Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

SELASHAring: Tiga Tahun Lagi Setelah Tiga Dekade, Lalu Apa?



Usia 30-an bagi saya berlalu seperti angin. Rasa-rasanya saya tak bisa mengkorelasikan usia dengan peristiwa tertentu di dekade ke-3 ini. Tahu-tahu saya sudah dihadapkan dengan kalender baru dengan tahun yang baru. 2018, itu artinya sebagai kelahiran 1981, saya akan menginjak usia 40 tahun dalam tiga tahun lagi. Itu pun kalau masih diberi napas. Saya pernah iseng-iseng meng-google dan ternyata usia kepala 4 ini terbilang istimewa sehingga ada doanya segala. Ga tahu deh itu doanya sahih atau ga. Apa pun, itu menunjukkan bahwa ada sesuatu di usia yang katanya saatnya kehidupan dimulai.

Di antara pesatnya laju 30-an, saya mencoba mengerem pelan-pelan. Tiga dekade ini .. .saya sudah berbuat apa? Saya sudah jadi apa? Dan ada hal yang menarik tanya dalam diri sendiri adalah, betapa nama saya mengalami metamorfosa setiap dekadenya.

0-12 tahun
Inilah usia saya lahir dan kemudian bertumbuh. Jenjang pendidikannya hingga lulus SD.  Panggil saya, Ati. Ati, bisa dikatakan nama kecil saya. Asli tercetus dari mulut orangtua saya. Dipenggal dari nama belakang saya, Melati. Ati si bontot, yang mudah ngambek, juga sangat manja. Namun, masa kecil tak selalu indah di angan itu, menjadi dasar kehidupan saya selanjutnya.


13-19 tahun
Inilah yang saya anggap masa ‘teen’ (karena memang baru dimulai di thirTEEN). Usia SMP dan SMA ketika masih labil, pencarian diri dkk. Dan ternyata berpengaruh pada panggilan saya. Macam-macam panggilannya. Saya menjadi banyak hal. Di sinilah saya membentuk alur kehidupan saya. Mungkin bentuknya tak sempurna, penuh coba-coba.  Dan berjilid-jilid buku harian menjadi saksi, bahwa saya pernah menjadi Dilan. Hanya tidak pernah mengecap keberuntungan seperti dirinya. Eh malah curhat.




20-29
“Mulai saat ini, nama kamu HP Melati.” Begitu kata dosen saya ketika pada tahun 2000, nilai kuliah saya tidak keluar. Rupanya nama yang saya singkat demi alasan UMPTN tidak bisa diubah lagi. Padahal saya berencana sementara saja memakai singkatan seperti itu, terlebih singkatannya, walau dari nama saya sendiri, serupa dengan singkatan nama gebetan saya di SMA. Tapi alih-alih baper, saya seperti tengah mendapatkan legitimasi nama panggung saya. Entahlah, saya suka berkhayal menjadi orang terkenal. Lalu kemudian saya bermimpi, someday this name will be known globally, bersanding dengan karya-karyanya. HP Melati kemudian menjadi semakin paten, ketika saya kemudian memilih memperkenalkan diri sebagai “Melati” pada klien di tempat kerja saya. Biar kelihatan profesional hehehe ... Bukan Ati yang kekanak-kanakan, tapi Melati yang anggun.



30-sekarang
Lalu kemudian usia 30 pun datang. Ketika saya mengundurkan diri dari pekerjaan, saya pikir habislah sudah karier si HP Melati. Namun, ternyata saya dikejutkan dengan kenyataan bahwa sejak itulah cikal bakal saya kemudian dipanggil oleh para tetangga dan anak-anaknya dengan  sebutan  “Ami” . Panggilan anak-anak ke saya. Dan lagu hidup saya pun kini tak lepas dari status saya sebagai Ami beranak tiga. Ami yang galak dengan anak-anak yang chaos. Sungguh, deretan postingan blog dan foto-foto di medsos terwujud lebih karena saya seorang Ami. I guess my life is not so bad at all.




Dari tiga dekade itu, saya merasa seperti tengah memasukkan beberapa sendok susu bubuk dengan aneka rasa dalam gelas yang berbeda. Akankah beberapa gelas itu menjadi satu gelas minuman yang benar-benar berbeda dari bahan awalnya?

If I die, apa yang akan orang-orang ingat akan diri saya? Selain bahwa saya kidal dan buta warna? Sesuatu yang akan diingat anak-anak jika melihat atau memikirkan sesuatu ketika aminya sudah tiada. Maunya sesuatu yang indah, yang menginspirasi. Bukan rentetan omelan seperti tengah ospek di setiap pagi.

Yes, I’m kinda monster mom.

Namun, lucunya, hal yang paling sering saya khayalkan adalah melakukan perjalanan panjang bersama anak-anak. Ah, mungkin saya hanya ingin jalan-jalan ^^

Entahlah ... saya beberapa kali pernah menonton film tentang orangtua dan anak yang melakukan perjalanan panjang. Oprah bahkan melakukan tantangan melakukan perjalanan panjang bersama sahabatnya, sesuatu yang sangat dia hindari karena tahu biasanya suka ada drama. Namun ketika melihat berita tentang sepasang kakek nenek keliling Eropa dengan mobil ber-plat B, saya merasa mimpi saya mungkin tidak sejauh itu.

I want to create our journey, our story.

Create atau cipta sebenarnya adalah motivasi yang sudah lama saya pendam atau lebih tepatnya lama saya tunda-tunda. Selama ini, hanya seperti memanaskan mobil di akhir pekan tanpa benar-benar mengendarainya. Hanya berkutat di blog yang juga tidak ambisius.

