Tampilkan postingan dengan label hewan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hewan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Februari 2018

JJS: Lebih Akrab dengan Bakari di Faunaland, Ancol




Kami duduk berhadapan. Saling menatap. Sesekali ia tolehkan mukanya. Ingin rasanya membelai wajahnya yang terlihat mengantuk tapi hanya bisa kutempelkan tanganku di pembatas kaca. “Semuanya baik-baik saja. You’re safe here.” Kataku dalam hati. Lalu bola matanya bergulir, kembali jatuh ke pandanganku. Kemudian hening mengisi jarak di antara kami.
“Eh, lihat ada singa!” suara orang yang datang mengejutkanku. Ah, sudah ada pengunjung lain. Aku pun bergeser dan beranjak pergi.  Rindu sudah mulai merangsek dalam diriku.

Kami sedang berada di Faunaland yang terletak di dalam area Allianz Ecopark, Ancol. Jalan-jalan bersama keluarga suami. Taksi online mengikuti rambu-rambu petunjuk dan kemudian menurunkan kami di pintu samping Ecopark. Memang jadi jauh jaraknya menuju Faunaland yang kata tetangga saya serupa dengan Singapore Zoo. Ecopark sendiri tidak mengenakan biaya masuk, jadi dengan alam terbuka luas seperti ini, membawa sepeda dan perbekalan pasti akan menjadikan piknik kami berlangsung seharian. Sayangnya, hari ini tidak bawa sepeda. Tapi tak apa, bagi-bagi anak-anak outdoor seperti anak-anak saya, lahan terbuka ini sudah sangat menggoda bagi mereka untuk berekspresi.



Ada untungnya juga kami lewat samping, karena di tengah perjalanan kami melihat beberapa burung sejenis pelikan tengah bersantai di pinggir sungai. Burung yang sejatinya tidak akan kami lihat nongkrong begitu saja tanpa pengawalan ini tentulah menarik perhatian. Anak-anak berusaha mendekat, tetapi melihat reaksinya yang tidak terlalu suka didekati manusia, maka anak-anak hanya berjongkok melihat burung itu, sambil sesekali orangtuanya berfoto.




Akhirnya sampai juga di pintu masuk Faunaland. Tiap-tiap orang di atas usia 3 tahun dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 50000,- kalau bundling tiket dengan naik perahu, cukup bayar Rp.70000,-. Sedangkan tiket perahunya sendiri kalau eceran sebesar Rp.30000,- Tiket ini berlaku seharian, jadi kalau mau keluar masuk cukup perlihatkan bukti pembayaran dan cap. Tapi capnya agak mudah pudar, makanya simpan baik-baik bukti pembayarannya ya.


Sayangnya, begitu kami tiba, pertunjukkan burung baru saja selesai. Bird Show ini hanya ada di pukul 10 dan 14.30. Nah, kalau mau nunggu bird show ya kira-kira harus nunggu sekitar dua jam lebih. Hmmm bisa ga ya?


Adalah dua singa betina yang menyambut kami pertama kali. Singa-singa ini terlihat tidak agresif walau tengah rebahanan persis di samping pagar kawat. Jadi anak-anak pun bisa duduk manis menatapnya. Saya sudah ingatkan mereka agar tidak bersikap agresif, karena insting singa apalagi betina ya agresif. Secara ia kan pencari nafkah. Sebenarnya ada juga sisi kandang kaca, tapi singanya ga lagi di situ. Pembatas kaca ini memungkinkan pengunjung lebih dekat ke singa tapi tetap aman. Di samping kandang singa, ada kandang monyet putih. Terus saya mikir, apa si singa ga ngiler ya lihat monyet?



Setelah itu ada beberapa kandang-kandang kecil yang hewannya menarik. Tapi yang membuat saya senang adalah akhirnya bisa melihat tapir betulan. Tapir seperti halnya zebra masuk dalam kategori hewan ajaib menurut saya. Dan bisa melihatnya dengan tubuh tambun  dan bukan hanya di gambar yang selalu ada di peta-peta menunjukkan bahwa ia adalah hewan khas sulawesi, buat saya itu amazing banget. Sayang sendirian, mudah-mudahan si tapir bisa segera dapat pasangan.






Lalu ada juga hewan ternak yang bisa diberi makan dengan membayar Rp.10000,- seperti kuda poni dan kambing. Kuda poninya bisa dinaiki loh. Tapi bayar lagi.




Nah, bintang utamanya adalah another singa putih, namanya Bakari. Tapi kali ini ada jantannya, ditemani dua betina. Konon, singa putih ini hanya ada 10 di dunia. Bakari terlihat tenang dan ngiler lihat anak-anaknya. Surainya bergoyang lembut, memancarkan auranya.

