Tampilkan postingan dengan label singapore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label singapore. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 November 2014

My Story: Sendirian, Semalam, di Singapura #2


THE CONCERT, BABY ....

Ketika Ditta datang, VIP mode on. Baru deh kelakuan diatur sesuai pengunjung konser hahaha ... Ngantri di stan samsung, rela dengerin tiga info produk demi pin-pin member YG Family. Berfoto dengan latar poster konser itu hingga akhirnya mengantri masuk.

Ketika mengantri, saya baru sadar. Saya sudah kadung beli banyak snack untuk sekadar oleh-oleh buat anak-anak, karena tahu ga bakal bisa ke mana-mana. Lha, di konser kan ga boleh bawa makanan. Akhirnya saya bongkar tas saya, masukkan kantung besar snak di bagian dasar lalu sumpal dengan baju n bantal travelingku. Begitu dibuka, keamanannya dah males lihat bantal pink itu hehehe...

Sayang saya dan Ditta juga satu temannya berbeda lokasi nonton. Saat terpisah, saya menyempatkan selfie di salah satu balkon yang menghadap panggung. Saya agak malu-malu ketika ada yang menawarkan diri membantu selfie padahal bukan panitia juga. Kasihan kali lihat betapa jadulnya niy hp ga bisa mirror hehehe ....

Sebenarnya dari posisi, mungkin posisi saya paling sial. Lantai tiga di baris terakhir. Itu ujung banget. Dibanding dua tahun lalu, posisi sekarang itu berpuluh-puluh kali jauhnya. Tapi itulah yang terbaik, terlebih waktu itu saya belum tahu sedang hamil, kan. Jadi ini aman juga nyaman. Saat konser dimulai saya menggabungkan pandangan 4 meter dua tahun yang lalu dengan euforia yang saya rasakan di balkon teratas itu.

Serius deh, dua tahun lalu itu saya kaya salah mau joged karena semua orang berebut merekam. Di atas sana, puas-puasin deh joged, istirahat pada grup-grup atau lagu tertentu-inget perut, tapi ga pernah diam kalau Bigbang muncul. Kebetulan saya punya tetangga yang keren. Orang di sebelah saya juga ga berhenti joged dan turut bernyanyi sekeras mungkin. Dia keren banget.

Dan selagi konser itu saya sempat-sempatnya garuk-garuk kepala saat beristirahat dan melihat penonton di depan saya merekam konser tersebut. Itu mah biasa. Yang ga biasa adalah dia langsung share ke youtube. Oh my God, secepat apaan siy internet di sini? Gue unggah video nyanyi di warnet aja kudu tunggu 15 menit. Lha dia dari handphone! Pantaslah banyak yang sutris pas balik ke Jakarta kalau habis tinggal di luar negeri.

Konser itu sendiri? What can i say? Bisa lihat Bigbang plus 2Ne1 plus Psy plus Epic High plus Winner itu dah menu banyak buat saya. Pokoknya closure yang tepatlah. Sesuai judulnya, Family Concert, saya terharu dengan cara setiap grup berkolaborasi atau menyanyikan single grup lain tanpa kehilangan greget. 2Ne1 ga Cuma bikin yang cowo-cowo keringetan tapi juga penonton cewe. Energik binti seksi. Angkat jempol buat Psy yang walau hanya dua lagu yang kita kenal, dia tetap cool n confident, bahkan aksi para dancernya yang paling keren. Inilah namanya entertainer.  Tentu saja saya paling ngakak ketika Bigbang nyaris memarodikan lagu 2Ne1. Serius tapi ga serius. Suara TOP ga ada sumbang-sumbangnya padahal I mean itu TOP kok ya joged gemulai gitu tapi ga asal-asalan. Formasi Bigbang ini sebenarnya ga lengkap karena di malam seharusnya pergi ke Singapura, Seungri mengalami kecelakaan mobil usai menghadiri acara. Inilah risiko jadwal padat n ga pakai sopir. Ada-ada aja dah, untung bukan bias gue. Karena mepet waktunya, jadi bagian nyanyinya digantikan bergantian oleh Taeyang dan Daesung, atau kadang dibiarkan saja. Saya pikir ga ada bedanya tanpa Seungri, tapi ternyata  berasa juga. Aih jadi kasihan, mana jadi tersangka lagi.