Menulis dan menyanyi adalah dua-duanya yang dapat saya lakukan secara alami. Dan sudah sejak lama sejak terakhir kali saya menuliskan ‘nyanyian’ saya. Dalam puisi, dalam larik, dalam prosa ... Maka saya rasa waktu tiga tahun lagi itu adalah saat yang tepat untuk comeback. Dan jejaknya dimulai dari sekarang. Saya mungkin bukanlah sosok yang cocok menjadi seorang influencer, tapi saya tak pernah keberatan jika dapat menghibur. Saya memang galak, but I love to tell stories ...

Lalu apa kesimpulannya?
Jelang usia 40 tahun ini akan menjadi sebuah perjalanan hidup bersama keluarga yang diiringi dengan nyanyian dan sebuah cerita yang tercipta di setiap belokannya. Saya kan mengisahkan lagu dan melagukan kisah ... dan akan saya bagikan kepada dunia. Tunggu saja tanggal mainnya. Insya Allah.

Minggu, 16 April 2017

Everybody’s Hurt di “KARTINI”


"Ibuuu!" jerit seorang gadis kecil sambil ditarik-tarik dua anak laki-laki.
"Panggil Nyi!" kata salah satu anak laki-laki yang sepertinya sudah hendak remaja.
"Itu ibu kita!" tangis si gadis pecah. 

Film Kartini seolah hendak memberikan tempo lambat dengan sorotan kaki dan lutut yang bergantian memasuki lantai, tetapi yang terjadi tak lama dari itu adalah ... banjir airmata. 

Kartini yang disutradarai Hanung Bramantyo ini mengambil kisah Kartini sebelum menikah. Bahwa Kartini sejatinya telah menjadi 'Si Kartini' sejak kecil. Dia mengembangkan sayapnya sendiri dan kemudian tetap melambung terbang walau akhirnya menikah. 

Namun, Kartini tidak bangkit sendirian. Jika kunci menuju 'pintu keluar' kamar pingitan tidak diberikan oleh masnya, Kartono, mungkin dia masih merutuki dalam gelap terkait tradisi menuju seorang Raden Ayu. Dan Kartini mungkin tidak akan mendapat kesempatan meraih pendidikan Belanda saat kecil, jika romonya tidak menikahi seorang putri bangsawan sebagai istri kedua. 

Masing-masing generasi wanita Jawa dengan caranya sendiri berkorban demi kehidupan keturunannya yang lebih baik.

Beberapa waktu buat Daun Semanggi, ternyata Het Klaverblad merupakan nama pena Kartini bersaudari

Perjuangan yang nyata memiliki halangan yang nyata pula bagi Kartini, tetapi karena diambil dari kehidupan nyata, tak ada orang yang benar-benar ditokohkan jahat murni, semuanya memiliki alasan yang tak kalah pilu. Dengan kata lain, semua orang punya lukanya sendiri walau tujuannya sama. 

Film yang dibuka dengan airmata ini, ditutup dengan airmata pula. 

Sudah lama ingin lihat film Kartini, karena sempat ada penawaran pre screening bareng alumni FIB UI tanggal 7 April lalu. Sayangnya, waktunya ga cocok sama ibu-ibu. Eh masih diberi rezeki nonton saat tawaran pre screening muncul di grup Komunitas Emak-emak Blogger, boleh bawa teman lagi. Waktu dan tempatnya pun cucok. Dan saya pun cuss ke cinema XXI hollywood. 

Yang saya perhatikan di sini adalah Dian Sastro yang memang banyak menggunakan bahasa Belanda walau pernah berkeliaran di kampus yang sama dengan Distro di FIB UI, sayalah yang mengambil jurusan bahasa Belanda. Dan bagi saya, pengucapan Dian di film ini bagus sekali. Ga jadi deh mau saya kritik. Terbayang latihannya. 

Cara Hanung meramu momen-momen Kartini saat melahap buku dan berkorespondensi pun cukup menarik. Kita dibawa ke imajinasi Kartini dan kemudian turut merasakan besarnya keinginan Kartini untuk pergi ke Belanda.

Saya tergelitik ketika mendengar sebaris dialog saat ayah Kartini ditentang keluarganya terkait beasiswa pendidikan Kartini ke Belanda. "Kalau dibiarkan, nanti ditiru orang miskin. Nanti bisa ada anak tukang kayu jadi raja!" ^^

Saya punya kebiasaan tidak membaca siapa saja para pemainnya dalam sebuah film sebelum menonton, jadi saya terkaget-kaget bahkan hingga credit title. Eh ternyata ada Djenar, eh ternyata ada Reza Rahadian (orang ini ada di mana-mana yak), eh ternyata itu Acha Septiasa. Dan jangan lupa, Christine Hakim juara aktingnya. 

Keluar dari bioskop rasanya ingin segera melahap lebih banyak lagi tentang Kartini. Teringat akan buku kumpulan surat Kartini yang merupakan hadiah tapi lama tak disentuh. Belum lagi bakal ada novel Kartini  yang bersanding dengan filmnya dan akan diterbitkan oleh noura Publishing tak lama setelah filmnya resmi meluncur di bioskop-bioskop. Must have. Biar semangat jadi perempuan. 

Walau Kartini tidak jadi mengambil beasiswa pendidikan ke Belanda, tetapi kini di Belanda justru tertera namanya sebagai nama jalan. Jadi bagaimana cara kita mengapresiasi perjuangan Kartini? Tentu lebih dari menjadikan tanggal 21 April sebagai hari kebaya nasional kaaan ^^

Menulisi Kutipan Kartini di tas. Iseng ^^

"kita bisa menjadi manusia sepenuhnya tanpa berhenti menjadi wanita sesungguhnya." R. A. Kartini. Namun semua itu perlu usaha, perjuangan. 

