Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Februari 2020

JJS: Sail & Dinner Trip ke Museum Sejarah Jakarta & Pelabuhan Sunda Kelapa


Sudah lama sebenarnya ingin ikut tur dalam kota sama komunitas sejarah atau komunitas pejalan kaki. Kali ini dapat tema dan waktu yang pas bareng Indonesia Hidden Heritage. Yang saya incar adalah Pelabuhan Sunda Kelapanya dan disebutkan akan makan malam di Marina Batavia, persisnya di rooftop nya. Bayangan akan laut dan langit senja tentu membuat semangat saya melambung-lambung. Bayarnya cukup murah, Rp. 165000,- saja sudah termasuk makan malam.


Memang, bisa lebih murah kalau jalan sendiri, tapi yah beda berapa sih, terkadang kan bareng-bareng yang lain meski ga ada yang kenal bisa menciptakan pengalaman tersendiri. Maka setelah saya mampir ke dua Museum: Museum Bank Mandiri untuk melihat Pameran Opera Omnya dan Museum Bank Indonesia yang sebenarnya cuma mau numpang kamar kecil tapi jadinya tawaf juga di dalam sana, saya bertemu dengan rombongan dengan dresscode sailor alias nuansa garis biru putih. Hampir semuanya perempuan. Ada sih laki-laki, last minute tapi. Itu pun orang Indonesia yang baru balik dari Kanada. Lalu ada satu bule, karyawan IKEA. Kalau ga salah ingat, ada 11 orang belum terhitung pemandu dari Indonesia Hidden Heritage.




Awalnya, saya pun kaya yah relain lah, karena saya sudah beberapa kali ke Museum Sejarah Jakarta. Apalagi status saya lulusan Program Studi Belanda. Ceritanya sombong. Tapi rupanya dengan menggunakan guide dari Museum Sejarah Jakarta, saya baru tahu kalau ada yang namanya Ruang Mural. Saya selalu melewati ruangan ini tapi ga pernah benar-benar menyimak kalau isinya adalah bakal mural. Maklum, yang sudah diwarnai baru satu setengah sisi, selebihnya masih sketsa karena pelukis nya meninggal dunia. Duh kalau tahu begini, jadi ingat keterangan di pameran Opera Omnia terkait usaha para seniman mengembalikan lagi warna karya Leonardo da Vinci atau ya bahkan membuat replika dengan resolusi tinggi seperti yang dipamerkan di Museum Bank Mandiri. Harusnya sih bisa ya... soalnya sudah ada yang mulai pudar.. Malah saya inginnya diwarnai saja full.. Biar tuntas...





Setelah dari Museum Sejarah Jakarta, kami naik angkot dari depan Museum Bank Mandiri menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Lucu sih, ada yang sudah lama ga naik angkot, bahkan ada yang belum pernah naik angkot. Kayanya kalau trip begini memang ga bisa manja-manja, yang penting semua bareng-bareng.


Butuh sekitar 15 menit sebelum kami tiba di tujuan. Kebayang kalau kami memilih jalan kaki hahahah... Pelabuhan Sunda Kelapa pernah menjadi pelabuhan utama pada masanya. Kini, Pelabuhan Sunda Kelapa hanya beroperasi untuk kegiatan antar pulau. Yah, kan Jakarta punya banyak pulau. Banyak kapal-kapal phinisi bersandar. Dan tentu saja tumpukan kontainer yang menggelitik hasrat selfie saya. Di Pelabuhan Sunda Kelapa, kami mencoba naik perahu. Satu alasan kenapa saya tidak ajak kawanan dino, karena sudah menyangka akan naik perahu kecil yang sangat rentan terbalik kalau penumpangnya ga bisa tenang.




Langit biru terang dan air laut ga banyak sampah apalagi bau, jadi berperahu 30 menit itu terasa melayang begitu cepat. Sekadar melihat dua mercusuar merah dan hijau yang saya tidak tahu apa cerita di baliknya. Juga untuk merasakan berada di tepi Jakarta. Saya membayangkan, kapal-kapal dari Rotterdam pernah bersandar di sini.





Lepas naik perahu, kami berjalan ke destinasi terakhir yaitu Marina Batavia. Sebuah gedung tua berbatasan merah yang sempat terlihat dari perahu kami tadi. Saya yakin tempat ini dulunya adalah tempat yang terkait dengan urusan pelabuhan. Entah itu kantor atau tempat lelang. Yang pasti, itu bukan tempat makan dari dulu.




Meski kami disambut oleh patung dengan kostum tentara Belanda di gerbang, tapi interiornya justru lebih terasa nuansa tiongkoknya. Entah karena memang hari itu tengah perayaan cap go meh atau karena yang mengelola adalah keturunan Tionghoa. Apa pun, bagi saya itu menggemaskan, rasanya mau berlama-lama di situ. Tamu-tamunya juga banyak yang datang karena kumpul keluarga dalam rangka Cap Go Meh. Di sekitarnya, bersandar kapal-kapal modern... Milik pribadi kayanya.





Kami langsung ke lantai teratas untuk mengejar momen matahari terbenam.  Sayang, awan toska tengah tebal sehingga menutupi matahari. Namun, pemandangan laut dari balkon selalu membuat saya bahagia. Apalagi pemiliknya mengemasnya dengan cukup apik sehingga kami dapat berfoto-foto di berbagai sudut dengan antusias.


