Tampilkan postingan dengan label lomba blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba blog. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2019

(Seandainya) Liburan Akhir Tahun bareng Laptop ASUS Zenbook




Akhir tahun terjemahannya dah selesai ya ... Tulis kawan sekaligus pengorder saya.
Siaap. Jawab saya yakin karena liburan akhir tahun memang akan dijalani dengan paket hemat alias tidak ke mana-mana. Jadi saya bisa lah liburan sambil kerja, kan ada suami yang libur juga. Gampang lah. Eh ternyata, yang namanya drama liburan memang tidak pernah absen. Membuat saya berkali-kali menghela napas berat ... seandainya liburannya bareng  ASUS ZenBook S.

1. Bengong di pantai. Akhirnya keluar rumah juga, liburan ke Ancol karena si anak cowo satu-satunya mau lihat lumba-lumba. Sudah dari pagi kami berangkat, hari sudah menjelang sore tapi anak3 masih betah berkutat di Ocean Dream Samudera.

“Katanya mau ke pantai?” saya mengingatkan untuk ke sekian kalinya. Kaki sudah pegal bolak balik ke sana-sini.
“Sebentar lagi magrib loh, ga bisa main air.” Barulah mereka berat hati melangkahkan kaki ke Beach Pool Ancol. Setelah sok tahu mau jalan kaki tapi kok ga nyampe-nyampe, barulah kami naik shelter bus. Sesampainya di sana, anak3 langsung dong ganti outfit, suami ke pos peminjaman tikar gratis, dan begitu tikar tergelar, hanya saya yang duduk di tepi pantai. Dan tugas saya sebagai penjaga tas pun dimulai.

Kalau ingat deadline jadi tidak bisa santai walau sudah di pantai

Awalnya masih santai sambil meluruskan kaki. Menyesap teh dengan gelas kaleng yang dibawa sendiri. Selfie-selfie ... dan tak lama mulai mati gaya. Jadi teringat deadline terjemah yang ditinggal di rumah. Ah, harusnya bisa nih sambil nyicil, karena pasti nanti pulang dari sini maunya tidur. Tapi sengaja ga dibawa karena bawaan piknik kita pun berat. Maklum, tidak punya kendaraan pribadi dan karena mau liburan hemat, makanan untuk dua sesi (dan untuk 5 orang) pun nenteng dari rumah. Masa pakai bawa laptop segala? Berat atuh ... kecuali .... kalau pakai ASUS ZenBook S.

Wahai ZenBook sebenarnya dirimu laptop impian atau tubuh impian?

Beratnya hanya 1 kg atau setara 8 ikan lele, dengan ketebalan 12,9 mm alias 1 cm lebih dikit. Kompak banget, kan? Jadi kalau mau dibawa ke mana-mana, tidak perlu mikir dua kali, langsung saja diangkut.  Belum lagi, ZenBook S dapat dioperasikan di cuaca ekstrem mulai dari 0 derajat Celcius hingga 40 derajat Celcius. Jadi, kalau panas-panasan di pantai juga tidak masalah, kan sudah punya kipas kaca kristal cair yang membuat proses pendinginan efisien dan tenang.

Sedang mengingat-ingat kerjaan dan ZenBook S, datanglah si bungsu. “Mau popmie.” Ah ya, sebanyak apa pun makanan yang dibawa, pasti habis dan buntutnya minta popmie juga ^^


2. Mondar-mandir di playground. Liburan waktu itu hampir usai. Mulai resah dan mati gaya, akhirnya memutuskan untuk playdate bareng tetangga. Judulnya tetap murah meriah. Ke planetarium jam 11 dah penuh dong akhirnya melipir ke Pejaten Village menuju area playground. Saya pikir anak-anak yang dominan usia 9 tahun ini sudah tidak terlalu antusias lah main di sini, eh ternyata betah loh mereka.

Si eneng lagi main rumah-rumahan. Entah kapan bosannya. Ami sudah mati gaya ... 

 Saya yang gelisah. Mondar-mandir di playground, foto sana-sini, tapi rasanya masih jauh dari berakhir. Dan saya pun bergabung dengan para orangtua yang sudah lebih mirip boneka tidak terpakai. Teronggok di pojokan.

 Lagi-lagi teringat deadline terjemah saya yang perkembangannya melambat parah selama liburan ini. Harusnya bisa bawa laptop, tapi saya baru saja mengerjakannya hingga pagi dan mendadak dihubungi tetangga buat playdate. Ya buru-buru deh sehingga lupa mengecharge laptop yang sudah berkurang kapasitasnya itu. Kan percuma juga sudah ditenteng berat-berat tapi langsung mati dalam waktu kurang dari satu jam.

Beda memang dengan ASUS ZenBook Syang menggunakan baterai berkapasitas tinggi. Hanya dalam waktu 49 menit, ZenBook S bisa terisi kapasitasnya hingga 60%. Kemampuan daya tahan baterainya juga bisa mencapai 13,5 jam dari kapasitas sempurna. Jadi tidak ketemu colokan dalam waktu lama, tidak akan gelisah. Kerja bisa lebih lama, tapi hanya butuh sekejap untuk mengecas.


3. Me time yang jadi our time.
Ami di mana.
Message dari nomor suami, yang pasti dari anak-anak saya. Padahal saya baru saja duduk di coffee shop untuk mengambil jatah me time sekaligus mengerjakan terjemahan.

Sigh, saya menghela napas dan akhirnya memberitahukan posisi saya. Dan benar saja, sekumpulan anak-anak yang masih belekan dan pasti belum mandi menghampiri saya . Buyar sudah harapan untuk mengerjakan naskah. Ketiga pasang mata anak-anak itu sudah berbinar karena tahu wifi di coffee shop itu kencang. Jadi mereka sudah mengincar nonton Youtube sampai puas yang memang menjadi privilege mereka selama liburan atau sekadar mengetik cerita. Saya minta waktu 30 menit pada mereka, lumayan lah bisa sedikit mencicil, daripada tidak ada. Setelah itu, saya alihkan laptop saya ke mereka.

Ketimbang ke warung kopi saja diikutin. Demi apa?Demi laptop dan free wi-fi.

Pertengkaran sudah dimulai dari sejak layar itu menghadap mereka. Perihal suara kurang jelas lah, merasa kesempitan ketika menonton bertiga, tombol yang kurang sensitif, dan masih banyak keluhan terkait laptop saya yang sudah berumur ini.

Melayanglah ingatan saya ke ASUS ZenBook S. Layar NanoEdge ultra-high yang dimilikinya pasti akan membuat anak-anak bahkan saya terpesona dengan warna dan detail hidupnya. Belum lagi kemampuan audionya. Dengan bekerja sama dengan Golden Ear menghasilkan ZenBook S dengan dua speaker stereo berkualitas tinggi, juga efek surround system yang membuat nonton streaming laiknya nonton bioskop!

