Tampilkan postingan dengan label green living. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label green living. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2015

KAMYStory: Kembali ke Clodi

Setelah ada artikel blog yang muncul terkait runtuhnya idealisme ketika beneran punya anak, saya jadi mikir-mikir, jangan-jangan di anak ketiga ini saya nyerah juga. Maklumlah alergi ART tapi kerjaan rumah bakal nambah berkali-kali lipat nih. Eh tapi sepertinya semesta mendukung saya kembali menggunakan clodi lebih sering ketimbang pospak.

1.       Dapat clodi lungsuran, clodi kado, dan clodi garage sale. Clodinya Malika dan Safir sudah berumur, alias sudah dipakai selama dua tahun jadi ya dipensiunkan saja. Padahal sayang juga lihatnya masih bagus alias ga sobek. Memang, daya serapnya sudah jauh menurun. Makanya awal hamil lagi ini saya rada malas memikirkan pakai clodi lagi, malas belanjanya. Tren merknya kan dah lain, ntar kudu browsing lagi mana yang lagi ‘in’ or mana yang bagus. Eh iseng-iseng belanja garage sale di teman saya, malah pilih beli clodi. Pas lahiran dapat kado clodi dari teman lain yang juga pemilik OL shop baby. Belum lagi lungsuran clodi selusin, i have more than enough. Ibarat dikasih harta karun. Stok popok buat dua tahun niy.

2.       Stres beli pospak. Saya tidak antipospak loh tapi antibeli banyak-banyak. Ketika belum lagi tiga minggu baby Meutia lahir, sudah dua renteng pospak ekonomis isi 40 yang habis. Kayanya uang belanja bulanan dari suami cepet banget habisnya (apalagi belum ada kenaikan #curcol). Leher saya langsung pegal-pegal. Teringat setahun lalu bersuka cita menghapus pospak dalam daftar belanja saya, eh ketemu lagi sama urusan popok (alhamdulillah). Belum lagi Meutia suka pup sedikit-sedikit tapi sering. Ya ampun mubazir amat. Plastik sampah jadi cepet habis, padahal lagi rajin ga belanja pakai plastik. Yah ginilah kalau kebiasaan green living, nambah sampah satu pospak aja pusing sendiri. (belagu amat yak, baru hemat plastik doang ^^’)

Akhirnya setelah satu bulan, saya mulai pakaikan clodi. Kok tunggu satu bulan? Saya nunggu si baby agak berbentuk ‘orang’ dulu, kalau baru lahir kaya masih keriput-keriput gitu, ga tega pasangnya hehehe ....

 
Emang ga cape nyucinya?
Itu pertanyaan yang biasa saya dapatkan. Ya, pakai mesin cucilah. Ogah juga gue ngucek-ngucek sendiri. Tak ada waktunya juga, saudara-saudara. Setelan mesin cucinya ga perlu pakai pengering dan programnya speedy jadi ga lama-lama di mesin cuci biar tetap terjaga kualitas clodinya. Setengah jam juga kelar. Nah, kalau pakai pospak kan lama nunggu keranjang baju bayi kotornya penuh, secara masih dipisah nyucinya dengan baju yang lain. Dan stok baju bayi kan ga banyak, kalau tunggu penuh, baru tiga hari dah kehabisan bajulah awak. Sejak pakai clodi yah lumayan deh dua hari sekali bisa nyuci dikit.

Dan sekarang hidup saya lebih tenang hahaha ... #lebay

Seberapa hemat sih?
Didukung dengan kebiasaan Meutia pup yang berubah menjadi dua hari sekali baru pup, penggunaan pospak saya menurun drastis. Sudah hampir dua bulan menggunakan clodi, saya baruuu saja membuka pospak isi 40 yang ketiga. Silahkan dihitung deh ya .... Dari yang 10 hari habis satu kantung pospak, jadi segini. 

Tapi itu baru clodi yang bertahan, yang lain-lain ...? Hmm lanjut ke pembahasan selanjutnya deh hehehe ....


Minggu, 31 Agustus 2014

Mama, Inspirasiku untuk Air Sehat dan Hemat


Walau tidak pernah benar-benar mengklaim diri sebagai keluarga pencinta lingkungan, banyak sekali hal yang dilakukan mama dalam rangka berhemat tetapi sekaligus memelihara lingkungan. Mama saya mungkin bingung dengan cara yang tidak menggunakan kantung plastik saat berbelanja. Toh saya belajar menyimpan plastik kresek itu dari mama. Jika mama lebih mengagumi kain yang bersih yang wangi akibat dicuci dengan entah berapa sendok deterjen, sedangkan saya tidak, toh mama lebih memilih menggunakan bubuk pembersih kamar mandi jadul ketimbang menggunakan merk lain yang secara kimia lebih dahsyat kemampuannya—dan lebih dahsyat pula polusinya.

