Tampilkan postingan dengan label rabuku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rabuku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2020

RABUku: AYESHA (Uzma Jalaluddin) - Cinta lewat Prasangka




Kaya judul buku yang lain ya. Pride & Prejudice. Kebetulan buku ini disebut-sebut sebagai versi muslim untuk novel klasik ini loh. Dan ini buku terjemahan, bukan buku lokal. Penulisnya adalah keturunan India muslim yang sudah bermukim di Kanada sejak kecil. Dan budaya yang kental seperti di Indonesia, tentu menjadi tantangan bagi mereka, menjelang terbentuknya generasi pertama di negara yang jelas sangat bertolak belakang dari negeri asal mereka. 


Uzma Jalaludin menulis karena melihat koleksi di toko buku di Kanada jarang sekali buku bertema Islam. Kalaupun ada, seringkali yang diangkat adalah tema kekerasan. Padahal, namanya ibu-ibu kan butuh drama ya, butuh romance hehehe... Buku ini pun rampung setelah bertahun-tahun digarap pada 2018 lalu. Yah namanya juga ibu-ibu. Baru bisa mengerjakan yang lain kalau tugas utama sudah selesai. Apalagi, beliau pun bekerja sebagai guru SMA pun ibu dari 3 bujang.



Adalah Ayesha, seorang gadis yang membawa tumbler merah. Begitu yang tertangkap di pandangan Khalid. Tatapannya sayu... Dan cantik. Ayesha baru saja menerima pekerjaan sebagai guru pengganti di sebuah sekolah menengah di Toronto. Sebuah karier yang dianggap aman bagi keluarga besar Ayesha. Pilihan ini termasuk tidak populer, karena di kalangan India muslim di sana lebih mementingkan para wanita menikah muda ketimbang bekerja. Wanita bekerja dianggap sebagai bakal perawan tua alias gak laku. Tradisi perjodohan atau perkenalan keluarga pria ke keluarga wanita pun masih lazim, tapi Ayesha, karena umurnya, mulai mendapat tawaran-tawaran dari pria-pria yang tertolak. Ayesha sendiri tak peduli dengan nyinyiran keluarga besarnya, dia tak peduli telah banyak melanggar budaya-budayamya. Dia lebih memilih sibuk bekerja, dan rutin mengisi acara pembacaan puisi di salah satu lounge. Tentu saja, tak ada yang tahu soal hal ini kecuali sahabatnya, Clara. 

Sementara Khalid bekerja di bagian IT di perusahaan yang sama dengan Clara. Tapi Khalid berbeda. Dia menerima semua budayanya dengan lapang dada. Tak hanya penampilannya yang kerap menggunakan gamis dan berjanggut tebal, bahkan ke kantor. Dia juga pasrah bahwa dirinya akan menikahi gadis yang dipilihkan oleh ibunya. Meski wajah Ayesha telah menarik perhatiannya sejak pertama kali. 


Saat keduanya pertama kali bertemu muka, prasangka telah menyelimuti mereka. Ayesha merasa Khalid adalah orang yang kolot dan suka menghakimi. Sementara Khalid, merasa Ayesha bukan wanita baik-baik karena mendatangi acara di bar alias lounge tempat Ayesha membaca puisi. 


Sialnya, mereka berdua terpaksa berjumpa lagi di sebuah kepanitiaan acara masjid besar. Oleh karena pertemuan pertama yang tak sempurna, Khalid mengira bahwa Ayesha adalah Hafsah. Gadis muda yang dijodohkan sang ibu. Padahal Hafsah adalah sepupu Ayesha, yang seharusnya menangani acara komunitas tersebut. Akan tetapi karena sepupunya adalah remaja manja, dia seenaknya tidak datang dan terpaksa Ayesha mengaku sebagai Hafsah. 


Cinta Khalid semakin tumbuh. Dia bahagia, pilihan ibunya rupanya cocok dengan hatinya. Tapi Ayesha, perasaannya justru kian membuatnya tertekan. Dia tahu, pada akhirnya, kebenaran akan terungkap. Dan semua akan sirna. 


Ayesha memang meragukan cinta. Melihat ibunya yang hampir tak pernah membicarakan mendiang ayahnya. Sementara Khalid, dia hanya ingin membahagiakan ibunya, karena tahu sejak kakaknya dikirim ke India, ibunya kehilangan kebahagiaannya. 


Menarik melihat bagaimana Uzma mengangkat tema Islamofobia, sekaligus juga gambaran para muslim imigran di sana. Memang ada yang Amir, rekan kerja Khalid, yang senantiasa ke barat dan esoknya terbangun di rumah wanita yang berbeda setiap harinya. Tapi ada juga yang seperti Khalid, tak terpengaruh apa pun. Persahabatan Ayesha dan Clara yang meski jelas sangat berbeda, tidak melunturkan ketulusan mereka. Tanpa prasangka. Meski, dalam urusan percintaan, ada banyak prasangka yang lalu lalang. 


Dalam pengerjaannya, Uzma sama sekali tidak bermaksud membuat versi muslim novel Pride & Prejudice. Namun, karena memang itu buku klasik yang sudah berulang kali dia baca, secara tak sadar ada inspirasi yang tertutur di dalamnya. Meski begitu, Uzma berhasil memberikan cita rasa India muslim dengan sangat baik, sehingga bagi mereka yang belum membaca Pride & Prejudice pun akan merasakannya sebagai cerita yang sama sekali baru. 


Ini memang drama sederhana, akan tetapi senang rasanya bisa menikmati sebuah karya yang menjadi pionir literasi novel islami di negeri orang. Semoga semakin banyak tumbuh Uzma-uzma lain di luar sana.


Saya merasa beruntung bisa menghadiri peluncuran bukunya dan dihadiri pula oleh Uzma Jalaludin bersama suami yang tak henti menatap istrinya dengan bangga. Walau tak sempat berfoto bersama karena saya harus menghadiri rapat di tempat lain. Tadinya saya tak hendak meminta tanda tangannya, tapi kawan saya yang juga manajer Noura Publishing berujar, "Sudah jauh-jauh datang ke Jakarta, masa ga minta tanda tangan?" 


Jadi saya titipkan novel ini padanya, dan beberapa hari kemudian, tiba buku ini dengan  ucapan yang pasti sudah dipesan oleh kawan saya hahahaha... Thank you yaa... 

Rabu, 22 November 2017

RABUku: Mengumpat Seperti Kapten Haddock


Pada adegan pertama lafaz itu disebut, saya menoleransi dengan berseloroh dalam hati. Mungkin seperti ketika seorang artis dikonfirmasi keterlibatannya dalam sesi foto di majalah Playboy Filipina, “iya, insya Allah, eh insya Allah ... “
Adegan kedua lafaz yang lain disebut lagi, saya toleransi lagi sambil membayangkan film Godfather, mafia yang tak jarang berdoa. Mungkin yang bikin film lebih dekat hubungannya dengan film-film seperti itu. Dipikirnya sama.
Begitu adegan ketiga dan serangkaian lafaz diucap berulang-ulang, saya mulai suudzon. Dan akhirnya mencoba mundur jauh karena ga baik menilai dalam keadaan berprasangka buruk.

Tokoh antagonis di media anak-anak sering membuat saya serba salah. Ketika anak-anak disuguhkan film nabi-nabi dan adegan perang, kata-kata “bodoh”, “mati kau”, dkk bertebaran. Dan ketika anak-anak melakukan reka ulang, kuping saya jengah rasanya. Kan aneh ya kalau saya membuat pernyataan bahwa anak-anak belajar penggunaan kata umpat dari film nabi-nabi.

