Jumat, 18 April 2014

My Story: Being Flexible in Marriage

Sometimes I get upset when I was trap in a condition where flexibility was hard to get. Sometimes it was me, sometimes it was someone elses. A moment when I would breathe a sigh and talk to myself, "This is what happen when you married." well, I would said it in many varieties of tones. From the upset tone till the let it go tone.

For example, when I need to meet some friends with the kids. I prefer it at someone's home rather than in a mal. When it has to be in a mal, then I prefer a place with a playground, so it won't get the kids bored or being out of my sight area. You want a nice n relax chit chat with your friends, right? Especially when you don't bring your husband along.

Asking my husband to handle the kids alone is also another discussion. Is it weekdays or weekend? How long will it be? In my experience, I shouldn't be in the same area with them or you will be caught by them. And my schedule is in a lower level than his job, so .... Yeah .... Thank God, he has no job on the weekend. Not always =)

Sometimes it would be easier when I don't have to bring my husband along. At least there are no discussion about the distance, the place, or the relation between me, my friends, and him. Again, this is what we call marriage =D

After everything is fix. Then I need to wait the other side is fix too. Fiuh ...

 Don't want to assume it a burden actually, just need to practice my strategies. People said you need to have plan a, plan b, and so on, so there will be no such thing as failure. You can always do something else to have fun. Or for many people, doing nothing is a great pleasure.

Have a great long weekend everybody. =)


Kamis, 17 April 2014

Pelaku Kejahatan Seksual Baiknya Diapain Ya?

Lagi ramai petisi menghukum pelaku kejahatan seksual seberat-beratnya. Saya belum menandatangani petisi tersebut karena sedang memikirkan apakah hukuman yang pantas bagi seorang pelaku kejahatan seksual.

Saya pun melakukan mind mapping. Halah. Yang saya pertanyakan adalah apa sih fungsi penjara? Mengurung orang? Then what? Makan gratis kok. Ga bakal mati kelaparan lah para napi itu walau katanya satu sel umpel-umpelan. Ini seperti memenjarakan mereka yang ngaku-ngaku nabi atau malaikat. Keluar dari sel, ya mereka masih ngaku, dijemput pula oleh pengikutnya. Ide tidak akan pernah mati walau terkukung penjara, Soekarno sudah membuktikannya. Sama halnya dengan nafsu. Penjara tidak akan mampu menghilangkan kemampuan si nafsu memerintah kelamin laki-laki.

Dan mungkin seharusnya diberlakukan hukuman yang tepat sasaran seperti pemiskinan para koruptor. Para koruptor tidak takut dipenjara, mereka takut miskin, makanya nyari duit melulu. Jadi apa yang ditakutkan para pelaku kejahatan seksual? Gue berharap jawabannya adalah disabilitas ereksi. Dan karenanya saya menyarankan bentuk hukuman sebagai berikut:

1. Santet. Bukankah sering kita dengar ada santet salah satu suku di Indonesia yang melibatkan disfungsi ereksi pria? Yang konon si kelamin itu tergantung di daun pintu dan tidak akan mampu ereksi selain dari pemilik daun pintu tersebut? Nah, mungkin para dukun santet itu perlu memodifikasi santetnya agar si pelaku kejahatan seksual hanya bisa ereksi kalau melihat pohon karet dibolongin.

2. Cambuk. Cambuk kelaminnya. Biar nyeri tujuh turunan. Korban kejahatan seksual itu harus menanggung beban emosional seumur hidupnya. Enak aja pelakunya keluar lima tahun penjara, petantang petenteng, tidak kurang satu apa pun. Yah, kalau ga bisa dikebiri, cambuk ajalah, tiap hari dua puluh cambukan selama masa penjara. Biar nyerinya selalu terasa setiap kali dia jalan.