Sekalian saja ya saya review Marina Batavia hehehe... Saya secara pribadi suka tempatnya. Tempat ini sepertinya juga digunakan untuk acara perkawinan baik itu indoor atau outdoor. Yang menyenangkan adalah, disediakan tempat shalat. Dan tempatnya tuh cakep. Lucunya papan penunjuk musholla berada di ruangan yang saya yakini adalah tempat untuk pemberkatan perkawinan. Pokoknya ga selesai-selesai deh foto-fotonya






Acara diakhiri dengan makan malam bersama. Bercengkerama lebih lanjut dengan teman-teman baru. Hingga tibalah waktunya kami harus pulang. Nah, di sini nih baru ada kendala... Susah banget order taksi online. Kebanyakan maps nya akan mengarahkan lewat Ancol yang notabene jadi lebih jauh bahkan tersesat. Jadi lebih 30 menit kami menunggu dan untungnya bisa dilewati dengan mencari spot foto bahkan tiktok-an ...


Saya pasti akan ikutan lagi kalau waktu dan temanya pas. So far, dikeker terus di IG dan FBnya Indonesia Hidden Heritage jika ada info terbaru. So  much fun.

Jumat, 02 Februari 2018

JJS: Lebih Akrab dengan Bakari di Faunaland, Ancol




Kami duduk berhadapan. Saling menatap. Sesekali ia tolehkan mukanya. Ingin rasanya membelai wajahnya yang terlihat mengantuk tapi hanya bisa kutempelkan tanganku di pembatas kaca. “Semuanya baik-baik saja. You’re safe here.” Kataku dalam hati. Lalu bola matanya bergulir, kembali jatuh ke pandanganku. Kemudian hening mengisi jarak di antara kami.
“Eh, lihat ada singa!” suara orang yang datang mengejutkanku. Ah, sudah ada pengunjung lain. Aku pun bergeser dan beranjak pergi.  Rindu sudah mulai merangsek dalam diriku.

Kami sedang berada di Faunaland yang terletak di dalam area Allianz Ecopark, Ancol. Jalan-jalan bersama keluarga suami. Taksi online mengikuti rambu-rambu petunjuk dan kemudian menurunkan kami di pintu samping Ecopark. Memang jadi jauh jaraknya menuju Faunaland yang kata tetangga saya serupa dengan Singapore Zoo. Ecopark sendiri tidak mengenakan biaya masuk, jadi dengan alam terbuka luas seperti ini, membawa sepeda dan perbekalan pasti akan menjadikan piknik kami berlangsung seharian. Sayangnya, hari ini tidak bawa sepeda. Tapi tak apa, bagi-bagi anak-anak outdoor seperti anak-anak saya, lahan terbuka ini sudah sangat menggoda bagi mereka untuk berekspresi.



Ada untungnya juga kami lewat samping, karena di tengah perjalanan kami melihat beberapa burung sejenis pelikan tengah bersantai di pinggir sungai. Burung yang sejatinya tidak akan kami lihat nongkrong begitu saja tanpa pengawalan ini tentulah menarik perhatian. Anak-anak berusaha mendekat, tetapi melihat reaksinya yang tidak terlalu suka didekati manusia, maka anak-anak hanya berjongkok melihat burung itu, sambil sesekali orangtuanya berfoto.




Akhirnya sampai juga di pintu masuk Faunaland. Tiap-tiap orang di atas usia 3 tahun dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 50000,- kalau bundling tiket dengan naik perahu, cukup bayar Rp.70000,-. Sedangkan tiket perahunya sendiri kalau eceran sebesar Rp.30000,- Tiket ini berlaku seharian, jadi kalau mau keluar masuk cukup perlihatkan bukti pembayaran dan cap. Tapi capnya agak mudah pudar, makanya simpan baik-baik bukti pembayarannya ya.


Sayangnya, begitu kami tiba, pertunjukkan burung baru saja selesai. Bird Show ini hanya ada di pukul 10 dan 14.30. Nah, kalau mau nunggu bird show ya kira-kira harus nunggu sekitar dua jam lebih. Hmmm bisa ga ya?


Adalah dua singa betina yang menyambut kami pertama kali. Singa-singa ini terlihat tidak agresif walau tengah rebahanan persis di samping pagar kawat. Jadi anak-anak pun bisa duduk manis menatapnya. Saya sudah ingatkan mereka agar tidak bersikap agresif, karena insting singa apalagi betina ya agresif. Secara ia kan pencari nafkah. Sebenarnya ada juga sisi kandang kaca, tapi singanya ga lagi di situ. Pembatas kaca ini memungkinkan pengunjung lebih dekat ke singa tapi tetap aman. Di samping kandang singa, ada kandang monyet putih. Terus saya mikir, apa si singa ga ngiler ya lihat monyet?



