Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2016

RABUku: 5 Kisah Unik dalam Kisah Hebat Nabi Muhammad SAW



Pada akhir Mei lalu, saya mendapat kesempatan menghadiri peluncuran buku Kisah Hebat Nabi Muhammad AW dan Kiah Ajaib Lainnya karya Astri Damayanti. Acara yang bertempat di function room toko Buku Gramedia Matraman ini berlangsung meriah dengan dipenuhi para blogger handal.  Tagar #kisahhebatmuhammad masuk ke lima besar di twitter pada hari itu. Dan yang paling menyenangkan bagi saya adalah ketika pulang, semua yang hadir mendapatkan buku Kisah Hebat Muhammad dan Kisah Ajaib Lainnya.  Yeay, serasa lagi di acara bincang Oprah ^^

Jadi begitu pulang anak-anak semangat minta diceritakan. Sungguh perbekalan yang pas di bulan ramadhan.
Bagaimana tidak, buku setebal 265 ini memuat 87 kisah-kisah islami yang semuanya diberi ilustrasi full colour yang menarik bagi anak-anak. Penceritaannya pun terasa luwes di lidah yang membacakan. Terkadang kita menemukan buku islami yang terjebak dalam bahasa hadits sehingga sulit mengalir dengan luwes saat dibaca. Lalu apa yang membedakan buku ini dari yang lainnya? Ada 5 yang unik yang saya temukan.

1. Kisah  Kenabian yang jarang Diungkap
Saat masuk ke toko buku dan hendak mencari buku-buku tentang nabi, saya seringkali merasa terjebak karena temanya itu lagi, itu lagi. Oleh karena ada banyak kisah dalam buku ini, maka ada banyak kisah-kisah yang jarang didengar. Seperti misalnya tentang Nabi Sulaiman dan semut. Jika berbicara tentang Nabi Sulaiman dan semut, pastilah semua akan teringat tentang Nabi Sulaiman yang menghentikan derap tentaranya karena ada kawanan semut hendak melintas. Well, ternyata kisah Nabi Sulaiman dan semut ini tidak berhenti sampai di situ. Ada tentang semut yang berdoa memohon diturunkannya hujan, dan ada tentang semut yang dimasukkan dalam botol bersama sebutir gandum pemberian Nabi Sulaiman.

Lalu ada lagi kisah yang menarik, yaitu Nasihat Setan pada Nabi Musa AS. Jika selama ini banyak kisah yang memunculkan setan sebagai sosok yang penuh muslihat dan sangat berdedikasi dalam mewujudkan misinya menjatuhkan anak cucu Adam sebanyak-banyaknya ke neraka, pada kisah ini si setan muncul agak berbeda. Penasaran?

2. Kisah Nabi yang di luar 25 Nabi yang Wajib Diketahui
Tentunya kita tahu bahwa ada banyak nabi yang diturunkan sebelum diakhiri oleh Rasulullah. Dan beberapa di antara mereka ada yang disebutkan dalam alQuran atau dalam hadits. Seperti misalnya Nabi Uzair as dan Nabi Danial as. Oleh karena kebanyakan buku berkutat pada ke-25 Nabi yang wajib diketahui, mendapatkan kisah dari nabi-nabi lain itu terasa seperti bonus.

3. Kisah Para Sahabat
Tidak hanya para nabi yang diangkat ceritanya dalam buku ini. Melainkan juga para sahabat dan tokoh islam terkemuka lainnya seperti Khalifah Umar dengan kisah tentang kepemimpinannya yang bersahaja dan Shalahuddin yang walau berkuasa tapi tak sungkan memberikan pengampunan pada musuh-musuhnya.  Kisah ini menjadi pemicu koreksi bagi diri sendiri karena tak bisa lagi berkilah bahwa hanya para Nabi lah yang bisa shaleh.

4. Sudut pandang dari Binatang
Berawal dari pengalamannya membacakan kisah-kisah Nabi pada para keponakannya, Mba Astri Damayanti kemudian melakukan improvisasi yaitu dengan mengubah sudut pandang agar ceritanya menjadi lebih menarik. Tentu saja, pada saat penyusunan buku ini ada seorang editor yang membantu menjaga penceritaan tersebut tetap pada jalurnya dan terlebih lagi diambil dari sumber yang shahih.

