Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 Februari 2018
SELASHAring: Demi Perayaan Ulang Tahun Si Kelahiran Juni
Bagi anak SD, saya waktu itu, merasa perayaan ulangtahun itu penting. Karena jadi momen ketika saya dapat mengundang kawan-kawan saya, menyuguhi mereka makanan lezat, dan kemudian saya mendapat tanda mata dari mereka. Maklum, kedua orangtua saya bekerja, sehingga kalaupun saya membawa satu-dua teman ke rumah, saya hanya bisa menyediakan telur dadar karena makanan yang di meja sudah dijatah untuk orang rumah.
Namun, membuat perayaan ulang tahun itu tidak mudah. Bahkan untuk sekadar menerima ucapan ulangtahun saja, sulit. Apa sebabnya? Karena saya terlahir di pertengahan bulan Juni. Pada zaman Orde Baru, pada saat itu selama berpuluh-puluh tahun pastilah sedang libur panjang sekolah. Tidak ada kawan yang ingat, apalagi mengucapkan selamat. Terkadang saya berharap saya lahir di bulan yang berbeda ....
Bukannya tidak pernah diistimewakan. Mama punya tradisi menggorengkan ayam ala KFC dalam potongan besar dan boleh makan sesukanya, setiap akhir pekan ulangtahun anak-anaknya. Dan tak lupa, mama akan mengulang kembali kisah detik-detik kelahiran anak yang ulangtahun saat itu. Tapi ... Tetap saja, I want to invite all of my friends.
Hingga kemudian entah apa yang merasuki saya. Hari itu saya ulangtahun. Dan tentu saja sedang libur panjang di rumah saja. Dan tiba-tiba ... Saya bangkit dari kasur, lalu keluar rumah. Mendatangi satu per satu rumah kawan saya dan menyampaikan pesan, “Datang ya ke pesta ulang tahun saya, jam 4 sore.”
Seperti yang sudah diduga banyak kawan yang tengah pergi berlibur. Ketika saya kembali ke rumah, saya tidur-tiduran lagi (atau mungkin menonton televisi). Menunggu. Tak bicara sepatah kata pun pada orang rumah. Apalagi itu hari kerja. Saya lupa apa yang saya rasakan saat itu. Dan kemudian jam 4 sore pun tiba, tidak terjadi apa-apa. Lalu jam semakin lewat dan tak lama ada suara kecil memanggil dari luar pagar. Bukan satu tapi dua ... kawan yang rumahnya paling dekat dengan saya sudah datang. Berpakaian apik. Membawa kado.
JEEENG!
Kakak saya yang kemudian akhirnya tahu bahwa saya mengumumkan pesta ulang tahun ke teman-teman (dan tentunya bukan dari saya), sontak kelabakan menyediakan suguhan. Sedangkan saya pura-pura mandi ^^
Ya ampun, mau dikasih apa anak orang?
Ada yang beli mie instan. Bongkar-bongkar lemari cari kue. Wakakaka heboh lah. Belum lagi, kemudian orangtua saya pulang. Dan terbengong-bengong.
Pada akhirnya, dua kawan itu bukan jadi tamu undangan tapi lagi iseng aja mampir pakai baju bagus. Tidak ada lagi soalnya yang datang. Disuguhi mie instan dan kue kaleng biru. Mereka juga sama bingungnya. Tapi melihat muka saya yang cengar-cengir saja, kayanya tidak ada harapan mencari keterangan dari saya. Papa sempat mengabadikan momen itu, tapi fotonya di rumah orangtua saya hehehe ....
But, I was happy actually.
Jarang-jarang saya spontan begitu. Sering ngerepotin memang gaya saya, tapi biasanya bukan karena ide spontan hehehe ...
Dan hingga kembali masuk sekolah dan kawan-kawan mengeluh soal pesta hoax itu, saya tetap senang.
Serius, bahkan hingga sekarang saya tidak habis pikir dengan motivasi saya.
