Tampilkan postingan dengan label writing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label writing. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2015

Mewujudkan 5 Impian Bersama Garuda Indonesia di Inggris

“A thin grey fog hung over the city, and the streets were very cold; for summer was in England.” 
 
Rudyard Kipling, The Light That Failed [Illustrated]
Inggris selalu digambarkan sebagai kota yang kelabu, namun saya bertekad membawa kehangatan Indonesia sambil membawa lima impian yang akan menjadi nyata saat saya menginjak negara tempat Shakespeare berkreasi dan tempat si detektif fiksi Sherlock Holmes diciptakan.

Saat sedang menuliskan daftar tempat yang ingin saya dikunjungi setidaknya satu kali dalam hidup, Inggris menjadi prioritas yang masuk tiga besar destinasi impian itu. Impian yang belum lama terlalu lama, yah sekitar tujuh tahun yang lalu. Dan semakin tahun, semakin banyak alasan bagi saya membawa keluarga menengok tempat kelahiran Pangeran William itu. Dengan menggunakan maskapai kebanggaan negeri, Garuda Indonesia, saya bermimpi terbang bersama tidak hanya seorang diri melainkan juga seluruh keluarga termasuk bocah-bocah. Bertualang bersama anak-anak tentulah tidak mudah, oleh karena itu ketika Garuda Indonesia menyajikan kenyamanan kelas dunia, itulah yang menjadi pilihan kami. Anak-anak tenang selama perjalanan jauh itu anugerah. Bersama Garuda Indonesia, kami kan mencapai lima mimpi sekaligus.

1.        Rindu Abang. Rumah adalah tempat cinta bernaung. Dan ketika kakak-kakak dan saya sendiri mulai menempuh hidup baru, cinta yang terbentuk dalam satu rumah itu pun dibawanya serta. Ada yang masih di rumah. Ada yang pindah tak jauh. Ada pula yang jauh sekali.  Dan si  abang tertualah yang bertualang paling jauh dan paling lama.


welcome cake waktu si abang & kel berlibur ke Indonesia


Rindu Inggris lebih banyak menyiratkan kerinduan saya pada si abang. Rindu punggungnya yang bungkuk, rindu komputernya  yang hangat, dan rindu daftar alunan musiknya. Abang ini pergi ke Inggris tak lama setelah saya menikah, hanya hitungan minggu. Dan setelah abang beserta keluarga berkesempatan pulang sesekali dan bahkan mampir ke unit saya yang seiprit ini, sejatinya saya melakukan kunjungan balasan. Ke rumahnya kini di Luton sekitar satu jam berjarak dari London, begitu dekat dengan tempat kelahiran kami di Belanda tetapi jauh dari tempat kami bertumbuh besar di Jakarta. Ada setitik ingin tahu akan rumah abang, apakah nanti akan saya temukan ‘bagian’ dari rumah masa kecil kami?

Ah, abang jikalau ada rezeki dan jodoh, pastilah kami akan datang.  

2.        Menyenangkan Suami. Suami adalah iklan Inggris berjalan. Kecintaannya pada klub Sepakbola Liverpool dan band-band Inggris senantiasa terpampang di kaus-kaus yang saya setrika. Stone Roses, Oasis, dan tentu saja the best band in the world The Beatles yang notabene lahir di Liverpool.

Dari senyum sumringahnya saat pertama kali saya belikan kaus Liverpool untuk bayi pertama kami, saya tahu membawanya ke Liverpool adalah salah satu impian yang ingin saya wujudkan untuknya, walau bukan penggemar liga Inggris. Sejak Garuda Indonesia secara resmi menjadi partner Liverpool Club, saya merasa mimpi itu semakin dekat. Saya tak sabar ingin melihat raut suami kala menyambangi stadion Anfield, pasti mirip dengan ekspresi norak anak-anaknya (lol). Sabar ya suami, usaha kerasmu mewujudkan masa depan anak-anak pastilah kan terbayar. Dan seperti yang selalu digaungkan oleh para penonton pendukung Liverpool, You’ll Never Walk Alone.

salah satu fragmen yang ada di kolase prewed kami hehehe ... 


