Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2020

Social Distance Kawanan Dino di Hunian 36m2



Terhitung sejak Senin, 16 Maret 2020, baik anak-anak dan suami mengikuti anjuran Guberbur DKI dengan melakukan social distancing terkait meningkatnya status penyebaran Covid-19 menjadi pandemi. Work From Home dan Home Learning. Begitu bahasa kerennya. Alias apa-apa #dirumahsaja. Sebagai seorang ibu rumah tangga, hal ini bukan situasi baru, maklum masih punya anak kecil yang belum sekolah. Jaga kandang dah jadi pekerjaan utama saya. Belum lagi, saya pun termasuk introvert. Maka kerja di rumah (yang berduit maupun ga), olahraga via youtube, bikin konten di rumah, dah lazim ada di jadwal saya. Namun, rupanya tidak membuat saya jadi lebih mudah menghadapi semua ini.

Karena ini bukan liburan. Ketika anak bebas main game di ponsel, nonton sampai belekan, main di luar sampai dekil, atau ke mal hingga duit habis. No. It’s not like that. School from home artinya ada tugas yang disampaikan gurunya. Ada tahfidz yang kemudian jadi dilakukan via online.
Hari pertama, ketika semua masih kagok. Para orangtua lintangpukang. Koordinasi sana-sini. Dokumentasi, lalu share ke nomor yang terkait. Belum lagi anaknya bertingkah karena merasa tengah liburan. Yang dari pagi dah nagih soal, tapi karena belum ada dia jadi main dulu hingga siang. Dan begitu siang, sudah ga mood. Akhirnya butuh 3 jam untuk menyelesaikan 20 soal. Semua usaha ini dikalikan dengan jumlah anak. Itu pun masih ditambah, pertengkaran rutin para kawanan dino. Hasilnya? Senewen tingkat tinggi. Kepala saya pening, mata berkunang-kunang saat magrib menjelang.



Hari kedua, sudah ada jadwal. Disesuaikan dengan jam sekolah. Akhirnya dua ponsel saya jadi bermanfaat. Tadinya hanya satu yang diaktifkan, tapi karena masing-masing anak dapat tugas yang terkadang berupa soal baru yang tidak ada di buku, jadi yah masing-masing pegang, kecuali saya. Ketergantungan saya pada gawai diuji nih. Dari pukul 7 hingga pukul 12. Rupanya penjadwalan ini, membuat anak laki-laki saya kewalahan. Padahal di sekolah toh sama saja muatannya, entah kenapa motivasi berkurang. Mungkin karena tidak ada faktor main di lapangan, jajan di kantin ... Jadinya begitu pukul 11, dia mulai meraung-raung ga jelas. Cuma gara-gara tidak bisa jawab soal, yang dia dah tidak punya hati untuk berpikir jernih pun melihat di buku pelajarannya. Aksi ngambek yang dimulai dari pagi ini dan berlanjut ke siang ini, muncul lagi jelang sore. Akhirnya sesi tahfidz yang biasanya video call dan saya dampingi, saya lepas saja. Terserah deh hasilnya bagaimana. Hasil akhir? Entahlah ...


Hari ketiga, seperti hari kedua. Si kakak sudah bisa mengikuti ritme. Pagi-pagi mengerjakan soal di lorong hingga Om OB datang untuk bersih-bersih. Sebelum zuhur sudah rampung, meski dia ga harus menyetorkan foto kegiatan hari itu. Sementara si anak tengah, dan lagi-lagi anak laki, masih meneruskan mode berulahnya. Tugas dari sekolah sudah mulai bervariasi. Hari itu ada pelajaran agama yang diminta menyerahkan foto dan video saat tengah melaksanakan shalat dhuha dan fardhu. Meski dengan protes sana-sini, “kenapa harus difotoooooo!” akhirnya terlaksana juga tapi Amy ga sempat bikin background rapi. Ya sudah lah, biarin kelihatan jemuran bajunya. Ternyata tidak hanya itu tugas agamanya. Satu lagi, diminta membuat list perbuatan baik di rumah. Nah loh. Anaknya lagi rese begini. Alhasil, hingga jelang pukul 8, saya belum bisa kirim laporan, karena memang belum ada perbuatan baiknya. Wong, bikin kesel melulu. Ya sudah, saya serahkan pada si anak silahkan berasumsi sendiri, apa perbuatan baiknya hari ini. Ditulisnya, “mengambil selotip untuk Amy”. Iye, itu doang yang dia kerjain!!!! (breath in, breath out).



Hari keempat, setelah amukan pol Amy di hari Rabu, saya agak lelah kalau harus ngegas juga hari Kamis ini. Syukurnya gurunya kian kreatif memberikan tugas, dibagikannya video yang kemudian saya balas dengan permintaan voice note dari dirinya. Untuk mengobati rindu anak-anak muridnya. Well, actually, saya yang rindu mengirim anak-anak ke sekolah. Berasa ga sih kalau rasanya kurang berterimakasih pada guru-guru anak-anak kita? Hari ini edisi baper bin mellow lah. Saya pikir variasi tugas dari gurunya akan bikin anaknya lebih semangat. Eh mulai lagi dong tantrum ... kali ini bukan karena susah, tapi karena menurut si anak laki, terlalu banyak soal yang harus disalin sementara waktu sudah menunjukkan pukul 12. Setelah beberapa menit mendengar dia meraung-raung, saya putuskan mendekatinya. Elus-elus dadanya, tanya masalahnya apa. Yak, ilmu parenting Cuma bisa dilaksanakan kalau ortunya juga lagi waras. Kalau lagi ga, mending di kamar aja deh. Anyway, dalam derai airmatanya, si anak laki berucap, “buat apa aku terusin lagi, sudah jam 12!! Nanti ga dinilai lagi!!” Yaelah, anak cowo drama.

Lalu saya kirim pesan ke gurunya. Gurunya bilang akan menunggu, lalu menambahkan, “di sekolah juga tulisnya banyak tapi selesai.” Dan anaknya kemudian tenang sendiri dan mulai melanjutkan tugasnya. 30 menit kemudian, selesai. Eh tapi itu belum selesai, ada tugas PJOK. Saya pikir disuruh kirim video senam, rupanya diminta mengirimkan foto Perbuatan Menjaga Kebersihan di Rumah. Here we go again. Eh tapi rupanya si anak cowo malah semangat ketika diminta lap lemari buku dan difoto saat membereskan mainan- dengan catatan yang difoto pas taruh kotak mainannya, bukan lagi beberesnya. Malu rupanya dia kalau aib kamar kaya kapal pecah gara-gara dia tebar mainan terumbar bahkan viral di media sosial ^^. Urusan tahfidz juga lumayan. Dia jadi belajar menggunakan fitur mengakhiri video (iye, itu kali-kali pertama kawanan dino menggunakan fitur video call secara intens), mematikan suara alias mute saat group video call dan sekarang belajar menggunakan voice note.

Yap hari ini, hari kelima, ada satu pertanyaan yang diminta gurunya disampaikan via voice note. Harus tepuk tanganlah buat walikelas si anak cowo ini. Karena kalau di sekolah negeri kan yah tergantung kapasitas dan kreativitas gurunya supaya ga monoton kirim-kirim tugas untuk muridnya. Harus dijaga interaksinya. Mengingat belum tentu semua anak bisa diajak kumpul via zoom atau google classroom. Pagi ini, guru agamanya mengirimkan voice note agar setiap anak melakukan tadarus pagi. Pembiasaan yang memang dilakukan setiap Jumat. Mana harus difoto pulak. Anak cewe ribet harus pakai kerudung dan ganti celana panjang dan didobel jaket. Maklum belum pada mandi. Dan anak cowo (yes, dia lagi) ngambek karena terpaksa menghentikan tontonannya, Harry Potter and the Sorcerer Stone untuk ke sekian juta kalinya. Akhirnya tadarus sambil pangku alQuran tapi ditutup lalu lama-lama tiduran. Yeah, tadarusnya di luar kepala. Malah saya yang dikoreksi sama dia. But guess what, sekarang pukul 9 pagi, dan dia sudah selesai semua tugasnya. Mungkin karena lebih sedikit dan karena senang dengan salah satu latihan yang pakai google form, juga karena Harry Potter maraton di TV ... yah sudahlah.

Sehari-hari memang nyaris tidak berubah. Saya tetap membangunkan mereka saat subuh dan masih memberi kesempatan bagi mereka main di luar selama 30 menit karena aslinya mereka anak outdoor. Sementara bapaknya, meski judulnya work from home, lebih tepatnya bagi dia adalah work from coffee shop karena kayanya sulit bagi dia kerja kalau digelayutin sama kawanan dino. Sementara saya, yah porsi masak saya jadi banyak sih. Belum lagi diminta suami agak ngestok makanan sebelum harga naik. Kulkas saya yang biasanya isinya kembang es aja, jadi penuh, tumben. Walaupun kepadatan makanan ini sebenarnya akan habis dalam dua minggu, tapi setidaknya ga harus belanja setiap hari. Tapi tiap hari ada aja sih yang perlu dibeli, batere komporlah, roti lah, selai lah, sayur lah. Yah intinya dilakukan pagi-pagi banget biar ga ketemu banyak orang, belanja cepet-cepet, langsung pulang. Ga pakai selfie-selfie ... ^^

Semoga semakin hari kami semakin baik. Begitu juga bumi.