3. Diasingkan. Ke pulau Komodo. Biar dimakan komodo. Doyan ga mereka?

Again, saya masih lebih suka ide mengiris kelamin dengan parutan singkong. Rada sadis yak. Tapi pemerkosa itu adalah orang paling sadis sedunia. Hingga saya bahkan bingung harus menghukumnya seperti apa. U_U

Rabu, 16 April 2014

Bagaimana Mencegah Anak Menjadi Pelaku Kejahatan Seksual

rating 16: this note contains indecent language.
Itu masih pertanyaan besar bagi saya. hari ini kepala saya pusing membaca berita tentang kejahatan seksual yang terjadi pada anak laki-laki usia TK di sekolah yang selalu bikin macet pagi-pagi karena satpamnya segambreng, plus selalu ada polisi, saya juga pusing membaca tanggapannya dari berbagai pihak perihal mencegah kejahatan seksual terjadi pada anak. Belum lagi berita soal ditangkapnya seorang manajer bertitel s2 yang punya ribuan foto porno anak hasil tipu-tipu di FB.  Dari keriuhan itu, saya selalu bertanya sendiri, "what was on his mind?" Si pelakunya, maksud saya.

pedofilia atau tidak, saya suka tidak habis pikir sama para pemerkosa itu (termasuk yang pakai dalih suka sama suka), apa mungkin ada fase dalam hidupnya dia beralih dari manusia menjadi setan? Sama halnya jika membaca keadaan di Afrika yang tengah konflik. Anak-anak melahirkan anak-anak hasil pemerkosaan yang kemudian ketika si anak hasil pemerkosaan itu beranjak remaja, dia juga jadi pemerkosa dan saudara perempuannya menjadi korban pemerkosaan. Lingkaran setan banget. Padahal ibunya pasti ga ketawa ketiwi pas gedein anaknya, dan bapaknya pasti ga tahu ada di mana, jadi kenapa bisa terulang terus kejahatan ini?

Saya punya dua anak. Sepasang. Yang perempuan, saya doakan agar bebas dari kejahatan semacam ini. Dihindari dari sebuah peperangan di mana perempuan kian tak bermakna. Yang laki-laki, entah kenapa saya berdoa semoga dia tidak menjadi pelaku kejahatan seksual. Mungkin ada hubungannya ketika saya hamil Safir. Hormon testosteron saya mungkin bertambah, karena selama masa kehamilan itu saya selalu membayangkan tentang seks. Dan bukan terhadap si bapaknya anak-anak. Saya sendiri ngeri tapi bayangan itu memborbardir pikiran saya tanpa diminta. Saya bingung. Okelah, saya dulu pernah mengkonsumsi pornografi tapi kadar yang terpapar di pikiran saat hamil tidak sedahsyat dulu. Apa mungkin memang ada hubungannya dengan hormon? Apakah mungkin inilah yang dihadapi laki-laki sejak dini? Menahan gejolak hawa nafsunya sendiri?

Bukankah mimpi basahnya lelaki adalah pornografi alami nan legal? Sesuatu yang menunjukkan sosok lelaki secara fitrah. Dan anugerah bagi mereka bisa memimpikan berhubungan seks dengan wanita-wanita entah siapa. Jadi bagaimana si tulang rusuk bisa bersaing dengan tongkat tak bertulang? Konon karena tulang rusuk agak bengkok maka harus pelan-pelan meluruskannya, lalu bagaimana dengan kelamin pria? Selurus apa pun itu, tidak pernah menjadi tegang jika mengingat akan shalat. Well, mungkin ingat untuk ibadah malam Jumat.

Saya jadi ingat ada teman saya yang blak-blakan ngiler liat anak SMP. Konon karena sudah ada pertumbuhan bagian tertentu tapi. kelakuan masih kaya anak SD. Saya bergidik sendiri dengarnya, dia punya anak perempuan loh dan dia bukan cowo perayu wanita tapi bisa-bisanya mikir begitu.



Jika memang begitu, bagaimana cara mendidik seks pada bocah lelaki dari mulut perempuan? Itu dunia yang sama sekali berbeda. Mungkin itulah sebabnya peran ayah besar di sini. tapi kebanyakan lelaki suka dirty talk ke sesamanya. Ah, saya bingung lagi.

Dan tahu-tahu dapat tebaran kicauan gadis di medsos soal kebenciannya sama bumil yang meminta hak untuk duduk, rasanya pengen gue gebok. Eit, sabar ... Sabaaar ....

 Aih ... Anak-anak ... Doakan Amymu bisa terus memanjangkan doa selamatnya untuk kalian semua ....

