Tampilkan postingan dengan label orangtua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orangtua. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2020

Social Distance Kawanan Dino di Hunian 36m2



Terhitung sejak Senin, 16 Maret 2020, baik anak-anak dan suami mengikuti anjuran Guberbur DKI dengan melakukan social distancing terkait meningkatnya status penyebaran Covid-19 menjadi pandemi. Work From Home dan Home Learning. Begitu bahasa kerennya. Alias apa-apa #dirumahsaja. Sebagai seorang ibu rumah tangga, hal ini bukan situasi baru, maklum masih punya anak kecil yang belum sekolah. Jaga kandang dah jadi pekerjaan utama saya. Belum lagi, saya pun termasuk introvert. Maka kerja di rumah (yang berduit maupun ga), olahraga via youtube, bikin konten di rumah, dah lazim ada di jadwal saya. Namun, rupanya tidak membuat saya jadi lebih mudah menghadapi semua ini.

Karena ini bukan liburan. Ketika anak bebas main game di ponsel, nonton sampai belekan, main di luar sampai dekil, atau ke mal hingga duit habis. No. It’s not like that. School from home artinya ada tugas yang disampaikan gurunya. Ada tahfidz yang kemudian jadi dilakukan via online.
Hari pertama, ketika semua masih kagok. Para orangtua lintangpukang. Koordinasi sana-sini. Dokumentasi, lalu share ke nomor yang terkait. Belum lagi anaknya bertingkah karena merasa tengah liburan. Yang dari pagi dah nagih soal, tapi karena belum ada dia jadi main dulu hingga siang. Dan begitu siang, sudah ga mood. Akhirnya butuh 3 jam untuk menyelesaikan 20 soal. Semua usaha ini dikalikan dengan jumlah anak. Itu pun masih ditambah, pertengkaran rutin para kawanan dino. Hasilnya? Senewen tingkat tinggi. Kepala saya pening, mata berkunang-kunang saat magrib menjelang.



Hari kedua, sudah ada jadwal. Disesuaikan dengan jam sekolah. Akhirnya dua ponsel saya jadi bermanfaat. Tadinya hanya satu yang diaktifkan, tapi karena masing-masing anak dapat tugas yang terkadang berupa soal baru yang tidak ada di buku, jadi yah masing-masing pegang, kecuali saya. Ketergantungan saya pada gawai diuji nih. Dari pukul 7 hingga pukul 12. Rupanya penjadwalan ini, membuat anak laki-laki saya kewalahan. Padahal di sekolah toh sama saja muatannya, entah kenapa motivasi berkurang. Mungkin karena tidak ada faktor main di lapangan, jajan di kantin ... Jadinya begitu pukul 11, dia mulai meraung-raung ga jelas. Cuma gara-gara tidak bisa jawab soal, yang dia dah tidak punya hati untuk berpikir jernih pun melihat di buku pelajarannya. Aksi ngambek yang dimulai dari pagi ini dan berlanjut ke siang ini, muncul lagi jelang sore. Akhirnya sesi tahfidz yang biasanya video call dan saya dampingi, saya lepas saja. Terserah deh hasilnya bagaimana. Hasil akhir? Entahlah ...


Hari ketiga, seperti hari kedua. Si kakak sudah bisa mengikuti ritme. Pagi-pagi mengerjakan soal di lorong hingga Om OB datang untuk bersih-bersih. Sebelum zuhur sudah rampung, meski dia ga harus menyetorkan foto kegiatan hari itu. Sementara si anak tengah, dan lagi-lagi anak laki, masih meneruskan mode berulahnya. Tugas dari sekolah sudah mulai bervariasi. Hari itu ada pelajaran agama yang diminta menyerahkan foto dan video saat tengah melaksanakan shalat dhuha dan fardhu. Meski dengan protes sana-sini, “kenapa harus difotoooooo!” akhirnya terlaksana juga tapi Amy ga sempat bikin background rapi. Ya sudah lah, biarin kelihatan jemuran bajunya. Ternyata tidak hanya itu tugas agamanya. Satu lagi, diminta membuat list perbuatan baik di rumah. Nah loh. Anaknya lagi rese begini. Alhasil, hingga jelang pukul 8, saya belum bisa kirim laporan, karena memang belum ada perbuatan baiknya. Wong, bikin kesel melulu. Ya sudah, saya serahkan pada si anak silahkan berasumsi sendiri, apa perbuatan baiknya hari ini. Ditulisnya, “mengambil selotip untuk Amy”. Iye, itu doang yang dia kerjain!!!! (breath in, breath out).



Hari keempat, setelah amukan pol Amy di hari Rabu, saya agak lelah kalau harus ngegas juga hari Kamis ini. Syukurnya gurunya kian kreatif memberikan tugas, dibagikannya video yang kemudian saya balas dengan permintaan voice note dari dirinya. Untuk mengobati rindu anak-anak muridnya. Well, actually, saya yang rindu mengirim anak-anak ke sekolah. Berasa ga sih kalau rasanya kurang berterimakasih pada guru-guru anak-anak kita? Hari ini edisi baper bin mellow lah. Saya pikir variasi tugas dari gurunya akan bikin anaknya lebih semangat. Eh mulai lagi dong tantrum ... kali ini bukan karena susah, tapi karena menurut si anak laki, terlalu banyak soal yang harus disalin sementara waktu sudah menunjukkan pukul 12. Setelah beberapa menit mendengar dia meraung-raung, saya putuskan mendekatinya. Elus-elus dadanya, tanya masalahnya apa. Yak, ilmu parenting Cuma bisa dilaksanakan kalau ortunya juga lagi waras. Kalau lagi ga, mending di kamar aja deh. Anyway, dalam derai airmatanya, si anak laki berucap, “buat apa aku terusin lagi, sudah jam 12!! Nanti ga dinilai lagi!!” Yaelah, anak cowo drama.

Lalu saya kirim pesan ke gurunya. Gurunya bilang akan menunggu, lalu menambahkan, “di sekolah juga tulisnya banyak tapi selesai.” Dan anaknya kemudian tenang sendiri dan mulai melanjutkan tugasnya. 30 menit kemudian, selesai. Eh tapi itu belum selesai, ada tugas PJOK. Saya pikir disuruh kirim video senam, rupanya diminta mengirimkan foto Perbuatan Menjaga Kebersihan di Rumah. Here we go again. Eh tapi rupanya si anak cowo malah semangat ketika diminta lap lemari buku dan difoto saat membereskan mainan- dengan catatan yang difoto pas taruh kotak mainannya, bukan lagi beberesnya. Malu rupanya dia kalau aib kamar kaya kapal pecah gara-gara dia tebar mainan terumbar bahkan viral di media sosial ^^. Urusan tahfidz juga lumayan. Dia jadi belajar menggunakan fitur mengakhiri video (iye, itu kali-kali pertama kawanan dino menggunakan fitur video call secara intens), mematikan suara alias mute saat group video call dan sekarang belajar menggunakan voice note.

Yap hari ini, hari kelima, ada satu pertanyaan yang diminta gurunya disampaikan via voice note. Harus tepuk tanganlah buat walikelas si anak cowo ini. Karena kalau di sekolah negeri kan yah tergantung kapasitas dan kreativitas gurunya supaya ga monoton kirim-kirim tugas untuk muridnya. Harus dijaga interaksinya. Mengingat belum tentu semua anak bisa diajak kumpul via zoom atau google classroom. Pagi ini, guru agamanya mengirimkan voice note agar setiap anak melakukan tadarus pagi. Pembiasaan yang memang dilakukan setiap Jumat. Mana harus difoto pulak. Anak cewe ribet harus pakai kerudung dan ganti celana panjang dan didobel jaket. Maklum belum pada mandi. Dan anak cowo (yes, dia lagi) ngambek karena terpaksa menghentikan tontonannya, Harry Potter and the Sorcerer Stone untuk ke sekian juta kalinya. Akhirnya tadarus sambil pangku alQuran tapi ditutup lalu lama-lama tiduran. Yeah, tadarusnya di luar kepala. Malah saya yang dikoreksi sama dia. But guess what, sekarang pukul 9 pagi, dan dia sudah selesai semua tugasnya. Mungkin karena lebih sedikit dan karena senang dengan salah satu latihan yang pakai google form, juga karena Harry Potter maraton di TV ... yah sudahlah.

Sehari-hari memang nyaris tidak berubah. Saya tetap membangunkan mereka saat subuh dan masih memberi kesempatan bagi mereka main di luar selama 30 menit karena aslinya mereka anak outdoor. Sementara bapaknya, meski judulnya work from home, lebih tepatnya bagi dia adalah work from coffee shop karena kayanya sulit bagi dia kerja kalau digelayutin sama kawanan dino. Sementara saya, yah porsi masak saya jadi banyak sih. Belum lagi diminta suami agak ngestok makanan sebelum harga naik. Kulkas saya yang biasanya isinya kembang es aja, jadi penuh, tumben. Walaupun kepadatan makanan ini sebenarnya akan habis dalam dua minggu, tapi setidaknya ga harus belanja setiap hari. Tapi tiap hari ada aja sih yang perlu dibeli, batere komporlah, roti lah, selai lah, sayur lah. Yah intinya dilakukan pagi-pagi banget biar ga ketemu banyak orang, belanja cepet-cepet, langsung pulang. Ga pakai selfie-selfie ... ^^

Semoga semakin hari kami semakin baik. Begitu juga bumi.