Jumat, 18 Januari 2019

(Seandainya) Liburan Akhir Tahun bareng Laptop ASUS Zenbook




Akhir tahun terjemahannya dah selesai ya ... Tulis kawan sekaligus pengorder saya.
Siaap. Jawab saya yakin karena liburan akhir tahun memang akan dijalani dengan paket hemat alias tidak ke mana-mana. Jadi saya bisa lah liburan sambil kerja, kan ada suami yang libur juga. Gampang lah. Eh ternyata, yang namanya drama liburan memang tidak pernah absen. Membuat saya berkali-kali menghela napas berat ... seandainya liburannya bareng  ASUS ZenBook S.

1. Bengong di pantai. Akhirnya keluar rumah juga, liburan ke Ancol karena si anak cowo satu-satunya mau lihat lumba-lumba. Sudah dari pagi kami berangkat, hari sudah menjelang sore tapi anak3 masih betah berkutat di Ocean Dream Samudera.

“Katanya mau ke pantai?” saya mengingatkan untuk ke sekian kalinya. Kaki sudah pegal bolak balik ke sana-sini.
“Sebentar lagi magrib loh, ga bisa main air.” Barulah mereka berat hati melangkahkan kaki ke Beach Pool Ancol. Setelah sok tahu mau jalan kaki tapi kok ga nyampe-nyampe, barulah kami naik shelter bus. Sesampainya di sana, anak3 langsung dong ganti outfit, suami ke pos peminjaman tikar gratis, dan begitu tikar tergelar, hanya saya yang duduk di tepi pantai. Dan tugas saya sebagai penjaga tas pun dimulai.

Kalau ingat deadline jadi tidak bisa santai walau sudah di pantai

Awalnya masih santai sambil meluruskan kaki. Menyesap teh dengan gelas kaleng yang dibawa sendiri. Selfie-selfie ... dan tak lama mulai mati gaya. Jadi teringat deadline terjemah yang ditinggal di rumah. Ah, harusnya bisa nih sambil nyicil, karena pasti nanti pulang dari sini maunya tidur. Tapi sengaja ga dibawa karena bawaan piknik kita pun berat. Maklum, tidak punya kendaraan pribadi dan karena mau liburan hemat, makanan untuk dua sesi (dan untuk 5 orang) pun nenteng dari rumah. Masa pakai bawa laptop segala? Berat atuh ... kecuali .... kalau pakai ASUS ZenBook S.

Wahai ZenBook sebenarnya dirimu laptop impian atau tubuh impian?

Beratnya hanya 1 kg atau setara 8 ikan lele, dengan ketebalan 12,9 mm alias 1 cm lebih dikit. Kompak banget, kan? Jadi kalau mau dibawa ke mana-mana, tidak perlu mikir dua kali, langsung saja diangkut.  Belum lagi, ZenBook S dapat dioperasikan di cuaca ekstrem mulai dari 0 derajat Celcius hingga 40 derajat Celcius. Jadi, kalau panas-panasan di pantai juga tidak masalah, kan sudah punya kipas kaca kristal cair yang membuat proses pendinginan efisien dan tenang.

Sedang mengingat-ingat kerjaan dan ZenBook S, datanglah si bungsu. “Mau popmie.” Ah ya, sebanyak apa pun makanan yang dibawa, pasti habis dan buntutnya minta popmie juga ^^


2. Mondar-mandir di playground. Liburan waktu itu hampir usai. Mulai resah dan mati gaya, akhirnya memutuskan untuk playdate bareng tetangga. Judulnya tetap murah meriah. Ke planetarium jam 11 dah penuh dong akhirnya melipir ke Pejaten Village menuju area playground. Saya pikir anak-anak yang dominan usia 9 tahun ini sudah tidak terlalu antusias lah main di sini, eh ternyata betah loh mereka.

Si eneng lagi main rumah-rumahan. Entah kapan bosannya. Ami sudah mati gaya ... 

 Saya yang gelisah. Mondar-mandir di playground, foto sana-sini, tapi rasanya masih jauh dari berakhir. Dan saya pun bergabung dengan para orangtua yang sudah lebih mirip boneka tidak terpakai. Teronggok di pojokan.

 Lagi-lagi teringat deadline terjemah saya yang perkembangannya melambat parah selama liburan ini. Harusnya bisa bawa laptop, tapi saya baru saja mengerjakannya hingga pagi dan mendadak dihubungi tetangga buat playdate. Ya buru-buru deh sehingga lupa mengecharge laptop yang sudah berkurang kapasitasnya itu. Kan percuma juga sudah ditenteng berat-berat tapi langsung mati dalam waktu kurang dari satu jam.

Beda memang dengan ASUS ZenBook Syang menggunakan baterai berkapasitas tinggi. Hanya dalam waktu 49 menit, ZenBook S bisa terisi kapasitasnya hingga 60%. Kemampuan daya tahan baterainya juga bisa mencapai 13,5 jam dari kapasitas sempurna. Jadi tidak ketemu colokan dalam waktu lama, tidak akan gelisah. Kerja bisa lebih lama, tapi hanya butuh sekejap untuk mengecas.


3. Me time yang jadi our time.
Ami di mana.
Message dari nomor suami, yang pasti dari anak-anak saya. Padahal saya baru saja duduk di coffee shop untuk mengambil jatah me time sekaligus mengerjakan terjemahan.

Sigh, saya menghela napas dan akhirnya memberitahukan posisi saya. Dan benar saja, sekumpulan anak-anak yang masih belekan dan pasti belum mandi menghampiri saya . Buyar sudah harapan untuk mengerjakan naskah. Ketiga pasang mata anak-anak itu sudah berbinar karena tahu wifi di coffee shop itu kencang. Jadi mereka sudah mengincar nonton Youtube sampai puas yang memang menjadi privilege mereka selama liburan atau sekadar mengetik cerita. Saya minta waktu 30 menit pada mereka, lumayan lah bisa sedikit mencicil, daripada tidak ada. Setelah itu, saya alihkan laptop saya ke mereka.

Ketimbang ke warung kopi saja diikutin. Demi apa?Demi laptop dan free wi-fi.

Pertengkaran sudah dimulai dari sejak layar itu menghadap mereka. Perihal suara kurang jelas lah, merasa kesempitan ketika menonton bertiga, tombol yang kurang sensitif, dan masih banyak keluhan terkait laptop saya yang sudah berumur ini.

Melayanglah ingatan saya ke ASUS ZenBook S. Layar NanoEdge ultra-high yang dimilikinya pasti akan membuat anak-anak bahkan saya terpesona dengan warna dan detail hidupnya. Belum lagi kemampuan audionya. Dengan bekerja sama dengan Golden Ear menghasilkan ZenBook S dengan dua speaker stereo berkualitas tinggi, juga efek surround system yang membuat nonton streaming laiknya nonton bioskop!

Pertengkaran itu akhirnya reda juga setelah sekumpulan makanan dan minuman tersaji di meja. Me time saya secara resmi menjadi our time dengan segala keterbatasannya. Angan saya masih melayang ... someday, kids, someday ....


4. Di rumah saja. Yass, akhirnya bisa konsentrasi mengetik terjemah di rumah. Sambil goler-goler di kasur, nikmatnya. Anak-anak juga lagi kooperatif, mereka sibuk main bertiga dan lagi mereka baru dapat buku baru jadi anteng. Kadang-kadang si bungsu menghampiri saya minta diladeni. Karena pikiran saya lagi fresh, jadi saya membacakan sedikit kalimat di bukunya sambil mengetik.

Saya lebih suka bekerja di ruangan terpisah dengan anak-anak, karena selalu saja ada insiden jika anak-anak dan laptop berada dalam satu ruangan. Oleh karena keterbatasan ruang, saya memang banyak mengerjakan laptop di kasur, tapi begitu anak-anak datang jika tidak segera disingkirkan bisa berubah menjadi malapetaka. Ya laptop ketiban lah, ketendang lah, terinjak, pokoknya teraniaya. Kan beda dengan ZenBook S yang sudah masuk standarisasi militer MIL-STD 810 G dengan menjalani serangkaian uji coba ekstrem, seperti: uji coba buka dan tutup hingga 20000 kali, dibanting ke lantai kayu dalam berbagai posisi, tes getaran untuk teknologi High G-Shock, bahkan colokan port-nya pun diuji hingga 5000 kali. Hal ini menjadikan ZenBook S tangguh. Jadi kalau tidak sengaja terinjak anak-anak, saya pasti tidak histeris, karena mampu menahan hingga tekanan 25 kg.