Seperti kata Mas Kartono, "jika cita-cita bisa dihadiahkan, kamu tidak akan bisa jadi Pandita Ramambai"





Minggu, 20 November 2016

CREATIVITY IN A SQUARE: Syi’ar dalam Sepetak Kanvas – Qonita Farah Dian


sumber foto: Instagram @Qonita_farah_dian


Waktu sudah mulai mendekati pukul 11 siang, seorang wanita yang tadinya tengah sibuk dengan tube-tube cat acrylicnya di sebuah gazebo di pinggir kolam renang di Green Palace, Kalibata City, merapikan kembali bercak-bercak idenya lalu bersegera meluncur menjemput putra semata wayangnya pulang sekolah.

Namanya Qonita Farah. Setelah menerima pertemanannya di Facebook, saya terkadang membiasakan diri memanggil dengan nama aslinya ketimbang panggilan sayang para mama di sekolah yang sering melibatkan nama anak. Sejatinya kami bertetangga di Kalibata City, tapi baru bersua saat kedua anak kami berada dalam satu kelas di TK yang sama. Tak lama, kami pun bergabung di sebuah komunitas yang sama di Kalibata City, Friday Fun Club. Dari kegiatan FFC lah, saya baru mengetahui bahwa ibu ini adalah seorang pelukis.

Pertama kali mengetahuinya, I was like what .... ? Namun kemudian saya ingat reaksi para tetangga ketika saya katakan menerima orderan kue. Reaksi yang wajar terbentuk karena betapa ‘luasnya’ unit kami. Tetap saja, saya lama ternganga. Melukis adalah pekerjaan yang secara fisik membutuhkan ruang dan waktu. Beda dengan kue, yah sehari dua hari lantai berminyak. Setelah uang diterima, beres pula dapurnya ^^. Apalagi jika dibandingkan dengan aktivitas saya sebagai blogger atau editor, hanya perlu laptop. Itupun harus tunggu anak3 tidur, biar aman. But to paint, really?

“Seringkali kita menjadikan banyak hal dalam hidup sebagai alasan. ‘Karena menikah, jadi terbatasi. Karena punya anak, jadi terbatasi. Karena ruang sempit, jadi terbatasi’. Semua batasan itu sebenarnya hanya kita buat sendiri, yang akhirnya hanya membuat kita berhenti (boro-boro jalan) di tempat. Ketika teman-teman kita sudah ke bulan, kita tidak ke mana-mana.”

Saya jarang bertemu dengan pelukis atau seniman betulan. Yang pernah saya temui hanya seorang seniman dari kampung mama saya bernama Itji. Konon termasuk salah satu pelukis terbaik yang pernah ada di Indonesia. Dandanannya nyentrik dengan jaket biru. Saya pikir (dan dengan melihat banyak film tentang seniman) itulah pencitraan seorang seniman. Makanya saya agak sulit menyandingkan kata ‘pelukis’ dengan seorang ibu rumah tangga berparas ayu dengan tutur kata lembut itu.

“Dulunya sih pernah arsitek.” Selorohnya di awal-awal perkenalan kami.
Terkadang saya tidak tahan untuk kepo terkait latar belakang pendidikan tetangga saya di Kalibata City. Ada yang berbeda dari mereka, walau statusnya sesama ibu rumah tangga dengan kegiatan mayoritasnya adalah antar jemput anak.

Lakonnya sebagai arsitek tak lama memang disandang Mba Farah. Dinas suami mengharuskan dirinya turut berpindah-pindah kantor. Dari Jakarta, Jogjakarta, Semarang, lalu kembali lagi ke Jakarta. Hingga kemudian, dia memutuskan tak lagi menjadi pegawai kantoran. Namun, menjadi ibu rumah tangga sedangkan buah hati belum kunjung tiba, terkadang menimbulkan sepi di hati, itulah yang kemudian mendorongnya melukis di atas kanvas. Rupanya, memang tidak ada hal yang muncul secara mendadak.

“Alhamdulillah saat duduk di bangku SD, pernah beberapa kali menjadi juara di lomba gambar. Hanya saja kegiatan ini berhenti sama sekali begitu masuk SMP hingga kemudian duduk di bangku kuliah menekuni ilmu arsitektur. Ada banyak bekal yang didapat dari kuliah, mulai dari komposisi bentuk dan permainan warna. Setelahnya saya banyak membaca buku-buku tentang teknik melukis dan beberapa biografi pelukis. Namun, kanvas baru benar-benar menjadi fokus melukis pada tahun 2007 ketika pindah ke Semarang.”

“Pada tahun 2010, di Jakarta, saya mendatangi sebuah pameran yang diselenggarakan IWPI (Ikatan Wanita Pelukis Indonesia). Di sana, saya sempat berbincang-bincang dengan salah seorang pendirinya. Merasa diterima dengan hangat, saya pun bergabung.”

keterangan: sharing melukis di kegiatan FFC


Kini, fokus lukisan Mba Farah adalah di kaligrafi kontemporer yang dapat dilihat di Instagramnya @qonita_farah_dian Kalau diperhatikan, latar sebagai arsitektur senantiasa terbawa dalam lukisannya, apalagi ketika saya mendapat kesempatan melihat lukisannya saat masih berbentuk sketsa. Dengan segala garis-garis lurus itu ^^. Dan ada penggaris tergeletak di dekatnya.

“Tantangan melukis di kanvas adalah teknisnya alih-alih tahapannya. Coba-coba menggunakan cat minyak dan acrylic. Tapi karena kemudian saya punya bayi dan tinggal di unit yang terbatas, penggunaan cat minyak saya rasa terlalu tajam baunya sehingga khawatir akan berbahaya bagi kesehatan. Akhinya saya memilih acrylic yang lebih aman.”