Lalu muncullah film musikal anak-anak ini. Saya sih bukan pengamat film, hanya ibu-ibu biasa yang tahu jika seandainya waktu itu yang dibawa nonton adalah kakaknya, maka akan banyak protes yang dia lontarkan lalu aminya harus spare waktu itu meredakan emosi si anak dan meluruskan dugaan-dugaan dia yang seringkali terlalu imajinatif. Maklum, kejadian ini bukan hal baru bagi saya. Ini seperti ketika anak-anak bertanya, “ami, kok orang itu Islam tapi ga tutup aurat?” mereka belum dengar aja orang-orang yang menggunakan “jing” sebagai awalan atau akhir kalimat ^^ Hanya saja, bagi saya, jika memang bukan diambil dari kisah nyata, bacaan atau tontonan anak-anak itu lebih menyenangkan jika clear dari praduga dan stereotipe buruk.

Dalam menikmati kesustraan anak, Saya lebih tertarik dengan cara Kapten Haddock mengumpat, walau sosoknya agak antihero karena suka mabuk dan merokok tapi pilihan kata umpatannya legendaris, baik dalam bahasa aslinya atau saat penerjemahannya, yang prosesnya sama-sama ga mudah. Ada semacam intelektualitas linguistik karena sadar pasarnya adalah anak-anak. Sejuta topan badai, kepiting busuk, dkk itu masih terasa lucu saat direka ulang di bibir anak-anak.

Sedangkan untuk tokoh antagonis, saya lebih suka yang ga murni antagonis. I mean, setiap orang kan pasti ada sisi menyebalkan tapi bukan berarti jahat, karena 'jahat' itu kata yang tajam, kebayang kan perasaan Rangga? Begitu juga dengan peran jagoan,  ga harus yang jadi ketua kelas dan menang lomba marching band dan sains (seimbang yak otaknya ^^), tapi yah mungkin jadi ga seru ya filmnya hahahaha ...

Nah, kan ga mudah bikin kalimat yang bebas praduga kaya gitu. Makanya saya maju mundur dengan naskah cerita anak ^^ (alasan). Mungkin karena saya juga masih terperangkap dalam stereotipe buruk (sedih). Semoga yang terjadi menjadi dorongan bagi kita berkarya yang lebih baik ya ....

Rabu, 30 Agustus 2017

RABUku: Asupan Bergizi dengan Komik Islami



Bulan Ramadhan lalu, abang saya beberapa kali mengirimkan kami komik-komik islami. Mungkin itu kata lain dari ‘rindu’. Maklum, abang saya masih menetap di negaranya Kate Middleton. Katanya sih sekaligus mendukung kawan-kawannya juga sesama komikus. Saya sering sekali melihat judul-judul berikut ini seliweran di timeline toko buku online saat membuka PO. Dan peminatnya banyaaak ....
1. Si Bedil: Mantap Qolbu (karya Seto Buje & Reyhan Senja)
Ternyata Si Bedil ini umurnya dah 2 tahun hehehe ... Komik ini berkisah tentang Bedil dan kawan-kawannya. Dalam banyak kesempatan, Si Bedil ini memang sosok ‘superhero’nya alias yang banyak ngasih wejangan ke kawan-kawannya. Namun, caranya ya kaya ke kawan sendiri lah. Tapi ada juga momen si Bedil salah. Wih ini yang dinanti-nanti saya. Biar lebih manusiawi gitu bagi saya. Terkadang karakter Ust. Thor-X muncul juga untuk memberi wejangan tambahan.

Yang saya suka dari komik ini adalah keringkasannya. Setiap fragmen hanya membutuhkan 4 (paling banyak 5) bahkan dua kotak. Selesai. Jadi terasa disentil-sentil terus tahu-tahu makjleb.  Dan satu lagi kelebihannya, berwarna. Full. Dari depan sampai belakang.

Sasaran pembacanya. Kalau dilihat dari adegan-adegannya sih, di mana si Bedil ini anak mahasiswa, temanya rada dewasa ya.  Tapi kalau baru dibaca pas kuliah rasanya telat banget. Paling ga anak-anak SMA dah mulai deh baca beginian. Soalnya entah kenapa anak SMP masih terlihat anak kecil di mata  saya ^^’

Bonusnyaa ... Saya ga tahu ya apakah ini ada syarat dan ketentuannya, tapi sewaktu saya buka paketnya, juga sudah ada di dalamnya kaos hitam bertuliskan “LUPAKAN MANTAN, INGAT TUHAN” (lha kalau mantan pacar alias suami masa dilupain? ^^), pin, dan stiker.  Memang Pionicon sendiri sebagai rumah kreatifnya menjual berbagai macam merchandise, bisa dilihat infonya di halaman paling belakang.

Buku ini ga tahu ada berapa halaman, ga ada nomor halamannya hehehe ... tapi ada 75 fragmen dan dapat dibeli dengan harga Rp.60000,-



2. Gambar itu Haram? (karya @bangdzia)
Buku ini datang hampir bersamaan dengan pertanyaan putri sulung saya sepulang mengaji. “Ami, kata ustazah kalau gambar ga boleh ada mukanya. Emang benar?”

Naah, saya suka kesulitan menjawab kalau pertanyaannya benar atau tidak, terlebih perihal agama. Dan anak-anak itu sulit menerima bahwa sebuah pernyataan dapat ditanggapi berbeda oleh ahli agama. Syukur saja, sebelum itu saya sudah dikirimi komik “Gambar Itu Haram?”. Jadi saya ada sedikit bekal untuk menjawab walau ga selengkap yang di komik.

Sebenarnya saya sudah lihat judul ini sewaktu Islamic Book Fair lalu di stan Al Kautsar yang menaungi penerbit Salsabila, hanya saja karena sudah lihat sampulnya bergambar wajah, saya berkesimpulan “oh ini buku mau menegasikan pendapat yang ga ada wajah niiiy”. Khawatir pembahasan yang ga seimbang, walau saya pelaku gambar yang berwajah, saya putuskan untuk menunggu review dari pembaca lain.

Dan saya salah. Komik dengan rating R+ alias untuk remaja 13+ ini justru memaparkan permasalahan ini dari berbagai sudut pandang. Soal pilihan dikembalikan pada pembaca. Semangatnya agar tidak saling bertengkar gitu looh. Dan sesuai dengan ratingnya, komik ini pembahasannya luas karena sarat sejarah juga, jadi harus dibaca dengan saksama.  Buat saya yang sulit menghapal nama, nama-nama yang bertaburan di komik ini juga menantang bagi saya. Untung ga ada ujian terkait buku ini. Pasti ga lulus ^^’
Buku dengan halaman total 158 ini dapat dibeli dengan harga Rp.37.000,- Saya amaze lihat harganya. Soalnya bisa dibilang ini kaya buku pelajaran, isinya jauh lebih besar dari harganya.



3. Komik Peradaban Akhlak (karya vbi_djenggoten)
Komik yang satu ini hebohlah PO nya. Dan ketika para toko buku baru open PO, saya dah dapat doooong (sombong). Maklum ya, ini karya vbi_djenggotten, sudah kadung beken sangat orangnya. Sesuai dengan judulnya, dan subjudulnya: Kisah-kisah penuh hikmah orang-orang shalilh terdahulu, maka ceritanya ya bersetting masa lalu. Logonya “Bacaan Semua Umur” tapi saya baru baca logo ini setelah si sulung yang berusia 7 tahun membaca isinya ^^’

Metode gambarnya agak berubah ya dari “99 Pesan Nabi”. Sekarang kepala tokoh lepas dari badan. Jadi ketika si sulung membaca adegan seseorang digigit anjing hingga mati, dia membayangkan anjing itu menggigit hingga leher orang itu putus. Lha, jadi sadis ^^ Aku sih bilang ke dia, “Kayanya ga putus deh, kan emang gambarnya ga nyambung ...” (sambil merujuk komik yang disebut sebelumnya). Anaknya sih ngangguk-ngangguk aja, ga tahu deh apakah dia rela menukar bayangan yang sudah kadung terbentuk di kepalanya hehehe .... Pada beberapa fragmen ada yang perlu saya bahasakan ulang karena yah namanya juga yang dihadapi bocah 7 dan 5 tahun, kadang ga serta merta paham. Namun secara garis besar tetap nyaman dibaca untuk anak-anak kok.

