Tampilkan postingan dengan label hamil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hamil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 November 2015

RABUku: Mamomics part 2 – 9 Bulan Menanti Keajaiban


Ini adalah bentuk bayar utang setelah sebelumnya membuat review Papomics karena ada abang saya sebagai salah satu kontributornya, sedangkan di saat yang hampir bersamaan, Mamomics 2 pun terbit dan ada nama-nama yang merupakan sahabat abang saya dalam dunia perkomikan lagi-lagi menjadi kontributornya.


Dari dua seri Mamomics yang terpajang di rak toko buku, saya pilih yang kedua karena tema yang lebih spesifik juga terbitan yang lebih baru daaan saya yang juga baru lahiran anak ketiga #uhuk

Cerita kehamilan dan melahirkan selalu luar biasa bahkan dalam keadaan biasa-biasa saja. Namanya juga berpartisipasi langsung dalam proses penciptaan, itu kan sesuatu yang luar biasa, sehingga jika badan pun bereaksi luar biasa, itu wajar. Sebagai ibu beranak tiga, rasanya malu banget mau membanggakan diri. I mean, hamil dan melahirkan itu kan bukan prestasi. Walau perasaannya memang fantastis. Membaca cerita dari empat ibu dan satu lajang yang keibu-ibuan ini sebenarnya lebih menekankan betapa kita harus saling berempati dan bertoleransi setidaknya antarsesama perempuan. Jadi, ini bukan ajang pamer siapa yang paling menderita atau siapa yang paling gampang. Semuanya ada porsinya.

Setidaknya itu bagi saya pribadi.

Saat hamil anak ketiga, saya rasanya payah banget karena keluhan fisik yang tak kunjung usai. Namun, ketika baca cerita kehamilan Mba Harley yang ga hanya mual-mual dkk tapi juga sebentar-sebentar pingsan, i guess semua ada kesulitan dan kemudahan. Untuk mba Harley yang suka pingsang, senantiasa ada suami yang baik hati dan sigap menangkap. (eh iya tak?). Coba kalau saya yang begitu? Kebayang dong pingsan di antara dua bocah pecicilan di apartemen. >.< btw, abang saya jadi cameo di komiknya Bu Harley ini hihihiy ... telat banget ya.

Ketika saya agak sombong bercerita pergi ke RS naik ojek sendiri jelang melahirkan, rasanya saya mau edit ucapan saya ketika membaca kisah Dydy yang tidak hanya naik kereta tapi juga jalan kaki menuju RS sambil mules dan melahirkan sendiri karena sang suami menemani anak pertama yang sedang sakit. Maklum, tengah merantau di negeri orang. Kalau bagi sebagian orang, melahirkan ditemani suami itu rasanya ingin mencakar-cakar mukanya, bagi saya melahirkan ditemani suami itu ekstra kekuatan—ini kata seorang ibu di bus ketika saya hamil anak pertama. Jadi kalau ada yang melahirkan sendirian itu ...  hadeeeuh ...

Jika saya merasa beraaat hamil sambil ngurus dua balita, nah bayangkan ketika ada dua bocah di dalam perut seperti pengalaman kehamilan kedua mba Dyotami ... ga mau bayangin ah, linu perutkuuuh. Hamilnya pe er. Melahirkannya pe er. Ngurusnya apalagiiiih ....

Dan kalau menyimak komik hasil ga sengaja dengar dari ruang bersalin di sebelah Mba Ani usai melahirkan dengan segala kehebohan saat mengedan, lagi-lagi saya berucap alhamdulillah Cuma perlu satu kali buka jalan selebihnya menggelosor dengan sendirinya. Mulas? Ya iyalah. Mau hanya setengah jam seperti saya atau semalaman, yang namanya mulas mau melahirkan ya sakit.

Setelah melahirkan beberapa kali, saya suka ingat-ingat dulu ketika masih lajang apakah saya sudah sebijak Neng  Lia Hartati dalam memandang kehamilan dan ibu hamil secara umum? Ah, mungkin belum. Waktu itu saya belum banyak bergaul sama ibu-ibu sih, jadi bawaannya ingin komentar, “ah, ibu hamil lemes itu Cuma perasaan aja” dan bla bla bla omong kosong penuh kesombongan. Yak, sampai saya ketemu  hamil payah tanpa bisa saya hindari.

Akhir kata saya tak habis terkagum-kagum dengan ibu-ibu pengomik ini. Nemu di mana sih waktu ekstranya? Ngiri euy bisa gambar bagus ^^ Ada yang sederhana, ada yang detail, semuanya istimewa .... selanjutnya kira-kira temanya apa ya?

(eh beli dulu yang seri pertama hehehe ...)


Minggu, 24 Mei 2015

Antara Saya dan Kate Middleton

Ketika dinyatakan positif hamil, rasanya gemes sama suami karena kok bisa-bisanya 'lolos' tapi di lain pihak ya mau diapain lagi, alhamdulillah sajalah. Seperti orang sombong saja nolak-nolak hamil, wong sama suami sendiri. Walau kadang saya curi-curi bertanya pada Allah, "emang saya perlu belajar apalagi sih? Sampai dikasih hamil lagi ..." eh rupanya manusia itu memang tidak tahu apa-apa, karena kehamilan ini berbeda sama sekali dengan dua kehamilan sebelumnya. Itu artinya, there are lots more to learn.

Eh, ternyata, ketika saya dinyatakan hamil, pada saat itu pula Kate Middleton diisukan hamil anak kedua. Maklum, Pangeran William adalah idola saya kala kecil. Kalau ada yang ingat foto dia memberi tanda tangan pertama, saya jadi tahu kalau dia kidal, just like me! Nah jadi deh saya senantiasa mengikuti perkembangan kehamilan istri Pangeran William itu. Well, this is my 3rd #pregnancyStory ....



1.  Hamil Rewel
Kalau Kate Middleton mengalami hyperemesis, saya juga kedapatan hamil rewel.

Dua kali hamil, saya tidak pernah rewel. Mau yang masih kerja di kantor sampai yang sudah resign. Semuanya sehat-sehat saja. Trimester pertama bisa makan nasi 8 kali dengan menu lengkap. Eh dilalah hamil ketiga malah terserang pusing, mual, dan lemas berkepanjangan. Ketika dikonsultasikan dengan dokter, katanya bisa jadi ada hubungannya dengan kondisi mengurus dua bocah. Belakangan saya tahu bedanya dengan kedua hamil sebelumnya, bahwa inilah kehamilan pertama ketika saya benar-benar sendiri, tidak di rumah orangtua, dari A sampai Z.
Sate padang dan air dingin adalah senjata saya yang paling ampuh dan paling nyaman masuk di perut. Kondisi ini ada positifnya juga. Suami jadi mau bantuin cuci piring. Hmmm .. kalau Pangeran William ngapain, ya? Hehehe ....


2. Jalan-jalan Terus
Usai trimester pertama dengan hyperemesis, Kate Middleton mulai menjalankan aktivitasnya secara normal, bahkan di h-1 kelahirannya masih menyetir sendiri. Saya sih ga perlu nunggu trimester kedua, tapi memang hingga menjelang lahiran pun, saya masih ke sana ke mari walau jaraknya semakin dekat dengan lokasi rumah atau rumah sakit.

Agak berkebalikan dengan kondisi di atas, saya justru banyak bepergian jauh saat hamil. Pada trimester pertama, saya sudah ke Semarang untuk pernikahan saudara naik kereta. Nonton konser Bigbang alias boyband Korea di Singapura pulang pergi. Pada trimester kedua sudah ke Bandung untuk menghadiri pernikahan rekan kerja suami. Mekarsari di Bogor buat nyenengin anak-anak. Dan belum termasuk jalan-jalan di ibukota yang outdoor di trimester tiga. Jadilah saya punya banyak pe-er untuk buat review di blog.

Lucunya, ketika sudah melahirkan pun dalam hitungan minggu, si new baby ini juga sudah jalan-jalan ke luar kota ... Keterusan kayanya. Kalau baby Charlotte mah enak ya, begitu lahir sudah di Inggris hehehe ....


3. Jelang Kelahiran
HPL kami rada mirip, jika Kate HPLnya tanggal 25 April, sedangkan saya 26 April. Namun, apa lacur, saya melahirkan pada 18 April sedangkan Kate pada 2 Mei. Ada yang maju satu minggu, ada yang mundur satu minggu.

Kalau proses melahirkan Kate ditunggu sejuta umat, saya yah mungkin 10 persen contact FB saya. Secara kerjaan saya di rumah sakit adalah update status hehehe .... Saya yang lahiran, saya pula wartawannya hahahah .... Oh, dan melibatkan orang-orang di luar negeri, berhubung kedua orangtua saya sedang di Inggris menengok keluarga abang saya yang menetap di sana. Nah, masih kena bau-bau Inggris, kan?

Dan akhirnya .... both of us delivered a baby girl! Yang menarik adalah kami berdua melahirkan dibantu oleh bidan. Kalau Kate memang sengaja minta bidan (tapi bidan kepala rumah sakit sana ya ... ) karena ingin melahirkan senormal mungkin, kalau saya ya karena bayinya keburu keluar ketika dokternya masih di perjalanan. Maklum ya kalau di sini dokter masih lebih populer ketimbang bidan.


4. Flawless Look
Keesokan pagi setelah melahirkan, kami berdua sudah pulang ke rumah masing-masing. Satu dunia heboh melihat tampilan Kate Middleton yang flawless, sampai-sampai dibilang ga benar-benar hamil. Padahal proses melahirkan normal ya memang begitu efeknya, legowoooo ....

Saya sendiri baru belakangan melihat foto saya ketika hendak pulang dari rumah sakit, yang ternyata yaaaah ga beda jauh lah sama Kate Middleton.


5. Pemilihan Nama
Kayanya saya rada cocok deh sama Kate Middleton sampai-sampai penamaan bayinya pun mirip. Anak-anak saya memang diberi nama dengan struktur kerajaan, yaitu Ratu. Menteri, dan Jenderal. Oleh karena anak pertama saya perempuan, yang kedua laki-laki, dan ketiga perempuan lagi. Nah, jika Kate melahirkan seorang Princess, saya kebagian jatah melahirkan seorang jenderal perempuan.