Walau Cuma dari bigscreen, I was happy.  Tiga jam konser ga beranjak sama sekali saya dari bangku. Dan yang lebih menyenangkan lagi adalah ketika ada teman untuk berbagi cerita konser yang terjadi barusan. Konser pertama dan kedua saling melengkapi menurutku. Dan saya bersyukur bisa mengalaminya. walau kalau ditengok dari usia rada telat hehehe.

Ada untungnya juga saya bareng Ditta, karena jadi punya pengalaman nungguin para performer itu keluar dari gedung di pintu belakang. Maklum dia stalker. Cuma karena bawa buntut jadi rada ga sukses stalkingnya hehehe maaaaaf ....  Awalnya grup Winner yang lewat, trus 2Ne1, baru kemudian Bigbang. Kelihatan sih, yang senior diantarnya pakai sedan mewah. Yang junior pakai van. Tapi vannya juga mewah sih. Ada sedih tapi gimana gitu ketika melambaikan tangan pada mobil yang diisi TOP. Pengennya sih lari-lari gebukin mobilnya sambil teriak, “this is your baby!!!” ah tapi ga usahlah ya. Ntar yang di rumah gimana dong?


MALAM DI SINGAPURA

Saya memang akhirnya memutuskan mengikuti ke mana Ditta dan temannya pergi karena saya batal bertemu teman SMU saya yang memang menetap di Singapura. Awalnya ingin mampir ke Gardens by the Bay di dekat Marina Bay tapi ketika mampir di Clarke Quay untuk mengambil tas teman-teman saya itu di sebuah penginapan, kami menghabiskan waktu lebih lama karena mereka lupa jalannya, hahahaha ...

Senangnya jadi blogger adalah ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai rencana otaknya langsung berteriak, yes another story in my blog! Jadi walau langkah saya lebih lambat karena lelah dan lapar dan kaki yang sakit karena sepatu yang salah beli, saya menikmati saja berjalan-jalan di malam Singapura. Kadang teringat daerah Thamrin-Sarinah, lalu teringat daerah Mangga Dua-Kemayoran. Malah walau tertinggal jauh, saya sempatkan berhenti untuk mengambil gambar, setelah itu segera berlari karena angka di lampu merah kian menipis.

Akhirnya ketemuu ... dan kami ikhlaskan tidak ke taman. Langsung ke bandara aja. MRT masih penuh orang saat itu. Makanya tidak disangka-sangka ketika berhenti di Tanah Merah untuk kemudian transit, eh keretanya sudah ga ada. Jiah, dua stasiun lagi. Ya suds, naik taksi. Lumayan dapat pengalaman naik taksi. Taksinya bukan taksi fancy, kaya udah lama, kalau di Jakarta mah dah kena blacklist. Dengan hiasan-hiasan patung di dashboard dan supir dengan rambut putih berkuncir, kami aman tiba di Changi.

Tiba di Changi belum bisa melakukan imigrasi. Tutup. Jadi kami segera mencari tempat makan. Sudah jam setengah satu dan saya belum makan dari jam 3, kebayang laparnya. Ngejogrok lah kami di McD. Makan paket burger seharga SGD5 dan belum sempat otak memberi sinyal kenyang, saya sudah ngantuk luar biasa.

Setelah beberapa lama di sana, bosan melihat para wajib militer berkeliaran bawa senapan gede-gede yang konon bertugas membangunkan orang-orang yang bobok di bangku, kami agak masuk ke dalam, mendekat ke bagian tiket. Rupanya di dalam sana banyak juga yang menginap dan sudah meringkuk di balik bangku-bangku panjang dengan selimut tebal. Mereka lebih pengalaman kayanya.