Buku ini sepertinya hanya beredar di ranah online dan dijual dengan harga Rp47.000,- harga berubah-ubah sesuai jadwal diskon toko online ^^’

Nah, sekian review singkat dari saya. Dibeli ya komiknyaaa ...

Rabu, 10 Mei 2017

RABUku: Semangat Dakwah Islam Lewat Komik di IBF


 Al Fatih vs Vlad Dracula & Liqomik, semangat dakwah lewat komik


"Kenapa banyak yang pakai peci ya?"
Kalimat pengemudi taksi itu menggantung. Saya tak mau berspekulasi apa yang dia pikirkan. Langsung saja saya menjawab kalimat yang mungkin awalnya hanya untuk dirinya sendiri. 
"Kan sedang ada ISLAMIC book fair," ujar saya seraya menekankan kata 'Islamic'. 
Mendadak suaranya berganti riang, "Oooh jadi muslim semua yang datang ke sini ya, bu?"

Ah, abaikan kata 'bu' yang tak bisa saya tolak karena bukti nyatanya ada tiga bocah bergelimpangan duduk di samping saya.


Berbeda dengan kunjungan ke BBW, kedatangan saya ke IBF 2017 lebih karena menjadi personal shopper untuk pengadaan perpustakaan masjid Nurullah kalibata City. Plus, misi pribadi, mencari komik kompilasi yang berisi karya abang saya dan konon baru rilis saat IBF.

Maraknya komik dakwah islami, memang memeriahkan gelaran IBF kali ini. Duluuu sekali, untuk tampilan stan di IBF biasanya Mizan, Republika, atau al Mahira yang padat pengunjung dan heboh dekorasinya. Nah, yang kemarin ini rasa-rasanya semua stan penuh sesak oleh orang, sehingga saya kesulitan mencari buku dari stan yang memajang buku-buku dari berbagai penerbit. Mau tak mau, saya fokus mencari penerbit Perisai Quran Kids dan Gema Insani Press dan salsabilla terlebih dahulu.

PERISAI QURAN KIDS dapat dikatakan menjadi pilihan termudah bagi mereka yang ingin menikmati buku anak-anak islami dengan ilustrasi faceless. Mungkin ada yang tidak terbiasa dengan metode ini, tetapi dengan tutupnya Perisai Quran dan lebih fokus ke Perisai Quran Kids, menunjukkan bahwa buku semacam ini sudah banyak peminatnya. Pilihan set nya juga banyak, saya jadi teringat pelajaran tarikh saat di madrasah dulu. Saya kebetulan sudah memborong judul-judul di penerbit itu,, mendapatkan beberapa set judul terbaru sambil request beberapa tema ke orang dalam penerbitnya.

Penerbit-penerbit lain juga marak dengan buku-buku anak islami dengan ilustrasi yang tak kalah menarik. Hanya saja, kebanyakan temanya itu lagi itu lagi. Jadi kalau sudah punya versi penerbit lain, ya ga dibeli. Sayang ya jadi saling terkam konsumen ...

Setelah berkeliling dari depan ke belakang lalu ke depan lagi, saya kesulitan mencari penerbit salsabilla yang juga menerbitkan komik Muhammad al Fatih. Saya lupa nama induk penerbitnya. Eh dilalah, penerbit itu nongkrong di paling depan, alias Penerbit Al Kautsar. Akhirnya ketemu yang dicari, Liqomik. Tapi eh apa itu di samping? Al Fatih vs Vlad Dracula? Wah ini must have ^^

Ingat 99 Pesan Nabi dan Pengen Jadi Baik? Yang menjadikan komik islami ini istimewa adalah bahwa sang komikus bertindak pula sebagai penulis cerita sehingga citarasanya lebih personal. Hal ini pula yang kemudian menyorot (banyak) komikus yang peduli menyebarkan dakwah Islam di antara orderan-orderan lain. Dalam LIQOMIK sebagian dari mereka membuat kompilasi.

Temanya beragam. Ada yang bercerita tentang alasannya giat berdakwah lewat komik, ada yang mengangkat kisah islami populer seperti Abu Nawas bahkan ada yang mengangkat tentang hubungan Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer. Ada juga yang kolaborasi antara ide dan ilustrasi, nah kalau itu, karya abang saya, Roel yang tandem dengan Berny J. Rasanya gimana gitu lihat nama abang saya di antara nama-nama keren seperti Vbi Djenggoten, SQU, Ardian Syaf yang kontroversial kemarin itu, dan masih banyak lagi. Menariknya, ada komik sambutan juga dari Arham Rasyid. Perlu ditambahkan, di Liqomik Ga hanya komikus cowo loh, ada juga komikus cewe. Kayanya lucu juga tuw kalau ada komik terkait fiqih wanita, tapi jangan yang sadis-sadis kritiknya. Harus lemah lembut, penuh kasih sayang.



Sayangnya, baru saja saya buka, sudah ketemu ada yang kelewat. Saat itu saya hendak mencari karya abang saya, pakai daftar isi dong, ealah penomorannya keliru ^^ remeh siy, cuma mumpung ketangkap di mata saya jadi diungkap aja hehehe ... mungkin buru-buru kejar momen IBF kali ya. Segera cetak ulang supaya bisa direvisi oke? Apakah akan ada Liqomik #2? Hmmm musti tanya orang dalam niy hehehe ... Mudah-mudahan edisi selanjutnya, temanya lebih sinergis. Kalau yang sekarang kan lebih kaya pengenalan para komikus, sehingga temanya beragam.

 Oh iya, walau dibuat dengan semangat dakwah tinggi, para komikus bukan hendak menasbihkan diri sebagai ustad atau ustazah loh. Feel free bagi para pembacanya untuk mengkaji lebih lanjut dengan para ustad atau ustadzah yang lebih paham, karena inti dari dakwah itu agar kita menjadi lebih pintar dalam memahami agama Islam. Mari belajar bersama.

Tadinya saya pikir AL FATIH VS DRACULA itu hanya judul talkshow di IBF, rupanya itu judul buku toh. Sebagai kolektor serial Al Fatih, tokoh Vlad Dracula memang bikin penasaran. No, kita ga lagi membicarakan pre serial vampir, but the real Vlad Dracula did exist dan bersinggungan dengan superhero Islam sepopuler Muhammad Al Fatih. Buat saya itu keren banget.

Yang berbeda dari komik ini adalah, komikus Handri Satria tidak sendiri. Didampingi Sayf Muhammad Isa yang turut membidani komik Ghazi kini bertindak sebagai scriptwriter. Pantas jadi berbeda sedikit penuturannya. Dalam episode pertama bertajuk Kegelapan, serial ini memperkenalkan Vlad di awal-awal rencananya membalaskan dendam pada Al Fatih. Ngeri-ngeri sedap gitu bacanya. Ada lebih banyak aksi ketimbang intrik dan dalam adegan berdialog padat pun masih deg-degan bacanya. Padahal bukan cerita horor. Saya jadi menyesal membeli nomor 1 ini, soalnya nomor 2 dan selanjutnya belum terbit huaaa ... jadi lama deg-degannya ....


Semoga karya-karya komikus ini dapat dinikmati di seluruh dunia. Kualitas isinya dah top banget ini, ayo segera berpartisipasi di book Fair internasional (eh, udah atau belum ya?). Penerbit lain sudah panen international rights loh. Biar lebih banyak orang yang mau belajar lebih dalam, agar dituntun jadi lebih bijaksana sehingga tidak terjebak dalam perdebatan kusir berkepanjangan. Seperti yang dikatakan oleh salah satu ustad Indonesia yang kemarin juga kena penolakan, "tugas kami menyampaikan, syukur jika diterima, kalau tidak ya tidak boleh dipaksakan. Karena Islam tidak memaksa." 