*amy pusing, mau detoksifikasi dulu dari efek berita negatif

Jumat, 11 April 2014

Seandainya Bisa Operasi Plastik

Sejak kecil saya selalu berkhayal menjadi seorang penyanyi terkenal. Jika di awal-awal khayalan saya hanya membayangkan difoto sana sini, seiring dengan bertambahnya umur saya pun menambah adegan permak di dalamnya. Apa yang akan saya permak jika saya jadi orang terkenal. Dulu saya membayangkan sebuah make over luar biasa. Akibat nonton telenovela Maria Mercedes nih. Kini, lain lagi ceritanya.

Hal ini sejalan dengan percakapan saya dengan teman terkait sebuah acara bertajuk K-Style di starworld. Teman saya takjub ada yang melakukan make over bedah plastik yang bukan lagi bicara soal kerutan atau kelopak mata tetapi hingga operasi tulang. Bedah plastik yang melibatkan rekonstruksi ulang tulang ini bukan hal baru bagi saya. Dulu pernah ada lomba bedah plastik bagi mereka yang merasa tidak cantik. Buatan Amerika tapi kini di Korea pun ada acara serupa. Kompetisi yang konon membantu para wanita agar lebih percaya diri. Kalau lihat daftar permaknya, gila banget.

Saya jadi ingat saat di Kalcit Square ada sebuah produk bulu mata asal Korea membuka tenant di bagian tengah mal. Begitu melihat model di bannernya, alis mata saya terangkat. Gadis muda ini sudah melakukan operasi joker smile. Sebuah bedah plastik yang melakukan sayatan di tiap ujung bibir demi membentuk senyum lebar ala joker. Serem, yak.

Lalu saya kembali ke khayalan saya, apa yang mau saya permak?

Walau mama saya galak, tapi dia masih sempat-sempatnya mengatakan bahwa saya dan kakak saya adalah gadis yang cantik. Rambut ikal panjang, bibir berbelah, bulu mata panjang nan lentik- ehem kebetulan yang disebut adalah yang menurun dari mama saya hehehe. Not to mention kulit putih dan hidung mancung. Well pujiannya rada bertambah jadi ledekan ketika saya memasuki masa sewindu jerawatan. Toh, walau saya bukan anak yang percaya diri sekali, saya menyadari diri saya cantik. Cuma, kalau jadi terkenal rasa ada yang ingin saya perbaiki ....

LASER WAXING sejak beranjak remaja, urusan bulu jadi masalah buat saya. Maklum bulu saya ada di mana-mana apalagi di kaki. Bersaing dengan abang saya. Dulu mama saya bilang bulu kaki itu akan rontok sendiri, seperti dirinya. Tapi rupanya hal itu tidak kunjung terjadi. Dicukur, makin tebal. Diwax, hadeuh males ke salon. Jadi rasanya kalau jadi orang beken, ingin menggunakan laser yang digunakan Victoria Becham untuk menghilangkan rambut di tubuhnya secara permanen. Ide ini sudah ada sejak saya SD, rupanya memang benar ada alatnya sekarang.

PERMAK KULIT WAJAH Dulu waktu jerawatan, ingin banget masuk ke sebuah salon yang kemudian keluar-keluar sudah mulus kinclong. sekarang sudah ga jerawatan lagi, tapi pori-pori wajah saya besar. Namun ketika bertambah usia, pori-pori yang dulu menjadi sebab muka saya seperti tambang minyak goreng bocor, malah menjadi pelembab alami. Cuma, kudu difacial sesekali lah biar ga komedoan.

KONSTRUKSI BADAN Pernah terpikir perlu ga konstruksi badan? Terutama ketika habis melahirkan ga jelas gini. Selamat tinggal masa kejayaan ketika kurus, perut rata, lengan atletis kaya Michele Obama, walau paha tetap aja besar. Tapi kayanya operasi plastik juga bukan jawaban permanen kalau soal body. Kalau ga olahraga, sama juga bohong. Yah, urusan olahraga perlu komitmen tingkat tinggi nih. *ngelirik bodyslender nganggur.