Kamis, 19 April 2018

KAMYStory: Menjelaskan ke Anak tentang Alkohol



Pagi itu selepas shalat subuh, terdengar bunyi dentingan lift. Lamat-lamat terdengar orang yang keluar dari lift mendekat ke arah lift. Ada beberapa orang, salah satu di antara tersedu-sedu. Lalu pintu unit dibuka. Rupanya tetangga yang mengontrak di depan unit. Tak perlu waktu lama, sedu-sedu itu berubah menjadi raungan. Saya dan Malika saling menatap tanpa bicara. Berusaha abai, fokus ke tugas masing-masing. Raungan yang kian menjadi itu kemudian berubah menjadi ...
HOEEEEK! HOOOEEEK!
Ada yang muntah.
D*mn


Jika bicara tentang alkohol, maka bisa dikatakan toleransi saya nol. Bukan dalam artian saya tidak kuat mabuk, tapi it’s a big no no for me. Masa lalu saya memang ada kenakalan yang saya lakukan, tapi yang berkaitan dengan mabuk, saya jauh-jauh. Ga mabuk saja sudah bandel, apalagi kalau mabuk.


Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal ini. Pertama, pengalaman saya mendapatkan beberapa pelecehan seksual oleh beberapa orang sewaktu saya kecil, membuat saya memasang alarm-alarm untuk beberapa hal yang mengingatkan saya tentang peristiwa itu. Salah satunya adalah alkohol, karena beberapa dari pelaku memang punya kebiasaan minum-minuman keras, walau saat mereka melakukan hal ‘itu’ pada saya mereka tidak dalam keadaan mabuk. Hal ini mengacu pada pembelaan orang-orang yang berkata bahwa mereka adalah peminum yang bertanggungjawab. Tetap bersahaja bagaimanapun keadaannya. Whatsoever. Buat saya, itu pepesan kosong.


Kedua, saya cocok dengan kisah seorang pemuda alim yang dijebak oleh seorang wanita. “Aku memberimu tiga pilihan untuk kau bisa keluar dari rumah ini, kau gauli aku, kau bunuh anak ini, atau kau minum khamr,” kata si wanita itu. Dan singkat cerita, si pemuda alim memilih meminum khamr karena mempertimbangkan hanya dia sendiri yang akan menanggung akibatnya. Ternyata dia berakhir melakukan ketiga pilihan tersebut.


Ketiga, suami saya memiliki sejarah persahabatan panjang dengan alkohol. Dan walau saya berusaha untuk selalu berpikir positif bahwa dia sudah tidak mengkonsumsi alkohol lagi, tapi sulit bagi saya untuk mempercayai bahwa teman-temannya juga sudah berhenti sama sekali. Biasa, kan, pergaulan mempengaruhi gaya hidup. Jadi ketika dia bercerita tentang masa lalu saat dia sudah terlalu mabuk untuk pulang ke rumah, biasanya dia akan dibawa kawannya ke rumahnya dan hal itu akan menggembirakan istri kawannya karena itu berarti suaminya tidak main gila dengan wanita lain. Seketika itu, saya langsung ketakutan. Man, bawa orang mabuk ke dalam rumah? Dan ada anak-anak di dalamnya? Ga cuma satu, tapi dua! Belum lagi istrinya berjilbab dan anak-anaknya sekolah di sekolah berbasis agama Islam. Bengong saya. Saya langsung merinding teringat bahwa pelecehan seksual yang saya alami pun terjadi di rumah sendiri.  Oleh sebab itu, saya pun menerapkan aturan. No drinkers allowed to come to my house and meet my kids. No way, jose.

Makanya doktrin tentang alkohol kepada anak-anak tidak semata-mata soal agama tetapi juga tentang hal lainnya.


“Nah itulah yang namanya orang mabok.”
Jawab saya ketika tetangga itu muntah-muntah dan Malika bertanya ada apa dengan dirinya. Lalu saya pun ceramah mulai dari segi medis hingga segi sosial. Bagaimana alkohol mempengaruhi tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan dan kadar berlebihan bagi tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Dan bahwa intinya lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Saya sengaja bicara panjang lebar semata-mata agar suami tidak mengeluarkan komentar-komentar seperti, “ah dianya aja cupu ga tahan minum” dan sebagainya.


“Mabuk itu apa sih?” tanya Malika di usia batita ketika dibacakan kisah-kisah nabi dan tengah menjelaskan tentang perilaku kaum-kaum sebelum datangnya nabi.
Keluar deh kbbi ala saya. Mabuk adalah kondisi yang disebabkan oleh minum-minuman keras.
“Minuman keras itu apa?”
“Yah, yang mengandung alkohol.”


Lain waktu, dia bertanya usai melihat iklan.
“Napza itu apa?”
“Narkotika, obat-obatan dan zat terlarang lainnya.” Jawab saya singkat.
“Apa itu?”
“Zat-zat yang disalahgunakan orang-orang untuk menjadi mabuk.”
“Obat batuk termasuk obat-obatan terlarang, ga?”
“Ya, ga. Untuk kondisi kesehatan, misalnya sakit memang menggunakan narkotika, tetapi hanya boleh dokter yang mengaplikasikannya. Kalau dipakai-pakai sendiri namanya penyalahgunaan. Itu yang ga boleh.”


“Kalau sudah umur 21 tahun, kita dah boleh minum alkohol?” tanya Safir usai menanyakan tentang tulisan “untuk usia 21 tahun ke atas” di lemari pendingin berisi minuman keras di salah satu swalayan.
“Secara hukum pemerintah sih begitu. Tapi menurut hukum Islam, mau umur berapa pun juga ga boleh minum alkohol.”
“Kenapa masih boleh dijual, padahal kan orang Islam ga boleh minum minuman keras?” timpal Malika.
“Karena yang tinggal di sini kan ga hanya orang Islam. Ga semua agama melarang minum minuman keras.” Saya sok cool.
“Padahal kan jelas ga membawa manfaat. Nanti malah nyusahin orang lain.” Sungut Malika.
“Yaah, kalau di negara-negara dingin seperti di Eropa kan minum alkohol membantu mereka untuk merasa hangat.”
“Tapi di sini kan panas,” Malika menjawab balik. “Memangnya ampunwa Nurul minum alkohol, kan di Inggris tinggalnya.”
“Ya, ga sih.” Kadang saya suka lelah meladeni pertanyaannya.
“Banyak orang yang minum-minum karena ingin terlihat gaya, dianggap bisa meredakan stress, bikin orang happy, karena pergaulan.”
Dan dia merengut dengan penuh ketidaksetujuan.


Saat saya berfoto untuk foto di atas, anak kawan saya yang kebetulan juga turut ikut olahraga bersama bertanya, “Emang itu apa?”
“Tempat orang minum bir.”
“Orang Islam boleh ga masuk ke situ?” dan tahu-tahu ibunya menodong saya untuk menjawab.
“Yaah, tempatnya sih ga melarang orang Islam untuk masuk. Mereka kan yang penting bisa bayar aja. Namun seharusnya, orang yang mengaku Islam tidak masuk ke situ.”


Lalu saya biarkan ibu dan anak itu melanjutkan perbincangan.


Pendidikan ini belum berakhir. Semakin bertambahnya usia, akan semakin banyak pertanyaan terkait hal ini yang terucap dari mulut anak-anak ini. Terkadang saya merasa, anak-anak bingung melihat ada begitu banyak larangan yang diterapkan di rumah tapi bertebaran dilakukan di luar sana.


Celetukan seperti, “Apa orangtuanya ga mengajari itu?” berulang-ulang mereka ucapkan untuk berbagai situasi. Bukan dengan nada sinis, tapi serius bertanya.  Yang lama-lama seperti mempertanyakan kenapa seperti hanya aminya yang melarang hal itu.


Saya rasa di satu fase, jika saya salah-salah mengaplikasikan hal-hal yang hendak saya tanamkan, justru rumah sayalah yang kemudian akan dianggap aneh oleh anak-anak karena membatasi diri. Sungguh, harapan saya semoga fase itu tidak pernah ada. Bahwa mereka tidak punya kebutuhan untuk mencoba hal-hal semacam itu. Karena saya ga yakin bakal kuat mengatasinya.


“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS: al Furqan: 74)

Kamis, 01 Maret 2018

KAMYStory: PR dari Sekolah, Tugas Anak atau Orangtua?




Masa-masa masuknya anak TK menjadi anak SD, sedikit banyak membuat para orangtua deg-degan setiap kali anaknya diberi PR. Terutama PR yang berbau prakarya. Ketika anak duduk di kelas 1, saya masih merasa mafhum jika prakarya anak dibuatkan oleh orangtuanya. Namun, ketika ternyata bantuan itu berlanjut hingga ke jenjang selanjutnya, saya jadi bertanya-tanya sendiri. Mau sampai kapan, ya? 


Sementara itu, saya pun kenal dengan orangtua yang sama sekali tidak mau terlibat dengan tugas anaknya. Alasannya, dia tidak mau menjadi orangtua yang ketika anaknya sudah duduk di kelas besar, masih sibuk dengan tugas anak yang seharusnya dilakukan oleh anaknya, bukan orangtuanya. 


Tanpa bermaksud munafik toh saya sebagai bungsu, masa kecil saya dan juga tugas-tugas saya banyak dibantu oleh kakak-kakak saya.  Kebiasaan saya menunda-nunda tugas membuat tiga kakak saya (dengan berbagai alasan, mulai dari kasihan sampai terpaksa) turun tangan membantu. Maklum, kedua orangtua saya bekerja, dan karena mereka cukup galak, kami meminimalisir hal-hal yang akan membuat keributan di rumah, salah satunya jika kemudian ketahuan saya tidak mengerjakan tugas, pasti kakak-kakak saya yang kemudian kena semprot karena dianggap tidak menjaga adiknya. 


