Tampilkan postingan dengan label noura books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label noura books. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Maret 2017

RABUku: Menolak Lupa Pak Raden



Kabar meninggalnya Pak Raden 2015 lalu, menyisakan kegundahan di hati saya. Bagaimanakah nasib karya-karyanya nanti? Saya merasa sayang karena anak3 belum pernah merasakan fenomena Pak Raden, si pencerita yang jago menggambar. Apalagi dokumen saat saya berkegiatan bersama beliau di komunitas KPBA tidak ada. Yah, walau kenangan itu selalu melekat di hati. 

Lalu kemudian, salah satu kawan editor di penerbit Noura memberi kabar bahwa buku karya Suyadi alias Pak Raden akan diterbitkan kembali. Hati senang bukan kepalang. Walau mengaku sebagai penikmat Pak Raden dan dongengnya, sewaktu kecil saya malah tidak pernah baca karya-karyanya kecuali dalam bentuk buku pelajaran. Ingat buku 'ini budi'? 

Dan ketika penerbit Noura Books membuka preorder, saya segera mengantri. Inilah kesempatan saya meneruskan warisan Pak Raden ke anak3 .... because he was that good.



Ada dua judul yang menjadi comeback pak Raden, yaitu Seribu Kucing untuk Kakek dan Pedagang Peci Kecurian. 


1. Seribu Kucing untuk Kakek
Pak Raden dan kucing itu sahabat sepanjang zaman, maka tidak heran jika salah satu bukunya melibatkan kucing. Berawal dari seorang kakek yang tidak memiliki anak cucu, ingin memelihara anak kucing. Dibantu istrinya, dia meminta anak kucing ke siapa pun yang dijumpai, tapi nihil. Keesokan paginya, kakek nenek itu terbangun oleh suara kucing. Bukan satu kucing, tapi banyaaak sekali. Haduh, bagaimana ini?

Cerita ini selain memunculkan rasa iba tapi juga bagaimana kakek memecahkan masalahnya dengan cara yang cerdas dan menyenangkan semua pihak yang terkait. Dan di akhir cerita, si kakek nenek pun mendapat berkah tambahan atas kemurahan hatinya. 

Buku ini lebih tebal dari kebanyakan buku anak-anak bergambar. Jadi saya lumayan ambil napas panjang sebelum membacakan untuk anak-anak. Ilustrasi kucingnya membuat si bontot gemas, apalagi ada 'seribu' kucing dengan berbagai corak dan polah. 

Walau settingnya di kampung dan mungkin tempo dulu sehingga masih bertelanjang kaki (hal yang sangat disukai anak3 saya hehehe), tetapi ceritanya tak lekang oleh waktu. Love it. 

2. Pedagang Peci Kecurian
Seorang pedagang peci memutuskan untuk beristirahat di sebuah pohon rindang di hutan. Namun, ketika tertidur, sekelompok monyet mengobrak-abrik peci dagangan dan kemudian dipakai. Terbangun dan kaget, si pedagang mendapati monyet-monyet itu di atas ranting pohon yang tinggi dengan mengenakan peci-pecinya. Apa yang akan dilakukan pedagang demi mendapatkan kembali pecinya?

Lagi-lagi melibatkan binatang dan bagaimana ide cerdas tetap bisa mengalir di keadaan apa pun. Walau digambarkan si pedagang marah, tapi tidak terucap kata-kata negatif di dalamnya. Sehingga suasananya tetap cenderung jenaka. Biasanya, anak3 saya ketika dibacakan cerita yang subjeknya ada yang dikerjai, mereka akan marah. Nah, di buku ini, mereka turut tertawa. Istilahnya, emosi terjaga lah. Ga pakai drama-drama atau becandaan slapstik. 


Looking forward for the next titles. Hanya sedikit usaha dari saya untuk berterima kasih pada beliau karena telah hadir di masa kecil saya. Dan ketika dewasa berkesempatan bertatap langsung dengan Pak Suyadi, yang bagi saya dia bak sosok kakek yang tak pernah saya rasakan. Saya tak akan lupa. Dan semoga anak3 saya pun juga begitu. 

Launching buku ini akan diadakan hari ahad ini, tanggal 19 Maret 2017 di perpustakaan kemendikbud senayan mulai pukul 9 pagi loh. Yuk ketemuan di sana. 

