Tampilkan postingan dengan label jalan jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan jalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2015

Jalan-Jalan Mencari Cerita tentang Wanita

Salah satu kecantikan Indonesia adalah sesuatu yang sudah terbalut mitos dan legenda. Candi Prambanan sempat ‘hilang’ dari ingatan masyarakat dan akhirnya kembali ditemukan di tengah-tengah hutan lebat. Kini, Candi Prambanan tak hanya menjadi salah satu rumah ibadah yang masih aktif pada momen-momen tertentu, tetapi juga menjadi salah satu ikon cantik kota Jogjakarta .

Kisah legenda tentang Rara Jonggrang yang memperdayai Pangeran Prabu Bandung Bandawasa, memintanya mendirikan 1000 candi dalam semalam sebagai syarat menikahinya padahal itu hanyalah cara menggugurkan lamarannya. Betapa tidak, sang pangeran adalah orang yang membunuh ayahanda putri Rara Jonggrang. Saat 999 candi dibuat atas bantuan makhluk halus, Rara Jonggrang bertindak cepat dengan membangunkan perempuan-perempuan desa dan disuruhnya menumbuk padi. Tak hanya itu, jerami dibakar sehingga si ayam jantan terbangun dan mengira hari sudah pagi, lalu berkokoklah ia. Mendengar kokokan ayam, para makhluk  halus segera meninggalkan tugasnya. Marah karena ditipu oleh sang putri, Pangeran Prabu Bandung Bandawasa pun mengutuknya beserta dayang-dayangnya menjadi candi.  

Percaya atau tidak inilah tujuan bulan madu saya, tujuh tahun yang lalu. Kelihatannya bertolak belakang, tapi inilah pernyataan bahwa urusan keluarga adalah yang utama. Nobody messed up with my family. Begitulah bahasa mafianya. ^^

Dan dua tiket Sriwijaya Air kala itu, setibanya di bandara Adi Sutjipto, kami hanya perlu naik Trans Jogja hingga terminal, lalu jalan kaki menuju penginapan.

Memandangi kompleks Candi Prambanan dari jendela kamar kami seistimewa melihat taburan begitu banyak bintang di langit malam. Apalagi begitu mengunjungi langsung keesokan paginya. Saya bersyukur juga ada mitos bahwa pasangan kekasih yang datang ke Candi Prambanan maka akan putus. Seperti mitosnya Kebun Raya Bogor. Hal ini artinya, area hijau yang luas ini nyaman dinikmati. Ga ada pemandangan orang-orang pacaran. Rusa-rusa pun bertebaran di salah satu sisi, serasa tinggal di istana.


Tema wanita dan keluarga juga semakin ditekankan dalam pertunjukan sendratari Ramayana yang diselenggarakan di Teater Barat Candi Prambanan, tak jauh dari penginapan. Tiketnya pun bisa dibeli di penginapan. Perjalanan Rama menuju istana Rahwana terlihat epik. Shinta yang walau bikin gemes, tapi nyatanya dia menjaga kehormatan dirinya walau menjadi tawanan.

Dengan  berlatar belakang Candi Prambanan yang terlihat menakjubkan dengan lampu sorot dan angin semilir malam, suasana pun jadi romantis walau panggung ‘membara’.


Namun itu tujuh tahun lalu, ketika temanya masih cinta-cintaan. Maklumlah, pengantin baru. Sekarang kalau ingin jalan-jalan, tujuan utamanya adalah memberi pengalaman seoptimal mungkin pada anak-anak. Namun, semangatnya masih sama tentang wanita. Maklumlah, ibu saya orang minang dan dididik secara minang. Jadi isu pemberdayaan perempuan itu kenceng banget masa saya kecil dulu. Sekarang saatnya meneruskan ke anak-anak saya yang dua di antaranya adalah perempuan. Namun bukan ke Padang tujuan saya selanjutnya. Melainkan ke Banda Aceh. Dan karena pasti bawa bocah-bocah, lebih enak naik maskapai yang ketahuan nyamannya, Garuda Indonesia. 

Saya ingin ziarah ke makam nenek buyut saya, Cut Nyak Meutia. Seorang wanita pejuang, yang harus melihat suaminya ditembak mati Belanda dalam keadaan hamil anak kembar. Pun setelah itu kedua anak kembarnya pun meninggal, Cut Nyak Meutia pun sempat sakit berbulan-bulan. Namun akhirnya dia memutuskan kembali bergerilya di hutan, setelah sebelumnya menikahi sahabat suaminya sesuai permintaan terakhir sang suami. Dan dalam perjuangannya itu, putra semata wayangnya pun turut serta. Hingga kemudian beliau tewas ditembak Belanda dalam sebuah pertempuran. Sebuah makam tua ditemukan beberapa tahun belakangan, letaknya tidak jauh dari lokasi pertempuran Cut Nyak Meutia. Dan ke sanalah saya  hendak datang.


Sebenarnya lokasi makam ini lebih dekat jika saya naik pesawat dari Jakarta menuju Medan Kualanamu. Tapiiii ... kalau ke Banda Aceh, saya lebih dekat ke tempat saudara. Jadi lebih cepat dapat tebengan menuju lokasi. Hehehe ... modus. Lagipula ada sepupu dan keponakan saya juga korban tsunami, jadi baiknya memulakan diri berziarah di Banda Aceh. Entah itu di pemakaman massal, entah itu di pinggir laut.

Ah, pasti ada begitu banyak cerita di sini, di tanah kelahiran papaku, yang masa kecilnya pun terdengar tidak nyata di kuping saya. Itulah hakikat bepergian bagi saya, guna menemukan cerita tentang masa lalu, tuk merajut semangat di masa depan.



Jumat, 31 Juli 2015

JJS: Perjalanan Pertama Penuh Tantangan dan Kenangan ke Jawa Tengah

Setiap hari adalah liburan bagi anak-anak kami, maklum masih belum rutin sekolah. Namun, mereka selalu menantikan saat-saat ayahnya turut libur agar bisa bepergian yang jauh alias yang pakai taksi. Perjalanan jauh pertama mereka menjadi motivasi bagi saya untuk menambah daftar tujuan wisata setiap tahunnya. Efeknya ituloh yang luar biasa.

Saat pertama kali diajak mudik sama mertua, saya agak cemas. Ya karena bawa dua anak masih balita. Tapi saya pun tak kuasa menolak, sejak menikah saya tidak pernah mudik sedangkan di kampung mertua ada makam bapak mertua.

Sebenarnya masalahnya di saya, saya ini termasuk rewel di perjalanan. Mabuk darat dan mudah kesal apalagi jika bepergian dengan orang yang ga biasa ngurusin saya. Sindrom bungsu kayanya hehehe .... Ibu mertua saya pun sudah tua, khawatirnya saya jadi ngambeg-ngambegan karena ga sependapat sama beliau. Tahu kan, di perjalanan jauh pasti ada aja.

Pelan-pelan saya persiapkan segala sesuatunya. Pengennya ga bawa banyak tentengan karena kan anak-anak termasuk dalam kategori ‘tentengan’. Makanan dan baju adalah keharusan. Persiapan kalau-kalau ada yang muntah di mobil dan persiapan kalau macet di entah di mana dan anak-anak (termasuk ibunya) rese kalau lapar hehehehe.

Tantangan dimulai sejak malam pertama. Memang rencananya kami akan berangkat setelah si ayah pulang kantor ealah mau libur panjang juga macetlah jalanan Jakarta, saya dan anak-anak sudah bete nunggunya.

Sudah datang si ayah, mobil sewaannya belum datang. Nah selama nunggu ini, si anak kedua langsung muntah-muntah. Dikasih air muntah, disusuin muntah. Si ayah sempat mau cancel perjalanan, tapi saya mendelik. “Ayo berangkat sekarang juga!”