SULAM ALIS & BIBIR bentuk alis saya memang berantakan. Pendek garisnya tapi tebal, jadi kudu artistik dikit membentuknya. Oleh karena tidak telaten, saya lebih sering membiarkannya awut-awutan. Konon sulam alis bisa membuat alis lebih rapi tapi saya rada ga ngerti cara kerjanya. Saya pikir sulam alis itu terkait pencabutan alis dengan benang. Tapi kayanya bukan. Maklum, saya ga mau mengambil metode-metode yang ga syar'i seperti tato alis.
Hal serupa saya inginkan untuk bibir. Bibir saya hitam. Dulu sih ga. Bukan karena merokok, sudah ga merokok hampir 10 tahun. tapi memang ada orang bibirnya menghitam seiring usia. Katanya sulam bibir bisa menghilangkan hitam-hitam di bibir. Well, ada cara alami sih pakai madu. Again, malas dan pelupa hehehe ....

Kalau diperhatikan sih sepertinya saya bukan perlu operasi plastik, tapi perawatan di salon lebih intens hehehe ... Dulu saya pernah merasa galau, kok cantik-cantik begini ga punya pacar. (sombong kok galau). Saya melirik sembarang orang sambil berkata dalam hati, yang ga secantik saya saja bisa punya pacar. Yang menarik adalah, orang yang saya perhatikan ini duduk di kereta berdampingan dengan si cowo dan ada teman perempuannya yang lain. Jadi si cowo diapit dua cewe. Saya bisa tahu yang mana si pacar, walau sejoli itu tidak sedang mesra-mesraan. Well, yang pasti yang terlihat lebih cantik. Bukan fisiknya. Tapi sekadar jepit rambut manis atau mungkin semburat merah di pipinya. Hal yang kemudian membawa saya pada kesimpulan bahwa semua wanita itu cantik, terutama yang jatuh cinta.

Serupa dengan moto saya yang lain, bahwa semua orang bisa menggunakan pakaian yang sama, tetapi tergantung pribadi sendirilah yang kemudian mampu mengeluarkan kecantikan yang berbeda-beda. So, be beautiful, feel beautiful, act beautiful, coz women are the Gods of beauty ...

OM SOPIR

M: Malika suka om sopiiir.
A: kenapa?
M: soalnya om sopir bawa mobil. Ke mana-mana dianterin om sopir.
Ya iyalah bawa mobil, kalau bawa pesawat namanya pilot. Itu komentar dalam hati saja sih. Malika ini emang suka banget sama sopir. Sopir apa saja. Berhubung ga punya mobil, jadi semua sopir dari taksi, angkot, bajaj, mobil sewaan, sampai orangtua temannya. Pokoknya yang pernah disopiri baik yang dibayar atau tidak alias nebeng.
Kedengarannya lucu-lucuan saja, tapi kalau disimak lebih mendalam mungkin saya yang jadi diingatkan untuk berterimakasih lebih tulus pada para sopir itu.

Saya sendiri memiliki banyak pengalaman pertemanan dengan para sopir. Semua punya cerita sendiri. Ada yang teman sekolah. Bahkan setidaknya ada dua teman saya yang menjabat sopir. Teman akrab loh, bukan sekadar kenal. Yang satu jadi sopir bajaj setelah sebelumnya menjadi ABK untuk kapal Rusia. Pengen juga ngerasain disopiri bajaj yang sudah sering ke luar negeri. Saya saja baru sekali. Sayang, dia malu menampakkan dirinya. Beraninya ngobrol lewat telepon saja hehehe ....

Lain lagi dengan nasib teman saya yang lain. Sempat mengenyam kuliah tapi rupanya selain faktor ekonomi dia juga tidak berbakat kuliah. Oleh karena sering dijadikan 'sopir' oleh ibu dan adik-adiknya, dia lebih memilih lowongan sopir perusahaan. Dan sepertinya dia juga tidak berpikir akan merambah karier dari situ. Saya sih sayang saja, dia sopir yang fasih berbahasa Jepang.

Bicara soal sayang, saya pernah berpikir bahwa pekerjaan sopir ini adalah pekerjaan membuang waktu dan sumber daya. Ini yang saya pikirkan ketika melihat gerombolan sopir di pinggir jalan atau di lahan parkir. Sebagian besar dari mereka nongkrong, merokok, atau tidur di mobil. Saya memikirkan nilai waktu yang bisa ditingkatkan jika mereka memiliki tablet murah untuk ... Ngeblog, mungkin? Siapa yang tahu potensi itu ada jika terus membuang waktu menunggu. Bukankah itu pekerjaan yang membosankan? Setidaknya bagi saya.