Nama bayi kedua Kate adalah Charlotte Diana Elizabeth, penggabungan nama wanita sang ayah mertua (Charles), nama mendiang ibu mertua (Diana), dan nama nenek sekaligus ratunya. SEdangkan anak ketiga saya adalah Meutia Kamal Baiduri yang merupakan penggabungan nama buyut saya (Cut Nyak Meutia) dan nama datuk saya (Kamal). Nah, mirip kan.


6. No Nanny
Seperti anaknya yang pertama, Kate memutuskan tidak menggunakan nanny untuk bayinya (ketika sudah agak besar sih akhirnya pakai nanny juga). Lha sama dooong. Saya boro-boro nanny, ART saja tidak punya hahaha ... jadi saya ragu ke-flawless-an saya akan bertahan lama (LOL). Ah, sudahlah, yang penting happy.

Mungkin suatu hari nanti, kami bisa bertemu dan saya akan ceritakan pada Kate bahwa kami punya banyak kesamaan hehehe ....



Tulisan ini diikutkan dalam lomba #pregnancyStory bersama NUK

Minggu, 05 April 2015

hoMYNGGU: (Review Sekolah) Multiple Intelligence di Gen Cerdik

Akhirnya si Amy menyerah juga. Ga sanggup deh lagi hamil begini tapi juga harus ngehomeschooling anak-anak. Dan pencarian tempat berkegiatan untuk Malika  dan Safir pun dimulai. Awalnya cari yang dekat-dekat dengan tower tempat tinggal, ada beberapa tempat kursus calistung tapi kok ya sebel dengar penjelasannya. Lalu sudut mata melihat di sebuah sudut, ada promo tempat edukasi baru, tapi baru saja saya akhirnya punya tenaga untuk menghampiri stan promo tersebut, eh sudah ga ada. Jadilah saya ke tower Sakura, dengan plang nama besar bertuliskan Gen Cerdik.

Begitu masuk ke ruangan yang memang hanya satu itu, anak-anak langsung menghambur ke arah rak-rak yang isinya mainan. Sementara saya duduk di meja penerimaan. Waktu itu memang sepi, hanya ada dua tiga orang di dalam sana. Mungkin belum ada kegiatan belajar mengajar.
“Kegiatannya, bermain.”

Jelas si mba-mba. Pendek sangat. Alis mata saya naik sebelah. Oookeee ... Lalu dia pun menjelaskan satu per satu program yang diusungnya, ada: art, spatial, literacy, english club, iqro, fun science, role play, dan logic & math. Beberapa program baru saya pahami belakangan.

Spatial adalah kegiatan yang terkait dengan bentuk, sehingga banyak menggunakan permainan balok. Di sini ga semata-mata diajarkan cara membuat sesuatu yang keren dari balok sih, karena setiap minggu ada satu tema besar yang diajarkan di Gen Cerdik, maka disesuaikanlah dengan temanya masing-masing. Kalau sedang diintip kesannya memang nih anak main-main doang terus fasilitatornya foto-foto, padahal itulah bagian dari pembelajarannya. Jika seorang anak setidaknya mengambil 4 program wajib, maka terjadi simulasi dari berbagai sisi, sehingga kemampuan spatialnya pun turut berkembang. Dari yang awalnya mengurutkan balok-balok, membuat bentuk dalam kurva terbuka, tertutup dan bahkan kemudian bisa merencanakan sejak awal hendak membuat apa. Dalam perkembangannya, ini mendorong anak menjadi pribadi yang lebih terencana alias tidak gegabah.

Literacy sesuai namanya banyak terkait dengan buku. Lucunya di sini malah tidak diajarkan membaca. Perkenalan huruf ada tapi tidak menonjol. Saya ingat betapa Malika tidak suka dengan work sheet tracing di sekolah sebelumnya (itulah alasan saya tidak memasukkannya ke les calistung). Konsepnya adalah pemahaman. Biasanya diawali dengan membacakan buku sesuai tema, lalu kemudian mulai ke kegiatan yang terkait dengan buku itu entah dengan prakarya atau bermain peran. Ini sih Malika sama Safir banget. Secara mereka cerewet tapi masih harus belajar menyimak dengan baik. Jadi di kelas ini bukan mendorong anak bisa membaca, melainkan suka membaca, bisa memahami, bisa menceritakan kembali dan akhirnya mengemukakan pendapat. Menurut sumber yang pernah saya baca, kegiatan membacakan cerita di rumah itu lebih terkait dengan kemampuan berhitung alih-alih kemampuan baca dan tulis. Saya teringat dengan penjelasan salah seorang pengelola kursus calistung bahwa ada anak usia SD yang mengerjakan PR di tempat itu dikarenakan mereka tidak paham dengan soal matematika. Jadi bisa baca belum tentu bisa paham loh ya. Saya pikir, oh pantas kok Malika senang banget hitung-hitungan padahal jarang saya stimulasi ke arah itu. Dan itu membawa saya ke penjelasan selanjutnya.

Logic & Math. Naah, di sini saya merasa pas, ketika matematika disandingkan dengan logika. Pada pertemuan orangtua murid dengan para pengajar sempat dijelaskan step by step kurikulumnya. Ada proses yang panjang sebelum akhirnya mencapai angka dan penjumlahan. Seperti konsep ruang, volume, waktu, arah, dan kawan-kawan. Tahukah Anda bahwa anak-anak itu pada usia dini itu penglihatannya seperti dunia imajinasi, kalau di film kartun tuh yang berbagai objek itu masih ga karu-karuan bentuknya. Rumah miring, jalan bergelombang, dan lain sebagainya. Masih bercampur-campur antara nyata dan tidak nyata. Makanya konsep seperti ini harus diajarkan. Terdengar sepele? Well, saya sangat suka memanfaatkannya untuk membuat anak mandiri terutama ketika saya hanya mampu tiduran di kasur. Saya jadi tidak perlu mengambilkan segala sesuatu untuk anak, dengan instruksi dari saya mereka bisa mengambil sendiri sesuatu yang mereka butuhkan. Walau masih ada yang belum bisa, yaitu seni mencari. Mencari barang tersembunyi bukan Cuma sulit dilakukan anak-anak tapi juga orang dewasa. Ayahnya anak-anak contohnya hehehehe ... Singkat kata belajar pemetaan. Setelah bisa memetakan sesuatu barulah ketemu matematika. Jadi ingat waktu SMA ga sih ketika belajar logika, saya sempat bingung, ini bidang apaan sih kok masuk ke matematika. Rupanya itu sangat berguna dalam memetakan sebuah masalah. Mudah-mudahan sih anak-anak jadi terstimulasi logikanya jadi ga sebentar-sebentar kebawa emosi.  

Itulah penjelasan di antaranya, nanti saya kepanjangan nulisnya.


 Nah, terus bedanya apa dengan di rumah? Saya membatin kala itu.
Kadang saya merasa lucu, ketika di tempat yang bangga dengan kurikulum mencetak anak yang bisa calistung di usia dini, saya sebal. Ketika ke tempat yang dengan entengnya bilang tempat edukasi yang fun alias banyak mainnya, saya agak error. Harusnya kan saya klop banget dengan metode itu. Namun, rupanya saya masih terpengaruh dengan apa kata dunia. Bagaimana saya menjelaskan pada orangtua saya terkait di manakah anak-anak mengemban ilmu? Jangankan orangtua, ketika saya memutuskan menunda TK Malika, suami menganggapnya sebagai penghematan uang pendidikan padahal kegiatan di rumah kan ga Cuma main. Mainannya pun dipilih. Outingnya dijadwalkan. Pakai duit semua itu hehehe.

Toh, akhirnya pada Februari si ayah setuju memasukkan anak-anak ke Gen Cerdik. Kalau anak-anak mah semangat banget ke sana, karena kami bilangnya Kelas Bermain. Program yang diambil adalah spatial, literacy, english club, fun science, dan logic & math. Dalam satu sesi ada dua program masing-masing satu jam. Jadi setiap hari anak-anak ngendon di Gen Cerdik selama dua jam. Saya yang awalnya membatin akhirnya mau tak mau harus menentukan pilihan agar tidak galau. Sudah jelas bahwa ini sejalan dengan konsep yang hendak saya jalankan di rumah, yaitu menambah pengalaman sekaligus wawasan. Namun, kondisi hamil yang suka semaput sendiri ini membuat saya harus merelakan mencari support system lain yang mendukung visi misi saya. Untuk Malika, visi misi saya adalah menyelamatkan hubungan ibu dan anak. Saya yang jadi (lebih) mudah senewen ini merasa bahwa semangat Malika yang sedang kembang-kembangnya harus diselamatkan, biar saya ada waktu untuk tenang dan kemudian bisa menyokong  segala kegiatan dia di Gen Cerdik. Sedangkan untuk Safir, yang pertama adalah membentuk lingkungan yang permanen sehingga dia juga punya teman permanen. Anak-anak memang main di taman, tapi karena jadwalnya berubah-ubah, ya temannya ganti-ganti. Kedua, mandiri. Biar dia ga ngelendotin kakaknya terus. Kakak ga ada dicariiin, kakak ada jadi berantem. Bah. Misi ke dua ini masih bertahap dilakukannya, targetnya ya ketika Malika masuk TK di awal ajaran baru nanti. Sekarang baru satu program saja yang dilakoni Safir sendirian.

Namun, bukan berarti tempat ini tidak memiliki kekurangan. Ketika minat warga Kalibata City meningkat terhadap Gen Cerdik, maka mulailah terlihat kekurangannya. Misal, kurang ruangan. Gen Cerdik memang hanya terdiri dari satu ruangan luas. Sehingga hanya bisa menampung satu program dalam satu waktu. Tapi karena orangtua pun dibebaskan memilih program dan harinya maka terjadilah penumpukan di beberapa program di waktu tertentu. 15 anak dalam satu ruangan ituuuu riuh banget loh, walau tenaga fasilitatornya sedang perlahan-lahan ditambah. Beberapa fasilitator baru pun ada yang masih kurang sreg dirasa oleh para orangtua. Yeah, it’s a process.

Ide menambah ruang sounds like a great idea, tapi itu menimbulkan biaya baru bagi orangtua. Dan lagi mungkin juga secara hitung-hitungan belum sampai level mendesak menambah ruangan baru karena di program lain malah cenderung sepi alias di bawah 8 orang.  Again, ini proses semoga ketemu jalan keluar lain.