Mendambakan kehidupan freelancer dengan laptop zenbook gaya seperti ini


Ketika laptop mulai lelah, saya matikan sambil dibiarkan di-charge di pinggir kasur. Sementara saya menikmati rebahan sambil menatap langit dari jendela. Si bungsu datang lagi, kali ini bawaannya lebih banyak, sehingga dia harus manjat miring ke kasur dan tahu-tahu ... BRAKK! Saya bangkit karena mendadak yakin apa yang jatuh. Dan segera saja temperatur saya naik macam Kak Ros saat gemas dengan adik-adiknya. Sialnya, adalah si bungsu yang kena, dan kebetulan yang paling sensitif. Seketika dia pun menangis drama, padahal saya baru berubah jadi monster level 2. Saya pun pause dan meraih kembali laptop yang sudah terbalik di lantai. Memeriksanya dari sudut ke sudut. Sudah dua sudut gompal di situ entah sejak kapan. Meraba keseluruhannya dengan perih, aduuuh semoga masih bisa dinyalakan.

Jadi bingung, lebih pilu lihat laptop jatuh atau anak nangis?

Saya coba nyalakan sambil harap-harap cemas. Berharap terjadi keajaiban ketika laptop saya berubah menjadi ASUS ZenBook S. Si bungsu masih menangis menatap jendela. Setelah menunggu beberapa saat, alhamdulillah, menyala dengan baik. Lalu, saya tengok ke kanan, si bungsu sudah tertidur. Ah, maafkan ami, ya nak.
 
Terjemahannya akhirnya selesai dengan selamat. Walau gedebrak-gedubruk. Yah, liburan kami memang tidak sempurna, cenderung terlalu sederhana. Kawan-kawan anak saya bahkan menganggap liburan kami tidak menarik.

Berenang saja, cari yang gratisan, tapi tetap saja deadline ditinggal di rumah


“Kamu sedih ga dibilang gitu sama teman-teman?” tanya saya pada si anak tengah yang baru saja bercerita tentang perlakuan teman-temannya setelah mengetahui dia tidak berlibur ke tempat yang jauh.
“Ga. Yang penting aku senang kemarin.” Jawabnya enteng.

Ternyata saya yang harus belajar dari mereka. Bisa liburan dengan hati enteng, ga terbayang-bayang deadline yang terkatung-katung. Fix, 2019 harus ganti ASUS. Biar tidak hanya kerjaan bisa selesai lebih cepat, tapi juga bisa menjadi salah satu sumber kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak semasa liburan. Aamiin, yes?

Kamis, 19 April 2018

KAMYStory: Menjelaskan ke Anak tentang Alkohol



Pagi itu selepas shalat subuh, terdengar bunyi dentingan lift. Lamat-lamat terdengar orang yang keluar dari lift mendekat ke arah lift. Ada beberapa orang, salah satu di antara tersedu-sedu. Lalu pintu unit dibuka. Rupanya tetangga yang mengontrak di depan unit. Tak perlu waktu lama, sedu-sedu itu berubah menjadi raungan. Saya dan Malika saling menatap tanpa bicara. Berusaha abai, fokus ke tugas masing-masing. Raungan yang kian menjadi itu kemudian berubah menjadi ...
HOEEEEK! HOOOEEEK!
Ada yang muntah.
D*mn


Jika bicara tentang alkohol, maka bisa dikatakan toleransi saya nol. Bukan dalam artian saya tidak kuat mabuk, tapi it’s a big no no for me. Masa lalu saya memang ada kenakalan yang saya lakukan, tapi yang berkaitan dengan mabuk, saya jauh-jauh. Ga mabuk saja sudah bandel, apalagi kalau mabuk.


Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal ini. Pertama, pengalaman saya mendapatkan beberapa pelecehan seksual oleh beberapa orang sewaktu saya kecil, membuat saya memasang alarm-alarm untuk beberapa hal yang mengingatkan saya tentang peristiwa itu. Salah satunya adalah alkohol, karena beberapa dari pelaku memang punya kebiasaan minum-minuman keras, walau saat mereka melakukan hal ‘itu’ pada saya mereka tidak dalam keadaan mabuk. Hal ini mengacu pada pembelaan orang-orang yang berkata bahwa mereka adalah peminum yang bertanggungjawab. Tetap bersahaja bagaimanapun keadaannya. Whatsoever. Buat saya, itu pepesan kosong.


Kedua, saya cocok dengan kisah seorang pemuda alim yang dijebak oleh seorang wanita. “Aku memberimu tiga pilihan untuk kau bisa keluar dari rumah ini, kau gauli aku, kau bunuh anak ini, atau kau minum khamr,” kata si wanita itu. Dan singkat cerita, si pemuda alim memilih meminum khamr karena mempertimbangkan hanya dia sendiri yang akan menanggung akibatnya. Ternyata dia berakhir melakukan ketiga pilihan tersebut.


Ketiga, suami saya memiliki sejarah persahabatan panjang dengan alkohol. Dan walau saya berusaha untuk selalu berpikir positif bahwa dia sudah tidak mengkonsumsi alkohol lagi, tapi sulit bagi saya untuk mempercayai bahwa teman-temannya juga sudah berhenti sama sekali. Biasa, kan, pergaulan mempengaruhi gaya hidup. Jadi ketika dia bercerita tentang masa lalu saat dia sudah terlalu mabuk untuk pulang ke rumah, biasanya dia akan dibawa kawannya ke rumahnya dan hal itu akan menggembirakan istri kawannya karena itu berarti suaminya tidak main gila dengan wanita lain. Seketika itu, saya langsung ketakutan. Man, bawa orang mabuk ke dalam rumah? Dan ada anak-anak di dalamnya? Ga cuma satu, tapi dua! Belum lagi istrinya berjilbab dan anak-anaknya sekolah di sekolah berbasis agama Islam. Bengong saya. Saya langsung merinding teringat bahwa pelecehan seksual yang saya alami pun terjadi di rumah sendiri.  Oleh sebab itu, saya pun menerapkan aturan. No drinkers allowed to come to my house and meet my kids. No way, jose.

Makanya doktrin tentang alkohol kepada anak-anak tidak semata-mata soal agama tetapi juga tentang hal lainnya.


“Nah itulah yang namanya orang mabok.”
Jawab saya ketika tetangga itu muntah-muntah dan Malika bertanya ada apa dengan dirinya. Lalu saya pun ceramah mulai dari segi medis hingga segi sosial. Bagaimana alkohol mempengaruhi tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan dan kadar berlebihan bagi tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Dan bahwa intinya lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Saya sengaja bicara panjang lebar semata-mata agar suami tidak mengeluarkan komentar-komentar seperti, “ah dianya aja cupu ga tahan minum” dan sebagainya.


“Mabuk itu apa sih?” tanya Malika di usia batita ketika dibacakan kisah-kisah nabi dan tengah menjelaskan tentang perilaku kaum-kaum sebelum datangnya nabi.
Keluar deh kbbi ala saya. Mabuk adalah kondisi yang disebabkan oleh minum-minuman keras.
“Minuman keras itu apa?”
“Yah, yang mengandung alkohol.”


Lain waktu, dia bertanya usai melihat iklan.
“Napza itu apa?”
“Narkotika, obat-obatan dan zat terlarang lainnya.” Jawab saya singkat.
“Apa itu?”
“Zat-zat yang disalahgunakan orang-orang untuk menjadi mabuk.”
“Obat batuk termasuk obat-obatan terlarang, ga?”
“Ya, ga. Untuk kondisi kesehatan, misalnya sakit memang menggunakan narkotika, tetapi hanya boleh dokter yang mengaplikasikannya. Kalau dipakai-pakai sendiri namanya penyalahgunaan. Itu yang ga boleh.”


“Kalau sudah umur 21 tahun, kita dah boleh minum alkohol?” tanya Safir usai menanyakan tentang tulisan “untuk usia 21 tahun ke atas” di lemari pendingin berisi minuman keras di salah satu swalayan.
“Secara hukum pemerintah sih begitu. Tapi menurut hukum Islam, mau umur berapa pun juga ga boleh minum alkohol.”
“Kenapa masih boleh dijual, padahal kan orang Islam ga boleh minum minuman keras?” timpal Malika.
“Karena yang tinggal di sini kan ga hanya orang Islam. Ga semua agama melarang minum minuman keras.” Saya sok cool.
“Padahal kan jelas ga membawa manfaat. Nanti malah nyusahin orang lain.” Sungut Malika.
“Yaah, kalau di negara-negara dingin seperti di Eropa kan minum alkohol membantu mereka untuk merasa hangat.”
“Tapi di sini kan panas,” Malika menjawab balik. “Memangnya ampunwa Nurul minum alkohol, kan di Inggris tinggalnya.”
“Ya, ga sih.” Kadang saya suka lelah meladeni pertanyaannya.
“Banyak orang yang minum-minum karena ingin terlihat gaya, dianggap bisa meredakan stress, bikin orang happy, karena pergaulan.”
Dan dia merengut dengan penuh ketidaksetujuan.