Namun lain ceritanya ketika keluar dari bibir salah satu sopir perusahaan tempat saya bekerja dulu. Dia dulu pernah menjadi sopir pribadi. Sibuk. Antar anak sekolah, lalu ke kantor si bapak, habis itu jemput ibu nyalon atau belanja, jemput anak sekolah, antar les, antar si ibu arisan, jemput bapak kerja. Capek banget katanya. Apalagi tidak disediakan makan di rumah. Nasibnya tidak lebih baik dari asisten rumah tangga. Yah, jalanan Jakarta memang keras.

Salah satu om saya pun menjadi sopir antar jemput sekolah. Mobil carry nya menjadi satu-satunya harta yang kemudian terpinggirkan sedikit demi sedikit karena sekolah memiliki fasilitas antar jemput yang lebih profesional. Mobilnya dimodifikasi tidak karuan. Dan akhirnya om saya itu pensiun tanpa dana pensiun sama sekali.

Saya jadi ingat pengalaman beberapa kali dengan sopir sewaan. Saya sendiri yang pusing memikirkan si sopir makan apa. Dan merasa bersalah jika lupa membelikan makanan atau minuman untuk si sopir. Walau konon bayaran untuknya sudah termasuk di dalamnya. Atau sopir sewaan saat mudik. Saya agak miris ketika dia mengatakan biasa tidur di mobil. Tidur ayam mah boleh, tapi tidur dari malam sampai pagi? Apalagi tujuan mudiknya bukan daerah kekuasaan saya jadi saya terpaksa elus dada ketika melihat si sopir tidur beralas tikar tipis di lantai. Maaf ya ....

Pekerjaan sopir memang serba salah. Saya pernah memberhentikan taksi saat magrib dari depan sebuah masjid. Rupanya taksi itu sejatinya hendak shalat di masjid tapi dia antara kasihan dan kebiasaan kerja, dia membiarkan pintunya saya buka. Dalam perjalanan saya komat kamit semoga si sopir tetap bisa menunaikan ibadah pada waktunya.

Itu pun bagi mereka masih lebih mending daripada sopir transjakarta yang bahkan untuk buang air kecil pun tidak bisa demi mengejar ketepatan waktu. Jadi, bagi yang mengeluh transjakarta yang terlambat, percaya deh, bukan telat karena si sopir buang hajat. Beda dengan sopir taksi yang jika lelah bisa meminggirkan mobilnya dan tidur. Pipis di semak-semak atau tembok-tembok terabaikan. Toh, masih sering juga ketemu sopir ngantuk.

Begitu sedang iba eh ketemu sopir metro mini. "Gue sehari bisa nyimpen 15 rebu. Lima rebu buat pulsa. Lima rebu buat makan. Lima rebu buat minum-minum." Pengen gue kemplang niy sopir. Miskin aja mabok.

Saya sering lupa siapakah sopir ini. Saya terbiasa tidak membaca nama sang sopir taksi yang jelas-jelas terpampang di sana. Kalaupun dibaca untuk kepentingan waspada. Padahal mungkin mereka termasuk jarang mendengar namanya dipanggil selama bekerja. Panggillah namanya, demi Memanusiakan sopir

Terlebih ketika lebaran tiba. Saya yang biasa tinggal panggil satpam di lobi untuk memanggilkan taksi di luar, ternyata harus menelan kenyataan bahwa sopir juga manusia. Lebaran pagi di Jakarta berarti jalanan kosong. Tidak ada taksi, angkot, bajaj, bahkan ojek. Yang abal-abal pun juga tidak ada. Mereka juga tidak mau meninggalkan berkumpul dengan keluarga di hari fitri. Ya, walau banyak sopir tidak puasa, tidak mengikuti pemilu, tidak ikut libur panjang, demi mengejar setoran tapi mereka tetap memilih ketupat yang tersaji di rumah.

Ah, sopir, nasibmu .... Saya harus belajar lebih banyak dari Malika, rupanya.

 Have you say thank you to your driver?

Rabu, 09 April 2014

Golput yang Ga Golput di Pemilu 2014

Akhirnya nge-blog lagi. Habis lihat grafik pengunjung yang sudah ngepel batas horisontal. Tulis yang enteng-enteng dulu lah, kaya pemilu 2014.