Saya ga pede kalau harus ke balik bangku, jadi yah di atas bangku panjang itu saja saya sekadar mengistirahatkan mata hingga pukul 4. Saya baru tahu loket tiket dibuka 4 jam sebelum penerbangan. Begitu dapat tiket baru deh bisa merasakan fasilitas yang lebih manusiawi. Pijat gratis sama Lee Min Ho, eh ga deng, Cuma mesin bergambar Lee Min Ho, sarapan di Kleeney dan mengecharge handphone. Kami sudah selangkah lagi menuju pulang. Sedikit demi sedikit menggeser folder memori konser ini ke suatu tempat istimewa yang mungkin akan sangat jarang dibuka.


PULAAANG

Yak saya pulang naik tigerair. Perjalanan pulang terasa singkat. Tak sesingkat kala menunggu Damri arah pasar minggu. Uang Singapura saya tersisa SGD10. Hei I made it! Cuma keluarin SGD50! Wuhuuu ...

Dan pulang dengan menebak tepat bahwa akan menemukan dua bocah yang lagi nonton di jam hampir makan siang tapi belum pada mandi plus cucian piring yang tak berubah tingginya di bak cucian hehehe ... Yuk, marii ....


PS: thank you suami, thank you yaw-yaw, n thank you Ditta :D

My Story: Sendirian, Semalam di Singapura #1


Seperti yang sudah diceritakan di postingan sebelumnya, saya sudah ada rencana menonton konser di Singapura pada 13 September lalu, lebih tepatnya YG Family in Concert. Yoi, perusahaan agensinya Bigbang, 2Ne1, Winner, Akmo, dll. Saya sih tentu saja ingin melihat TOP Bigbang (hohohoh....).

Ini sebenarnya rencana saya dalam rangka menuntaskan fantasi saya terhadap si Choi Seung Hyun alias TOP Bigbang. Sejak tahun lalu sudah berencana ingin menonton konsernya di luar Indonesia. KL adalah rencana awalnya, karena saya ingin bawa anak-anak ke Legoland Johor Baru. Sudah berhitung tetapi gagal menabung. Hingga kemudian terbitlah berita bahwa YG entertainment akan melakukan konser gabungan di Singapura. Ini seperti menepuk 2-3 nyamuk dalam satu tepukan!

Hari itu bulan puasa, iseng saya menghubungi salah satu rekan kerja junior saya di eks kantor. Saya tahu dia termasuk yang korean freak di mata saya. Gayung bersambut. Dan ketika saya kesulitan membeli tiket secara online, dialah yang membantu saya. Bukan tiket dengan harga paling mahal, dua tahun yang lalu saya sudah pernah melihat TOP dari pinggir panggung, jadi mundur sedikit ga apa-apalah, kudu realistis dengan bujet soalnya.

Lucunya, awalnya saya berniat tidak mau memberitahu suami terkait mau nonton konser di Singapura ini. Toh, saya hanya izin semalam, ga pake nginep di hotel. Bukannya ga mau bawa anak-anak, ga mampu bayarnya cuy.

Aih tapi rupanya, kartu kredit saya tidak bisa digunakan karena kodenya dikirim ke nomor handphone saya yang lama. Dan dalam keadaan terburu-buru juga kebelet, saya pun meminjam kartu kredit suami. Ketahuan deeeeeh ....

Walau kabar kehamilan ini agak bikin garuk-garuk kepala terutama karena hanya detik-detik menjelang keberangkatan, saya rasa keputusan ini pun dirasa paling tepat, karena saya tidak akan bisa menengok konser apa pun for the next 2 years! So i guess, saya harus benar-benar menikmatinya.