Rabu, 12 April 2017

RABUku: Mencari yang Baru di Markas Gema Insani Press


Belanja buku selain di toko buku, saat pameran, atau via online, sejatinya bisa dilakukan di penerbitnya langsung. Beberapa penerbit di Jakarta, memanfaatkan sedikit ruang di bagian depan sebagai display buku. Salah satu keuntungannya, saya dapat melihat visi misi sebuah penerbit secara lebih utuh. Mengingat seringkali penerbit menggunakan banyak merk di setiap genre terbitannya, sehingga tidak serta merta tahu bahwa sebenarnya berasal dari rumah yang sama. Selanjutnya yang lebih murah, saya jadi bisa melihat koleksi lama yang sudah tidak ada lagi di pasaran. Intinya sih ini semacam pre gudang yang ditata lebih manusiawi hehehe ... 

Beberapa bulan lalu, saya berkesempatan mampir ke markas Gema insani Press. Ini kali pertamanya, walau sudah lama saya tahu kalau GIP berada tak jauh dari tempat tinggal saya di Kalibata City. Hanya saja, akses ke sananya tidak ada angkot langsung. Harus berjalan dengan jarak lumayan ke bagian dalam gang. Angkotnya Cuma perlu 5 menit, jalannya bisa 15 menit. Makanya begitu ada yang mau ke sana, saya semangat nebeng. 

GIP sudah lama dikenal dengan produksi buku bernapaskan Islam baik untuk dewasa maupun anak-anak. Saya sebenarnya tidak ada bayangan ingin membeli apa, karena menurut ingatan saya, kategori buku anak islami di rumah saya sudah hampir mencakup semua topik. Jadi saya lama berkeliling pelan di ruangan yang tak lebih dari 4x8 itu. Sambil nostalgia. Dulu semasa jadi editor di penerbit sebelah, jika tidak ada ide atau bosan, saya menikmati waktu berjalan berkeliling tumpukan buku. Menelaah judul demi judul, mencari apa yang unik dari masing-masing buku. 

Ternyata tak butuh waktu lama, saya sudah membawa setumpuk buku ke kasir. Malah sempat dikurangi karena saya baru sadar tidak bawa uang cukup. Malu-maluin aja hihihi

1. Serial Shahabiyah
Awalnya saya rada skeptis mau ambil buku ini karena ingin cara penceritaan yang bukan sekadar historis. Anak-anak terkadang cepat bosan atau malah jadi ga dapat feel-nya. Namun kemudian saya curiga, kok ilustrasi depannya modern. Padahal judulnya para shahabiyah. Rupanya kisah para sebahagian ini tidak serta merta diceritakan, melainkan mengambil adegan masa kini yang berkaitan dengan judul yang dimaksud. Serial ini terdiri dari 9 judul: Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Asma binti Abu Bakar, Umum Umarah, Umum Salamah, Fatimah binti Muhammad, Zainab binti Muhammad, Sumayyah binti Khabath, Al-Khansa. 

2. 3 Kota-kota suci Islam
Biasanya buku islam mengambil tokoh-tokoh tertentu untuk menceritakan suatu peristiwa. Nah, buku ini menggunakan kota-kota suci umat Islam untuk menceritakan berbagai peristiwa beserta tempat dan bangunan yang terkait dengan hal itu. Jadi rindu ingin ke kota suci deh. Sesuai serinya, ada tiga judul yang tersedia: Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis

3. Serial Fiqh 4 kids
Nah kalau yang ini pembahasannya lumayan umum niiy, tapi untuk usia yang lebih besar alias usia SD ke atas. Ada sepuluh judul untuk serial ini, di antaranya: Halal & haram dan Zakat.

4. Where Should I Put This
Saya agak bertanya-tanya saat mengambil buku ini. Benar niy cetakan GIP? Kok tumben terkait belajar bahasa Inggris. Tapi saya ambil juga untuk bahan perkenalan ke anak-anak karena secara tidak langsung bicara tentang preposisi. Maklum, belum les bahasa inggris. 


Rasanya saya masih ada yang tertinggal di sana hehehe yang dipisahkan karena uangnya tidak cukup. Next time lah yaa ... islamic Book Fair kan bakal digelar 3 Mei mendatang. 

Rabu, 23 Desember 2015

RABUku: Liburan dengan Odong-odong Dongeng

Pada tahun 2015 ini, timeline FB saya ramai dengan promosi seri Odong-odong Dongeng. Karena itu kerjaan kawan-kawan saya di Noura Books, saya malah penasaran karena tumben-tumbennya mereka merilis sesuatu terkait dengan dongeng anak-anak.


Begitu kloter kedua terbitnya seri-seri terbaru Odong-odong Dongeng, barulah saya beli tiga seri pertamanya. Maksudnya buat masing-masing anak, tapi karena yang kecil masih bayi ya keburu dibuat kado ulang tahun temannya anak-anak.


Secara fisik, buku 20 halaman ini pantes banget kalau dijadikan kado ulangtahun karena boardbook jadi ga mudah keriting dan ga mudah rusak. Setidaknya dua buku yang dipegang anak-anak kondisinya masih sangat bagus, mengingat buku-buku lain cepat sekali berubah bentuk.


Seri Odong-odong Dongeng adalah perjalanan Pakumis (Pak Kumis?) dan Topemon (topeng monyet?) dalam odong-odongnya, berkeliling sambil bercerita. Mirip kaum gypsi dengan karavannya ya? Eh tapi kalau ini mah generasi Winnetou yang tahu hehehe ...


Setiap seri, Pakumis dan Topemon kebanyakan menyuguhkan  cerita fabel, dongeng yang umum, tidak terkait daerah tertentu.  Bahkan judul Tikus & Singa juga diangkat pada seri televisi "Pada Zaman Dahulu".


Lalu apa yang menjadi pembeda dengan buku cerita lain? Ada di paruh kedua buku itu. Begitu cerita usai, Pakumis mengajak pembaca untuk berandai-andai. Bagaimana seandainya jika si A tidak ke B? Bagaimana jika si B bilang ke si A? Sebagai pemancing, pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Pakumis, nah di akhir cerita pertanyaan tersebut dibiarkan mengambang. Silahkan jawab sendiri.


Awalnya anak-anak saya bingung ketika saya melakukan pertanyaan terbuka seperti itu. Memang momennya pun salah. Saya membacakannya sebagai cerita sebelum tidur, momen yang biasanya tidak melibatkan banyak reaksi. Sedangkan Odong-odong Dongeng itu akan sangat bermanfaat sebagai alat bantu mendongeng bagi siapa saja. Pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti, "Siapa yang mau jadi singa? Siapa yang mau jadi tikus?" tentu membuat anak-anak bersemangat untuk fokus pada cerita. Sedangkan pertanyaan di akhir, si penikmat buku ditantang menyebarkan khayalannya sesuka hati. Hal ini akan menciptakan percakapan seru antara yang membacakan dengan yang dibacakan (yang kalau dibaca pas mau tidur, ga bakal jadi-jadi tidurnya hahaha ... ).


Cara menyuguhkan cerita Odong-odong Dongeng pun bisa Anda kreasikan sendiri. Bisa dengan wayang atau boneka kaos kaki, pasti jadi lebih seru. Apalagi kalau dikerjakan bersama dengan anak-anak. Lumayan kan buat pengisi waktu liburan. Bayangkan jika punya serinya lengkap, wah bisa ada bermacam-macam kreasi. Judulnya ada; Tikus & Singa, Kancil & Buaya, Kura-kura & Kelinci, Semut & Belalang, Keledai & Kuda, dan Domba & Serigala. Wah banyak rupanya yang belum saya beli ^^'


Iput & Oyas sebagai kreator Odong-odong Dongeng pun aktif menularkan virus mendongeng ini di sekolah-sekolah. Hayooo siapa yang mau didatangi odong-odong istimewa?

Rabu, 16 Desember 2015

RABUku: Harta Karun di Obral Buku

Barang obral tidak selamanya tidak pantas dikonsumsi, bagi dunia perbukuan, banyak sekali alasan buku bagus bisa masuk daftar buku yang diobral. Status halus dari kata lain, ga laku. Makanya, terkadang saya sangat menantikan judul-judul baru di kolom obralan di berbagai toko buku online. Emang kenapa sih buku bagus bisa ga laku?