Sebenarnya kalau ditanya, saya bertahun-tahun golput. Namun, tetap datang ke tps. Biasanya hanya untuk merusak surat suara. Pan katanya kertas suara bisa disalahgunakan, ya sudah, saya coblos saja banyak-banyak. Kalau perlu buat motif =P.

Tahun ini juga masih golput. Pusing lihat fb war isinya politik melulu. Lebih senang lihat status yang ingin golput ketimbang yang promo, black campaign parpol-parpol. Toh, saya tetap datang ke tps. Buru-buru meninggalkan bocah-bocah di Kalibata sama ayahnya supaya bisa meluncur ke Kalibata. Oleh karena sudah kadung terdaftar di Tebet, saya ya ke tps Tebet. Biar ga terdaftar ganda.

Siang ini panas sekali. Pawang hujannya semangat sekali rupanya. Sebelum masuk, saya ke bagian samping dulu. Lihat-lihat caleg. Baru kali ini lihatnya. Mau sembari nge-google dah pusing kena terik matahari. Ya sudahlah, kita gunakan ilmu selfie. Konon foto selfie memiliki efek lebih besar untum keterkaitan emosi. Baiklah, saya pun memandangi satu per satu.

Partai sekarang lebih sedikit rupanya. Saya mencari caleg parpol-parpol Aceh, eh mungkin cuma ada di Aceh. Sudah tidak ada parpol berbasis agama. Well, berbasis agama Islam sih ada, tapi berkurang drastis, tapi yang basis agama lain sudah tidak ada. Baguslah, ga siwer matanya.

Ternyata kalau diperhatikan caleg itu cuma sampai nomor urut 7-10 ya. Tapi kok ya yang lulus macam si R itu? Kurang orang atau kurang duit? Saya sih lebih senang memerhatikan caleg DPD karena ga ada parpol-parpolnya. Cuma ... Kok ya ga ada yang kenal. Cuma satu. Itu pun dah tua. Aih, bapak ... Pensiun sajalah ... Oia, anggota dewan kan ga dapat uang pensiun. 

Selebihnya cari caleg perempuan saja. Yang konvensional, biar ga jadi anggota dewan yang menceraikan suaminya pasca terpilih. Agak terpikir juga siy sama orangtua teman Malika yang caleg, suka ninggalin tiga anaknya di apartemen lt 21 tanpa pengasuh, bo! Intinya sih, males aja lihat selfie-selfie bapak-bapak. Kok ya ga mengenin gitu ...  Yang ibu-ibu ga pakai kerudung tapi jadi pakai kerudung karena kepentingan foto plus dandanan heboh, sorry ... Ga minat.

Ketika masih bingung juga memilih di antara dua caleg dari parpol sama-ga suka juga sih sama parpolnya, saya pilih yang nomor urut akhir. Kasihan. Suaranya suka dilego buat nambahin kuota yang nomor urut awal-awal.

Ah, sudahlah. Yang penting saya pilihlah. Kata spanduk gede hijau di pancoran, "orang Islam pilih partai Islam. Ingat saudaraku, kalian harus mempertanggungjawabkan pilihan kalian di hadapan Allah Swt." yeah, right. Bete banget lihat spanduk itu. Harusnya tempelin tuh ke jidat caleg-caleg.
Eniwei, saya suka akhirnya bilik suara menggunakan karton. Dari dulu bingung, ngapain juga pake kaleng-kaleng rombeng itu. Kudu beli gembok segala. Gede-gedein anggaran saja. Habis itu penyok seketika. Penuh-penuhin tempat penyimpanan. Pokoknya ga praktislah.

Begitu melihat bangku saksi, kenapa sekarang sedikit banget ya? Ga ngikutin isu ini nih. Di tps saya tadi hanya satu orang mengisi empat kursi plastik kosong. Ibu-ibu paruh baya pulak.

Lalu tibalah giliran saya, eh sekarang ga contreng lagi ya? Kembali ke coblosss ... Rasanya gatal ingin selfie di bilik suara. Tapi ... Kan katanya ga boleh. Ga ada aturan tertulis sih.

Ya suds, kewajiban saya tuntas. Saya sih tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi kemudian. Mau koar-koar sampai kering tenggorokan juga ga bakal ada anggota dewan turun karena didemo. Eh, pernah ada deng, yang ketahuan nonton situs porno ituuh ..