Setelah itu ada beberapa kandang-kandang kecil yang hewannya menarik. Tapi yang membuat saya senang adalah akhirnya bisa melihat tapir betulan. Tapir seperti halnya zebra masuk dalam kategori hewan ajaib menurut saya. Dan bisa melihatnya dengan tubuh tambun  dan bukan hanya di gambar yang selalu ada di peta-peta menunjukkan bahwa ia adalah hewan khas sulawesi, buat saya itu amazing banget. Sayang sendirian, mudah-mudahan si tapir bisa segera dapat pasangan.






Lalu ada juga hewan ternak yang bisa diberi makan dengan membayar Rp.10000,- seperti kuda poni dan kambing. Kuda poninya bisa dinaiki loh. Tapi bayar lagi.




Nah, bintang utamanya adalah another singa putih, namanya Bakari. Tapi kali ini ada jantannya, ditemani dua betina. Konon, singa putih ini hanya ada 10 di dunia. Bakari terlihat tenang dan ngiler lihat anak-anaknya. Surainya bergoyang lembut, memancarkan auranya.

Kandang Singa yang didatangkan khusus dari Afrika ini, hampir sepenuhnya dari kaca. Kecuali bagian yang tidak memungkinkan kontak dengan pengunjung. Areanya lebih luas. Dan tidak hanya bisa tatap-tatapan dengan singa putih dari dekat, kita juga bisa kasih makan. Gimana caranya? Ada sebuah corong yang berbentuk kayu tempat mentransfer daging ayam yang sudah disediakan petugas. Seru kaaan.... Kapan lagi bisa kasih makan singa?



Ga mungkin ada bird show kalau tidak ada koleksi burung. Dan burung-burung ini walau dirantai tapi nangkring di tempat terbuka. Tapi ada juga yang tidak dirantai seperti beberapa burung kakaktua. Kalau burung rangkong ya iyalah, kalau ga, bisa diculik orang nanti. Kan sudah mulai masuk hewan langka. Kakaktuanya juga ada yang cukup komunikatif sehingga mengundang tawa anak-anak. Karena berada di alam terbuka, saya tergoda memunguti bulu-bulu burung yang warna-warni itu. Masya Allah, rajin banget yang ngewarnain. Tak hanya itu, kami juga bisa berfoto dengan burung-burung nuri yang jinak banget. Gratis. Foto sama burung elang juga gratis. Sensasinya beda ya kalau sama burung elang.



Memang koleksi hewannya tidak banyak, tapi kemudian tempatnya yang asri dengan penataan kebun yang ciamik membuat tempat ini ga semudah itu ditinggalkan. Kami yang membawa bekal, menikmati makan di sana karena memang tidak ada yang jual makanan di dalam situ. Jangan lupa bawa salep antinyamuk. Selebihnya, anak-anak main bebas berkeliaran.  Dan selalu ingat jaga kebersihan.





Saat hendak shalat, kami keluar Faunaland dulu dan menemukan tempat shalat berupa pendopo kecil di samping. Sebenarnya di lobi juga ada musolla, dan pendopo tempat kami shalat itu sepertinya untuk karyawan pengelola. Tapi karena di situ, saya jadi ngeh dengan suara bising khas siamang. Rupanya ada semacam pulau kecil di antara sungai itu. Jerit-jeritan siamang itu jelas menarik perhatian pengunjung yang mungkin juga ga ngeh kalau ada mereka di sana. Dan dengan adanya  semacam dermaga, orang-orang pun jadi punya pertunjukkan yang bisa dilihat sambil duduk-duduk. Dan tidak hanya melihat siamang. Ikan-ikan cantik sudah berkerumun di sekitar dermaga. Warna merah, orange, putih, memadu cantik. Dan mulut-mulutnya seolah tak berhenti merasa lapar. Pakan ikannya juga bisa dibeli di petugas yang duduk tidak jauh dari peminjaman sepeda.



Tidak terasa sudah menit-menit menjelang pukul 14.30, kami berhasil berada di sini dua jam lebih. Tapiiiiii ... anak-anak sudah keburu ingin ke laut. Namanya juga ke Ancol ya, masa ga basah-basahan. Ya udah, skip deh bird show-nya. Dan pantai Ancol pun hanya selurusan dengan pintu masuk Ecopark, jadi kami cukup jalan kaki sebentar dah sampai.

Sementara anak-anak main air, saya sudah kangen mau ke Faunaland lagi. Mungkin bawa sepeda. Mungkin di jam yang lebih tepat. Suatu hari nanti .... Karena rindu itu berat, kasihan Bakari, biar saya saja yang datang lagi


Minggu, 26 Maret 2017

SENINfo: Rasa dalam Penulisan Travel Blog





Baper. Itulah yang saya rasakan belakangan ini ketika melihat nasib kolom di blog saya, JJS alias Jumat Jelang Sore yang isinya terkait jalan-jalan. It has been like forever since the last time I wrote something about it. Udah lama banget ga keiisi ... huhuhu ... Belum lagi melihat tulisan-tulisan terakhir kenapa terasa kering, oh kenapaaa ...



Suasana sebelum Arisan Ilmu KEB di fx Senayan dimulai

Setelah beberapa minggu mengalami kebuntuan dan mulai melakukan pengaktifan otak kanan, alhamdulillah diberi jodoh untuk bergabung dalam Arisan Ilmu Komunitas Emak-emak Blogger yang akhirnya kembali diadakan di Jakarta. Topiknya tentang travel blogging pulak. Yah, walaupun niche saya ga spesifik di traveling, tapi jalan-jalan termasuk dalam sub-sub-sub tema traveling kan hehehe. 