Kandang Singa yang didatangkan khusus dari Afrika ini, hampir sepenuhnya dari kaca. Kecuali bagian yang tidak memungkinkan kontak dengan pengunjung. Areanya lebih luas. Dan tidak hanya bisa tatap-tatapan dengan singa putih dari dekat, kita juga bisa kasih makan. Gimana caranya? Ada sebuah corong yang berbentuk kayu tempat mentransfer daging ayam yang sudah disediakan petugas. Seru kaaan.... Kapan lagi bisa kasih makan singa?



Ga mungkin ada bird show kalau tidak ada koleksi burung. Dan burung-burung ini walau dirantai tapi nangkring di tempat terbuka. Tapi ada juga yang tidak dirantai seperti beberapa burung kakaktua. Kalau burung rangkong ya iyalah, kalau ga, bisa diculik orang nanti. Kan sudah mulai masuk hewan langka. Kakaktuanya juga ada yang cukup komunikatif sehingga mengundang tawa anak-anak. Karena berada di alam terbuka, saya tergoda memunguti bulu-bulu burung yang warna-warni itu. Masya Allah, rajin banget yang ngewarnain. Tak hanya itu, kami juga bisa berfoto dengan burung-burung nuri yang jinak banget. Gratis. Foto sama burung elang juga gratis. Sensasinya beda ya kalau sama burung elang.



Memang koleksi hewannya tidak banyak, tapi kemudian tempatnya yang asri dengan penataan kebun yang ciamik membuat tempat ini ga semudah itu ditinggalkan. Kami yang membawa bekal, menikmati makan di sana karena memang tidak ada yang jual makanan di dalam situ. Jangan lupa bawa salep antinyamuk. Selebihnya, anak-anak main bebas berkeliaran.  Dan selalu ingat jaga kebersihan.





Saat hendak shalat, kami keluar Faunaland dulu dan menemukan tempat shalat berupa pendopo kecil di samping. Sebenarnya di lobi juga ada musolla, dan pendopo tempat kami shalat itu sepertinya untuk karyawan pengelola. Tapi karena di situ, saya jadi ngeh dengan suara bising khas siamang. Rupanya ada semacam pulau kecil di antara sungai itu. Jerit-jeritan siamang itu jelas menarik perhatian pengunjung yang mungkin juga ga ngeh kalau ada mereka di sana. Dan dengan adanya  semacam dermaga, orang-orang pun jadi punya pertunjukkan yang bisa dilihat sambil duduk-duduk. Dan tidak hanya melihat siamang. Ikan-ikan cantik sudah berkerumun di sekitar dermaga. Warna merah, orange, putih, memadu cantik. Dan mulut-mulutnya seolah tak berhenti merasa lapar. Pakan ikannya juga bisa dibeli di petugas yang duduk tidak jauh dari peminjaman sepeda.



Tidak terasa sudah menit-menit menjelang pukul 14.30, kami berhasil berada di sini dua jam lebih. Tapiiiiii ... anak-anak sudah keburu ingin ke laut. Namanya juga ke Ancol ya, masa ga basah-basahan. Ya udah, skip deh bird show-nya. Dan pantai Ancol pun hanya selurusan dengan pintu masuk Ecopark, jadi kami cukup jalan kaki sebentar dah sampai.

Sementara anak-anak main air, saya sudah kangen mau ke Faunaland lagi. Mungkin bawa sepeda. Mungkin di jam yang lebih tepat. Suatu hari nanti .... Karena rindu itu berat, kasihan Bakari, biar saya saja yang datang lagi


Rabu, 04 Januari 2017

RABUku: Bergabung dengan 4 Sahabat Super Menyelamatkan Hutan Indonesia


Valerina Daniel is back! Yeay ... Ini momen agak personal sih bagi saya ketika pada bulan November 2016 lalu Valerina Daniel (Runner-up Putri Indonesia dan Duta Lingkungan untuk Kementrian Lingkungan Hidup) mengumumkan bahwa akan me-launching serial buku anak terbarunya di gelaran Indonesia International Book Fair. Kali ini bukunya hasil duet cantik bersama putri sulungnya, Keisha. Saya masih ingat tujuh tahun yang lalu, sayalah editor in chief dalam penerbitan buku Easy Green Living dan saat itu Valerina juga mengeluarkan serial buku anak. Dan setelah beberapa tahun tidak terdengar kabarnya karena sibuk belajar ke luar negeri lalu sempat menetap di Amerika menemani suami bertugas, tahun kemarin Valerina Daniel is officially back.