Rabu, 23 Desember 2015

RABUku: Liburan dengan Odong-odong Dongeng

Pada tahun 2015 ini, timeline FB saya ramai dengan promosi seri Odong-odong Dongeng. Karena itu kerjaan kawan-kawan saya di Noura Books, saya malah penasaran karena tumben-tumbennya mereka merilis sesuatu terkait dengan dongeng anak-anak.


Begitu kloter kedua terbitnya seri-seri terbaru Odong-odong Dongeng, barulah saya beli tiga seri pertamanya. Maksudnya buat masing-masing anak, tapi karena yang kecil masih bayi ya keburu dibuat kado ulang tahun temannya anak-anak.


Secara fisik, buku 20 halaman ini pantes banget kalau dijadikan kado ulangtahun karena boardbook jadi ga mudah keriting dan ga mudah rusak. Setidaknya dua buku yang dipegang anak-anak kondisinya masih sangat bagus, mengingat buku-buku lain cepat sekali berubah bentuk.


Seri Odong-odong Dongeng adalah perjalanan Pakumis (Pak Kumis?) dan Topemon (topeng monyet?) dalam odong-odongnya, berkeliling sambil bercerita. Mirip kaum gypsi dengan karavannya ya? Eh tapi kalau ini mah generasi Winnetou yang tahu hehehe ...


Setiap seri, Pakumis dan Topemon kebanyakan menyuguhkan  cerita fabel, dongeng yang umum, tidak terkait daerah tertentu.  Bahkan judul Tikus & Singa juga diangkat pada seri televisi "Pada Zaman Dahulu".


Lalu apa yang menjadi pembeda dengan buku cerita lain? Ada di paruh kedua buku itu. Begitu cerita usai, Pakumis mengajak pembaca untuk berandai-andai. Bagaimana seandainya jika si A tidak ke B? Bagaimana jika si B bilang ke si A? Sebagai pemancing, pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Pakumis, nah di akhir cerita pertanyaan tersebut dibiarkan mengambang. Silahkan jawab sendiri.


Awalnya anak-anak saya bingung ketika saya melakukan pertanyaan terbuka seperti itu. Memang momennya pun salah. Saya membacakannya sebagai cerita sebelum tidur, momen yang biasanya tidak melibatkan banyak reaksi. Sedangkan Odong-odong Dongeng itu akan sangat bermanfaat sebagai alat bantu mendongeng bagi siapa saja. Pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti, "Siapa yang mau jadi singa? Siapa yang mau jadi tikus?" tentu membuat anak-anak bersemangat untuk fokus pada cerita. Sedangkan pertanyaan di akhir, si penikmat buku ditantang menyebarkan khayalannya sesuka hati. Hal ini akan menciptakan percakapan seru antara yang membacakan dengan yang dibacakan (yang kalau dibaca pas mau tidur, ga bakal jadi-jadi tidurnya hahaha ... ).


Cara menyuguhkan cerita Odong-odong Dongeng pun bisa Anda kreasikan sendiri. Bisa dengan wayang atau boneka kaos kaki, pasti jadi lebih seru. Apalagi kalau dikerjakan bersama dengan anak-anak. Lumayan kan buat pengisi waktu liburan. Bayangkan jika punya serinya lengkap, wah bisa ada bermacam-macam kreasi. Judulnya ada; Tikus & Singa, Kancil & Buaya, Kura-kura & Kelinci, Semut & Belalang, Keledai & Kuda, dan Domba & Serigala. Wah banyak rupanya yang belum saya beli ^^'


Iput & Oyas sebagai kreator Odong-odong Dongeng pun aktif menularkan virus mendongeng ini di sekolah-sekolah. Hayooo siapa yang mau didatangi odong-odong istimewa?

Rabu, 09 Desember 2015

RABUku: Emak-emak Belajar Hidup dari Rumi


Menyebut tokoh tasawuf ini kebayangnya bacaan beraaat banget. Namun, saat menerima buku ini .. Rasanya sayang kalau ga dibaca. Bukunya dikemas cantik dari luar sampai ke dalam.


Saat Festival Pembaca Indonesia akhir pekan lalu, ada talkshow buku ini. Saya semangat ingin pergi karena selain sudah lama ga main di komunitas buku, juga karena ingin bertemu mantan bos saya yang sekaligus penyusun buku ini, Pak Haidar Bagir.