Mulai dari membantu sedikit, hingga pernah juga saya menyerahkan sepenuhnya tugas itu ke kakak saya dengan semena-mena lewat surat pulak. Ya, memang, tugas saya yang dibantu kakak-kakak itu biasanya mendapat nilai lebih ketimbang jika saya membuatnya sendirian. Tapi jangan salah, sepanjang dibantu itu, omelan ga pernah surut. Meski begitu, saya merasa romantis karena saya jadi lebih suka bekerja sama dengan kakak-kakak saya ketimbang dengan teman sebaya saya ketika tugas kelompok. Bahkan tugas peta dunia pernah saya pajang dengan bangganya di kamar karena alasan romantisme. Atau lebih tepatnya ketergantungan? Karena saya jadi terbiasa mencari tahu lewat kakak-kakak saya ketimbang mencari tahu sendiri. Kalau dilepas sendiri, kemungkinan saya blank itu sangat besar. Itulah sebabnya saya merasa dibantu saat mengerjakan prakarya itu perlu dengan beberapa catatan. 


Ketika punya anak, saya mencoba membiarkan anak mengerjakan tugasnya sendiri walau kadang gatal karena lihat karya anak-anak lain yang lebih heboh karena campur tangan orangtuanya. Setelah beberapa kali dibiarkan kok saya kesel ya? Hasilnya tuh ga banget. Rupanya, kreativitas itu ga senantiasa come out of nowhere. Harus ada inspirasi, harus ada pengetahuan tambahan, harus ada feedback, supaya lebih baik. Apalagi ini anak sulung yang memang tingkat ketelatenannya masih belum baik, secara anak outdoor gitu.  


Nah berhubung si sulung ini pun punya kemauan keras, dia juga sulit menerima usulan karena dianggap saya mencoba mengatur-atur. Akhirnya saya pelan-pelan ikut nimbrung, coba mendengar visi misinya dan ternyata emang benar, ini anak blank. Jika ada contoh di buku pelajarannya, biasanya saya biarkan dia mencontoh. Walau tatanannya mungkin tidak seapik yang saya inginkan. Biarin aja deh. Biar dia lihat sendiri hasil teman-temannya (tanpa bilang kalau si A atau si B itu dibuatkan oleh orangtuanya). Cuma untuk memperlihatkan bahwa sedikit usaha dapat menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda.  Hanya saja, saya tetap memberikan info-info yang saya tanyakan di grup sekolah karena terkadang saya juga bingung sama penjelasan si anak dan untuk memastikan bahwa karya anak saya tidak melenceng dari yang dimaksud. 



Sejak saat itu, saya mulai punya Pinterest. Untuk memberikan referensi terkait prakarya apa yang dapat dia ciptakan dengan materi yang diminta, dan kemudian memilih atau menciptakan sendiri bentuk yang dia inginkan. Youtube juga menjadi alat bantu agar dia bisa melihat cara sesuatu dibuat. Semata-mata agar dia mendapat wawasan tambahan, tanpa saya harus menunjukkan sendiri karena biasanya dia suka merasa terintimidasi. 


Yang menarik adalah ketika saya membantu, justru jadi menarik perhatian adik-adik yang lain. Saya rasa mereka hanya ingin terlibat dalam family project yang belakangan sudah jarang kami lakukan. Jadilah mereka ngiri, karena merasa saya hanya meluangkan waktu untuk si kakak.  I guess we should make another family project. 


 Family project dapat menciptakan hubungan. Komunikasi yang terjalin dapat membantu menyamakan visi misi, frekuensi, dan bahkan mengeluarkan cerita-cerita atau rasa-rasa yang tidak pernah dikemukakan sebelumnya. Tentunya jika situasinya semua setara ya, kalau ada pihak-pihak yang hendak mengatur, pasti hasilnya hanya menjadi mengerjakan tugas dalam keadaan tertekan. Itu baru saya simak kata-katanya pas mengetikkannya. I guess writing it in the middle of the night might works for this kind of reason. 


OK, kembali ke topik. Kesimpulannya, saya menggunakan momen prakarya anak itu untuk memperbaiki hubungan. Yah anggap saja itu family project, bukankah itu keuntungan legal dari sebuah PR? Lagipula, saya jadi bisa melihat sebaik apa si anak dalam ketelitian, ketelatenan, cara dia melihat keindahan, kerapihan. Cuma lihat dan nilai dalam diri sendiri sih. Soalnya anaknya baperan. Jadi saya bisa ada ide, apa lagi yang bisa saya tunjukkan ke anak-anak guna meningkatkan berbagai aspek yang saya sebut di atas. 

Jadi membantu itu tidak sama dengan mengerjakan sepenuhnya. Namanya juga membantu, ya porsi keterlibatan bintang tamu tidak sebanyak porsinya bintang utama. Soal nilai? Nilai si sulung untuk keterampilan termasuk yang nilainya lebih kecil dibandingkan nilai-nilai dia yang lain. Tapi saya biasa-biasa saja. Orang yang kreatif sekaligus pintar juga sangat atletis itu jumlahnya cuma sedikit, jadi tidak bisa dijadikan acuan hidup, bisa gila nanti. Nah, itu kembali ke masing-masing sih. Melihat nilai sebagai acuan diri, atau sebagai acuan peringkat semata di rapor? 

Jumat, 10 November 2017

Believe in Your Story ala Seung Ah Kim




“Ahnyeonghaseyo ...” sapanya lantang dan ceria saat memasuki ruangan Liliput.
Seung Ah Kim seorang story teller yang berasal dari Korea ini langsung memancing sumringah di hadapan 20 peserta workshop di Festival Dongeng Indonesia ke-5. Kelasnya bertajuk, “Cerita dan Permainan Jari dari Korea Masa Lampai.” Dan ketika dia berkata usai membungkuk ke berbagai arah peserta yang duduk setengah melingkar, “I’m from royal family ...” saya tahu tidak salah memilih narasumber.


Festival Dongeng Indonesia ke-5 yang diselenggarakan pada 4-5 November kemarin dihelat di Perpustakan Nasional RI yang baru, bersebelahan dengan lokasi FDI sebelumnya, di Museum Nasional. Semangat sudah bertumpuk-tumpuk sejak saya tahu bahwa saya bisa menggunakan hadiah voucher dari wewocraft yang didapat beberapa waktu lalu untuk mengikuti workshop dongeng. Sudah lama ingin ikutan, alhamdulillah tercapai juga.



Dengan mengenakan baju tradisional Korea, Seung Ah membuka percakapan dengan bahasa Inggris yang jelas tentang pengalamannya dengan kisah-kisah. Seung Ah kecil ternyata kesundulan adik sehingga dia terpaksa diasuh oleh neneknya. Sayangnya, Seung Ah saat itu mudah sekali menangis tapi sulit meredakannya. Sang nenek yang seorang janda melakukan segala cara untuk menghentikan tangis Seung Ah. Namun tidak berhasil. Lalu kemudian dia menggendong Seung Ah di punggung dan kemudian menceritakan kisah-kisah. Saat itulah, Seung Ah terdiam.
Sang nenek memang sudah lama melahap banyak bacaan sejak dirinya menjadi janda. Oleh karena berasal dari keluarga yang konservatif, si nenek tidak diizinkan untuk menikah lagi. Itulah sebabnya, buku menjadi sahabatnya dalam mengatasi kesepiannya. Dan dengan segala pengetahuannya akan cerita-cerita, dia pun membaginya pada Seung Ah.


Setelah si nenek meninggal dunia pada awal 2000-an, Seung Ah kemudian mendirikan Arirang Story Telling untuk melestarikan kisah-kisah dari ribuan tahun lalu yang nyaris tak dikenal lagi oleh masyarakat Korea. Dan berkeliling dunia untuk memperkenalkannya.


Hari itu, Seung Ah mengajarkan sebuah permainan jari yang digunakan untuk menghibur bayi. Gerakannya sederhana, hanya menunjuk-nunjuk telapak tangan, namun kata yang diucapkan Konci” (maafkan jika salah tulis ya) berarti “bumi”. Yang bermakna, bahwa manusia berasal dari bumi dan akan kembali ke bumi. Lalu ada gerakan membuka dan menutup kepalan yang dilakukan dua tangan sekaligus sambil menyebut “caem caem”. Gerakan ini berarti “mengambil” yang kemudian ada sedikit gerakan tarian dengan geriak “caem caem” yang mengingatkan kita, bahwa jika sudah tahu cara mengambil, maka harus tahu cara melepaskan. Gerakannya sederhana, tapi maknanya dalam. Dan itu yang diucapkan pada bayi-bayi 5000 tahun lalu.


Walau sederhana, tapi jika sudah tahu maknanya maka cara penyampaian pun juga akan berbeda. Itulah sebabnya Seung Ah mengusung slogan, “Believe in Your Story”. Karena untuk percaya juga harus ada cinta, dan jika sudah percaya dan cinta maka akan ada usaha untuk mendalami dan menghayati dalam menyampaikan sebuah cerita. Gunakan apa pun kebisaan kesukaan Anda dalam membacakan cerita, maka pesannya akan sampai kepada penonton. Entah itu menyanyi, menari atau fokus pada jalan cerita.