3.        Memanjakan Si Kakak. Putri pertama saya penggemar dinosaurus. Dari sekian banyak cita-citanya, salah satunya menjadi Paleotolog. Dan tak ada yang paling saya inginkan untuk menyenangkan dirinya selain membawanya ke Natural History  Museum di London, Inggris untuk melihat fosil dinosaurus betulan, bukan replika. Wajarlah, lebih dari 20 tipe dinosaurus pernah hidup di Inggris.

Si sulung sudah melihat kemegahan museum tersebut di video tentang dinosaurus. Natural History Museum memiliki setidaknya 36 galeri yang gratis dikunjungi. Dan ketika mengetahui kakak sepupunya sudah bersenang-senang di sana, keinginan untuk datang ke London pun kian membuncah.  Menjalani tur seharian penuh bahkan mungkin lebih. Mark your map, kid. It’s going to be a great adventure.

4.        Menghibur Si Abang. Salah satu yang bisa menyatukan kedua kakak beradik yang berdekatan umur ini adalah lego. Jadi apa lagi tempat yang lebih tepat selain, Legoland!!! Dunia bagi penggemar bricks ini juga ada di Bershire, Inggris. Mumpung di Inggris masa ga ke sini siih? Belum lagi, ibunya juga suka legoooo ... (haiyah, ini emaknya atau anaknya yang kepengen?). 

5.        Menginspirasi Mimpi Si Bayi. Saya belum tahu nih, si bayi akan suka yang berbau-bau Inggris atau tidak. Tapi saya sih berharapnya bisa bertemu dengan baby Charlotte, secara  sejak dalam kandungan hingga lahir nyaris barengan hehehe ... Mungkin dari situ, si bayi jadi punya inspirasi mau punya impian apa saja dia ....

Statusnya masih liburan impian, but we’re working on it ^^





foto diambil dari sini

Minggu, 07 Juni 2015

Makan Mi Tropicana Slim Tak Pakai Nelongso


“Ayah enak banget, kalau di kantor sering makan mie.” Begitu protes anak-anak saya ketika mengetahui bahwa ayahnya sudah makan mi sebelum tiba di rumah.

Enak? Saya menyengir getir saja mendengarnya.

Setiap kali saya mengeluarkan mi instan, jauh di lubuk hati yang paling dalam, saya merasa gagal. Masa sudah dengan gagah berani memutuskan jadi ibu rumah tangga akhirnya mengeluarkan mi instan untuk dimakan anak-anaknya? Walau sisi lain dari diri saya akan membela, “tapi ga sering kok, paling seminggu sekali. Cheat day dan takaran bumbunya dibatasi.”

Bumbu yang terdapat pada mi instan seringkali terlalu gurih sedangkan masakan harian saya masih cenderung tawar. Makanya, persediaan mi instan di rumah sejatinya untuk suami. Hehehe ... sangat berguna ketika saya hamil dan badannya selalu lemas. Ketika uang suami sudah terbatas untuk terus-menerus beli makan malam di luar, maka mi instanlah yang dia masak. Dengan rasa nelongso. Sudah cape seharian bekerja eh di rumah makan mi instan. I feel you, suami.

Tapi sejak saya menemukan mi  Tropicana Slim di rak supermarket, saya jadi ada harapan. Untuk tidak merasa nelongso setiap kali memakan mi instan.

Rasa roasted duck adalah yang paling menarik perhatian saya selain rasa ayam bakar yang dikeluarkan mi Tropicana Slim. Dari gambarnya terlihat bentuk mie-nya pun berbeda. Saya pun punya ide untuk sedikit meningkatkan tampilan sajian mi instan. Yah, bukan rahasia umum kalau sebagian besar dari kita jarang menerapkan tampilan sajian yang disarankan seperti terlihat di bungkusnya. Harapan saya pun meningkat ketika mengeluarkan mi  dari bungkusnya, ternyata masih ada wadah tambahan di dalamnya.



Mi  Tropicana Slim itu sendiri dibuat dengan cara dipanggang sehingga kandungan lemaknya tidak sebanyak mi instan lokal, plus kandungan garam di bumbunya pun lebih sedikit dari mi instan biasa. Jadi saya tidak perlu membuang separuh bumbu lagi dong.