Dan sebagai non pemburu tanda tangan, saya sudah sodorkan buku sebelum acara dimulai. Maklum bawa tiga anak, ga yakin bisa stay hingga akhir apalagi acaranya jelang makan siang.



Bertempat di tower 2 Synthesis Square Gatot Subroto, acara dimulai pukul 11.30 dengan dibuka oleh pengamat sastra Maman Muhiyaman. Dalam pembukaannya itu pak Maman berpendapat bahwa puisi-puisi Rumi yang dipilih dan diterjemahkan oleh Pak Haidar ini bukanlah puisi yang menganut paham "semakin rumit bahasanya, semakin tidak dimengerti, semakin bagus". Puisi-puisi Rumi begitu ringan hingga berbicara tanpa hijab. Seperti hati Rumi langsung bicarapada pembacanya. Memang karya Rumi umumnya mampu menggedor hati pembacanya.


Hal ini diamini oleh Pak Haidar. Kumpulan puisi ini berasal dari kumpulan cuitan Pak Haidar di twitter. Ditulis setiap jam 9 malam dan dinamakan "Rumi Night". Sesi ini diklaim sebagai sesi yang paling sering di retweet di akun beliau.  Seperti halnya siaran radio di atas jam 9 malam tentu bisa ditebak puisi macam apa yang dipilih. Puisi yang menggedor-gedor hati. Hati yang galau, hati yang kecewa, hati yang angkuh, hati yang minder ....


Sebagai seorang fast reader tentu tidak bisa menganut percepatan yang sama saat menikmati puisi. dalam tiga hari, saya pun belum tuntas membacanya. Bukan karena tidak paham, karena pak Haidar dengan terpaksa memberikan kesimpulan di setiap puisi Rumi. Kenapa terpaksa? Karena beliau tidak ingin membatasi persepsi pembaca dalam memahami puisi Rumi, tetapi karena banyak yang bertanya jadilah turut ditambahkan walau dengan font kecil dan warnanya terkadang saruh dengan latar belakang.


Oia kembali ke saya. Puisi-puisi itu lama tuntasnya saya baca karena di setiap usai membaca satu atau dua puisi, saya berhenti. Sesuatu memang telah menggedor hati saya. Hal buruk yang saya lakukan, ingin rasanya segera diperbaiki. Oleh sebab itu, saya menutup buku dan akan kemudian dilanjutkan setelah usaha perbaikan itu dimulai. Karena puisi-puisi Rumi mendorong kita memperbaiki diri, jadi kalau sekaligus dibaca akan overwhelmed.


Bahasanya? Tenang. Karena diambil untuk disiarkan lewat twitter maka Pak Haidar mau tak mau menerjemahkan dengan kalimat seefisien mungkin dan sesingkat mungkin jika tidak terpaksa membuatnya dalam dua kali cuit. Sehingga yang terjadi adalah penafsiran puisi Rumi yang mudah dipahami. Asal mau berpikiran terbuka, tidak merumitkan diri sendiri.


Seperti yang diduga sebelumnya, saya tak bisa hadir hingga usai. Saat pak Haidar tengah membicarakan destinasi tasawuf di Turki, saya harus undur diri. Anak-anak yang lapar bisa menimbulkan kekacauan hehehe ... Sampai berjumpa lagi, pak Haidar.


Jadi jika dikira emak-emak cuma tahan baca majalah atau novel-novel percintaan yang enteng, berarti harus coba baca kumpulan puisi ini. Sensasinya, rasakan sendiri ^.^

Rabu, 03 Juni 2015

RABUku: Bliss The Bliss Bakery Trilogy #1



foto ini diambil dari www.mizanstore.com

Rose selalu terbangun di tengah malam dan kemudian mengendap-endap ke dapur mengintip ibunya tengah membuat kue. Bukan sembarang kue, Rose melihat ibunya memasukkan halilintar ke dalam mangkuk! Kita pasti penyihir kue.

Namun, meski dia dan ketiga saudaranya selalu diikutkan ketika kedua orangtuanya harus mencari benda-benda aneh yang dimasukkan dalam stoples biru, Rose tak kunjung diberi tahu soal resep-resep ajaib milik kedua orangtuanya itu.