Bahkan ketika mobil sewaan akhirnya datang jam 11 malam dan kami sedang di lift, anak kedua ini masih muntah. Lucunya, begitu menyentuh mobil, dia langsung tidur. Tidur sepulas-pulasnya. ^^
Ketika akhirnya lepas dari Jakarta dan ketemu Pantura ealah lagi perbaikan jalan jelang bulan puasa. Muacetnyaaaa ... sekarang giliran si sulung. Dia ga bisa tidur karena mobilnya diam saja, akhirnya saya pangku dan mulai mengarang cerita seperti ritual sebelum tidur kami. Cerita habis, anaknya merem.

Syukur alhamdulillah juga trek Pantura itu lurus aja, secara mabuk darat tapi ga bisa minum antimo karena harus tetap sadar saat mengawasi anak-anak. Dan karena jadi ibu-ibu pula, saya harus merasakan duduk di mobil memangku dua bocah yang tertidur selama berjam-jam. Kesemutan sangat.

Setelah akhirnya  lepas dari jalur yang muacetnya bukan main itu dan sudah mendekati Purworejo, eh kami salah jalan. Dan terpaksalah kami melewati jalur yang dua kali lipat lebih jauh dan keadaan jalannya rusak banget itu. Benar-benar perjalanan yang terasa lama. Saya sibuk mengondisikan diri saya untuk tetap tenang biar anak-anak ga ikutan rungsing.




yang habis muntah-muntah baru bangun


Akhirnya kami tiba di Purworejo. Di sana kami bertemu dengan adiknya ibu dan beberapa saudara lain. Ibaratnya saya dikenalkanlah di kampung sebagai menantu. Sedangkan anak-anak senang banget lihat ayam, kambing, bebek bertebaran. Hehehe anak kota amat yak. Dan dua malam di sana, satu harinya hujan lebat. Baju yang dicuci tak kunjung kering. Syukurnya kami masih sempat ke alun-alun Purworejo yang menurut pengakuan ibu mertua malah belum pernah ke sana. Lhaaa ... si ibu ^^
Beduk terbesar itu masih ada di masjid, anak-anak mah senang main di menaranya sembari menunggu saya shalat.

Menariknya, di alun-alun Purworejo kami bertemu dengan teman saya sewaktu masih kerja dulu. Dia juga sedang liburan ke Purworejo bersama keluarga. Jadi deh kami menghabiskan sore sambil mengelilingi dua pohon besar yang ada di tengah-tengah alun. Pohonnya ada namanya, saya pikir nama laki-laki dan perempuan eh ternyata nama laki-laki dua-duanya ^^ ya pantaslah mitosnya bukan mitos percintaan. Konon jika mengelilingi setiap pohon berlawanan arah jarum jam sebanyak tiga kali, usahanya bisa sukses.


Usai dari Purworejo kami menuju Borobudur. Panas terik menyambut kami di sana. Para pedagang pun semakin giat menawarkan topi dan kacamata. Bahkan ada jasa gendong anak. Maklum ga mungkin pakai stroller kalau ke Borobudur. Eh ternyata oh ternyata, baru saja naik separuh, hujan jatuh aja gitu. Lebat pulak. Lama juga. Basahlah kita walau pakai payung. Tadinya kami bertahan di tengah Borobudur tapi karena sudah kadung basah, kami cari jalan lain menuju puncak. Sampai di puncak, blas hujan berhenti. Eeaaa ... mau difoto pada lepek begini. Keep smiling ajalah pokoknya.
Setelah turun dan berganti baju, waktunya keliling Borobudur naik delman. Wah si sulung tak henti-hentinya menyanyikan lagu Naik Delman. Eyangnya jadi senang ^^


kuyup di  Borobudur

Setelah dari Borobudur, kami menuju Semarang. Semarang adalah kota tempat tinggal adik laki-laki ibu. Tadinya sih mau sambil wisata rumah ibadah eh lagi-lagi hujaaaaan deraaaas ... Jadi deh di rumah Pak Lek saja, wong Cuma semalam ini dan Pak Lek sedang sendirian juga. Beruntung rumah Pak Leknya besar dan banyak mainan cucu-cucunya jadi ga mati gaya hehehe ....


Dari Semarang kembali ke Jakarta dengan jalur yang lebih menyiksa lagi. Delapan belas jam! Ah sudahlah yang penting anak-anak ga rewel.

Selama di perjalanan yang panjang itu saya berkhayal, bagaimana nanti ceritanya jika anak-anak ikut mudik bersama nenek dan ampunek (orangtua saya)? Bertualang di jalur Sumatera karena orangtua saya perpaduan Padang – Aceh. Belum lagi adik-adik ibu saya banyak yang tinggal di Riau. Pekanbaru pasti sudah wajib.

Ada apa ya di Pekanbaru? Ada wisata alam ga ya? Kan anak-anaknya pecicilan, butuh ruang luas dan butuh yang ga ada di kota. Oh, kami bisa ketemu candi lagi. Candi Muara Takus yang konon merupakan bangunan bata terbesar di Sumatera. Air terjun Guruh Gemurai juga bisa jadi tujuan selanjutnya. Maklum di sini lihatnya malah air mancur, sintetik hehehe .... Kalau sudah ke Pekanbaru, yah sekalian mampir ke Batam. Main ke pulau kitaaa .... Anak-anak belum pernah tuh menyeberangi pulau. Lagian kalau ke Batam mah tinggal mampir ke Mak Linasasmita Dia tahu semua tentang Batam. Aman lah ...

Banyak tujuan terbentang usai mudik pertama ini. Sepertinya saya belum kapok karena perjalanan adalah pembelajaran yang bagus untuk anak-anak. Apalagi seminggu usai mudik bersama ini, ibu sakit. Dua minggu kemudian, ibu masuk RS. Suami sempat menunjukkan rekaman naik delman di Borobudur saat menungguinya. Memang momen itu yang sering ibu ceritakan pada orang-orang setibanya di Jakarta. Sebulan kemudian, ibu meninggal dunia. Meninggalkan kenangan yang masih melekat erat dalam ingatan si sulung walau sudah dua tahun berlalu. Kenangan naik delman bersama eyang. Alfatihah. 



Jumat, 24 Juli 2015

JJS: Live Dinosaur di PIM 2

Kayanya cukup  sering ya saya lihat papan billboard bergambar dinosaurus yang mengumumkan bahwa ada pertunjukan dinosaurus di mal-mal tertentu. Ada yang di Bekasi, ada yang di MOI, ada di mana-mana deh. Ga ada satu pun yang saya kunjungi. Maklum, kaki dan tangan masih pendek sejak kelahiran bocah ketiga, tiga bulan lalu. Eh, lebaran datang berikut dengan liburnya si ayah yang panjang banget itu. Kebetulan dalam perjalanan silaturahmi ke saudara lagi-lagi papan billboard itu muncul. Dan juga muncul dalam ingatan suami. Saya sih tadinya diam-diam saja, eh dianya yang tanya. Ya langsung saya jawab deh. “Di PIM.” Dan kemudian rajin meng-google untuk info lengkapnya.


si dino mania


“Terakhir tanggal 26 Juli. HTM Rp100000. Beli 1 gratis 1 kalau pake Citibank.” Kata saya setengah menjerit karena sambil menyusui sedangkan suami di kamar mandi.

Saya rasa begitu dia mendengar promo citibank lah yang membuat dia setuju. Maklum, suami suka malas ke daerah PIM, terlalu sama dengan rute kerja kali ya hehehe dan jauh juga sih.

Dalam sekejap rencana harian saya berubah. Yuk lihat dinosaurus di PIM. Malika sudah membawa satu tas berisi buku-buku dinosaurusnya, syukur mainan binatang-binatangnya ga dibawa.

