja ga masuk gerbong khusus wanita, karena biasanya di gerbong itu semuanya ‘berkebutuhan khusus’. Lagi menunggu pintu terbuka, saya dipanggil oleh satpam wanita di dalam gerbong yang sudah lewat. Jadilah saya penghuni priority seat. Alhamdulillah.


Sempat cari-carian dengan teman saya itu, akhirnya ketemu juga. FYI, menggiring dua bocah petualang di sekitar stasiun Gondangdia itu pe-er deh. Ya kopaja ngetem, mobil mewah klakson terus ga diangkat-angkat, motor yang menggal menggol, belum lagi tiba-tiba disembur bajaj yang lagi manasin mesin, dan acungan tangan para tukang ojek (tukang ojeknya rada agresif). Pokoknya graham saya jadi ngilu deh karena harus serius.


Dari stasiun Gondangdia, saya dan teman saya yang juga membawa dua anaknya memutuskan naik bajaj menuju balaikota. Salah satu halte  city tour. Safir yang sudah menunjukkan tanda-tanda pegal muter-muter, akhirnya tertidur dalam posisi berdiri melongok ke arah sopir bajaj. Kebiasaan nih anak, main tidur aja.

Sempat mutar-mutar karena dikira mau ke walikota, akhirnya sampai juga. Belum juga kelar keluarin kamera, eh Bus City Tournya datang. Syukurnya lagi, di halte itu banyak yang turun, terlebih yang di bagian atas. Malika yang senang banget saat menempati posisi kursi paling belakang. “Wah, bisnya tinggi.” “Wah, serem banget.” Saya jadi rada terpasung karena dengan hawa AC yang dingin, Safir tidur semakin semena-mena di pangkuan saya.


Dan busnya pun melaju. Malika sibuk tanya, “kenapa yang di atas ga ada sopirnya?” “Itu suara dari mana?” “Kok ada polisi di bus?” Yang beda memang ada suara tur guide. Namun setelah keseluruhan rute kami lewati, saya mulai mencatat beberapa hal yang bisa ditambah.

  1. Menambah objek penjelasan. Mungkin juga tur guidenya sudah lelah sehingga tidak semua sifatnya bersejarah bisa diceritakan. Semisal, ketika patung Husni Thamrin dibacakan tapi kok patung kereta kencana yang berada tepat di seberangnya ga diceritain? Saya gak tahu loh itu. Apalagi patung itu lebih dulu ada. Atau terkait penggunaan pot-pot besar di bilangan Thamrin hingga Sudirman itu kebijakan wagub siapa. Yang konon wagub nonmuslim pertama di Jakarta. Bahkan dia yang rancang logo yang dipakai Grand Indonesia. Kalau yang baru bolehlah sebut bangku-bangku taman usulan Jokowi-mungkin bisa disebut juga asal kayunya dari mana. Asal muasal jalur Thamrin-Sudirman, siapa itu Sarinah. Berapa usia DjakartaTheater.
  2. Berkorelasi dengan si objek penjelasan. Contohnya, di museum nasional itu sekarang rutin ada pekan dongeng setiap Sabtu. Nah, informasi ini sejatinya turut disampaikan oleh tur guide. Anggap saja promosi. Orang kita kan walau dah banyak poster tetap saja nanya, nah apalagi kalau tidak diworo-woro. Atau jika monas ada acara. Atau mungkin Mahkamah Konstitusi menyediakan hari khusus untuk kunjungan wisata? Siapa yang tahu? Saling berintegrasi lah.
  3. Perpanjang rute. Sebenarnya rute terasa pendek. Ibaratnya kalau saya naik taksi ke HI, Cuma nambah beberapa ribu untuk melakukan rute bus city tour. Saya pikir sampai Kota Tua hehehe .... Katanya arah Pasar Baru, tapi kok ga merasa melewati Pasar Baru, ya?
  4. Bilingual? Ini mungkin berguna bagi wisatawan mancanegara kali ya.