Rose adalah anak kedua dari empat bersaudara. Sebagai anak perempuan tertua, Rose kerap dimintai tolong untuk membantu kedua orangtuanya, Albert dan Purdy, di toko roti mereka, Bliss. Tapi hanya untuk pekerjaan biasa. Sejak Rose melihat cara-cara aneh ibu bapaknya membuat kue, dia tidak sabar untuk segera menjadi penyihir kue. Hingga kemudian kesempatan itu datang dengan sendirinya.

Albert dan Purdy mendadak harus keluar kota selama satu minggu untuk menyelamatkan penduduk yang terkena flu parah. Hal yang selalu mereka lakukan diam-diam di tempat tinggal mereka, Calamity Falls. Mereka kemudian memberikan Rose kunci ke ruang rahasia dan berpesan, “Jangan pernah membuka buku ini kecuali saat kebakaran.”

Cookery Booke adalah buku berisi resep-resep rahasia. Sudah lama Rose ingin membacanya tapi kedua orangtuanya tidak mengizinkannya. Namun, sekarang, ah kenapa tidak mencoba satu atau dua resep?

Bersama saudara tertuanya, Ty, mereka pun membuat kue-kue ajaib. Hanya muffin cinta dan cookie kebenaran harusnya tidak jadi masalah, kan?

Tapi kemudian seluruh penduduk kota pun bertingkah laku aneh. Belum lagi ada tante misterius yang mendadak datang dan membuat semua orang terpesona itu sepertinya hendak mencuri Cookery Booke. Rose benar-benar kebingungan.

Bliss adalah novel trilogi tentang keajaiban dari sepotong kue. Keajaiban yang melibatkan bahan-bahan aneh seperti hembusan napas, angin, suara burung, dan lain-lain. Si tokoh utama, Rose ,  adalah anak tengah yang  seringkali merasa diabaikan oleh orangtua dan saudara-saudaranya. Ty si anak sulung sibuk membanggakan ketampanannya, Sage, si anak ketiga, sibuk meniru Ty, dan Leigh, ah dia kan masih tiga tahun. Meski begitu Rose bangga bisa membantu kedua orangtuanya dan tidak sabar untuk menjadi penerus penyihir kue selanjutnya.

Membaca karya Katherine Littlewood ini membuat perut perlahan-lahan bereaksi hingga kemudian memberontak. Seperti itu pula konflik yang terjadi, awalnya kecil lama-lama menjadi besar. Dan semakin besar masalahnya, semakin lapar perut kita dibuatnya. Siapkan camilan dan air putih saat membacanya, kita tidak mau menjadi gemuk hanya karena membacanya, kaaan.




Minggu, 31 Mei 2015

(Bukan) RABUku: Show Your Work - Austin Kleon

"Bagi seorang seniman, masalah terbesar yang harus diatasi adalah bagaimana caranya menarik perhatian." Honoréde Balzac
Ini bukan buku yang menuliskan tentang cara mempromosikan Anda atau karya Anda, melainkan bagaimana Anda atau karya Anda mudah ditemukan. Sekarang ini banyak sekali orang-orang yang bertitel selebriti sosial media dan kebanyakan dari mereka tidak dengan sengaja mempromosikan diri mereka melainkan sekadar menunjukkan karya atau kegiatan mereka dan kemudian sebuah komunitas pun terbentuk dan tak perlu waktu lama jadilah mereka selebriti sosial media.

Ya, sekarang bukanlah lagi zamannya bersembunyi di goa kemudian berkarya lalu menutup rapat-rapat terkait hal itu. Jika Anda artis ngetop seperti BIGBANG sih tak apa. Eh, walau sudah ngetop pun para artis ini tak segan menampilkan teaser-teaser walau tidak langsung merujuk ke hasil akhir. Membuat para penggemar menanti-nanti hingga penasaran itulah seninya.  Justru, dari sinilah kemudian terukur berapa besar animo masyarakat.

Namun, jangan sembarangan unggah. Semua ada tata tertibnya, jadi pastikan rumah kreasi Anda baik di dunia maya atau nyata bebas dari kontroversi apalagi skandal. Jadi, apa saja sih yang harus ditunjukkan?


foto diambil dari sini


 Austin Kleon, yang juga penulis Steal Like an Artist, hendak menunjukkan pada Anda sepuluh cara agar karya Anda dikenal masyarakat luas, yaitu:
1. Tak perlu menjadi genius
2. Pikirkan proses, bukan hasil
3. Berbagilah hal kecil, setiap hari
4. Buka koleksimu
5. Ceritakan yang baik-baik saja
6. Ajarkan yang kamu tahu
7. Jangan jadi manusia penyampah
8. Belajarlah menerima pukulan
9. Juallah
10. Bertahanlah

Jadi maksudnya bagaimana?