Sudah bukan rahasia lagi kalau air merupakan bagian utama dalam kehidupan sehari-hari, terutama keluarga saya. Keluarga kami pencinta air putih, tidak mengkonsumsi soda, dan pengguna setia pompa air padahal letak rumah saya di tengah kota, alias di Tebet. Walau kami menggunakan air galon, namun kami tidak anti meminum air hasil pompa air kami. Maklum air putih di sebuah teko besar, cepat habisnya. Saya bahkan dulu pergi kuliah sambil membawa air putih dengan kemasan air mineral 1,5 liter. Waktu itu saya belum tahu kalau botol besar itu tidak boleh digunakan lebih dari 2 kali.

Alasan lain, kadar bersihnya sama. Pernah suatu kali ada pengujian materi air minum, jika dibandingkan air tanah dan air galon di rumah saya, hasilnya sama. Jadi, walaupun ibu saya perawat tidak menjadikan dirinya menjadi seorang hygiene freak dan terpatri pada merk tertentu.

Oleh karenanya mama sangat kekeuh memertahankan lahan hijau yang tidak seberapa di rumah. “Itu buat cadangan air.” Maklum, kami pernah mengalami masa kemarau yang sangat panjang sehingga memengaruhi volume air yang mampu disedot oleh mesin pompa. Pikir praktis, kalau tanah tidak sering diberi air bagaimana dia mampu menyimpan air cadangan? Padahal tanah memiliki gudang air yang luar biasa luasnya.

Hal inipun turut dia terapkan di kontrakan miliknya di pinggiran Jakarta. Mentang-mentang saudagar kontrakan, tidak membuat mama serta merta mengoptimalkan setiap senti tanah yang ada untuk menambah pintu kontrakan. Dia sadar, dalam jangka waktu tertentu, air tanah itu akan habis jika tanah tidak diberi ruang untuk mengisapnya. Dan itu hanya akan menambah masalah lain di kontrakan.

Mama pun berkomitmen menghemat air dengan banyak aksinya di rumah. Ketika hujan datang, mama akan bersegera menaruh ember besar di atas kucuran air yang kebetulan jatuh di teras kami. Jika banyak orang mengira telah melakukan aksi pintar dengan membuat saluran air sedemikian rupa hingga langsung masuk ke got, tahukah kalian bahwa hal itu justru menghalangi tanah menyerap air hujan? Bagi mama, air hujan adalah sumber air gratisan untuk menyiram tanaman di hari berikutnya.

Jika setiap kali ada hajatan dan harus menggunakan air mineral kemasan gelas, mama suka sedih melihat perilaku orang yang tidak menghabiskan minumannya. Bagi orang minang, menghabiskan makanan dan minuman yang disajikan itu adalah bentuk penghormatan pada tuan rumah. Di lain pihak, kasarnya “Hei, air itu dibeli.” Akhirnya setiap kali kami merapikan sisa hajatan, setiap air minum yang tersisa itu kami siram ke tanaman.

Saat mencuci beras, mama akan menampung air cuciannya untuk kemudian lagi-lagi dia siramkan ke tanamannya.  Pokoknya tidak pernah merasa rugi menyirami tanaman deh.

Komitmen ini pulalah yang kadang membuat dirinya pusing ketika saya dan keluarga menginap. Kebetulan anak-anak saya ini suka main air. Siapa sih ya nggak suka? Jadi sesi mandi adalah sesi di mana semua kran di kamar mandi menyala. Yah namanya juga mandi bareng, masing-masing pegang kran. Atau jika kami menggunakan kolam tiup untuk wahana mandi. Wah lebih banyak lagi air yang digunakan. Pada saat itu, kalkulator di otaknya bergerak cepat. Mau marah, tapi ketawa para cucu bikin ga tega hehehe ....

Saya bukannya tidak mengajari anak untuk berhemat air, tapi kita ini kan tinggal di kota. Tidak bisa setiap saat mandi di laut atau di sungai, tapi sangat suka main air. Nah, biasanya saya kasih jatah ke anak-anak. Kalau setiap hari mandi air macam begitu kan, mabok bapaknya bayar uang air. Apalagi kami tinggal di apartemen. Nah, seringnya, jadwal ke rumah nenek adalah jadwal main air alias akhir pekan.” Ya sudahlah, ma, relakan. Kan ga setiap hari.” Kata saya setengah menggoda.