Pertengkaran itu akhirnya reda juga setelah sekumpulan makanan dan minuman tersaji di meja. Me time saya secara resmi menjadi our time dengan segala keterbatasannya. Angan saya masih melayang ... someday, kids, someday ....


4. Di rumah saja. Yass, akhirnya bisa konsentrasi mengetik terjemah di rumah. Sambil goler-goler di kasur, nikmatnya. Anak-anak juga lagi kooperatif, mereka sibuk main bertiga dan lagi mereka baru dapat buku baru jadi anteng. Kadang-kadang si bungsu menghampiri saya minta diladeni. Karena pikiran saya lagi fresh, jadi saya membacakan sedikit kalimat di bukunya sambil mengetik.

Saya lebih suka bekerja di ruangan terpisah dengan anak-anak, karena selalu saja ada insiden jika anak-anak dan laptop berada dalam satu ruangan. Oleh karena keterbatasan ruang, saya memang banyak mengerjakan laptop di kasur, tapi begitu anak-anak datang jika tidak segera disingkirkan bisa berubah menjadi malapetaka. Ya laptop ketiban lah, ketendang lah, terinjak, pokoknya teraniaya. Kan beda dengan ZenBook S yang sudah masuk standarisasi militer MIL-STD 810 G dengan menjalani serangkaian uji coba ekstrem, seperti: uji coba buka dan tutup hingga 20000 kali, dibanting ke lantai kayu dalam berbagai posisi, tes getaran untuk teknologi High G-Shock, bahkan colokan port-nya pun diuji hingga 5000 kali. Hal ini menjadikan ZenBook S tangguh. Jadi kalau tidak sengaja terinjak anak-anak, saya pasti tidak histeris, karena mampu menahan hingga tekanan 25 kg.

Mendambakan kehidupan freelancer dengan laptop zenbook gaya seperti ini


Ketika laptop mulai lelah, saya matikan sambil dibiarkan di-charge di pinggir kasur. Sementara saya menikmati rebahan sambil menatap langit dari jendela. Si bungsu datang lagi, kali ini bawaannya lebih banyak, sehingga dia harus manjat miring ke kasur dan tahu-tahu ... BRAKK! Saya bangkit karena mendadak yakin apa yang jatuh. Dan segera saja temperatur saya naik macam Kak Ros saat gemas dengan adik-adiknya. Sialnya, adalah si bungsu yang kena, dan kebetulan yang paling sensitif. Seketika dia pun menangis drama, padahal saya baru berubah jadi monster level 2. Saya pun pause dan meraih kembali laptop yang sudah terbalik di lantai. Memeriksanya dari sudut ke sudut. Sudah dua sudut gompal di situ entah sejak kapan. Meraba keseluruhannya dengan perih, aduuuh semoga masih bisa dinyalakan.

Jadi bingung, lebih pilu lihat laptop jatuh atau anak nangis?

Saya coba nyalakan sambil harap-harap cemas. Berharap terjadi keajaiban ketika laptop saya berubah menjadi ASUS ZenBook S. Si bungsu masih menangis menatap jendela. Setelah menunggu beberapa saat, alhamdulillah, menyala dengan baik. Lalu, saya tengok ke kanan, si bungsu sudah tertidur. Ah, maafkan ami, ya nak.
 
Terjemahannya akhirnya selesai dengan selamat. Walau gedebrak-gedubruk. Yah, liburan kami memang tidak sempurna, cenderung terlalu sederhana. Kawan-kawan anak saya bahkan menganggap liburan kami tidak menarik.

Berenang saja, cari yang gratisan, tapi tetap saja deadline ditinggal di rumah


“Kamu sedih ga dibilang gitu sama teman-teman?” tanya saya pada si anak tengah yang baru saja bercerita tentang perlakuan teman-temannya setelah mengetahui dia tidak berlibur ke tempat yang jauh.
“Ga. Yang penting aku senang kemarin.” Jawabnya enteng.

Ternyata saya yang harus belajar dari mereka. Bisa liburan dengan hati enteng, ga terbayang-bayang deadline yang terkatung-katung. Fix, 2019 harus ganti ASUS. Biar tidak hanya kerjaan bisa selesai lebih cepat, tapi juga bisa menjadi salah satu sumber kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak semasa liburan. Aamiin, yes?

Sabtu, 01 Oktober 2016

Sekelumit Rasa untuk Pengidap Kelainan Langka (Rare Disorders)


"Si kakak bertanya, mengapa jari adiknya ada 24. Dan kemudian keluarlah penjelasan tentang mutasi gen." #polydactyly 
 
Sebuah kalimat yang tidak saya bayangkan akan muncul tak lama setelah kawan saya mengunggah bayinya yang baru lahir. Saat itu, saya tidak terlalu menelaahnya, tidak pula membahasnya pada kawan saya hingga kemudian info itu terus berkembang dan hashtag #polydactyly sering muncul di hadapan mata saya.
Mungkinkah, dia ingin orang-orang mencaritahu?
Dan saya pun mulai mencari ....
"Polydactyly adalah kondisi kelebihan jari. Banyak kasus tampaknya terjadi tanpa sebab yang jelas. Ada karena cacat genetik (inherited) atau sindrom keturunan. Polydactyly adalah kelainan sejak lahir yang paling umum terjadi dan dialami sekitar 1 dari sekitar 1000 kelahiran." Sumber: www.detik.com/detikHealth
Ketidaktahuan mungkin membuat kita takut, tetapi jangan sampai itu menggerus kemanusiaan kita. 

Usai menambah pengetahuan, saya pun memahami bagaimana cara saya harus bersikap. Saya pernah bertemu beberapa orang dengan kasus serupa. Sependek bacaan saya, polydactil lebih banyak berkutat pada isu penampilan ketimbang kesehatan. No big deal. Lalu saya pun mulai mencoba merespons dengan keceriaan yang sama dengan kawan saya.
"Kalau tos sama K, bukan 'high five' dong namanya yaa ^^"
"Dan ga bisa kasih middle finger, hehehe ..."
Kami berbagi tawa. Lalu kemudian keceriaan itu berubah.
Baby K yang mulai belajar merangkak pun tergelincir. Dan patah tulang atau fraktur pertamanya terjadi.