Salah Desain Sampul
Don’t judge the book by its cover? Di Indonesia, sampul adalah yang utama. Buku dengan tampak punggung doang? Ucapkan selamat tinggal. Pada floor alias lantai toko buku untuk buku-buku baru terdapat sekian puluh judul. Nah, kiranya apakah yang akan membuat calon pembeli berhenti lalu mengambil sebuah buku? Sampulnya. Perlu desain sampul yang outstanding untuk terlihat mencolok-colok di mata pengunjung. Kenapa? Karena kebanyakan pengunjung toko belum tahu mau beli apa di toko buku. Dan buku-buku bagus dengan  sampul yang tidak tepat akan menjadikan dia kawanan obral buku. Dan ketika hal itu terjadi, saya merasa tengah mendapat harta karun.

Salah Finishing Kemasan
Inilah akibat mouth to mouth marketing. Buku bagus tapi cepat bredel itu cepat banget nyebar ke calon pembeli. Niscaya buku yang mungkin melejit di penjualan awal bisa langsung ngedrop penjualannya walaupun di cetakan kedua sudah memperbaiki kualitas kemasan. Too late, bung. Buat saya? Kalau untuk buku anak-anak yaaah ga papalah hehehe ... nanti di-scan or difoto saja biar jadi e-book pribadi.

Salah atau Kehilangan Momen
Buku bagus yang keluar di saat yang tidak tepat juga bisa masuk ke daftar obral dalam waktu singkat. Bukannya apa-apa, tentu tahulah dominasi toko buku di Indonesia, kalau ga bisa buat awal yang baik, melorot sudah jatah penampakannya di toko buku. Dari floor, ke rak dgn tampak depan. Lalu tahu-tahu ada di data komputer tapi ga ada di rak, nah ini yang bikin nyesek. Dan ga semua buku dapat kesempatan kedua untuk semacam re-launch di momen yang lebih baik. Akhirnya, ke manakah buku itu pergi? Ke obralan.

Tema Tidak Populer
Saya termasuk pengggemar buku dengan penggemar spesifik. Setiap penerbitan buku memiliki minimal oplah saat dicetak, nah banyak juga saking spesifiknya, itu buku lammaaaaa banget habisnya. Padahal bukunya bagus sangat. Jadi saya biasanya menambahkan kuota sabar saya. Sabaaaar bentar lagi obraaal.


oplah terlalu Banyak
Nah ini biasa terjadi pada buku bagus yang dipromosikan laku tapi ternyata cetaknya terlalu banyak serinya, sering terjadi pda seri cerita atau aktivitas anak-anak. Akhirnya ada judul-judul yang tidak terserap sama banyak, nah itu dia harta karun saya.

So, siapa yang mau hunting obralan bukuuuu? Akhir tahun banyak yang obral buku loh, tapi jangan sampai akhir bulan banget, kan mau tutup buku juga mereka ^.^



Rabu, 14 Oktober 2015

RABUku: Buku Bagi Si Penggila Dinosaurus

Mungkin sejak satu hingga dua tahun belakangan, Malika keranjingan tema dinosaurus. Akhirnya setelah buku-buku easy breezy tentang dino mulai kucel karena terlalu sering dibuka, saya pelan-pelan lebih serius mencarikan buku tentang dinosaurus untuknya.

1.       Jika Aku Jadi ... Dinosaurus
sumber: temanbuku.com

Ini buku terbitan DAR! Yang sudah lamaaaa banget usianya. Saya bahkan membelinya sebelum punya anak. Sekadar koleksi. Isinya mendasar banget, perkenalan dinosaurus dari yang herbivora, karnivora, hingga omnivora. Ga banyak-banyak, namanya juga perkenalan.
Sekarang mah sudah bredel. Etapi masih bisa dibeli loh bukunya dengan harga superduper murah d www.temanbuku.com. Buku ini bercerita tentang Sali berkhayal menjadi dinosaurus. Lebih enak jadi dinosaurus apa ya? Dino terbesar? Tercepat? Atau terkuat?

2.       Jack’s Mega Machines: The Dinosaur Digger
sumber: amazon.co.uk


Buku ini adalah oleh-oleh dari kakak yang tinggal di Inggris. Kebetulan anaknya juga ‘pakar’ dino. Ceritanya tentang bengkel ajaib Jack. Setiap kali dia melakukan test drive pada kendaraan yang dia perbaiki, maka petualangan ajaib pun muncul. Nah, kali ini, Jack dibawa oleh buldozer ke dunia Dino. Langsung disambut oleh sekelompok bayi dino dan ... T Rex!

3.       Buku Bertekstur untuk Bayi: Dinosaurus

sumber: pricelist.co.id

Saya beli buku ini karena melihat kedua buku di atas dah mulai menyedihkan penampilannya. Fokusnya adalah yang menjelaskan tentang beberapa jenis dino dengan artikel singkat. Memang sih judulnya baby book karena dalam gambar si dino ini ada kontur yang bisa dirasakan si bayi. Tapi menurutku sih materinya ga buat bayi ya. Malah jadi pas buat Malika, karena jenis dinonya lebih banyak. Dan lebih pas buat saya juga karena ga perlu panjang-panjang ceritainnya.

4.       Kisah 1001 Super Seru Seru Dinosaurus dan Hewan Purba Terekstrem 
Akhirnya saya beranikan diri membeli buku dino yang lebih komprehensif karena Malika sudah hapal semua yang ada di bukunya. Mencarinya pun bukan perkara mudah karena kemasan luar jadi penting. Mengingat cara anak saya memperlakukan buku, saya perlu yang tidak mudah sobek. Ingin yang hardcover, mihil. Ada yang bagus pakai ring, weleh ini mah bredel dalam sekejap. Jadinya pilih yang ini, ada bonus CD-nya juga. Setidaknya lebih awet lah, sekarang sih dah keriting juga hehehe ....
Buku ini memang lengkap karena tidak hanya bicara dino tapi juga hewan purba. Ga cuma binatang tapi juga tumbuhan. Tidak hanya bicara sejarah tetapi juga ada info tentang museum-museum hingga taman bermain yang ada dino-nya di seluruh dunia. Dari situ saya baru tahu kalau di Jungleland ada semacam wahana dino. Belum kesampaian mau ke sana hehehe ... Bahasanya jelas lebih rumit, tapi si bocah cuek aja tuh teteup aja minta bacain. Yah sudahlah ...



Mungkin akan ada lagi buku tentang dino, tapi sekarang kayanya cukup dulu deh. Paling kalau mau nambah lebih ke buku aktivitas, soal infonya insya Allah lebih dari cukup. (si emak ngeles karena puyeng denger tentang dino melulu ^^). Bagaimana dengan Anda? Apa tema kesukaan anak Anda?

Rabu, 13 Mei 2015

RABUku: Holland, One Fine Day in Leiden

Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta.

Itulah janji Kara saat menginjakkan kaki di bandara Schippol, Amsterdam. Dan janji itu berulangkali dia ingatkan pada dirinya sendiri kala seorang lelaki bermata biru mulai mengisi hari-harinya.

Kara bukannya tidak punya hati hanya saja hati itu sudah lama membisu, terlalu lama. Sejak dia melihat sang ibu pergi meninggalkannya. Walau sang nenek dan kakek selalu menyediakan banyak cinta tetapi selalu sudut yang kosong dan menularkan kehampaannya juga mendorong instingnya secara tidak sadar untuk mencari.

Hanya negara ini yang terlintas dalam pikiran Kara  saat memutuskan melanjutkan kuliah. Ya, negeri kincir angin itu terasa sangat familiar. Dia dibesarkan dengan banyak kenangan akan Belanda walau saat itu kali pertamanya dia ke sana.

Saat Kara terseok-seok memulai cerita baru hidupnya, sebuah kotak tua mengais ingatannya.

Ibu yang pergi, Kara yang mencari.     