“Ada masa-masa saya sempat mencari jatidiri dalam melukis. Namun yang paling utama dibangun adalah kepercayaan diri dalam melukis. Keisengan mengikuti seleksi golden box yang diselenggarakan Jogja Gallery dan kemudian diterima, sungguh menjadi alat pacu yang sangat berguna dalam proses saya menjadi pelukis yang lebih percaya diri dan kemudian menghasilkan karya-karya yang lebih baik.”

“Awalnya memang tidak PD untuk menjual, tetapi ketika sedikit demi sedikit karya saya terpasang di dinding rumah saudara saya, kawan, atau kerabat, itu menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan. Sehingga saya semakin semangat, semakin yakin dalam menggeluti passion ini.”

Dari sekian banyak genre lukisan, kenapa kaligrafi? Bukankah pencitraannya agak pasaran? Pikiran saya melayang ke kios-kios penjual bingkai.  Apalagi dengan latar belakang pendidikan yang terdengar keren itu.

“Mungkin faktor usia juga yang membuat saya memilih kaligrafi. Dengan melukis kaligrafi saya turut terlibat dalam syiar Islam. Saya berharap hal ini diridhoi Allah dan lebih bermanfaat bagi orang banyak sekaligus menjadi energi positif bagi diri sendiri.”

“Justru karena sadar orangtua sudah menyekolahkan hingga S2, alangkah kasihan mereka jika ternyata saya tidak menjadi apa-apa dalam artian tidak bermanfaat untuk orang banyak. Dan alhamdulillah keluarga, terutama suami , sangat mendukung dan tidak bosan-bosannya memberikan motivasi pada saya agar bisa terus berkarya.”

 Dari unit yang berluas tidak lebih dari 35m3 ini, menurut Anda berapa yang dia hasilkan setiap bulannya?

“Tidak pasti. Pernah mengalami pesanan hingga 25 lukisan ukuran kecil/sedang. Pernah juga tidak ada pesanan dalam sebulan. Namun, kalau dirata-rata sekitar 1—4 lukisan setiap bulannya.”
Ruang boleh terbatas, tetapi ide tak akan bisa dibendung. Mimpi tak akan pernah surut. Jika kita membiarkannya.

“Ide-ide kreatif memang biasanya lebih nyaman ketika dalam keadaan sepi, tapi pengerjaannya bisa kapan saja. Di depan TV bisa, di atas kasur pun oke.”

“Suatu hari nanti, ingin sekali bisa  pameran tunggal di dalam dan di luar negeri. Punya galeri yang bisa menghidupi banyak orang. Juga bermanfaat untuk lebih banyak orang lagi. Ini mimpi atau khayalan ya? Entahlah hihihi ...”

Kata orang life begin at 40. Wawancara ini dilakukan pada Juli 2016 lalu, dan hari Minggu ini, di bulan November 2016, beliau akan berangkat ke Aljazair untuk pameran. Semoga semakin banyak dinding yang ‘bertasbih’ karenamu.
Doa terbaik untukmu, tetanggaku ....


Rabu, 18 November 2015

RABUku: Mamomics part 2 – 9 Bulan Menanti Keajaiban


Ini adalah bentuk bayar utang setelah sebelumnya membuat review Papomics karena ada abang saya sebagai salah satu kontributornya, sedangkan di saat yang hampir bersamaan, Mamomics 2 pun terbit dan ada nama-nama yang merupakan sahabat abang saya dalam dunia perkomikan lagi-lagi menjadi kontributornya.


Dari dua seri Mamomics yang terpajang di rak toko buku, saya pilih yang kedua karena tema yang lebih spesifik juga terbitan yang lebih baru daaan saya yang juga baru lahiran anak ketiga #uhuk

Cerita kehamilan dan melahirkan selalu luar biasa bahkan dalam keadaan biasa-biasa saja. Namanya juga berpartisipasi langsung dalam proses penciptaan, itu kan sesuatu yang luar biasa, sehingga jika badan pun bereaksi luar biasa, itu wajar. Sebagai ibu beranak tiga, rasanya malu banget mau membanggakan diri. I mean, hamil dan melahirkan itu kan bukan prestasi. Walau perasaannya memang fantastis. Membaca cerita dari empat ibu dan satu lajang yang keibu-ibuan ini sebenarnya lebih menekankan betapa kita harus saling berempati dan bertoleransi setidaknya antarsesama perempuan. Jadi, ini bukan ajang pamer siapa yang paling menderita atau siapa yang paling gampang. Semuanya ada porsinya.

Setidaknya itu bagi saya pribadi.

Saat hamil anak ketiga, saya rasanya payah banget karena keluhan fisik yang tak kunjung usai. Namun, ketika baca cerita kehamilan Mba Harley yang ga hanya mual-mual dkk tapi juga sebentar-sebentar pingsan, i guess semua ada kesulitan dan kemudahan. Untuk mba Harley yang suka pingsang, senantiasa ada suami yang baik hati dan sigap menangkap. (eh iya tak?). Coba kalau saya yang begitu? Kebayang dong pingsan di antara dua bocah pecicilan di apartemen. >.< btw, abang saya jadi cameo di komiknya Bu Harley ini hihihiy ... telat banget ya.

Ketika saya agak sombong bercerita pergi ke RS naik ojek sendiri jelang melahirkan, rasanya saya mau edit ucapan saya ketika membaca kisah Dydy yang tidak hanya naik kereta tapi juga jalan kaki menuju RS sambil mules dan melahirkan sendiri karena sang suami menemani anak pertama yang sedang sakit. Maklum, tengah merantau di negeri orang. Kalau bagi sebagian orang, melahirkan ditemani suami itu rasanya ingin mencakar-cakar mukanya, bagi saya melahirkan ditemani suami itu ekstra kekuatan—ini kata seorang ibu di bus ketika saya hamil anak pertama. Jadi kalau ada yang melahirkan sendirian itu ...  hadeeeuh ...