Oleh karena terjadi pertambahan murid dan fasilitator, maka fasilitator senior pun mulai terlihat kewalahan. Laporan siswa yang awalnya dijanjikan tiap bulan, belum saya dapatkan. Setidaknya untuk saya. Jadi saya lebih memilih konsultasi langsung ke fasilitator anak-anak sebelum menentukan apakah akan meneruskan, menghentikan, atau menambah sebuah program di bulan baru atau tidak. Saya memang lebih senang bicara langsung karena lebih real time jadi saya bisa langsung menyokong pertambahan wawasan anak-anak di rumah.

Bagusnya tim Gen Cerdik ini terbuka dengan segala masukan. Grup whatsapp orangtua siswanya juga aktif karena kerap di-share tentang parenting dan kecerdasan anak. Pada bulan pertama Malika dan Safir masuk Gen Cerdik lucunya dua kali pula mereka disyuting stasiun televisi. Haiyah. Tapi bukan karena disyuting loh makanya ditulis di sini.


Info lebih lengkap silahkan follow twitternya di @gencerdik
Atau datang langsung ke Gen Cerdik yang terletak di kawasan KCS Walk tower Sakura Kalibata City.

Link liputan dari Net TV ada di sini dan di sini yaaa .... maap kalau ketemu muka saya hehehe ...


Sabtu, 04 April 2015

Fasilitas Lain-lain RSIA Idaman

Menunggu SPOG berjam-jam itu bikin mau nulis seandainya di RSIA itu ada fasilitas-fasilitas berikut:

1. Salon dan Spa
Pegal duduk di ruang tunggu membawa khayalan ke salah satu ruang salon dan spa. Nunggu sambil dikrimbat kayanya enak apalagi sudah tahu nomor antriannya masih panjang, dokter baru datang. Buat bumil dengan dua anak kan kesempatan nyalon jarang bangget. Nunggu sambil menikmati pijatan yang menenangkan atau pijat payudara biar ASI lancar.

2. Tempat Bermain Anak
Suka kasihan lihat anak-anak yang terpaksa ikut menunggui orangtuanya ke SPOG. Ciyee, curhat? Ga, khusus anak-anak saya, saya kasihan sama bumil-bumil yang lalu lalang, anaknya suka berlarian sih.
Mungkin kelihatannya ga penting ya, karena kalo antrian ke dokter anak kan berarti anaknya sakit nanti malah mainannya jadi penyaluran penularan. Well, tapi kalau diem juga bakal nular. Makanya malas ke dokter kalau keluhan bapil doang. Nyari-nyari penyakit.

Tapi ya satu meja kecil dengan empat bangku dan seember lego itu sebenarnya dah cukup. Lumayanlah buat anak tenang beberapa menit. Ga harus mainan yang agresif macam perosotan.

3. Bacaan
Bacaan yang disediakan untuk segala kalangan. Ruang tunggu yang ada kebanyakan ya ruang tunggu membosankan gitu. Isinya majalah out of date. Masih mending ada majalah or koran, banyak pula yang ga ada.

Apalagi buat anak-anak. At least kaya rice bowl gitu loh, dikasih selembar kertas dan sepotong krayon buat mewarnai.

4. Kantin yang Cihuy
Kenapa ya kantin di RSIA itu jarang yang enak, bikin saya kepengen jadi suppliernya aja (sok enak masakannya). Ada yang menunya snack doang, ada yang mahal banget. Yang nunggu kan ada orang normal juga, mbok ya ga usah berat di penampilan gitu loh. Yang penting bersih, banyak tempat duduk, dan ga gerah, pakai model warteg juga ga papa. Malah enak ada menu anak-anak. Daripada dijajanin eskrim melulu.

5. Taman
Sayang atas nama optimalisasi ruang gedung, taman semakin belakangan dalam prioritas. Taman itu bagus untuk mengurai rasa jenuh, daripada terperangkap dalam gedung berlampu remang-remang. Belum lagi bisa buat anak sekadar berlarian tanpa mengganggu yang lain. Asal ga ada nyamuknya aja.

6. Musik Latar
Saya ga suka dengan fasilitas televisi di RS karena biasanya terpaksa nonton tayangan
 yang ga kita suka. Maklum rada ketat seleksinya.

Saya lebih memilih musik latar yang menenangkan, kaya di spa-spa gitu. Jadi ga mumet pikiran. Ah inget spa lagi.

7. Warnet or Pojok Wifi
Emang siy di mana-mana orang dah pada nenteng smartphone, tapi buat orang kaya saya perlu banget punya meja dan wifi buat ngejar deadline editan or tulisan dan terutama punya stasiun colokan. Hahaha emangnya bandara.


Yah segitu aja dulu. Masih mengantri di ruang tunggu. Baru nomor belasan dan saya nomor 39. OMG.

Kamis, 02 April 2015

KAMYStory: Insting Bersarang

Konon pada masa kehamilan ada sebuah insting yang muncul, yaitu insting bersarang alias nesting. Insting dimiliki pula oleh hewan. Saya jadi ingat kucing-kucing hamil yang suka berkeliaran di berbagai sudut rumah masa kecil saya, mencari spot terbaik untuk melahirkan. Pada saat-saat seperti itu, lemari baju adalah yang pertama yang harus diamankan. Jangan sampai lupa dikunci hehehe ... 


Insting ini tidak pernah  muncul di kehamilan pertama dan kedua, memang apa bedanya? Satu yang beda, saya di rumah sendiri. Sebelumnya kan di rumah orangtua, jadi yah secara tertulis bukan sebenar-benarnya sarang bagi saya.


Nah, di semester awal saya belum merasakan insting ini. Iya, rumah berantakan karena saya secara fisik tidak sanggup ngapa-ngapain. Semester kedua masih belum bisa ngapa-ngapain tapi saya mulai frustasi lihat rumah. Sampah dan cucian piring yang teronggok sampai pagi hingga mengundang kecoak kecil-kecil. Setrikaan menggunung, beneran kaya gunung karena nyaris mencapai atap. Serius. Saya pikir, ok i have enough. Sejak awal semester saya sudah mengiba pada suami agar dia mau mencuci piring karena saya tidak tahan baunya. Lumayan lah. Walau sekarang sudah jarang dia lakukan karena sudah keduluan sama saya. Bosen kali dia hehehe.


Lalu saya pun mengajak bicara salah satu bibi teman Malika yang kebetulan satu tower. Saya tahu setiap Sabtu dan Minggu dia libur tapi masih tetap di Kalibata City. Jadi saya tawarkan untuk ke unit saya di salah satu hari liburnya. Jobdesknya? Menyetrika yang utama, lalu menyapu dan mengepel. Bagi saya yang anti ART, ini langkah besar, bukan buat kemudian menjadi terbiasa dengan ART loh ya. Saya harus realistis sama kondisi saya dan kebersihan rumah. Ga perlu bersih-bersih amat, tapi kalau tidak ada yang menyapu dan mengepel setidaknya seminggu sekali, lantai rumah tuh bisa licin karena minyak dan mengundang serangga-serangga lain. Itu yang bikin sebal.


PR selanjutnya adalah tata ruang. Oleh karena akan ada makhluk baru penghuni unit kami, maka saya harus memikir ulang tentang susunannya. Maklum, tiap orang punya minimal ruang yang harus dimiliki dan itu perlu trik untuk mengaturnya di unit kami yang ‘gede’ banget ini. Dan karena saya pribadi yang berantakan, pe er ini jelas bukan pe er yang mudah. Lemari baju, kitchen set, dan rak yang ga seberapa ini menjadi tantangan bagi saya setiap minggunya. Ketika berhadapan dengan lemari baju, saya menghubungi teman sekaligus tetangga yang sudah diketahui tingkat neat freaknya. Via whatsapp saya foto lemari baju dan komentarnya, “kenapa ada panci di lemari baju, Amy?”


Wakaka malu deh. Jadi poin pertama dari membereskan adalah, mulai menaruh segala sesuatu di tempat yang sesuai dengan visi misinya. Misal, lemari baju ya buat tempat baju. Rak buku ya buat buku, bukan buat stok susu literan. Saya keluarkan dulu deh yang tidak berhubungan dengan tempatnya lalu menyusun hanya yang memang pantas dimasukkan ke sana.


Nah kemudian poin kedua adalah klasifikasi. Misal, mana baju kasual mana baju formal. Mana botol bumbu, mana kotak kontainer makanan, mana panci. Mana buku bacaan, mana buku aktivitas. Semua ini menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan. Merapikan satu baris rak saja bisa satu hari sendiri dan kemudian ngos-ngosan hingga beberapa hari mendatang. Hasilnya, lumayaaan.


Poin ketiga, mempertahankan. Nah ini yang sulit hahaha. Apalagi setelah itu baju-baju bayi mulai eksis dan semua mulai terasa nyata. Belum lagi, kami kan masih beraktivitas sebagai manusia hidup, jadi yaaah, gitu deh. Sekarang saya pusing lagi, bagaimana mengaturnya hehehehe .... cuma satu efek sampingnya, saya jadi tambah galak. Hadeeeuh ...


Moral of the story? Pindah rumah aja yuuuk :D


KAMYStory: Early Baby Blues

Hamil pertama dan kedua, yang namanya baby blues baru hinggap di minggu pertama pascamelahirkan. Eh, dilalah, di hamil ketiga, gejala baby blues itu datang lebih awal. Lebih tepatnya ketika usia kandungan menuju 8 bulan.


Awalnya saya bingung sendiri, kenapa ketika saya lagi galak sama anak-anak air mata juga turut berjatuhan. Lalu saya pikir dengan logika sok-sok an Fisika. Oleh karena ketika galak, perut menegang sehingga juga menekan kantung air mata. Well, agak jauh ya rutenya hehehe ... Kalau ada ketidaksepahaman sama suami lalu jadi ngomel-ngomel, langsung banjir deh matanya. Saya ingat-ingat lagi, kok kaya lagi baby blues ya? Emang ada ya baby blues sebelum melahirkan? Semacam early baby blues gitu?


Rupanya, menurut www.beyondblue.au , baby blues adalah gejala depresi yang bisa dialami selama masa kehamilan dan pada awal menjadi orangtua. Oalah, ternyata memang ada yang terjadi selama hamil. Obatnya apa, ya?