Saya baca-baca lagi review orang lain yang sudah lebih dahulu melihatnya. Rupanya ini bukan peragaan dinosaurus yang menggunakan sensor melainkan semacam badut. Ada orang di dalamnya, kakinya pun terlihat. Pada bonus DVD dari buku Dinosaurus Malika, kami sempat melihat pertunjukan dino serupa di Australia. Curiganya niy boneka asalnya dari sana juga.
Dan ternyata memang benar (kayanya). Setelah membeli tiket untuk 4 orang yang dibayar cukup Rp200000,- , kami menonton pertunjukan di jam 13.00 sebagai pertunjukkan ketiga hari itu. 
Jadwalnya sendiri mulai pukul 10, 11, 13, 15, 17, 19, dan 20 WIB. Bertempat di lantai dasar PIM 2, sudah ada semacam kandang yang tertutup di sana. Saat masuk, kami diminta duduk mengitari panggung rendah. Kenapa harus duduk? Karena si T Rex ini ekornya panjang dan si orang kan ga mungkin minta permisi dulu kalau mau bergerak-gerak ke sana kemari. Pembawa acaranya memberi panduan awal tentang si Trex, lalu kemudian datanglah si pawang yang membuat saya yakin bahwa ini berasal dari taman Dino di Australia. Yes, logatnya.


ada yang ngumpet


ini dia pawang dan TRex nya


mau pegaang 
(struktur kulitnya keras betulan)



Jadi ada dua Trex yang akan dikeluarkan. Sebelum keluar, suara (rekaman) dino lah yang membuat takut anak-anak. Bahkan Safir sampai mundur ketika akhirnya Trex keluar, Malika agak takut sedikit. Tapi tak lama, setelah itu malah Malika mau adu menggeram sama si Trex yang tidak mau masuk kandang.

Pertunjukkan itu sendiri tak lama hanya 15 menit. Rasanya sayang banget ya? Tapi yah mending daripada harus ke Australia hehehe ... Malika cs yang sudah lebih tahu tentang wujud badut Trex itu malah jadi memperhatikan yang lain, seperti sinkronisasi suara graung dengan mulut si badut yang sering tak sama. Dan memang tak perlu lama, 15 menit itu saya yakin akan jadi seminggu penuh dengan graungan antara dua Trex kecil yang ngeyel itu. Sabar ya baby M ... :D

Ada yang masih bingung ngabisin waktu n THR lebaran? Ke PIM aja, ga rame kooook .... 

Petualangan Dino selanjutnya ke mana ya? Jungleland? 

Jumat, 29 Mei 2015

JJS: Lihat Dino di Museum Geologi Bandung

Ketika dadakan diajak nginep di Bandung sama suami, satu destinasi yang kayanya diwanti-wanti betul di kepala saya adalah harus ke Museum Geologi. Bukan hanya karena di sana banyak koleksi batu-batu termasuk batu akik yang lagi tenar itu. Kebetulan (eh sengaja deng) nama anak-anak saya menggunakan nama batu, jadi yah anggap saja napak tilas sejarah. Plus, bapaknya sarjana geologi (walau kini profesinya nyaris sulit ditemukan benang merahnya dengan seorang geologis), jadi biar bapaknya senang lah anak-anaknya datang ke tempat yang pernah dia kunjungi lebih dari sekali ini (maklum kuliahnya pun di Bandung kala itu). Satu hal lagi, Malika lagi senang-senangnya dengan dinosaurus. Nah, karena belum kesampaian ke museum Zoologi, Bogor apalagi National Museum di London, kenapa ga ke museum Geologi? Seingat saya di sana ada kerangka binatang purba. Ya, saya dulu pernah pula ke museum Geologi. Bukan, saya hanya mahasiswi sastra Belanda UI. Datang ke sana dalam rangka study tour karena ada batu yang ditulis dalam bahasa Belanda zaman dulu. Ah, fotonya ke mana ya? (Lho jadi melenceng).

Anyway, karena menginap di daerah Taman Cibeunying Selatan yang sejatinya tidak jauh dari Museum Geologi, kami ceritanya iseng mau jalan kaki. Baru dua ratus meter berjalan, ganti rencana, cari becak. Ketemu becak Cuma satu sedangkan kita ada berlima. Akhirnya, saya (plus bayi 3 minggu) dan Malika naik duluan. Kata si mamang sih mau balik lagi anter suami dan Safir. Deket memang, tapi kayanya saya nyiksa tukang becaknya hahaha jalurnya nanjak soalnya. Dan walau Malika kurus tapi emaknya geda banget ini. Oalaaaah ....

Masih dari dalam becak kami melihat ke seberang jalan sudah banyak deretan bus wisata. Oh my God, penuh niy kayanya. Saya memang lebih suka suasana sepi museum walau mungkin lebih horor. Tapi ini beneran banyak banget rombongan pelajar SD dan SMP dari luar kota. Eh ternyata yang saya takutkan alias desak-desakan tidak terjadi di sini. Kali ini banyak petugas yang dikerahkan, jadi setiap rombongan mendapat gilirannya masing-masing untuk masuk. Selagi menunggu suami dan Safir, di halaman depan Museum Geologi sudah ada sedikit pameran, mulai dari fosil kayu, peti mati batu zaman purba, dll. Lumayan deh Malika jadi ga mati gaya juga nunggu ayahnya yang akhirnya ketemu tukang becak lain.

Dengan harga tiket hanya Rp6000,- dan tiga krucils tidak dihitung biaya, kami pun melenggang masuk. Mata Malika sudah menyala-nyala ketika melihat rangka mammot alias gajah purba yang menyambut kami langsung setelah memasuki pintu depan. Walau gedung museum geologi ini terlihat sangat panjang dari luar, biasa, bangunan Belanda, tapi tidak seluruh sudut difungsikan sebagai museum. Jadi dari ruang depan itu, kami berbelok ke kanan ke pameran purbakala. Ruangannya tidak besar, tapi rangka Tyrannosaurus Rex jadi perhatian karena yang paling besar sendiri. Ada pula rangka-rangka hewan purba lain yang ditemukan di Indonesia. Katanya sih Indonesia bukan jalur jurassic jadi hampir tidak mungkin menemukan fosil dinosaurus di sini. Lalu ada satu ruangan tambahan di samping yang berisi kerang purba. Ada kerang ukuran besar juga dipajang di sana.




seneng amat ketemu tulang


Usai dari ruang purbakala, Malika cs lanjut ke lantai atas. Saya tidak ikutan karena mau menyusui dan kebetulan sedang tidak fit jadi badan rontok semua rasanya kalau gendong bayi terlalu lama. Tapi tenang, saya masih kecipratan ceritanya kok.

Di lantai atas adalah tempat koleksi batu-batu. Namanya juga aktivitas geologi, gali-gali, ya ketemulah berbagai macam jenis batu, entah batu endapan hingga batu mulia. Ukurannya pun beragam, ada yang masih mentah, ada yang sudah dipoles. Tapi karena Malika cs sudah pernah lihat pameran batu akik, jadi yang baru bagi anak-anak adalah, stimulasi gempa.

Untung juga ya ramai, kalau sepi mungkin stimulasi gempa ini tidak akan dinyalakan. Malika dan ayahnya pun sempat mencoba, tapi kayanya ga ada yang foto, jadi kemungkinan info ini hoax hehehe ....

ketemu batu Safir. Kalau datang seminggu lebih lambat bisa lihat batu Lazuli



Yah, walau tidak harus tur sehari macam di National Museum of London, bagi anak-anak itu sudah melelahkan apalagi jam sudah mendekati waktu makan siang, dengan kata lain, sudah laparr.  Malika menenteng tiket museum ‘dino’nya dengan bangga lalu mengikuti kami berjalan ke warung Yogurt Cisangkuy. 

Jumat, 22 Mei 2015

JJS: Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Bandung

Tahun lalu waktu ke Bandung , ayah anak-anak sempat berencana mengajak anak-anak ke taman lalu lintas ini. Kebetulan tempat temannya menikah tidak jauh  dari sini (Baca Juga: Review Hotel: The Centrum). Hanya saja karena tidak ada cukup waktu setelah dari Saung Udjo, kami kala itu langsung ke tempat pernikahan.

Nah, karena kemarin itu jadwal anak-anak lowong banget (ke Bandung karena si suami ada kerjaan di sana, jadi ceritanya sambil nunggu suami kelar), yang terpikir untuk tempat main anak adalah taman ini. Yah, hitung-hitung ada edukasinya. Daripada ke trans studio yang kayanya banyak wahana yang belum bisa dimainin bocah-bocah ini, teruuuus mahal ajah hehehehe ....