Jika saya merasa beraaat hamil sambil ngurus dua balita, nah bayangkan ketika ada dua bocah di dalam perut seperti pengalaman kehamilan kedua mba Dyotami ... ga mau bayangin ah, linu perutkuuuh. Hamilnya pe er. Melahirkannya pe er. Ngurusnya apalagiiiih ....

Dan kalau menyimak komik hasil ga sengaja dengar dari ruang bersalin di sebelah Mba Ani usai melahirkan dengan segala kehebohan saat mengedan, lagi-lagi saya berucap alhamdulillah Cuma perlu satu kali buka jalan selebihnya menggelosor dengan sendirinya. Mulas? Ya iyalah. Mau hanya setengah jam seperti saya atau semalaman, yang namanya mulas mau melahirkan ya sakit.

Setelah melahirkan beberapa kali, saya suka ingat-ingat dulu ketika masih lajang apakah saya sudah sebijak Neng  Lia Hartati dalam memandang kehamilan dan ibu hamil secara umum? Ah, mungkin belum. Waktu itu saya belum banyak bergaul sama ibu-ibu sih, jadi bawaannya ingin komentar, “ah, ibu hamil lemes itu Cuma perasaan aja” dan bla bla bla omong kosong penuh kesombongan. Yak, sampai saya ketemu  hamil payah tanpa bisa saya hindari.

Akhir kata saya tak habis terkagum-kagum dengan ibu-ibu pengomik ini. Nemu di mana sih waktu ekstranya? Ngiri euy bisa gambar bagus ^^ Ada yang sederhana, ada yang detail, semuanya istimewa .... selanjutnya kira-kira temanya apa ya?

(eh beli dulu yang seri pertama hehehe ...)


Kamis, 05 Maret 2015

KAMYStory: ‘Kadocholic’

Banyak dari kita yang memiliki hobi belanja, baik wanita maupun pria. Variannya pun berbeda-beda, khusus wanita biasanya terkait dengan fashion, entah itu bagcholic, shoecholic atau yang bebas gender seperti bookcholic. Ada yang bisa mengatur ke’cholic’annya itu, ada yang tidak. Nah, saya termasuk yang nyaris tidak bisa mengatur (agak denial sebenarnya pernyataan ini hehehe). Tapi sub varian saya agak berbeda, karena tidak bisa diukur dari tingkat kebutuhannya, yaitu ‘kadocholic’. Okelah ini pemerkosaan kata memang, tapi ga enak kalau bilang ‘presentcholic’.


Persisnya ga pernah tahu siy, tapi mungkin sejak kuliah ketika saya dapat uang jajan lebih. Saya menemukan hal yang sangat menyenangkan ketika bisa membelikan kado untuk teman-teman saya. Well, sejak SMP sebenarnya sering diajak teman-teman cowo untuk memilihkan kado buat pacar mereka. Mulai dari pacar yang memang teman sendiri, hingga pacar yang ga pernah dengar profilnya sama sekali kecuali di hari itu. Biasanya pas valentine tuh. Ah, saya lupa, waktu SMP kan juga nyari kado buat pacar (halah) sedangkansejak SMA sibuk cari kado buat kecengan yang ga ada satupun jadi suami hihihiy. ..  Emang ya, lawan jenis bikin kita konsumtif.


Saya sendiri termasuk jarang kasih kado ke teman pada saat itu, maklum tak punya duit. Biasanya saya kasih kartu buatan sendiri-dan dari bahan daur ulang. Rasanya dulu memang ingin memberkan yang sesuai profilnya. Apalagi kalau ketemu teman dengan kesukaan spesifik, senang banget nyari kadonya. Makanya pas kerja saya jadi royal banget.


Nah karena itulah saya jadi tidak bisa ukur berapa sebenarnya bujet untuk kado. Tidak bisa ukur kebutuhannya, karena rasanya ingin kasih ke semua orang setiap hari. Berasa sinterklas ya gue. Apalagi begitu sudah punya anak dan masuk sekolah, jadi ada kebutuhan untuk menyetok kado dari berbagai usia, jenis, dan warna hahaha.... Soalnya gimana ya? Saya kan jarang bawa uang tunai, jadi kalau tiba-tiba ketemu teman atau saudara yang jarang bersua terus bawa anak rasanya ingin kasih buah tangan atau tetiba anak pulang dengan goodie bag, hiya ada yang ultah, masa kita ga ngadoin balik? Yah, kalo kepepet kasih uang. Cuma berasa nenek-nenek gue, hehehe ....


Sasarannya pun suka tidak pandang bulu. Ga harus teman dekat, teman dekat itu membantu saya dalam pengelompokan profil, sukanya apa, tapi ada juga yang ga teman dekat tapi terkenal dengan kesukaan spesifiknya, ya biasanya saya kasih juga. Momennya juga ga harus selalu ultah karena terkadang ketemu barangnya ga pas jelang ultah. Seringnya aji mumpung, mumpung ada hepengnya. Makanya sering kejadian tagihan kartu kredit gede tapi barang yang ada di rumah ya itu-itu aja, ga ada bekasnya selain plastik pembungkus hahaha ... maafkeeun suami, kan bayar sendiri kok tagihannya.


Saya malah pada dasarnya tidak suka kasih kado uang, kok kaya ga kreatif. Kaya ga meluangkan waktu. Memang, ketika menerima kado saya lebih suka mendengar cerita di balik itu ketimbang kado itu sendiri. Semakin susah payah, semakin saya apresiasi. Yang ga bersusah payah tapi tepat pun juga saya apresiasi. Pokoknya keliatan deh mana yang asal-asalan. Tapi ga papa, sudah ada niat baik ... saya apresiasi juga. Toh, saya juga ga berharap apresiasi juga sih, kan pasti ga selalu kado saya pas buat keinginan para ‘korban’. Biasanya terlihat dari rautnya sih dan kalau saya tidak puas , jadi penasaran untuk cari kado yang lebih baik.