Nah, lengkapnya baca sendiri ya. Berguna banget buat kalian yang mau memanfaatkan jaringan. Bukunya bisa langsung dibeli di bukupedia koook. 

"Menciptakan sesuatu adalah proses panjang, tak menentu. Seorang pencipta harus menunjukkan karyanya," Austin Kleon

Rabu, 13 Mei 2015

RABUku: 30 Paspor di Kelas Professor


Kebayang tidak, tugas akhir kuliahmu adalah pergi ke luar negeri, sendirian, dalam waktu 1,5 bulan ke depan? Tidak hanya mahasiswa yang dibuat kaget, bahkan para orangtua pun dosen sejawat juga terkejut dengan keputusan sang professor, Rhenald Kasali. Bagaimana tidak, itu adalah mata kuliah Pemasaran Internasional, apa hubungannya dengan jalan-jalan?

Sekilas seperti tugas yang borju, yang hanya bisa dilakukan oleh para mahasiswa yang tidak memiliki masalah finansial. Namun, karena keterdesakannya sebagai tugas wajib kuliah, justru mereka yang harus berjuang sejak awallah yang mampu menghasilkan pengalaman-pengalaman hidup yang berbobot. Bukan sekadar laporan perjalanan.

Hal yang menarik adalah, pada zaman tiket pesawat sudah semakin terjangkau dan liburan ke luar negeri bukanlah hal asing bagi banyak orang, rupanya hanya sedikit orang yang pernah mengalami bepergian sendirian. Benar-benar sendirian, bukan ikut rombongan atau apa pun. Bahkan untuk usia mahasiswa pun, bepergian jauh sendiri menjadi pengalaman baru.


foto diambil dari bukupedia

Bepergian sendiri ke negeri orang mendorong seseorang untuk beradaptasi, menghadapi masalah-masalah seperti tersasar, ditipu, dan lain-lain sendirian tetapi justru pada saat itu pertolongan pun akan datang tanpa diduga-duga. Walau tetap saja, semua berawal dari tekad menghadapi semua itu sendirian dengan tegar. Itulah yang  sejatinya dibutuhkan para calon sarjana itu usai menyelesaikan kuliahnya. Tidak serta merta teori.

30 Paspor di Kelas Professor terbagi menjadi dua jilid oleh penerbit Noura Books, itu artinya ada 60 kisah mahasiswa  yang berbagi pengalaman berlibur di negeri orang. Ada yang tertinggal pesawat karena tertahan di bagian imigrasi akibat dikira teroris, ada yang mendadak jadi calo tiket demi mendapat uang transportasi dan akomodasi ke salah satu negeri termahal, Dubai, ada yang terpaksa main ‘aman’ karena walau sudah sering ke luar negeri, orangtuanya tidak mengizinkan anak gadisnya bepergian sendiri, ada yang ditipu di India, dan masih  banyak lagi.

Tentu dalam penulisannya juga terdapat ragam cara. Namun, bagi mereka yang mengalami kisah yang menarik, cerita itu akan mengalir begitu saja sambil memicu debaran jantung para pembacanya. Ada juga yang terjebak pada laporan perjalanan ketimbang makna yang dia ambil dari situ. Sehingga bertebaranlah nama-nama tempat yang mungkin tidak pula dideskripsikan secara detail.


foto diambil dari bukupedia


Namun, tetap buku yang dieditori J. S. Khairen ini menginspirasi bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Dan tentu saja membuat saya ingin menambah cap imigrasi di paspor saya. Bagi yang sudah sering jalan-jalan, mungkin akan tertantang untuk pergi sendirian. Dan yang paling saya ingin terapkan pada anak-anak adalah memberikan kesempatan pada mereka untuk melakukan perjalanan sendiri, sedini mungkin karena di situlah kemandiriannya teruji. Agar tidak seperti ibunya yang selalu tersasar karena takut bertanya pada orang.  Agar tidak menjadi orang yang tidak takut akan perubahan, menghadapi rintangan, dan kemudian menjadi individu yang mampu berpikir cepat dalam mengatasi masalah.