Belajar dari kehamilan satu dan dua, ga pakai obat apa-apa sih selain jalanin aja. Menjalani sambil terbingung-bingung, ternyata saya depresi juga ya, kirain sayanya saja yang aneh.  Sementara ini, yang lagi di depan mata sih adalah betapa banyaknya hal yang harus saya kerjakan selagi menunggu kelahiran (yang in sya Allah sehat walafiat dan lancar semua) di luar pekerjaan rumah tangga. Mulai buat to do list lagi, berharap segera mencentrang satu per satu. Keep myself busy. As if I have nothing else to do, hehehe .... Saya kaget juga ketika membuat to do list, ternyata tugasnya sebanyak ini? Dengan berbagai subjek pula. Jangan-jangan saya depresi karena mengabaikan tugas-tugas itu dan larut dalam lamunan-lamunan emosional.



Baiklah kalau begitu, sepertinya saya juga harus mulai pemanasan, pemanasan untuk rempong ketika mengurus tiga anak, biar ga kebawa-bawa rasa ingin bobonya .... Semangat!!

Kamis, 22 Januari 2015

KAMYStory: 10 Kado Bayi yang Paling Diinginkan


Seringkali saat hendak memberi kado untuk kelahiran anak ketiga dari keluarga atau teman, saya bingung, mau dikasih apa ya? Adalah umum diketahui bahwa kebanyakan orang lebih suka menyimpan perlengkapan bayinya bahkan hingga bertahun-tahun. Dengan cita-cita untuk dilungsurkan. Jadi ya saya bingunglah mau kasih apa. Tapi tenang, hal itu tidak berlaku untuk saya. Oleh karena tinggal di rumah yang ‘gede’ banget ini, saya mudah saja melungsurkan perlengkapan bayi sesegera mungkin. Orang-orang tua sering bilang tiap anak itu ada rezekinya, jadi ga usah takut tidak bisa kasih makan. Nah, kalau saya mengartikannya, jadi kenapa harus pusing soal baju?

 

Eh tapi dari sekian banyak perlengkapan bayi (yang jumlahnya kian menurun setiap kelahiran anak), ada tujuh yang benar-benar saya inginkan tapi malas mewujudkannya sendiri. Tenang, ini hanya bercanda, tapi beneran deh hamil anak ketiga inginnya yang realistis saja.

 

  1. Rumah landed di tengah kota dan memiliki minimal tiga kamar. Kalau teman-teman bertanya, “lo mau apa?” “lo perlu apa?” “Apa yang belum lo punya?” Saya lebih suka menjawabnya, saya mau rumah landed di tengah kota dan memiliki minimal tiga kamar. Hehehe ... maklumlah, saya sebenarnya ga kebayang juga membesarkan tiga bocah tengil di ruang terbatas seperti ini. Jadi demi meringankan beban suami, mungkin ada yang berminat patungan membelikan saya rumah?
  2. Biaya gratis persalinan dalam berbagai penindakan di RS Tambak. Anak ketiga biasanya tidak ditanggung lagi oleh perusahaan tempat suami bekerja, jadi yaaa ... Pakai BPJS? Bisa. Tapi RS yang ada dokter Botefilianya jauh, di RS Persahabatan. Beuuuh ...
  3. Paket pijat pascamelahirkan. Sejak lahir anak pertama ga pernah ngerasain dipijat. Badan rasanya rontok tak berkesudahan. Ada yang mau jadi sponsor?
  4. Stok pospak selama dua tahun. Baru saja saya menghapus popok dari daftar belanja dengan bangga eh ketemu tongkat bergaris dua lagi. Walau saya pengguna clodi, tapi kalau malam hari biasanya masih pakai pospak. Dan itu lumayan pengeluarannya. Ga banyak, hanya dua bungkus besar pospak berbagai ukuran per bulan selama dua tahun. Ada yang punya vouchernya ga ya?
  5. Selusin clodi. Ngomongin clodi jadi ingat deh, clodi yang saya punya sudah kadarluarsa alias sudah dipakai lebih dari dua tahun. Jadi yah, kudu beli baru. Ga banyak, selusin saja cukup kok, tapi insertnya dua lusin yaaa ... (halah)
  6. Baby wrap. Hanaroo baby wrapku sudah dipakai untuk dua anak, jadi yah sudah melar. Ada yang berminat membelikan yang baru untuk saya? Lebih cocok pakai itu ketimbang baby carrier lain. Hihihiy ...
  7. Paket sabun dan shampo plus deterjen bayi. Nah, ini nih ... deterjen bayi paling ga sampai 6 bulan pertama, sabun dan shampoo? Timeless. Makin banyak makin baik. Ga perlu make up bayi lainnya kooook.
  8. Akun rekening pendidikan. Jadi ingat kuis pelajar zaman dulu, pasti hadiahnya Tabanas. Ada ga yang mau hadiahin akun rekening pendidikan buat anak ketiga ini? Tapi diisiin yaaa ...
  9. Gratis suplai dan antar sayuran jadi selama satu tahun. Jujur, saya ini malas masak sayur, sedangkan untuk menyusui harus sering makan sayur. Nah, kan enak kalau ada yang sediain plus diantar ke Kalibata hehehehe ....
  10. Lupakan daftar di atas. Yang lebih penting doa dan dukungannya. Semoga saya bisa jadi ibu yang lebih baik dan bahagia. Demi anak-anak yang sehat, cerdas, dan juga bahagia dunia akhirat.

 

Kamis, 15 Januari 2015

KAMYStory: Kehamilan ke-3 di Usia ke-33

Sejak mengetahui hamil lagi, saya sempat sombong. “Hamil lagi? Mau apa lagi, sih (Tuhan)? Hamil sambil kerja, sudah pernah. Hamil di rumah saja, juga sudah pernah.” Rupanya saya lupa bahwa ada sekian banyak kondisi lingkungan bagi ibu-ibu hamil di luar sana, termasuk yang ecek-ecek macam  saya. Hamil sambil mengurus dua anak, di rumah sendiri, sendirian. Yah, kami baru pindah ke Kalibata City 40 hari pascamelahirkan anak ke-2. Jadi, secara teknis, ini adalah kondisi yang baru bagi saya.



Hamilnya rewel. Begitu istilah orang-ora ng. Dua kali hamil, saya memang bisa dikatakan tidak terlalu banyak kendala, beda dengan yang ketiga ini. Entah apakah karena saya sambil momong dua anak atau memang bawaan bayi. Pokoknya ribet, deh.


1.       Stamina Kok Loyo?
Catatan nomor satu saya adalah stamina. Sejak awal belum tahu hamil, tanda-tanda yang ditunjukkan adalah lemas berkepanjangan, pening, dan mulas. Dan ketika kehamilan terkonfirmasi, ketiga subjek tersebut makin menjadi-jadi. Untuk pertama kalinya saya terganggu dengan rasa mual. Biasanya di semester 1 adalah saat bagi saya untuk banyak makan. Beneran. Bagi kebanyakan bumil mungkin semester 1 adalah fase muntah-muntah, saya malah bisa makan menu bufet sebanyak delapan kali.
Nah, yang sekarang juga sih, tapi yang terbesit duluan bukan rasa lapar seperti biasa, melainkan mual. Mual yang jika tidak diberi makan akan lebih merongrong otak sehingga berakibat badan lemas sepanjang hari.  Syukur ga muntah. Dan rasanya apa pun yang masuk ke dalam perut ini, ga cocok juga dengan keinginan sejati. Entah apa itu. Rasanya sih ingin makan buah saja. Tapi setiap kali makan buah, saya jadi sangat kelaparan yang jika diberi menu nasi, rasanya ga enak juga. Serba
salah, lah.



Pada saat mual mulas perih kembung itu, Cuma satu menu yang tidak pernah ditolak perut. Sate Padang. Hei, kapan lagi bisa minta dibeliin sate padang hampir tiap hari?



Tidak hanya soal selera makan, hidung saya pun sensitif. Saya ga bisa cium masakan. Ga bisa cium bawang. Ga bisa cuci piring karena bau. Lah trus gimana dong? Awalnya berprinsip, ga masak? Beli. Eh lama-lama, tiris juga gue. Apalagi karena pusing di rumah, saya lebih senang jalan-jalan ke rumah teman. Bisa dapat udara bebas dan ga perlu masak. Tapi ongkosnya, brur.


Setelah dipikir-pikir bolehlah terkadang memaksakan diri, setidaknya masak buat anak-anak biar jelas asupan gizinya. Jadi ya saya lebih sering masak satu menu habis itu tepar seharian. Pernah juga ga mampu masak sama sekali. Alhamdulillah Allah berikan keringan hati bagi anak-anak. “Amy lagi pusing nih. Kita makan telur rebus pakai kecap ya?” “Asyiiiik!!” atau “Amy lagi pusing nih. Makan spageti pake saus tomat, ya?” “Asyiiiik!!!” Urusan serat saya serahkan pada agar-agar dan buah. Makanya saya malah jarang makan buah, sengaja disimpan untuk anak-anak.



Urusan rumah tangga? Ga usah ditanya deh ya. Rumahku itu kapal pecah di bulan-bulan pertama. Pernah dalam sebulan saya lupa kapan terakhir mengepel rumah ‘segede’ itu. Cucian piring segunung. Setrikaan bergunung-gunung. Tapi yang lucu adalah si suami akhirnya bersedia cuci piring. Jadi selain dia harus menerima fakta tidak ada menu masakan untuk dirinya ketika pulang malam banget itu plus harus jajanin sate padang, paginya dia menambah tugas, cuci piring. Yah, walau awal mintanya harus pakai gaya memelas. Habis, cucian piring makin ga dicuci ya makin bau, ya makin semaput lah saya.



Selain minta bantuan suami, saya juga request khusus ke mama. Minta dibuatkan makanan alias ransum buat seminggu dua minggu. Lumayan lah gizi anak-anak agak mendingan. Tapi Cuma seka li aja kok mintanya. Cuma butuh merasa bebas tugas sejenak.



Untuk urusan setrikaan, akhirnya saya minta tolong orang juga. Saya dulu pernah bercakap-cakap dengan salah satu pengasuh teman anak saya yang notabene tinggal satu tower dengan saya. Rupanya walau tinggal bersama majikannya, dia dapat hari libur di Sabtu dan Minggu. Saya minta deh satu hari untuk melakukan pekerjaan rumah tangga terutama menyetrika di rumah saya. Hasilnya, lumayan deh. Ga mumet juga pikiran lihat baju bergunung-gunung gitu. Setidaknya dalam satu minggu ada satu hari ketika rumah saya rapi.