Yang lucu adalah ketika mengaku diri agak terobsesi membelikan kado, saya malah merasa belum pernah memberikan kado yang tepat gunjreng ke orang-orang terdekat saya. Semisal orang tua, my siblings, even suami. Kasih yang ecek-ecek kayanya ga maknyus. Level mereka dan kedekatan saya harusnya yang kasih kado semacam tiket inggris-jakarta pp, tur mudik padang-aceh bareng cucu dan menantu, nonton n masuk langsung ke stadion Anfield, bawa ketemu Michael Jordan, atau sekadar menyusuri jalan legendaris Sherlock Holmes. Banyak ya bo !


Yah sudahlah, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan belum sampai. Hal semacam inilah yang menjadi booster saya ketika memerlakukan uang. Emang ga selalu punya waktu untuk cari uang sih, uang yang ada saja habis terus hahahaha ... Konon, jangan tunggu punya uang banyak atau tunggu hari ultahnya tiba baru dikasih kado, whenever you like whenever you have something, it will always taste better when you share it. Tapi ingat ya, jangan kebablasan ... you can’t buy friendship anyway.


Jadi, beli kado apa bulan ini? (dipelototin suami)




Jumat, 02 Mei 2014

Diary Sang Zombigaret: Membayar Dosa Masa Lalu si Gadis Perokok


Uhuk uhuk.

Suara batuk itu terdengar lagi di sela tawa mereka. Dua bocahku. Pilu rasanya hati ini setiap kali aku mendengarnya. Ketika kenyataan menghantamku seratus kali lebih hebat. Lebih nyata dari setiap ngilu yang kurasakan saat ini akibat efek kemoterapi. Ya, bagi seorang ibu, sakit anak adalah derita. Dan lebih menderita lagi jika sakit itu ditularkan oleh aku, ibunya sendiri.

Awalnya hanya pemeriksaan rutin anak-anak ke dokter anak langganan kami. Namun, melihat tubuh kedua anakku yang turun drastis berat badannya akhirnya pemeriksaan berlanjut menjadi rontgen dan kemudian suntik mantoux. Hasilnya, positif TB.

Aku langsung melirik suamiku dengan tatapan menuduh. Si perokok aktif dan pernah mengalami pengobatan TBC. Dengan kesal, aku turut memeriksakan diri. Namun, urutannya kini berbeda. Usai menjalani rontgen, aku menjalani serangkaian pemeriksaan darah. Aku curiga. Ada yang tidak beres. Tak banyak yang kupikirkan, karena aku fokus di pengobatan anak-anak yang harus disiplin selama enam bulan. Aku dialihkan dari satu dokter ke dokter yang lain. Entah kenapa, aku pun tak terpikir untuk bertanya sejak awal. Ketika akhirnya aku bertanya, ada sedikit sesal, karena jawaban panjang lebar si dokter hanya tersangkut beberapa kata di kepalaku. Kanker paru-paru. Dan ada TBCnya.Ternyata aku penyebabnya.

Pikiranku membawaku melayang pada perkataan abangku, “Bagi perempuan, sekali kamu merokok, maka tombol risiko kanker otomatis menyala.” Ucapannya  dua puluh tahun yang lalu, ketika mengetahui aku merokok.

Aku menolak mengindahkan protes bagian otakku yang lain, “tapi aku sudah berhenti merokok sepuluh tahun  yang lalu.”

Tak ada yang merokok di rumahku semasa aku kecil. Aku hanya melihat orang merokok ketika adik-adik ibuku datang. Namun, yang membuatku tertarik adalah ketika melihat kedua kakak perempuan papaku dan juga anak perempuannya merokok. Saat itu, usia 9 tahun, aku merasa mereka terlihat seperti perempuan berkelas nan dinamis. Memang di budaya Sumatra zaman dulu, para wanita dengan tingkat strata tinggi biasanya merokok sembari mengunyah sirih. Atas nama budaya aku bahkan mengidolakan salah satu tokoh perempuan cantik dalam kisah Jawa yang merangkap sebagai penjual rokok, ketika para lelaki mengantri untuk membeli rokok bekas hisapannya. Aku merasa terikat dengan sejarah saat memikirkannya.

Lalu rokok adik-adik mamaku lah yang menjadi modal awal saya mencoba merokok. Tidak ada yang mengajari. Aku belajar cara menyalakannya yang tidak seperti lilin. Tidak ada rekan kejahatan, hanya aku sendiri. Saat teman-teman SMP baru belajar merokok, aku justru menghindar dari mereka. Ah, norak, gue dah jago.

Aku memang pongah, sepongah ketika aku menyindir suami. “Gue dah move on. Kamu kok malah masih sibuk cari identitas diri?” Ya, saat itu aku sudah berhenti. Aku sudah bosan merokok. Lagipula di zaman sekarang merokok tidak lagi membuat aku terlihat keren atau berkelas atau dinamis. Kenapa? Karena aku lihat para ibu pengemis, gadis-gadis jalanan, mereka pun merokok. Aku hilang rasa. Itu semua omong kosong. Aku tak lebih dari seorang zombigaret. Berkeliaran dengan paru-paru rusak dan berdandan seolah aku keren.

 


Aku belum bebas. Seperti banyak penderita kanker lainnya, setiap manusia memiliki kemampuan masing-masing terkait organ tubuhnya. Ada yang sensitif, ada yang tidak. Ada yang merokok ratusan tahun tetapi masih hidup. Ada yang menjadi perokok pasif tetapi jadi penderita. Aku ‘hanya’ merokok lima belas tahun. Bukan perokok berat. Tapi, Tuhan berkata lain. Aku membayar dosaku.