Akhirnya kami berhenti di Sarinah untuk makan fastfood penyumbang Israel (belinya sambil mengutuk ^^). Safir akhirnya bangun ketika kami mencapai halte balaikota sekali lagi. Lumayan deh, daripada ga. Yah, pengalaman buat mereka. Kalau saya dulu kan pernah mengalami bus tingkat. Bus Mayasari. Memang sih, waktu itu horor naik ke atas, banyak om-om, gelap, panas. Hehehehe kayanya Jakarta ga cocok punya bus tingkat macam Double Deckernya London hihihiy...

Anyway, bagi Malika yang menyenangkan adalah ketika seharian itu dia mencoba ragam transportasi umum. "Amy, tadi kita awalnya naik apa?" Yak, silahkan hitung: kereta, bajaj biru, bis tingkat, metro mini, dan mikrolet. Kalau Jakarta lengang kaya begini mah emang enak naik transportasi umum biar dah reyot dan ga pakai AC :)

Sabtu, 17 Mei 2014

My Story: Pagi di #Kaerchercleansmonas




Monas menjadi salah satu tujuan favorit ketika sudah memiliki anak-anak. Apalah yang lebih menyenangkan dari area super luas untuk berlarian dengan beragam permainan ditawarkan. Hari itu saya punya alasan lain ke Monas bersama anak-anak. Mau ikut mandiin Monas alias ikutan #Kaerchercleansmonas.

Informasi ini tiba-tiba muncul di timeline fb saya. Yang paling menarik perhatian adalah kompetisi sosial media tentang wajah Monas dalam lima tahun mendatang. Si pemilik grup, Kaercher Indonesia, menawarkan kesempatan bergelantungan bergabung dengan tim pembersih dari puncak Monas. Keren ga tuh. Saya jadi ingat menara Eiffel dijadikan spot bungee jumping.

Saya sih iseng saja tulis pendapat. Emangnya apa bayangan saya? Bayangannya adalah berharap Monas punya trek untuk pengguna beroda, entah itu kursi roda atau stroller. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa untuk masuk ke Monas kita harus lewat bawah tanah dan semuanya penuh dengan tangga. Ya jalur, ya museum, ya bagian cawan monas, cuma ke puncaknya aja yang ada liftnya. Pokoke pegel deh.

Ga puas hanya ikutan kompetisi, saya baca lebih lanjut timeline-nya. Yang mau ikutan daftar relawan bersihin Monas bisa daftar ke inboxnya. Ya daftarlah saya. Maklum ibu-ibu, butuh variasi hidup, walau ga jauh-jauh dari cerita sapu.

Dan tanggal 15 Mei pun tiba. Berdasarkan info di fb, kami diharapkan berkumpul pukul 8 pagi. Yah anak-anak juga baru bangun jam 7an. Saya juga baru tidur jam 2 karena iseng bikin cupcake monas dulu. Jadilah mereka ga pakai mandi dulu, toh mau main ini. Yang penting sudah pipis n ganti popok buat yg bungsu. Karena baru berangkat jelang jam 8, kami pilih taksi ketimbang kereta. Beda jauh ongkosnya, tapi yah nyaman dikit buat anak-anak yang masih ngegantung mimpinya.

Setibanya di sana, Monas tidak seramai biasanya. Mungkin karena sudah tahu area Monas tutup sejak 5 Mei lalu untuk pembersihan. Area taman sekitar Monas sih masih dibuka. Saya bersyukur ga perlu lewat jalur bawah tanah. Bisa langsung. Setelah daftar, dapat kaos, si cupcake saya kasih ke panitia, trus ternyata anak-anak boleh masuk. Saya pikir ga boleh, kan ceritanya kita mau bersih-bersih....

Rupanya 22 tahun yang lalu sudah ada #Kaerchercleansmonas. Berbeda dengan yang mungkin dilakukan oleh dinas di Jakarta, pembersihan Monas ini memang dilakukan secara keseluruhan from top to toe. Ini merupakan program CSR Kaercher dalam komitmennya membersihkan bangunan monumen di seluruh dunia. Hmmm ... Menarik.