Saya baru berhasil mengundang kawan-kawan ke rumah saat ulangtahun dengan tata tertib yang baik, selepas kuliah. Yang diundang kawan-kawan kuliah. Sekitar 10 tahun kemudian. I finally have cake with candles to blow hahahah ... Saat itu rasanya, okeh, mission accomplished.
Ulangtahun sendiri kemudian menjadi makna yang personal bagi saya. Saya yang kemudian belajar menerima keadaan bahwa akan selalu kena liburan sekolah, menikmati ketika ketiga kakak saya menyeruduk masuk kamar di pagi hari dengan muka gembira dan menyanyikan selamat ulang tahun dengan gaya lucu-lucu-padahal saya sudah SMA. I guess, selain orangtua saya, merekalah orang-orang pertama yang menyambut kelahiran saya secara real time. I feel like, for better or worse, I'm still their little sister. So it means alot.
Seringkali, ketika saya begitu tidak percaya diri hendak melakukan sesuatu (banyak sih sesuatunya), mengingat kenekatan saya ini seperti motor semangat yang menyala kembali. Dan peristiwa itu membuat saya memahami bahwa bagi saya yang penting bukan hasilnya, melainkan apakah proses perjalanannya membuat hati saya senang. Kalau sudah senang, walau gagal, pasti mau mencoba lagi.
Kalau dipikir-pikir ada sekian banyak kenekatan saya, yang terutama tertumpah dalam hal menggebet cowo ^^ tapi walau sering memalukan, selalu ada sisi saya yang bangga dengan keputusan itu. Cause you’ll never how far you will go, if you don’t go through it ...
Selasa, 13 Februari 2018
SELASHAring: Tiga Tahun Lagi Setelah Tiga Dekade, Lalu Apa?
Usia 30-an bagi saya berlalu seperti angin. Rasa-rasanya saya tak bisa mengkorelasikan usia dengan peristiwa tertentu di dekade ke-3 ini. Tahu-tahu saya sudah dihadapkan dengan kalender baru dengan tahun yang baru. 2018, itu artinya sebagai kelahiran 1981, saya akan menginjak usia 40 tahun dalam tiga tahun lagi. Itu pun kalau masih diberi napas. Saya pernah iseng-iseng meng-google dan ternyata usia kepala 4 ini terbilang istimewa sehingga ada doanya segala. Ga tahu deh itu doanya sahih atau ga. Apa pun, itu menunjukkan bahwa ada sesuatu di usia yang katanya saatnya kehidupan dimulai.
Di antara pesatnya laju 30-an, saya mencoba mengerem pelan-pelan. Tiga dekade ini .. .saya sudah berbuat apa? Saya sudah jadi apa? Dan ada hal yang menarik tanya dalam diri sendiri adalah, betapa nama saya mengalami metamorfosa setiap dekadenya.
0-12 tahun
Inilah usia saya lahir dan kemudian bertumbuh. Jenjang pendidikannya hingga lulus SD. Panggil saya, Ati. Ati, bisa dikatakan nama kecil saya. Asli tercetus dari mulut orangtua saya. Dipenggal dari nama belakang saya, Melati. Ati si bontot, yang mudah ngambek, juga sangat manja. Namun, masa kecil tak selalu indah di angan itu, menjadi dasar kehidupan saya selanjutnya.
13-19 tahun
Inilah yang saya anggap masa ‘teen’ (karena memang baru dimulai di thirTEEN). Usia SMP dan SMA ketika masih labil, pencarian diri dkk. Dan ternyata berpengaruh pada panggilan saya. Macam-macam panggilannya. Saya menjadi banyak hal. Di sinilah saya membentuk alur kehidupan saya. Mungkin bentuknya tak sempurna, penuh coba-coba. Dan berjilid-jilid buku harian menjadi saksi, bahwa saya pernah menjadi Dilan. Hanya tidak pernah mengecap keberuntungan seperti dirinya. Eh malah curhat.