McCune-Albright Syndrome merupakan kondisi genetis yang ditandai oleh kelainan pigmentasi kulit, penyakit tulang dan endokrin (hormon-sistem produksi). Penyakit tulang dapat menyebabkan kelemahan dan kelainan bentuk tulang pada kaki lengan dan tengkorak. Penyakit endokrin dapat menyebabkan pubertas dini dan meningkatkan laju pertumbuhan secara berlebihan (gigantis). Penderita dipengaruhi oleh berbagai karakteristik derajat penyakit yang berbeda. (Sumber: www.detik.com/detikHealth)


Intinya, penyebabnya sulit diketahui. Namun, yang pasti anaknya rentan patah tulang. Titik. Oleh karena penyebabnya sulit diketahui maka metode perawatannya pun samar. Yang bisa dilakukan sekarang ini adalah, bertahan.

1. Stay Positive

Seperti awal #polydactyly, saya lebih banyak diam mengamati. Lebih tepatnya menanti status kawan saya agak mellow sedikit, agar saya bisa mengucapkan kalimat menghibur. Saya hanya sungkan berbicara tentang yang dialami anaknya, jika saya tidak tahu banyak. Namun, hal itu tidak kunjung terjadi. qadarullah, kami bersua di suatu even di Balai Kartini. Dalam pendeknya waktu, kawan saya memaparkan banyak hal yang membuat saya menganga dalam hati. Dari sekian banyak rencana perawatan di depan mata, saya melihat binar matanya masih jenaka seperti awal saya mengenalnya.

Fraktur kedua, fraktur ketiga, pemasangan bracelet ... semua dia beritakan di akun Fbnya dengan mengakhirinya dengan emoticon lucu. Though it might be not that funny ... atau ketika dia melihat kondisi pasien lain dan keluarga, dia selalu menyematkan rasa syukur.

Lalu kemudian dia tergabung dengan kegiatan IRD atau Indonesia Rare Disorders. Pikir saya, dia tengah melakukan langkah yang besar. Sebagai sesama editor, saya paham bahwa memastikan orang-orang memahami sebuah situasi atau kondisi itu penting agar tidak terjadi salah paham. Makanya dia tak pernah mengekspresikan larutan perasaannya terlalu dalam, melainkan lebih banyak soal progress dan progress.

Hingga kemudian saya melihat akunnya ditaut oleh suaminya. Fraktur ke sekian kalinya kala mudik lebaran yang menyebabkan sang suami terpaksa harus kembali ke Jakarta lebih dulu meninggalkan kawan saya di kampung halaman mengurusi anak di RS. Dan kalimat mellow yang saya nanti ternyata keluar dari suaminya. Seketika, sedih yang lama terpendam pun menjalar dalam hati.
 
2. Gue Takut
Saya suka merasa ingin memutar bola mata jika melihat ada orang tua yang berlebihan melihat anaknya main di titian atau lompat-lompatan atau berlarian. "Nanti jatuh!!!!"
So be it. Pikir saya pada kebanyakan waktu.

Tapi ketika kawan saya berkata, "Gue takut kalau gue meleng sedikit, dia jatuh. Dan sudah pernah kejadian."
"Gue takut membayangkan di tahun mendatang, bagaimana dia akan sekolah?"
"Sedangkan K anaknya cheerful ... gue ga mau bikin dia sedih dengan keadaannya."
Meleleh air mata saya. Saya banyak membaca tentang dukungan sangat penting dalam perkembangan anak terutama di usia di bawah enam tahun. Jadi, membayangkan menahan laju alami seorang anak untuk bergerak itu membuat saya sedih. Teringat ketika si sulung harus diberi perawatan DBD di usia 10 bulan. Masa dia sedang senang berdiri tapi terpaksa saya tahan karena infusnya dipasang di kaki. Lalu bagaimana dengan perasaan kawan saya?

How could fear shaped your face, after all this time ...
Kawan saya yang cuek itu ... 

This is not your fault .. it is nobody's fault. 


Namun, ternyata ada yang lebih dia takutkan. Yaitu ketika dia menjadi lebih fokus pada kekurangannya, sehingga tidak menyadari bahwa putranya itu diam-diam mempelajari sesuatu.
"Tahu-tahu dia dah bisa naik tangga. Gue histeris."


3. Gue Cemas
Kali ini kecemasannya ditujukan pada putri sulungnya yang harus menghabiskan hari-harinya bolak-balik RS, terlebih ketika adiknya mengalami fraktur. Masa-masa penting sang kakak sering dilewatkan tanpa didampingi orangtuanya karena entah bagaimana selalu bertepatan dengan kasus pada adiknya. Sebagai keluarga perantauan generasi pertama, maka tak semudah itu menitipkan anak. Pun, anaknya tak mau dititipkan.
"Aku suka kalau bisa sama abi dan umi." Tapi jangan di rumah sakit.
Bahkan orang dewasa pun gamang dalam menghadapi situasi ini, apalagi dirinya. Terasa wajar, jika dia sedikit mengharapkan sebuah alur cerita yang berbeda.

Namun Tuhan tidak akan memberikan sesuatu pada umatnya melebihi kemampuannya. 

Saya menyaksikan sendiri ketika salah satu kerabat tervonis kanker dan keberadaan supporting group sangat membantu pasien untuk merasa bahwa ada yang memahami sakitnya secara nyata. Dan bahwa mereka tidak sendirian.

Bergabung dengan Indonesia Rare Disorders, banyak membantu kawan saya dalam hal penambahan informasi dan tali dukungan antarorangtua. Namun, bagaimana dengan para kakak atau adik penderita rare disorder?


4. Gue Menghindar
Setelah fraktur ke sekian kalinya, kawan saya menghindar memberitakan di media sosial. "Biar orangtua dan mertua ga perlu tahu," katanya. "Bukannya apa-apa, terakhir kali mereka tahu, langsung panik massal. Dan kalau sudah begitu gue jadi ikut panik."
Hal ini menyadarkan saya bahwa menjadi supporting group  itu pun tidak mudah. Walau niatnya baik. Membekali diri dengan banyak pengetahuan tentang kelainan itu adalah satu cara, tapi juga menyediakan hati yang lapang untuk mereka. Dan biarkan mereka yang menentukan mau apa mereka di sana.

So, what can I do for you, friend? 


5. Gue Sedih
"Anggapan orang lain tentang kondisi K itu benar-benar menjatuhkan mood."
"Gue pernah dituduh penyiksaan pada anak, pernah melakukan aborsi gagal ...."
Dan pernah juga dituding oleh tenaga kesehatan.
I was like, whaaaaat??
Saya memang tidak bisa mengontrol terlebih menghakim lidah orang lain. Banyak orang di luar sana yang "tong kosong nyaring bunyinya". Jadi yah sudahlah, semoga mereka-mereka diberi petunjuk. Namun, lain halnya dengan tenaga kesehatan. Sebagai penggemar serial televisi berlatar belakang medis, saya menyadari bahwa seorang tenaga kesehatan juga punya semacam SOP untuk waspada terkait dugaan kekerasan pada anak dan semacamnya. Namun, dari sekian banyak episode yang saya tonton, ada yang namanya etika bertanya atau etika mencari tahu, instead of menuding yang akhirnya lebih sibuk menghakimi ketimbang mencari solusi.