PERSIAPAN

Oke karena saya hanya sendiri berangkatnya, saya berencana hanya pergi dengan satu tas ransel. Hei, kapan lagi bawa ransel yang isinya bukan baju anak-anak? Saya tidak pergi bareng dengan teman saya yang disebutkan sebelumnya, dia pergi lebih dulu. Saya karena status ibu-ibu beranak dua harus menggunakan jadwal paling lambat pergi, paling awal kembali. Hehehe.

Dan jika terlihat dari paragraf sebelumnya, bisa dipastikan keuangan saya sebenarnya lagi ga bagus. Alias pas-pasan. Toh, saya tutup mata ketika memasukkan uang SGD60 ke dompet. Ya, saya hanya bawa segitu ke negara yang termasuk sebagai negara paling mihil di dunia. SGD10 saya minta dalam bentuk recehan alias SGD2, untuk biaya transportasi. Tapi tenang, suami secara sepihak membekali saya uang sejuta pas. Untuk jaga-jaga. “Daripada kamu nanti tiba-tiba telepon nangis-nangis karena ga punya uang.”

Rasanya ingin saya getok dia, tapi yah ada benarnya juga hehehe....

BERANGKAAAT

Pesawat saya berangkat pukul 9 kurang, tapi saya putuskan keluar dari rumah usai subuh. Menghindari anak-anak bangun yang kemungkinan akan menimbulkan drama. Suami sudah memanggil keponakannya sebagai bala bantuan. Kaos bergambar dua kartu King Queen dengan wajah saya dan TOP pun sudah diprint dan dipakai. (thanks to my big bro yang bersedia melakukan digitalisasinya walau sang istri lagi sakit).


Hari masih gelap begitu keluar Kalibata City. Saya menghentikan mikrolet yang berjalan cepat menuju lampu merah dan di sanalah saya menunggu damri. Saya baru tahu bahwa di jam segitu pun ada orang yang menawarkan tumpangan, yah ga tahu deh ini tawaran baik atau tidak. Toh saya hanya butuh damri. Sekitar 10 menit kemudian, damri itu pun datang dan membawa saya tiba di Soetta terminal 3 dalam waktu 45 menit.

Bandara. Rasanya saya tidak bisa dan tidak boleh berputar haluan. Saya bukan orang yang sering  menggunakan pesawat. Jika dihitung-hitung, saya baru menggunakan pesawat selama 4 kali dalam hidup saya. Jadi saya kurang pede dengan sistematisasi bandara. Maklum, bisa dikatakan saya jarang sekali bepergian jauh sendiri. Ke luar kota yang saya jalani sendiri adalah ke Bandung, itu pun selalu dijemput teman di stasiun. Saya selalu nyasar. Saya mudah melupakan sesuatu. You know, clumsy little sister. Ini seperti pengalaman yang tertulis di buku 30 Paspor (dan kebetulan saya mengedit seri keduanya hehehe). After this, saya benar-benar ingin mengajarkan anak-anak saya untuk berani dan pintar saat bepergian sendiri sedini mungkin.

Oke, hanya ada saya dan print out tiket. Use your eyes and ears, Ati. Saya mengantri tiket, imigrasi dan kemudian akhirnya duduk di ruang tunggu. Fiuuuh .... Saya naik Lion Air saat itu. Usai mendapat kursi yang persis di samping jendela (alhamdulillah), saya pun menunggu. Peringatan untuk mengenakan sabuk karena pesawat akan terbang sudah terdengar. Saya keluarkan sebatang kumpulan sugus untuk menghindari sakit kuping saat pesawat lepas landas dan mendarat. Dan rupanya itu pilihan yang salah. Harusnya saya beli permen karet saja. Untuk lepas landas pun pesawat mengantri, saya sudah kadung mengunyah sugus yang cepat sekali larut di mulut. Entah berapa sugus yang akhirnya saya makan hingga pesawat benar-benar lepas landas.