Ada beberapa kisah yang mengambil binatang sebagai bintang utamanya. Seperti misalanya paus yang ‘memakan’ Nabi Yunus. Sejatinya paus ini tidaklah memakan Nabi Yunus as melainkan menyelamatkannya. Paus ini bahkan berpuasa 40 hari demi mengamankan Nabi Yunus dalam perutnya sebelum akhirnya didaratkan di sebuah pulau.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam memang bukan hanya agama bagi umat manusia melainkan seluruh alam semesta bahkan binatang sekalipun.

5. Kisah Tiga Halaman
Bukan, ini bukan nama judul. Melainkan setiap kisah konsisten hanya ada tiga halaman. Which is good buat saya karena memiliki tiga anak dengan kesukaan yang berbeda-beda tapi menuntut pembagian yang adil. Terkadang sebelum saya menemukan buku ini, anak-anak mengambil buku kenabian dari berbagai referensi yang jika berbeda maka berbeda pula jumlah halamannya sehingga akhirnya ada yang iri dan sebagainya. Drama deeh. Nah, dengan buku ini semuanya mendapatkan bagian yang sama. Jadi tidak banyak buku bertebaran di kasur juga hehehe ....


Buku ini menyelamatkan saya dari mati gaya setelah anak libur sekolah dan menjalani puasa sepenuhnya di rumah. Bagi anak yang belum bisa membaca, dia akan memilih berdasarkan ilustrasinya. Ada banyak ilustrasi yang melekat di kepalanya sehingga saya jadi bingung harus mencari kisah yang mana yang dimaksudkannya. Satu kekurangan buku ini adalah kisahnya tidak diklasifikasikan berdasarkan tema tertentu. Ini menurut saya yang sangat suka memanfaatkan daftar isi lebih dari sekadar daftar judul melainkan juga rangka penceritaan.

Bagaimanapun, buku ini berhasil menunaikan misinya sebagai buku yang praktis bagi orangtua yang ingin memberikan pengetahuan kenabian dalam satu buku. Praktis di kantung, praktis di rak.


Bagi orangtua yang ingin membeli tapi sudah rempong urusan buka puasa, Buku Kisah Hebat Nabi Muhammad SAW dan Kisah Ajaib Lainnya ini dapat dibeli di MatahariMall.com


Sabtu, 08 Maret 2014

para orangtua, mari jaga perilaku kita

Masih bicara soal tindak kriminal yang melibatkan tiga remaja jelang usia dua puluh alias sembilan belas tahun. Saat membaca ada bocah bunuh bocah, kita mungkin berpikir bocah ini termakan tontonan dan otaknya belum paham. Tapi kalau remaja yang baru masuk kuliah dibunuh sama mantan pacar dan sesama teman SMAnya ini namanya apa ya?

Selain isu pengasuhan orangtua yang kemudian makin gencar ditekankan setelah ada kejadian ini, ada satu fakta menarik. Rupanya si mantan pacar yang mengajak pacarnya bunuh si korban @adesara, adalah anak dari seorang dokter yang terlibat kasus aborsi. Selama dua belas tahun praktik, si dokter ini telah menerima pesanan aborsi selama empat tahun. Dokter ini sudah dihukum penjara. Tapi dengan sangat sedih hati, saya terpaksa berbisik, buah tak jatuh jauh dari pohonnya.

"wahai laki-laki berhati-hatilah akan tindakanmu. Istri dan anak-anakmu akan menanggung derita seumur hidupnya." itu kalimat penggalan dari novel Athirah. Diucapkan oleh si pemeran utama, Athirah, alias ibunda Jusuf Kalla.

Dari kalimat ini, saya ingin melebarkan kata 'laki-laki' menjadi orangtua. Saya teringat suatu kali ayah saya berujar usai melihat pemberitaan sadis di televisi. "Nenek moyang kita adalah orang-orang saleh. Penyebar agama. Doa-doanya makbul. Oleh karenanya kita masih diselamatkan dari segala tindakan mengerikan yang ada di dunia." Kalimat ini terasa bersayap di kepala saya. Saya ingat betapa papa saya adalah penggila ibadah. Sangat takut neraka. Oleh sebab itu sempat ada masanya papa sangat marah dengan perbuatan kita dan kemudian berdalih bahwa dia akan masuk neraka karena perbuatan kita.