Acara #Kaerchercleansmonas dibuka pukul 9. Jakarta panas banget. Terutama Monas. Beneran deh, jarang ketemu panas kaya gitu. Pakai pawang kali ya (soalnya di kalibata mendung). Anak-anak mencair. Meluluhkan seluruh energi dengan cepat. Setelah melihat tari topeng betawi dan dance, mereka pun mulai rewel. Akhirnya saya pindahkan lokasi mereka ke taman di luar Monas. Lebih tepatnya di dekat Patung Diponegoro. Banyak pohon tinggi di sana dan banyak yang jual minuman. Harusnya mereka bisa nyaman di sana. Termasuk bapaknya =P. Soalnya kan ga lucu saya sapu-sapu sambil gendong bocah.

Tapi rupanya hari itu lebih ke kepentingan publikasi ketimbang aksi bersih-bersih itu sendiri. Wong dah bersih, mau nyapu di mana lagi? Lagian ga termasuk bagian luar Monas. Jadi saya melengganglah sendiri dengan sarung tangan karet dan kantung plastik sampah mengelilingi Monas. Sempat bertanya pada panitia di mana spot sampah yang tepat, saya disuruh ke foodcourt. Ah, tapi semua orang dari berbagai komunitas bersih-bersih Jakarta kumpul di sana. Ya sudah, saya keliling saja. Jalan aja dulu, kalo ga ada sampah ya alhamdulillah. Namanya juga iseng-iseng. Dan memang, di dalam monas aja tempat sampahnya sedikit, apalagi di luar sana.

Lalu saya menemukan tempat sampah di sisi lain Monas. Sisi yang sepi. Saya buka tutupnya, banyak sampah. Tapi kan sudah masuk tempat sampah? Ah, sama aja kaya OB di Kalibata City, dari tempat sampah kecil dikumpulkan lalu dibawa ke tempat sampah yang lebih besar. Satu tempat sampah saja, kantong saya sudah penuh. Dan rupanya si tempat sampah yang keren dari stainless itu, bolong di tengahnya. Ember sampahnya sudah jebol. Jadi, tepatlah saya pungutin sampah di sini.

Hanya ada dua tempat sampah dan keduanya saya bersihkan. Saya sempat takut ketika ada petugas menghampiri saya untuk membantu. I mean gue kan sendiri, nih sisi sepi pulak, mau kabur kemenong? Alhamdulillah keadaan aman terkendali. Kantung sampah saya penuh.

Tadinya mau foto di booth foto di sana sambil tenteng kantung sampah, tapi yah namanya juga ibu-ibu, pengen cepet-cepet selesai saja. Lagian niatnya kan emang mau bersih-bersih bukan mau main-main. Sudah difoto juga sama suami. Usai menyerahkan kantung sampah, lepas sarung tangan, dan cuci tangan, saya memanfaatkan kupon makan, minum, n snacknya. Air putih botol dan bakso jadi pilihan saya. Untuk cendol, bawa buat anak-anak saja. Kasihan kalau inget mereka yang kuyup kaya habis diguyur hujan dadakan.

Saya memang tidak mengikuti acara hingga tuntas walau tidak terik lagi. Maksudnya biar anak-anak bisa makan siang di rumah saja. Tuh kan, alasannya ibu-ibu banget. Jadi walau saya tidak menang apa-apa, saya sudah menuntaskan niat. Iya ga.

Sambil bawa cendol, saya pun menghampiri bocah-bocab yang dah sibuk main tanah dan batu-batu pura-pura jadi tukang jual telur di bawah pohon beringin. Yeah, anak gue gitu loh. Ga afdol kalau ga belepotan tanah. Karena cuaca sudah mulai adem, baru deh mereka ceria dan mau makan. Usai makan kerak telor, kita pun pulang. Dan kaki saya masih pegal hingga sekarang #kurangolahraga hehehe ...

Keep clean, Jakarta.