Demi mendukung niat produsen mi  Tropicana Slim sebagai mi dengan kadar lemak rendah, saya ya ga mungkin dong menaruh tambahan yang digoreng. Jadi saya buatlah telur ala egg benedict (agak kematangan kayanya hehehe) dan seperti popeye, saya tambahkan bayam. Apa pun makanannya harus ada serat. Dan setelah berulang kali anak-anak bolak-balik di sekitar kompor, Voila. Jadi deh.





“Mi koreaa!” teriak anak-anak saya. Melihat tampilan mi yang berbeda sepertinya mereka ingat mi yang diam-diam saya makan di tengah malam hahaha ... Padahal kandungan kalori mi korea masih lebih besar ketimbang mi  Tropicana Slim. Ya, sudahlah biar mereka menikmati kelebayan mereka. Saya anggap sebagai pujian.


Lha, itu piring siapa yang diembat?


Sepertinya akan menjadi partner yang dapat diandalkan saat bulan puasa nanti. Entah kenapa, pasti ada setidaknya satu hari di bulan ramadhan ketika kami akan bangun terburu-buru dan belum ada apa pun yang tersedia di meja. Kalau ada mi  Tropicana Slim ga akan ada lagi tuh episode nelongso di bulan puasa karena hanya sahur dengan mi instan. Yuk, semangat semangaaat!!!


Selamat mencoba. 

Sabtu, 06 Juni 2015

6 Karakter Ibu di Samsung Galaxy S6 dan S6 Edge


Ibu rumah tangga mubazir pakai smartphone keren? Ah, kata siapa? Perempuan lebih khususnya ibu rumah tangga dengan peran yang sifatnya multitask, justru lebih perlu smartphone keren. Apalagi buatan Samsung, kan jadi sama dengan aktris-aktris yang ada di drama Korea langganan ibu-ibu (eh?). Nah, apalagi ketemu ponsel terbaik yang sesuai banget dengan karakter ibu-ibu seperti saya. Ga percaya? Sok atuh, lanjut bacanya :P

foto dari www.samsung.com/id

1.       Cantik dan Kuat
Kecantikan dan kekuatan berada dalam satu paket kewanitaan. Mau bagaimana pun komposisi tubuh seorang ibu, ia selalu menjadi yang tercantik di mata keluarga yang mencintainya (ya, gak suami?). Seorang ibu harus tahan banting, karena ialah yang paling dituntut tidak boleh sakit. Bukan karena takut tidak ada yang mengurus dirinya, melainkan ia khawatir siapa yang nanti akan mengurus keluarganya.


Begitu juga dengan Samsung Galaxy S6, kini casingnya sudah menggunakan besi, jadi ga perlu khawatir lagi kalau si kecil mendadak terlalu kreatif saat memegang gadget ini. Lapisan kaca di layarnya membuatnya terlihat flawless. Sedangkan layar Samsung Galaxy S6 Edge melengkung hingga memberikan dimensi baru dalam bermultimedia. Pilihan casingnya ada tiga, hitam, putih, dan gold (Syahrini mode on).


foto dari www.samsung.com/id


2.       Energi yang (Seolah) Tiada Habisnya 
Sebuah rumah membutuhkan energi luar dalam dari seorang ibu, entah itu energi fisik hingga energi emosional. Kerinduan para ibu akan pijatan dan penjual voucher sabar yang tak pernah kunjung datang, semakin menguras energi yang tersisa. Makanya perlu trik tersendiri untuk memperluas sabar dan mempercepat pengisiannya kembali. Kaya Samsung Galaxy S6.

foto dari www.samsung.com/id


Di tengah pekerjaan rumah tangga yang tiada kunjung usai, ponsel jadi sering lupa di-charge. Dan kemudian keki kalau lokasi yang dituju ga ada colokan. Dengan menggunakan Samsung Galaxy S6 atau S6 Edge, sesaat sebelum berangkat colok dulu, lalu nyapu-nyapu sebentar (haiyah), 10 menit kemudian ponsel ini bisa deh dicabut, lalu capsus dengan tenang karena bisa dipakai selama empat jam! Keren, ga tuh!


3.       Dapat Diandalkan Kapan Pun, di Mana Pun
Seorang anak lebih sering memanggil ibunya ketimbang ayahnya, itu sering terjadi. Mulai dari urusan sandang (minta menyusu hingga minta cebokin) hingga urusan bantuin prakarya sekolah. Menjahitkan kancing yang lepas hingga memperbaiki mainan (mainan zaman sekarang makin ribet, yak). Suami? Bahkan urusan cari kaos kaki saja harus panggil istri hehehe Dan dialah yang paling nelongso ketika saya pergi, apalagi kalau meninggalkan dirinya hanya dengan ketiga anak saya hahahah pasti ga boleh pergi. Singkat kata, seorang ibu senantiasa dituntut bisa diandalkan setiap saat.