Sepertinya dia sendiri menyadari posisinya sebagai penerus laki-laki dari para nenek moyang itu. Dan itu sudah dia emban sejak ayahnya diculik gerombolan DI/TII saat usianya empat tahun. Dia sudah diajarkan akhlak, tauhid, fikih sebelum usianya tujuh tahun. Bukan didikan pesantren loh, tapi lingkungan keluarga di Aceh saat itu masih sangat kental agamanya, jika tidak mau disebut keras =).

Saya merasa ucapan papa ada benarnya. Yah, papa saya tidak sempurna. Jika mama sangat bekerja keras menyelamatkan keluarganya dari miskin harta, papa sibuk menyelamatkan keluarganya dari miskin iman. Duo dinamit. Berada di antara keduanya, benar-benar terasa seperti sedang berada di kamp konsentrasi. Toh pada akhirnya ucapan merekalah yang banyak saya kutip ketika saya berkeluarga. Dan kini setelah berkeluarga saya merasa berada semakin maju sebagai generasi yang harus banyak berdoa untuk generasi selanjutnya yang akan datang. Inilah investasi yang sudah diajarkan Allah. Memang ada bisnis yang bisa diwariskan, tetapi doa yang diwariskan turun temurun jauh lebih berharga.

Dengan segala yang dapat terjadi di dunia ini, saya merasa harus mengingatkan diri untuk banyak-banyak berdoa. Seperti kata salah satu teman, "Anak itu harus dikekepin. Kekepin doa." Dan seperti yang sering ditekankan dalam alQuran dan hadits bahwa ibadah itu bukan sekadar ritual, bukan sekadar diucap, tapi juga diimani. Sebagai orangtua, saya harus benar-benar menjaga tindak laku saya di depan atau di belakang anak-anak. Tidak ada lagi dualisme kepribadian. Ga boleh galau lagi.

Saya juga terpaksa sering-sering 'menyentil'
suami (kata 'terpaksa' digunakan karena konon kita tidak boleh berusaha mengubah suami) dari perilaku dan berteman. Saya selalu kritisi pemilihan dvd yang dia beli karena selalu berisi soal kehidupan narkoba dan seks. Percakapan cowok-cowok di bbm yang melibatkan share foto cewek-cewek seksi dengan judul 'Pembantu Seksi'. Walau ngakunya tidak turut ambil bagian dalam percakapan tersebut, saya tekankan foto-foto itu sudah harus lenyap sebelum masuk ke rumah. Dan last but not least menambah perbendaharaan ibadah dalam keseharian.

Saya sadar tabungan doa ini mungkin jumlahnya sama sedikitnya dengan rekening saya. Semoga Allah memanjangkan usia saya dengan berkah untuk berdoa. Karena sempurna hanya milik Allah. Dan semoga Allah senantiasa melindungi generasi kita dari bahaya dan bencana.

Minggu, 23 Februari 2014

Belajar Rendah Hati dari Guru

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, anak mama, Dara dan Ati. Mama bersyukur kepada Allah dan berterima kasih atas bantuan kalian pada Sabtu. Semoga Allah membalas perbuatan kalian berlipat ganda dan terima kasih pada suami-suami kalian."

Ini isi sms dari mama saya malam ini. Dua puluh lima tahun yang lalu, saya tidak terpikir bahwa ibu saya akan sanggup mengatakan hal semacam ini pada anak-anaknya. Apa pasal?

Dalam lima bulan belakangan kedua orangtua saya yang selalu saya ceritakan sebagai sosok otoriter saat kecil, menunjukkan aksi dan reaksi yang tidak saya sangka akan mereka lakukan. Maklum, saking otoriternya, kami bersaudara sudah biasa melakoni monolog dengan tema "apa yang akan mama/papa katakan". Saking sudah ketebaknya.