Saat saya berfoto untuk foto di atas, anak kawan saya yang kebetulan juga turut ikut olahraga bersama bertanya, “Emang itu apa?”
“Tempat orang minum bir.”
“Orang Islam boleh ga masuk ke situ?” dan tahu-tahu ibunya menodong saya untuk menjawab.
“Yaah, tempatnya sih ga melarang orang Islam untuk masuk. Mereka kan yang penting bisa bayar aja. Namun seharusnya, orang yang mengaku Islam tidak masuk ke situ.”


Lalu saya biarkan ibu dan anak itu melanjutkan perbincangan.


Pendidikan ini belum berakhir. Semakin bertambahnya usia, akan semakin banyak pertanyaan terkait hal ini yang terucap dari mulut anak-anak ini. Terkadang saya merasa, anak-anak bingung melihat ada begitu banyak larangan yang diterapkan di rumah tapi bertebaran dilakukan di luar sana.


Celetukan seperti, “Apa orangtuanya ga mengajari itu?” berulang-ulang mereka ucapkan untuk berbagai situasi. Bukan dengan nada sinis, tapi serius bertanya.  Yang lama-lama seperti mempertanyakan kenapa seperti hanya aminya yang melarang hal itu.


Saya rasa di satu fase, jika saya salah-salah mengaplikasikan hal-hal yang hendak saya tanamkan, justru rumah sayalah yang kemudian akan dianggap aneh oleh anak-anak karena membatasi diri. Sungguh, harapan saya semoga fase itu tidak pernah ada. Bahwa mereka tidak punya kebutuhan untuk mencoba hal-hal semacam itu. Karena saya ga yakin bakal kuat mengatasinya.


“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS: al Furqan: 74)

Kamis, 01 Maret 2018

KAMYStory: PR dari Sekolah, Tugas Anak atau Orangtua?




Masa-masa masuknya anak TK menjadi anak SD, sedikit banyak membuat para orangtua deg-degan setiap kali anaknya diberi PR. Terutama PR yang berbau prakarya. Ketika anak duduk di kelas 1, saya masih merasa mafhum jika prakarya anak dibuatkan oleh orangtuanya. Namun, ketika ternyata bantuan itu berlanjut hingga ke jenjang selanjutnya, saya jadi bertanya-tanya sendiri. Mau sampai kapan, ya? 


Sementara itu, saya pun kenal dengan orangtua yang sama sekali tidak mau terlibat dengan tugas anaknya. Alasannya, dia tidak mau menjadi orangtua yang ketika anaknya sudah duduk di kelas besar, masih sibuk dengan tugas anak yang seharusnya dilakukan oleh anaknya, bukan orangtuanya. 


Tanpa bermaksud munafik toh saya sebagai bungsu, masa kecil saya dan juga tugas-tugas saya banyak dibantu oleh kakak-kakak saya.  Kebiasaan saya menunda-nunda tugas membuat tiga kakak saya (dengan berbagai alasan, mulai dari kasihan sampai terpaksa) turun tangan membantu. Maklum, kedua orangtua saya bekerja, dan karena mereka cukup galak, kami meminimalisir hal-hal yang akan membuat keributan di rumah, salah satunya jika kemudian ketahuan saya tidak mengerjakan tugas, pasti kakak-kakak saya yang kemudian kena semprot karena dianggap tidak menjaga adiknya. 


Mulai dari membantu sedikit, hingga pernah juga saya menyerahkan sepenuhnya tugas itu ke kakak saya dengan semena-mena lewat surat pulak. Ya, memang, tugas saya yang dibantu kakak-kakak itu biasanya mendapat nilai lebih ketimbang jika saya membuatnya sendirian. Tapi jangan salah, sepanjang dibantu itu, omelan ga pernah surut. Meski begitu, saya merasa romantis karena saya jadi lebih suka bekerja sama dengan kakak-kakak saya ketimbang dengan teman sebaya saya ketika tugas kelompok. Bahkan tugas peta dunia pernah saya pajang dengan bangganya di kamar karena alasan romantisme. Atau lebih tepatnya ketergantungan? Karena saya jadi terbiasa mencari tahu lewat kakak-kakak saya ketimbang mencari tahu sendiri. Kalau dilepas sendiri, kemungkinan saya blank itu sangat besar. Itulah sebabnya saya merasa dibantu saat mengerjakan prakarya itu perlu dengan beberapa catatan. 


Ketika punya anak, saya mencoba membiarkan anak mengerjakan tugasnya sendiri walau kadang gatal karena lihat karya anak-anak lain yang lebih heboh karena campur tangan orangtuanya. Setelah beberapa kali dibiarkan kok saya kesel ya? Hasilnya tuh ga banget. Rupanya, kreativitas itu ga senantiasa come out of nowhere. Harus ada inspirasi, harus ada pengetahuan tambahan, harus ada feedback, supaya lebih baik. Apalagi ini anak sulung yang memang tingkat ketelatenannya masih belum baik, secara anak outdoor gitu.  


Nah berhubung si sulung ini pun punya kemauan keras, dia juga sulit menerima usulan karena dianggap saya mencoba mengatur-atur. Akhirnya saya pelan-pelan ikut nimbrung, coba mendengar visi misinya dan ternyata emang benar, ini anak blank. Jika ada contoh di buku pelajarannya, biasanya saya biarkan dia mencontoh. Walau tatanannya mungkin tidak seapik yang saya inginkan. Biarin aja deh. Biar dia lihat sendiri hasil teman-temannya (tanpa bilang kalau si A atau si B itu dibuatkan oleh orangtuanya). Cuma untuk memperlihatkan bahwa sedikit usaha dapat menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda.  Hanya saja, saya tetap memberikan info-info yang saya tanyakan di grup sekolah karena terkadang saya juga bingung sama penjelasan si anak dan untuk memastikan bahwa karya anak saya tidak melenceng dari yang dimaksud. 



Sejak saat itu, saya mulai punya Pinterest. Untuk memberikan referensi terkait prakarya apa yang dapat dia ciptakan dengan materi yang diminta, dan kemudian memilih atau menciptakan sendiri bentuk yang dia inginkan. Youtube juga menjadi alat bantu agar dia bisa melihat cara sesuatu dibuat. Semata-mata agar dia mendapat wawasan tambahan, tanpa saya harus menunjukkan sendiri karena biasanya dia suka merasa terintimidasi. 


Yang menarik adalah ketika saya membantu, justru jadi menarik perhatian adik-adik yang lain. Saya rasa mereka hanya ingin terlibat dalam family project yang belakangan sudah jarang kami lakukan. Jadilah mereka ngiri, karena merasa saya hanya meluangkan waktu untuk si kakak.  I guess we should make another family project. 


 Family project dapat menciptakan hubungan. Komunikasi yang terjalin dapat membantu menyamakan visi misi, frekuensi, dan bahkan mengeluarkan cerita-cerita atau rasa-rasa yang tidak pernah dikemukakan sebelumnya. Tentunya jika situasinya semua setara ya, kalau ada pihak-pihak yang hendak mengatur, pasti hasilnya hanya menjadi mengerjakan tugas dalam keadaan tertekan. Itu baru saya simak kata-katanya pas mengetikkannya. I guess writing it in the middle of the night might works for this kind of reason. 


OK, kembali ke topik. Kesimpulannya, saya menggunakan momen prakarya anak itu untuk memperbaiki hubungan. Yah anggap saja itu family project, bukankah itu keuntungan legal dari sebuah PR? Lagipula, saya jadi bisa melihat sebaik apa si anak dalam ketelitian, ketelatenan, cara dia melihat keindahan, kerapihan. Cuma lihat dan nilai dalam diri sendiri sih. Soalnya anaknya baperan. Jadi saya bisa ada ide, apa lagi yang bisa saya tunjukkan ke anak-anak guna meningkatkan berbagai aspek yang saya sebut di atas. 

Jadi membantu itu tidak sama dengan mengerjakan sepenuhnya. Namanya juga membantu, ya porsi keterlibatan bintang tamu tidak sebanyak porsinya bintang utama. Soal nilai? Nilai si sulung untuk keterampilan termasuk yang nilainya lebih kecil dibandingkan nilai-nilai dia yang lain. Tapi saya biasa-biasa saja. Orang yang kreatif sekaligus pintar juga sangat atletis itu jumlahnya cuma sedikit, jadi tidak bisa dijadikan acuan hidup, bisa gila nanti. Nah, itu kembali ke masing-masing sih. Melihat nilai sebagai acuan diri, atau sebagai acuan peringkat semata di rapor? 