Oh, ada lagi situasi yang harus saya syukuri. Saya nyaris tidak dapat order untuk koekieku. Mungkin bagi para pebisnis kue lainnya ini agak kemunduran, tapi bagi saya inilah berkahnya. Anggap saja Allah sedang memberi saya waktu untuk istirahat dari segala keluhan stamina ini. Rasanya lagi dimanjain.



Keadaan sedikit membaik di semester kedua. Setidaknya untuk urusan masak dan cuci piring saya mulai kuat. Urusan setrikaan, ya ga papa deh diterusin si bibi, toh terkadang kita harus let it go. Hanya saja saya rupanya ga sepenuhnya kuat. Sekarang saya ada keluhan baru, kontraksi. Perut ini sering banget kontraksi yang emang sakit banget. Biasanya saya ga pernah ngeh lagi kontraksi. Sekarang? Bawa obat antikontraksi ke mana-mana. Terasa banget pas belakangan ini, ketika harus berhadapan dengan dua kali libur panjang banget itu. Bukannya bisa istirahat, tapi malah jalan-jalan melulu. Saya sendiri sampai bingung, kok malah ga dapat ‘me time’ sama sekali? Akhirnya gejala mual, mulas, pusing, dan sebagainya muncul lagi. Rasanya kaya orang ga move on, hehehe. Dengan sangat terpaksa, kayanya ga bakal jalan-jalan dulu deh.





2.       Selamat Tinggal Home Schooling
Ketika teman-teman playgroupnya melanjutkan ke TK, saya memutuskan Malika menunda TK-nya. Berbagai rencana dibuat untuk kegiatan, tapi apa daya. Hanya berlangsung beberapa bulan, setelah itu si Amy banyak menghabiskan waktu rebahan di kasur. Inginnya sih rebahan di depan TV tapi ga punya sofa, jadi pegel banget. Akhirnya anak-anak lebih sering main bebas.



Yah, punya adik ada untung ruginya sih. Terkadang jadi teman lalu sekejap jadi berantem. Terkadang memudahkan, tak jarang menyulitkan. Pokoknya edisi Malika dan Safir ditantang main bersama dalam waktu lama. Amynya hanya kontrol lewat teriakan-teriakan di kamar, kecuali kalau sudah genting alias bergulat barulah amy bangun.



Bagi Malika sendiri, ada saatnya dia asyik main, ada saatnya dia protes. “Kenapa aku harus jaga anak-anak terus. Aku kan masih anak-anak!” begitulah sebagian dari pidato protesnya. Atau ketika dia bosan, “Kapan Malika masuk TK. Kok lama banget?” Atau ketika dia tepok jidat mengetahui ayahnya harus rebahan (juga) pascacabut gigi “Yaaah, amy dan ayah di Tebet aja deh sampai adek bayi keluar. Habis dua –dua orang tuanya harus rebah-rebah.”



Ada masanya saya gatal sekali ingin memasukkan dia ke kursus apa kek biar ada kegiatan, tapi begitu saya tanya-tanya malah ilfil sendiri. Ke kursus calistung kok rasanya belajar banget, ga ada pergaulannya. Ke kelas bermain, main-main gini mah di rumah juga bisa. Ada saja alasannya.


Akhirnya saya buat kegiatan sendiri. Kelas berenang. Dengan guru, abang saya sendiri alias omnya anak-anak. Yah, lumayan deh satu hari ada kegiatan keluar. Walau ga setiap minggu karena kondisi cuaca. Ingin ikut pengajian di masjid KCS, eh waiting list. Ya suds, sementara ini harus puas dengan satu kegiatan. Toh, tenaga saya suka on off gitu kalau mau anter jemput.




3.       Kembali ke Fashion Hamil
Sebenarnya saya bete kembali ke fase ini. Ketika saya akhirnya membuang bra menyusui dan celana hamil yang sudah dipakai hampir lima tahun berturut-turut itu saya senang sekali. Yes, freedom!!!! Bisa pakai baju yang non kancing depan? Liberation!!!! Makanya saya menolak beli baju hamil dkk. Toh keadaan menuntut lain. Lama-lama badan saya tidak nyaman dengan baju atau celana yang dipakai sekarang. Jadi ketika di Tebet menemukan satu bra menyusui lama nyelip di lemari, saya berasa ketemu harta karun. Yes!  Freedom? Yah lebih tepatnya comfort. Barulah setelah itu saya hunting baju dan celana hamil di ol shop.Ga Cuma itu, saya juga harus beli sepatu dan sendal baru pluuuus jilbab baru. Cukup sekali beli, masih perlu beli yang lain hehehe Saya ga tahan juga kudu pilih-pilih baju melulu.




4.       Persiapan Jelang Melahirkan
Sekarang usia kehamilan memasuki bulan ke-6 dan yang sejak awal dipikirkan untuk dipersiapkan adalah anak-anak yang sudah lebih dahulu lahir. Tema besarnya, mendidik mandiri. Kebayang dong, bulan-bulan pertama, bayinya lagi ga jelas jadwalnya, masih pula ngurusin suapin makan. Jadi tema kemandirian diterapkan perlahan-lahan terkadang terpaksa juga. Seperti misalnya mandi sendiri, karena saya ada masa mual dengan bau sabun, saya biarkan kedua anak itu mandi berdua. Malika yang lebih sering bantuin Safir menyabuni bagian belakangnya. Namun karena sebentar lagi Malika lima tahun, saya pun menerapkan batasan baru. Tidak ada lagi mandi bareng cewe dan cowo. Selain karena jadi main sabun berlebihan, ya karena harus belajar menghargai malu. Hasilnya? Yah lumayan deh. Walau kalau ada ayahnya, mereka balik lagi mandi rusuh berdua.



Selain mandi, objek mandiri lainnya adalah anak-anak tidur di kamar anak-anak. Rumah kami hanya dua kamar, dan selama ini anak-anak tidur sama saya di kamar utama, sedangkan ayahnya di kamar yang sejatinya kamar anak. Namun, seiring dengan membesarnya perut, saya mulai kesal dengan keberadaan anak-anak di kasur saya. Bukan hanya soal kasur yang selalu berantakan dan kotor tapi juga kini rasanya saya tidur ditendangi dari berbagai arah. Ya di dalam, ya di luar, ya di kanan, ya di kiri. Ini masih mending ayahnya ga nimbrung. Kalau nimbrung plus kitik-kitik. Halah, get your hands and feet off me!



Namun memindahkan anak-anak ke kamar mereka ga bisa begitu saja. Ada pula yang harus dipersiapkan. Interiornya lebih tepatnya. Jadilah hunting tempat tidur, browsing lemari, banyak deh rencanyanya yang akhirnya ‘Cuma’ mengganti tempat tidur dan exhaust. Malika katanya mau tidur di kamar yang ada AC-nya padahal dia suka kedinginan di kamar saya. Huh



Makan sendiri juga ada persiapan lain. Sedia meja dan kursi kecil. Tapi baru bisa dibeli kalau tempat tidur sudah jadi. Maklumlah, ga ada ruang, jadi harus fix di satu ruang baru bisa tambah barang lain.

Malika sudah mulai saya kenalkan dengan situasi darurat. Kebetulan jelang HPL, orangtua saya di luar negeri, jadi kondisinya agak rentan. Ini bocah mau ditaruh di mana ya? Bagaimana kalau saya pecah ketuban saat suami masih di kantor? Jaraknya saja paling cepat satu jam. Memang sih di rumah orangtua saya ada abang saya, tapi dia kan single. Dititipin dua bocah dalam kondisi adiknya mau melahirkan mah bikin senewen lah. Sedangkan anak-anak bisa jadi ikutan senewen.



Dan karena alasan itulah saya menolak usulan papa untuk pindah ke Tebet. Alasan mereka supaya lebih mudah ditangani jika ada kondisi darurat.  Namun menukar waktu beradaptasi untuk satu dua hari kondisi darurat buat saya ga worthed. Karena saya sendiri bukan orang yang mudah beradaptasi, jadi kemungkinan besar anak-anak saya juga begitu. Belum lagi pengalaman baru pindah dulu. Hadeeeuuuh, parah deh.  Saya lebih memilih mereka (atau salah satu orangtua saya) yang menginap di sini. Toh, mereka juga pusing karena bakal repot adaptasinya. Tuh, kaaan. Yang tua aja repot, apalagi dua bocah galau ini.



Saya pun mulai menyusun skenario. Orang-orang yang saya kenal di pdkt-in untuk menjadi barisan siaga. Tadinya ada satu tetangga yang saya siapkan eh mendadak hamil dia. Haiyah. Ya sudahlah. Harus cari yang lain. Namun karena dia hamil juga kami jadi ada diskusi terkait menggunakan keberadaan satpam yang memang ada di setiap tower. Mencatatat berbagai nomor darurat. Mencari kemungkinan adanya ambulans stand by di Kalibata City. Menjalin hubungan dengan tukang ojek kepercayaan. Semacam itulah. Sebagai back up dan barisan pelindung terutama untuk anak-anak. Agak sulit karena saya ga percayaan sama orang lain.



Yah di atas itu semua, saya sadar manusia hanya bisa berencana Tuhan yang menentukan. Dan sependek pengetahuan saya, ketentuan Tuhan tidak akan memberatkan umatnya melebihi kemampuannya. So I guess all I can do are get prepare and hope for the best. Doakan sayaaaa  :”)




Senin, 24 November 2014

My Story: Sendirian, Semalam, di Singapura #2


THE CONCERT, BABY ....

Ketika Ditta datang, VIP mode on. Baru deh kelakuan diatur sesuai pengunjung konser hahaha ... Ngantri di stan samsung, rela dengerin tiga info produk demi pin-pin member YG Family. Berfoto dengan latar poster konser itu hingga akhirnya mengantri masuk.

Ketika mengantri, saya baru sadar. Saya sudah kadung beli banyak snack untuk sekadar oleh-oleh buat anak-anak, karena tahu ga bakal bisa ke mana-mana. Lha, di konser kan ga boleh bawa makanan. Akhirnya saya bongkar tas saya, masukkan kantung besar snak di bagian dasar lalu sumpal dengan baju n bantal travelingku. Begitu dibuka, keamanannya dah males lihat bantal pink itu hehehe...

Sayang saya dan Ditta juga satu temannya berbeda lokasi nonton. Saat terpisah, saya menyempatkan selfie di salah satu balkon yang menghadap panggung. Saya agak malu-malu ketika ada yang menawarkan diri membantu selfie padahal bukan panitia juga. Kasihan kali lihat betapa jadulnya niy hp ga bisa mirror hehehe ....