Hati-hati dalam mengulik masa lalu, tidak ada orang yang mau dihakimi. 



Indonesia Rare Disorder dalam perjalanannya selama satu tahun ini, berhasil mengumpulkan para orangtua pilihan ini. Menjadi wadah untuk meraih energi positif kembali usai didera banyak sekali tanggapan negatif. Bagi yang tidak mengalami, tidak semudah itu dapat melihat seluruh paket perasaan yang dialami keluarga pengidap rare disorders. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dalam bersikap.


Jadi, mari mengenal rare disorders agar ke depannya semoga lebih banyak masyarakat teredukasi tentang kelainan LANGKA ini. Mereka 'hanya' LANGKA bukan sebuah kesalahan ataupun kegagalan. Bahwa mereka NYATA. Mereka dekat. Mereka di sekitar kita. Dan dengan dukungan masyarakat yang teredukasi, para pengidap rare disorders ini sejatinya akan mampu menjadi BERDAYA.



Senin, 29 Februari 2016

Ada Pelaminan di Rumah Duka Lintau

Lintau adalah nama salah satu kampung di Sumatera Barat yang masuk wilayah Batu Sangkar. Sebagai anak yang tidak pernah tinggal di kampung, saya senantiasa merasa kagum melihat bagaimana keluarga besar mama saya tetap mempertahankan tradisi walau tinggal di perantauan. Tradisi di pertahankan saat pernikahan itu biasa, yang tidak biasa adalah bagaimana tradisi dan sistem adat dijalankan saat ada yang meninggal.

Pertama kali saya menyaksikannya adalah ketika nenek saya meninggal dunia. Oleh karena mama adalah anak perempuan tertua, maka serta merta datanglah seluruh adik dan ipar juga bako (sebutan untuk perempuan tertua dari pihak bapak, seperti mak tuo atau dalam ranah Jawa disebut Bu De) ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Hal itu dilakukan bukan semata-mata jiwa kemanusiaan melainkan sistem. Pihak bako wajib membawa segala sesuatu untuk keperluan jenazah, seperti kain kafan, bunga, air, dan sebagainya. Sedangkan adik dan ipar mama sibuk bertanya pada saya, "di mana mama menyimpan pelaminan?"

"Eh, pelaminan?"
Mama saya memang memiliki set pelaminan, belum lengkap semua sih. Beliau bercita-cita ingin menjadi penyewa pelaminan walau akhirnya pelaminan mama lebih sering dipinjamkan ketibang disewakan karena mama pun seorang bako utama (nah kalau ini beda lagi topiknya ya). Nah karena topiknya sedang berduka, saya bingung kenapa harus mencari pelaminan?

Rupanya ruang tempat nenek saya akan disemayamkan dihias dengan pernak pernik pelaminan. Seluruh dinding ditutupi kain dasar berwarna merah, oranye, dan kuning. Tema emas terlihat dominan seperti biasa, hanya saja nuansa hitam lebih banyak muncul ketimbang merah. Pada tengah-tengah langit-langit, persis di atas jenazah, ada hiasan utama dengan kaca-kaca di atas kain beludru. Hasilnya? Cantik.

Inilah cara orang Lintau menghormati seseorang yang meninggal. Lahir disambut dengan sukacita, begitu juga dengan saat berpulang ke hadirat-Nya.

Namun sistem adat tidak berhenti di situ, salah satu tradisi yang masih dipertahankan oleh para anak rantau ini adalah sistem berkunjung. Saya ambil contoh yang agak unik, beberapa waktu lalu Datuk yang merupakan adik nenek meninggal dunia. Kebetulan seluruh anak perempuan Datuk ini pun sudah lebih dulu meninggal, begitu juga istrinya. Jadi, satu hari setelah berpulang, mama dan keluarga besar melayat ke rumah duka. Istilahnya melayat anak, karena berasal dari satu 'rumah'. Hari berikutnya, anak-anaknya Datuk dan keluarga yang sudah melayat ke rumah Dayuk, yang datang ke rumah mama saya.

Lho, kok?
Ini namanya saling menghibur di antara yang berduka. Mama saya beserta adik-adiknya termasuk keluarga inti yang berduka, jadi rumah mama saya yang sekali lagi sebagai anak perempuan tertua menjadi base camp kedua.

Kunjungan pun tak sekadar kunjungan, ada bawaannya. Bagi keluarga inti atau bako harus membawa ayam jago kampung berwarna hitam. Nah, waktu nenek saya meninggal, rumah saya kebanjiran ayam hidup. Namun sekarang lebih sederhana, ada yang memberikan uang di amplop yang ditulis 'uang ayam'. Ada pula yang membawa ayam dalam keadaan sudah siap dimakan. Sedangkan untuk pihak di luar keluarga inti membawa beras atau beras ketan dan telur, jumlahnya sekitar 5 atau 7.

Kenapa?
Alasannya adalah ada ketentuan bahwa orang berduka tidak boleh ke mana-mana. Di Lintau sendiri proses orang melayat bisa sampai satu minggu. Nah, karena tidak bisa ke mana-mana, tidak bisa belanja dong. Makanya dibawakan makanan oleh keluarga-keluarga yang melayat.

Nah, karena sudah dibantu, maka sesuai tradisi pihak berduka pun membalas. Apa lagi ini? Khusus yang bawa ayam saja kok. Mereka yang membawa ayam diberi uang sebagai ucapan terima kasih. Nominalnya tentu lebih murah daripada harga ayamnya dan kemudian disesuaikan saja. Misal, ada yang kasih uang ayam sebesar Rp100000,- maka dibalas Rp50000,-. Kenapa tidak langsung bawa Rp50000,-? Itulah namanya disuruh berinteraksi. Kesannya ribet tapi ada maknanya bagi mereka yang ingin memahaminya hehehe ...

Semoga tradisi ini terus dijalankan dan diturunkan seperti ketika mama meminta kakak perempuan saya untuk datang ke rumah saat orang melayat. "Karena kamu anak perempuan tertua." Tempat tradisi dipertahankan. Sedangkan si adik seperti saya yah bagian mempromosikan lah hehehe ...









Minggu, 31 Agustus 2014

Mama, Inspirasiku untuk Air Sehat dan Hemat


Walau tidak pernah benar-benar mengklaim diri sebagai keluarga pencinta lingkungan, banyak sekali hal yang dilakukan mama dalam rangka berhemat tetapi sekaligus memelihara lingkungan. Mama saya mungkin bingung dengan cara yang tidak menggunakan kantung plastik saat berbelanja. Toh saya belajar menyimpan plastik kresek itu dari mama. Jika mama lebih mengagumi kain yang bersih yang wangi akibat dicuci dengan entah berapa sendok deterjen, sedangkan saya tidak, toh mama lebih memilih menggunakan bubuk pembersih kamar mandi jadul ketimbang menggunakan merk lain yang secara kimia lebih dahsyat kemampuannya—dan lebih dahsyat pula polusinya.