Sebenarnya saya tidak berhenti khawatir hingga kemudian  saya melihat catatan yang dibuka seorang bocah yang duduk di samping saya. Singapura adalah negara yang disiplin dan teratur. Okehlah, teratur, setidaknya ketika saya tersesat, saya tidak tiba-tiba berada di negeri antah berantah. Toh, saya ada teman yang hendak dikunjungi di Singapura dan tentu my partner in crime si sesama korean freak.


SINGAPURA, AKU DATANG

Yeah, like who care?

Dipijak juga bandara Changi ini. Saya tiba sekitar pukul 11 waktu Singapura. Ada sedikit sedih ketika turun dan melihat penumpang lain berfoto-foto dengan teman atau keluarga, sedangkan saya? Sepertinya terpaksa selfie, saya butuh dokumentasi untuk laporan saya hehehe....

Tentu saja tujuan utama adalah kloset. Mumpung masih di tempat yang jelas segala sesuatunya, mending dituntaskan saja di sini. Keluar dari restroom, senyum saya merekah lebar melihat deretan komputer. Oh yes baby, free internet. Ah, noraklah saya. Ya, gimana dong, pulsa saya hanya diisi Rp100000,- dan akan berada dalam flight mode hingga saya kembali ke Jakarta. Free internet adalah bentuk penghematan. Nah biar ga terlalu kelihatan ngiler, saya mampir ke sampingnya, ada rak brosur bandara. Bandara Changi kan memang terkenal memiliki hiburan yang lebih lengkap ketimbang Soetta, jadi yah pantaslah ada buklet yang menerangkan berbagai tempat kebanggan Changi. Saya duduk manis di sebuah bangku panjang sambil lama memerhatikan buklet tersebut. Barulah setelah itu, saya berjalan sok cool ke deretan komputer itu.

Halah, siapa juga yang liatin sih?

Komputer itu bisa digunakan selama 20 menit secara gratis, setelah itu mati dengan sendirinya. Kok bisa? Bisa dong, pasang kompi tersebut di meja dengan ukuran tinggi yang aneh dan tanpa bangku, maka Anda tidak akan mau berlama-lama di kompi itu hehehe ....

Saya gunakan saat itu untuk menghubungi teman saya, sekadar mengkonfirmasi apakah kami jadi ketemuan. Mengingat teman saya itu juga ada acara di tempat yang jauh dan konser yang saya datangi usai cukup larut. Mengirim pesan pada si korean freak, aih kusebut saja namanya, Ditta. Pegel pula awak nih. Pasang status norak yang menunjukkan lokasi. Dan sebenarnya itu cara saya mengatakan pada orang-orang yang memikirkan saya bahwa saya baik-baik saja.

Setelah itu, saya menyempatkan diri berkeliling Changi. Sekadar meluruskan kaki sekaligus pemanasan sebelum melakukan banyak aktivitas jalan kaki di Singapura. Yah overall, kaya mall lah Changi ini. Pemandangan luarnya biasa saja, cenderung gersang, tapi mereka membuat gemerlap di dalam, yah bolehlah. Ini namanya meningkatkan kualitas hidup secara mandiri.

Saya sebenarnya tertarik dengan tur gratis keliling Singapura selama dua jam yang ditawarkan Changi. Namun, sayang hanya berlaku bagi yang melakukan transit di Singapura selama 5 jam. 

Hanya berjalan-jalan sebentar tapi waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Saya setidaknya harus sudah ada di venue di Singapore Indoor Stadium pukul 4. Jadi, kalau mau jalan-jalan, kayanya harus keluar segera dari bandara.  Lalu saya berkeliling lagi, bukannya apa-apa, saya tidak tahu ke mana jalan keluarnya. *tepok jidat

Yah sudahlah, tanya saja.

FYI, saya itu rada parno sama segala bentuk pegawai semacam SPG, SPB, pegawai informasi, customer service, dan semacamnya. But i have to ask, kalau tidak mau ngider-ngider ga jelas. Yah sudah, saya tanya, “How do I get out of here?” oh Amy, tidak adakah kalimat berbahasa Inggris yang lebih baik dari itu?