Sebenarnya dari posisi, mungkin posisi saya paling sial. Lantai tiga di baris terakhir. Itu ujung banget. Dibanding dua tahun lalu, posisi sekarang itu berpuluh-puluh kali jauhnya. Tapi itulah yang terbaik, terlebih waktu itu saya belum tahu sedang hamil, kan. Jadi ini aman juga nyaman. Saat konser dimulai saya menggabungkan pandangan 4 meter dua tahun yang lalu dengan euforia yang saya rasakan di balkon teratas itu.

Serius deh, dua tahun lalu itu saya kaya salah mau joged karena semua orang berebut merekam. Di atas sana, puas-puasin deh joged, istirahat pada grup-grup atau lagu tertentu-inget perut, tapi ga pernah diam kalau Bigbang muncul. Kebetulan saya punya tetangga yang keren. Orang di sebelah saya juga ga berhenti joged dan turut bernyanyi sekeras mungkin. Dia keren banget.

Dan selagi konser itu saya sempat-sempatnya garuk-garuk kepala saat beristirahat dan melihat penonton di depan saya merekam konser tersebut. Itu mah biasa. Yang ga biasa adalah dia langsung share ke youtube. Oh my God, secepat apaan siy internet di sini? Gue unggah video nyanyi di warnet aja kudu tunggu 15 menit. Lha dia dari handphone! Pantaslah banyak yang sutris pas balik ke Jakarta kalau habis tinggal di luar negeri.

Konser itu sendiri? What can i say? Bisa lihat Bigbang plus 2Ne1 plus Psy plus Epic High plus Winner itu dah menu banyak buat saya. Pokoknya closure yang tepatlah. Sesuai judulnya, Family Concert, saya terharu dengan cara setiap grup berkolaborasi atau menyanyikan single grup lain tanpa kehilangan greget. 2Ne1 ga Cuma bikin yang cowo-cowo keringetan tapi juga penonton cewe. Energik binti seksi. Angkat jempol buat Psy yang walau hanya dua lagu yang kita kenal, dia tetap cool n confident, bahkan aksi para dancernya yang paling keren. Inilah namanya entertainer.  Tentu saja saya paling ngakak ketika Bigbang nyaris memarodikan lagu 2Ne1. Serius tapi ga serius. Suara TOP ga ada sumbang-sumbangnya padahal I mean itu TOP kok ya joged gemulai gitu tapi ga asal-asalan. Formasi Bigbang ini sebenarnya ga lengkap karena di malam seharusnya pergi ke Singapura, Seungri mengalami kecelakaan mobil usai menghadiri acara. Inilah risiko jadwal padat n ga pakai sopir. Ada-ada aja dah, untung bukan bias gue. Karena mepet waktunya, jadi bagian nyanyinya digantikan bergantian oleh Taeyang dan Daesung, atau kadang dibiarkan saja. Saya pikir ga ada bedanya tanpa Seungri, tapi ternyata  berasa juga. Aih jadi kasihan, mana jadi tersangka lagi.

Walau Cuma dari bigscreen, I was happy.  Tiga jam konser ga beranjak sama sekali saya dari bangku. Dan yang lebih menyenangkan lagi adalah ketika ada teman untuk berbagi cerita konser yang terjadi barusan. Konser pertama dan kedua saling melengkapi menurutku. Dan saya bersyukur bisa mengalaminya. walau kalau ditengok dari usia rada telat hehehe.

Ada untungnya juga saya bareng Ditta, karena jadi punya pengalaman nungguin para performer itu keluar dari gedung di pintu belakang. Maklum dia stalker. Cuma karena bawa buntut jadi rada ga sukses stalkingnya hehehe maaaaaf ....  Awalnya grup Winner yang lewat, trus 2Ne1, baru kemudian Bigbang. Kelihatan sih, yang senior diantarnya pakai sedan mewah. Yang junior pakai van. Tapi vannya juga mewah sih. Ada sedih tapi gimana gitu ketika melambaikan tangan pada mobil yang diisi TOP. Pengennya sih lari-lari gebukin mobilnya sambil teriak, “this is your baby!!!” ah tapi ga usahlah ya. Ntar yang di rumah gimana dong?


MALAM DI SINGAPURA

Saya memang akhirnya memutuskan mengikuti ke mana Ditta dan temannya pergi karena saya batal bertemu teman SMU saya yang memang menetap di Singapura. Awalnya ingin mampir ke Gardens by the Bay di dekat Marina Bay tapi ketika mampir di Clarke Quay untuk mengambil tas teman-teman saya itu di sebuah penginapan, kami menghabiskan waktu lebih lama karena mereka lupa jalannya, hahahaha ...

Senangnya jadi blogger adalah ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai rencana otaknya langsung berteriak, yes another story in my blog! Jadi walau langkah saya lebih lambat karena lelah dan lapar dan kaki yang sakit karena sepatu yang salah beli, saya menikmati saja berjalan-jalan di malam Singapura. Kadang teringat daerah Thamrin-Sarinah, lalu teringat daerah Mangga Dua-Kemayoran. Malah walau tertinggal jauh, saya sempatkan berhenti untuk mengambil gambar, setelah itu segera berlari karena angka di lampu merah kian menipis.

Akhirnya ketemuu ... dan kami ikhlaskan tidak ke taman. Langsung ke bandara aja. MRT masih penuh orang saat itu. Makanya tidak disangka-sangka ketika berhenti di Tanah Merah untuk kemudian transit, eh keretanya sudah ga ada. Jiah, dua stasiun lagi. Ya suds, naik taksi. Lumayan dapat pengalaman naik taksi. Taksinya bukan taksi fancy, kaya udah lama, kalau di Jakarta mah dah kena blacklist. Dengan hiasan-hiasan patung di dashboard dan supir dengan rambut putih berkuncir, kami aman tiba di Changi.

Tiba di Changi belum bisa melakukan imigrasi. Tutup. Jadi kami segera mencari tempat makan. Sudah jam setengah satu dan saya belum makan dari jam 3, kebayang laparnya. Ngejogrok lah kami di McD. Makan paket burger seharga SGD5 dan belum sempat otak memberi sinyal kenyang, saya sudah ngantuk luar biasa.

Setelah beberapa lama di sana, bosan melihat para wajib militer berkeliaran bawa senapan gede-gede yang konon bertugas membangunkan orang-orang yang bobok di bangku, kami agak masuk ke dalam, mendekat ke bagian tiket. Rupanya di dalam sana banyak juga yang menginap dan sudah meringkuk di balik bangku-bangku panjang dengan selimut tebal. Mereka lebih pengalaman kayanya.

Saya ga pede kalau harus ke balik bangku, jadi yah di atas bangku panjang itu saja saya sekadar mengistirahatkan mata hingga pukul 4. Saya baru tahu loket tiket dibuka 4 jam sebelum penerbangan. Begitu dapat tiket baru deh bisa merasakan fasilitas yang lebih manusiawi. Pijat gratis sama Lee Min Ho, eh ga deng, Cuma mesin bergambar Lee Min Ho, sarapan di Kleeney dan mengecharge handphone. Kami sudah selangkah lagi menuju pulang. Sedikit demi sedikit menggeser folder memori konser ini ke suatu tempat istimewa yang mungkin akan sangat jarang dibuka.


PULAAANG

Yak saya pulang naik tigerair. Perjalanan pulang terasa singkat. Tak sesingkat kala menunggu Damri arah pasar minggu. Uang Singapura saya tersisa SGD10. Hei I made it! Cuma keluarin SGD50! Wuhuuu ...

Dan pulang dengan menebak tepat bahwa akan menemukan dua bocah yang lagi nonton di jam hampir makan siang tapi belum pada mandi plus cucian piring yang tak berubah tingginya di bak cucian hehehe ... Yuk, marii ....


PS: thank you suami, thank you yaw-yaw, n thank you Ditta :D

My Story: Sendirian, Semalam di Singapura #1


Seperti yang sudah diceritakan di postingan sebelumnya, saya sudah ada rencana menonton konser di Singapura pada 13 September lalu, lebih tepatnya YG Family in Concert. Yoi, perusahaan agensinya Bigbang, 2Ne1, Winner, Akmo, dll. Saya sih tentu saja ingin melihat TOP Bigbang (hohohoh....).

Ini sebenarnya rencana saya dalam rangka menuntaskan fantasi saya terhadap si Choi Seung Hyun alias TOP Bigbang. Sejak tahun lalu sudah berencana ingin menonton konsernya di luar Indonesia. KL adalah rencana awalnya, karena saya ingin bawa anak-anak ke Legoland Johor Baru. Sudah berhitung tetapi gagal menabung. Hingga kemudian terbitlah berita bahwa YG entertainment akan melakukan konser gabungan di Singapura. Ini seperti menepuk 2-3 nyamuk dalam satu tepukan!

Hari itu bulan puasa, iseng saya menghubungi salah satu rekan kerja junior saya di eks kantor. Saya tahu dia termasuk yang korean freak di mata saya. Gayung bersambut. Dan ketika saya kesulitan membeli tiket secara online, dialah yang membantu saya. Bukan tiket dengan harga paling mahal, dua tahun yang lalu saya sudah pernah melihat TOP dari pinggir panggung, jadi mundur sedikit ga apa-apalah, kudu realistis dengan bujet soalnya.

Lucunya, awalnya saya berniat tidak mau memberitahu suami terkait mau nonton konser di Singapura ini. Toh, saya hanya izin semalam, ga pake nginep di hotel. Bukannya ga mau bawa anak-anak, ga mampu bayarnya cuy.

Aih tapi rupanya, kartu kredit saya tidak bisa digunakan karena kodenya dikirim ke nomor handphone saya yang lama. Dan dalam keadaan terburu-buru juga kebelet, saya pun meminjam kartu kredit suami. Ketahuan deeeeeh ....

Walau kabar kehamilan ini agak bikin garuk-garuk kepala terutama karena hanya detik-detik menjelang keberangkatan, saya rasa keputusan ini pun dirasa paling tepat, karena saya tidak akan bisa menengok konser apa pun for the next 2 years! So i guess, saya harus benar-benar menikmatinya.


PERSIAPAN

Oke karena saya hanya sendiri berangkatnya, saya berencana hanya pergi dengan satu tas ransel. Hei, kapan lagi bawa ransel yang isinya bukan baju anak-anak? Saya tidak pergi bareng dengan teman saya yang disebutkan sebelumnya, dia pergi lebih dulu. Saya karena status ibu-ibu beranak dua harus menggunakan jadwal paling lambat pergi, paling awal kembali. Hehehe.