Banyak hal yang mama lakukan yang belum bisa saya lakukan di rumah saya sendiri. Saya kan ga bisa menadahi air hujan dan memang tidak ada tanah milik saya sendiri. Yang bisa saya lakukan sebagai warisan mama saya adalah menanamkan nilai air bagi kehidupan pada anak-anak. Bahwa air dapat memancing berbagai keriaan dan kreativitas tetapi di satu sisi juga harus dijaga dan dihemat penggunaannya. Demi lingkungan yang sehat dan ramah. Demi masa depanmu juga, Nak.

 

Kamis, 03 Juli 2014

My Story: Hidup dan Kantung Plastik

"Terima kasih ya, bu." begitu kata kasir di supermarket satu-satunya di Kalibata City saat saya menyodorkan plastik berlogo serupa hanya saja sudah saya lipat segitiga ala Jepang.

Saya malah bingung, "kenapa?"
"Soalnya yang ada orang malah minta kantung plastik lebih untuk kantung sampah."
Saya tersenyum saja mendengarnya. Kadang bingung kok bisa ya kekurangan kantung sampah. Saya membiarkan diri menggunakan kantung plastik selama seminggu saja, rasanya lama betul menghabiskannya. Paling satu atau dua kantung plastik setiap hari.

Jarang menggunakan kantung plastik memang merupakan komitmen saya selama bertahun-tahun. Maunya siy tidak sama sekali. Namun, saya sering titip beli sayur ke Hery dan sering pula lupa memberikan kantung plastik/belanja untuk dia bawa. Jadilah saya masih menumpuk kantung plastik. Toh, masih perlu untuk pelapis tempat sampah saya, secara tinggal di rusun ga bisa buat lubang biopori hehehee.

Ada masanya saya ketiban banyak sekali kantung plastik dan merasa bersalah karenanya. Lalu kemudian saya mendapat jalan keluar. Tukang sayur langganan saya bertanya apakah saya punya ekstra kantung plastik. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jadilah saya telaten mengumpulkan keliman kantung plastik saya untuk diberikan ke tukang sayur itu.

Salah satu cara mengurangi penggunaan plastik adalah belanja bulanan. Belanja di akhir-akhir bulan justru membuat saya lebih banyak menggunakan plastik. Beli sedikit-sedikit tapi sering tapi ga pernah bawa plastik sendiri. Akhirnya numpuk deh. Tapi sekarang ga terlalu merasa bersalah lagi karena setiap kali lupa, selalu ada solusi agar si kantung plastik bisa lebih berguna. Sejatinya kita memang ga perlu sering-sering ingat kalau bukan tipe shopacholic kaya aku. Ke mana-mana bawa makanan dan minuman sendiri. Ga sebentar-sebentar jajan. Kemasan jajan itu bikin tempat sampah cepat penuh. Again, memang perlu latihan sih. Si Hery juga ga bisa hidup begini kalau ga disodorin kantung langsung. Keluarga saya di rumah juga ada yang merasa aku terlalu pelit atau aneh karena menolak banyak-banyak menggunakan kantung plastik. Jadi ingat kerutan di dahi mama saat saya memutuskan tidak membungkus kartu undangan pernikahan saya dengan amplop plastik. Tapi ya ga apa-apalah, tiap orang mudah-mudahan punya cara green-nya sendiri.

So, hidup dengan less plastic bag? No probs.

Sabtu, 21 Juni 2014

My Story: 33 dan Keinginan Mengurangi




Entah sejak kapan, tetapi perayaan ulangtahun sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan hingga patut dirayakan. Bukannya saya jadi bersedih sepanjang hari loh. Hari ulangtahun menjadi momen saya menghitung berapa notifikasi dari kontak di facebook yang mengucapkan selamat ulang tahun. Menghitung berapa orang yang peduli dan berapa persen dari mereka yang kemudian akan hadir di pemakaman saya nanti. Yup, a birthday is very close with death’s issue actually. Yang menyebalkan adalah, saya bahkan tidak pernah suka melihat rapor saya selama 33 tahun ini. Jangankan yang 33 tahun, yang kemarin terjadi saja saya tidak suka. Dan saya tidak yakin apakah mampu membayar semua dosa masa lalu dengan ibadah mediocre. Saya rasa hanya itulah yang perlu saya tingkatkan dalam hidup ini. Selebihnya, seperti melihat setiap sudut unit yang penuh dengan barang, rasanya ingin sekali mengurangi atau bahkan membuang sepenuhnya agar hidup ini lebih lega.