Foto bareng Marischka Prue, biar tertular semangat travelling.


Dari sekian banyak yang dibagi oleh Marischka Pruedence sebagai narasumber, ada satu hal yang membuat saya merinding. Rasa. 

Ada saat ketika saya beralasan tidak menulis tentang jalan-jalan lagi adalah bahwa saya tidak pergi ke tempat-tempat keren seperti yang bertebaran di timeline media sosial saya. Yap, ngiri itu penyakit saudara-saudara.  

Padahal yang membedakan satu tulisan dengan tulisan yang lain itu bukan semata-mata topik kekinian melainkan rasa yang kita tebarkan dalam tulisan itu. It's like cooking something and you decided to use one brand of instant seasoning for all kind of food. Percaya deh, anak-anak ga akan suka. Mereka malah merindukan masakan minim bumbu, dan hanya diiris-iris, buatan ibunya sendiri. 

Rasa berasal dari pribadi kita sendiri. Itulah yang membedakan tulisan blogger dengan reportase. Ada pengalaman pribadi, ada pendapat pribadi yang membuat pembaca dekat dengan tulisan kita. Rasa ini dapat dibantu dengan penggunaan foto. Foto dapat membangkitkan kembali rasa saat kita mengalami perjalanan tersebut. Hal-hal kecil yang mungkin awalnya tidak dianggap penting. Oleh sebab itu, rasa tidak hanya berlaku pada tulisan inti melainkan juga dalam caption foto. Apalagi, pengolahan caption foto yang tepat akan memudahkan tempatnya di laman pencarian.  Duh, rasanya ingin segera minta cuti satu hari buat renovasi postingan blog. I feel like an old lady who hasn't brush her hair for years. I need a makeover.  

Prue, begitu dia biasa dipanggil, saya mengetahui tentang dirinya agak terlambat. Sepertinya ketika dia memenangkan lomba foto sebuah minuman kaleng, deh. Saat dirinya ditanya, mengingat dirinya yang memang seorang travel blogger pastinya akan mengalami pergi ke suatu tempat untuk ke sekian kalinya. Lalu bagaimana cara dia meningkatkan kualitas penulisannya?
Again, rasa. 

Perhatikan bahwa satu subjek dapat menghasilkan banyak ide tulisan blok



Gairah kita akan rasa mampu mendorong kita ke sudut pandang yang berbeda, walau dalam satu destinasi yang serupa. Kita akan terkejut mengetahui bahwa ada begitu banyak hal yang dapat dieksplor dalam satu destinasi.  Hal yang mungkin kemudian membuat kita kewalahan harus memulai dari mana. Beruntungnya, wadah blog memungkinkan kita membuat beragam postingan walau hanya dari satu topik. Karena karakter pembaca blog yang kebanyakan menggunakan ponsel untuk blogwalking, lebih memilih postingan yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu banyak hal yang dibicarakan. Semakin spesifik, lebih baik. Bisa-bisa jatah postingan untuk satu minggu habis hanya dari satu subjek. 

Memangnya ada yang mau baca? Apalagi kalau terlampau terpecah temanya, bisa-bisa ada artikel recehan. 

Hei, recehan is fun. Kata Prue.

Segala macam tulisan selalu ada pembacanya. So don't worry. Write it and don't forget to share it. 

Share adalah pintu yang membuka banyak kesempatan dan peluang. Jadi harus selalu percaya diri dengan tulisan sendiri. Selama sudah diberi tag yang sesuai dan di-edit sebelum di-posting. Ingat, etika penulisan tetap dijaga tanpa mengurangi kesenangan pribadi dalam menulis. 

Pulang dari Arisan Ilmu KEB yang diselenggarakan di fx Senayan, saya terisi kembali. I said, okelah, saya mungkin belum ke tempat-tempat keren dan kekinian itu, tetapi hidup di masa kini itu adalah being alive in wherever you are, right now. And I would bring that alive feeling in my posts. 

Semangaaaaat!!!! 

Rabu, 04 Mei 2016

RABUku: Liburan ke Museum itu Keren




“Kalau kamu jadi penjaga museum di Solo, kamu mau pilih museum apa?”

Itulah kira-kira pertanyaan yang diajukan saat mengikuti giveaway dari blogtour 3 Emak Gaul Keliling Kota: Catatan Tiga Emak Menjelajahi Museum di  Yogyakarta, Solo, dan Semarang karya emak blogger keren Fenny Ferawati, Ika Koentjoro,  dan Muna Sungkar.

Wisata ke museum mungkin ga hits seperti wisata kuliner atau wisata atraksi yang lebih modern bahkan wisata alam yang lebih kelihatan naturalnya. Mungkin datang ke museum terlalu lekat kaitannya dengan tour study sewaktu SD hehehe ...
Saya ingat suatu kali datang ke Semarang bersama kawan, dan ditanya mau ke mana, saya bilang mau ke museum. Kawan saya selaku tuan rumah di Semarang mengernyitkan dahinya ^^.