Sementara itu, baca bukunya dulu deh. Jilid 1 dan 2 tersedia di bukupedia dengan harga Rp64000,-. Siap-siap menatap tanggal merah, merancang petualanganmu sendiri. 

Selasa, 18 Maret 2014

REVIEW: Seri Sepatu Dahlan, Buku Cerita Bergambar

Bukan bermaksud kampanye sih, tapi kebetulan memang baru sempat tulis reviewnya. Beneran. Dan siapa tahu saja, Pak Dahlan ga jadi ikut konvensi =)

Okelah, saya bicara apa sih? Well, Februari lalu saya mampir main ke kantor saya dulu. Lebih tepatnya sih tempat teman-teman sekantor saya dulu. (waktu mengundurkan diri, kantornya belum di situ). Alias ke markas Noura Books salah satu unit penerbitan Mizan. Dan yang menyenangkan dari mampir ke penerbitan adalah oleh-olehnya buku gratis. Hore! Setelah mengundurkan diri baru deh norak lagi ketemu buku gratisan =P.

Bukunya ada tiga. Buat Malika, Safir, dan Amynya tentu sajah. Mosok Amynya ga dapet. Apalagi saya kan memang penggemar cerita anak. Buku cerita anak bergambar seri Sepatu Dahlan dengan tiga judul: "Sepatu Idaman", "Mencuri Tebu", dan "Gembala Riang". Buah karya Iwok Abqary dan diilustrasikan oleh Gina. Buku cerita bergambar ini diinspirasikan oleh novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabhicara.

SINOPSIS
SEPATU IDAMAN adalah kisah Dahlan kecil yang mendambakan sepasang sepatu untuk ke sekolah. Jarak sekolahnya yang jauh, melintasi jalanan berbatu, kebun tebu, dan sawah yang berlumpur. Membuat Dahlan kerap diejek bebek karena kakinya yang lecet dan kotor. Apakah Dahlan mendapatkan sepatu idamannya?

Sumber Foto: www.mizan.com



MENCURI TEBU Dahlan kecil pulang sekolah, tetapi tidak ada siapa pun di rumah. Makanan pun juga tak ada. Padahal dia belum makan sejak pagi. Akhirnya perut lapar mendorongnya mengambil arit, dia ingin mencuri tebu. Tapi, mencuri itu kan dosa?


Sumber foto: noura.mizan.com



GEMBALA RIANG adalah kisah si Dahlan yang senang menggembala. Setiap hari sepulang sekolah dia akan membawa kambing-kambing merumput. Tapi, kali ini kambing hitamnya hilang! Bagaimana ini? Pasti Dahlan akan kena marah.

THREE MUSKETEERS & d'Artagnan
Harus saya katakan ada empat kekuatan dalam cerita ini. Pertama, sumber ceritanya. Jika cerita ini benar adanya, maka saya harus kagum pada ayahanda Dahlan Iskan. Saya ingat perkataan Alyssa Wahid tentang Gus Dur, "Bapak mungkin tidak selalu ada untuk kami, tetapi ketika beliau hadir perkataannya begitu membekas."

Itu pula yang saya rasakan saat membaca buku ini. Bagaimana perkataan bapaknya menjadi pengingat dan penuntun jalan Dahlan menjalani hidup yang tidak selalu mudah ini. Ini sejalan dengan yang dikatakan Mona Ratuliu sebagai founder komunitas Parenthink, anak yang dididik baik oleh orangtuanya akan menghasilkan sumber daya yang bebas korupsi. Hmmm ... Rada tema kampanye niy, but it's true.  

Kedua, tutur cerita. Iwok menyuguhkan cerita apik nan berima. Sudah lama saya tidak mendapat buku cerita anak berima sejak Buku Balita Mizan yang terakhir eksis sepuluh tahun lalu. Keunggulan dari sebuah cerita berima adalah penambahan perbendaharaan kata yang kaya bagi anak dan mudah untuk diingat bagi anak. Terlebih anak yang mudah belajar lewat musik.

Ilustrasinya menawan. Bukan ilustrasi gamblang tapi cukup halus untuk dicerna anak-anak. Rupanya setelah saya baca profilnya, ilustrasi Gina ini memenangkan penghargaan di ajang Singtel Asian Picture Book Award 2013. Nice.