Sementara itu di Kalibata terdapat kenaikan yang sangat signifikan. Dan sebagian besar belum mendaftar. Sayang, baru dibuka pendaftarannya jam 12 siang. Akhirnya jam tiga sore tadi masih sibuk mencoblos. Kebayang kan ada ribuan suara yang nganggur di sini.

Sementara itu melihat status mereka yang terpaksa golput karena bekerja, karena dirawat di rumah sakit, dan sebagainya, saya rasa persentase golput karena memang ilfil cukup berkurang. Maybe ....

Lang leve Indonesié =D

Selasa, 01 April 2014

Tak Permah Ada Kata Terlambat

Kapankah waktu yang tepat untuk menjadi seorang pemimpin? Sedini mungkin? Lalu siapa sajakah yang pantas menjadi seorang pemimpin? Mungkinkah semua orang mampu dan pantas menjadi seorang pemimpin?

Kapan dan siapa. Itulah dua jenis pertanyaan  yang sering saya ungkapkan di benak saya. Bagaimana tidak, saya 'hanya' seorang ibu rumah tangga. Saya memang pernah merasakan membawahi atau mengatur beberapa orang di dunia profesional, tapi kini tanpa tugas kerja tertulis seperti sekarang ini saya seperti gamang.

Sebagai orangtua, saya menyadari harus membangun sikap kepemimpinan pada anak-anak sejak dini. Namun, guru terbaik bagi anak-anak adalah orangtua dan sebaik-baiknya nilai adalah yang terlihat oleh mereka, bukan yang terucap. Itu artinya, saya pun harus bersikap sebagai seorang pemimpin. Dan itu ternyata sulit.

Sebagai bungsu yang dibesarkan sebagai bungsu, saya memiliki kepribadian yang sepertinya dimiliki banyak bungsu lainnya, kreatif tapi tidak aktif. Alias pasif. Kalau tidak disuruh, tidak dikerjakan. Kalau tidak tahu, tidak mau bertanya. Kalaupun bertanya, harus yang mampu menyelesaikan masalah dengan segera. Bahkan kalau perlu meminta orang lain yang maju dan memperbaikinya.

Setelah puluhan tahun dengan karakter itu, mampukah saya menjadi seorang pemimpin?

Rhenald Kasali dalam suatu kesempatan wawancara mengungkapkan bahwa seorang pemimpin adalah seseorang yang mampu memancing bawahan atau rekannya menembus batas nyamannya. Saya terlalu bersemangat mengaplikasikannya pada anak usia dua tahun. Hasilnya? Tentu tidak berhasil. 
Rupanya anak kecil itu harus diberi tahu terlebih dahulu bahwa tidak apa melakukan kesalahan. Lupa itu wajar. Jika gagal, ya diulang lagi. Urutan yang sedikit berbeda dengan orang dewasa. 

Saya ingat catatan pengajar di sekolah anak saya, bahwa Malika selalu meneriakkan jawaban untuk pertanyaan yang bukan miliknya. Hal serupa terjadi ketika dia berhadapan dengan adiknya yang hanya terpaut 19 bulan. Dia merasa tertekan dengan jawaban salah.

Saat itulah saya mengubah metode pemecahan masalah saya. Saya mencontohkan beberapa simulasi aksi yang gagal, sebelum akhirnya berhasil meraih tujuan. Pada saat itu, yang dipelajari anak adalah bagaimana saya mengatasi hambatan secara emosional. oleh karena saya menjalaninya dengan bercanda, baik Malika dan Safir lebih berani berbuat salah walau sudah diberi contekan beberapa kali. Tak apa. Akan ada waktunya saya mengajarkan standar kesalahan. Dan itulah sedikit dari banyak PR saya sebagai orangtua. Sekali lagi, saya masih tidak menganggap diri sebagai pemimpin.

Dan jika suatu hari anak-anak saya menjadikan saya sebagai acuan semangat kepemimpinan, maka itulah pengakuan sejati. Sementara itu, walau saya berada di garda ujung untuk menjadi seorang pemimpin, orangtua sejatinya adalah contoh pertama dari sikap kepemimpinan, saya masih harus banyak belajar. Harusnya belum terlambat mengejar ketertinggalan. Demi mencetak generasi muda dengan semangat kepemimpinan yang tinggi. Generasi yang berpikir panjang sebelum bertindak. Generasi yang mandiri. Sejak dini.