Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 November 2017

SELASHAring: Menikmati Dunia Bercerita Zaman Now dengan So Good CERDIK


http://www.sogood.id/


“Ada lagi ga, Mi?” tanya si anak tengah begitu cerita Chika Chiko-nya habis tapi masih bersambung.
“Ami belum beli nugget lagi.” Jawabku.

Memang apa hubungannya nugget sama cerita?

Ibu-ibu generasi zaman now memang tidak boleh ketinggalan zaman. Sebagai seorang kutu buku,, sudah biasa jika saya membanjiri rumah dengan ragam buku. Apalagi pernah bekerja di sebuah penerbitan, perkembangan buku digital sudah wara-wiri di kepala saya sejak hampir 10 tahun yang lalu. Walau sempat ada masanya saya nelangsa karena tidak mampu membeli tab khusus buku digital, tetapi semakin berjalannya waktu akses buku digital kini semakin mudah dan semakin berkembang secara multimedia. Oleh sebab itu, saya termasuk rajin mengakses aplikasi buku digital terutama untuk anak-anak. Buku digital untuk anak-anak memang banyak ragamnya, ada yang konvensional seperti buku dewasa, ada juga dilengkapi berbagai macam kecanggihan teknologi salah satunya Artificial Intelligence.

Wah kaya di film Avenger, ya? Celetuk si anak tengah begitu dengar AI.


Karena jelang tidur siang, jadi ekspresinya ngantuk n serius ^^



Sejak anak-anak masih di bawah usia 1 tahun, saya sudah membiasakan mereka dengan buku dengan cara membacakannya minimal sebelum tidur. Kebiasaan ini berlangsung hingga si sulung berusia hampir 8 dan belum ada tanda-tanda menghentikan kebiasaan tersebut walaupun si sulung sudah bisa membaca. Bagi mereka, dibacakan cerita oleh Aminya sama seperti ditemani Ami nonton film anak-anak yang sudah jutaan kali diulang itu, ada ekstrakurikulernya. Ya minta dipangku lah, yang senderan lah, yang ngajak diskusi lah, atau sekadar turut menarik sudut bibir saat ada adegan yang lucu menurut mereka.  Pendampingan saat bercerita ini terbukti ampuh dalam perkembangan kosakata anak-anak. Nah, jika kedua pengalaman ini digabung, jadilah buku digital bercerita dengan teknologi AI.

Haloo ... hubungannya nugget sama cerita apa?

[oiya ... maap ... silahkan dilanjutkeun ^^]

Setelah berbagai game berbasis AI bermunculan, SoGood CERDIK turut meramaikan jagad dunia bercerita. Dari setiap pembelian produk SoGood Siap Masak (Bakso, Nugger, Stick, Seafood, Shape Nugget, Whole Muscle, Sausage) kemasan 400 gram, maka kita akan mendapatkan sebuah bingkai mini dan kartu AI. Ukuran kartunya kecil, jadi saya gunakan bingkai mini itu untuk menempatkan si kartu. Sungguh sangat menghemat ruang rak buku di hunian liliput seperti rumah saya.
Begitu saya tunjukkan bonus yang bisa mereka nikmati setelah menyantap nugget Dino SoGood, anak-anak langsung semangat. Dan tiba-tiba jadi akur ^^’ Yah namanya juga anak generasi digital, kalau disodorin yang berbau teknologi pasti terpukau.




Awalnya mereka pikir, karena dari nugget Dino maka ceritanya akan tentang dinosaurus juga, tapi rupanya ada serial kisah yang tak kalah menarik. Adalah, serial Lala dan SingSing, serial Umbo Larage, dan serial Chika Chiko yang menjadi andalan perdana So Good CERDIK (harus rajin mampir ke http://www.sogood.id/  untuk tahu ada kelanjutannya atau tidak ^^). Nah, pas ada tiga seri. Maklum, anaknya juga tiga dan si sulung penganut garis keras keadilan bagi seluruh anak Ami.

Kalau akur begini kan senang lihatnya


Dengan durasi 5 menit tiap serinya, tentu belum cukup bagi mereka apalagi jika ceritanya tidak tuntas. Nah, kalau begini kan jadi lebih semangat aminya beli SoGood. Soalnya, untuk melengkapi satu serial dibutuhkan empat kartu. Jadi totalnya perlu beli 12 kantong So Good Siap Masak.