Selain fenomena fan fiction, novel berbasis travelling juga mulai menjamur. Saking menjamurnya hingga redaksi bukune membuat seri khusus novel berlatarbelakang luar negeri dan buku inilah salah satunya.

Jika bicara tentang luar negeri, alangkah janggalnya jika tidak ada kisah berlatar negeri yang kini dipimpin oleh Raja Willem Alexander ini. Selain didekatkan dengan sejarah, Belanda masih memegang rekor penerima mahasiswa Indonesia.

Latar belakang Belanda sebenarnya banyak digunakan pada literatur Indonesia tahun 70-an, yang kemudian trennya bergeser ke negara Eropa lain atau benua lain pada tahun 2000-an (ingat kan boomingnya Eiffel, I’m in Love?). Hingga kemudian buku Negeri van Oranje terbit. Dan Belanda rasa baru pun turut muncul.

Si penulis, Feba Sukmana, pun awalnya menjabat mahasiswa S2 saat menginjakkan kaki di Belanda hingga kemudian dalam perjalanannya dia menemukan pasangan hidupnya lalu menetap di sana. Inilah karya pertamanya yang diterbitkan secara utuh setelah sebelumnya turut berpartisipasi dalam sebuah tentalogi, Jika.  Rupanya tinggal di negeri orang tak menyurutkan semangatnya untuk tetap menancapkan sebagian dari dirinya di Indonesia.

Holland, One Fine Day in Leiden seolah sebuah judul yang janggal ketika disandingkan dengan bahasa Inggris. Berbeda dengan novel berlatar Korea yang dengan PDnya memasang kalimat Korea bahkan kalau perlu dalam aksara Hanggeul. Tapi tak apa, warga Belanda sendiri sudah terbiasa dikelilingi tiga bahasa sekaligus, Belanda, Inggris, dan Prancis.

Sekilas seperti membicarakan tentang cinta. Cinta antara orangtua dan anak, atau cinta pada lawan jenis. Namun, bagi saya pribadi, kisah ini lebih  banyak menceritakan tentang keberanian. Keberanian Kara untuk me-nghadapi kenyataan. Bahwa memang kadang segala sesuatu tidak berjalan sesuai yang diharapkan, tetapi bisa jadi itu menggiring kita ke sesuatu yang lebih baik. Karakter Kara yang suka galau sendiri terkadang membuat saya gemas, tapi bukankah itu yang biasanya terjadi pada kita? Seringkali sebuah masalah hanya menjadi besar di kepala kita sendiri.

Namun, karena terlalu real, unsur twist-nya jadi kurang terasa. Konflik Kara dengan karakter lain tidak serumit konfliknya dengan dirinya sendiri. Meski begitu, ada beberapa adegan yang cukup menyentuh emosi saya. Saya tidak akan beritahu yang mana, hehehe ….

Layaknya genre romansa, umumnya penikmat tahu bahwa kisah itu akan berakhir bahagia. Dan walau begitu, para pembaca tetap penasaran dengan cara penulis membuat pembacanya menebak-nebak bagaimana akhir bahagia itu tercipta.

Bisa jadi penulis hendak mempertahankan kisah manis tapi tidak lebay dan tidak terperangkap kenangan akan kisah-kisah di sinetron. Hanya saja, saya yang terperangkap dalam kisah-kisah yang lazim muncul di drama Korea (lha Korea lagi). Ketika kami dibuat begitu terikat pada karakter pasangan di drama tersebut hingga membuat kami tidak rela jika si penulis naskah memberikan adegan secuil pun yang membuat pasangan itu bersedih atau berpisah.

Toh, novel ini tetap menjadi kawan yang pas untuk di perjalanan dan selesai dibaca saat tiba di tujuan tanpa merasa lelah secara emosi dan kemudian semangat menjalani hari.

Buku ini bisa didapat dengan mudah di bukupedia dengan harga Rp54000,-.  Tinggal klik, tak lama buku sudah siap dibaca.  


Rabu, 04 Februari 2015

RABUku: Mengenal ‘Anak-anak di Sekeliling Rasulullah SAW’


Kayanya  biasa ya kita melihat judul-judul Kisah-kisah Nabi dan Rasul juga sahabat. Jadi ketika ada seri ‘Anak-anak di Sekeliling Rasulullah SAW’ saya tertarik juga. Walau sebenarnya ketika anak-anak itu dewasa juga disebut sahabat Rasul.

Serial Anak-anak di sekeliling Rasulullah SAW ini menceritakan tentang mereka yang telah hidup berdampingan dan melihat ajarannya sejak kecil. Tidak banyak memang yang mendapat kesempatan ini. Mungkin itulah keisitimewaannya.

Seperti biasa, saya beli dua seri. Kisah Aisyah r. a. untuk Malika dan Kisah Zaid bin Tsabit untuk Safir. Awalnya saya agak ragu pilih Aisyah karena takut harus berhadapan dengan pertanyaan terkait istri muda tapi kebetulan yang kisah Fatimah tidak ada di toko buku itu. Ya sudahlah, whatever  happen happened.

 

(foto diambil dari FB Tiga Serangkai)


Judul: Aisyah r. a (Seri Anak-anak di Sekeliling Rasulullah saw.)

Penulis: M. Luqman Arifin

Penerbit: Tiga Ananda, 2012

Jumlah Halaman: 35

Harga: Rp19000,-

 

Aisyah adalah salah seorang gadis beruntung yang bisa melihat sendiri ajaran Rasulullan dari sisi paling intim. Sejak lahir, dia sudah dididik secara Islam, karena orangtuanya, Abu Bakar as-shiddiq termasuk orang yang paling awal masuk Islam. Bahkan sebelum dinikahkan dengan Rasulullah pun, dia sudah sering mendapatkan pengajaran langsung dari Rasulullah. Hasilnya, Aisyah menjadi salah satu periwayat hadits dengan 2210 hadits. I guess, everything did come for a reason. Coba bayangkan kalau hendak bertanya soal kewanitaan atau hubungan intim suami istri? Ga mungkin diriwayatkan Bukhari, kan?

 

Judul: Zaid bin Tsabit r. a (Seri Anak-anak di Sekeliling Rasulullah saw.)

Penulis: M. Luqman Arifin

Penerbit: Tiga Ananda, 2012

Jumlah Halaman: 35

Harga: Rp19000,-

 

 

Sedangkan untuk Safir, saya memang sengaja pilih buku ini, karena nama belakangnya mengambil nama dari Zaid bin Tsabit.Anak kecil yang berani mendatangi Rasulullah dengan pedang yang masih lebih besar dari pada tubuhnya, meminta diajak berperang. Rasulullah tidak menolaknya mentah-mentah, bahkan beliau memberikan tantangan lain bagi bocah yang memang terlihat cerdas ini. Walau hanya disebutkan dalam satu kalimat, saya sebenarnya salut pada ibu Zaid bin Tsabit sebagai pengajar dan support group bagi Zaid. Dia kan ga mendadak belajar sendiri. Dan karena itulah dia berhasil menjawab tantangan Rasulullah dan kemudian mendapatkan jalan lain berjihat di samping Rasulullah. Salah satu karya fenomenalnya adalah, dialah ketua pengumpul ayat-ayat yang turun dan kemudian dijilidkan dan diperbanyak dan hingga kini mudah-mudahan senantiasa ada di rumah-rumah keluarga muslim. Al-Quran.

Judul-judul Lain dalam Seri Ini:

  • Ibnu Abbas r. a.
  • Ibnu Ummar r. a.
  • Fatimah r. a.
  • Husain bin Ali r. a.
  • Usamah bin Zaid r. a.
  • Ali r. a.
  • Anas bin Malik r. a.
  • Hasan bin Ali r. a.
     

Buku ini termasuk cukup light reading. Again, saya suka terganggu kalau terlalu banyaknya fakta tahun-tahun sejarah untuk bacaan batita or balita. Hanya saja  memang banyak nama di sini. Maklum lah, kisah anak-anak ini pun mengambil kesaksian dari orang-orang lain di sekitarnya. Jadi ya mau tak mau banyak nama-nama Arab.