Suamiku datang untuk merapikan selimut yang memeluk tubuhku. Dia kini berhenti merokok. Akhirnya. Dulu, aku takuti dia dengan masa depan anak-anaknya jika dia meninggal cepat. Namun, dia berkilah dengan jumlah asuransi yang akan anak-anak dapatkan. Ah, rupanya jika yang tercinta sakit parah akibat merokok barulah dia tergugah. Dia pun memulai hidup sehat. Sesehat-sehatnya.

“We will survive.” Bisiknya di sela nyaring pekik riang anak-anak yang tengah bermain di ruang tengah. Semoga.


Sumber foto: www.facebook.com/zombigaret

 

Jumat, 11 April 2014

Seandainya Bisa Operasi Plastik

Sejak kecil saya selalu berkhayal menjadi seorang penyanyi terkenal. Jika di awal-awal khayalan saya hanya membayangkan difoto sana sini, seiring dengan bertambahnya umur saya pun menambah adegan permak di dalamnya. Apa yang akan saya permak jika saya jadi orang terkenal. Dulu saya membayangkan sebuah make over luar biasa. Akibat nonton telenovela Maria Mercedes nih. Kini, lain lagi ceritanya.

Hal ini sejalan dengan percakapan saya dengan teman terkait sebuah acara bertajuk K-Style di starworld. Teman saya takjub ada yang melakukan make over bedah plastik yang bukan lagi bicara soal kerutan atau kelopak mata tetapi hingga operasi tulang. Bedah plastik yang melibatkan rekonstruksi ulang tulang ini bukan hal baru bagi saya. Dulu pernah ada lomba bedah plastik bagi mereka yang merasa tidak cantik. Buatan Amerika tapi kini di Korea pun ada acara serupa. Kompetisi yang konon membantu para wanita agar lebih percaya diri. Kalau lihat daftar permaknya, gila banget.

Saya jadi ingat saat di Kalcit Square ada sebuah produk bulu mata asal Korea membuka tenant di bagian tengah mal. Begitu melihat model di bannernya, alis mata saya terangkat. Gadis muda ini sudah melakukan operasi joker smile. Sebuah bedah plastik yang melakukan sayatan di tiap ujung bibir demi membentuk senyum lebar ala joker. Serem, yak.

Lalu saya kembali ke khayalan saya, apa yang mau saya permak?

Walau mama saya galak, tapi dia masih sempat-sempatnya mengatakan bahwa saya dan kakak saya adalah gadis yang cantik. Rambut ikal panjang, bibir berbelah, bulu mata panjang nan lentik- ehem kebetulan yang disebut adalah yang menurun dari mama saya hehehe. Not to mention kulit putih dan hidung mancung. Well pujiannya rada bertambah jadi ledekan ketika saya memasuki masa sewindu jerawatan. Toh, walau saya bukan anak yang percaya diri sekali, saya menyadari diri saya cantik. Cuma, kalau jadi terkenal rasa ada yang ingin saya perbaiki ....

LASER WAXING sejak beranjak remaja, urusan bulu jadi masalah buat saya. Maklum bulu saya ada di mana-mana apalagi di kaki. Bersaing dengan abang saya. Dulu mama saya bilang bulu kaki itu akan rontok sendiri, seperti dirinya. Tapi rupanya hal itu tidak kunjung terjadi. Dicukur, makin tebal. Diwax, hadeuh males ke salon. Jadi rasanya kalau jadi orang beken, ingin menggunakan laser yang digunakan Victoria Becham untuk menghilangkan rambut di tubuhnya secara permanen. Ide ini sudah ada sejak saya SD, rupanya memang benar ada alatnya sekarang.

PERMAK KULIT WAJAH Dulu waktu jerawatan, ingin banget masuk ke sebuah salon yang kemudian keluar-keluar sudah mulus kinclong. sekarang sudah ga jerawatan lagi, tapi pori-pori wajah saya besar. Namun ketika bertambah usia, pori-pori yang dulu menjadi sebab muka saya seperti tambang minyak goreng bocor, malah menjadi pelembab alami. Cuma, kudu difacial sesekali lah biar ga komedoan.

KONSTRUKSI BADAN Pernah terpikir perlu ga konstruksi badan? Terutama ketika habis melahirkan ga jelas gini. Selamat tinggal masa kejayaan ketika kurus, perut rata, lengan atletis kaya Michele Obama, walau paha tetap aja besar. Tapi kayanya operasi plastik juga bukan jawaban permanen kalau soal body. Kalau ga olahraga, sama juga bohong. Yah, urusan olahraga perlu komitmen tingkat tinggi nih. *ngelirik bodyslender nganggur.

SULAM ALIS & BIBIR bentuk alis saya memang berantakan. Pendek garisnya tapi tebal, jadi kudu artistik dikit membentuknya. Oleh karena tidak telaten, saya lebih sering membiarkannya awut-awutan. Konon sulam alis bisa membuat alis lebih rapi tapi saya rada ga ngerti cara kerjanya. Saya pikir sulam alis itu terkait pencabutan alis dengan benang. Tapi kayanya bukan. Maklum, saya ga mau mengambil metode-metode yang ga syar'i seperti tato alis.
Hal serupa saya inginkan untuk bibir. Bibir saya hitam. Dulu sih ga. Bukan karena merokok, sudah ga merokok hampir 10 tahun. tapi memang ada orang bibirnya menghitam seiring usia. Katanya sulam bibir bisa menghilangkan hitam-hitam di bibir. Well, ada cara alami sih pakai madu. Again, malas dan pelupa hehehe ....