Itulah sifat kamera Samsung Galaxy S6. Walau belum setajam mata hati tapi dengan kamera 16 MP, ibu-ibu seperti saya yang selalu membawa bocah-bocah ke berbagai kegiatan sehingga ga selalu bisa dalam keadaan layak memotret (maklum, bisa jadi mata saya pun tengah jereng mencari lokasi anak-anak saya) jadi bisa mengabadikan momen setara fotografer, dengan satu tangan (karena tangan satunya sedang gendong bayi :p). Dan saya ibu rumah tangga yang perlu kamera ponsel terbaik. Buat apa? Ya, buat jualan lah. Kan istri solehah :D. Dan zaman sekarang jualan ga cukup hanya dengan foto, lebih cihuy kalau ada videonya. Nah, kalau foto atau videonya bagus kan kredibilitas saya turut meningkat. Dengan teknologi layar Super AMOLED 5.1” Quad HD (2560 x 1440) yang dimiliki Samsung Galaxy S6, saya jadi bisa menggunakan kamera dengan visual yang tajam dan layar adaptifnya memungkinkan saya mendapatkan gambar luar biasa dalam kondisi apa pun, gelap ataupun terang. Benar-benar bisa diandalkan kapan pun.




Ket. Foto: Kamera selfie juga besar, 5 MP. Setara dengan kualitas kamera utama Galaxy S5, lho. 


4.       Performa Tangguh, Efisiensi Energi nomor 1
Efisiensi adalah PR besar para ibu. Maklum, kami adalah makhluk multitasking. Dengan status baru punya anak ketiga dan masih ga mau pakai ART, tetapi masih mau nulis dan kembali berkawan dengan mikser, banyak yang bertanya pada saya, “Kok sempet-sempetnya?” Padahal yang bertanya juga tidak kalah sibuknya loh.


Moto saya adalah mengerjakan lebih banyak hal hari ini ketimbang kemarin. Caranya? Terserah Anda.


Begitu juga dengan Samsung Galaxy S6, para ahli di bagian produksi ponsel Samsung juga menunjukkan kian hari keluaran Samsung akan semakin canggih. Terbukti dengan layar Arsitektur 64-bit, LPDDR4 dan GPU canggih produk teknologi asal Korea ini semakin menunjukkan bahwa ialah smartphone dengan prosesor tercepat. Ponsel ini memungkinkan untuk multitasking dan multimedia secara cepat, akurat, dan kuat. Maklum, ibu-ibu perlu ponsel yang tangguh untuk menampung chattingan di grup WA, multimedia untuk game edukasi anak, donlotan video musik BIGBANG (eh?), dan banyak lagi.



Oia, ada juga aplikasi SMART MANAGER yang menunjukkan status baterai, penyimpanan, RAM dan lain-lain dalam satu layar mudah. Praktis, kan?


5.       Aman
Ibu adalah tempat nyaman pertama bagi anak. Mulai dari kandungan, seorang anak sudah mengenal arti nyaman. Kehangatan pelukan ibu memaknai bahwa seorang anak akan selalu merasa aman. Dan saya kini juga merasa aman saat khilaf meninggalkan ponsel di tempat yang terjangkau anak. Teknologi sidik jari memungkinkan Samsung Galaxy S6 hanya dapat digunakan oleh pemiliknya. Aih, kaya mesin absen.


6.       Senang Promo dan Hadiah
Wanita mana yang tidak suka promo apalagi ada hadiahnya? Butuh ga butuh pasti nanti ada butuhnya kok. Percaya deh, para suami. Nah sampai tanggal 7 Juni ini, Samsung Galaxy S6 ada penawaran khusus setiap pembelian Samsung Galaxy S6 akan mendapatkan cover original dengan berbagai pilihan warna. Produk ini seharga Rp600.000,- lho. Hampir 10% dari harga ponselnya. Ga tahu ya, mungkin saya agak kuper tapi covernya ini langsung terhubung dengan ponsel sehingga ketika ditutup otomatis ponselnya standby. Nah, tinggal dua hari lagi ini. Yuk, ah cus ke counter Samsung. Samperin pegawai yang berbaju hitam dan bertuliskan “Ask Me about S6”, pasti jadi ingin beli deh.