Seperti ketika Seung Ah membicarakan tentang aksi teatrikal tradisional Korea bernama “Pan So Ri”. Pertunjukkan langsung oleh seorang penyanyi sekaligus pencerita yang ditemani seorang penabuh drum. Dilakukan di sebuah tanah lapang, biasanya alun-alun, yang bisa berlangsung mulai dari 5 jam hingga 9 jam. Pertunjukkan yang pastinya melelahkan itu mendapat dukungan dari para penonton, mulai dari pujian, teriakan semangat, hingga sekadar mengingatkan untuk istirahat minum atau memperbaiki riasan. Namun dengan kemampuan ‘believe’, kisah yang dilakonkan tidak menjadi hilang fokus atau hilang rasa karena berbagai jeda. Saat Seung Ah mencontohkan sebagian fragmen Pan So Ri dari sebuah kisah romantis, saya terbayang bagaimana seseorang memerankan begitu banyak karakter dengan ragam dialog dan mimik dalam satu lakon. Pasti perlu banyak latihan, karena saya sering tertukar-tukar mimik jika melakukan story telling tanpa melihat buku.

Penampilan storyteller dari Jepang di lantai 7 Perpustakaan Nasional RI


Itu sebagian kesenangan saya saat mengikuti kelas Seung Ah. Kan jadi semangat lagi bercerita, walau masih dalam lingkup ke anak-anak sendiri.
Seung Ah dan berbagai story teller dari berbagai dunia membawa masing-masing pengalamannya untuk dibagi di Festival Dongeng Indonesia. Saat saya berkesempatan melihat kolaborasi para story teller tamu itu di satu panggung, saya merasa mereka membawa energi yang begitu dinamis sehingga anak-anak tidak beranjak dari duduknya menatap satu per satu penampil naik ke atas panggung. Mereka bahkan kian semangat merespons para penampil. Suara anak-anak menggema lantang.

Semua mata tertuju ke para story teller di FDI 5


Teman kuliah yg sempat bareng gabung KPBA, tapi sekarang dia masih jadi penggiat dongeng


Kak Aio saat tampil di FDI 5


Keren lah buat Kak Aio dan kawan-kawan dari Ayo Dongeng Indonesia atas acaranya. Tahun depan insya Allah saya akan datang lagi.



Jumat, 03 November 2017

JJS: Ditinggal Suami Demi Sunrise di Dieng


SUNRISE di DIENG
Photo Credit FB @herysogirkuswahyo


“Kamu tahu ga kenapa aku ajak ke sini?” tanyanya tiba-tiba di tepi telaga Cebong.
“Ga,” aku melengos karena masih teringat rasa kesal semalam.
“Karena pertama kali aku dibawa ke gunung ya ke sini sama ibu.” Lalu raut merindu itu pun terlihat.


Sejak pertama kali ide ini dicetuskan oleh suami, saya agak-agak merasa tidak adil. Memang tujuan utamanya ke Dieng, tapi itu berarti tetap mampir ke Purworejo, kampung kedua orangtuanya dan tempat mereka dimakamkan. Bukan apa-apa sih, masalahnya ini sudah kali kedua kami ke Purworejo, sedangkan kampung mama papaku belum pernah dipijak satu kali pun. Dan ini sudah 9 tahun pernikahan. Terbayanglah saya kalimat-kalimat mama yang sudah bisa ditebak kalau beliau tahu saya ke sini. Maklumlah ya, namanya berkeluarga pasti kalau mau berkunjung jadi memikirkan apakah adil atau tidak ke orangtua.


Namun, begitu melihat ada seorang anak yang tengah merindukan orangtuanya plus dengan kenangannya, masa iya mau marah lama-lama. Sambil berdoa dalam hati, semoga disegerakan ada rezeki bisa ke kampung orangtua saya di Sumatera Barat dan Aceh. Demi menyenangkan orangtua.


Butuh dua jam untuk mencapai daerah Dieng dari Purworejo, area pegunungan yang semakin naik jalannya semakin jauh pandangan ini melihat tebaran ladang kentang di kiri kanan mobil.


Menara pandang Dieng menuliskan posisinya di ketinggian 1789 m dpl. Di situlah lapis pertama jaket anak-anak (dan saya) dipakai. Sekadar mencicipi mie ongklok dan french fries khas Dieng untuk pertama kali. Menara pandang itu sedang pembangunan di sisi-sisinya, mungkin di saat-saat tertentu spot itu banyak dicari oleh para wisatawan.  Mau beli perlengkapan dingin di sini juga murah meriah.





Kabut mulai turun sehingga kami bergegas kembali ke mobil sebelum jalanan tertutup kabut. Wajar jika harus berhati-hati, jalanannya selain berkelok-kelok pun sempit dan truk atau bis berlalu-lalang.


Saat tiba di area kota, hujan rintik-rintik, menambah rimbun kabut-kabut yang mengambang di sekitar mobil. Saya yang jarang-jarang ketemu kabut pun menyempatkan berfoto. Jaket lapis kedua pun dipakai.




Kawasan Candi Dieng merupakan tujuan kami selanjutnya. Di dalam kawasan ini, ada beberapa candi, salah satunya belum selesai dibangun ulang karena ada satu baris bagian yang hilang. Kawasan ini menyenangkan karena tertata rapi, seperti taman. Walau kami masuk dari bagian belakang yang agak mencurigakan gitu jalannya, tapi begitu sudah masuk kawasan, terlihat cukup terawat. Anak-anak bebas berlarian ke sana ke mari sambil menghangatkan tubuh. Sementara suami sibuk mengambil gambar. Sinyal internet juga cukup bagus di sini, sehingga keponakan yang turut ikut bersama kami sempat-sempatnya update status.






Ada beberapa kawasan candi di Dieng, tapi tidak seluas kawasan Candi Dieng.


Setelah pembelajaran perbedaan agama dan keyakinan singkat pada anak-anak dari tur candi ke candi, maka berlanjut ke pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Saatnya mengunjungi kawah.

Foto pakai masker di samping kawah Sikadang ternyata bisa bagus juga



Walau penampakan depannya agak kurang meyakinkan, tapi kawasan Kawah Dieng Sikidang ini cukup sadar bahwa perlu menambah pengalaman bagi para wisatawan yang datang. Daerah sekitar kawah dipagari kayu, sedangkan di sana sini dibuat berbagai spot foto. Hanya saya bingung kenapa temanya harus romansa ya? Kawasan ini kan agak-agak berbahaya tapi ‘love’ di mana-mana ^^ Dengan masker yang sudah dibeli sebelumnya, aroma kawah ini memang kuat. Panasnya juga dimanfaatkan untuk merebus telur dan kemudian dijual. Hmm ... memangnya beda ya rasanya?


Kawah yang beberapa bulan lalu pernah meledak, Kawah Sileri pun kami datangi. Ketika kami datang berselang beberapa minggu sebelumnya juga meledak untuk pertama kalinya. Ada yang aneh ketika kami dalam perjalanan ke sana. Area kawasan Sileri letaknya jauh dari kota. Ladang luas atau pembangkit gas di kiri-kanan, lalu tiba-tiba ada waterpark. In the middle of nowhere. Dan itu berseberangan dengan kawah Sileri. Waterparknya besar juga, makanya terlihat canggung. Apa berenang di situ airnya hangat?

Kawah Sileri. Tidak sebesar sikadang tapi auranya bikin deg-degan ngeri.



Berbeda dengan kawah Sikidang, kawan Sileri ini malah terlihat seperti kawah mencurigakan. Tanah yang kami pijak semakin lembut seiring bertambah dekatnya kami ke tepi kawah. Tidak ada pagar kayu di sana. Begitu mulai terlihat tanah yang menghitam, saya meminta anak saya berhenti melangkah. Ngeri juga sayah hehehe ...


Dan tak butuh waktu lama, kami pun bertolak ke desa tertinggi di Dieng, desa Sembung.

Dieng. Di mana-mana kentang.



Mobil kami diberhentikan di depan gapura. Azan magrib berkumandang, langit sekejap menjadi gelap. Kami tidak bisa masuk ke penginapan yang dituju karena akan dilaksanakan hajatan alias ada panggung yang memblokir jalan. Para penjaga di sana mencarikan penginapan yang memungkinkan untuk kami pakai. Dan kami pun menunggu dalam balutan jaket dan sarung tangan. Kini dinginnya bukan main-main.


Akhirnya dapat juga kami satu rumah. Karena memang tidak bisa ke mana-mana juga, maka fokus kami adalah makan dan tidur. Terbayang harus bangun pagi-pagi sekali besok demi mengejar matahari terbit. Tapi dasar saya yang memang sulit tidur pulas di perjalanan, saya terbangun di tengah malam dan mencari makan malam yang memang sengaja saya minta dilebihkan belinya ke suami. Bolak-balik saya mencari, lalu saya tanya ke suami, eh sudah dia habiskan. Duh ... dingin-dingin begini ga ada makanan berat? Apalagi perut itu letaknya dekat sama hati, jadi kalau perut lapat, emosi pun menumpuk. Yah sudahlah, terpaksa tidur dengan perut minta-minta makan, membayangkan pecel ayam dan nasi hangat yang semalam dimakan. Dan dalam keadaan setengah tidur itu yang dipaksa-paksakan, saya lihat suami sibuk mondar-mandir dengan perlengkapan dinginnya lalu kemudian keluar kamar dan penginapan itu hening hingga waktu yang lama.