Sudah bukan rahasia lagi kalau air merupakan bagian utama dalam kehidupan sehari-hari, terutama keluarga saya. Keluarga kami pencinta air putih, tidak mengkonsumsi soda, dan pengguna setia pompa air padahal letak rumah saya di tengah kota, alias di Tebet. Walau kami menggunakan air galon, namun kami tidak anti meminum air hasil pompa air kami. Maklum air putih di sebuah teko besar, cepat habisnya. Saya bahkan dulu pergi kuliah sambil membawa air putih dengan kemasan air mineral 1,5 liter. Waktu itu saya belum tahu kalau botol besar itu tidak boleh digunakan lebih dari 2 kali.

Alasan lain, kadar bersihnya sama. Pernah suatu kali ada pengujian materi air minum, jika dibandingkan air tanah dan air galon di rumah saya, hasilnya sama. Jadi, walaupun ibu saya perawat tidak menjadikan dirinya menjadi seorang hygiene freak dan terpatri pada merk tertentu.

Oleh karenanya mama sangat kekeuh memertahankan lahan hijau yang tidak seberapa di rumah. “Itu buat cadangan air.” Maklum, kami pernah mengalami masa kemarau yang sangat panjang sehingga memengaruhi volume air yang mampu disedot oleh mesin pompa. Pikir praktis, kalau tanah tidak sering diberi air bagaimana dia mampu menyimpan air cadangan? Padahal tanah memiliki gudang air yang luar biasa luasnya.

Hal inipun turut dia terapkan di kontrakan miliknya di pinggiran Jakarta. Mentang-mentang saudagar kontrakan, tidak membuat mama serta merta mengoptimalkan setiap senti tanah yang ada untuk menambah pintu kontrakan. Dia sadar, dalam jangka waktu tertentu, air tanah itu akan habis jika tanah tidak diberi ruang untuk mengisapnya. Dan itu hanya akan menambah masalah lain di kontrakan.

Mama pun berkomitmen menghemat air dengan banyak aksinya di rumah. Ketika hujan datang, mama akan bersegera menaruh ember besar di atas kucuran air yang kebetulan jatuh di teras kami. Jika banyak orang mengira telah melakukan aksi pintar dengan membuat saluran air sedemikian rupa hingga langsung masuk ke got, tahukah kalian bahwa hal itu justru menghalangi tanah menyerap air hujan? Bagi mama, air hujan adalah sumber air gratisan untuk menyiram tanaman di hari berikutnya.

Jika setiap kali ada hajatan dan harus menggunakan air mineral kemasan gelas, mama suka sedih melihat perilaku orang yang tidak menghabiskan minumannya. Bagi orang minang, menghabiskan makanan dan minuman yang disajikan itu adalah bentuk penghormatan pada tuan rumah. Di lain pihak, kasarnya “Hei, air itu dibeli.” Akhirnya setiap kali kami merapikan sisa hajatan, setiap air minum yang tersisa itu kami siram ke tanaman.

Saat mencuci beras, mama akan menampung air cuciannya untuk kemudian lagi-lagi dia siramkan ke tanamannya.  Pokoknya tidak pernah merasa rugi menyirami tanaman deh.

Komitmen ini pulalah yang kadang membuat dirinya pusing ketika saya dan keluarga menginap. Kebetulan anak-anak saya ini suka main air. Siapa sih ya nggak suka? Jadi sesi mandi adalah sesi di mana semua kran di kamar mandi menyala. Yah namanya juga mandi bareng, masing-masing pegang kran. Atau jika kami menggunakan kolam tiup untuk wahana mandi. Wah lebih banyak lagi air yang digunakan. Pada saat itu, kalkulator di otaknya bergerak cepat. Mau marah, tapi ketawa para cucu bikin ga tega hehehe ....

Saya bukannya tidak mengajari anak untuk berhemat air, tapi kita ini kan tinggal di kota. Tidak bisa setiap saat mandi di laut atau di sungai, tapi sangat suka main air. Nah, biasanya saya kasih jatah ke anak-anak. Kalau setiap hari mandi air macam begitu kan, mabok bapaknya bayar uang air. Apalagi kami tinggal di apartemen. Nah, seringnya, jadwal ke rumah nenek adalah jadwal main air alias akhir pekan.” Ya sudahlah, ma, relakan. Kan ga setiap hari.” Kata saya setengah menggoda.

Banyak hal yang mama lakukan yang belum bisa saya lakukan di rumah saya sendiri. Saya kan ga bisa menadahi air hujan dan memang tidak ada tanah milik saya sendiri. Yang bisa saya lakukan sebagai warisan mama saya adalah menanamkan nilai air bagi kehidupan pada anak-anak. Bahwa air dapat memancing berbagai keriaan dan kreativitas tetapi di satu sisi juga harus dijaga dan dihemat penggunaannya. Demi lingkungan yang sehat dan ramah. Demi masa depanmu juga, Nak.

 

Sabtu, 23 Agustus 2014

Amy’s Story: Edukasi Finansial Sejak Dini

Bicara soal edukasi finansial sejak dini, saya memiliki perbedaan pendapat dengan ibu saya, walau reputasinya sebagai pengelola keuangan rumah tangga belum ada tandingannya. Bagi ibu saya, yang terpenting adalah makan, agama, kesehatan, dan pendidikan. Hiburan tidak termasuk di dalamnya.
Ini mungkin sedikit curahan hati saya sewaktu kecil. Pada zaman saya dulu, saya lah anak pertama yang akhirnya diberi uang jajan. Padahal saya bungsu loh. Kok bisa begitu? Soalnya sering kejadian saya menggunakan uang untuk membeli buku pelajaran untuk jajan dan akhirnya ketahuan saat pembagian rapor.

Uang jajan saja tidak cukup, kebutuhan pergaulan saya menuntut uang jajan lebih banyak. Dan itulah yang membuat saya menggunakan uang milik sekolah yang saya simpan sebagai bendahara saat duduk di bangku menengah. Jika sudah saatnya pengumpulan uang ke guru, saya biasanya akan men’catut’ nominal uang yang saya minta dari orangtua saya dengan dalih kegiatan sekolah. Parah, kan. Saya sudah korupsi sejak dini.

Ketika saya menginjak usia 17 tahun, barulah saya mendapat akses untuk mengambil uang di tabungan saya. Sebelumnya hanya mama saya yang bisa melakukannya. Setiap bulan, beliau mengisi tabungan anak-anaknya selama bertahun-tahun. Hebat betul ibu  saya ini. Namun itu ternyata tidak cukup menggugah hati saya. Tabungan bertahun-tahun itu ludes dalam waktu sebulan.