Atau kalau sudah terlewat, ya ikutan lomba blognya saja. Bisa dapat Samsung Galaxy S6 lho!




Catatan untuk suami (saya): Ehem, bulan ini aku ulang tahun loh. Masih ingat, kaaan? *kedip2 mesra.


Minggu, 24 Mei 2015

Antara Saya dan Kate Middleton

Ketika dinyatakan positif hamil, rasanya gemes sama suami karena kok bisa-bisanya 'lolos' tapi di lain pihak ya mau diapain lagi, alhamdulillah sajalah. Seperti orang sombong saja nolak-nolak hamil, wong sama suami sendiri. Walau kadang saya curi-curi bertanya pada Allah, "emang saya perlu belajar apalagi sih? Sampai dikasih hamil lagi ..." eh rupanya manusia itu memang tidak tahu apa-apa, karena kehamilan ini berbeda sama sekali dengan dua kehamilan sebelumnya. Itu artinya, there are lots more to learn.

Eh, ternyata, ketika saya dinyatakan hamil, pada saat itu pula Kate Middleton diisukan hamil anak kedua. Maklum, Pangeran William adalah idola saya kala kecil. Kalau ada yang ingat foto dia memberi tanda tangan pertama, saya jadi tahu kalau dia kidal, just like me! Nah jadi deh saya senantiasa mengikuti perkembangan kehamilan istri Pangeran William itu. Well, this is my 3rd #pregnancyStory ....



1.  Hamil Rewel
Kalau Kate Middleton mengalami hyperemesis, saya juga kedapatan hamil rewel.

Dua kali hamil, saya tidak pernah rewel. Mau yang masih kerja di kantor sampai yang sudah resign. Semuanya sehat-sehat saja. Trimester pertama bisa makan nasi 8 kali dengan menu lengkap. Eh dilalah hamil ketiga malah terserang pusing, mual, dan lemas berkepanjangan. Ketika dikonsultasikan dengan dokter, katanya bisa jadi ada hubungannya dengan kondisi mengurus dua bocah. Belakangan saya tahu bedanya dengan kedua hamil sebelumnya, bahwa inilah kehamilan pertama ketika saya benar-benar sendiri, tidak di rumah orangtua, dari A sampai Z.
Sate padang dan air dingin adalah senjata saya yang paling ampuh dan paling nyaman masuk di perut. Kondisi ini ada positifnya juga. Suami jadi mau bantuin cuci piring. Hmmm .. kalau Pangeran William ngapain, ya? Hehehe ....


2. Jalan-jalan Terus
Usai trimester pertama dengan hyperemesis, Kate Middleton mulai menjalankan aktivitasnya secara normal, bahkan di h-1 kelahirannya masih menyetir sendiri. Saya sih ga perlu nunggu trimester kedua, tapi memang hingga menjelang lahiran pun, saya masih ke sana ke mari walau jaraknya semakin dekat dengan lokasi rumah atau rumah sakit.

Agak berkebalikan dengan kondisi di atas, saya justru banyak bepergian jauh saat hamil. Pada trimester pertama, saya sudah ke Semarang untuk pernikahan saudara naik kereta. Nonton konser Bigbang alias boyband Korea di Singapura pulang pergi. Pada trimester kedua sudah ke Bandung untuk menghadiri pernikahan rekan kerja suami. Mekarsari di Bogor buat nyenengin anak-anak. Dan belum termasuk jalan-jalan di ibukota yang outdoor di trimester tiga. Jadilah saya punya banyak pe-er untuk buat review di blog.

Lucunya, ketika sudah melahirkan pun dalam hitungan minggu, si new baby ini juga sudah jalan-jalan ke luar kota ... Keterusan kayanya. Kalau baby Charlotte mah enak ya, begitu lahir sudah di Inggris hehehe ....


3. Jelang Kelahiran
HPL kami rada mirip, jika Kate HPLnya tanggal 25 April, sedangkan saya 26 April. Namun, apa lacur, saya melahirkan pada 18 April sedangkan Kate pada 2 Mei. Ada yang maju satu minggu, ada yang mundur satu minggu.