20-29
“Mulai saat ini, nama kamu HP Melati.” Begitu kata dosen saya ketika pada tahun 2000, nilai kuliah saya tidak keluar. Rupanya nama yang saya singkat demi alasan UMPTN tidak bisa diubah lagi. Padahal saya berencana sementara saja memakai singkatan seperti itu, terlebih singkatannya, walau dari nama saya sendiri, serupa dengan singkatan nama gebetan saya di SMA. Tapi alih-alih baper, saya seperti tengah mendapatkan legitimasi nama panggung saya. Entahlah, saya suka berkhayal menjadi orang terkenal. Lalu kemudian saya bermimpi, someday this name will be known globally, bersanding dengan karya-karyanya. HP Melati kemudian menjadi semakin paten, ketika saya kemudian memilih memperkenalkan diri sebagai “Melati” pada klien di tempat kerja saya. Biar kelihatan profesional hehehe ... Bukan Ati yang kekanak-kanakan, tapi Melati yang anggun.
30-sekarang
Lalu kemudian usia 30 pun datang. Ketika saya mengundurkan diri dari pekerjaan, saya pikir habislah sudah karier si HP Melati. Namun, ternyata saya dikejutkan dengan kenyataan bahwa sejak itulah cikal bakal saya kemudian dipanggil oleh para tetangga dan anak-anaknya dengan sebutan “Ami” . Panggilan anak-anak ke saya. Dan lagu hidup saya pun kini tak lepas dari status saya sebagai Ami beranak tiga. Ami yang galak dengan anak-anak yang chaos. Sungguh, deretan postingan blog dan foto-foto di medsos terwujud lebih karena saya seorang Ami. I guess my life is not so bad at all.
Dari tiga dekade itu, saya merasa seperti tengah memasukkan beberapa sendok susu bubuk dengan aneka rasa dalam gelas yang berbeda. Akankah beberapa gelas itu menjadi satu gelas minuman yang benar-benar berbeda dari bahan awalnya?
If I die, apa yang akan orang-orang ingat akan diri saya? Selain bahwa saya kidal dan buta warna? Sesuatu yang akan diingat anak-anak jika melihat atau memikirkan sesuatu ketika aminya sudah tiada. Maunya sesuatu yang indah, yang menginspirasi. Bukan rentetan omelan seperti tengah ospek di setiap pagi.
Yes, I’m kinda monster mom.
Namun, lucunya, hal yang paling sering saya khayalkan adalah melakukan perjalanan panjang bersama anak-anak. Ah, mungkin saya hanya ingin jalan-jalan ^^
Entahlah ... saya beberapa kali pernah menonton film tentang orangtua dan anak yang melakukan perjalanan panjang. Oprah bahkan melakukan tantangan melakukan perjalanan panjang bersama sahabatnya, sesuatu yang sangat dia hindari karena tahu biasanya suka ada drama. Namun ketika melihat berita tentang sepasang kakek nenek keliling Eropa dengan mobil ber-plat B, saya merasa mimpi saya mungkin tidak sejauh itu.
I want to create our journey, our story.
Create atau cipta sebenarnya adalah motivasi yang sudah lama saya pendam atau lebih tepatnya lama saya tunda-tunda. Selama ini, hanya seperti memanaskan mobil di akhir pekan tanpa benar-benar mengendarainya. Hanya berkutat di blog yang juga tidak ambisius.
Menulis dan menyanyi adalah dua-duanya yang dapat saya lakukan secara alami. Dan sudah sejak lama sejak terakhir kali saya menuliskan ‘nyanyian’ saya. Dalam puisi, dalam larik, dalam prosa ... Maka saya rasa waktu tiga tahun lagi itu adalah saat yang tepat untuk comeback. Dan jejaknya dimulai dari sekarang. Saya mungkin bukanlah sosok yang cocok menjadi seorang influencer, tapi saya tak pernah keberatan jika dapat menghibur. Saya memang galak, but I love to tell stories ...