Hah, So Good sebanyak itu mau dibuat apa saja?

 Tenang, di dalam aplikasi ini juga ada kumpulan resep, jadi tidak usah cemas ataupun bimbang takut mati gaya. Pasti ga mubazir. Cuma saya ga tahu deh, bakal diminta masak dulu atau cerita dulu nanti sama anak-anak ^^’

Selain itu, jadi ada kegunaan lagi kan ponsel saya, terutama jika dalam perjalanan jauh. Seringkali saya menghindari membawa buku anak-anak konvensional agar tidak merusak buku dan tidak berat. Maklum, sudah pergi ke luar kota pun, mereka tetap menagihkan saya membacakan cerita. Nah, dengan aplikasi So Good CERDIK, saya dan anak-anak tetap bisa jadi kutu buku zaman now. Sekarang, belanja ke supermarket serasa pergi ke toko buku. Super mengenyangkan eh ... menyenangkaaan.



Jumat, 10 November 2017

Believe in Your Story ala Seung Ah Kim




“Ahnyeonghaseyo ...” sapanya lantang dan ceria saat memasuki ruangan Liliput.
Seung Ah Kim seorang story teller yang berasal dari Korea ini langsung memancing sumringah di hadapan 20 peserta workshop di Festival Dongeng Indonesia ke-5. Kelasnya bertajuk, “Cerita dan Permainan Jari dari Korea Masa Lampai.” Dan ketika dia berkata usai membungkuk ke berbagai arah peserta yang duduk setengah melingkar, “I’m from royal family ...” saya tahu tidak salah memilih narasumber.


Festival Dongeng Indonesia ke-5 yang diselenggarakan pada 4-5 November kemarin dihelat di Perpustakan Nasional RI yang baru, bersebelahan dengan lokasi FDI sebelumnya, di Museum Nasional. Semangat sudah bertumpuk-tumpuk sejak saya tahu bahwa saya bisa menggunakan hadiah voucher dari wewocraft yang didapat beberapa waktu lalu untuk mengikuti workshop dongeng. Sudah lama ingin ikutan, alhamdulillah tercapai juga.



Dengan mengenakan baju tradisional Korea, Seung Ah membuka percakapan dengan bahasa Inggris yang jelas tentang pengalamannya dengan kisah-kisah. Seung Ah kecil ternyata kesundulan adik sehingga dia terpaksa diasuh oleh neneknya. Sayangnya, Seung Ah saat itu mudah sekali menangis tapi sulit meredakannya. Sang nenek yang seorang janda melakukan segala cara untuk menghentikan tangis Seung Ah. Namun tidak berhasil. Lalu kemudian dia menggendong Seung Ah di punggung dan kemudian menceritakan kisah-kisah. Saat itulah, Seung Ah terdiam.
Sang nenek memang sudah lama melahap banyak bacaan sejak dirinya menjadi janda. Oleh karena berasal dari keluarga yang konservatif, si nenek tidak diizinkan untuk menikah lagi. Itulah sebabnya, buku menjadi sahabatnya dalam mengatasi kesepiannya. Dan dengan segala pengetahuannya akan cerita-cerita, dia pun membaginya pada Seung Ah.


Setelah si nenek meninggal dunia pada awal 2000-an, Seung Ah kemudian mendirikan Arirang Story Telling untuk melestarikan kisah-kisah dari ribuan tahun lalu yang nyaris tak dikenal lagi oleh masyarakat Korea. Dan berkeliling dunia untuk memperkenalkannya.


Hari itu, Seung Ah mengajarkan sebuah permainan jari yang digunakan untuk menghibur bayi. Gerakannya sederhana, hanya menunjuk-nunjuk telapak tangan, namun kata yang diucapkan Konci” (maafkan jika salah tulis ya) berarti “bumi”. Yang bermakna, bahwa manusia berasal dari bumi dan akan kembali ke bumi. Lalu ada gerakan membuka dan menutup kepalan yang dilakukan dua tangan sekaligus sambil menyebut “caem caem”. Gerakan ini berarti “mengambil” yang kemudian ada sedikit gerakan tarian dengan geriak “caem caem” yang mengingatkan kita, bahwa jika sudah tahu cara mengambil, maka harus tahu cara melepaskan. Gerakannya sederhana, tapi maknanya dalam. Dan itu yang diucapkan pada bayi-bayi 5000 tahun lalu.