Kalau proses melahirkan Kate ditunggu sejuta umat, saya yah mungkin 10 persen contact FB saya. Secara kerjaan saya di rumah sakit adalah update status hehehe .... Saya yang lahiran, saya pula wartawannya hahahah .... Oh, dan melibatkan orang-orang di luar negeri, berhubung kedua orangtua saya sedang di Inggris menengok keluarga abang saya yang menetap di sana. Nah, masih kena bau-bau Inggris, kan?

Dan akhirnya .... both of us delivered a baby girl! Yang menarik adalah kami berdua melahirkan dibantu oleh bidan. Kalau Kate memang sengaja minta bidan (tapi bidan kepala rumah sakit sana ya ... ) karena ingin melahirkan senormal mungkin, kalau saya ya karena bayinya keburu keluar ketika dokternya masih di perjalanan. Maklum ya kalau di sini dokter masih lebih populer ketimbang bidan.


4. Flawless Look
Keesokan pagi setelah melahirkan, kami berdua sudah pulang ke rumah masing-masing. Satu dunia heboh melihat tampilan Kate Middleton yang flawless, sampai-sampai dibilang ga benar-benar hamil. Padahal proses melahirkan normal ya memang begitu efeknya, legowoooo ....

Saya sendiri baru belakangan melihat foto saya ketika hendak pulang dari rumah sakit, yang ternyata yaaaah ga beda jauh lah sama Kate Middleton.


5. Pemilihan Nama
Kayanya saya rada cocok deh sama Kate Middleton sampai-sampai penamaan bayinya pun mirip. Anak-anak saya memang diberi nama dengan struktur kerajaan, yaitu Ratu. Menteri, dan Jenderal. Oleh karena anak pertama saya perempuan, yang kedua laki-laki, dan ketiga perempuan lagi. Nah, jika Kate melahirkan seorang Princess, saya kebagian jatah melahirkan seorang jenderal perempuan.

Nama bayi kedua Kate adalah Charlotte Diana Elizabeth, penggabungan nama wanita sang ayah mertua (Charles), nama mendiang ibu mertua (Diana), dan nama nenek sekaligus ratunya. SEdangkan anak ketiga saya adalah Meutia Kamal Baiduri yang merupakan penggabungan nama buyut saya (Cut Nyak Meutia) dan nama datuk saya (Kamal). Nah, mirip kan.


6. No Nanny
Seperti anaknya yang pertama, Kate memutuskan tidak menggunakan nanny untuk bayinya (ketika sudah agak besar sih akhirnya pakai nanny juga). Lha sama dooong. Saya boro-boro nanny, ART saja tidak punya hahaha ... jadi saya ragu ke-flawless-an saya akan bertahan lama (LOL). Ah, sudahlah, yang penting happy.

Mungkin suatu hari nanti, kami bisa bertemu dan saya akan ceritakan pada Kate bahwa kami punya banyak kesamaan hehehe ....



Tulisan ini diikutkan dalam lomba #pregnancyStory bersama NUK

Sabtu, 01 Februari 2014

#My500Words' Effect

Because I've found out about #my500words from @JeffGoins by January 2nd, allow me to continue writing on my blog untill today. Well at least the one with the hashtag.

This January has been a speed for me. I think the year of horse has started when the date set on January 1st. It felt like riding a horse and sometime I felt like being a horse when everyday I tried to accomplished #My500Words mission.

With the slowest internet speed on earth, I finally wrote over twenty posts. Not all of them are 500 words, I suppose. But in average, I've reached it. Yeay.

Do you know how hard it was? To write #My500Words everyday? With all technical troubles you can name? Every single words for #My500Words were delivered from my cellphone. Yup, with my two thumbs. Always wrote them in the middle of the night and made me sleep by almost dawn. No baby, not easy. But I've got something valuable from here.

Some people said, well actually my husband said that I 'talked' too much to the social media. Means, I always talk bad about him. I remember one day I wrote something about me being really annoyed with my parents and suddenly not long after that my aunties asked me to join their FB contact. =) Yup, you may suspect many things. And eversince that time, I decided to write in english.