Lalu apa kesimpulannya?
Jelang usia 40 tahun ini akan menjadi sebuah perjalanan hidup bersama keluarga yang diiringi dengan nyanyian dan sebuah cerita yang tercipta di setiap belokannya. Saya kan mengisahkan lagu dan melagukan kisah ... dan akan saya bagikan kepada dunia. Tunggu saja tanggal mainnya. Insya Allah.
Jumat, 19 Januari 2018
JJS: Yang Tertinggal di Pulau Pari
“Bismillahirramanirrahiim.” BYUUUUR!!
And there she goes. To the water.
Mungkin inilah rasanya liburan ‘syariah’. Pikir saya saat melihat satu per satu pengajar mengaji anak-anak saya lompat ke laut dari perahu dengan pelampung dan ... Gamis plus kaos kakinya.
“Subhanallah” dan “Masya Allah” berganti-gantian terucap ringan seperti air dari sekitar 15 pengajar Kalibata City Tahfidz Club yang ikut rihlah ke Pulau Pari dalam rangka ‘rebounding’. Gayanya sih sama saja dengan remaja zaman now, sibuk foto-foto juga, cekikikan juga, tapi ya masing-masing kelompoknya. Saya jadi teringat masa-masa saya masih langsing, saya ga begitu hahahaha ....
Awalnya saya agak ragu ketika mengajukan lokasi rihlah yang berbau laut. Yah, maksudnya nanti kasihan yang perempuan ga bisa ikutan snorkling karena kan baju nya nanti lepek. Tapi merekanya malah lebih prefer dapat vitamin sea, jadi ya sudahlah. Kebetulan dapat harga yang sesuai bujet, di bawah 6 juta utk 25 orang untuk 2 hari 1 malam.
Hari Jumat menjadi hari yang disarankan agen dari Kepulauan Seribunya, karena katanya Sabtu itu terlalu ramai. Dan memang, bertolak dari Kalibata jam 5.30, bisa sampai dengan lancar di pelabuhan Angke jam 6.00. Konon, di hari Sabtu, jalan menuju Angke itu macet parah loh. Terbayang, melihat kondisi jalanannya juga begitu, sempit.
Dari Angke menuju Pulau Pari membutuhkan waktu sekitar hampir 2 jam. Kami tidak pakai speedboat, perahu mesin biasa yang besar, tapi tetap dapat pelampung. Speedboat baru ada ketika akhir pekan, walau ketika di sana saya mendapat flyer terkait speedboat baru yang sudah standby sejak Jumat. Tentu harganya beda ya ...
Sesampainya di sana, sudah ada tur guide dengan gerobak dorong untuk membawakan tas-tas kita semua. Lalu kita pun dipandu menuju sebuah homestay. Penginapan di sana semuanya berbentuk homestay, mirip kaya waktu ke Dieng. Tapiiii ... standar kamar mandinya sederhana banget. Bersih sih, tapi keciiiil ^^
Sepeda menjadi transportasi utama di sana. Biasanya setiap rumah, sudah ada tempat parkir sepeda-sepeda yang bisa kita gunakan gratis sepanjang hari. Saya yang sudah lamaaa sekali ga naik sepeda harus mengalami serangkaian drama: setiap kali baru menggenjot pasti jatuh, ada yang menyapa langsung nabrak, ada yang menyalip langsung oleng dan nabrak. Tapi yah masa mau ditinggal di jalan sepedanya?
Pantai Perawan alias Virgin Beach menjadi destinasi pertama kami. Dan kemudian saya tahu kenapa Pulau Pari adalah tempat yang cocok untuk keluarga terutama dengan anak-anak yang masih kecil. Pantai yang landai menjadi andalan Pulau Pari. Pemandangannya buat saya pecinta laut tapi ga bisa berenang tentu menyenangkan, karena airnya tenang tapi tetap luas dan bisa berjalan di air hingga jauh karena dangkal. Di sana sini disediakan spot foto seperti ayunan dan gazebo di atas air. Pasir putih dan tebaran rumah-rumah keong menjadi objek kesibukan anak-anak. Selebihnya mereka menikmati bermain air mumpung ga ada yang larang.