Beranjak dewasa, saya mempelajari beberapa hal bahwa kebutuhan setiap anak berbeda-beda dan bisa jadi belum ketahuan bentuknya jika tidak mendapatkan pengalaman yang kaya. Sebagai generasi kelahiran ’80-an, saya hidup ketika pergaulan termasuk kebutuhan utama. Sekilas memang tidak penting, tetapi sekali lagi kebutuhan anak berbeda-beda. Berkawan meningkatkan kepercayaan diri saya di tengah dominasi orangtua dan kakak-kakak saya. Dan berkawan, pada awalnya membutuhkan uang. Dan menguasai uang itu bukan hal yang mudah.

Hal itulah yang mendorong saya mengajarkan anak tentang mengurus uang sejak dini. Saya sendiri masih banyak kekurangannya. Saya beralasan, saya tidak pernah benar-benar mengurus uang di usia dini. Oleh sebab itu, saya ingin anak-anak saya tidak norak saat dewasa dan memiliki penghasilan sendiri. Ibu saya memang menjelaskan sejak dini soal pentingnya menabung, investasi, dan lain-lain, yang tidak beliau ajarkan adalah praktik langsungnya. Ya, teori tanpa praktik itu akan memberi hasil yang tidak sempurna.  Godaan uang di tangan itu sangat .... silahkan isi sendiri deh.

Anak-anak saya kini berusia di bawah lima tahun. Pada si kakak yang berusia 4 tahun, sedikit-sedikit saya ajarkan konsep uang dan belanja. Dia sih sangat bersemangat menabung, belum memiliki ketertarikan khusus soal konsep nilai uang. Uang baru terasa bernilai baginya saat saya ajak dia ke arena bermain yang menggunakan koin. Arena bermain yang bising ini biasa ada di mal. Kenapa lebih mudah di sini, karena fisik koinnya mudah dihitung bagi anak yang baru mengenal angka.

Awalnya saya yang membeli sendiri koin tersebut. Tentu saja koin itu habis dalam sekejap. Dan si anak akan merengek minta lagi dan lagi. Kesal dengan perilaku tersebut, akhirnya saat hendak membeli koin, saya keluarkan lembaran uang saya dari dompet.

“Lihat, ini Amy keluarin uang Rp10000,-. Nih, uang Amy jadi tinggal dua lembar, rp10000,- dan Rp20000,- Coba kamu lihat dapat berapa koin.” Saat itu anak saya sudah tahu angka, belum tahu nilai, tapi dia yakin bahwa yang huruf depannya 1 itu jumlahnya lebih sedikit dari yang huruf depannya 2. Kebetulan saya tidak ada lembaran Rp100000,-

Setelah menukar uang dengan koin, saya perlihatkan jumlah koinnya. Saya suruh dia menghitung dan menghitung kembali usai dibagi dua dengan adiknya. Saya biarkan dia memegang koinnya dan memilih permainan yang dia suka. Dan ketika koinnya habis, saya selalu biasakan hanya mendapat satu kali jatah nambah alias beli koin lagi. Kalau masih penasaran dan Amynya sedang malas, boleh tambah lagi tapi diambil dari uang tabungannya.

Awalnya dia masih rungsing karena cepat sekali koin bergelontor. Terlebih jika jumlah tiket yang didapat tidak cukup untuk ditukar dengan apa pun.

“Ya, kamu sih kebanyakan pilih mainan yang ga dapat tiket.”

Anak saya itu memang lebih suka menaiki mobil-mobilan goyang-goyang ketimbang atraksi yang lain. Saya pun tidak selalu menggiring ke permainan yang mirip dengan judi.

Dan setelah beberapa kali, dia pun kemudian memilih mainan dengan kesadaran penuh berapa koin yang akan habis dan tidak merengek saat koin itu habis pun setelah ditambah. Dia pun tidak terlalu peduli dengan tiket, malah lebih bersemangat kala mengumpulkan tiket itu ke dalam tas saya. Opsi kedua yang melibatkan uang tabungannya pun nyaris tidak pernah dia ungkit.

Atau ketika harus memilih antara permainan koin dengan softplay area berbayar. Biasanya saya akan jelaskan, jika ingin berada di wahana permainan koin berarti hanya sebentar waktu yang dihabiskan. Berbeda jika bermain di softplay area berbayar. Dan itu pun dikorelasikan dengan jumlah waktu yang sejatinya hendak kita habiskan di mal. Jangan ketika akan segera pulang dalam 15 menit, malah memilih softplay area berbayar. Rugi, dong. Biasanya perundingannya agak alot.

Permainan atau hiburan memang boleh dinikmati sesekali, tetapi tidak jarang orang yang menyadari bahwa itu hanya perlu dilakukan sesekali setelah mengalami kesulitan finansial usai kecanduan hiburan. Bagi saya, lebih dini proses terperangkapnya lebih awal pula fase merangkak naiknya. Tahu kan, pengalaman adalah guru terbaik. Intinya yang hendak saya sampaikan adalah, orangtua akan berusaha memfasilitasi kebutuhan pergaulan anak-anak (dengan prioritas yang nyaris sama dengan kebutuhan utama) tentu dalam jumlah dan batas usia yang disepakati. Namun, pada akhirnya tingkat kesenangan itu bukan diukur dari jumlah uang yang dihabiskan melainkan seoptimal apa uang yang ada berubah menjadi keriaan. Dan itu didapat dari pengalaman dan kedewasaan. Untuk yang satu ini, beda orangtua beda pendapat yaa ....


Toh, jika umur masih panjang, pendidikan soal finansial pada anak-anak ini akan terus berambah dan berubah bentuk seiring waktu. Anak-anak sejatinya akan semakin kritis dan bisa jadi mereka akan memprotes pilihan metode saya. I guess, PR saya masih banyak. 

Jumat, 02 Mei 2014

Diary Sang Zombigaret: Membayar Dosa Masa Lalu si Gadis Perokok


Uhuk uhuk.

Suara batuk itu terdengar lagi di sela tawa mereka. Dua bocahku. Pilu rasanya hati ini setiap kali aku mendengarnya. Ketika kenyataan menghantamku seratus kali lebih hebat. Lebih nyata dari setiap ngilu yang kurasakan saat ini akibat efek kemoterapi. Ya, bagi seorang ibu, sakit anak adalah derita. Dan lebih menderita lagi jika sakit itu ditularkan oleh aku, ibunya sendiri.