  • Saya ingin mengurangi makan ayam goreng, karena saya selalu menjadi orang yang paling banyak menghabiskan ayam goreng buatan saya sendiri. It tastes so good untill I feel guilty everytime I eat it.
  • Saya ingin jadi orang yang mandi dengan garam dan keramas dengan jeruk nipis. Mungkin ini akibat sedikit green living yang saya jalankan, tubuh jadi terdorong untuk melakukan hal alami lainnya.
  • Saya ingin mengurangi kadar emosional saya hingga titik ... nol, mungkin?
  • Saya ingin mengurangi .... berat badan? Ah, sebal sekali melihat perut gelambir ini.
  • Saya ingin mengurangi baca fb (terutama saat kampanye seperti ini :p)
  • Saya ingin mengurangi malas saya
  • Saya ingin mengurangi keinginan saya, dan langkah pertamanya adalah berhenti menulis ‘saya ingin’ sampai di sini. Just ... let it go ...

Karena mati tidak membawa apa pun selain amalan dan doa. Tidak meninggalkan apa pun selain ilmu. And may God blesses us all.

Jumat, 07 Maret 2014

My Story: Modern or Just a Freak?

Indonesia is heaven. Amongs these chaos, people seemed always like to come back home. But for me, or maybe for people around me, to live my kind of life in Indonesia is a little bit misplaced. Well ... I guess we can't control what other people thinks, right?
In my family, I was pretty known for my unusual decisions. I might have made them worried everytime I decided one thing. Maybe I am not good in convincing people. And the hardest one is to convince your beloved ones, like your parents. And it happens more often when I have kids. Sometimes I wonder, is it me or them?

1. No Nanny Allowed
I am not a supporter of having nanny to take care of my kids. Actually I don't really like if my kids were taking care by my parents. That is why, I founded urgency to quit from my job, and apparently I was having my second expecting. It was my omen.

After delivering Safir, I quickly moved out from my parents' house to my small apartment in Kalibata. That moment was quite hard because my parents tought it wouldn't appropriate for the kids. Lots of negative reasons were said. But I don't care. I need to get out of there so I can speak out my mind in my own house. I think they remembered how hard it was to live alone especially they lived in overseas for over a decade.

For the first months I had an assistance, for three months. But when she left, I didn't want to find another one because it was Hery who insisted me to have an assistance, though he knew I didn't like any kind of maid. He didn't want to bother me, he said. But I don't mind being bother, as long I don't have to see a maid around the house.

Well, it wasn't easy too. Because I became very selfminded and with the kids we are exploring many kind of emotion management just to become a better person.

2. Housekeeping Responsibility
Without any nanny or maid, the housekeeping's jobs are all my responsibility. Well, actually I want Hery to get involve more but apparently it was kind of difficult because he wasn't use to do it. At least, he wants to clean the bathroom.

This kind of attitude has something to do with your childhood. I remember one of my aunty said when I had just delivered Malika. "teach your kids to have responsibilities in their home, because I didn't do that and it seemed wrong now."

What she was trying to say is, she let her maid to do all the jobs, and when the maid left, she did it all and it killed her. Well looking from both side of story, apparently my aunty herself couldn't face that there are lots of things that need to be learned for her kids about housekeepings. And it has nothing to do with age. You don't get it any easier when you learn it older.

Though I am the baby in the family, I still had (only) two job to do when I lived there. To make the breakfast and clean up the dinner. Well, we only eat bread in the morning, but I have responsibilities to clean the table, to order any kind of plate or to make milk/ coffee/ tea. While for dinner, it was later on when my brother had a job and would come back quite late. That was my responsibility to wait for him to eat and cleaned it up later.

My older sister had a bigger responsibilities, in her early age, she had to do the housekeeping while preparing me to go to school (made breakfast, combed my hair, etc), before she went to school. My mom went to work before six o'clock in the morning, that was why she handed it out to my sister. And this attitudes were really helpful. There were moments when my mom needed to stay in the hospital for days. But I didn't feel anything different at home. Even my brothers could go to the traditional market to buy weekly goods, because they always accompanied my mother when she shopped there. So, it's all about making it a habbit.