Taman lalu lintas Ade Irma Suryani ini rupanya salah satu taman tertua di Bandung. Dan kalau lihat penampakannya dari luar, taman ini jelas butuh peremajaan karena sudah  uzur visi misinya hehehe ...
Waktu itu saya dan anak-anak, ditemani salah satu teman suami, usai rehat di Cisangkuy (Baca Juga: Lihat Dino di Museum Geologi Bandung), melanjutkan ke taman lalu lintas. Kalau di Jakarta saya mah ga berani ngajak-ngajak ke taman, pasti panasnya menyorot sekali. Mumpung di Bandung, cuacanya adem-adem, langitnya nyaris mendung, pas lah.

Harga tiket Rp6000,- berlaku mulai usia anak di atas 3 tahun. Begitu masuk, Malika sudah mencari-cari patung binatang yang dia incar sejak dari mobil untuk dinaiki. Di sana memang ada banyak sekali patung binatang dan kondisinya masih bagus dan utuh (yang sudah rusak sedikit sekali). Beberapa spot sepertinya pernah difungsikan sebagai kolam tapi kini sudah dibiarkan kosong. Jadi ketika anak-anak ingin menaiki patung kuda nil, saya terpaksa menolak karena posisinya di kolam yang rendah dan walau tidak ada airnya, tidak ada jalan turunnya. Sorry, kids.




Mainan-mainan old school juga bertebaran di sini. Banyak banget dan masih bagus. Perosotan, ayunan, jungkat jungkit, panjatan, dll. Biasanya kan mainan dari besi begitu sering terlihat sudah patah di sana-sini. Makanya banyak yang beralih ke mainan dari plastik. Mungkin mereka punya tukang las langganan, jadi biaya perawatan ga mahal-mahal amat.



Setelah menaiki beberapa binatang, kelihatan deh ada semacam komidi putar. Namanya gajah terbang. Bayar tambahan Rp5000,- per orang dan naik deh. Usai berputar-putar cukup lama, anak-anak lanjut ke sewa sepeda. Saya sudah tahu nih, Malika pasti bisa, sedangkan Safir pasti ikut-ikutan tapi ga bisa. Tapi yah sudahlah, namanya juga main. Lagian Cuma bayar Rp5000,- per sepeda kok.  



Sepeda punya arena bermain sendiri. Di sini baru agak diterapkan simulasi berlalu lintas walau sayangnya tidak banyak rambu yang dipasang. Dan seperti yang sudah diduga, Safir kesulitan apalagi harus melewati jalan yang berlubang dan menanjak. Akhirnya dia lebih memilih berlarian di jalur sepeda yang sepi itu. Jalurnya cukup menarik sih, ada turunan, tanjakan, dan terowongan. Entah berapa kali Malika muter-muter.

Jam baru menunjukkan pukul tiga sore, tapi wahana gajah terbang sudah ditutupi terpal. Ya, bedanya dengan Jakarta adalah pada jam segini wahana bermain malah sudah sepi, sedangkan di Jakarta justru baru keluar karena mataharinya mulai kalem. Akhirnya kami berputar-putar mencari permainan lain. Ragu-ragu mau naik kereta karena memang sudah sepi. Hanya ramai dengan anak-anak sanggar tari yang berlatih di dekat stasiun kereta mini itu. Begitu ditanya ke petugas dan menghitung jumlah yang naik alias hanya kami berempat plus, kereta pun siap berangkat. Saya melihat plangnya tertulis “gerbong kereta mini merupakan sumbangan dari PT PJKA tahun 1958”. Tahun berapa? 1958? Seriously?

Saya iseng tanyakan ke petugas, “Pak, ini keretanya masih yang dari tahun 1958?”
“Iya, gerbongnya.” Alis saya naik satu, lalu bapak itu melanjutkan, “Kalau mesinnya sudah pernah diganti, satu kali.” Doeeeng!

Ah yah sudahlah, anggap saja Pete di film anak-anak Chuggington yang usianya sudah 150 tahun tapi masih produktif. Toh, ga bakalan ketemu kereta ekspress juga.  

Dari perjalanan kereta terlihat lebih banyak mainan semacam komidi putar tapi sudah tutup karena sepi pengunjung. Taman lalu lintas ini juga kayanya terbesar di Bandung jadi lumayan berasa lah naik keretanya. Kaya naik kereta kelinci di TMII kali ya ....  

Jelang jam 4 sore, kami pun pulang. Sudah banyak nyamuk juga, rimbun banget soalnya. Dan catatan-catatan saya adalah sebagai berikut:
1.       Rambu-rambu hanya dipasang mencolok di depak pintu masuk, sekaligus segambreng dan kayanya dikirim dari Jakarta, karena petunjuk jalannya mengatakan nama-nama jalan di Jakarta (dan ga ada di Bandung). Harusnya sih pakai nama-nama jalan di Bandung juga dong, biar afdol.
2.       Seandainya rambu-rambu dipasang semua, taman lalu lintas benar-benar bisa jadi taman simulasi lalu lintas betulan, bukan sekadar taman yang kebetulan ada satu-dua tiang berisi rambu-rambu lalu lintas. Maksudnya kaya kidzania tapi versi outdoor. Misal, buat tempat duduk dengan model halte bus lalu ada rambunya. Atau di satu spot buat tema peternakan jadi ada rambu hati-hati ada banyak binatang. Walau permainannya serupa tapi kalau tiap kelokan ada temanya sepertinya lebih menarik. Jadi tidak hanya parade patung binatang di mana-mana.
3.       Please ... keretanya diganti dooong. Iya sih masih bisa jalan tapi horor juga bunyinya. GREDEK GRUDAK GEBRAK!


Anyway, masih bisa diapa-apain sih niy taman, bisa dibuat keren biar image taman tua ga melulu melekat. Mari kita tunggu sajalah, kan Bandung lagi rajin bagusin taman. ^^

Rabu, 13 Mei 2015

RABUku: 30 Paspor di Kelas Professor


Kebayang tidak, tugas akhir kuliahmu adalah pergi ke luar negeri, sendirian, dalam waktu 1,5 bulan ke depan? Tidak hanya mahasiswa yang dibuat kaget, bahkan para orangtua pun dosen sejawat juga terkejut dengan keputusan sang professor, Rhenald Kasali. Bagaimana tidak, itu adalah mata kuliah Pemasaran Internasional, apa hubungannya dengan jalan-jalan?

Sekilas seperti tugas yang borju, yang hanya bisa dilakukan oleh para mahasiswa yang tidak memiliki masalah finansial. Namun, karena keterdesakannya sebagai tugas wajib kuliah, justru mereka yang harus berjuang sejak awallah yang mampu menghasilkan pengalaman-pengalaman hidup yang berbobot. Bukan sekadar laporan perjalanan.

Hal yang menarik adalah, pada zaman tiket pesawat sudah semakin terjangkau dan liburan ke luar negeri bukanlah hal asing bagi banyak orang, rupanya hanya sedikit orang yang pernah mengalami bepergian sendirian. Benar-benar sendirian, bukan ikut rombongan atau apa pun. Bahkan untuk usia mahasiswa pun, bepergian jauh sendiri menjadi pengalaman baru.


foto diambil dari bukupedia

Bepergian sendiri ke negeri orang mendorong seseorang untuk beradaptasi, menghadapi masalah-masalah seperti tersasar, ditipu, dan lain-lain sendirian tetapi justru pada saat itu pertolongan pun akan datang tanpa diduga-duga. Walau tetap saja, semua berawal dari tekad menghadapi semua itu sendirian dengan tegar. Itulah yang  sejatinya dibutuhkan para calon sarjana itu usai menyelesaikan kuliahnya. Tidak serta merta teori.

30 Paspor di Kelas Professor terbagi menjadi dua jilid oleh penerbit Noura Books, itu artinya ada 60 kisah mahasiswa  yang berbagi pengalaman berlibur di negeri orang. Ada yang tertinggal pesawat karena tertahan di bagian imigrasi akibat dikira teroris, ada yang mendadak jadi calo tiket demi mendapat uang transportasi dan akomodasi ke salah satu negeri termahal, Dubai, ada yang terpaksa main ‘aman’ karena walau sudah sering ke luar negeri, orangtuanya tidak mengizinkan anak gadisnya bepergian sendiri, ada yang ditipu di India, dan masih  banyak lagi.