Selasa, 20 Februari 2018

SELASHAring: Demi Perayaan Ulang Tahun Si Kelahiran Juni



Bagi anak SD, saya waktu itu, merasa perayaan ulangtahun itu penting. Karena jadi momen ketika saya dapat mengundang kawan-kawan saya, menyuguhi mereka makanan lezat, dan kemudian saya mendapat tanda mata dari mereka. Maklum, kedua orangtua saya bekerja, sehingga kalaupun saya membawa satu-dua teman ke rumah, saya hanya bisa menyediakan telur dadar karena makanan yang di meja sudah dijatah untuk orang rumah.

Namun, membuat perayaan ulang tahun itu tidak mudah. Bahkan untuk sekadar menerima ucapan ulangtahun saja, sulit. Apa sebabnya? Karena saya terlahir di pertengahan bulan Juni. Pada zaman Orde Baru, pada saat itu selama berpuluh-puluh tahun pastilah sedang libur panjang sekolah. Tidak ada kawan yang ingat, apalagi mengucapkan selamat. Terkadang saya berharap saya lahir di bulan yang berbeda ....

Bukannya tidak pernah diistimewakan. Mama punya tradisi menggorengkan ayam ala KFC dalam potongan besar dan boleh makan sesukanya, setiap akhir pekan ulangtahun anak-anaknya. Dan tak lupa, mama akan mengulang kembali kisah detik-detik kelahiran anak yang ulangtahun saat itu. Tapi ... Tetap saja, I want to invite all of my friends.

Hingga kemudian entah apa yang merasuki saya. Hari itu saya ulangtahun. Dan tentu saja sedang libur panjang di rumah saja. Dan tiba-tiba ... Saya bangkit dari kasur, lalu keluar rumah. Mendatangi satu per satu rumah kawan saya dan menyampaikan pesan, “Datang ya ke pesta ulang tahun saya, jam 4 sore.”

Seperti yang sudah diduga banyak kawan yang tengah pergi berlibur. Ketika saya kembali ke rumah, saya tidur-tiduran lagi (atau mungkin menonton televisi). Menunggu. Tak bicara sepatah kata pun pada orang rumah. Apalagi itu hari kerja. Saya lupa apa yang saya rasakan saat itu. Dan kemudian jam 4 sore pun tiba, tidak terjadi apa-apa. Lalu jam semakin lewat dan tak lama ada suara kecil memanggil dari luar pagar. Bukan satu tapi dua ... kawan yang rumahnya paling dekat dengan saya sudah datang. Berpakaian apik. Membawa kado.

JEEENG!

Kakak saya yang kemudian akhirnya tahu bahwa saya mengumumkan pesta ulang tahun ke teman-teman (dan tentunya bukan dari saya), sontak kelabakan menyediakan suguhan. Sedangkan saya pura-pura mandi ^^

Ya ampun, mau dikasih apa anak orang?

Ada yang beli mie instan. Bongkar-bongkar lemari cari kue.  Wakakaka heboh lah. Belum lagi, kemudian orangtua saya pulang. Dan terbengong-bengong.

Pada akhirnya, dua kawan itu bukan jadi tamu undangan tapi lagi iseng aja mampir pakai baju bagus. Tidak ada lagi soalnya yang datang. Disuguhi mie instan dan kue kaleng biru. Mereka juga sama bingungnya. Tapi melihat muka saya yang cengar-cengir saja, kayanya tidak ada harapan mencari keterangan dari saya. Papa sempat mengabadikan momen itu, tapi fotonya di rumah orangtua saya hehehe ....

But, I was happy actually.

Jarang-jarang saya spontan begitu. Sering ngerepotin memang gaya saya, tapi biasanya bukan karena ide spontan hehehe ...

Dan hingga kembali masuk sekolah dan kawan-kawan mengeluh soal pesta hoax itu, saya tetap senang.

Serius, bahkan hingga sekarang saya tidak habis pikir dengan motivasi saya.

Saya baru berhasil mengundang kawan-kawan ke rumah saat ulangtahun dengan tata tertib yang baik, selepas kuliah. Yang diundang kawan-kawan kuliah. Sekitar 10 tahun kemudian. I finally have cake with candles to blow hahahah ... Saat itu rasanya, okeh, mission accomplished.

Ulangtahun sendiri kemudian menjadi makna yang personal bagi saya. Saya yang kemudian belajar menerima keadaan bahwa akan selalu kena liburan sekolah, menikmati ketika ketiga kakak saya menyeruduk masuk kamar di pagi hari dengan muka gembira dan menyanyikan selamat ulang tahun dengan gaya lucu-lucu-padahal saya sudah SMA. I guess, selain orangtua saya, merekalah orang-orang pertama yang menyambut kelahiran saya secara real time. I feel like, for better or worse, I'm still their little sister. So it means alot.

Seringkali, ketika saya begitu tidak percaya diri hendak melakukan sesuatu (banyak sih sesuatunya), mengingat kenekatan saya ini seperti motor semangat yang menyala kembali. Dan peristiwa itu membuat saya memahami bahwa bagi saya yang penting bukan hasilnya, melainkan apakah proses perjalanannya membuat hati saya senang. Kalau sudah senang, walau gagal, pasti mau mencoba lagi.

Kalau dipikir-pikir ada sekian banyak kenekatan saya, yang terutama tertumpah dalam hal menggebet cowo ^^ tapi walau sering memalukan, selalu ada sisi saya yang bangga dengan keputusan itu. Cause you’ll never how far you will go, if you don’t go through it ...


Jumat, 02 Februari 2018

JJS: Lebih Akrab dengan Bakari di Faunaland, Ancol




Kami duduk berhadapan. Saling menatap. Sesekali ia tolehkan mukanya. Ingin rasanya membelai wajahnya yang terlihat mengantuk tapi hanya bisa kutempelkan tanganku di pembatas kaca. “Semuanya baik-baik saja. You’re safe here.” Kataku dalam hati. Lalu bola matanya bergulir, kembali jatuh ke pandanganku. Kemudian hening mengisi jarak di antara kami.
“Eh, lihat ada singa!” suara orang yang datang mengejutkanku. Ah, sudah ada pengunjung lain. Aku pun bergeser dan beranjak pergi.  Rindu sudah mulai merangsek dalam diriku.

Kami sedang berada di Faunaland yang terletak di dalam area Allianz Ecopark, Ancol. Jalan-jalan bersama keluarga suami. Taksi online mengikuti rambu-rambu petunjuk dan kemudian menurunkan kami di pintu samping Ecopark. Memang jadi jauh jaraknya menuju Faunaland yang kata tetangga saya serupa dengan Singapore Zoo. Ecopark sendiri tidak mengenakan biaya masuk, jadi dengan alam terbuka luas seperti ini, membawa sepeda dan perbekalan pasti akan menjadikan piknik kami berlangsung seharian. Sayangnya, hari ini tidak bawa sepeda. Tapi tak apa, bagi-bagi anak-anak outdoor seperti anak-anak saya, lahan terbuka ini sudah sangat menggoda bagi mereka untuk berekspresi.



Ada untungnya juga kami lewat samping, karena di tengah perjalanan kami melihat beberapa burung sejenis pelikan tengah bersantai di pinggir sungai. Burung yang sejatinya tidak akan kami lihat nongkrong begitu saja tanpa pengawalan ini tentulah menarik perhatian. Anak-anak berusaha mendekat, tetapi melihat reaksinya yang tidak terlalu suka didekati manusia, maka anak-anak hanya berjongkok melihat burung itu, sambil sesekali orangtuanya berfoto.




Akhirnya sampai juga di pintu masuk Faunaland. Tiap-tiap orang di atas usia 3 tahun dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 50000,- kalau bundling tiket dengan naik perahu, cukup bayar Rp.70000,-. Sedangkan tiket perahunya sendiri kalau eceran sebesar Rp.30000,- Tiket ini berlaku seharian, jadi kalau mau keluar masuk cukup perlihatkan bukti pembayaran dan cap. Tapi capnya agak mudah pudar, makanya simpan baik-baik bukti pembayarannya ya.


Sayangnya, begitu kami tiba, pertunjukkan burung baru saja selesai. Bird Show ini hanya ada di pukul 10 dan 14.30. Nah, kalau mau nunggu bird show ya kira-kira harus nunggu sekitar dua jam lebih. Hmmm bisa ga ya?


Adalah dua singa betina yang menyambut kami pertama kali. Singa-singa ini terlihat tidak agresif walau tengah rebahanan persis di samping pagar kawat. Jadi anak-anak pun bisa duduk manis menatapnya. Saya sudah ingatkan mereka agar tidak bersikap agresif, karena insting singa apalagi betina ya agresif. Secara ia kan pencari nafkah. Sebenarnya ada juga sisi kandang kaca, tapi singanya ga lagi di situ. Pembatas kaca ini memungkinkan pengunjung lebih dekat ke singa tapi tetap aman. Di samping kandang singa, ada kandang monyet putih. Terus saya mikir, apa si singa ga ngiler ya lihat monyet?