Saya terbangun dan usai shalat keluar kamar. Ternyata ... Ga ada siapa pun di luar kamar!


Rupanya suami, sepupu, dan keponakan sudah bertolak menuju Bukit Sikunir demi mengejar matahari terbit. Oke lah, bung .... Kita ditinggal .... Pasti ga mau disuruh gendong bocah dua tahun sambil hiking kan? Galau sih mau nyewa baby carrier .... Dan sekarang kami Cuma diminta senyum-senyum saja mendengar cerita mereka melihat sunset yang menurut suami agak berawan dan telat munculnya.


Toh, anak-anak disempatkan juga mampir ke Telaga Cebong yang merupakan kaki bukit Sikunir. Sepertinya warung-warung di sana hanya buka saat jelang matahari terbit untuk para wisatawan, karena ketika kami tiba, semuanya tutup. Di sekitar Telaga ada beberapa kemah di sana, wedew .... ga usah dibayangkan deh dinginnya kaya apa semalam. Kayanya hanya penyanyi dangdut yang joget di panggung semalam saja yang tidak merasakan menggigitnya hawa malam kemarin.

Telaga Cebong di Satu Sisi

Telaga Cebong dari Sisi Lain



Telaga Cebong ini ga ada yang spesifik sih, tamannya belum ditata, tapi kalau mau bengong-bengong sepi, di sini cocok. Suasananya quite, telaganya tenang. Kalau saya lebih lama di sini mungkin sudah dapat banyak ide tulisan.


Lihat degradasi warna di telaga Warna



Usai menyerahkan kunci penginapan, kami meroda hingga ke Telaga Warna. Sayang saya tidak turun karena si bayi tidur. Lagian saya buta warna, jadi agak sulit merasakan keindahan telaga yang konon memantulkan tiga warna yang berbeda. Sepertinya sudah di tahap Let It Go, yang penting suami senang. Kasihan kan sudah jadi pencari nafkah utama dan satu-satunya, tapi ga boleh menentukan sendiri mau liburan ke mana? Maklumlah, aslinya anak outdoor, jadi bertahun-tahun ga naik gunung tentu rindu juga .... Yah semoga semakin semangat menjalani hari.


Kamis, 14 September 2017

KAMYStory: Tips Emak-emak Jadi Seksi Dokumentasi Sekolah


Sebenarnya ga tips banget sih, ini hasil saya jadi juru potret buku tahunan di TK anak-anak selama hampir tiga tahun berturut-turut. Saya pun bukan ahli motret dan sepenuhnya mengandalkan kamera suami yang di-auto 😅. Tapi demi efisiensi anggaran ya jadinya saya mengajukan diri. Sebenarnya sih karena rindu berurusan sama buku hehehe ... Nah dari pengalaman itu, ada beberapa hal yang saya catat untuk diingat.

1. Mengumpulkan Dokumentasi SELURUH kegiatan
I mean the whole activities. Makanya sekarang diusahakan setiap ada acara yang orangtuanya boleh nimbrung, saya datang untuk menambah koleksi foto. Kalau hanya ada guru-guru ya mau ga mau rada sabar-sabar kalau sudut pandangnya ga pas menurut saya. Biasanya saya mengingatkan ke ibu guru, paling tidak ada foto anak-anak bersama duduk manis (biasanya berlaku untuk kegiatan kunjungan). Foto dari walimurid pun ga serta merta saya hapus dari ponsel walaupun tidak ada foto anak saya. Tetap disimpan di folder laptop, siapa tahu dibutuhkan.




2. Pertajam Kemampuan Mengabsen Anak
Saat saya sempat mengambil foto di suatu kegiatan, penting untuk bisa tahu siapa saja yang belum difoto. Hal ini untuk menghindari para walimurid yang sedih melihat tak satupun foto yang di-share ada anaknya. Biasanya para orangtua bekerja ya. Jadi tanpa bermaksud pilih kasih, yang ga ada orangtuanya biasanya saya foto lebih sering. Bukan apa-apa, soalnya saya kan ala-ala jadi ga tentu sekali motret langsung bagus. Kalau fotonya hanya sekali lalu buram lalu si anak ga ada dokumentasi sama sekali oleh orangtuanya, niscaya begitulah ... pasti ada yang sedih. Malah tak jarang, karena sibuk foto anak orang, foto anaknya sendiri malah seadanya ^^’.

3. Konsep
Kalau ini terkait buku tahunan. Karena serba sederhana, konsep jadi harus kreatif. Dan konsep ini juga harus selaras sama layouter-nya. Biasanya demi penghematan, saya pilih konsep yang tidak pakai crop atau ilustrasi berlebihan. Layouternya pun gratisan, masa saya minta yang serba wah ini itu. Dua kali bikin buku tahunan TK, saya banyak mengkoreksi diri terkait konsep ini. Apalagi untuk anak TK memang yang paling penting adalah foto anaknya jelas dan bagus ekspresinya, which is sulit yaa ... anak-anak itu kalau difoto satu-satu itu gayanya kaya mau pasfoto, tegang tegap gitu. Mungkin karena bukan orangtuanya yang foto. Tapi kalau mengandalkan koleksi foto dari orangtua masing-masing, saya suka khawatir dengan inkonsistensi kualitasnya. Kan tiap orang punya definisi yang berbeda-beda.



4. More is Better
Harus selalu punya backup plans siy intinya. Mengambil foto sebanyak-banyaknya di setiap kesempatan dapat membantu saat terjadi error ketika sesi foto untuk buku tahunan. Yang paling sering sih ketika foto bersama ternyata banyak yang ga masuk. Sedangkan saya ga terlalu suka metode foto anak di-crop lalu dibuat seolah-olah hadir. Terlalu banyak efek. Antara ga suka sama ga bisa siy hehehe ... Jadi punya banyak koleksi itu sangat membantu, apalagi jika berasal dari kamera yang sama hihihi ...


5. Belajar Fotografi
Mau ga mau harus belajar cara foto sih. Mengandalkan auto kadang ga dapat hasil yang diharapkan. Apalagi suka dikritik sama suami. Ya cahaya lah, ya fokus. Padahal motretnya pun sudah kaya akrobat karena namanya anak-anak geraknya cepat dan tidak diduga, beda banget sama potret kue hehehe ... Makanya harus berani minta maaf juga kalau dikeluhkan para orangtua jika ada yang ga berkenan. Kan ga mentang-mentang proyek terima kasih, terus boleh sebisanya saja. Iya ga siy?


6. Pasrah Ga Punya Foto Diri
Walau termasuk anggota komite, yang namanya juru potret yah harus siap kalau pada akhirnya foto dirinya sendiri ga ada. Hahaha .... Yah sejak menghilangkan salah satu komponen tripod, dan belum beli lagi, jadi pasrah ajalah hahaha pure juru potret. Biar kalau mau disalahin, ga ada fotonya di buku tahunan. Lah malah mau kabur ^^.


Apa pun itu,  mudah-mudahan tahun ini bisa buat yang lebih baik. Semangat.


Kamis, 30 Maret 2017

KAMYStory: Ikatan Kakak-kakak Perfect tapi Saya Adiknya

Kakak beradik. Serupa tapi tak sama. 

Si penulis itu bertanya dalam status FB-nya. Persoalan terbesar apa yang dialami dengan saudara kandung?
Saya menulis, "merasa terdeterminasi oleh kakak yang kebangetan hebatnya"

Dan voila, saya tidak sendiri. Hingga kemudian terucaplah kata-kata di atas oleh salah seorang pemberi komentar, "Ikatan Kakak-kakak Perfect tapi Saya Adiknya" 

Saya geli setengah mati membacanya. Rasanya ngenes tapi bagaimana gitu. 
Saya punya tiga kakak. Lebih tepatnya dua abang dan satu kakak. Ketika saya bicara tentang kakak yang membuat saya terdeterminasi itu biasanya merujuk ke kakak saya, yang berada persis di atas saya. 

Sulitnya adalah, dia itu hebat segala-segalanya. Orangtua selalu memasang standar yang telah diraih kakak saya, untuk saya capai pula. Dan lama-lama aku lelah, karena memang tak kunjung bisa mencapainya.
Di kalangan ninik mamak saya lebih sering dikenal sebagai, "Ooooh, adiknya Dara,ya?"

Saya baru bisa terlihat setelah kakak saya kuliah s2 di luar negeri. Bayangin, perginya kudu keluar negeri lagi. Sedangkan gue ngedeprok aja di mari. ^^

Tidak hanya keluarga, teman-temannya pun begitu. Ketika saya berjalan, saya tak kaget lagi jika ada yang memanggil, "Dara!" dan saya jawab sambil terus berjalan, "Adiknya!"
Ironisnya, kakak saya selama ini malah merasa tumbuh tanpa pujian dari orangtua. Well, lebih tepatnya pujian orangtua itu ada, hanya saja tertuju semua ke saya. Dengan kata lain, salah alamat. Jadi, kepribadian dan prestasi kakak saya dipuja-puji di luar sana hingga saya sesak napas, kakak saya malah merasa rendah diri karena pujian dari orangtua sendiri tak pernah sampai padanya. 

Nah loh. Pelik lah hidup ini hehehe .... 

Jadi bagaimana kabar saya sekarang? Hmm ... yah lebih baik hahaha ... Mungkin setelah saya menetapkan bahwa "adikNYA" bukanlah kata milik, melainkan sebatas kata keterangan dalam silsilah keluarga bukan silsilah jalan kehidupan saya secara pribadi.