Tentu dalam penulisannya juga terdapat ragam cara. Namun, bagi mereka yang mengalami kisah yang menarik, cerita itu akan mengalir begitu saja sambil memicu debaran jantung para pembacanya. Ada juga yang terjebak pada laporan perjalanan ketimbang makna yang dia ambil dari situ. Sehingga bertebaranlah nama-nama tempat yang mungkin tidak pula dideskripsikan secara detail.


foto diambil dari bukupedia


Namun, tetap buku yang dieditori J. S. Khairen ini menginspirasi bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Dan tentu saja membuat saya ingin menambah cap imigrasi di paspor saya. Bagi yang sudah sering jalan-jalan, mungkin akan tertantang untuk pergi sendirian. Dan yang paling saya ingin terapkan pada anak-anak adalah memberikan kesempatan pada mereka untuk melakukan perjalanan sendiri, sedini mungkin karena di situlah kemandiriannya teruji. Agar tidak seperti ibunya yang selalu tersasar karena takut bertanya pada orang.  Agar tidak menjadi orang yang tidak takut akan perubahan, menghadapi rintangan, dan kemudian menjadi individu yang mampu berpikir cepat dalam mengatasi masalah.


Sementara itu, baca bukunya dulu deh. Jilid 1 dan 2 tersedia di bukupedia dengan harga Rp64000,-. Siap-siap menatap tanggal merah, merancang petualanganmu sendiri. 

Jumat, 08 Mei 2015

JJS: Wisata Poelang Kampoeng ke Cinangneng

Ini laporan yang sudah lama banget mengendap di kepala, zamannya Malika masih di Twinkers. Cinangneng sendiri beralamat di Jl. Babakan Kemang, Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea Bogor. Kampus baru IPB masih sanaan lagi.

Ketika melihat plangnya, saya agak-agak menebak kegiatan apa yang akan kita lakukan di sana. Secara garis besar adalah memang wisata pulang kampung yang sangat berguna bagi mereka yang kelamaan tinggal di kota atau yang tidak punya kampung hehehe ...  Intinya memang perkenalan suasana kampung. Saat masuk disambut kebun dulu dan rumahnya baru terlihat setelah berjalan agak jauh. Sebenarnya area ini sangat luas tetapi model tanahnya berundak-undak jadi tidak bisa serta merta dinikmati dalam satu sapuan mata. Belum lagi tanaman di mana-mana. Segar banget jadinya. Ngomong-ngomong, kegiatannya kaya apa sih?


1.       Main angklung
Setelah semua siswa diberi kalung sebagai tanda masuk dan berbaris, mereka kemudian berkumpul di pelataran depan. Sudah disediakan bangku-bangku dan ada sebuah spanduk lebar terpajang di depan bertuliskan lirik lagu sunda. Pihak pengelola memberikan ucapan selamat datang singkat lalu membagi-bagikan angklung pada seluruh siswa bahkan orangtua. Kami diberi kursus singkat angklung. Tidak seintens di Saung Udjo memang tapi yah cukuplah. Dan dalam sekejap kami sudah memainkan sambil menyanyikan lagu Boneka Abdi.
Malika masih jetlag di bus jadi belum mood.





2.       Menari jaipong
Kemudian siswa-siswa Twinkers itu dikelompokkan dan kelompok Malika menuju pelataran lain untuk sesi menari. Di sana dengan cepat anak-anak dipasangkan baju menari, setelah siap, dipimpin oleh seorang penari yang berdandan lengkap, anak-anak pun diajarkan mungkin tiga langkah menari awal jaipong. Dan mungkin karena diulang-ulang gerakannya, jadi yah tidak perlu mengajarkan banyak gerak. Singkat saja, 10 menit paling lama.




3.       Membuat kue
Kami berjalan agak jauh lalu menuruni tangga yang curam dan panjang. Dan barulah ketemu lahan kosong yang luas. Semacam padang rumput gitu. Ada beberapa saung di sana dan satu kolam. Pada saung pertama, anak-anak diajarkan membuat kue hmm kue apa ya kok saya lupa. Pokok nya kue beras. oh, kue bugis. Dasarnya sudah setengah jadi, jadi ketika dikukus, anak-anak diberi yang sudah jadi. Nanti kalau ada kelompok selanjutnya, yang dikukus itu yang diberikan ke anak-anak untuk dicoba.



4.       Bermain gamelan
Kami lalu beringsut ke saung berikutnya. Sudah ada set gamelan di sana. Malika langsung ambil posisi. Pengajarnya mempraktikkan tiga nada untuk membentuk lagu sunda dasar. Tiga nada, kaya lagu punk Cuma main tiga kunci hehehe ... tapi yah cukuplah buat para bocah-bocah itu, karena jika dimainkan dengan irama yang tepat bisa tercipta musik yang harmoni. Nah, karena masih bocah itulah jadinya main bebas deh ... :D



5.       Membuat wayang jerami
Setelah itu, kami dikelilingkan dan duduk di rumput. Di tengah-tengah ada setumpuk jerami. Anak-anak diajarkan membuat wayang jerami, agak susah, jadi orangtuanya yang belajar hahaha ... konon itu prakarya anak-anak yang umum di daerah Bogor dan sekitarnya. Hasilnya sebenarnya agak serem buat saya hihihiy .... Macam boneka voodoo gitu.



6.       Melukis di atas  caping
Nah, di sini baru agak lama. Melukis di atas caping. Pada salah satu saung sudah disiapkan deretan caping polos dan palet warna. Jadilah mewarnai bebas. Caping-caping ini kemudian dijemur dan akan diberikan pada anak-anak usai seluruh rangkaian program ini.



7.       Menanam padi
Waktunya berkotor-kotor ria. Akhirnya  ... ketemu juga yang kotor-kotor. Orangtua dan anak ikut nyemplung berlomba menanam padi. Area sawahnya tidak begitu besar tapi lumpur banget. Maklum dah berapa puluh orang yang injak-injak sejak tadi. Malika senang banget di sini, bisa kotor-kotoran. Apalagi setelah itu dia tahu akan ke mana. Ke sungai ...



8.       Memandikan kerbau
Di sungai sudah ada kerbau kecil menanti. Dia sedang berendam dan para peserta diperbolehkan ikut nyipratin kerbau. Kalau dipikir-pikir agak kasihan juga ya jadi anak kota, norak banget mau mandiin kerbau. (LOL). Malika semangat ’45 dong, biar pendek dia mah jalan saja menyusuri sungai. Walau air hingga sepinggangnya, masih aja nafsu mau mendekati kerbau. Tapi hati-hati ya, jangan kelewat semangat nanti kerbaunya sebel juga.



9.       Berenang
Ini bagian dari acara bebas. Cinangneng juga membangun beberapa cottage mungil di sana jadi ada kolam berenang, walau ga besar. Malah terasa kecil banget karena ada rombongan dari sekolah lain. Sekolah dasar swasta yang muridnya dah gede-gede badannya. Atau jangan-jangan itu SMP ya? Plus bukan kolam renang anak jadi yah Cuma basahin kaki saja.



Usai semua itu, kami kembali ke pelataran awal. Mengambil caping yang sudah diwarnai dan diberi sertifikat. Setelah itu para pengajar berbaris untuk bersalaman pada kami. Di ujung barisan ada pemiliknya.

Cinangneng sendiri ada program lain yang berjudul Tur Kampoeng yang kegiatannya mendatangi Home Industri yang terletak di sekitar Cinangneng. Well, bagian memberdayakan warga sekitar kayanya. Bagus juga.



Kesimpulannya? Yah lumayan untuk perkenalan bagi mereka yang belum pernah pulang kampung. Saya pun jadi ingat pertama kali main ke sawah malah waktu SMA dan itu norak banget jalan di titiannya. Banyak ngerusakinnya hahaha .... Jika dirasa Cinangneng terlalu jauh, Rumah Perubahannya Rhenald Kasali juga suka bikin program semacam ini. Ga jauh, di pondok gede. Ingin juga ke sana, tapi belum kesampaian.

