Tampilkan postingan dengan label fabel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fabel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Januari 2017

RABUku: Bergabung dengan 4 Sahabat Super Menyelamatkan Hutan Indonesia


Valerina Daniel is back! Yeay ... Ini momen agak personal sih bagi saya ketika pada bulan November 2016 lalu Valerina Daniel (Runner-up Putri Indonesia dan Duta Lingkungan untuk Kementrian Lingkungan Hidup) mengumumkan bahwa akan me-launching serial buku anak terbarunya di gelaran Indonesia International Book Fair. Kali ini bukunya hasil duet cantik bersama putri sulungnya, Keisha. Saya masih ingat tujuh tahun yang lalu, sayalah editor in chief dalam penerbitan buku Easy Green Living dan saat itu Valerina juga mengeluarkan serial buku anak. Dan setelah beberapa tahun tidak terdengar kabarnya karena sibuk belajar ke luar negeri lalu sempat menetap di Amerika menemani suami bertugas, tahun kemarin Valerina Daniel is officially back.

Dalam terbitan kali ini, Valerina dan Keisha memboyong 4 binatang andalan Indonesia. Ya, 4 sahabat super adalah sekelompok hewan yang menggunakan kekuatan supernya untuk memberikan pertolongan di tempat mereka tinggal. Mereka adalah; Orang si Orang Utan yang sangat lincah, Cendra si Cendrawasih yang bisa melihat dari jarak yang sangat jauh, Mau-Mau si harimau yang mampu melompat jauh dan berlari sangat cepat, dan Kombo yang sangat kuat.

Serial 4 Sahabat Super ini dapat dibaca untuk anak-anak usia 2 tahun ke atas, tentu saja orangtuanya yang membacakan yaaa ... Bagi yang sudah bisa membaca mandiri, pendampingan orangtua juga tetap perlu untuk mencari informasi tambahan terkait tokoh-tokoh di buku tersebut. Bukan tanpa maksud loh Valerina menempatkan karakter binatang-binatang tertentu di buku itu. Namanya juga Duta Lingkungan, ga mungkin ga ada pesan-pesan terselubung. Seperti misalnya, Tarsius. Ada yang tahu itu apa?

Saya sendiri baru tahu tentang Tarsius. Monyet imut bermata besar asli Sulawesi ini memang baru ditemukan pada 2005 lalu. Namun, sayangnya sejak ditemukan populasinya merosot hingga 80% dan mulai masuk kategori terancam punah. Hadooh, kenapa ga kecoa aja sih yang punah? (curhat ibu-ibu di dapur).

Membacakan buku ini tidak hanya tentang mengenalkan hewan-hewan asli Indonesia tapi jika ditelisik lebih dalam, semua binatangnya masuk kategori terancam. Ga mau kan, hewan asli Indonesia berakhir hanya di gambar?

Ngomong-ngomong soal gambar, ilustrasinya dibuat manual loh, bukan digital.

Sementara ini, serial 4 Sahabat Super baru muncul dengan tiga judul: Menangkap Pemburu Gajah, Menolong Tarsius, dan Menyelamatkan Macan Tutul. Dengan harga Rp65000, serial ini cocok untuk koleksi bahkan hadiah karena kemasan hardcovernya.

Can't wait for another titles ...

Rabu, 23 Desember 2015

RABUku: Liburan dengan Odong-odong Dongeng

Pada tahun 2015 ini, timeline FB saya ramai dengan promosi seri Odong-odong Dongeng. Karena itu kerjaan kawan-kawan saya di Noura Books, saya malah penasaran karena tumben-tumbennya mereka merilis sesuatu terkait dengan dongeng anak-anak.


Begitu kloter kedua terbitnya seri-seri terbaru Odong-odong Dongeng, barulah saya beli tiga seri pertamanya. Maksudnya buat masing-masing anak, tapi karena yang kecil masih bayi ya keburu dibuat kado ulang tahun temannya anak-anak.


Secara fisik, buku 20 halaman ini pantes banget kalau dijadikan kado ulangtahun karena boardbook jadi ga mudah keriting dan ga mudah rusak. Setidaknya dua buku yang dipegang anak-anak kondisinya masih sangat bagus, mengingat buku-buku lain cepat sekali berubah bentuk.


Seri Odong-odong Dongeng adalah perjalanan Pakumis (Pak Kumis?) dan Topemon (topeng monyet?) dalam odong-odongnya, berkeliling sambil bercerita. Mirip kaum gypsi dengan karavannya ya? Eh tapi kalau ini mah generasi Winnetou yang tahu hehehe ...


Setiap seri, Pakumis dan Topemon kebanyakan menyuguhkan  cerita fabel, dongeng yang umum, tidak terkait daerah tertentu.  Bahkan judul Tikus & Singa juga diangkat pada seri televisi "Pada Zaman Dahulu".


Lalu apa yang menjadi pembeda dengan buku cerita lain? Ada di paruh kedua buku itu. Begitu cerita usai, Pakumis mengajak pembaca untuk berandai-andai. Bagaimana seandainya jika si A tidak ke B? Bagaimana jika si B bilang ke si A? Sebagai pemancing, pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Pakumis, nah di akhir cerita pertanyaan tersebut dibiarkan mengambang. Silahkan jawab sendiri.


Awalnya anak-anak saya bingung ketika saya melakukan pertanyaan terbuka seperti itu. Memang momennya pun salah. Saya membacakannya sebagai cerita sebelum tidur, momen yang biasanya tidak melibatkan banyak reaksi. Sedangkan Odong-odong Dongeng itu akan sangat bermanfaat sebagai alat bantu mendongeng bagi siapa saja. Pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti, "Siapa yang mau jadi singa? Siapa yang mau jadi tikus?" tentu membuat anak-anak bersemangat untuk fokus pada cerita. Sedangkan pertanyaan di akhir, si penikmat buku ditantang menyebarkan khayalannya sesuka hati. Hal ini akan menciptakan percakapan seru antara yang membacakan dengan yang dibacakan (yang kalau dibaca pas mau tidur, ga bakal jadi-jadi tidurnya hahaha ... ).


Cara menyuguhkan cerita Odong-odong Dongeng pun bisa Anda kreasikan sendiri. Bisa dengan wayang atau boneka kaos kaki, pasti jadi lebih seru. Apalagi kalau dikerjakan bersama dengan anak-anak. Lumayan kan buat pengisi waktu liburan. Bayangkan jika punya serinya lengkap, wah bisa ada bermacam-macam kreasi. Judulnya ada; Tikus & Singa, Kancil & Buaya, Kura-kura & Kelinci, Semut & Belalang, Keledai & Kuda, dan Domba & Serigala. Wah banyak rupanya yang belum saya beli ^^'


Iput & Oyas sebagai kreator Odong-odong Dongeng pun aktif menularkan virus mendongeng ini di sekolah-sekolah. Hayooo siapa yang mau didatangi odong-odong istimewa?