But apparently that didn't stop me. Though I didn't really mean (not always) to humiliate or to find allies versus my husband, but somehow my words would make him upset. And it would start a text message war between us. (we even argued in texts!) I even ever deleted him from my FB contact, just because I think it was useless for him to know.

But by taking this #My500Words opportunity I've learned to think clearly about my writings. You think, just because you have deadline everyday, it will make you write anything, good and bad? No, honey, especially when you need to publish and share your links everytime you posts somethings. And during doing it I found out that to write continuesly (especially with 500 words) would slowing down your emotions. You tried to think more carefully. Writing with too much emotions will force too much of your energy.

No wonder I always caught myself saying unnecessary things but then finally saw my blogs with lacks of writings yet too much negative emotional writings. I should've known the difference between blogs and diary earlier. Well, better late than never. 

 So as a chinese would see anything as something to make money, so do I. Eversince this #My500Words challenge, When I see things, I would ask myself, 'What can I write about this?' 'What do you want to achieve by writing it?' 'Does it have benefits for your readers? How much?' then the last yet not the least, 'How will I write it?' and after finished my post, I would ask again, 'what will I write for tomorrow?'

I'm sorry if I talk too much about me. Hope you are not getting bored of it.  I am a mother who sometimes earn money from baking cupcakes or cakes and doing text editing. I never be the best of anything. Still learning. I never earn something big that make me fly accross the globe. Well, not yet. And for now, this is the only thing I could give.

  I wish I could give you more excited, inspired and useful writings. But February have just come, let's enjoy your life and write about it.

Selasa, 07 Januari 2014

My Story: Who am I

Since I resign as an editor in one of national publisher in Indonesia after seven years, I've felt what I called losing my identity. Though I am still a freelance editor but in my neighbourhood I was nobody. Especially when I moved into Kalibata City.

I was quite afraid of become Mrs. hery. Oh, no. Being called with my husband's name feels like a sin. I feel guilty for my parents because they named their children with a specific pray to each of them and now I am going to leave it behind and put my husband's name on it. No way, Jose.

So as a person and a child I have some kind of obligation to bring out my name to the word. In a positive way. And maybe in a great way. But unfortunately, it was not easy especially when you don't make new friends.

For months, I was hanging on my old identity, as a former editor and now become a housewive. Time goes by, and my relatives started to forget who was I. While it took years for me to acknowledge them what an editor is. It wasn't an auditor. I worked in a publisher not a printing office. And now, after my resignation, those knowledge gone too fast.

They saw me like the other housewives, stuck in her daster and get fat, or pimpled. Hehehe, or maybe not. And after a year not becoming an office worker, I took a step. I promised myself not to let time goes by just like that. I need to make mark in this world. I need more things to show in my fb's update. I need to become more.

Is becoming a mother a less thing to have? No. Absolutely not. But this home is the first school for my kids. And that's why I need to keep myself not drowning into the housewive's curse. I need to show them varieties of life.

And as my first step is to become more serious as a baker. I like my status as an editor, but I am not the most popular editor or writer in the world that keeps me busy day by day. There are times when I don't have jobs to do and for me those empty day is valuable. I keep my brain work, just like when I still sat behind my desk. I make plans and datelines. And I make it happen. My www.koekieku.com is one of my commitment. If I want to have a café where my kids could learn how to run a business but still able to male friends, then I need to start it now.

I've seen many reality show such as cupcake town and rachel zoe, it took 10 years to make a kingdom. I've been many steps behind.

And as Malika get into a playgroup, I am not only known as Malika's mom but also a baker. Well, i haven't introduce myself to all the Kalibata City residences, but in mailing list, they surely has identified me as a baker.
What so funny about is, those people would found a little bit weird in me when I said that I was an editor or a writer. Guess, these titles are only known well by my colleagues at Mizan.

And the last months of 2013, I've make another commitment by joining Kumpulan Emak2 Blogger. To become a writer. Though I've worked in a publisher for years, I never related myself as a writer. And  being a blogger is my way to be known globally as a writer.

And that is not all. I still have one field to explore. To become a singer or at least a songwriter. I wish there will be time for me to really finished my lyrics that I've wrote for years. I want to be a part in that industry. To make something that inspire people, encourage them, and make them happy. My youtube channel is waiting to get activated. But let's do it one by one. No need to be in a hurry. Just keep walking.

*feelingStronger
#my500words