Pada kesempatan ini, saya hanya bawa si bungsu. Yang lain sama bapaknya hehehe ... Saya sih sudah kebayang, kakak-kakaknya pasti akan langsung menghambur ke air dan betah berlama-lama di sini. Di bagian pantainya juga banyak gazebo atau sekadar kayu untuk duduk-duduk di bawah pohon.
Usai shalat jumat di masjid yang persis di depan homestay kami dan menyantap makan siang yang sudah disiapkan katering di sana, kami melanjutkan kegiatan yaitu snorkling. Saya sih sudah niat mau nyemplung aja, ga mau snorkeling. Pengalaman diajarin snorkling di Pulau Umang ga berhasil karena kata instrukturnya saya berhalusinasi ^^ ya saya percaya aja sih, secara saya suka ngayal memang.
Perahu mesin membawa kami hampir setengah jam mencari titik yang tepat. Para peserta lain diberi briefing singkat terkait penggunaan perlengkapan snorkeling. Pengajar laki-laki langsung menyentuh air, sedangkan yang perempuan butuh waktu sejenak sebelum ikut nyemplung. Baju yang mereka pakai sepertinya sudah di-setting agar tidak berat saat terkena air walau mereka pakai celana panjang juga di dalamnya. Jarang-jarang kan lihat orang nyelam sambil pakai gamis lengkap dengan kaos kaki, ada yang puasa pulak.
Dengan dipancing potongan roti maka datanglah berbondong-bondong ikan-ikan cantik. Kegiatan lihat-lihat ikan ini mungkin terdengan sederhana tapi ga tahu kenapa, bisa lama loh mereka di air. Terkadang mereka naik ke perahu hanya untuk berjemur lalu masuk lagi demi dapat foto di bawah air oleh pemandunya. Saya? Nyemplung juga, tapi pegangan terus ke tangga hahaha .... demi konten.
Ada beberapa hal yang diingatkan pemandunya, seperti: Ga perlu lompat kalau mau masuk ke air, karena dangkal. Lalu ikan-ikan cantiknya ga boleh dibawa pulang yaaa ... waduh anak laki saya pasti kebelet mau ditangkap ikan-ikan cantik itu.
Rasanya ingin terperangkap di dalam laut lebih lama. Merasakan ekor-ekor ikan menggelitik tangan, tapi yah memang sudah waktunya kembali karena ada perahu lain yang datang. Terlalu ramai pun tidak akan menyenangkan bagi ikan-ikan itu.
Sekembalinya kami ke pulau pari, kami menolak beristirahat. Lanjuuut ke Star Island. Rupanya pantai ini banyak bintang lautnya. Bikin gemes ingin foto bareng. Namun perlu diingat, bintang laut itu ga bisa lama-lama diangkat dari air ya ... Ia makhluk hidup loh, bukan properti foto. Sayangnya di pantai ini kok ga terasa terlalu playful kaya di Virgin Beach ya... walau ada lebih banyak properti foto di sini. Tapi view menuju ke sananya lebih banyak hijau-hijau, bukan rumah penduduk. Kami pun tak lama di sana dan kembali ke Virgin Beach.
Di Virgin Beach kami mencoba naik perahu melintasi hutan bakau sambil menanti matahari terbenam. Amboooi .... Saya banyak berharap, baterai ponsel saya tidak habis di saat-saat indah itu... Sungguh menyesal tidak membawa power bank. Sesekali kami turun dari perahu dan nyemplung ke air karena mau foto-foto.