Antrian di imigrasi cukup panjang dan lama. Saya lama menghabiskan waktu berdiri sambil melihat peta promo tempat wisata di Singapura, yang tadinya mau ke taman ini itu akhirnya fokus ke SIS saja mengingat sudah lama sekali saya mengantri dan ini sudah jam setengah 1. Perut mulai lapar. Bumil harus sering ngemil tapi diingatkan teman bahwa tidak boleh makan sembarangan di Singapura. Hadooooh.

Akhirnya saya tiba di hadapan petugas imigrasi. Cewe keturunan India. Baru ganti shift jadi segar banget. Sesegar pertanyaan tegasnya soal alasan saya tidak menuliskan alamat di Singapura. Yah, saya bilang saja, “konsernya baru selesai jam 10 malem kali neng. Pesawat berangkat jam 8. Ngapain juga bobok di hotel.” Hehehe, ga gitu juga sih ngomongnya. Lalu dia minta bukti tiket konser. Syukur ga lupa di print tuh tiket. Akhirnya saya boleh pergi asal meninggalkan nomor handphone, dan kayanya saya salah menuliskan nomor :p


DEBUT di MRT

Perlu bertanya pada satu petugas informasi lagi untuk akhirnya menemukan stasiun MRT yang memang terhubung langsung dengan bandara. Ini adalah sesuatu yang sangat praktis. Saya yang sudah girang ada transjakarta yang berhenti di Ancol dekat Dufan ini tentu kaya ketemu sebuah solusi paling cihuy ketika ketemu MRT. Apalagi saya menghabiskan banyak tahun menjadi anak kereta.

Namun yang pertama kali harus saya lakukan adalah, beli tiket. Saya sudah diberitahu soal mesin tiket, nah masalahnya saya tidak tahu cara menggunakan mesin tersebut. Mana tangan gue bau. Nanti saya digalakin pula sama orang Singapura yang dalam otak saya cukup galak jika menyebabkan antrian panjang.

Jadi saya lihat satu pasangan tengah mencoba menggunakan mesin tersebut. Kayanya mereka juga bingung. Ah mumpung sepi, saya coba mesin di sebelahnya. Daaan saya bengong. Dari pantulan mesin itu saya melihat ada yang mengantri di belakang saya, saya pun menyingkir dan membiarkan lelaki berbackpacker itu menggunakannya terlebih dahulu, sedangkan saya mengamati dari samping.

Tentulah lelaki ini sadar saya memerhatikannya dan usai dia dapatkan tiket, dia tanya pada saya apakah saya tahu cara menggunakan mesin tersebut dalam bahasa melayu. Saya menggeleng. Lalu dia pun menjelaskan. Which was pretty easy. Layar awal tekan pilihan “tiket regular”, lalu akan muncul rute MRT. Pilih lokasi, terlihat digit nominal di kiri atas, masukkan uang, lalu keluarlah tiket beserta kembalian.
lelaki bercelana pendek paling kanan adalah orang yang membantuku menggunakan mesin tiket MRT

Saya baru tahu belakangan ada cara yang lebih mudah lainnya dari Ditta. Dia pakai flazz card kalau ga salah. Jadi tinggal tap dan tap, ga perlu antri mesin tiket. Lain lah kalau sudah pengalaman.

Berbekal aplikasi MRT di handphone dan peta kecil di tangan, saya naik MRT menuju station Stadium.

Use your eyes and ears. Terngiang-ngiang di kuping saya, hingga kemudian saya sadar terlalu banyak menggunakan eyes ketimbang ears ketika MRT yang berhenti di Tanah Merah melaju mundur, kembali ke stasiun Expo. Kupingnya, Ti. Udah ada yang ngomong nih kereta Cuma sampe Tanah Merah, habis itu kudu transit.