Dan jika terlihat dari paragraf sebelumnya, bisa dipastikan keuangan saya sebenarnya lagi ga bagus. Alias pas-pasan. Toh, saya tutup mata ketika memasukkan uang SGD60 ke dompet. Ya, saya hanya bawa segitu ke negara yang termasuk sebagai negara paling mihil di dunia. SGD10 saya minta dalam bentuk recehan alias SGD2, untuk biaya transportasi. Tapi tenang, suami secara sepihak membekali saya uang sejuta pas. Untuk jaga-jaga. “Daripada kamu nanti tiba-tiba telepon nangis-nangis karena ga punya uang.”

Rasanya ingin saya getok dia, tapi yah ada benarnya juga hehehe....

BERANGKAAAT

Pesawat saya berangkat pukul 9 kurang, tapi saya putuskan keluar dari rumah usai subuh. Menghindari anak-anak bangun yang kemungkinan akan menimbulkan drama. Suami sudah memanggil keponakannya sebagai bala bantuan. Kaos bergambar dua kartu King Queen dengan wajah saya dan TOP pun sudah diprint dan dipakai. (thanks to my big bro yang bersedia melakukan digitalisasinya walau sang istri lagi sakit).


Hari masih gelap begitu keluar Kalibata City. Saya menghentikan mikrolet yang berjalan cepat menuju lampu merah dan di sanalah saya menunggu damri. Saya baru tahu bahwa di jam segitu pun ada orang yang menawarkan tumpangan, yah ga tahu deh ini tawaran baik atau tidak. Toh saya hanya butuh damri. Sekitar 10 menit kemudian, damri itu pun datang dan membawa saya tiba di Soetta terminal 3 dalam waktu 45 menit.

Bandara. Rasanya saya tidak bisa dan tidak boleh berputar haluan. Saya bukan orang yang sering  menggunakan pesawat. Jika dihitung-hitung, saya baru menggunakan pesawat selama 4 kali dalam hidup saya. Jadi saya kurang pede dengan sistematisasi bandara. Maklum, bisa dikatakan saya jarang sekali bepergian jauh sendiri. Ke luar kota yang saya jalani sendiri adalah ke Bandung, itu pun selalu dijemput teman di stasiun. Saya selalu nyasar. Saya mudah melupakan sesuatu. You know, clumsy little sister. Ini seperti pengalaman yang tertulis di buku 30 Paspor (dan kebetulan saya mengedit seri keduanya hehehe). After this, saya benar-benar ingin mengajarkan anak-anak saya untuk berani dan pintar saat bepergian sendiri sedini mungkin.

Oke, hanya ada saya dan print out tiket. Use your eyes and ears, Ati. Saya mengantri tiket, imigrasi dan kemudian akhirnya duduk di ruang tunggu. Fiuuuh .... Saya naik Lion Air saat itu. Usai mendapat kursi yang persis di samping jendela (alhamdulillah), saya pun menunggu. Peringatan untuk mengenakan sabuk karena pesawat akan terbang sudah terdengar. Saya keluarkan sebatang kumpulan sugus untuk menghindari sakit kuping saat pesawat lepas landas dan mendarat. Dan rupanya itu pilihan yang salah. Harusnya saya beli permen karet saja. Untuk lepas landas pun pesawat mengantri, saya sudah kadung mengunyah sugus yang cepat sekali larut di mulut. Entah berapa sugus yang akhirnya saya makan hingga pesawat benar-benar lepas landas.

Sebenarnya saya tidak berhenti khawatir hingga kemudian  saya melihat catatan yang dibuka seorang bocah yang duduk di samping saya. Singapura adalah negara yang disiplin dan teratur. Okehlah, teratur, setidaknya ketika saya tersesat, saya tidak tiba-tiba berada di negeri antah berantah. Toh, saya ada teman yang hendak dikunjungi di Singapura dan tentu my partner in crime si sesama korean freak.


SINGAPURA, AKU DATANG

Yeah, like who care?

Dipijak juga bandara Changi ini. Saya tiba sekitar pukul 11 waktu Singapura. Ada sedikit sedih ketika turun dan melihat penumpang lain berfoto-foto dengan teman atau keluarga, sedangkan saya? Sepertinya terpaksa selfie, saya butuh dokumentasi untuk laporan saya hehehe....

Tentu saja tujuan utama adalah kloset. Mumpung masih di tempat yang jelas segala sesuatunya, mending dituntaskan saja di sini. Keluar dari restroom, senyum saya merekah lebar melihat deretan komputer. Oh yes baby, free internet. Ah, noraklah saya. Ya, gimana dong, pulsa saya hanya diisi Rp100000,- dan akan berada dalam flight mode hingga saya kembali ke Jakarta. Free internet adalah bentuk penghematan. Nah biar ga terlalu kelihatan ngiler, saya mampir ke sampingnya, ada rak brosur bandara. Bandara Changi kan memang terkenal memiliki hiburan yang lebih lengkap ketimbang Soetta, jadi yah pantaslah ada buklet yang menerangkan berbagai tempat kebanggan Changi. Saya duduk manis di sebuah bangku panjang sambil lama memerhatikan buklet tersebut. Barulah setelah itu, saya berjalan sok cool ke deretan komputer itu.

Halah, siapa juga yang liatin sih?

Komputer itu bisa digunakan selama 20 menit secara gratis, setelah itu mati dengan sendirinya. Kok bisa? Bisa dong, pasang kompi tersebut di meja dengan ukuran tinggi yang aneh dan tanpa bangku, maka Anda tidak akan mau berlama-lama di kompi itu hehehe ....

Saya gunakan saat itu untuk menghubungi teman saya, sekadar mengkonfirmasi apakah kami jadi ketemuan. Mengingat teman saya itu juga ada acara di tempat yang jauh dan konser yang saya datangi usai cukup larut. Mengirim pesan pada si korean freak, aih kusebut saja namanya, Ditta. Pegel pula awak nih. Pasang status norak yang menunjukkan lokasi. Dan sebenarnya itu cara saya mengatakan pada orang-orang yang memikirkan saya bahwa saya baik-baik saja.

Setelah itu, saya menyempatkan diri berkeliling Changi. Sekadar meluruskan kaki sekaligus pemanasan sebelum melakukan banyak aktivitas jalan kaki di Singapura. Yah overall, kaya mall lah Changi ini. Pemandangan luarnya biasa saja, cenderung gersang, tapi mereka membuat gemerlap di dalam, yah bolehlah. Ini namanya meningkatkan kualitas hidup secara mandiri.

Saya sebenarnya tertarik dengan tur gratis keliling Singapura selama dua jam yang ditawarkan Changi. Namun, sayang hanya berlaku bagi yang melakukan transit di Singapura selama 5 jam. 

Hanya berjalan-jalan sebentar tapi waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Saya setidaknya harus sudah ada di venue di Singapore Indoor Stadium pukul 4. Jadi, kalau mau jalan-jalan, kayanya harus keluar segera dari bandara.  Lalu saya berkeliling lagi, bukannya apa-apa, saya tidak tahu ke mana jalan keluarnya. *tepok jidat

Yah sudahlah, tanya saja.

FYI, saya itu rada parno sama segala bentuk pegawai semacam SPG, SPB, pegawai informasi, customer service, dan semacamnya. But i have to ask, kalau tidak mau ngider-ngider ga jelas. Yah sudah, saya tanya, “How do I get out of here?” oh Amy, tidak adakah kalimat berbahasa Inggris yang lebih baik dari itu?



Antrian di imigrasi cukup panjang dan lama. Saya lama menghabiskan waktu berdiri sambil melihat peta promo tempat wisata di Singapura, yang tadinya mau ke taman ini itu akhirnya fokus ke SIS saja mengingat sudah lama sekali saya mengantri dan ini sudah jam setengah 1. Perut mulai lapar. Bumil harus sering ngemil tapi diingatkan teman bahwa tidak boleh makan sembarangan di Singapura. Hadooooh.

Akhirnya saya tiba di hadapan petugas imigrasi. Cewe keturunan India. Baru ganti shift jadi segar banget. Sesegar pertanyaan tegasnya soal alasan saya tidak menuliskan alamat di Singapura. Yah, saya bilang saja, “konsernya baru selesai jam 10 malem kali neng. Pesawat berangkat jam 8. Ngapain juga bobok di hotel.” Hehehe, ga gitu juga sih ngomongnya. Lalu dia minta bukti tiket konser. Syukur ga lupa di print tuh tiket. Akhirnya saya boleh pergi asal meninggalkan nomor handphone, dan kayanya saya salah menuliskan nomor :p


DEBUT di MRT

Perlu bertanya pada satu petugas informasi lagi untuk akhirnya menemukan stasiun MRT yang memang terhubung langsung dengan bandara. Ini adalah sesuatu yang sangat praktis. Saya yang sudah girang ada transjakarta yang berhenti di Ancol dekat Dufan ini tentu kaya ketemu sebuah solusi paling cihuy ketika ketemu MRT. Apalagi saya menghabiskan banyak tahun menjadi anak kereta.

Namun yang pertama kali harus saya lakukan adalah, beli tiket. Saya sudah diberitahu soal mesin tiket, nah masalahnya saya tidak tahu cara menggunakan mesin tersebut. Mana tangan gue bau. Nanti saya digalakin pula sama orang Singapura yang dalam otak saya cukup galak jika menyebabkan antrian panjang.

Jadi saya lihat satu pasangan tengah mencoba menggunakan mesin tersebut. Kayanya mereka juga bingung. Ah mumpung sepi, saya coba mesin di sebelahnya. Daaan saya bengong. Dari pantulan mesin itu saya melihat ada yang mengantri di belakang saya, saya pun menyingkir dan membiarkan lelaki berbackpacker itu menggunakannya terlebih dahulu, sedangkan saya mengamati dari samping.

Tentulah lelaki ini sadar saya memerhatikannya dan usai dia dapatkan tiket, dia tanya pada saya apakah saya tahu cara menggunakan mesin tersebut dalam bahasa melayu. Saya menggeleng. Lalu dia pun menjelaskan. Which was pretty easy. Layar awal tekan pilihan “tiket regular”, lalu akan muncul rute MRT. Pilih lokasi, terlihat digit nominal di kiri atas, masukkan uang, lalu keluarlah tiket beserta kembalian.
lelaki bercelana pendek paling kanan adalah orang yang membantuku menggunakan mesin tiket MRT

Saya baru tahu belakangan ada cara yang lebih mudah lainnya dari Ditta. Dia pakai flazz card kalau ga salah. Jadi tinggal tap dan tap, ga perlu antri mesin tiket. Lain lah kalau sudah pengalaman.