Dalam terbitan kali ini, Valerina dan Keisha memboyong 4 binatang andalan Indonesia. Ya, 4 sahabat super adalah sekelompok hewan yang menggunakan kekuatan supernya untuk memberikan pertolongan di tempat mereka tinggal. Mereka adalah; Orang si Orang Utan yang sangat lincah, Cendra si Cendrawasih yang bisa melihat dari jarak yang sangat jauh, Mau-Mau si harimau yang mampu melompat jauh dan berlari sangat cepat, dan Kombo yang sangat kuat.

Serial 4 Sahabat Super ini dapat dibaca untuk anak-anak usia 2 tahun ke atas, tentu saja orangtuanya yang membacakan yaaa ... Bagi yang sudah bisa membaca mandiri, pendampingan orangtua juga tetap perlu untuk mencari informasi tambahan terkait tokoh-tokoh di buku tersebut. Bukan tanpa maksud loh Valerina menempatkan karakter binatang-binatang tertentu di buku itu. Namanya juga Duta Lingkungan, ga mungkin ga ada pesan-pesan terselubung. Seperti misalnya, Tarsius. Ada yang tahu itu apa?

Saya sendiri baru tahu tentang Tarsius. Monyet imut bermata besar asli Sulawesi ini memang baru ditemukan pada 2005 lalu. Namun, sayangnya sejak ditemukan populasinya merosot hingga 80% dan mulai masuk kategori terancam punah. Hadooh, kenapa ga kecoa aja sih yang punah? (curhat ibu-ibu di dapur).

Membacakan buku ini tidak hanya tentang mengenalkan hewan-hewan asli Indonesia tapi jika ditelisik lebih dalam, semua binatangnya masuk kategori terancam. Ga mau kan, hewan asli Indonesia berakhir hanya di gambar?

Ngomong-ngomong soal gambar, ilustrasinya dibuat manual loh, bukan digital.

Sementara ini, serial 4 Sahabat Super baru muncul dengan tiga judul: Menangkap Pemburu Gajah, Menolong Tarsius, dan Menyelamatkan Macan Tutul. Dengan harga Rp65000, serial ini cocok untuk koleksi bahkan hadiah karena kemasan hardcovernya.

Can't wait for another titles ...

Kamis, 15 Oktober 2015

KAMYStory: Anak, Hewan, dan Hak Asasi Binatang



Dalam rangka hari Hak Asasi Binatang, iseng mau ngomongin soal membina hubungan antara anak dan binatang.  Idenya sederhana, tetapi begitu mengetahui apa hubungannya dengan agama, ternyata tidak sesederhana itu.

Walau kami tinggal di apartemen yang notabene tidak boleh memelihara binatang seperti anjing, kucing, burung, dan lain-lain, tetapi masa kecil saya dikelilingi puluhan kucing. Oleh karena itu saya merasa tetap perlu bagi anak untuk tidak hanya mengenal hewan tetapi juga paham cara memperlakukannya.

Peduli Binatang




Berdasarkan usia, anak-anak awalnya dikenalkan dengan berbagai jenis hewan. Memberakan hewan darat, laut, air tawar, burung, dll. Masa-masa itu kayanya senang banget bisa ke Seaworld dan Kebun Binatang Ragunan. Lalu setelah itu belajar memahami perilaku hewan. Bahwa hewan itu hidup dan bukan boneka yang bisa diperlakukan sembarangan. Bagaimana cara menyentuh hewan, adab saat bertemu dengan hewan dan sebagainya. Saat ke Kebun Binatang, saya sengaja membawa aneka buah agar anak-anak dapat menyuapi langsung binatang-binatang yang ada di sana.

Saat ketemu kucing di jalan tidak boleh diteriaki karena nanti bisa tertabrak mobil atau motor karena ngibrit ga jelas. Ikan di kolam tidak boleh dipegang-pegang apalagi dikeluarkan sering-sering, nanti stres. Dan terlebih lagi, memelihara binatang itu adalah tanggungjawab.


Suatu hari, si bocah cowo dapat dua ikan dari sekolahnya. Saya jadi puyeng sendiri. Ga punya mangkuk kaca, ga dikasih makanannya pulak. Lagian mau ditaruh di mana. Akhirnya terpaksa ditaruh di kontainer plastik. Dan benar saja, tak lama, matilah dua ikan itu. Safir yang sedih menuntut dibelikan ikan lagi. Akhirnya saya jelaskan, bahwa si ikan itu juga kasihan nasibnya karena tidak diperlihara dengan baik. Setiap binatang yang mati di tangan kita karena kita abai, itu mendatangkan hal yang tidak baik dalam hidup (saya memang menghindari membicarakan dosa dan pahala). Makanya jangan memaksakan diri memelihara sesuatu apalagi jika rumahnya masih seiprit. Eh dilalah, bapaknya beliin lagi ikan saat di rumah (alm) mertua. Anaknya ribut minta dibawa pulang, saya bersikeras tidak boleh dibawa. Akhirnya dititip di rumah (alm) mertua yang sebenarnya saya juga tidak setuju karena itu artinya melimpahkan tanggungjawab pada orang lain. Kayanya urusan perbinatangan ini masih harus ditatar dulu nih suami istri biar satu suara.