Walau sederhana, tapi jika sudah tahu maknanya maka cara penyampaian pun juga akan berbeda. Itulah sebabnya Seung Ah mengusung slogan, “Believe in Your Story”. Karena untuk percaya juga harus ada cinta, dan jika sudah percaya dan cinta maka akan ada usaha untuk mendalami dan menghayati dalam menyampaikan sebuah cerita. Gunakan apa pun kebisaan kesukaan Anda dalam membacakan cerita, maka pesannya akan sampai kepada penonton. Entah itu menyanyi, menari atau fokus pada jalan cerita.


Seperti ketika Seung Ah membicarakan tentang aksi teatrikal tradisional Korea bernama “Pan So Ri”. Pertunjukkan langsung oleh seorang penyanyi sekaligus pencerita yang ditemani seorang penabuh drum. Dilakukan di sebuah tanah lapang, biasanya alun-alun, yang bisa berlangsung mulai dari 5 jam hingga 9 jam. Pertunjukkan yang pastinya melelahkan itu mendapat dukungan dari para penonton, mulai dari pujian, teriakan semangat, hingga sekadar mengingatkan untuk istirahat minum atau memperbaiki riasan. Namun dengan kemampuan ‘believe’, kisah yang dilakonkan tidak menjadi hilang fokus atau hilang rasa karena berbagai jeda. Saat Seung Ah mencontohkan sebagian fragmen Pan So Ri dari sebuah kisah romantis, saya terbayang bagaimana seseorang memerankan begitu banyak karakter dengan ragam dialog dan mimik dalam satu lakon. Pasti perlu banyak latihan, karena saya sering tertukar-tukar mimik jika melakukan story telling tanpa melihat buku.

Penampilan storyteller dari Jepang di lantai 7 Perpustakaan Nasional RI


Itu sebagian kesenangan saya saat mengikuti kelas Seung Ah. Kan jadi semangat lagi bercerita, walau masih dalam lingkup ke anak-anak sendiri.
Seung Ah dan berbagai story teller dari berbagai dunia membawa masing-masing pengalamannya untuk dibagi di Festival Dongeng Indonesia. Saat saya berkesempatan melihat kolaborasi para story teller tamu itu di satu panggung, saya merasa mereka membawa energi yang begitu dinamis sehingga anak-anak tidak beranjak dari duduknya menatap satu per satu penampil naik ke atas panggung. Mereka bahkan kian semangat merespons para penampil. Suara anak-anak menggema lantang.

Semua mata tertuju ke para story teller di FDI 5


Teman kuliah yg sempat bareng gabung KPBA, tapi sekarang dia masih jadi penggiat dongeng


Kak Aio saat tampil di FDI 5


Keren lah buat Kak Aio dan kawan-kawan dari Ayo Dongeng Indonesia atas acaranya. Tahun depan insya Allah saya akan datang lagi.



Minggu, 01 November 2015

Pak Raden dalam Ingatan Saya

Meninggalnya Drs Suyadi atau lebih dikenal sebagai Pak Raden menggugah hati banyak orang. Seniman yang tinggal sendirian itu, dihantar ke pemakaman oleh begitu banyak doa. Doa dari  Jutaan mantan anak-anak yang menikmati tontonan yang sama, "Unyil". Saya pun dulu termasuk penonton setia, walau harus diakui saya juga termasuk yang meninggalkan Unyil ketika saluran televisi swasta bermunculan.


Belakangan saya baru tahu kalau Pak Raden lah yang menciptakan Si Unyil, padahal peran beliau di serial itu malah menjadi seorang Pak Raden yang pelit banget bin galak. Lucunya, walau perannya semi antagonis, ketika muncul di panggung-panggung, Pak Raden adalah sosok yang ramah pada anak-anak, pandai mendongeng dan jago menggambar. Jika di televisi tawanya yang menggelegar itu muncul ketika anak-anak lari terbirit-birit menjauhi rumah Pak Raden, sedangkan di panggung tawa itu ada di antara kerumunan anak-anak. Saat mendongeng, kami semua tahu bagaimana sebenarnya Pak Raden. Dia yang hangat, imajinatif, penuh kejutan dalam cerita dan gambarnya.