Saat pengumuman giveaway menyatakan saya pemenangnya dengan beberapa alasan salah satunya adalah terkait saya yang tidak pilih-pilih mau menjaga museum apa, hehehe. Ya, buat saya museum itu cara singkat untuk memahami sebuah daerah. Biar terasa gitu hawa kulturnya. Tak kenal maka tak sayang, kan?

Nah, buat kalian yang hendak liburan ke tiga kota besar di Jawa Tengah ini, ga ada salahnya loh memasukkan museum dalam daftar perjalanan kalian. Museum Afandi di Jogja, kah? Museum Keraton Surakarta di Solo, kah? Atau Museum Rekor Dunia di Semarang? Hayoo ... sudah pernah ke sana belum?

Buku ini menjadi prolog yang tepat sebelum memutuskan memasuki museum apa. Ya, kalau tidak biasa ke museum kan bisa disesuaikan dengan kesukaan. Tiga emak keren ini keliling kota untuk memberikan review singkat tentang museum-museum di daerahnya. Tidak hanya review melainkan juga sedikit perasaan alias tips tertera di sana. Pula ditambah informasi harga tiket masuk yang pada umumnya di Indonesia murahnya ampun deh. Bingung cara ke sananya? Pilihan transportasi juga ditulis di sana. Silahkan buktikan sendiri kalau datang ke museum itu keren.

Nanti kalau sudah ke sana, foto dan lapor di twitter, jangan lupa tag mak @fennyferawati, @momtravelerblog, dan @ikakoentjoro yaa ... siapa tahu mereka jadi tambah semangat buat buku keliling kota lain lagi ^^

Dapatkan buku ini pastinya di toko buku Gramedia terdekat karena diterbitkan oleh BIP dengan harga Rp80750,-  Selamat liburan.



Jumat, 19 Februari 2016

JJS Jumat Jelang Sabtu: Wisata Dirgantara ke Lanud Halim dan Museum Satria Mandala

Sudah satu bulan berlalu setelah insiden bom Sarinah, yang walau kemudian bertebaran meme-meme kocak, tetapi pada saat itu agak mencekam bagi saya. Bagaimana tidak, pada hari yang sama kedua anak saya sedang fieldtrip. Ndilalah, fieldtripnya ke ladang tentara keduanya. Yang sulung ikut fieldtrip dari sekolahnya ke Lanud Halim, sedangkan si anak tengah bikin fieldtrip sendiri ke museum Satria Mandala biar ga ngiri melihat kegiatan kakaknya. Untuk menemani si anak cowo ini, saya minta tolong abang saya. Yah, biar ga gelendotan galau sama ibunya melulu. Lagipula, pegel kali bawa dia jalan ke museum Satria Mandala sambil gendong bayi ^^`

Nah, karena saya tidak ikut jadi tulisan ini berdasarkan reportase anak-anak yaa ...

A. LANUD HALIM
Sebagai anggota komite, saya sedikit-sedikit curi dengar tentang prosedur tur ke Lanud ini. Untuk membuat janji maka perlu menyediakan surat pengajuan dari sekolah dan menelepon seorang Kopral untuk menanyakan jadwal. Perlengkapan yang disarankan dibawa adalah: jas hujan dan kacamata hitam. Nah item kedua ini jadi belanja deeh ... Senang banget anak-anak bisa punya kacamata hitam. Maklum, ibunya ga mau beliin kalau hanya untuk dimainkan.

"Aku tadi diajak lihat hercules." Pesawat besar yang pernah membawa neneknya ke Filipina ini membuat si sulung terpukau karena ukurannya. "Gede banget, kaya rumah. Ada kamar mandinya, tapi ga ada pintunya." nah loh.


"Habis itu aku foto bersama-sama di depan pesawat gede yang lain." 
"Kacamatanya jadi dipakai ga?" tanya saya.
"Jadi, tapi kalau ga panas aku lepas lagi."


"Terus habis itu kita nonton bioskop. Wah, sudah berapa kali ya aku nonton bioskop? "
"Filmnya tentang apa?" sidik saya.
"Tentang pesawat. Ngeeeng ..." merentangkan tangan menirukan pesawat terbang.

"Habis dari bioskop, kita diajakin bikin-bikin pesawat. Wuih gampang banget."
Ternyata ada sesi prakarya juga, jadi gemes sama tentara AU, kok peratian banget dih #lebay. Pesawat yang terbuat dari sterofoam itu sudah dibentuk sesuai bagiannya, jadi anak-anak cukup menempelkan sayap dan badannya setelah itu dihias stiker.

B. Museum Satria Mandala
Usai reportase LANUD Halim, beralih ke laporan dari Museum Satria Mandala. Sebelumnya kami sudah pernah ke sini, tapi si anak cowo masih agak kecil, jadi dia lupa-lupa ingat. Dan karena waktu itu saya bawa stroller tandem sedangkan tempatnya banyak tangga, jadi tidak semua tempat kami masuki.

Nah, kali ini reportasenya dibantu keterangan abang saya. Rupanya memang tidak salah pilihan saya menunjuk si om kesayangan para keponakan ini, karena seperti kebanyakan kakak-kakak saya, dia punya kemampuan menjelaskan panjang lebar dan detail. Jadi saya anggap itu adalah sesi belajar sejarah untuk anak saya. (Anggap saja sesi homeschooling hehehe).