Seperti ketika tiba-tiba bapaknya bawa umang warna warni hasil ke pasar kaget. Anaknya sih senang karena ada binatang lucu, sayanya cemberut. Gimana ga cemberut, walau bukan vegan, saya penyayang binatang dan sadar soal keselamatan binatang. Membeli umang warna warni itu ada beberapa kesalahan, pertama binatang itu dipisahkan jauh dari habitat aslinya. Kedua, itu kasihan amat binatangnya celeng saat proses dicat cangkangnya. Membelinya berarti semakin mendorong penjualnya mengambil umang lebih banyak. Benar saja, beberapa hari kemudian matilah si umang.
Memang sih, maksud si bapak ingin mengulang kenangan masa kecil, saya pun dulu juga mengalaminya. Tapi kan ...

Kan Cuma Main-main, Amy
Saya membelikan anak-anak banyak mainan berbentuk binatang, sekalian dalam rangka mengenalkan jenis binatang dalam versi 3 dimensi. Nah, saat bermain kan biasa deh jadi main makan-makanan dan akhirnya berbagai binatang pun nyangsang di piring saya.

Anak: “Ini amy, makan kura-kuranya.”
Saya: “Kura-kura, ga boleh dimakan karena dia hidup di dua dunia. Darat dan air.”
A: “Sebentar ya aku sembelih dulu anjingnya.”
S: “Anjing haram dimakan juga. Najis pulak. ”
A: “Najis itu apa?”
S: “Jadi kalau kita kena liurnya, kita harus cuci tangan tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.”
A: “trus yang boleh apa dong?”
S: “Ya binatang ternak. Ayam, sapi, kerbau, kambing, kelinci, ikan ... semua yang di laut boleh dimakan.”
A: “Oh, kalau begitu, makan hiu saja nih. Jeeeng!”
S: “Hiu ga boleh dimakan, kasihan. Menyiksa binatang. Tahu ga, yang bisa dimakan dari hiu itu Cuma siripnya. Jadi nelayan akan tangkap hiu, lalu langsung dipotong siripnya trus dibuang lagi ke laut hidup-hidup. Akhirnya hiunya mati pelan-pelan.”
A: “ .... ya udah deh, makan singa aja.”
S: “Singa juga ga boleh dimakan, karena binatang buas.”
A: “Kan Cuma main-main, Amy ....”
S: “Oh hohoho iya deh, maaf yaa ... mana sini singanya?”
Hihihi ada yang putus asa rupanya. Yah agak nyebelin kayanya si amy nih diajak main. Maksud hati sih belajar sambil bermain.

Menyayangi Hewan Kurban


Nah, ini agak spesial momennya. Kenapa? Karena seolah-olah saya menegasikan pernyataan saya tentang sayang binatang. Malika bahkan sempat tidak mau makan ikan goreng yang masih utuh bentuknya. Kasihan, katanya.

“Binatang-binatang ternak dan ikan dan semua binatang yang boleh dimakan dalam Islam itu memang disediakan Allah untuk kita makan agar kita bisa beraktivitas.”
“Tapi kan kasihan ...”
“Ya, makanya, semua ada caranya. Misalnya, hewan ternak itu disembelih.”
“Kaya waktu kurban, ya?”
“Iya, hewan kurban juga mentang-mentang mau disembelih juga ga boleh disakiti. Justru harus disayang-sayang, diberi makan yang cukup, tempat yang nyaman. Biar kita merasakan yang dirasakan Nabi Ibrahim saat hendak menyembelih anaknya, Nabi Ismail. Kalau kita benar caranya, insya Allah proses itu tidak akan menyakitkan bagi para hewan.”

Biasanya setelah shalat Idul Adha adalah waktunya bagi anak-anak melihat binatang kurban dari dekat. Maklum ya anak kota banget, lihat binatang kelihatan banget noraknya hehehe ... Semangat deh, mereka memberi makan. Kalau tidak ada daun yang available, dan ibunya suka lupa bawa pisang, jadi yah dielus-elus saja. Ibunya sambil melirik judes pada anak-anak yang sembarangan mainin batang pohon atau tali kekang ke hewan kurban ^^’ hadeeeuh ....