Saya berkesempatan bertemu dengan Drs Suyadi saat bergabung dengan Kelompok Pencinta Bacaan Anak garapan Ibu Murti Bunanta sekitar tahun 2003. Ini efek samping ambil mata kuliah Bacaan Anak. Saat sesi kumpul rutin, saya suka diam-diam memerhatikan beliau yang duduk melihat kami latihan pentas dongeng. Pak Raden itu rupanya sudah tua. Tanpa kostumnya, terlihatlah dia sebagai sosok eyang biasa. Dirindukan.


Masa-masa di KPBA saya tetap memanggil beliau dengan Pak Suyadi, tetapi ketika sudah mengenakan kostum Pak Raden saat kami menggelar semacam Pekan Dongeng di Bentara Budaya ada yang tergetar dalam hati. Kenangan masa kecil saya membuncah, ingin menjadi anak-anak yang duduk mengelilinginya, mendengarkannya bercerita. Saya bahkan harus menahan diri saya sendiri agak tidak terlalu bersemangat. Menahan diri tidak berfoto bersamanya, menatapnya selama mungkin, agar ingatan ini tak pernah hilang. Begitu siang mulai menjelang sore, beliau benar-benar memanfaatkan tongkatnya sebagi tumpuan. Pak Raden sudah tua. Kepanasan sangat di balik beskapnya, rasanya ingin kupeluk. Tapi dia menegakkan kembali badannya saat ada anak-anak yang mendekat didampingi orangtua yang memiliki binar yang sama dengan hati saya. Saya yakin, kami pasti berbagi kenangan masa kecil yang sama.


Dan baru dua tahun ini saya tahu bahwa Pak Suyadi yang menjadi ilustrator di buku-buku pelajaran saya. "ini budi. Ini ibu budi. ... " Ternyata Pak Suyadi turut serta pada masa-masa awal penguntaian huruf-huruf di kepala saya. Dan sebagai orang yang mencintai tulisan juga cerita, itu sangat berarti.


Selamat jalan, Pak Raden. Semangat berceritamu tak akan pernah usai. Mari mendongeng untuk anak-anak kita, dan biarkan ikatan yang terjalin saat tengah berhimpitan di kasur, menyatukan kepala-kepala agar masuk dalam satu kepakan buku yang dibaca, menjadi  kenangan indah bagi anak-anak.


Bagi yang belum ada jadwal hari Minggu ini, mampir di Museum Nasional ya. Ada Festival Mendongeng Indonesia, ada banyak dongeng gratis dan pendongeng dari mancanegara. Mari mendongeng untuk generasi yang lebih baik.

Minggu, 04 Oktober 2015

Tujuh Alasan Gagal Ikut Lomba Blog




Salah satu momen penting sebagai blogger bagi saya adalah ketika berurusan dengan lomba blog. Apakah Anda blogger yang suka ikut lomba blog? Konon blogger yang tidak mengasahdirinya dengan mengikuti lomba blog itu ... apa ya, kok saya lupa. Pokoknya kurang kompetenlah. Katanyaa ...
Awalnya saya tidak terlalu ingin ikutan lomba, tetapi kemudian saya melihat dengan mengikuti lomba otak kita terpacu memikirkan bagaimana cara menuliskan tema tertentu. Lomba blog memang melelahkan. Tak jarang saya bisa libur posting blog hampir sebulan setelah mengejar menulis beberapa blog dalam satu bulan. Nafas bloggernya masih pendek ^^
Apakah Anda suka ikut lomba tapi jarang atau bahkan belum pernah pecah telur sekalipun? Tenaaang ... jangan menyerah. Coba terus. Mereka yang menang lomba blog itu sejatinya juga banyak kalah, jadi jangan khawatir. Karena itu semua lebih baik daripada sudah meniatkan ikut tapi akhirnya malah gagal ikutan lomba.
Gagal ikutan lomba itu rasanya nyesek banget buat saya. Sudah rajin-rajin cari info lombanya yang seringkali harus memungut dari sumber-sumber yang berbeda-beda. Even mbah google saja tidak cukup. Harus rajin lihat grup FB, blog orang, twitter, dan lain-lain. Ada begitu banyak usaha untuk sebuah informasi. Dan ternyata informasi itu tidak bisa dimanfaatkan .. n it hurts #lebay