Satria Mandala ini menyajikan angkutan tentara mulai dari helikopter, tank, hingga kapal diparkir di taman dan bisa dinaiki. Tentu tidak bisa dinyalakan. Oh iya harga tiket masuknya murah bingiiiit. Masuk ke museumnya, yang pertama adalah bagian paling terawat.  Selain diorama perang-perang, di situ ada tandu yang digunakan Jenderal Sudirman saat bergerilya. Lalu kemudian ada ruang khusus Presiden ke-2 Soeharto, berhubung beliau pun seorang tentara. Makin masuk ke dalam, semakin menurun sih kualitasnya, apalagi di ruangan pahlawan revolusi. Remang-remang, atap ada yang terkelupas, foto-foto mulai pudar, yah begitulah.

Yang menarik adalah ruangan senjata, karena anak-anak bisa berpose di antara senjata-senjata itu. Di bangsal belakang, terparkir pesawat-pesawat tempur zaman dahulu. Ini keren buat saya. Maklum jarang lihat pesawat dari dekat hehehe ...

Nah rupanya di sini juga ada semacam bioskop mini tapi dari dua kunjungan malah tidak sempat mampir.



Laiknya anak cowo kebanyakan, si anak tengah antusias bisa masuk ke dalam helikopter, memegang senjata, dan terlebih bisa foto sama tentara betulan. Hal yang sudah lama dia inginkan sejak salah satu tantenya menikah di komplek markas tentara.

Oh saya jadi ingat, taman belakang di sekitar Museum Satria Mandala ini bisa dijadikan tempat pernikahan loh. Tentu ya kadang suka harus siap-siap perubahan acara karena mendadak ada acara militer. Informasi ini saya dapat dari tetangga yang menikah di sana. Saya agak terkejut dan tidak terkejut karena ketika melihat tamannya dari museum, saya berpikir taman yang cukup bagus ini seharusnya bisa diberdayakan untuk acara pernikahan, eh ternyata memang iya.

Nah kembali ke si sulung dan si anak tengah. Jadi ketika keduanya tiba di taman Kalibata City dalam jangka waktu berdekatan, si kakak beradik itu terlibat dalam komunikasi dua arah yang seru. Biasanya kan kalau kakaknya ada kegiatan, adiknya cemberut ngiri hehehe ... Kalau buat saya sih yang penting dua bersaudara yang suka bertengkar ini pulang dengan selamat dan ga dengar berita apa pun tentang bom.

Rabu, 17 Juni 2015

RABUku: Perpustakaan Pertama Bagi Mereka

Masih lekat di ingatan saya ketika itu saya berjalan di antara dua rak tinggi berisi penuh buku. Saat itu saya merasa berada di surga buku. Padahal saya kecil sedang berada di perpustakaan Erasmus Huis. Ingatan itu menjadi salah satu rangkaian kecintaan saya terhadap buku.

Dan ketika Malika cs berulangkali meminta ke toko buku setiap kali pulang pengajian, dan hanya untuk membaca buku, saya lama-lama jengah juga.

“Kalau mau baca buku itu ke perpustakaan, bukan ke toko buku. Ke toko buku ya buat beli buku.” Begitu jawab saya berulangkali pula.

Maklum toko buku hanya perlu berjalan kaki sedikit di Kalibata City, itu pun tak lengkap koleksinya. Kurang banget malah.

Saya memutar otak kala itu, mau dibawa ke perpustakaan mana ya? Kan niy bocah-bocah petakilan, sedangkan perpustakaan harus sunyi dan tenang. Ya kalau mau ngajarin kan lebih baik di tempat praktiknya, bukan?

Lalu kemudian Allah seolah menjawab kegalauan saya. Sebuah share tentang perpustakaan baru di kawasan Taman Ismail Marzuki. Benar-benar menggoda. Ada tempat bermainnya pula, waaah .... Tidak hanya share yang Allah tunjukkan, tempat berkegiatannya anak-anak alias Gen Cerdik pun menjadwalkan kunjungan ke Perpustakaan Daerah itu sebagai salah satu rangkaian ke Planetarium. Horeeee bisa nebeng kegiatan, maklum perpustakaan ini hanya buka di hari kerja yang saya duga karena kekurangan pegawai.

Dan tibalah kami di sana pada 10 Juni lalu. Malika khawatir karena hasratnya ingin bermain-main tetapi sudah diingatkan oleh saya bahwa di perpustakaan itu harus tenang. Setelah menitipkan KTP dan mendapat kunci loker, kami naik ke lantai dua. Begitu pintu lift terbuka, anak-anak langsung ke arah kanan karena di sana ada pintu kaca menuju sebuah ruangan luas  dan ujung sana ada tempat bermain. Saat menuju tempat bermainnya pun mereka mendapat sensasi sendiri. Lantai yang didekorasi menjadi peta Indonesia itu ditempeli kerikil kecil sehingga seperti spot pijat bagi saya hehehe ...



“Amy, gimana nih. Kan kalau main harus teriak-teriak!” kata Malika kebelet.
“Ya sudah, tapi nanti kalau sudah di tempat buku-buku ga teriak-teriak ya.”