Materinya sendiri saya pikir ada kendala sumber. Jadi, pada beberapa kisah sepertinya sumbernya tidak sebanyak jatah halaman yang disiapkan. Sehingga muncullah pernyatan-pernyataan berulang. Seperti yang saya lihat di buku Aisyah. Entah berapa kali tersebut, “sungguh Aisyah sangat mulia.” Saking seringnya menurut saya, saya suudzon, jangan-jangan untuk memenuhi kuota kalimat saja. Soalnya di kisah Zaid bin Tsabit ga begitu-begitu amat.

I love the illustrations. Bersih, lucu, halus,sederhana.  Nice pic lah.

 

#IndonesiaMoslemReadingChallenge

#IMRC

#TokoMuslimKoe

 

Rabu, 28 Januari 2015

RABUku: Kisah-kisah Hewan yang Disebut dalam Al Quran


Selain para nabi dan Rasul, hewan-hewan juga banyak disebut dalam al-Quran, bahkan di antaranya menjadi judul surah. Walau perannya tidak selalu signifikan, seperti misalnya ikan Nun atau burung Hud-hud, tetapi tidak menjadikan hewan kurang penting dalam ajaran agama. Ada banyak kisah yang mengambil latar belakang para hewan ini dalam menerapkan ajaran Islam.
Buku ini masih kategori nilai 6. Ok, tapi bisa lebih baik. Walau dikemas dalam dwibahasa Indonesia dan Inggris, konten bahasa Inggrisnya kok ya rasa Indonesia, gitu? Agak gimana gitu, ketika membacakan untuk anak. Buku ini termasuk yang menganut paham tidak menggambar nabi manapun, jadi ya kebanyakan ilustrasinya adalah pemandangan. Pada akhir cerita terdapat daftar kosa kata khusus Indonesia-Inggris dan Kotak Pertanyaan. Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan masih sulit dimengerti oleh balita, berbeda dengan serial Thomas, walau jumlah penceritaannya lebih sedikit.
Tapiii walau saya merasa isinya agak membosankan karena tidak ada variasi kalimat atau penyebutan subjek, anak-anak malah suka. Mungkin karena binatang kali yaaa. ... Ya sudahlah, mungkin sudut pandangnya berbeda. Dan siapa tahu misi si penerbit menjadikan buku ini sebagai Character Education for Young Learners, tercapai.
Lagi-lagi untuk buku anak, saya sangat suka memerhatikan perihal penjilidan. Nah, ini salah satu yang saya suka dari buku ini. Walau hanya terdiri kurang dari 30 halaman, tapi serial softcover ini menggunakan jilid lem, jadi tidak mudah bredel.



foto diambil dari www.gadingmedia.com
  1. Kambing Menjadi Korban (The Lamb Offered in Sacrifice)
    Penerbit: Little Khalifa,  PT. Penerbitan Pelangi Indonesia
    Hlm: 16
    Harga: Rp25000,-
    Inilah kisah legendaris yang selalu diceritakan dalam perayaan Idul Adha. Kisah Nabi Ibrahim yang harus menyembelih anaknya, Ismail. Padahal saat perintah itu turun Nabi Ibrahim baru saja bertemu lagi dengan Ismail setelah bertahun-tahun yang lalu Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar, dan Ismail yang masih bayi di sebuah tanah gersang yang kemudian dinamakan Mekah.
  2. Kambing Betina (The Female Goat)
    Penerbit: Little Khalifa, PT. Penerbitan Pelangi Indonesia
    Hlm: 16
    Harga: Rp25000,-
    Pada zaman pemerintahan Nabi Daud as., terdapat banyak peternak kambing. Tidak jarang Nabi Daud as harus menyelesaikan perselisihan di antara para peternak kambing ini. Suatu hari, dua malaikat menyamar menjadi peternak kambing yang bertengkar dan datang ke istana. Bagaimana Nabi Daud as. menyelesaikan masalah ini? Apakah beliau mampu melewati ujian Allah lewat para malaikatnya?
    Judul-judul Serial Ini Lainnya
    Hud-hud dan Nabi Sulaiman as.
    Semut yang Bisa Bicara
    Katak dengan Raja Firaun
    Keajaiban Burung Tanah Liat
    Kuda Nabi Sulaiman as.
    Keledai Nabi Uzair as.
    Unta dan Kambing menjadi Korban
    Pasukan Tentara Allah Swt
    Burung-burung dan Nabi Daud
    #indonesianmoslemreadingchallenge
    @tokomuslimkoe

RABUku: Beraktivitas Bersama Sahabat Rasulullah SAW


Biasanya buku aktvitas bertema agama dikemas dalam bentuk majalah. Hal yang memiliki kerugian terutama dalam segi daya tahan. Majalah-majalah aktivitas anak biasanya akan cepat bredel hanya dalam hitungan jam. Apalagi jika bicara batita dan balita.

Awalnya saya membeli Teka-teki Sahabat Rasulullah karena mengira isinya akan bercerita tentang tebak-tebakan yang dilakukan oleh para sahabat. Mungkin sejenis cerita Abu Nawas. Ternyata, ini adalah buku aktivitas yang tidak melibatkan aksi mewarnai, menggunting, dan menempel. Misalnya, mencari kantung uang yang digunakan Abu Bakar untuk menebus Bilal bin Rabah atau mencari orang yang bersembunyi di pasar karena takut dengan Umar bin Khattab, dll. Jadi tidak melibatkan pena atau pensil pun tidak masalah. Buku tetap bersih dan penjilidannya cukup kuat karena menggunakan kertas glossy per halamannya.  Ceritanya sendiri menurut saya cukup easy reading mengingat orang yang saya bacakan masih balita. Easy reading-nya karena tidak berkutat dengan tahun dan nama walau terkait dengan sejarah. Selain itu, kontennya aman anak-anak, jadi walaupun mengeluarkan serial tentang Bilal, tidak ada tuh pose legendaris alias yang ditiban dengan batu besar. Cocoklah untuk pengenalan awal pada anak-anak. Tentu saja saya beli dua, karena bocahnya ada dua hehehe.





  1. Teka-teki Umar bin Khattab
    Penulis: Nelfi Syafrina
    Hlm: 24
    Penerbit: Tiga Ananda
    Harga: Rp25000,-
    Umar bin Khattab adalah khalifah kedua setelah Rasulullah wafat. Dia sangat tegas dan berani. Dia memimpin umat Islam dengan adil. Bahkan, dia tak segan menghukum bawahannya jika ketahuan menzalimi rakyatnya.
  2. Teka-tekai Bilal bin Rabah
    Penulis: Nelfi Syafrina
    Hlm: 24
    Penerbit: Tiga Ananda
    Harga: Rp25000,-
    Bilal bin Rabah adalah salah satu sahabat yang disayangi Rasulullah SAW. Rasulullah memberikan kehormatan kepada Bilal untuk menjadi muadzin pertama dalam sejarah Islam. Tidak mudah bagi Bilal untuk beribadah kepada Allah karena dia seorang budak dari majika kejam bernama Umayah.
    Judul-judul Serial Teka Teki lainnya:
    Abu Dzar al-Ghifary
    Abdurrahman bin Auf
    Saad bin Abi Waqqash
    Shalahuddin al-Ayubi

/Catatan: foto diambil dari www.gramediaonline.com dan www.smartmomways.com
#Indonesiamoslemreadingchallenge

@tokomuslimkoe

Rabu, 21 Januari 2015

RABUku: JIP dan JANEKE (Annie M. G. Schmidt)


Suatu hari kunjungan saya ke toko buku di mal sebelah seolah melemparkan saya ke masa lalu. Itulah saat saya melihat deretan serial JIP dan JANEKE versi Bahasa Indonesia! Yeay! Saking semangatnya, saya ambil seri pertama sebagai hadiah untuk salah satu keponakan. Sekadar menunjukkan ini loh buku anak bermutu sepanjang masa. Hehehehe, saya memang suka serial ini, jauh sebelum buku ini menjadi tugas ‘lezen’ alias membaca saat kuliah di Program Studi Belanda, FIB UI. Pada awal-awal ketibaan saya dan keluarga ke Jakarta, mama sempat rutin membawa kami ke sebuah lorong ajaib berisi buku-buku menjulang tinggi ke atap alias perpustakaan di Erasmus Huis. Mungkin karena kakak-kakak saya masih menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa utamanya. Saya ingat melihat salah satu buku JIP dan JANEKE walau tidak mengerti bahasanya (dan karena memang belum bisa baca juga). Baru benar-benar bacanya ya waktu jadi mahasiswa, sekitar 18 tahun kemudian?
 