Berbekal aplikasi MRT di handphone dan peta kecil di tangan, saya naik MRT menuju station Stadium.

Use your eyes and ears. Terngiang-ngiang di kuping saya, hingga kemudian saya sadar terlalu banyak menggunakan eyes ketimbang ears ketika MRT yang berhenti di Tanah Merah melaju mundur, kembali ke stasiun Expo. Kupingnya, Ti. Udah ada yang ngomong nih kereta Cuma sampe Tanah Merah, habis itu kudu transit.

Yah sudah, naik dari Expo, bisa juga kok. Yah lumayan lihat langit Singapura lagi, namanya juga MRT, sebagian besar di bawah tanah dan tertutup, ga ada pemandangan.  Cuma di Expo kita bisa lihat deretan apartemen macam Kalibata City Cuma dengan jendela lebih besar, tingkat lebih rendah, dan ga ada mobil yang parkir di bawahnya. Ah teringat mumetnya parkiran di Kalibata City. Orang sini jarang punya mobil kali ya?

Di MRT itu saya jadi punya kesempatan melihat bermacam-macam orang. Melihat aturan-aturan yang berbeda dengan di Jakarta. Bayangin, denda makan di tempat yang dilarang itu SGD5000, beda berapa nol tuh sama SGD50 yang saya selip di dompet?

Nyengir sendiri melihat oma-oma masuk MRT, lalu berdiri dan ... ngapain coba? Nonton film di smartphone-nya. Dia ga pake tablet segede gambreng loh ya. Smartphone-nya ga beda jauh dari milik saya. Kaya sinetron dokter-dokter gitu.


TIBA DI TKP

Station Stadium. Akhirnya sampai juga. Berpapasan juga dengan alay-alay berkaos beragam member YG Entertainment. Yak emak hamil di tengah alay Singapura (dan ternyata banyak juga yang dari Indonesia hehehe ... ga heran yak). Menurut blog review yang saya kunjungi sebelum ke Singapura, jarak stasiun dengan stadium itu 30 menit jalan kaki. Tapi dalam sudut pandang saya, begitu keluar stasiun, itulah stadiumnya. Haiyah ini mah deket. Langsung terhubung dengan Sports Centernya. Semacam Senayan kalau di Jakarta.

Tentu saja kali ini yang saya cari adalah tempat makan. Setelah memastikan di mana Singapore Indoor Stadium, saya menoleh ke arah seberangnya, ada mal. Yes, pasti ada tempat makan. Soalnya ga keliatan ada gerobak-gerobak penjual makanan. Padahal kan ada konser di sini.

Mal itu sendiri ga besar sih menurutku, hanya tiga tingkat tetapi memang masih mengusung tema sporty. Jadi di sana ada indoor wall climbing dan di lantai teratas ada arena main air. Saya sih mencari food court yang ternyata pendek saja. Kirain bohongan.

Dan seperti yang saya alami di Semarang, saya ’terpaksa’ cari yang halal. Kebanyakan konter pasti ada menu babinya, jadilah saya pilih yang hanya menyediakan makanan melayu. Nasi dengan ayam kuah kuning. Dan apa nama tempatnya? “Warung Padang”. Haiyah, emang ga bakat wisata kuliner gue. Menu seharga SGD4 sajah. Lumayan.

Minumnya belum beli. Saya lihat ada konter jus, tetapi konter jus ini terlihat lebih dinamis ketimbang di Jakarta. Bisa jadi karena di Jakarta kebanyakan konter penjual makanan pun menjual minuman. Saya pilih tropical juice seharga SGD4, yang disuguhkan dalam gelas toples besar. Secara kuantitas mungkin tidak akan cukup hingga konser usai nanti, but I need these vitamin C, ada nanas, jeruk, dan apalagi ya ... oh mangga. Rasanya segar di bawah terik matahari.

Usai makan minum yang cepat itu, waktu menunjukkan pukul 3. Mengecek posisi Ditta via FB (bahkan sampai sekarang aku ga tahu nomor hp-nya), lalu berjalan melihat sekitar. Sebentar saja memerhatikan dari balkon mal, sekelompok orang berlatih voli pantai sambil dibelakangi danau. Sambil mikir, kenapa di Senayan ga ada tempat buat voli pantai ya? Sepertinya luasnya ga kalah, yah mungkin bisa saja saya salah.

Nah dasar ibu-ibu, saya akhirnya lebih tertarik mendekat ke mana banyak anak-anak berkumpul. Sedang ada acara family event gitu di sana, jadi ada beberapa atraksi tambahan. Saya duduk di antara mal dan stadium hingga Ditta datang.



bersambung .... 

Minggu, 09 November 2014

My Story: Double Stripes, Again?



Setelah lebih dari dua bulan blog vakum, akhirnya mulai ada selera buka laptop. Emang kenapa sih, cyiiin? Yah seperti yang telah tertulis di judul. Tanda dari tongkat ajaib yang akan mengubah banyak hal.


Semua berawal sejak kepulangan saya dari Semarang. Saat itu saya dilanda lelah luar biasa, malas luar biasa, rumah jungkir balik, rasanya tangan tak kunjung sampai membereskan rumah yang seringnya lebih kecil dari ukuran kamar deluxe sebuah hotel. Belum lagi malas itu usai, saya merasa kembung. Saya pikir, oh mungkin ini efek mau datang bulan. Namun setelah lewat jadwal datang bulan, kembung itu selalu ada, dan si bulan ga datang-datang.

Saya bicarakan ini ke mama saya, apa pendapatnya saudara-saudara? “Menurut ilmu yang pernah mama pelajari, kembung berkepanjangan itu adalah tanda-tanda kanker usus.” JEENG JEEENG.

Segeralah saya dijadwalkan untuk bertemu dokter penyakit dalam langganan sekaligus favorit mama. Rasanya malas sekali ketemu dokter ini. Bukannya apa-apa, jadwal praktiknya jelang magrib dan dia bahkan masih harus bertatap muka dengan pasiennya hingga dini hari. Untung ganteng dokternya.

Nah selagi menunggu hari ke dokter, saya berkaca, kayanya ada yang aneh dengan perut ini. Bentuknya berubah.  Mancung. Oh, no.

Dalam curiga yang penuh ketidakpercayaan, saya belilah test pack. Ah, kayanya baru kemarin beli testpack. Baru kemarin bersorak sorai Safir lepas ASI. Baru kemarin menghapus popok dalam daftar belanjaan. Pokoknya semua baru kemarin deh.

Dan ternyata benar. Tak perlu menunggu dua menit, tongkat itu sudah menunjukkan dua garis bahkan saat masih dalam keadaan tercelup.

Are you kidding me, God?

Well, ga benar-benar saya ucapkan sih, tapi karena Tuhan Mahamengetahui saya yakin Dia pun tahu niatan lidah saya.

Sebelum berkomentar tentang niatan saya itu, biar saya ceritakan dahulu apa pasal saya ingin bertanya seperti itu.

Pertama, I don’t consider myself as a good mom. Maka dari itu, walau saya sudah punya rancangan nama untuk empat anak, saya memutuskan belakangan bahwa dua anak itu cukup. Because I’m not good enough. Masih ibu yang galak. Kebayang dong ditambah satu lagi. Ini tuh kaya lagi mumet kerja overload di kantor terus masih dikasih lagi kerjaan sama bos yang berlalu sambil senyum-senyum.

Awalnya saya mengingatkan diri bahwa di luar sana ada pasangan yang bahkan menanti anak pertama pun masih waiting list, so sudah sewajarnya saya bersyukur. Namun belakangan saya ralat, ini Tuhan yang memutuskan. Bukankah saya diajarkan untuk percaya bahwa apa pun keputusan-Nya adalah yang terbaik? Yang diberi, belum diberi, tidak diberi, dan diambil oleh-Nya adalah yang terbaik. Nah, pe er manusialah untuk mencari tahu sisi terbaiknya.

Kedua, how did it happen? Sejak saya terakhir datang bulan belum ada investasi. Investasi terakhir justru ketika beberapa hari sebelum datang bulan. Dan itu pun harusnya tidak ada investasi, ah ribetlah mau ngomongnya di sini, vulgar sangat hahahaha ....

Lanjut cerita, Senin malam itu saya membatalkan jadwal ke dokter penyakit dalam di hari Selasa dan tertawa geli dengan dugaan awal mama (walau kemudian teringat ada orang-orang yang menderita kanker di luar sana and it’s not funny), lalu menjadwal kunjungan ke dokter kandungan di hari Kamis. Agak terburu-buru karena saya sudah ada rencana nonton konser Korea di Singapura sendirian. Yup, you can say that again. Makanya saya perlu semacam konfirmasi untuk mempersiapkan diri.

Jadwal hari Kamis diundur menjadi Jumat malam, padahal Sabtu subuh sudah harus cabut. Alamaaak.  

Hasil dari dokter loud and clear, sudah ada kantung, usia 7 minggu. Dihitung-hitung, berarti ketika saya datang bulan, ovarium saya yang satu lagi sudah mengalami pembuahan. Dan itu semua akibat investasi tidak langsung alias ejakulasi di luar. Jadi para pelaku seks di luar sana, inilah bukti ketika Anda tidak menggunakan pengaman dan ejakulasi di luar, tidak berarti Anda akan terbebas dari yang namanya pembuahan. Hanya butuh satu sel sperma, tuan-tuan.

Oh iya, dokternya pun dokter yang menangani Malika dan Safir, dr Botefilia, jadi yaaah agak malu-malu gimanaa gitu ketemu dokternya sambil bawa dua krucil.

So here I am, still pregnant (alhamdulillah), memasuki 17 minggu, hasil USG sudah menunjukkan SATU kepala, dua tangan, dua kaki, semoga memang isinya satu janin. Please don’t surprise me more, God. Masih mual-mual dan pusing berkepanjangan, dan malas yang berkelanjutan (tapi sudah mulai membaik dengan bukti postingan ini), masih ga tahu bagaimana saya akan mengatasi semua ini, sepertinya saya akan butuh banyak doa dan berdoa.