Setelah itu ada beberapa kandang-kandang kecil yang hewannya menarik. Tapi yang membuat saya senang adalah akhirnya bisa melihat tapir betulan. Tapir seperti halnya zebra masuk dalam kategori hewan ajaib menurut saya. Dan bisa melihatnya dengan tubuh tambun  dan bukan hanya di gambar yang selalu ada di peta-peta menunjukkan bahwa ia adalah hewan khas sulawesi, buat saya itu amazing banget. Sayang sendirian, mudah-mudahan si tapir bisa segera dapat pasangan.






Lalu ada juga hewan ternak yang bisa diberi makan dengan membayar Rp.10000,- seperti kuda poni dan kambing. Kuda poninya bisa dinaiki loh. Tapi bayar lagi.




Nah, bintang utamanya adalah another singa putih, namanya Bakari. Tapi kali ini ada jantannya, ditemani dua betina. Konon, singa putih ini hanya ada 10 di dunia. Bakari terlihat tenang dan ngiler lihat anak-anaknya. Surainya bergoyang lembut, memancarkan auranya.

Kandang Singa yang didatangkan khusus dari Afrika ini, hampir sepenuhnya dari kaca. Kecuali bagian yang tidak memungkinkan kontak dengan pengunjung. Areanya lebih luas. Dan tidak hanya bisa tatap-tatapan dengan singa putih dari dekat, kita juga bisa kasih makan. Gimana caranya? Ada sebuah corong yang berbentuk kayu tempat mentransfer daging ayam yang sudah disediakan petugas. Seru kaaan.... Kapan lagi bisa kasih makan singa?



Ga mungkin ada bird show kalau tidak ada koleksi burung. Dan burung-burung ini walau dirantai tapi nangkring di tempat terbuka. Tapi ada juga yang tidak dirantai seperti beberapa burung kakaktua. Kalau burung rangkong ya iyalah, kalau ga, bisa diculik orang nanti. Kan sudah mulai masuk hewan langka. Kakaktuanya juga ada yang cukup komunikatif sehingga mengundang tawa anak-anak. Karena berada di alam terbuka, saya tergoda memunguti bulu-bulu burung yang warna-warni itu. Masya Allah, rajin banget yang ngewarnain. Tak hanya itu, kami juga bisa berfoto dengan burung-burung nuri yang jinak banget. Gratis. Foto sama burung elang juga gratis. Sensasinya beda ya kalau sama burung elang.



Memang koleksi hewannya tidak banyak, tapi kemudian tempatnya yang asri dengan penataan kebun yang ciamik membuat tempat ini ga semudah itu ditinggalkan. Kami yang membawa bekal, menikmati makan di sana karena memang tidak ada yang jual makanan di dalam situ. Jangan lupa bawa salep antinyamuk. Selebihnya, anak-anak main bebas berkeliaran.  Dan selalu ingat jaga kebersihan.





Saat hendak shalat, kami keluar Faunaland dulu dan menemukan tempat shalat berupa pendopo kecil di samping. Sebenarnya di lobi juga ada musolla, dan pendopo tempat kami shalat itu sepertinya untuk karyawan pengelola. Tapi karena di situ, saya jadi ngeh dengan suara bising khas siamang. Rupanya ada semacam pulau kecil di antara sungai itu. Jerit-jeritan siamang itu jelas menarik perhatian pengunjung yang mungkin juga ga ngeh kalau ada mereka di sana. Dan dengan adanya  semacam dermaga, orang-orang pun jadi punya pertunjukkan yang bisa dilihat sambil duduk-duduk. Dan tidak hanya melihat siamang. Ikan-ikan cantik sudah berkerumun di sekitar dermaga. Warna merah, orange, putih, memadu cantik. Dan mulut-mulutnya seolah tak berhenti merasa lapar. Pakan ikannya juga bisa dibeli di petugas yang duduk tidak jauh dari peminjaman sepeda.



Tidak terasa sudah menit-menit menjelang pukul 14.30, kami berhasil berada di sini dua jam lebih. Tapiiiiii ... anak-anak sudah keburu ingin ke laut. Namanya juga ke Ancol ya, masa ga basah-basahan. Ya udah, skip deh bird show-nya. Dan pantai Ancol pun hanya selurusan dengan pintu masuk Ecopark, jadi kami cukup jalan kaki sebentar dah sampai.

Sementara anak-anak main air, saya sudah kangen mau ke Faunaland lagi. Mungkin bawa sepeda. Mungkin di jam yang lebih tepat. Suatu hari nanti .... Karena rindu itu berat, kasihan Bakari, biar saya saja yang datang lagi


Selasa, 28 November 2017

SELASHAring: Menikmati Dunia Bercerita Zaman Now dengan So Good CERDIK


http://www.sogood.id/


“Ada lagi ga, Mi?” tanya si anak tengah begitu cerita Chika Chiko-nya habis tapi masih bersambung.
“Ami belum beli nugget lagi.” Jawabku.

Memang apa hubungannya nugget sama cerita?

Ibu-ibu generasi zaman now memang tidak boleh ketinggalan zaman. Sebagai seorang kutu buku,, sudah biasa jika saya membanjiri rumah dengan ragam buku. Apalagi pernah bekerja di sebuah penerbitan, perkembangan buku digital sudah wara-wiri di kepala saya sejak hampir 10 tahun yang lalu. Walau sempat ada masanya saya nelangsa karena tidak mampu membeli tab khusus buku digital, tetapi semakin berjalannya waktu akses buku digital kini semakin mudah dan semakin berkembang secara multimedia. Oleh sebab itu, saya termasuk rajin mengakses aplikasi buku digital terutama untuk anak-anak. Buku digital untuk anak-anak memang banyak ragamnya, ada yang konvensional seperti buku dewasa, ada juga dilengkapi berbagai macam kecanggihan teknologi salah satunya Artificial Intelligence.

Wah kaya di film Avenger, ya? Celetuk si anak tengah begitu dengar AI.


Karena jelang tidur siang, jadi ekspresinya ngantuk n serius ^^



Sejak anak-anak masih di bawah usia 1 tahun, saya sudah membiasakan mereka dengan buku dengan cara membacakannya minimal sebelum tidur. Kebiasaan ini berlangsung hingga si sulung berusia hampir 8 dan belum ada tanda-tanda menghentikan kebiasaan tersebut walaupun si sulung sudah bisa membaca. Bagi mereka, dibacakan cerita oleh Aminya sama seperti ditemani Ami nonton film anak-anak yang sudah jutaan kali diulang itu, ada ekstrakurikulernya. Ya minta dipangku lah, yang senderan lah, yang ngajak diskusi lah, atau sekadar turut menarik sudut bibir saat ada adegan yang lucu menurut mereka.  Pendampingan saat bercerita ini terbukti ampuh dalam perkembangan kosakata anak-anak. Nah, jika kedua pengalaman ini digabung, jadilah buku digital bercerita dengan teknologi AI.

Haloo ... hubungannya nugget sama cerita apa?

[oiya ... maap ... silahkan dilanjutkeun ^^]

Setelah berbagai game berbasis AI bermunculan, SoGood CERDIK turut meramaikan jagad dunia bercerita. Dari setiap pembelian produk SoGood Siap Masak (Bakso, Nugger, Stick, Seafood, Shape Nugget, Whole Muscle, Sausage) kemasan 400 gram, maka kita akan mendapatkan sebuah bingkai mini dan kartu AI. Ukuran kartunya kecil, jadi saya gunakan bingkai mini itu untuk menempatkan si kartu. Sungguh sangat menghemat ruang rak buku di hunian liliput seperti rumah saya.
Begitu saya tunjukkan bonus yang bisa mereka nikmati setelah menyantap nugget Dino SoGood, anak-anak langsung semangat. Dan tiba-tiba jadi akur ^^’ Yah namanya juga anak generasi digital, kalau disodorin yang berbau teknologi pasti terpukau.




Awalnya mereka pikir, karena dari nugget Dino maka ceritanya akan tentang dinosaurus juga, tapi rupanya ada serial kisah yang tak kalah menarik. Adalah, serial Lala dan SingSing, serial Umbo Larage, dan serial Chika Chiko yang menjadi andalan perdana So Good CERDIK (harus rajin mampir ke http://www.sogood.id/  untuk tahu ada kelanjutannya atau tidak ^^). Nah, pas ada tiga seri. Maklum, anaknya juga tiga dan si sulung penganut garis keras keadilan bagi seluruh anak Ami.

Kalau akur begini kan senang lihatnya


Dengan durasi 5 menit tiap serinya, tentu belum cukup bagi mereka apalagi jika ceritanya tidak tuntas. Nah, kalau begini kan jadi lebih semangat aminya beli SoGood. Soalnya, untuk melengkapi satu serial dibutuhkan empat kartu. Jadi totalnya perlu beli 12 kantong So Good Siap Masak.