Dan ucapan 'terima kasih' yang ditulis khusus itu juga terlihat istimewa karena Mama nyaris tidak pernah mengatakannya. Atau mungkin sudah pernah, hanya saja kenangan lain menimpanya. Saya dibesarkan dengan doktrin, ANAK HARUS MEMBALASBUDI KE ORANGTUANYA DAN SEJATINYA AMALAN ORANGTUA PADA ANAKNYA TAK TERBALAS. Saya dulu speechless mendengarnya, malah jadi sewot, "maksud lo, gue jadi budak?"

Lalu saya memutar balik ingatan saya perlahan. Mencari tahu kapankah titik balik ini terjadi. Satu hal yang pasti adalah dipicu ketika papa saya berhenti bekerja sedangkan mama sudah mendekati masa pensiun dan masih ada saya, si bungsu, yang hendak masuk SMU. Mungkin di sini masa klimaksnya.

Saat itu saya baru melihat mama mengucap alhamdulillah pada beberapa lembar uang lima ribuan yang dia terima usai mengantar susu kedelai buatan sendiri pada rekan-rekannya di bekas kantornya (mencari sepeser uang yang kemudian bahkan saya teruskan ketik saya bekerja). Padahal belum lama berlalu, mama adalah peraih gaji tertinggi di antara rekan-rekannya itu. Seorang kepala perawat yang disegani puluhan anak buahnya, dihormati para dokter.

You know, mengucap hamdalah itu memerlukan kerendahan hati loh. Jadi, saat itu saya merasa itu agak berbeda dari pencitraan mama selama ini.

Lalu kemudian, hal-hal remeh temeh yang tidak terduga mulai muncul di kedua orangtua saya. Saya jadi penasaran.

Dan setelah melakukan 'riset-risetan', saya tiba di sebuah kesimpulan, bahwa citra 'rendah hati' ini muncul dan awet karena kedua orangtua saya mulai ikut pengajian.

Sebelum berhenti kerja pun sebenarnya mereka sudah ikut pengajian, terutama papa. Namun, hasilnya dulu lebih terlihat negatif di saya. Bisa jadi itu karena posisi yang mereka sandang berdampingan dengan status orangtua dari empat anak.

Seperti saya saat ini. Well, minus jabatan. Sebagai orangtua, saya mau tak mau harus jadi orang yang paling-paling. Kan, katanya ibu adalah sumber ilmu pengetahuan pertama. Namun, saya kok merasa, jika saya terus mempertahankan status saya ini, saya akan lupa diri. Dan ketika sudah lupa diri, siapa yang akan tahu akan jadi apa anak-anak saya nanti.

Ikut pengajian dengan seorang guru (yang benar) memang dianjurkan. Malah kalau perlu beberapa guru, untuk memperluas wawasan. Apalagi orang-orang tua seperti mama papa saya tidak terpapar berita setiap detiknya.
Guru menjadikan mereka rendah diri. Berbeda dengan atasan yang selalu meminta kinerja maksimal dan merasa bahwa semua uang yang telah mereka berikan adalah impas. Toh, ternyata tidak. Seorang guru sejati terlihat lebih banyak memberi dengan ilmunya ketimbang infak yang kita berikan padanya. Apalah lagi seorang guru agama.

Yah, memang siy ada masa-masa noraknya. Ingatkah kita sewaktu SD, semua perkataan guru kita dipatuhi sekali, walau orangtua sebenarnya juga mengatakan hal yang sama. "kata bu guru .... " Rasanya bangga bukan main jika berlaku seperti yang diajarkan guru kita.

Seperti mama sekarang. Masuk semua
perkataan ustad-ustad yang terutama muncul di radio suka ga jelas. Itu loh, yang semua dikaitkan dengan isu agama. Yah, macam itu lah. Dan jika saya balas, mama akan menganggap saya tidak agamis. Saya sudah tidak heran, papa dulu juga begitu. Beliau paling hapal di mana cari ATM pahala.

Hehehe, saya mungkin merasa geli melihat orangtua saya, bisa jadi di luar sana ada yang menertawakan saya pula karena imannya masih cetek tapi sok belagu.

Ya saya menikmati semua prosesnya saja. Dan semoga kedua orangtua saya mendapatkan usia yang sarat berkah dan Allah selalu melindungi setiap napas mereka dari bisikan setan.