Therefore when my brother n sis have to live a lonely life in overseas, the main problem was not doing housekeeping by themselves but more on financial management =) And me? Well, I don't need to live overseas to have that kind of life.

Housekeepings? Not easy. But nothing extraordinary about it. I wonder how hard it would be for they who never used to do housekeeping when they were kids. Keep fighting, peeps =) I know I still do.

3. Green Lover
There were lots of things that I do because of this reason. I do my laundry by myself because I don't like the use of plastics in the laundry shop. I use only one disposable diapers for my kids at night, and the rest of the day they use modern cloth diapers. Malika herself has done her toilet training before she was 3. My mom would said, was it too much to add in my laundry. I said, that is the use of washing machine, right?

I go to shop monthly, and if I need to shop weekly I would bring my own plastic bags. Those quick shop spends too much plastics. There are many things that we could collect other than plastics.

4. Pedestrian Lover
I don't have a car, and won't have it if I still live in Klaibata where you need to fight to get a parking spot. And for the same reason, I chose to live in the center of Jakarta, rather than a horizontal living putside Jakarta. In Kalibata City you will have lots of transportation options (train, cabs, bus, and even ojek). I don't have a motorcycle, and don't want to have it because it wasn't a family transportation and I don't want to make my family's life miserable for every curse that people pointed to the riders =).  Hery  himself prefers to sleep on the bus rather than stay fully awake riding a motorcycle in a wild street of Jakarta at night.

 I consume ojek for emergency and only bring one kid. I prefer public transportation, even the kids enjoy it more when they were on 'angkot' or 'bajaj'. If the sun is friendly enough, why not?

People found it pity, but I feel like I am living the european style ala Indonesia.

5. A Little bit Healthy Freak
Though my mom was a senior nurse, I prefer not to get drowned with the use of medicines. I don't take medicine for the kids whenever they had cough or flu. When they had fever, I will wait for their bedtime to give them parasetamol if they were still able to cheer up during the day. Of course I give them varieties of drinks.

My mom would see it pityful "what, you don't have money to go to the doctor?" she said. While actually I prefer this way because of her. When my mom was an active head nurse, we have (almost) unlimited free access to medicine. But when she finally retired, she prefer generics or anykind first help to cure the ill. Drugs was too expensive. Doctors were expensive. That is why she thought I was too poor to go to the doctor. While for me, this cheap way is actually a healthier way. I mean, why bother waiting in line for doctor for hours when you could cure it yourself at home?

 I don't take vitamins. I don't give my kids formulas. They drink uht that have a shorter process than a formula. I still breasfeed my 2,5 years old boy. I don't buy instant food, for daily use. I only have 10 instant noodles for a month, they are for Hery or me during the end of the month. I don't use any kind of vetsin or instant ingredients. And for my cake business, I barely use baking powder.

People said, "wow, you are so lucky to live above a mall. You can buy any kind of food everyday."

Usually, I just smile. I hate buying foods =D. It costs more money than pleasure especially when you have kids whose have specific taste. Picking a menu is an extra job for me whenever we go to the restaurant. I am an "eat to live" person.

I also have a dream that one day I could leave my chemical cosmetics and just deal with the organics. I just don't have a guts to do it now. One day ....

6. Prefer Homeschooling
Lots of parents found it hard to teach their kids, and that is why they prefer getting their kids into a course or a school with premium education. They think a premium system will create premium kids. For examples, Islamic school. Lots of parents choose it because of one reason, islamic. The parents hope that the school will teaches their kids about being a good muslim. But in my experience, wherever your school is, if your parents don't teach you the same way about religion, those formal education is going to be a big of bullsh*t.

I know a mother who asked a tutor to teach her 4 years old kids how to read. This mother could not afford a playgroup fee, that is why she prefers joining a fried chicken kids club for her kids. I was confused with her decision. I mean, if you don't have money then why don't you teach them yourself? She is a stay at home mom! She had a diploma. What is the difficult of teaching your own kids. Well, it's difficult but why waste your knowledge? Not having a job doesn't mean you can't use it for your kids, right?

I myself am trying to dedicate more on this homeschooling thing. need to have more fun on this. Trying to keep remember that the kids need to be happy. Stuff like that.

Well, again, that is just me. There was onetime I feel alone and thinking I was a freak. But thanks the internet I coud see that apparently lots of people might have a lot more unusual decisions than mine. We are just not in the same neighbourhood. And may God protects us and makes a better person everyday.