Oh iya untuk tanya-tanya langsung telepon saja ya ... (0251)-8621895

Have fun. 

Selasa, 05 Mei 2015

Seandainya Tugu Monas Direnovasi

Pada tanggal 1 Mei kemarin, Monas sempat rame oleh rombongan buruh. Sebelumnya tim Avenger juga mampir di sini. Ngomong-ngomong soal monas, terakhir kali saya ke sana adalah pas pameran alutista, plus ngoyo banget ngantri berjam-jam buat naik puncak monas. Tahun lalu sih denger-denger monas mau direnovasi, ga tahu di sebelah mananya, tapi kalau boleh saya mau sumbang usul nih, jikalau bingung monas mau diapain lagi. 





1. Monas yang ramah untuk para difabel dan pengguna stroller.
Untuk bisa masuk ke area monas, kita harus turun-naik tangga dan ga ada jalur landai. Jadi buat para ibu-ibu pendorong stroller ya see you bye bye deh ... Not to mention para pengguna kursi roda.

2. Ubin Kasar untuk Tangga
Tangga di monas itu semua terbuat dari marmer or granit, jadi kalau basah ya licin banget. Saya pun sempat terjatuh, mana lagi hamil muda. Syukur baik-baik saja. Kebayang kan kalau ada orang-orang tua yang menemani cucunya harus turun ekstra hati-hati di tangga itu. Tinggi pulak. Jadi selain lintasan landai, mbok ya tangga itu jangan pakai marmer, wong outdoor dan ga selalu ada tukang pel kok .... 



3. Berdayakan Lorong di antara Jalan Masuk menuju Monas
Mungkin yang Ahok bilang mau taruh para pedagang di underground monas itu maksudnya di lorong menuju monas kali ya? Karena lorong itu hampa sekali. Pasang kek foto-foto monas dari masa ke masa, atau jadikan itu galeri apa kek, daripada kosong dan kelihatan ada bocor di sana-sini.


4. We Want More about Monas
Judulnya monas, tapi pameran monasnya ga ada. Dibiarin aja tugu itu berdiri tanpa atribut apa pun. Pun di museum yang terletak di bagian bawah monas pun hanya bicara monas di miniaturnya yang terletak setelah pintu masuk.

Cari dong dokumentasi, misal siapa saja yang sudah pernah membuat miniatur monas dan dengan media apa. Kan zaman dulu pernah nge hits lah monas itu. Kalau ga ada, ya bikin event kaya gitu. Misal cupcake bertema monas? Saya pasti ikutan.

Yang saya ingat dulu monas pernah pakai dasi raksasa, lupa dalam rangka apa. Atau ada ga dokumentasi proses pembangunan monas? Jadi lebih hidup dikitlah museum itu, ga hanya pameran patung-patung kecil itu (mendadak lupa istilahnya).

4. Bisa Ga Liftnya Digedein?
Tahu kenapa antrian ke puncak monas bisa sepanjang dan selama itu? Pertama, liftnya cuma satu. Kedua, kapasitasnya cuma 5-7 orang. Kapan kelarnya?

Memang sih, lift itu disesuaikan lehernya si monas, tapi apa iya ga bisa digedein? Kalaupun ga bisa, buat lift tambahan dong di luar. Yang transparan. Pasti memacu adrenalin hahaha ...

5. Desain Ulang Interior Puncak Monas
Sudah ngantri berjam-jam eh begitu sampai di atas ruangannya mengecewakan. Panorama ketinggiannya masih keren tapi ruangannya itu loh. Pipa melintang dan menggantung di bawah. Tali temali bersilangan di bagian atas, itu pun ga atas banget, jadi ganggu di mata. Dari zaman baheula ga pernah diapa-apain niy ruangan. Makin jelek aja. Bikin dong yang keren bin beradab. Tapi suseh juga karena dah ada antrian panjang buat yang turun. Rempong.


But talk is cheap ... biayanya ga murah. Apa mungkin karena itu tugu monas tidak kunjung direnovasi? Hmm ...


Jumat, 01 Mei 2015

JJS: Wisata Rumah Ibadah di Semarang


Usai lebaran tahun lalu, ketika saya belum ketahuan hamil, saya sekeluarga bertolak ke Semarang dalam rangka pernikahan sepupu suami. Ini bukan kali pertama bagi saya ke Semarang, hanya saja dari sekian kali ke sana, saya justru belum pernah benar-benar jalan-jalan bak turis lokal di ibukota Jawa Tengah itu. Makanya, pada kesempatan itu, usai pesta pernikahan, disiapkanlah satu hari khusus untuk jalan-jalan. Setelah browsing sana sini jelang subuh, ternyata tema keliling Semarang adalah “Wisata Rumah Ibadah”. Yuuk, mareee ...
1.      

Masjid Agung Semarang
Masjid Agung Semarang ini letaknya tidak jauh dari hotel kami, hotel Metro. Jangan salah, ini bukan Masjid Agung yang sekarang jadi ikon Semarang, tetapi memang ada banyak masjid agung or masjid raya di sini. Toh, masjid ini bukannya tidak punya prestasi, setidaknya pada zamannya, masjid ini pernah menjadi ikon juga sebelum ada masjid Raya yang berada di dekat simpang lima.
Pagi itu, masjid masih ditutup. Jadi kami berfoto di pelataran saja ditemani beduk yang ukurannya cukup besar. Sayang, di sekitar sini tidak ada jajanan yang gelar lapak pagi-pagi, jadilah saya lapar dan bersegera ke tujuan selanjutnya.



2.       GPIB Immanuel atau Gereja Blendoeg
Ketika tiba di pelataran gereja ini, saya jadi teringat tur studi yang pernah saya lakukan saat kuliah. Memegang status sebagai mahasiswa program studi Belanda, tempat-tempat seperti gereja dan kuburanlah yang paling sering kami datangi. Gereja ini juga dibangun pada masa penjajahan Belanda. Ada dua pintu masuk, yang menghadap jalan raya disambut dengan tulisan GPIB Immanuel sedangkan dari samping barulah ada tulisan Gereja Blendoeg.

Saya tidak masuk ke dalam, kirain tak boleh. Tapi begitu melihat rombongan bule-bule dengan bus boleh masuk, saya jadi kepingin. Sayang, sudah mau cabut. Gara-garanya ya karena lapar itu. Anak-anak juga rewel, paling adem sedikit pas main di taman depan gereja. Saya sendiri jadi terlibat ngobrol basa basi sama seorang tua di sana. Itu loh orang tua yang tiba-tiba muncul, beramah tamah lalu kita kasih uang. Bapak tua ini kebetulan bisa berbahasa Belanda, jadi saya balas lah sedikit-sedikit.



Intermezzo
Makan Pagi di Mbah Jingkrak
Well sebenarnya tidak persis di Mbah Jingkraknya sih. Rupanya menu Mbah Jingkrak terkenal dengan level sambalnya, jadi yah sepertinya tidak cucok untuk menu anak-anak. Jadi saya memilih menu dari papan resto sebelah, Bentuman . Gaya western, tapi enak kok. Dan ternyata, Bentuman justru lebih dulu didirikan ketimbang mbah Jingkrak.

Tempatnya juga nyaman dan luas. Yang menarik, di sana ada lele sebesar buaya. Gede banget. Ada kali semeter (buaya lebih panjang kali yaaa hehehe). Di bagian belakang juga ada kandang-kandang burung (plus burungnya). Buat anak-anakku sih ini dah keren banget. Buat kami, harganya bersahabat, bok!



3.       Masjid Agung Jawa Tengah
Jadi jika Anda baru pertama kali ke Semarang dan ingin ke masjid Agung yang terkenal itu, pastikan sebut dengan lengkap pada sopir Anda, masjid Agung Jawa Tengah atau Masjid Agung Propinsi. Konon, karena ada banyak sekali masjid agung atau raya, bisa sampai berebut imam di hari-hari besar loh. Oalah.