Hah, So Good sebanyak itu mau dibuat apa saja?

 Tenang, di dalam aplikasi ini juga ada kumpulan resep, jadi tidak usah cemas ataupun bimbang takut mati gaya. Pasti ga mubazir. Cuma saya ga tahu deh, bakal diminta masak dulu atau cerita dulu nanti sama anak-anak ^^’

Selain itu, jadi ada kegunaan lagi kan ponsel saya, terutama jika dalam perjalanan jauh. Seringkali saya menghindari membawa buku anak-anak konvensional agar tidak merusak buku dan tidak berat. Maklum, sudah pergi ke luar kota pun, mereka tetap menagihkan saya membacakan cerita. Nah, dengan aplikasi So Good CERDIK, saya dan anak-anak tetap bisa jadi kutu buku zaman now. Sekarang, belanja ke supermarket serasa pergi ke toko buku. Super mengenyangkan eh ... menyenangkaaan.



Rabu, 22 November 2017

RABUku: Mengumpat Seperti Kapten Haddock


Pada adegan pertama lafaz itu disebut, saya menoleransi dengan berseloroh dalam hati. Mungkin seperti ketika seorang artis dikonfirmasi keterlibatannya dalam sesi foto di majalah Playboy Filipina, “iya, insya Allah, eh insya Allah ... “
Adegan kedua lafaz yang lain disebut lagi, saya toleransi lagi sambil membayangkan film Godfather, mafia yang tak jarang berdoa. Mungkin yang bikin film lebih dekat hubungannya dengan film-film seperti itu. Dipikirnya sama.
Begitu adegan ketiga dan serangkaian lafaz diucap berulang-ulang, saya mulai suudzon. Dan akhirnya mencoba mundur jauh karena ga baik menilai dalam keadaan berprasangka buruk.

Tokoh antagonis di media anak-anak sering membuat saya serba salah. Ketika anak-anak disuguhkan film nabi-nabi dan adegan perang, kata-kata “bodoh”, “mati kau”, dkk bertebaran. Dan ketika anak-anak melakukan reka ulang, kuping saya jengah rasanya. Kan aneh ya kalau saya membuat pernyataan bahwa anak-anak belajar penggunaan kata umpat dari film nabi-nabi.

Lalu muncullah film musikal anak-anak ini. Saya sih bukan pengamat film, hanya ibu-ibu biasa yang tahu jika seandainya waktu itu yang dibawa nonton adalah kakaknya, maka akan banyak protes yang dia lontarkan lalu aminya harus spare waktu itu meredakan emosi si anak dan meluruskan dugaan-dugaan dia yang seringkali terlalu imajinatif. Maklum, kejadian ini bukan hal baru bagi saya. Ini seperti ketika anak-anak bertanya, “ami, kok orang itu Islam tapi ga tutup aurat?” mereka belum dengar aja orang-orang yang menggunakan “jing” sebagai awalan atau akhir kalimat ^^ Hanya saja, bagi saya, jika memang bukan diambil dari kisah nyata, bacaan atau tontonan anak-anak itu lebih menyenangkan jika clear dari praduga dan stereotipe buruk.

Dalam menikmati kesustraan anak, Saya lebih tertarik dengan cara Kapten Haddock mengumpat, walau sosoknya agak antihero karena suka mabuk dan merokok tapi pilihan kata umpatannya legendaris, baik dalam bahasa aslinya atau saat penerjemahannya, yang prosesnya sama-sama ga mudah. Ada semacam intelektualitas linguistik karena sadar pasarnya adalah anak-anak. Sejuta topan badai, kepiting busuk, dkk itu masih terasa lucu saat direka ulang di bibir anak-anak.

Sedangkan untuk tokoh antagonis, saya lebih suka yang ga murni antagonis. I mean, setiap orang kan pasti ada sisi menyebalkan tapi bukan berarti jahat, karena 'jahat' itu kata yang tajam, kebayang kan perasaan Rangga? Begitu juga dengan peran jagoan,  ga harus yang jadi ketua kelas dan menang lomba marching band dan sains (seimbang yak otaknya ^^), tapi yah mungkin jadi ga seru ya filmnya hahahaha ...

Nah, kan ga mudah bikin kalimat yang bebas praduga kaya gitu. Makanya saya maju mundur dengan naskah cerita anak ^^ (alasan). Mungkin karena saya juga masih terperangkap dalam stereotipe buruk (sedih). Semoga yang terjadi menjadi dorongan bagi kita berkarya yang lebih baik ya ....

Jumat, 10 November 2017

JJS: Sisi Lain Suami di Bumi Perkemahan Gn. Gede Pangrango



Saya baru saja datang ke lokasi pernikahan saudara sepupu saya dan sempat mencegat sang pengantin yang hendak naik mobil menuju rumah lain untuk berganti pakaian resepsi. Terburu-buru saya ucapkan selamat dan kemudian menghambur ke pelaminan mencari mak etek dan etek saya selaku orangtua pengantin untuk memberi salam selamat. Tak lupa saya menyalami satu per satu tamu yang semuanya saudara itu. Semua bingung melihat saya begitu terburu-buru kembali menuju arah keluar.


“Mau ke mana?” tanya mereka seragam.
“Mau kemping.”
Lalu sorot mata bergulir dari ujung kaki ke ujung kepala, mungkin dikira saya akan kemping dengan baju pesta ^^


Pernikahan yang dilangsungkan di Bekasi itu memang mendadak, nyaris bersamaan dengan keputusan suami untuk mengajak anak3nya kemping perdana. Melihat antusias suami membeli berbagai macam perlengkapan outdoor, mau disuruh diundur demi mengikuti perkawinan saudara dengan lebih khusyuk kok ya ga tega. Suami memang sejak masa muda senang kemping, dan paling tidak sejak berkenalan dengan saya, dia sudah tidak pernah lagi naik gunung. Hampir 10 tahun lah. Jadi kalau dia sudah bersiap, mungkin rindunya sudah membuncah. Walau anak yang terkecil baru saja menginjak dua tahun.


Kami buru-buru sebelum jalur ke arah puncak ditutup. Maklum akhir pekan. Suami juga sudah berjanjian dengan kawannya untuk ketemuan di TKP.
Setelah sempat nyasar mencari yang namanya Bumi Perkemahan akhirnya ketemu juga.


Dan yang pertama saya cari adalah, kamar mandi. ^^ sebagai orang yang hanya pernah satu kali kemping, kamar mandi di hutan itu agak gimana gitu ya. Namun, kami beruntung. Kawan suami sudah menyiapkan segala sesuatunya, terlebih karena dia pun membawa keluarganya. Posisi tenda di dekat sungai dan kamar mandi tapi tetap aman bagi anak-anak berkeliaran. Tenda dan kasurnya menggunakan jasa sewa di sana, jadi kita cukup bawa makanan. Walau makanan juga bisa beli sih hehehe ....



Setelah turun dari mobil di parkiran, saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya memang sudah lama tidak olahraga. Ada tangga tinggi banget untuk mencapai tujuan, setelah menanjak, lalu turunan. Herannya, anak-anak ga merasa capek tuh (apalagi yang digendong), semangat menuruni tangga terlebih melihat terowongan berbentuk krokodil zaman dinosaurus. Mereka semakin jejeritan ketika tahu kemahnya di dekat sungai dan langsung menghambur ke sana. Sesuatu yang sudah bisa ditebak. Arusnya deras walau tidak dalam, jadi anak-anak tetap ditekankan main di antara bebatuan. Sekalian mandi lah di sungai. Walau kamar mandinya cukup bersih dan hanya perlu bayar kalau ada penjaganya, tapi airnya juga dingin banget.



Tenda  yang saya dapat berukuran sedang. Sebenarnya dengan tiga anak dan satu keponakan, cocoknya tenda yang besar, tapi waktu itu kawan suami kadung pesan yang sedang, ga nyangka anak temannya banyak kali ya hehehe. Sudah ada dua kasur busa juga bantal. Suasananya kaya di rumah sendiri aja, tidur mepet-mepet hehehe ... Kalau mau shalat juga ada tempatnya, cukup apik karena dibuat semacam bilik bambu dan air wudhu yang mengalir terus. Mukenanya juga banyak.


Ketika malam mulai menggantung, anak-anak tidak berkurang excitement-nya. Mereka penasaran dengan berjalan-jalan dalam gelap hanya berbekal lentera led. Sementara orang dewasa mencoba membuat api unggun. Saat menyalakan api unggun juga jadi ekstra hati-hati karena ada anak-anak yang masih norak-norakna.
Sementara  suami menyombongkan diri, “kalau kemping, teman-teman ayah semuanya makan masakan ayah. Ayah rajin masak soalnya.”