Keempat adalah penerjemah bahasa Inggrisnya. Tidak mudah membuat cerita berima dan begitu pula menerjemahkannya dengan rima yang sama menariknya. Saat membacakan untuk anak, saya senyum-senyum membayangkan si willywonka ini mengerjakan naskahnya. Kata-katanya bersaing panggung dengan bahasa Indonesianya, padahal biasanya bagian bahasa Inggrisnya atau sebaliknya terlihat cupu atau tidak nyambung. Saya jadi penasaran proses kerjanya. Sayang, sewaktu mampir ke kantor lama itu saya bahkan lupa menyapa dirinya.

Yup, si willywonka ini adalah pengganti saya di kantor Noura Books alias Shera Sihbudi yang lulusan studi penulisan di Inggris (eh benar ga tuh?). Keren yak pengganti saya ini. Dan tulisan ini sedikit banyak untukmu, say. Sebagai permintaan maat dari saya karena khilaf tidak menegurmu saat berkunjung tempo hari.

Saya sendiri belum pernah baca novel Sepatu Dahlan. Bukan ... Bukan nunggu gratisan. Belum aja kok, hehehe ... But I will read it for sure. Karena sepertinya saya tidak akan ada kesempatan menonton filmnya yang sudah rilis ketika IBF kemarin.

"Amy baca Dahlan," pinta Malika dan Safir saat hendak tidur. Dan saya tersenyum membayangkan nama Dahlan berdampingan dengan nama Sofia, Cocomong, Chuggington, Thomas, dll di kepala mereka. Yah, anggaplah ini harta karun lokal =)

Selasa, 26 November 2013

RESENSI 12 MENIT: Jika Musik Bicara Lantang tentang Hidup dan Keluarga

Dua belas menit ini yang akan menentukan apakah kita akan juara. Dua belas menit ini yang akan menetukan apa yang akan kita kenang seumur hidup.

12 Menit mengambil latar Bontang, sebuah kota kecil yang hanya bisa dicapai lebih cepat menggunakan pesawat kecil dari Balikpapan, Kalimantan Barat. Dari seratus tiga puluh anggota marching band Vincero ini kisah ini berputar pada empat tokoh. Rene, sang pelatih asal Jakarta, yang memiliki berbagai prestasi gemilang baik sebagai pemain dan pelatih, merasa di atas angin ketika diminta melatih ke Kalimantan. Rupanya di Bontang, dia justru diragukan kehebatannya, baik oleh pihak investor maupun oleh anggotanya, bahkan kemudian oleh dirinya sendiri. Lalu ada Tara, juga asal Jakarta, penabuh drum berbakat tetapi kini harus berjuang dari nol pascakecelakaan yang menewaskan ayahnya dan menurunkan kemampuan mendengarnya hingga sepuluh persen. Elaine, lagi-lagi murid pindahan Jakarta, sang pemain biola yang bermimpi menjadi seorang field commander. Walau memiliki kepintaran luar biasa di bidang musik dan akademis, Elaine justru dihambat oleh keinginan ayahnya untuk memiliki anak seorang ilmuwan. Dan akhirnya, rasa pribumi dihadirkan oleh Lahang, laki-laki asal Dayak yang menjadi penari. Namun, dia senantiasa ragu karena harus meninggalkan ayahnya yang sakit demi latihan.

Dengan tiga tokoh utama asal Jakarta, rupanya Oka Aurora tidak membuat cerita ini didominasi masalah tipikal anak Jakarta. Karakter orang-orang Kalimantan yang cenderung tertutup rupanya dilakoni juga oleh Tara yang terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayahnya dan Elaine yang terpaksa latihan diam-diam demi menghindari murka ayahnya yang seorang Direktur di salah satu perusahaan gas di Bontang. Maka jadilah kisah yang bhineka tunggal ika seperti halnya Bontang sebagai tempat kecil dengan ragam ras dan agama berkumpul di sana.

Marching Band merupakan orkestra musik kolosal yang tidak hanya menampilkan harmonisasi musik tetapi juga kostum, konfigurasi bentuk, dan tentu saja adu tenaga. Bagaimana tidak, mereka tidak bermain musik sambil duduk tenang, melainkan berjalan mengitari lapangan dan tidak boleh hilang napas sedetik pun karena akan membuat nada miring di sana-sini. Semua itu dilakukan dalam 12 menit pertunjukan dan ratusan jam latihan.