Dan masjid yang satu ini memang jelas bedanya dengan masjid-masjid yang lain di Semarang. Letaknya agak pinggir kota, tapi kalau melihat luasnya ya ga heranlah kudu minggir sedikit. Memang kompleksnya luas sekali. Ga tahu ya apakah sebesar masjid Istiqlal atau tidak. Salah satu yang membuatnya istimewa adalah, masjid itu juga punya payung raksasa seperti masjid di Madinah. Sayang, saat kami datang, payungnya menutup. Mungkin karena sepi, padahal panas banget loh. Lantai marmer serasa api saat dipijak. Jadi deh sesi foto-foto agak melipir sedikit. Masjid itu memang jadi objek menarik untuk foto-foto. Malah ada yang foto prewed sepertinya di sana. Eeaa ... asal jangan sambil pegang-pegang aja.

Saat shalat di dalamnya, kebersihan cukup terjaga. Awalnya saya agak takut akan tersesat saat mencari tempat wudhu dan shalat, tapi petunjuknya cukup jelas bagi saya yang suka nyasar.

Selain bangunannya, lagi-lagi daya tarik sebuah masjid adalah beduk yang besar dan ada mushaf Alquran yang besar pula. Dan entah kenapa, kayanya lazim banget pasang jam bandul tua di masjid. Harusnya jadi barang antik, tapi kalau melihat jumlahnya di masjid ini, kok kaya bukan barang antik lagi. Banyak soalnya.

Saya tidak tahu apakah ada fungsi lain yang dilaksanakan di masjid ini. Berharap ada perpustakaan sebagai pusat kajian islam dan lain-lain sih. Kios-kios suvenirnya juga kurang variatif, ah gimana sih cara bikin suvenir, lama-lama gue bikin sendiri nih.



4.       Klenteng Sam Poo Kong
Sore akan segera datang, kami menuju tujuan terakhir. Klenteng Sam Poo Kong. Sebenarnya saya penasaran ingin melihat masjid yang dibangun oleh laksamana muslim itu di komplek klenteng tersebut.

Ketika masuk area komplek, rasanya saya tengah berada di pelataran Istana Terlarang hahaha ... mungkin kalau di Istana Terlarangnya lebih keren lagi kali ya ... Ada sekitar 5 bangunan besar berciri tionghoa di sana. Dari bangunan pertama yang sepertinya difungsikan sebagai tempat jemaat beribadah jika sedang ramai—mungkin semacam balkon VIP saat nonton balapan, saya menangkap satu bangunan paling besar dengan lafal Allah dalam tulisan arab di tepi atapnya sebagai si masjid. Masjid yang dibangun Sam Poo Kong itu memang tidak lagi difungsikan sebagai masjid, tapi dari arah bangunan tersebut yang miring sendiri, saya tahu itu masjidnya. Pada monumen Cheng Ho sendiri tidak disebutkan terkait pembangunan masjid ini, pun tidak disebutkan bahwa beliau seorang muslim yang membangun masjid dan klenteng bersisian sebagai sarana beribadah para awak kapalnya. Hmm sepertinya saya harus ke Surabaya kalau mau shalat di masjid Cheng Ho. Oh iya, ternyata lafal Allah itu bukan tulisan arab melainkan gambar naga yang meliuk. Dari jauh terlihat seperti lafal Allah, entah kebetulan entah saya saja yang sok nyambung-nyambungin hehehe, soalnya hanya ada di bangunan eks masjid itu.


Jika saya perhatikan memang ada bangunan-bangunan baru dan fasilitas seperti gerbang untuk para difabel dan orang lansia juga patung-patung baru, dan semuanya tertera pembuatnya atau sumber dananya. Kebanyakan nama-nama para konglomerat dengan latar belakang perusahaan yang sudah tidak asing lagi.


Tiga klenteng (termasuk eks masjid) itu dipisahkan oleh kolam panjang karena memang tidak bisa dimasuki langsung, harus membayar (lagi) sekitar Rp40000,- per orang kecuali bagi yang hendak beribadah. Kalau malam mungkin lebih romantis kali ya dengan banyak lampion dan lilin-lilin yang dinyalakan di dalam klenteng, atau mungkin sudah tutup hehehe ...

HTM: Rp4500,- per orang. Anak-anak GRATIS




Intermezzo
Makan Malam di Pasar Semawis
Pasar Semawis adalah semacam bazar kuliner yang diadakan setiap akhir pekan di daerah Pecinan Semarang. Bagi tempat yang menjadi salah satu tujuan wisata dan masuk dalam program Visit Semarang, aku rasa perlu ada menu halal yang jelas hehehe. Maklum lah, di sana banyak penjual masakan ayam tapi juga jual masakan babi. Jadi kami berjalan cukup dalam di sepanjang jalan Semawis, guna mencari makanan yang aman walau tidak berlabel halal. Dapatlah ayam bacem lalu kami duduk di kursi dan meja plastik diiringi bunyi-bunyi burung walet yang sepertinya bersarang di atap rumah-rumah tua di kiri-kanan jalan itu.

Lucu juga sih suasananya, mengingat saya jarang lihat yang berjilbab di sana. Ada karaokean di tenda gitu, serasa lagi di Cina daratan-ketahuan banget gue jarang ke daerah Kota. Ramai tapi tidak riuh, jadi masih bisa ngobrol-ngobrol biasa.




Itu saja ulasan wisata rumah ibadah di Semarang, sebenarnya ada lagi. Yang katanya klenteng tertinggi di Indonesia, tapi tempatnya agak jauh, sudah bukan di kota lagi. Yah sudslah. Ini juga sudah banyak. Serasa bertualang singkat dari Arab, Belanda, lalu ke Cina.

Minggu, 18 Januari 2015

HOMYnggu: Merindukan Pasar Kaget




Hari Minggu begini biasanya kami sekeluarga tidak ada jadwal jalan-jalan. Istirahat di rumah saja alias malas-malasan. Namun, seandainya di hari Sabtu kami pun sudah tidak ke mana-mana, kami sedikit mengganti acara makan pagi. Biasanya ketika suami ngopi (sekalian ‘ngasap’) di bawah, anak-anak ikut dan kami akan main lebih lama dari hari biasa. Berganti-ganti tower, mencoba berbagai jenis playset berbeda, hingga pukul 10. Nah, kalau hal ini sudah dilakukan di hari Sabtu, berarti hari Minggu adalah saatnya ke ... Pasar Kaget.


Pasar kaget Kalibata mengambil jalan mulai dari persis belokan ke arah STEKPI (sekarang namanya Universitas Trilogi) dan meneruskan cabang jalan mengelilingi komplek DPR. Pasar kaget ini semakin ramai penjual dan pembeli terutama disebabkan dengan populasi Kalibata City memang besar. Banyak yang mengajak keluarga sarapan pagi sambil jalan pagi bersama keluarga ke sana. Memang lebih enak ke sana pagi-pagi karena pasar kaget sudah kosong dan bersih ketika jam menunjukkan pukul 3 sore dan karena belum terlalu padat pengunjung—biasanya mereka makan dulu baru lihat-lihat. Namun, beberapa minggu lalu, setelah saya mengendap-endap keluar unit mumpung anak-anak masih tidur hendak menuju pasar kaget, kagetlah saya. It’s gone! Bahkan tenda-tendanya pun tak ada. Apakah karena hari itu hujan? Ah, tapi kan biasanya tenda sudah dibangun pada malam minggu.


Dengan kecewa tak membawa satu kresek plastik pun, saya tanya ke teman sekaligus tetangga. Oh rupanya sudah beberapa minggu pasar kaget tidak beroperasi bahkan lokasinya dijaga oleh Satpol PP. Kenapa oh kenapa?