Maka semangatlah saya melakukan jadwal kunjungan berikutnya ke toko buku. Kali ini membawa bujet khusus untuk serial yang seharga Rp37500,- itu. Maklum, saya lihat sudah ada setidaknya 4 seri yang terpajang di rak paling bawah itu. Sedih rasanya ketika mengetahui saya kehilangan seri pertamanya. Ya sudslah, ambil saja yang kedua dulu. Dan begitu membelinya, saya merasa tengah mendapatkan alasan kembali untuk mengoleksi buku-buku anak keren. Gimana ga keren, JIP dan JANEKE diklaim sebagai salah satu literasi klasik sepanjang zaman dan sudah diterbitkan dalam 14 bahasa dunia. Ga usah dihitung berapa eksemplar yang sudah terjual hehehe.
 
Lama buku itu tersimpan berbungkus plastik. Berbulan-bulan. Karena saya klaim sebagai milik saya, bukan anak-anak. Ketika dibuka pun, saya tidak serta merta menawarkan pada anak-anak. Malika sendiri yang minta karena melihat ternyata itu buku anak-anak. Ilustrasinya lucu karena menggambarkan JIP dan JANEKE berkulit (bahkan berambut) hitam sepenuhnya. Tentu ini bukan terkait ras tertentu, hanya bagian dari seni menggambar.
 
JIP dan JANEKE adalah sahabat yang juga bertetangga. Mereka saling mengunjungi satu sama lain. Dan ketika bermain, mereka bisa disebut partner in crime karena permainannya ga pernah benar-benar sesuai kaidah. Hmm it reminds me of two little kids at home. Tak jarang, ulah mereka itu tidak hanya membuat para ibu melotot tapi juga membuat Jip dan Janeke kena batunya.
 
Seperti ketika Jip bosan menemani Janeke bermain manik-manik, padahal dia ingin bermain lari-lari. Akhirnya manik-manik milik Janeke dia masukkan ke sepatu ayahnya, ke panci nasi, ke botol selai, dan terakhir, ke dalam hidungnya. Barulah saat itu dia panik, untunglah ibu selalu mendengar teriakan tolong Jip dan kemudian mengeluarkan manik-manik dari dalamnya.
 
Ada 40 cerita dalam setiap serinya. Kelucuan mereka sebenarnya tergolong dalam batas aman. Jadi tidak mendorong anak-anak dalam fantasi yang terlalu liar bin heboh, yang walau di akhir cerita ditampilkan kesialannya tetapi faktor ‘fun’nya lebih mendominasi.
 
Namun sayang, cerita ini jadi kurang menarik ketika saya membacakannya untuk Malika. Berulang kali saya berharap menggunakan kalimat saya sendiri. Oh my God terjemahannya. Betul sih, saya bisa membayangkan bahasa Belandanya, tapi ga pas di tata bahasa Indonesia. Padahal bisa dibuat lebih luwes. Kayanya proses penerbitannya tidak melibatkan editor deh, dari penerjemah langsung. Atau jangan-jangan ini hasil terjemah JIP dan JANEKE versi jadul yang masih berjudul TINI dan TONO? Entahlah. Saya curiga karena penerjemahnya menggunakan kata ‘saya’ di percakapan anak-anak itu. Sebuah tren masa dulu. Saya ingat ibu saya lebih menilai sopan untuk sebutan ‘saya’ ketimbang ‘aku’ dari ucapan cucu-cucunya.  Jangan-jangan itulah alasan serial tersebut menempati rak terbawah? Aih, sayang sekali.
 
Ah, saya jadi rindu fotokopian JIP en JANEKE yang ada di rumah mama.
 
Fotodiambil dari www.goodreads.com

Selasa, 20 Januari 2015

Tema Harian Saya


Jelang tahun baru saya mendapat semacam inspirasi dari salah satu Emak keren di komunitas KEB, yaitu mencanangkan tema harian di blognya. Saya memang sempat terpikir untuk membuat blog saya ini lebih terjadwal dan terstruktur dan tema harian ini rupanya jawabannya. Awal membaca postingan Emak Maureen, saya sempat tidak percaya diri, “serius nih, mau tiap hari tulis blog sesuai tema?” Eh ternyata tema harian itu tidak selalu bermakna, setiap hari harus nulis. Emak Maureen sendiri hanya mengusung tiga hari dalam satu minggu. Salah satu alasannya adalah agar hari lain bisa digunakan untuk tema-tema lain yang tidak berhubungan dengan tema harian reguler. Kalau saya, itulah alasan saya bisa libur dari kegiatan blog. Soalnya ga selalu bisa bangun dini hari sih. Hehehe ....

 

Jadi, setelah beberapa hari posting dengan tema, barulah saya menjelaskan arti-arti singkatan di awal judul.

 

RABUku: Mari memulai hari dengan buku di hari Rabu. Saya lahir di hari Rabu, jadi yah Rabu itu lebih istimewa dari hari lain. Dan senang rasanya ketika kata ‘Rabu’ bisa bersanding bunyi dengan satu tema lain yang saya sukai, buku. Jadilah RABUku.  Isinya tentang buku tentu saja. Review buku yang saya beli sendiri (yang beberapa tahun belakangan didominasi dengan buku-buku anak untuk anak-soalnya amynya juga suka buku anak) dan hasil READIE project alias buku hasil editan saya. Mudah-mudahan bisa setiap minggu-soalnya banyak buku yang numpuk tapi belum pernah direview hehehe ...  yah kali aja sejak itu bisa tiap minggu dapat buku baru #modus

 

KAMYstory: mayoritas dari isi blog saya adalah tentang saya sendiri. Saya sebagai ibu dua bocah dan saya sebagai individu. Dulu saya bedakan judul antara MY story dengan AMY’s Story, sekarang sama saja, judulnya saya. Jadi deh KAMYstory (my story di hari Kamis).

 

JJS: secara singkatan yang ini agak berbeda dengan singkatan tema lainnya. Ini agak mentok hehehe. Awalnya mikir karena hari Jumat mungkin ada baiknya saya bicara soal agama, menyebarkan satu ayat. Tapi kok ya ga pede, ya? Saya kan masih pelajar. Jadi saya gunakan momen ini untuk membuat review tempat yang bisa dikunjungi saat akhir pekan. Entah itu tempat makan, tempat bermain, atau bahkan tempat kawinan. Yah, namanya juga Jumat Jelang Sabtu. Biasanya orang-orang sering searching lokasi menarik. Hope I could help J

 

HOMYnggu: Sabtu istirahat dulu yeee ... Balik lagi di hari Minggu. Kenapa homy? Apakah sama saja dengan my story. Well more or less sih. Ini untuk menunjukkan bahwa saya penghuni Kalibata City sejati hahaha .... Isinya lebih banyak terinspirasi dari berkehidupan di Kalibata City, jadi bisa tentang tempat makan baru, apa yang lagi ngetren, kegiatan menarik di hari tertentu, review sekolah di area ini, dan bahkan bisa ngomongin resep di dapur saya. Pokoknya terkait review dan tips di seputaran Kalibata City. Penting ga sih? Penting dong. Mengingat semakin banyak saja hunian vertikal, jadi siapa tahu kita bisa saling berbagi.

 

Nah, segitu dulu saja deh. Ga sanggup banyak-banyak. Ini juga ngerjainnya nyicil hihihihiy ... Hope you like it.