Saya sendiri baru memahami marching band dari dekat ketika menjadi mahasiswi di Universitas Indonesia, Depok. Dan saya terkejut begitu melihat teman saya mendaftar. Bagaimana tidak, profilnya tidak seperti pencinta musik seperti saya yang sudah menjadi anak sanggar dan berposisi sebagai gitaris sewaktu SMA. Gadis pemalu itu kemudian kebagian menjadi peniup terompet kecil, alat musik yang mungkin tidak pernah dia impikan selama 18 tahun hidupnya. Lalu ada teman saya yang bertubuh pendek dan chubby dan ingin menjadi penari. Hanya marching band itulah yang mampu mewujudkannya tanpa dihina melainkan hanya dukungan besar antaranggotanya.  Dan ketika saya dan teman-teman menyaksikan pertunjukkan mereka di stadiun Soemantri Kuningan, yang saya rasakan adalah betapa manisnya buah dari sebuah kerja keras. Bahwa mereka juga mencintai musik seperti saya.

Itu pula yang hendak diceritakan Oka Aurora dalam 12 Menit. Membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada, mereka yang buta alat musik menjadi terpatri dengan alat musik itu. Tentu saja, seperti kata salah seorang pelatih tari di sebuah ajang idola penyanyi Korea,  “Tidak semua orang berbakat menari, tapi semua orang bisa menari. Kuncinya, latihan. Yang keras.”

 Walau menggunakan formula umum dalam naskah-naskah berlatar kelompok musik, saya terkesan bagaimana satu karakter dapat saling melengkapi dialog karakter lain dalam adegan yang berbeda. Seperti ketika Yoshuke, ayahanda Elaine habis kesabaran ketika mengetahui putri satu-satunya lebih memilih mengikuti kompetisi marching band ketimbang Olimpiade Fisika, dia berseru pada Rene, “Apa yang tidak penting bagi saya, tidak penting bagi Elaine!”

Sedangkan di dipan dalam sebuah rumah panggung sederhana, Lahang justru enggan mengikuti kompetisi karena ingin mendampingi ayahnya yang sakit kanker otak. Dalam sakitnya, si bapak berkata, “Nak, selama ini saya menyiapkanmu untuk menjalani hidupmu. Hidupmu.”

Dan dua dialog itu ditengahi apik di kepala saya dengan ucapan Rene pada Yoshuke, “Saya jadi menyadari betapa bersyukurnya saya memiliki ayah yang menginginkan saya jadi diri sendiri.”

Kemudian saya teringat Tara yang walau mendapat dukungan penuh dia senantiasa merasa sendiri. Pasca ayahnya meninggal dia justru dipindahkan ke kota kecil bersama oma opanya sedangnya ibundanya melakoni studi S2 di Inggris. Dan pada malam sebelum keberangkatan ke Jakarta si ibu hanya mampu memberi dukungan lewat text message. Mama datang atau tidak, Tara tetap harus memberikan yang terbaik. Si anak menjawab tak kalah mengabdi, Mama datang atau tidak, Tara tetap akan bermain untuk mama.

Harus saya akui, sosok Titi Rajo Bintang yang saya ketahui sebelumnya berperan sebagai Rene dalam filmnya, woro wiri dalam imajinasi saya. Memang itu seharusnya hal terlarang bagi seorang pembaca sejati, tetapi saya tidak bisa mengelak bahwa Titi RB justru adalah sosok paling tepat yang bisa ditemukan. Dia menunjukkan kekerenannya dalam bermusik saat menggarap musik untuk film Garuda di Dadaku. Menunjukkan sisi lain keseniannya kala beradu peran di film. Dan kini, di film 12 Menit, dia seolah tengah melakoni otobiografinya sendiri.

Buku ini sukses membuat saya banjir air mata hampir di setiap babnya. Mungkin karena saya sudah menjalani ketiga fase yang terhampar di cerita ini. Remaja labil, wanita mandiri, dan menjadi orang tua. Dan bahkan walau sudah begitu, tetap ada kalimat yang bergaung-gaung di kepala saya. Kalimat lama yang diucapkan Rene pada Elaine juga Lahang, Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Dan selesaikan sampai berhasil. Ya, hidup memang belum berakhir. Maka hiduplah seperti orang hidup, jangan seperti orang mati.[]