Walau saya termasuk orang yang taat aturan, tapi saya kehilangan pasar kaget. Pasalnya di sana menyediakan barang-barang murah. Yah ibarat ITC pindah lah. Soalnya PGC saja masih lebih mahal daripada ITC Kuningan. Dan masih banyak barang-barang pasar. Di sini memang dekat pasar, tapi jalan ke sananya horor, ituloh motornya seliweran ga jelas. Kalau di pasar kaget kan agak steril. Dibilang agak karena suka ada saja motor (teteup ya motor) nyelip-nyelip lewat situ. Entah pedagang entah penghuni di belakang komplek DPR. Mau fashion murah meriah, ada. Kapan lagi bisa beli celana main anak-anakseharga Rp5000,-? Atau frame ala minimalis Rp10000,-? Atau Rp8000,- bisa pilih dua jenis mainan. Mau yang second juga ada. Biasanya yang bermerk. Atau bisa nemu mahasiswa buka koper sambil jualin bajunya. Hery saja, yang minimal beli baju kudu di distro, malah nyari kemeja kerja di sana. Ketemu lagi. Sedangkan untuk baju anak-anak update bingit, malah jadi susah kalau sedang mencari kaos bergambar karakter yang sedang tidak populer. Semisal, demam angry bird, di mana-mana gambar burung. Beberapa bulan kemudian berganti demam minion, pasar kaget tetiba cerah. Kuning semua, bo! Atau ketika booming Hello Kitty, pinky poll deh! Kaya sekarang nih, frozen aja lagi, susah mau cari baju cowo jadinya. Padahal nunggu tema Big Hero 6 ada kek yang nongol.


Pasar kaget sendiri sempat happening banget tahun lalu. Ketika bulan ramadhan, pasar kaget tidak hanya buka sejak minggu pagi, melainkan sejak Sabtu sore hingga Minggu sore. Sayangnya saya baru tahu beberapa hari menjelang lebaran, hahaha .... godaannya ....


Bukan hanya fashion murah dan jajanan, pasar kaget juga menyediakan hiburan lain. Ada arena bermain kecil-kecilan, mandi bola dan kereta rute mini alias muter-muter doang juga ada. Penjual ikan saja mampu menyedot kerumunan anak-anak karena mereka bisa ambil sendiri ikannya dengan tongkat jala di kolam karet ukuran kecil. Binatang juga dijual di sana, tapi saya malah ga tega lihat anak ayam dan keong diwarna-warniin. Kalau sudah sumpek di dalam pasar kaget tapi masih ingin main, nah naik delman gih. Ada yang mangkal di sana. But again, enak pagi, kalau sudah siang kasihan kudanya jadi ikutan ngantri macet.


Macet? Oh iya. Tapi bukan macet karena orang jualan di pinggir jalan, karena area jalanan protokol bersih. Hanya saja saking banyaknya yang datang, jadi ya mobil harus melambatkan laju untuk penyeberang jalan (Cuma di satu spot juga bisa nyebrangnya) dan angkot yang sengaja lelet buat ambil penumpang. Parkiran? Awalnya motor banyak diparkir di pinggir jalan, tetapi kemudian ditertibkan akhirnya semua motor harus parkir di area kosong di samping kali. Masih macet juga. Padahal ga banyak mobil parkir loh. Seperti yang saya bilang sebelumnya, pasar kaget mungkin banyak dikunjungi penghuni Kalibata City dan sekitarnya, jadi ga perlu mobil, tinggal jalan kaki (atau naik motor).


Ah, saya harap pasar kaget dibuka lagi.  Soalnya lagi menata ulang kamar anak. Mau beli walldeco stiker yang Cuma rp15000,- an itu (emang sih di pasar gembrong ada, tapi ke sana kan pakai ongkos, cuy) sama sprei anak-anak yang gambarnya lebih cepat updatenya ketimbang toko online. Hmmm ... kira-kira hari sudah buka belum, ya?


#kangen

Sabtu, 16 Agustus 2014

Hobiku Tak Lagi di Atas Kertas

Dalam suatu pertemuan, seorang pengajar memberi perintah, "bangun dan temukan orang yang telapak tangannya sama besar dengan Anda. Beri salam lalu katakan nama dan hobi Anda." PRIIIT.
Saya pun bangkit dan mulai mencari, "Halo, nama saya Melati dan hobi saya menulis."
"Halo, saya ****. Hobi saya jalan-jalan."
"Eh, saya juga suka jalan-jalan ... " mata lawan bicara saya berbinar "tapi ga pernah ..." lawan bicara saya pun kemudian terlihat seolah ketiban seember air mata.

"Gaji lo pasti gede ya, jalan-jalan ke luar negeri melulu." tukas saya suatu hari pada sahabat saya yang update statusnya selalu share foto di luar negeri. Dalam hati ingin menambahkan, kok gue ga pernah ditraktir sih?
"yah, elo, itu paket murah kali. Makanya sering-sering lihat situs AirAsia, suka ada promo. Ke Thailand bisa cuma dengan ratusan ribu."
Eh? Iya ya? Kok ga beda jauh sama harga tiket terbang domestik?

Saya memang bukan orang yang suka memantau harga tiket karena ga selalu terkoneksi internet. Lagi-lagi ini hanya alasan saya. Karena ketika saya akhirnya mem-follow twitter AirAsiaID, saya  disodorkan dengan berbagai tawaran menggiurkan. Aiiih ... Pantesan ajaaa ... Sekarang yang susah bukan cari tiket murah, tapi cari jadwal cuti =P


Mama saya pun turut kecipratan informasi ini. Maklum sejak tak lagi bisa menggunakan armada bus pilihannya menuju kampung kelahirannya di Lintau, Sumatera Barat, kondisi mama mirip seperti saya. Terkurung dalam stigma bahwa tiket pesawat itu mahal dan tiba-tiba bengong sendiri melihat adik-adiknya mondar-mandir Padang-Jakarta-Padang.

Bagi saya bisa mudik dengan harga promo AirAsia mah bukan sekadar penghematan, melainkan banyak hal yang tidak bisa diukur dengan uang. Pertama, tidak ketemu jalanan rusak khas lintas Sumatra. Kedua, ga was-was saat melewati perkebunan karet terutama saat menjelang magrib. Ketiga, saya tidak perlu membawa obat anti mual saat menghadapi rute penuh kelok dan konsisten ngebut. Penting banget itu. Apa enaknya berada dalam perjalanan yang ingatannya timbul tenggelam akibat efek mengantuk dari obat tersebut?

Ya, saya tidak pernah mabuk udara. Saya sangat menikmati terbang dengan segala turbulensinya. Merasakan keriuhan lalu lintas udara. Bergaul lebih dekat dengan awan dan alam mimpi. Tidak sabar untuk membawa anak-anak menikmati perjalanan dengan pesawat terbang untuk pertama kalinya. AirAsia yang akan jadi saksi bisunya =) Seperti seorang kakak (hanya beda 6 tahun dengan usia si sulung).

AirAsia sudah membuat sebuah kemewahan terasa kian wajib dengan harga murahnya. Kini, saya bisa patungan dengan beberapa teman untuk sebuah hadiah perkawinan seorang sahabat berupa tiket liburan ke negara tetangga. Sering terjadi, sebelum tiket gratis di tangan maka what so called continuously travelling tidak akan pernah terjadi. AirAsia menjadi pemikat sekaligus candu pun kemudian sahabat sejati saat hendak melakukan petualangan baru atau sekadar pulang.

Kini tidak ada lagi momen 'bokis' ketika SD terulang. Saat kita mengisi kolom favorit, misalnya makanan favorit, saya yakin banyak dari kita yang menuliskan berbagai jenis makanan aneh dengan selera internasional. "makanan favoritku, spageti, pizza dan burger." Ini yang lagi hits waktu saya duduk di bangku sekolah dasar. Halah, ketahuan jadulnya. Padahal sehari-hari makan semur ayam dan bayam, hehehe ... Gimana mau jadi favorit kalau hanya dimakan setahun sekali? 

Begitu pula dengan hobi. Dan bersyukur AirAsia telah menyadarkan saya bahwa jika mengaku hobi jalan-jalan ya harus sering jalan-jalan dong ^.^ Ada AirAsia ini. Ke mana-mana jadi lebih muraaah. Dan setelah sekian puluh tahun berlalu kini hobi saya tak lagi sekadar keterangan profil di atas kertas tetapi sudah mewujud menjadi cerita-cerita perjalanan dan petualangan yang mengiringinya.