Awalnya hanya pemeriksaan rutin anak-anak ke dokter anak langganan kami. Namun, melihat tubuh kedua anakku yang turun drastis berat badannya akhirnya pemeriksaan berlanjut menjadi rontgen dan kemudian suntik mantoux. Hasilnya, positif TB.

Aku langsung melirik suamiku dengan tatapan menuduh. Si perokok aktif dan pernah mengalami pengobatan TBC. Dengan kesal, aku turut memeriksakan diri. Namun, urutannya kini berbeda. Usai menjalani rontgen, aku menjalani serangkaian pemeriksaan darah. Aku curiga. Ada yang tidak beres. Tak banyak yang kupikirkan, karena aku fokus di pengobatan anak-anak yang harus disiplin selama enam bulan. Aku dialihkan dari satu dokter ke dokter yang lain. Entah kenapa, aku pun tak terpikir untuk bertanya sejak awal. Ketika akhirnya aku bertanya, ada sedikit sesal, karena jawaban panjang lebar si dokter hanya tersangkut beberapa kata di kepalaku. Kanker paru-paru. Dan ada TBCnya.Ternyata aku penyebabnya.

Pikiranku membawaku melayang pada perkataan abangku, “Bagi perempuan, sekali kamu merokok, maka tombol risiko kanker otomatis menyala.” Ucapannya  dua puluh tahun yang lalu, ketika mengetahui aku merokok.

Aku menolak mengindahkan protes bagian otakku yang lain, “tapi aku sudah berhenti merokok sepuluh tahun  yang lalu.”

Tak ada yang merokok di rumahku semasa aku kecil. Aku hanya melihat orang merokok ketika adik-adik ibuku datang. Namun, yang membuatku tertarik adalah ketika melihat kedua kakak perempuan papaku dan juga anak perempuannya merokok. Saat itu, usia 9 tahun, aku merasa mereka terlihat seperti perempuan berkelas nan dinamis. Memang di budaya Sumatra zaman dulu, para wanita dengan tingkat strata tinggi biasanya merokok sembari mengunyah sirih. Atas nama budaya aku bahkan mengidolakan salah satu tokoh perempuan cantik dalam kisah Jawa yang merangkap sebagai penjual rokok, ketika para lelaki mengantri untuk membeli rokok bekas hisapannya. Aku merasa terikat dengan sejarah saat memikirkannya.

Lalu rokok adik-adik mamaku lah yang menjadi modal awal saya mencoba merokok. Tidak ada yang mengajari. Aku belajar cara menyalakannya yang tidak seperti lilin. Tidak ada rekan kejahatan, hanya aku sendiri. Saat teman-teman SMP baru belajar merokok, aku justru menghindar dari mereka. Ah, norak, gue dah jago.

Aku memang pongah, sepongah ketika aku menyindir suami. “Gue dah move on. Kamu kok malah masih sibuk cari identitas diri?” Ya, saat itu aku sudah berhenti. Aku sudah bosan merokok. Lagipula di zaman sekarang merokok tidak lagi membuat aku terlihat keren atau berkelas atau dinamis. Kenapa? Karena aku lihat para ibu pengemis, gadis-gadis jalanan, mereka pun merokok. Aku hilang rasa. Itu semua omong kosong. Aku tak lebih dari seorang zombigaret. Berkeliaran dengan paru-paru rusak dan berdandan seolah aku keren.

 


Aku belum bebas. Seperti banyak penderita kanker lainnya, setiap manusia memiliki kemampuan masing-masing terkait organ tubuhnya. Ada yang sensitif, ada yang tidak. Ada yang merokok ratusan tahun tetapi masih hidup. Ada yang menjadi perokok pasif tetapi jadi penderita. Aku ‘hanya’ merokok lima belas tahun. Bukan perokok berat. Tapi, Tuhan berkata lain. Aku membayar dosaku.

Suamiku datang untuk merapikan selimut yang memeluk tubuhku. Dia kini berhenti merokok. Akhirnya. Dulu, aku takuti dia dengan masa depan anak-anaknya jika dia meninggal cepat. Namun, dia berkilah dengan jumlah asuransi yang akan anak-anak dapatkan. Ah, rupanya jika yang tercinta sakit parah akibat merokok barulah dia tergugah. Dia pun memulai hidup sehat. Sesehat-sehatnya.

“We will survive.” Bisiknya di sela nyaring pekik riang anak-anak yang tengah bermain di ruang tengah. Semoga.


Sumber foto: www.facebook.com/zombigaret

 

Sabtu, 01 Februari 2014

My Story: Puasa Kartu Kredit

Bulan Januari saya tutup dengan prestasi berhasil PUASA kartu kredit. Yup, kartu kredit saudara-saudara. Kartu yang sering disalahgunakan hingga kemudian menjadi senjata makan tuan.

Akibat salah paham bin miskomunikasi dengan suami terkait jumlah uang bulanan, saya yang bungsu melakukan aksi 'ngambeg' dengan mengajukan anggaran yang jauh di bawah kebutuhan. Dan suami yang juga bontot, mengabulkannya. Tentu saja =D. Ngambegnya lama, setahun. Hehehe. Don't try this at home, lah.

Tapi bagus juga sih, saya jadi serius menjalani peran lain sebagai bakul kue di bawah bendera www.koekieku.com Saya juga rajin melego barang-barang hasil salah beli di internet. Ga belanja aneh-aneh lagi. Ga sebentar-sebentar jalan-jalan. Banyak deh. Tapi itu baru dilakukan semester kedua 2013. Lalu, apa yang saya lakukan di semester awal 2013, made mistakes. Many of them.

Pernah menjadi editor in chief untuk buku keuangan membuat saya paham sepenuhnya soal perilaku keuangan, soal bijak menggunakan kartu kredit, dan lain-lain. Namun, saya putuskan untuk melakukan kesalahan tersebut, secara brutal. Inilah kesalahan yang saya lakukan:

1. Godaan Ebay
Atas nama merintis usaha bakul kue, saya banyak belanja. Namun, karena tidak memiliki uang tunai dan menghindari pertanyaan juga kerutan dahi suami, saya memilih belanja lewat ebay. Sudah lama punya akunnya dan baru tahu ternyata bank pengeluar kartu kreditku diterima di akun paypal. Dan belanjalah saya di sana. Jumlahnya berlipatganda setiap bulannya tetapi jumlah yang saya bayarkan selalu pembayaran minimum. Hasilnya bunga bank yang turut mekar.

2. Kartu Kredit untuk Belanja Bulanan
Jangan pernah gunakan kartu kredit untuk kebutuhan sehari-hari. Never! But I did that anyway.