Apalagi setelah membaca  tentang cara kerja otak masing-masing individu. Kakak saya (dan juga ibu saya) adalah orang yang menjadikan prestasi sebagai mesin bahagianya. Orang-orang seperti ini senang mencapai sesuatu yang terbaik dan berharap diapresiasi, terutama oleh orang-orang terdekatnya. Sedangkan saya banyak menggunakan otak tengah, alias bisa semuanya tapi tidak jagoan. So, terimalah nasibmu, naaak. Cara kerja saya terbalik, apa pun hasilnya, yang penting progresnya membuat saya bahagia. Jadi menyandingkan kakak saya dalam sisi mana pun, apalagi dengan kacamata orang kebanyakan, tentulah saya kalah di mana-mana. Udah kalah, tidak bahagia pula. 

But it doesn't mean I hate her. Wong dia yang ngasuh saya.  Saya hanya perlu menerima diri saya apa adanya. Dan berbahagia atas apa pun yang diraih kakak (dan abang-abang) saya.  

Bagaimana dengan anak-anak?
Hmm, saya suka bingung sebenarnya. Misalnya: ga mau si bungsu dapat baju lungsuran terus (pengalaman pribadi), tapi baju kakak-kakaknya banyak yang masih bagus (mak irit lah). Ga pernah membandingkan, tapi anaknya minta disama-samain melulu, kalau ga disamakan dibilang ga adil. Hadooooh. Ini masih mending si bungsu belum bisa ngomong bener. 

Saya jarang kasih pujian but I said thank you karena saya merasa semua anak itu terlahir hebat. 

Ketika si sulung memberikan hasil ulangannya, yang saya cari letak kesalahannya. Coba ya, Amiiiii ....
Ketika saya tanya, "kok ini bisa salah?" 
"Iya, lupa" Jawabnya
"Kok bisa lupa?" Si Ami mulai nyebelin.
"Ya namanya juga orang, emang ga boleh salah?" Nah loh. 

Saya pusing deh. Saya sih pasrah lah kalau suatu hari anak3 saya pada komplain tentang berbagai kesalahan saya dalam pengasuhan. Eh, sekarang juga sudah sih. Hehehe .... Namun, dengan segala kekurangan saya, selalu berharap bahwa Tuhan selalu memberi perlindungan dan berkah pada anak-anak saya dan seluruh anak-anak di bumi. Untuk menjadi yang terbaik dari diri mereka, bagaimana pun orangtuanya. 

You don't have to be the best, but do your best and be happy.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Sekelumit Rasa untuk Pengidap Kelainan Langka (Rare Disorders)


"Si kakak bertanya, mengapa jari adiknya ada 24. Dan kemudian keluarlah penjelasan tentang mutasi gen." #polydactyly 
 
Sebuah kalimat yang tidak saya bayangkan akan muncul tak lama setelah kawan saya mengunggah bayinya yang baru lahir. Saat itu, saya tidak terlalu menelaahnya, tidak pula membahasnya pada kawan saya hingga kemudian info itu terus berkembang dan hashtag #polydactyly sering muncul di hadapan mata saya.
Mungkinkah, dia ingin orang-orang mencaritahu?
Dan saya pun mulai mencari ....
"Polydactyly adalah kondisi kelebihan jari. Banyak kasus tampaknya terjadi tanpa sebab yang jelas. Ada karena cacat genetik (inherited) atau sindrom keturunan. Polydactyly adalah kelainan sejak lahir yang paling umum terjadi dan dialami sekitar 1 dari sekitar 1000 kelahiran." Sumber: www.detik.com/detikHealth
Ketidaktahuan mungkin membuat kita takut, tetapi jangan sampai itu menggerus kemanusiaan kita. 

Usai menambah pengetahuan, saya pun memahami bagaimana cara saya harus bersikap. Saya pernah bertemu beberapa orang dengan kasus serupa. Sependek bacaan saya, polydactil lebih banyak berkutat pada isu penampilan ketimbang kesehatan. No big deal. Lalu saya pun mulai mencoba merespons dengan keceriaan yang sama dengan kawan saya.
"Kalau tos sama K, bukan 'high five' dong namanya yaa ^^"
"Dan ga bisa kasih middle finger, hehehe ..."
Kami berbagi tawa. Lalu kemudian keceriaan itu berubah.
Baby K yang mulai belajar merangkak pun tergelincir. Dan patah tulang atau fraktur pertamanya terjadi.

McCune-Albright Syndrome merupakan kondisi genetis yang ditandai oleh kelainan pigmentasi kulit, penyakit tulang dan endokrin (hormon-sistem produksi). Penyakit tulang dapat menyebabkan kelemahan dan kelainan bentuk tulang pada kaki lengan dan tengkorak. Penyakit endokrin dapat menyebabkan pubertas dini dan meningkatkan laju pertumbuhan secara berlebihan (gigantis). Penderita dipengaruhi oleh berbagai karakteristik derajat penyakit yang berbeda. (Sumber: www.detik.com/detikHealth)


Intinya, penyebabnya sulit diketahui. Namun, yang pasti anaknya rentan patah tulang. Titik. Oleh karena penyebabnya sulit diketahui maka metode perawatannya pun samar. Yang bisa dilakukan sekarang ini adalah, bertahan.

1. Stay Positive

Seperti awal #polydactyly, saya lebih banyak diam mengamati. Lebih tepatnya menanti status kawan saya agak mellow sedikit, agar saya bisa mengucapkan kalimat menghibur. Saya hanya sungkan berbicara tentang yang dialami anaknya, jika saya tidak tahu banyak. Namun, hal itu tidak kunjung terjadi. qadarullah, kami bersua di suatu even di Balai Kartini. Dalam pendeknya waktu, kawan saya memaparkan banyak hal yang membuat saya menganga dalam hati. Dari sekian banyak rencana perawatan di depan mata, saya melihat binar matanya masih jenaka seperti awal saya mengenalnya.

Fraktur kedua, fraktur ketiga, pemasangan bracelet ... semua dia beritakan di akun Fbnya dengan mengakhirinya dengan emoticon lucu. Though it might be not that funny ... atau ketika dia melihat kondisi pasien lain dan keluarga, dia selalu menyematkan rasa syukur.

Lalu kemudian dia tergabung dengan kegiatan IRD atau Indonesia Rare Disorders. Pikir saya, dia tengah melakukan langkah yang besar. Sebagai sesama editor, saya paham bahwa memastikan orang-orang memahami sebuah situasi atau kondisi itu penting agar tidak terjadi salah paham. Makanya dia tak pernah mengekspresikan larutan perasaannya terlalu dalam, melainkan lebih banyak soal progress dan progress.

Hingga kemudian saya melihat akunnya ditaut oleh suaminya. Fraktur ke sekian kalinya kala mudik lebaran yang menyebabkan sang suami terpaksa harus kembali ke Jakarta lebih dulu meninggalkan kawan saya di kampung halaman mengurusi anak di RS. Dan kalimat mellow yang saya nanti ternyata keluar dari suaminya. Seketika, sedih yang lama terpendam pun menjalar dalam hati.
 
2. Gue Takut
Saya suka merasa ingin memutar bola mata jika melihat ada orang tua yang berlebihan melihat anaknya main di titian atau lompat-lompatan atau berlarian. "Nanti jatuh!!!!"
So be it. Pikir saya pada kebanyakan waktu.

Tapi ketika kawan saya berkata, "Gue takut kalau gue meleng sedikit, dia jatuh. Dan sudah pernah kejadian."
"Gue takut membayangkan di tahun mendatang, bagaimana dia akan sekolah?"
"Sedangkan K anaknya cheerful ... gue ga mau bikin dia sedih dengan keadaannya."
Meleleh air mata saya. Saya banyak membaca tentang dukungan sangat penting dalam perkembangan anak terutama di usia di bawah enam tahun. Jadi, membayangkan menahan laju alami seorang anak untuk bergerak itu membuat saya sedih. Teringat ketika si sulung harus diberi perawatan DBD di usia 10 bulan. Masa dia sedang senang berdiri tapi terpaksa saya tahan karena infusnya dipasang di kaki. Lalu bagaimana dengan perasaan kawan saya?

How could fear shaped your face, after all this time ...
Kawan saya yang cuek itu ... 

This is not your fault .. it is nobody's fault. 


Namun, ternyata ada yang lebih dia takutkan. Yaitu ketika dia menjadi lebih fokus pada kekurangannya, sehingga tidak menyadari bahwa putranya itu diam-diam mempelajari sesuatu.
"Tahu-tahu dia dah bisa naik tangga. Gue histeris."


3. Gue Cemas
Kali ini kecemasannya ditujukan pada putri sulungnya yang harus menghabiskan hari-harinya bolak-balik RS, terlebih ketika adiknya mengalami fraktur. Masa-masa penting sang kakak sering dilewatkan tanpa didampingi orangtuanya karena entah bagaimana selalu bertepatan dengan kasus pada adiknya. Sebagai keluarga perantauan generasi pertama, maka tak semudah itu menitipkan anak. Pun, anaknya tak mau dititipkan.
"Aku suka kalau bisa sama abi dan umi." Tapi jangan di rumah sakit.
Bahkan orang dewasa pun gamang dalam menghadapi situasi ini, apalagi dirinya. Terasa wajar, jika dia sedikit mengharapkan sebuah alur cerita yang berbeda.

Namun Tuhan tidak akan memberikan sesuatu pada umatnya melebihi kemampuannya. 