Yah sudah, naik dari Expo, bisa juga kok. Yah lumayan lihat langit Singapura lagi, namanya juga MRT, sebagian besar di bawah tanah dan tertutup, ga ada pemandangan.  Cuma di Expo kita bisa lihat deretan apartemen macam Kalibata City Cuma dengan jendela lebih besar, tingkat lebih rendah, dan ga ada mobil yang parkir di bawahnya. Ah teringat mumetnya parkiran di Kalibata City. Orang sini jarang punya mobil kali ya?

Di MRT itu saya jadi punya kesempatan melihat bermacam-macam orang. Melihat aturan-aturan yang berbeda dengan di Jakarta. Bayangin, denda makan di tempat yang dilarang itu SGD5000, beda berapa nol tuh sama SGD50 yang saya selip di dompet?

Nyengir sendiri melihat oma-oma masuk MRT, lalu berdiri dan ... ngapain coba? Nonton film di smartphone-nya. Dia ga pake tablet segede gambreng loh ya. Smartphone-nya ga beda jauh dari milik saya. Kaya sinetron dokter-dokter gitu.


TIBA DI TKP

Station Stadium. Akhirnya sampai juga. Berpapasan juga dengan alay-alay berkaos beragam member YG Entertainment. Yak emak hamil di tengah alay Singapura (dan ternyata banyak juga yang dari Indonesia hehehe ... ga heran yak). Menurut blog review yang saya kunjungi sebelum ke Singapura, jarak stasiun dengan stadium itu 30 menit jalan kaki. Tapi dalam sudut pandang saya, begitu keluar stasiun, itulah stadiumnya. Haiyah ini mah deket. Langsung terhubung dengan Sports Centernya. Semacam Senayan kalau di Jakarta.

Tentu saja kali ini yang saya cari adalah tempat makan. Setelah memastikan di mana Singapore Indoor Stadium, saya menoleh ke arah seberangnya, ada mal. Yes, pasti ada tempat makan. Soalnya ga keliatan ada gerobak-gerobak penjual makanan. Padahal kan ada konser di sini.

Mal itu sendiri ga besar sih menurutku, hanya tiga tingkat tetapi memang masih mengusung tema sporty. Jadi di sana ada indoor wall climbing dan di lantai teratas ada arena main air. Saya sih mencari food court yang ternyata pendek saja. Kirain bohongan.

Dan seperti yang saya alami di Semarang, saya ’terpaksa’ cari yang halal. Kebanyakan konter pasti ada menu babinya, jadilah saya pilih yang hanya menyediakan makanan melayu. Nasi dengan ayam kuah kuning. Dan apa nama tempatnya? “Warung Padang”. Haiyah, emang ga bakat wisata kuliner gue. Menu seharga SGD4 sajah. Lumayan.

Minumnya belum beli. Saya lihat ada konter jus, tetapi konter jus ini terlihat lebih dinamis ketimbang di Jakarta. Bisa jadi karena di Jakarta kebanyakan konter penjual makanan pun menjual minuman. Saya pilih tropical juice seharga SGD4, yang disuguhkan dalam gelas toples besar. Secara kuantitas mungkin tidak akan cukup hingga konser usai nanti, but I need these vitamin C, ada nanas, jeruk, dan apalagi ya ... oh mangga. Rasanya segar di bawah terik matahari.

Usai makan minum yang cepat itu, waktu menunjukkan pukul 3. Mengecek posisi Ditta via FB (bahkan sampai sekarang aku ga tahu nomor hp-nya), lalu berjalan melihat sekitar. Sebentar saja memerhatikan dari balkon mal, sekelompok orang berlatih voli pantai sambil dibelakangi danau. Sambil mikir, kenapa di Senayan ga ada tempat buat voli pantai ya? Sepertinya luasnya ga kalah, yah mungkin bisa saja saya salah.

Nah dasar ibu-ibu, saya akhirnya lebih tertarik mendekat ke mana banyak anak-anak berkumpul. Sedang ada acara family event gitu di sana, jadi ada beberapa atraksi tambahan. Saya duduk di antara mal dan stadium hingga Ditta datang.



bersambung ....