Tindakan ini adalah aksi gali lubang tutup lubang. Dan ketika lelah menggali, lubang tetap bertambah. Jeratan mematikan deh pokoknya. Jika Anda tidak punya uang untuk kebutuhan sehari-hari berarti Anda memang masuk kategori tidak mampu. Silahkan buat Surat Keterangan Miskin. =P

3. Dalih Pinjaman Lunak
Ketika saya tidak bisa membayar tagihan dengan jumlah lebih dari jumlah minimum, saya melakukan kejahatan. Menggunakan tabungan anak-anak saya. Sejak anak-anak lahir, saya memang berkomitmen bahwa berapa pun uang yang diterima mereka entah dari hadiah ulang tahun atau lebaran atau hasil jual kado perlengkapan bayi, itu semua adalah uang mereka. Untuk tabungan mereka. Oleh karena itu saya merasa tengah melakukan kejahatan saat menguras isi rekening mereka.
saya berdalih, nanti juga dibayar.

4. Pakai Terus Kartu Kredit Hingga Ledes eh Limit
Sudah tahu tidak mampu bayar tapi tetap pakai kartu kredit? Nah ini sudah masuk memprihatinkan alias pathetic. Habis bayar pakai apa lagi? Masa anak disuruh puasa minum susu? Itu pembelaan saya. Dan di akhir tahun, tagihan saya over limit.

situasi ini akhirnya terendus oleh suami yang karena kendala teknis terpaksa membuka file tagihan kartu kredit saya yang di-email ke akunnya.

Rekening anak kosong. Saya tidak punya tabungan. Utang kartu kredit sudah batas. Belum lagi utang lain-lain. Sebagai mantan reporter ekonomi, dia tahu ini masalah serius.

Lalu dia sepakat menambah nominal uang bulanan. Tidak seperti yang saya ajukan dua tahun lalu memang, tapi ada penambahan lah. Mungkin ada beberapa item yang menurutnya tidak masuk dalam anggaran. Ya sudahlah, suami kan bukan ATM istri.

namun, itu tentu saja belum cukup. Ada utang yang harus dilunasi dalam waktu dekat.
Ini tipikal saya. Saya suka menerjunkan diri ke krisis hingga dasar untuk kemudian naik lagi. Mungkin gaya yang harus diubah standarnya mengingat sudah ada dua bocah ikut di belakang. Tidak boleh gegabah walau rezeki Allah yang atur.

Bicara soal rezeki, ada banyak kata alhamdulillah saat saya memutuskan menyudahi aksi ngambeg saya dan kembali ke jalan yang benar. Selengkapnya ada di langkah-langkah menyehatkan kembali neraca keuangan Anda eh saya maksudnya.

1. Niat dan Motivasi Lanjutan
Tahu tidak apa yang jadi motivasi saya? Saya ingin nonton konser Bigbang lagi sekalian bawa anak-anak lihat Legoland. Ingin lihat 'selingkuhan' saya alias TOP Bigbang lagi setelah setahun kemarin saya hanya bisa meratap karena tidak ada jodohnya melihat dirinya langsung.

Ga papalah motivasinya alay banget. Yang penting hasilnya positif. Hehehe ...

Lagipula saya bosan iri sama mereka yang bisa dengan mudahnya jalan-jalan ke luar kota dan keluar negeri. Update foto di FB itu memang bikin ngiri. Dan saya sebenarnya bisa begitu, jika ada uang tabungan. Tentu saja harus bawa anak-anak, maklum.

 2. Disiplin Keuangan
Setelah sekian lama, saya akhirnya membuka kembali file anggaran saya dan mulai menulis dengan detail perihal kebutuhan bulanan saya. Kali ini tidak dengan estimasi 30 hari melainkan 40 hari.

Segera setelah menerima uang bulanan suami, saya langsung belanjakan untuk kebutuhan bulanan. Sekaligus tapi bukan kalap dan ga ngoyo juga kalau kemahalan. Ini menghindari saya tidak punya uang di pertengahan bulan dan kehabisan ransum menjelang akhir bulan.
Dan setelah dua bulan, rupanya suami saya ada benarnya. Anggarannya memang tidak sebesar itu jika dikurangi oleh utang-utang.

Dan setelah sekian lama pula, di bulan Februari ini, setelah menambahkan pendapatan, saya kagum melihat sebesar apa yang saya hasilkan. Belum, belum jutaan kok ... Tapi cukup. Alhamdu ... Lillaaah ...

3. Kemudahan Itupun Datang
All of sudden, orderan jadi banyak datang. Diawali oleh si suami yang dapat order edit naskah keuangan. Dia bersedia honornya dibayarkan ke kartu kredit asal saya yang rapikan naskahnya di finishing akhir.

Saya sendiri juga dapat beberapa order edit. Tumben biasanya belum tentu ada sebulan sekali, tapi sekarang ada dua naskah dalam satu bulan? Ini namanya sedang 'dibantu'.

Yang menyenangkan menjadi freelance editor adalah uangnya bisa langsung digunakan karena tidak ada modal materi. Cukup modal otak, laptop, dan warnet. Fresh money banget. Dengan honor-honor ini saya bisa membayar 1/3 tagihan.

Lalu ada orderan kue-kue yang membuat saya bisa mulai mencicil utang saya ke anak-anak. Saya bahkan mulai mengisi lagi rekening khusus tabungan saya. Tentu saja disisihkan untuk modal beli bahan-bahan kue.

Saya juga melakukan hal yang membuat suami saya sedih. Menjual mahar saya. Harusnya saya lakukan sejak awal tahun kemarin, sebagai modal bakul kue. Hanya saja, faktor tidak enak sama mertua dan lain-lain, saya enggan menjualnya walau saya juga tidak bisa menggunakannya. Dan ketika pertengahan tahun lalu, mertua saya satu-satunya meninggal dunia dan suami melihat tagihan kartu kredit saya, dengan berat hati dia relakan. Toh, tidak semua. Daripada mubazir, ga bisa dipakai. Kata saya padanya. Hasilnya, bisa untuk membayar 1/3 tagihan lagi. Dan dengan menjual gelang dan anting mahar, saya juga bisa akhirnya mengenakan anting emas yang bisa muat di kuping saya dan tetap berjudul 'mahar'.

Lalu ada berita buruk yang sebenarnya berita bagus. Asisten rumah tangga saya pindah kerja. Lebih repot memang tapi mengurangi pos pengeluaran. Hehehe ...

Beberapa hari lalu saya dapat kabar gembira. Saya menjadi salah satu pemenang resensi buku '12 Menit' dan berhak atas hadiah uang. I feel like ... Oh, my God. In time like this ...


Tagihan itu masih ada, tetapi saya optimis dapat melunasinya dalam waktu dekat dan tetap menabung. Toh, bukan kemampuan membayarnya yang penting, melainkan kemampuan tidak menggunakan kartu kredit sama sekali yang sangat diuji. Saya harus mulai melupakan ada selipan kartu kredit di dompet saya.

Let's make money and grow it bigger =D