Saya menyaksikan sendiri ketika salah satu kerabat tervonis kanker dan keberadaan supporting group sangat membantu pasien untuk merasa bahwa ada yang memahami sakitnya secara nyata. Dan bahwa mereka tidak sendirian.

Bergabung dengan Indonesia Rare Disorders, banyak membantu kawan saya dalam hal penambahan informasi dan tali dukungan antarorangtua. Namun, bagaimana dengan para kakak atau adik penderita rare disorder?


4. Gue Menghindar
Setelah fraktur ke sekian kalinya, kawan saya menghindar memberitakan di media sosial. "Biar orangtua dan mertua ga perlu tahu," katanya. "Bukannya apa-apa, terakhir kali mereka tahu, langsung panik massal. Dan kalau sudah begitu gue jadi ikut panik."
Hal ini menyadarkan saya bahwa menjadi supporting group  itu pun tidak mudah. Walau niatnya baik. Membekali diri dengan banyak pengetahuan tentang kelainan itu adalah satu cara, tapi juga menyediakan hati yang lapang untuk mereka. Dan biarkan mereka yang menentukan mau apa mereka di sana.

So, what can I do for you, friend? 


5. Gue Sedih
"Anggapan orang lain tentang kondisi K itu benar-benar menjatuhkan mood."
"Gue pernah dituduh penyiksaan pada anak, pernah melakukan aborsi gagal ...."
Dan pernah juga dituding oleh tenaga kesehatan.
I was like, whaaaaat??
Saya memang tidak bisa mengontrol terlebih menghakim lidah orang lain. Banyak orang di luar sana yang "tong kosong nyaring bunyinya". Jadi yah sudahlah, semoga mereka-mereka diberi petunjuk. Namun, lain halnya dengan tenaga kesehatan. Sebagai penggemar serial televisi berlatar belakang medis, saya menyadari bahwa seorang tenaga kesehatan juga punya semacam SOP untuk waspada terkait dugaan kekerasan pada anak dan semacamnya. Namun, dari sekian banyak episode yang saya tonton, ada yang namanya etika bertanya atau etika mencari tahu, instead of menuding yang akhirnya lebih sibuk menghakimi ketimbang mencari solusi.

Hati-hati dalam mengulik masa lalu, tidak ada orang yang mau dihakimi. 



Indonesia Rare Disorder dalam perjalanannya selama satu tahun ini, berhasil mengumpulkan para orangtua pilihan ini. Menjadi wadah untuk meraih energi positif kembali usai didera banyak sekali tanggapan negatif. Bagi yang tidak mengalami, tidak semudah itu dapat melihat seluruh paket perasaan yang dialami keluarga pengidap rare disorders. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dalam bersikap.


Jadi, mari mengenal rare disorders agar ke depannya semoga lebih banyak masyarakat teredukasi tentang kelainan LANGKA ini. Mereka 'hanya' LANGKA bukan sebuah kesalahan ataupun kegagalan. Bahwa mereka NYATA. Mereka dekat. Mereka di sekitar kita. Dan dengan dukungan masyarakat yang teredukasi, para pengidap rare disorders ini sejatinya akan mampu menjadi BERDAYA.



Kamis, 11 Februari 2016

KAMYStory: Memisahkan Adik dari Kakaknya

Judulnya seakan kejam sekali ya saya hehehe ... Hal ini dikarenakan banyak orang yang bertanya kenapa saya tidak memasukkan si anak tengah ke playgroup yang satu yayasan dengan TK si sulung. Biar sekalian antarjemputnya. Lagipula kasihan kok si anak tengah ga sekolah sedangkan kakaknya asyik-asyikan di TK.

Memiliki kakak beradik yang akrab itu memang anugerah. Safir menyebut kata 'kakak' sebagai kata keduanya setelah 'ayah'. Dia selalu mengikuti yang dilakukan kakaknya. Hingga kemudian saya merasa ada semacam hubungan tidak sehat akibat keakraban ini.

Hal ini terlihat ketika bermain di taman. Jika bersama kakaknya, ketika ada anak kecil lain, si anak tengah akan beringsut ke kakaknya. Jika tidak ada kakak saat bermain di taman, si anak tengah akan seperti mainan kehabisan baterai. Ngegelendooot aja. Berbeda dengan kakaknya yang tak sungkan sok nimbrung. Memang sih si kakak ini memang cewe dominan dan suka mengatur, jadi deh makin ga inisiatif si anak cowo ini.

Kecurigaan saya semakin nyata saat saya masukkan keduanya ke Gen Cerdik untuk subjek yang sama pada awalnya. Dan benar saja, pada beberapa materi kreativitas, si anak tengah lebih suka melihat kakaknya saja alih-alih menciptakan sendiri. Setelah beberapa bulan di Gen Cerdik, saya pisahkan keduanya di salah satu subjek, dan nyatanya di rumah ketika si kakak tidak di rumah, si anak tengah bisa merangkai lego sesuai imajinasinya sendiri.

Kemudian si kakak sudah waktunya masuk TK Besar, si anak tengah masih di Gen Cerdik. Masih dengan misi memisahkan demi mengembangkan. Eh dilalah, si anak tengah kehilangan semangat belajar. Alasan dari dia sih macam-macam, tapi yang pasti adalah dia kehilangan kakaknya. Berbeda dengan kakaknya, si anak tengah ini tipe one on one. Dia banyak belajar kosakata dari kakaknya. Dia bukan anak yang mudah menyerap materi atau instruksi jika instruktornya sembari sibuk mengejar bocah-bocah kecil. Sehingga si anak tengah sering menghabiskan waktu duduk di pojokan sendirian. Dia lebih senang menghapal lagu-lagu yang dipelajari kakaknya di TK ketimbang yang dia pelajari sendiri. Kalau saya tidak menyebutkan subjek yang tepat mungkin saya tidak akan pernah tahu yang dia pelajari sendiri. Setelah tiga bulan yang terasa berat baginya, akhirnya saya hentikan program di Gen Cerdik. Daripada dia jadi ilfil disuruh berkegiatan bersama kawan-kawan seusianya.

Dengan menghentikan kegiatannya di Gen Cerdik, saya sebenarnya ingin menunjukkan sisi positif dari berkawan yang seringnya ditemukan di instanti pendidikan. Dia mulai resah ketika berulangkali menemani kakaknya menghadiri pesta ulangtahun kawannya--dan jadi berbagi goodiebag. Dia iri dengan kegiatan-kegiatan ekstra dari sekolah kakaknya setiap bulan. Tapi yang bikin sebal, ketika saya masukkan dia untuk ikut futsal, dia melempem lagi di pojokan. Minta ditemenin lah. Ngeliatin ibunya terus. Pelatihnya ga dianggap. Bilangnya sih malu. Tapi kalau kakaknya masuk ke lapangan, dia langsung on.

Awalnya saya pakai cara keras seperti langsung meninggalkannya di lapangan karena gemas dengan gayanya yang gelendat-gelendot mengeluh ini itu, tapi malah jadi drama. Kemudian saya baca: jika anak penakut mungkin karena Anda kurang menyemangatinya.

Jadi yah sudah, saya coba antar ke tempat futsal lebih awal. Ikut tendang-tendang bola sebentar. Menungguinya di luar lapangan dengan semangat tim hore. Hasilnya? Yaaah lumayan deh, setidaknya dia ga tidur-tiduran lagi di lapangan.

Sementara si kakak punya pendekatan yang lebih menarik. Saat kami datang menjemput kakak di TK, si kakak mengajak adiknya memasuki seluruh ruang kelas dan menyuruhnya menyalami guru satu per satu. Jadi si anak tengah pun mulai berucap, ingin masuk TK seperti kakak. Namun saya bilang, "Tunggu. Dan kalaupun nanti masuk TK, kakak sudah tidak TK lagi di sana." dia sih angguk-angguk saja.

But again, memisahkan dua saudara ini ada efeknya juga. Seiring si anak tengah mencoba meningkatkan level kepercayaan dirinya, semakin sering pula mereka bertengkar. ^^` yah katanya berkonflik itu bagus biar belajar saling memahami hehehe ... Ah entahlah, pe er orangtua ga habis-habis hehehe

Kamis, 12 November 2015

KAMYStory: ‘Membaca’ Bersama Malika



Tanggal 12 november rupanya adalah Hari Membaca Nasional. Hmmm karena temanya KAMYStory, saya mau cerita tentang pengalaman membaca dengan anak pertama saya, Malika. Kenapa hanya anak pertama? Ya, karena dia yang paling lengkap fase-fasenya, sedangkan adik-adiknya cenderung mengikuti. ‘Membaca’ bersama Malika memiliki kenangan tersendiri, entah karena dia anak sulung atau karena dia Malika. Entahlah. Saya urutkan berdasarkan umur ya, mungkin ada juga yang mau  berbagi pengalaman membacanya bersama anak.

1.       0-1 tahun: Dari Nyanyian hingga Flash Card
Well, sebenarnya pas hamil pun saya sudah sering membacakan buku untuknya. Saya gunakan corong dari koran karena katanya suara saya jadi lebih bisa terdengar. Berbeda dengan suami yang bisa langsung ngomong di perut saya hehehe ... Setelah lahir, kebetulan saya dihadiahi boneka yang ada buku kainnya. Saya pikir kayanya tidak menarik jika hanya membacakan datar, akhirnya saya gunakan nyanyian. Malika termasuk anak yang cepat terhubung jika ada musik (lagi-lagi jangan-jangan karena saya perdengarkan Maxim dan Vanessa Mae saat hamil) dan dia suka pengulangan. Jadi tidak perlu punya banyak cerita, hanya cerita dari si boneka itu saja sudah membuat dia senang. Lembar angka-angka pun saya buat nyanyiannya.