Saya nyengir saja mendengar si tuan besar yang suka banyak komplen soal masakan ini tapi ga mau cuci piring. Eh curcol. Ga tahunya beneran dia semangat pinjam kompor lalu mulai masak ini itu. Ga yang aneh-aneh sih, goreng daging burger (padahal dia ogah banget makan burger), bakar roti, masak air, bikin pop corn ... tumben lah saya makan sesuatu yang dia persiapkan sendiri. Kan saya jadi enak.



Ternyata semakin malam semakin dingin. Ya iyalah, namanya juga di gunung. Anak-anak sudah pakai kaos kaki dan jaket dua, dan mereka pulas banget tidurnya. Apa mereka cape juga setelah main di luar ya?



Keesokan harinya baru deh eksplor ke tempat lain di sekitar situ. Karena tempatnya juga dipakai untuk acara-acara gathering jadi pasti ada yang komersilnya. Salah satunya yang kami coba adalah dayung perahu.Dengan membayar Rp25ribu, kami sekeluarga bisa menggunakan perahu, dayung sendiri tapi yaa ... kayanya ga dalam sih situnya.


 Viewnya luar biasa dengan hutan pinus dan ujung-ujung gunung yang terlihat, tiba-tiba saya teringat suatu tempat di pedalaman Amerika yang sering muncul di televisi. Indonesia ternyata juga punya pemandangan keren kaya gitu. Rasanya saya mau berlama-lama di situ, tapi saya ingat ada dua anak yang  suka ga sabar pengen jumpalitan. Cocok buat melamun soalnya, eh tapi kalau musik kencang yang dinyalakan sound system di situ ga dinyalakan sih...





Destinasi selanjutnya adalah air terjun.  Nah, ini jalannya rada kaya menembus hutan gitu. Ada jalan setapak tapi di tepi jurang. Jadi saya yang mudah tersandung ini lebih memilih menyerahkan si bontot ke suami daripada saya gendong  sendiri. Keputusan memakai sepatu juga tepat, karena di beberapa tempat pijakannya licin. Setelah 15 menit menanjak akhirnya ketemu juga air terjunnya. Ga besar sih, tapi cukup untuk tempat main anak-anak.




Kayanya di tempat seperti ini ga perlu banyak tambahan sih ya. Setidaknya buat anak-anak, sungai  dan lahan luas dengan pohon-pohon sudah jadi arena bermain yang ga habis-habis level kegembiraannya.


Hanya satu malam kami kemping dengan citarasa agak glamping. Sore itu, setelah siangnya kami main-main di tenda saja karena hujan, akhirnya saling berpamitan dengan kawan suami. Kalau dilihat dari gelagatnya sih, bakal ada lagi agenda kemping bareng keluarga. Hmm... mungkin tahun depan. Ke mana ya? Saya sih selama kamar mandi ok, no probs lah. Belum siap yang harus keruk-keruk tanah buat BAK dan BAB hehehe ...

Believe in Your Story ala Seung Ah Kim




“Ahnyeonghaseyo ...” sapanya lantang dan ceria saat memasuki ruangan Liliput.
Seung Ah Kim seorang story teller yang berasal dari Korea ini langsung memancing sumringah di hadapan 20 peserta workshop di Festival Dongeng Indonesia ke-5. Kelasnya bertajuk, “Cerita dan Permainan Jari dari Korea Masa Lampai.” Dan ketika dia berkata usai membungkuk ke berbagai arah peserta yang duduk setengah melingkar, “I’m from royal family ...” saya tahu tidak salah memilih narasumber.


Festival Dongeng Indonesia ke-5 yang diselenggarakan pada 4-5 November kemarin dihelat di Perpustakan Nasional RI yang baru, bersebelahan dengan lokasi FDI sebelumnya, di Museum Nasional. Semangat sudah bertumpuk-tumpuk sejak saya tahu bahwa saya bisa menggunakan hadiah voucher dari wewocraft yang didapat beberapa waktu lalu untuk mengikuti workshop dongeng. Sudah lama ingin ikutan, alhamdulillah tercapai juga.



Dengan mengenakan baju tradisional Korea, Seung Ah membuka percakapan dengan bahasa Inggris yang jelas tentang pengalamannya dengan kisah-kisah. Seung Ah kecil ternyata kesundulan adik sehingga dia terpaksa diasuh oleh neneknya. Sayangnya, Seung Ah saat itu mudah sekali menangis tapi sulit meredakannya. Sang nenek yang seorang janda melakukan segala cara untuk menghentikan tangis Seung Ah. Namun tidak berhasil. Lalu kemudian dia menggendong Seung Ah di punggung dan kemudian menceritakan kisah-kisah. Saat itulah, Seung Ah terdiam.
Sang nenek memang sudah lama melahap banyak bacaan sejak dirinya menjadi janda. Oleh karena berasal dari keluarga yang konservatif, si nenek tidak diizinkan untuk menikah lagi. Itulah sebabnya, buku menjadi sahabatnya dalam mengatasi kesepiannya. Dan dengan segala pengetahuannya akan cerita-cerita, dia pun membaginya pada Seung Ah.


Setelah si nenek meninggal dunia pada awal 2000-an, Seung Ah kemudian mendirikan Arirang Story Telling untuk melestarikan kisah-kisah dari ribuan tahun lalu yang nyaris tak dikenal lagi oleh masyarakat Korea. Dan berkeliling dunia untuk memperkenalkannya.


Hari itu, Seung Ah mengajarkan sebuah permainan jari yang digunakan untuk menghibur bayi. Gerakannya sederhana, hanya menunjuk-nunjuk telapak tangan, namun kata yang diucapkan Konci” (maafkan jika salah tulis ya) berarti “bumi”. Yang bermakna, bahwa manusia berasal dari bumi dan akan kembali ke bumi. Lalu ada gerakan membuka dan menutup kepalan yang dilakukan dua tangan sekaligus sambil menyebut “caem caem”. Gerakan ini berarti “mengambil” yang kemudian ada sedikit gerakan tarian dengan geriak “caem caem” yang mengingatkan kita, bahwa jika sudah tahu cara mengambil, maka harus tahu cara melepaskan. Gerakannya sederhana, tapi maknanya dalam. Dan itu yang diucapkan pada bayi-bayi 5000 tahun lalu.


Walau sederhana, tapi jika sudah tahu maknanya maka cara penyampaian pun juga akan berbeda. Itulah sebabnya Seung Ah mengusung slogan, “Believe in Your Story”. Karena untuk percaya juga harus ada cinta, dan jika sudah percaya dan cinta maka akan ada usaha untuk mendalami dan menghayati dalam menyampaikan sebuah cerita. Gunakan apa pun kebisaan kesukaan Anda dalam membacakan cerita, maka pesannya akan sampai kepada penonton. Entah itu menyanyi, menari atau fokus pada jalan cerita.


Seperti ketika Seung Ah membicarakan tentang aksi teatrikal tradisional Korea bernama “Pan So Ri”. Pertunjukkan langsung oleh seorang penyanyi sekaligus pencerita yang ditemani seorang penabuh drum. Dilakukan di sebuah tanah lapang, biasanya alun-alun, yang bisa berlangsung mulai dari 5 jam hingga 9 jam. Pertunjukkan yang pastinya melelahkan itu mendapat dukungan dari para penonton, mulai dari pujian, teriakan semangat, hingga sekadar mengingatkan untuk istirahat minum atau memperbaiki riasan. Namun dengan kemampuan ‘believe’, kisah yang dilakonkan tidak menjadi hilang fokus atau hilang rasa karena berbagai jeda. Saat Seung Ah mencontohkan sebagian fragmen Pan So Ri dari sebuah kisah romantis, saya terbayang bagaimana seseorang memerankan begitu banyak karakter dengan ragam dialog dan mimik dalam satu lakon. Pasti perlu banyak latihan, karena saya sering tertukar-tukar mimik jika melakukan story telling tanpa melihat buku.

Penampilan storyteller dari Jepang di lantai 7 Perpustakaan Nasional RI


Itu sebagian kesenangan saya saat mengikuti kelas Seung Ah. Kan jadi semangat lagi bercerita, walau masih dalam lingkup ke anak-anak sendiri.
Seung Ah dan berbagai story teller dari berbagai dunia membawa masing-masing pengalamannya untuk dibagi di Festival Dongeng Indonesia. Saat saya berkesempatan melihat kolaborasi para story teller tamu itu di satu panggung, saya merasa mereka membawa energi yang begitu dinamis sehingga anak-anak tidak beranjak dari duduknya menatap satu per satu penampil naik ke atas panggung. Mereka bahkan kian semangat merespons para penampil. Suara anak-anak menggema lantang.

Semua mata tertuju ke para story teller di FDI 5


Teman kuliah yg sempat bareng gabung KPBA, tapi sekarang dia masih jadi penggiat dongeng


Kak Aio saat tampil di FDI 5


Keren lah buat Kak Aio dan kawan-kawan dari Ayo Dongeng Indonesia atas acaranya. Tahun depan insya Allah saya akan datang lagi.