Kalau diperhatikan sih sepertinya saya bukan perlu operasi plastik, tapi perawatan di salon lebih intens hehehe ... Dulu saya pernah merasa galau, kok cantik-cantik begini ga punya pacar. (sombong kok galau). Saya melirik sembarang orang sambil berkata dalam hati, yang ga secantik saya saja bisa punya pacar. Yang menarik adalah, orang yang saya perhatikan ini duduk di kereta berdampingan dengan si cowo dan ada teman perempuannya yang lain. Jadi si cowo diapit dua cewe. Saya bisa tahu yang mana si pacar, walau sejoli itu tidak sedang mesra-mesraan. Well, yang pasti yang terlihat lebih cantik. Bukan fisiknya. Tapi sekadar jepit rambut manis atau mungkin semburat merah di pipinya. Hal yang kemudian membawa saya pada kesimpulan bahwa semua wanita itu cantik, terutama yang jatuh cinta.

Serupa dengan moto saya yang lain, bahwa semua orang bisa menggunakan pakaian yang sama, tetapi tergantung pribadi sendirilah yang kemudian mampu mengeluarkan kecantikan yang berbeda-beda. So, be beautiful, feel beautiful, act beautiful, coz women are the Gods of beauty ...

Minggu, 26 Januari 2014

Sakit Gigi & PMS

Sudah setahun belakangan, setiap kali PMS datang, gigi saya pasti sakit sekali. Mungkin bukan giginya melainkan gusinya. Dan kemudian diikuti dengan sariawan di bibir kiri bawa, selalu di tempat yang sama. Saya curiga, apakah mungkin ada gigi di sekitar taring kiri bawah saya yang berlubang? Karena walau seluruh rahang saya sakit, tetapi pusatnya di taring kiri  bawah itu.

Saya tidak pernah sakit gigi, jadi sensasi ngilu iti hanya saya rasakan ketika saya masih menggunakan kawat gigi. Saya jadi bertanya-tanya, inilah yang dirasakan pemilik gigi berlubang setiap harinya?


Dahulu saya memang termasuk langganan sariawan. Setiap bulan pasti sariawan. Beragam alasan saya gunakan saat itu, mulai dari kawat gigi hingga tidak sikat gigi saat mau tidur (kebiasaan yang sulit diubah hingga sekarang =P). Namun begitu saya beralih dari pasta gigi putih kebanggaan keluarga dengan pasta gigi gel hijau gaya anak muda, saya tidak pernah mengalami sariawan lagi. Oleh karena riwayat ini, saya sempat mendadak rajin sikat gigi setiap kali sakit gigi ini tiba.

Jika terkait PMS, biasanya saya mengalami perubahan selera makan. Selain bertambah pesat, saya juga lebih suka makan sambal terasi yang kemudian langsung dilanjutkan dengan makanan yang ada unsur coklat. Jadi ingat coklat cabe di film "chocolat", coklat penambah gairah hehehe. Nah, setelah saya punya anak, gejala PMS saya bertambah (selain suka marah-marah ala monster), yaitu sakit kepala. Saya bahkan harus stok kaplet berbungkus biru di rumah. Nah, si kaplet ini ternyata sudah lama sekali tidak saya minum. Mungkin sejak terakhir kali, gejala sakit kepala saya berubah menjadi sakit gigi.

Saya masih menunda-nunda untuk pergi ke dokter gigi, hingga kemudian saya mengetahui teman saya (yang juga tetangga saya) juga mengalami hal yang sama. Dia sih sudah biasa menanggapinya. Namun, saya bingung mengapa saya baru mengalaminya setahun belakangan? Pengaruh usia kah?

Bulan lalu saya sempat tidak mengalami hal ini. Saya sedikit lega, berharap akan terjadi seterusnya, eh ternyata sakit itu datang lagi hari ini. Dan saya tanyalah pada mbah google.

1. PMS dan Stress Muncul Berbarengan
Saat PMS kadar stress wanita pun turut meningkat dan efek sampingnya bervariasi. Coba sebut saja apa yang Anda rasakan saat stres, sakit kepala? Nafsu makan meningkat atau malah menurun? Sakit perut? Susah tidur? Nah, jika Anda PMS, gejala yang disebutkan tadi juga muncul.

Ada ga ya yang PMS jadi suka belanja?

2. Pola Makan Tidak Sebanding dengan Kebersihan Gigi
Kalau yang saya alami bisa jadi perpaduan dari berbagai hal. Saat PMS, mulut saya terasa pahit dan saya mengatasinya dengan makan berat. Kebiasaan waktu hamil dulu. Padahal ini semacam gejala panas dalam kali ya, yang seharusnya diasupi buah dan banyak minum.
Ada juga yang disebabkan ada sedikit lubang di gigi. Rasa sakitnya akan semakin terasa karena pada saat PMS, saraf-saraf kita menjadi supersensitif.

Namun ternyata bagi beberapa wanita, masalah ini timbul tanpa gangguan makan sebelumnya. Dan karenanya, lanjut ke nomor selanjutnya.

3. PMS adalah Rahasia Tuhan
Seperti kehamilan, PMS disinyalir lebih dari peringatan dini untuk para lelaki agar tidak berbuat salah di depan wanita. Dengan kata lain, PMS itu masih misterius. Seperti halnya kehamilan.

 Banyak dokter yang menolak hubungannya sakit gigi dengan PMS dan nyatanya memang sulit dihubungkan secara langsung karena gejalanya berbeda-beda. Wah, semakin menanti buku terapi hipno untuk PMS supaya ga stress mikirin PMS. Biar tetap happy dan positif.

Jadi? Well, accept the miracle, ladies. God loves us so much.

*masihBelumkeDokterGigi
http://www.medhelp.org/posts/Womens-Health/40-toothache-and-Menstration--any-connection/show/1712889