Emang apa saja sih yang bisa mengakibatkan para blogger gagal ikut lomba?
1.       Mismanajemen Waktu antara Lomba Satu dengan Lainnya
Ada banyak bookmark info lomba blog di gadget kamu. Telah dijuduli sesuai dengan tanggal dateline-nya. Ealah ngerjainnya dari yang dateline-nya paling belakangan. Akhirnya grabak grubuk dan yaaah ... kelewatan deh.
Metode mengerjakan sesuatu yang lebih mudah itu memang betul, tetapi jadi tidak tepat jika yang sudah mepet masih ingin dikerjakan juga. Fokus, bu. Fokus. Kalau kelewat ya sudahlah. Tulisan yang dibuat dalam keadaan lelah juga ga akan menarik.

2.       Salah pasang tanggal dateline
Kebanyakan blogger membuat bookmark untuk setiap info lomba yang ditemuinya. Agar lebih mudah, judul link-nya diberi judul sesuai tanggal dateline. Lebih mudah dicari dan lebih runut. Namun alangkah nyeseknya ketika sudah menyiapkan draft posting sedemikian hingga, siap dipublish, sedang membaca kelengkapan lomba eeeeh rupanya dateline-nya baru saja lewat kemarin. Atau lebih keki lagi, sudah liwat bulan kemarin. #pengsaan

3.       Dateliners Garis Keras yang Gagal
Waktu tinggal dua jam lagi menuju pukul 12 malam. Jemari bergerak semakin lincah mengetikkan ide demi ide sesuai adrenaline yang kian meningkat. Sudah selesai. Bersiap memasang dandanannya, waktu tinggal satu jam lagi, pasti bisa. Eh lima belas menit terakhir, “ooeeee ...!!!” Bayi nangis minta disusuin.... Goodbye, so loooong .... Tidur sajalah.

4.       Jebakan Formulir Pendaftaran
Formulir yang turut menutup diri sesuai dengan jam yang tertera di dateline itu suka bikin gemes. Saya punya masalah dengan segala hal terkait formulir. I hate form. Adddaaaaa aja yang aneh-aneh dari mengisi formulir. Ya inilah itulah ... ya tahu-tahu pakai captcha. Dan begitu mau klik ‘oke’ eh waktu sudah pukul 12.03. What the ... #tarik2rambut #tidurlagi

5.       Internet Gagal Total
Postingan sudah siap setengah jam sebelum pukul 12, tinggal pencet ‘publish’ eh sinyal internet kabur entah ke mana. Connect-disconnect-connect-disconnect-connect dan yap sudah lewat jadwalnya, buibuuuu .... #nangisBisik2 #tidurlagi
 
6.       Salah Kamar
Sudah pede sejuta, postingan sudah terpublish di blog. Tinggal urusan share di sosial media. Sambil baca-baca harus mention ke siapa eh ternyata tulisannya bukan dipasang di blog, tetapi di situs mereka. Kudu daftar lagi. Login lagi. Eeaaaa ketemu formulir lagi. Dan lewat sudah batas waktunya.

7.       Bak Sangkuriang  
Inilah yang terjadi jika mengejar beberapa lomba blog sekaligus tetapi waktunya mepet. Emangnya dikira nulis itu gampang, bos? Lagi mikir-mikir buat dua atau tiga tema lomba, eh dah lewat aja gituh dateline-nya ... hiks ...


Itulah suka dukanya seorang blogger. Semua yang saya tulis di atas itu pengalaman pribadi saya. Salah satu pelajarannya adalah ciptakan peluangmu. Peluang untuk menang lomba blog dengan cara fokus pada satu per satu hal. Jika fokus maka posting lomba satu per satu pun akan selesai dengan sempurna. Bagaimana mau berpeluang menang, jika tidak bertindak laiknya juara dengan berbuat sebaik mungkin, meninggalkan hampir tak ada celah? So, act best and you will get the best. InsyaAllah ...