2.       1-2 tahun: Satu Kalimat Satu Halaman
Saat saya hamil anak kedua, Malika baru saja lulus satu tahun. Dan saat itu dia sudah tidak lagi tidur di boksnya melainkan di kasur bersama kami. Mengulang rutinitas mama saya sewaktu kami kecil, saya bacakan surah-surah. Dan untuk ‘bacaan’nya saya gunakan flash card. Pilihan yang agak aneh sebenarnya hehehe ... well itu karena saya punya buku kecil untuk anak-anak berisi jenis-jenis serangga dkk. Jadi yah agak mirip flash card. Malam menjelang tidur adalah saat saya berulang-ulang menyebutkan nama-nama serangga dan bunga hehehe ... kayanya saat itu saya yang lebih sering tidur duluan.

Ketika hamil saya semakin besar, sehari-hari Malika sudah minta dibacakan buku. Waktu itu saya gunakan buku Seri Balitanya Dar! Mizan atau buku Noddy yang bahasa Inggris. Teksnya belum saya baca benar karena daya tahan Malika per halaman masih sangat rendah. Hanya bisa satu kalimat untuk satu halaman. Improvisasi sangat bermain di sini. Membuat nada baca naik turun. Yang pegal adalah, setiap buku harus diulang lima kali.


3.       2-3 tahun: Improvisasi Ala ala
Ada saatnya dia mulai mengeksplor sumber bacaan. Pernah dia minta dibacakan buku Pooh tapi saya hanya boleh bilang ‘kotak’. Dia hanya ingin nadanya. Kebayang ga, setelah baca buku 80 halaman dan hanya bilang ‘kotak’? Rasanya sulit banget move on dari kotak ketika diulang lagi bacanya tapi diganti dengan ‘bulat’.

Tidak hanya itu, dia juga minta dibacakan untuk buku aktivitas. Tentu tahu kan, kalau tulisan di buku aktivitas itu hanya berisi kalimat perintah yang sama di setiap halamannya? Nah, saya ga baca itu, saya jadikanlah itu sebuah cerita yang berkesinambungan antara satu gambar dengan gambar yang lain. Itu baru buku aktivitas, masih ada gambar anak-anak. Nah di hari lain, dia bawakan saya buku kreasi kue dengan fondant. Oalah, piye nyeritainnya.


4.       3-4 tahun: Kelihatan Hapalannya
Metode pengulangan masih dia terapkan hingga di usia ini, dan karena saya improvisasi dia suka protes jika ada yang salah atau berbeda. Dan karena improvisasi dan mau tidur itu bukan sahabat baik, saya selalu ketiduran dan kesulitan berpikir harus melanjutkan cerita dari mana, saya pun mulai membacakan cerita sesuai dengan tulisannya. Dan rupanya Malika memang kuat di hapalan. Dia bahkan bisa membacakan beberapa buku sendirian tanpa ada yang keliru kalimatnya.


5.       4-sekarang: Tak Ingin Berhenti
Malika masih belum bisa membaca tapi kosakatanya buanyak dan dia pun cerewet luar biasa. Kalau saya tidak membacakan buku sebelum tidur, nangisnya kaya apa ... Yah memang momen membaca buku selalu saya kondisikan sebagai momen netral. Mana bisa juga bacain buku sambil marah?

Pada usia ini, Malika memang jadi lebih spesifik bertanya. Kalau dulu baca cerita kami diinterupsi dengan dagelan dan tiba-tiba berkhayal ke mana-mana, sekarang dia benar-benar bertanya untuk setiap kata di setiap kalimat. Setelah dijelaskan dan ditanya lagi, dijelaskan lagi, ditanya lagi, dijelaskan lagi, akhirnya dia hapal. Daya tahan tiap halama lebih lama dan menuntut halaman yang lebih banyak. Apalagi saya baca untuk dua anak (yang satu lagi masih bayi, belum bisa minta) yang artinya setidaknya ada dua bacaan, kalau lagi senang bisa ada empat bacaan. Dan keluar kamar, biasanya tenggorokan saya kering. Belum lagi hapalan surah yang baginya menjadi lebih menarik kalau saya bacakan artinya. Ga bisa tiap hari sih saya bacain artinya, bisa gempor, karena ada sekitar 70an ayat yang dibaca. Lumayan juga ya punya anak, bisa baca juz ‘amma tiap hari ^^

Saya sebenarnya agak gimana gitu, membayangkan dia bisa baca sendiri nanti. Pasti akan ada lebih banyak pertanyaan. Dan mungkin dia akan mengurangi sangat mendekati saya dengan buku-buku barunya. Kok saya jadi sedih yak hehehe .... yah, walaupun sering bilang capek bacain buat anak sepanjang hari, tapi jika membayangkan momen itu tidak ada lagi, saya jadi merasa sunyi. ... Ternyata momen membaca itu bisa membawa efek romantis ya. Hmmm, Kira-kira dia mau gantian bacain buat saya ga ya?


Selamat Hari Membaca Nasional ^^ 

Jumat, 16 Oktober 2015

JJS: Main ke Playparq, Yuk!




Panas-panas begini memang enaknya main air. Tapi membiarkan anak main air di kamar mandi itu serasa jadi mesin kasir. Air mahal, boook. Harus hemat air. Makanya saya lebih mendukung main air di tempatnya, entah itu buatan atau yang alami. Maklum di Jakarta kan ga banyak pilihan yang alami dan bersih.


Nah, Beberapa waktu lalu dapat voucher diskon dari playschool-nya Safir ke Playparq. Wuih, emaknya malah yang girang banget, secara sudah kepingin banget ke sana sejak baru dibangun.   Playparq yang letaknya di Jl. Kemang Timur ini dulu selalu dilewati bus yang saya tumpangi ke dan dari kantor. Waktu baru dibangun, saya suudzon gitu, "bangun apaan niy kok temboknya tinggi banget?" Apalagi namanya masih 72, which is makin geje aja. Jadiii ... Keinginan lebih dari lima tahun itu, akhirnya terwujud jugaa ...


Bareng-bareng dengan ibu-ibu FFC, kami pun melaju. Hari itu Rabu, tadinya ingin hari Selasa karena harganya diskon habis. Hari Selasa bukanya lebih siang karena hari itu hari bersih-bersih. Jadi, biasanya hari itu bakal rame banget. Yah sudslah, datang hari Rabu aja, biar masih terasa bersihnya hehehe ....


Begitu masuk, anak-anak sudah ga sabar. Kaus yang menutupi baju renang daritadi segera ditanggalkan dan cusss mereka ngacir ke pusat air. Pusat air itu semacam instalasi dengan air-air memancur dari berbagai titik. Ada yang nyemprot ada yang nyembur, ada juga yang keprek2 (bahasa opo toh iki?). Anak-anak macam kuda liar lepas kandang lah. Begitu sadar terik matahari di tengah hari bolong itu, mereka baru cari wahana lain. Ada satu tempat air lagi, bentuk seperti kolam ikan rumahan tapi ada sedikit permainan air, yang air mengucur ke ember lagi begitu penuh embernya tertonggeng dan menumpahkan air. Quite fun, tapi harus hati-hati karena tinggi airnya tanggung, kalau masih bocah boncel bisa agak kelelep.



Yang ga bosan-bosannya dimainkan adalah flying fox. Bolak balik saja anak-anak antri di situ. Kalau sudah kepanasan, balik ke pusat air. Kalau kedingingan, anak-anak berjemur di tangga-tangga tempat wahana perosotan. Ya, ada perosotan juga di sana tapi lebih besar, jadi main terowongan-terowongannya juga lebih panjang. Pokoknya ngider-ngider saja mereka. Emaknya ya ngobrol-ngobrol cantik di bawah pohon. Dua-tiga jam berlalu itupun harus agak dipaksa selesai karena sudah mulai biru bibirnya. Namanya juga sudah sore, udaranya juga mulai adem.


Usai mandi, mereka ngacir ke dalam. Agak khawatir mereka bakal minta makan, secara lounge-nya mihil hehehe ... Blum lagi masih ada wahana bouncing di dalam, ealaaah, bisa ga kelar-kelar dari sini niiiy. Untungnya di depan lounge itu, ada meja main lego anak-anak, jadi meriunglah anak-anak FFC di situ. Ga lama, karena mulai capek dan rewel mulai merangkak hehehe ... Soo, sebagai hiburan penunda rewel, belilah eskrim. Kayanya cuma itu yang affordable harganya hahaha ... Ya gimana dong, belinya kudu tiga, buat anak-anak n emaknya juga hihihiy ... Dan akhirnya pulang bersama-sama.



Playparq ini juga bisa buat perayaan ulangtahun loh. Kalau ga salah lihat mulai dr Rp110000/orang. Kalau harga tiket masuknya untuk hari biasa Rp60000/orang sedangkan akhir pekan Rp100000/orang. Hari Selasa Rp30000/orang tapi baru buka jam 2 siang. Pendamping ke-2 dan seterusnya bayar Rp10000,-. Maaf lupa foto detailnya, soalnya pas mau masuk barengan sama Zaskya Mecca siy. Mungkin lagi survey tempat juga hmmm .... Nah, siapa yang mau bikin acara di situ? Mumpung belum masuk musim hujan, niy. Undang-undang saya yaaa ^.^