Dan werrrr langsing ngacir dua bocah itu. Padahal ya ketemunya perosotan ma mandi bola lagi. Cuma agak lain niy perosotannya, terdiri dari pipa-pipa besi warna warni jadi merosotnya lucu agak jeglek-jeglek.



Saya tidak berlama-lama di sana, panas. Tempat bermain itu semi outdoor. Selain tempat bermain seperti perosotan, ada juga mobil-mobilan yang pasti ga bakal ada akinya karena sejak pagi planetarium ini sudah penuh dengan kunjungan anak-anak sekolah. Lalu ada rak panjang berisi mainan-mainan edukasi dari kayu.



Saya masuk ke ruang perpustakaannya karena di sana sedang ada acara mendongeng. Salah satu rutinnya pegawai perpustakaan sepertinya. Anak-anak yang tinggal di sekitar TIM juga terlihat antusias datang ke perpustakaan dan mendengarkan dongeng.



Namun, yang bikin saya miris adalah ketika melongok ke bagian bermain di ruangan itu juga. Ruangan yang penuh dengan mainan edukasi itu terlihat seperti habis diterjang bom. Totally chaos. Inilah akibat euforia keganasan bin lebay ketemu mainan. Para pegawai perpustakaan pun tak sanggup berbuat apa-apa karena memang ramai sekali seharian itu. Dasar emak-emak, saya pindahkan saja yang tajam-tajam. Tak sanggup beresin semuaya karena akan ada anak-anak lain yang datang dan oprek-oprek.


Totally Chaos


Sebenarnya konsepnya sudah tepat. Mereka yang masih kebanyakan energi sebaiknya dialihkan ke tempat bermain yang lebih fisik. Ketika sudah lelah barulah perlahan-lahan merapat ke bagian perpustakaan sehingga mereka juga  tidak telampau kreatif mengolah mainan edukasi tersebut dan kemudian meninggalkannya begitu saja karena teralih mainan yang lain.



ada tindakan anarki

Saya lihatnya sih begitu. Belum lagi jika para pengunjung wisata sekolah juga datang ke sini itu berarti penuh banget dan biasanya mereka ga diberi waktu untuk berbenah melainkan langsung pulang. Dan not to mention, para individu yang memiliki mental, “ah, bukan rumah gue ini.” “ah, kan ada pegawainya, ya itulah tugasnya.”

Tapi bagi saya yang datang di pengujung bukanya perpustakaan ini, saya jadi kasihan sama pegawainya. I feel you .... Berantakannya rada mirip dengan di rumah, hanya yang ini puluhan kali lebih berantakan.

Tadinya saya mau ajak Malika dan Safir berberes, mereka tiba-tiba sudah ngejogrok di rak-rak mainan edukasi, eh tak tahunya tanpa disuruh mereka masukkan lagi mainan yang mereka mainkan sebelumnya. Ya sudslah, tumben hahahaha kalau di rumah kok ya harus disuruh melulu?



Lima belas menit menjelang tutup saya suruh Malika cs ke area buku. Masa ke perpustakaan ga baca buku? Ya, sibuklah mereka memilih-milih buku, untung dah mau tutup, bisa gempor tenggorokan Amynya.



Ketika hendak pulang, Malika berkata, “Amy, kita ke sini saja terus.”

Ah, ya, nanti yaaah .... Pegel juga ke sini bawa anak tiga biji ^^’ Naik kereta, ngerepotin orang. Naik taksi, mihil ajjah. Tapi karena perpustakaan ini  masih gratis, pas banget kalau datang dari pagi trus seharian nongkrong aja di sana hehehe .... Ayo ke perpustakaan ... Malu atuh nongkrong baca di toko buku.


Jumat, 08 Mei 2015

JJS: Wisata Poelang Kampoeng ke Cinangneng

Ini laporan yang sudah lama banget mengendap di kepala, zamannya Malika masih di Twinkers. Cinangneng sendiri beralamat di Jl. Babakan Kemang, Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea Bogor. Kampus baru IPB masih sanaan lagi.

Ketika melihat plangnya, saya agak-agak menebak kegiatan apa yang akan kita lakukan di sana. Secara garis besar adalah memang wisata pulang kampung yang sangat berguna bagi mereka yang kelamaan tinggal di kota atau yang tidak punya kampung hehehe ...  Intinya memang perkenalan suasana kampung. Saat masuk disambut kebun dulu dan rumahnya baru terlihat setelah berjalan agak jauh. Sebenarnya area ini sangat luas tetapi model tanahnya berundak-undak jadi tidak bisa serta merta dinikmati dalam satu sapuan mata. Belum lagi tanaman di mana-mana. Segar banget jadinya. Ngomong-ngomong, kegiatannya kaya apa sih?


1.       Main angklung
Setelah semua siswa diberi kalung sebagai tanda masuk dan berbaris, mereka kemudian berkumpul di pelataran depan. Sudah disediakan bangku-bangku dan ada sebuah spanduk lebar terpajang di depan bertuliskan lirik lagu sunda. Pihak pengelola memberikan ucapan selamat datang singkat lalu membagi-bagikan angklung pada seluruh siswa bahkan orangtua. Kami diberi kursus singkat angklung. Tidak seintens di Saung Udjo memang tapi yah cukuplah. Dan dalam sekejap kami sudah memainkan sambil menyanyikan lagu Boneka Abdi.
Malika masih jetlag di bus jadi belum mood.