Idul Adha kemarin bahkan anak-anak melihat lebih dekat proses penyembelihan sapi. Waktu kecil sih saya ada masa-masanya lah, masa semangat lihat pemotongan hewan kurban, masa-masa linu melihat pemotongan, hingga akhirnya biasa saja dan banyak berdoa agar para sapi itu bisa disembelih dengan benar agar tidak menyakitkan. Lalu berterimakasih padanya. Seperti salah satu adegan perburuan di film Avatar itulah.


Yah, sedang mencoba menyesuaikan sesuai porsi yang sudah diatur dalam agama saja sih. Mudah-mudahan tidak melenceng. selamat hari hak asasi binatang, semuanya. Yuk, kita sayang-sayang binatang ^.^

Rabu, 28 Januari 2015

RABUku: Kisah-kisah Hewan yang Disebut dalam Al Quran


Selain para nabi dan Rasul, hewan-hewan juga banyak disebut dalam al-Quran, bahkan di antaranya menjadi judul surah. Walau perannya tidak selalu signifikan, seperti misalnya ikan Nun atau burung Hud-hud, tetapi tidak menjadikan hewan kurang penting dalam ajaran agama. Ada banyak kisah yang mengambil latar belakang para hewan ini dalam menerapkan ajaran Islam.
Buku ini masih kategori nilai 6. Ok, tapi bisa lebih baik. Walau dikemas dalam dwibahasa Indonesia dan Inggris, konten bahasa Inggrisnya kok ya rasa Indonesia, gitu? Agak gimana gitu, ketika membacakan untuk anak. Buku ini termasuk yang menganut paham tidak menggambar nabi manapun, jadi ya kebanyakan ilustrasinya adalah pemandangan. Pada akhir cerita terdapat daftar kosa kata khusus Indonesia-Inggris dan Kotak Pertanyaan. Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan masih sulit dimengerti oleh balita, berbeda dengan serial Thomas, walau jumlah penceritaannya lebih sedikit.
Tapiii walau saya merasa isinya agak membosankan karena tidak ada variasi kalimat atau penyebutan subjek, anak-anak malah suka. Mungkin karena binatang kali yaaa. ... Ya sudahlah, mungkin sudut pandangnya berbeda. Dan siapa tahu misi si penerbit menjadikan buku ini sebagai Character Education for Young Learners, tercapai.
Lagi-lagi untuk buku anak, saya sangat suka memerhatikan perihal penjilidan. Nah, ini salah satu yang saya suka dari buku ini. Walau hanya terdiri kurang dari 30 halaman, tapi serial softcover ini menggunakan jilid lem, jadi tidak mudah bredel.



foto diambil dari www.gadingmedia.com
  1. Kambing Menjadi Korban (The Lamb Offered in Sacrifice)
    Penerbit: Little Khalifa,  PT. Penerbitan Pelangi Indonesia
    Hlm: 16
    Harga: Rp25000,-
    Inilah kisah legendaris yang selalu diceritakan dalam perayaan Idul Adha. Kisah Nabi Ibrahim yang harus menyembelih anaknya, Ismail. Padahal saat perintah itu turun Nabi Ibrahim baru saja bertemu lagi dengan Ismail setelah bertahun-tahun yang lalu Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar, dan Ismail yang masih bayi di sebuah tanah gersang yang kemudian dinamakan Mekah.
  2. Kambing Betina (The Female Goat)
    Penerbit: Little Khalifa, PT. Penerbitan Pelangi Indonesia
    Hlm: 16
    Harga: Rp25000,-
    Pada zaman pemerintahan Nabi Daud as., terdapat banyak peternak kambing. Tidak jarang Nabi Daud as harus menyelesaikan perselisihan di antara para peternak kambing ini. Suatu hari, dua malaikat menyamar menjadi peternak kambing yang bertengkar dan datang ke istana. Bagaimana Nabi Daud as. menyelesaikan masalah ini? Apakah beliau mampu melewati ujian Allah lewat para malaikatnya?
    Judul-judul Serial Ini Lainnya
    Hud-hud dan Nabi Sulaiman as.
    Semut yang Bisa Bicara
    Katak dengan Raja Firaun
    Keajaiban Burung Tanah Liat
    Kuda Nabi Sulaiman as.
    Keledai Nabi Uzair as.
    Unta dan Kambing menjadi Korban
    Pasukan Tentara Allah Swt
    Burung-burung dan Nabi Daud
    #indonesianmoslemreadingchallenge
    @tokomuslimkoe