2.       Menari jaipong
Kemudian siswa-siswa Twinkers itu dikelompokkan dan kelompok Malika menuju pelataran lain untuk sesi menari. Di sana dengan cepat anak-anak dipasangkan baju menari, setelah siap, dipimpin oleh seorang penari yang berdandan lengkap, anak-anak pun diajarkan mungkin tiga langkah menari awal jaipong. Dan mungkin karena diulang-ulang gerakannya, jadi yah tidak perlu mengajarkan banyak gerak. Singkat saja, 10 menit paling lama.




3.       Membuat kue
Kami berjalan agak jauh lalu menuruni tangga yang curam dan panjang. Dan barulah ketemu lahan kosong yang luas. Semacam padang rumput gitu. Ada beberapa saung di sana dan satu kolam. Pada saung pertama, anak-anak diajarkan membuat kue hmm kue apa ya kok saya lupa. Pokok nya kue beras. oh, kue bugis. Dasarnya sudah setengah jadi, jadi ketika dikukus, anak-anak diberi yang sudah jadi. Nanti kalau ada kelompok selanjutnya, yang dikukus itu yang diberikan ke anak-anak untuk dicoba.



4.       Bermain gamelan
Kami lalu beringsut ke saung berikutnya. Sudah ada set gamelan di sana. Malika langsung ambil posisi. Pengajarnya mempraktikkan tiga nada untuk membentuk lagu sunda dasar. Tiga nada, kaya lagu punk Cuma main tiga kunci hehehe ... tapi yah cukuplah buat para bocah-bocah itu, karena jika dimainkan dengan irama yang tepat bisa tercipta musik yang harmoni. Nah, karena masih bocah itulah jadinya main bebas deh ... :D



5.       Membuat wayang jerami
Setelah itu, kami dikelilingkan dan duduk di rumput. Di tengah-tengah ada setumpuk jerami. Anak-anak diajarkan membuat wayang jerami, agak susah, jadi orangtuanya yang belajar hahaha ... konon itu prakarya anak-anak yang umum di daerah Bogor dan sekitarnya. Hasilnya sebenarnya agak serem buat saya hihihiy .... Macam boneka voodoo gitu.



6.       Melukis di atas  caping
Nah, di sini baru agak lama. Melukis di atas caping. Pada salah satu saung sudah disiapkan deretan caping polos dan palet warna. Jadilah mewarnai bebas. Caping-caping ini kemudian dijemur dan akan diberikan pada anak-anak usai seluruh rangkaian program ini.



7.       Menanam padi
Waktunya berkotor-kotor ria. Akhirnya  ... ketemu juga yang kotor-kotor. Orangtua dan anak ikut nyemplung berlomba menanam padi. Area sawahnya tidak begitu besar tapi lumpur banget. Maklum dah berapa puluh orang yang injak-injak sejak tadi. Malika senang banget di sini, bisa kotor-kotoran. Apalagi setelah itu dia tahu akan ke mana. Ke sungai ...



8.       Memandikan kerbau
Di sungai sudah ada kerbau kecil menanti. Dia sedang berendam dan para peserta diperbolehkan ikut nyipratin kerbau. Kalau dipikir-pikir agak kasihan juga ya jadi anak kota, norak banget mau mandiin kerbau. (LOL). Malika semangat ’45 dong, biar pendek dia mah jalan saja menyusuri sungai. Walau air hingga sepinggangnya, masih aja nafsu mau mendekati kerbau. Tapi hati-hati ya, jangan kelewat semangat nanti kerbaunya sebel juga.



9.       Berenang
Ini bagian dari acara bebas. Cinangneng juga membangun beberapa cottage mungil di sana jadi ada kolam berenang, walau ga besar. Malah terasa kecil banget karena ada rombongan dari sekolah lain. Sekolah dasar swasta yang muridnya dah gede-gede badannya. Atau jangan-jangan itu SMP ya? Plus bukan kolam renang anak jadi yah Cuma basahin kaki saja.



Usai semua itu, kami kembali ke pelataran awal. Mengambil caping yang sudah diwarnai dan diberi sertifikat. Setelah itu para pengajar berbaris untuk bersalaman pada kami. Di ujung barisan ada pemiliknya.

Cinangneng sendiri ada program lain yang berjudul Tur Kampoeng yang kegiatannya mendatangi Home Industri yang terletak di sekitar Cinangneng. Well, bagian memberdayakan warga sekitar kayanya. Bagus juga.



Kesimpulannya? Yah lumayan untuk perkenalan bagi mereka yang belum pernah pulang kampung. Saya pun jadi ingat pertama kali main ke sawah malah waktu SMA dan itu norak banget jalan di titiannya. Banyak ngerusakinnya hahaha .... Jika dirasa Cinangneng terlalu jauh, Rumah Perubahannya Rhenald Kasali juga suka bikin program semacam ini. Ga jauh, di pondok gede. Ingin juga ke sana, tapi belum kesampaian.

Oh iya untuk tanya-tanya langsung telepon saja ya ... (0251)-8621895

Have fun.