Malamnya kami kembali lagi ke Virgin Beach, hanya saja kali ini saya tidak mau lagi naik sepeda. Lecet sana-sini. Rupanya walau di kiri kanan jalan menuju Virgin Beach sudah bersiap tidur, tetapi di area pantai juga tidak sepi saat malam. Beberapa orang ada yang berkemah, sibuk bermain voli atau barbecue di sana. Suguhan ikan-ikan bakar juga berlimpah, bahkan kami dapat limpahan dari rombongan lain. Lumayan lah, buat menu sahur kawan-kawan yang masih lanjut puasa asyura nya.
Pagi pun menjelang dan saya mencoba menjelajahi sisi lain pulau Pari. Lebih ke arah matahari terbit. Adalah Bukit Matahari yang menjadi spot andalannya. Pantainya penuh sampah rumah kerang, sampah alami sih tapi kan sakit kalau terinjak. Namun, viewnya, luar biasa. Kamera ponsel jadi bisa menghasilkan foto bagus (menurut saya). Sambil menikmati matahari, saya melihat satu per satu pendatang baru bersandar di dermaga. Dan ternyata memang benar kata si agen, Sabtu menjadi hari yang ramai di Pulau Pari. Terlebih ketika kami melihat tidak hanya 2 tapi 6 kapal sekaligus datang, belum termasuk speedboat. Wow, sungguh kami lega bisa berkesempatan menikmati Pulau Pari tanpa harus berebutan spot.
Sengaja aku tinggalkan asa di pulau itu. Berharap bisa kembali sambil membawa anak-anak pecicilan yang tak ikut hari itu. They will love it. For sure.
Jumat, 10 November 2017
JJS: Sisi Lain Suami di Bumi Perkemahan Gn. Gede Pangrango
Saya baru saja datang ke lokasi pernikahan saudara sepupu saya dan sempat mencegat sang pengantin yang hendak naik mobil menuju rumah lain untuk berganti pakaian resepsi. Terburu-buru saya ucapkan selamat dan kemudian menghambur ke pelaminan mencari mak etek dan etek saya selaku orangtua pengantin untuk memberi salam selamat. Tak lupa saya menyalami satu per satu tamu yang semuanya saudara itu. Semua bingung melihat saya begitu terburu-buru kembali menuju arah keluar.
“Mau ke mana?” tanya mereka seragam.
“Mau kemping.”
Lalu sorot mata bergulir dari ujung kaki ke ujung kepala, mungkin dikira saya akan kemping dengan baju pesta ^^
Pernikahan yang dilangsungkan di Bekasi itu memang mendadak, nyaris bersamaan dengan keputusan suami untuk mengajak anak3nya kemping perdana. Melihat antusias suami membeli berbagai macam perlengkapan outdoor, mau disuruh diundur demi mengikuti perkawinan saudara dengan lebih khusyuk kok ya ga tega. Suami memang sejak masa muda senang kemping, dan paling tidak sejak berkenalan dengan saya, dia sudah tidak pernah lagi naik gunung. Hampir 10 tahun lah. Jadi kalau dia sudah bersiap, mungkin rindunya sudah membuncah. Walau anak yang terkecil baru saja menginjak dua tahun.
Kami buru-buru sebelum jalur ke arah puncak ditutup. Maklum akhir pekan. Suami juga sudah berjanjian dengan kawannya untuk ketemuan di TKP.
Setelah sempat nyasar mencari yang namanya Bumi Perkemahan akhirnya ketemu juga.
Dan yang pertama saya cari adalah, kamar mandi. ^^ sebagai orang yang hanya pernah satu kali kemping, kamar mandi di hutan itu agak gimana gitu ya. Namun, kami beruntung. Kawan suami sudah menyiapkan segala sesuatunya, terlebih karena dia pun membawa keluarganya. Posisi tenda di dekat sungai dan kamar mandi tapi tetap aman bagi anak-anak berkeliaran. Tenda dan kasurnya menggunakan jasa sewa di sana, jadi kita cukup bawa makanan. Walau makanan juga bisa beli sih hehehe ....
Setelah turun dari mobil di parkiran, saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya memang sudah lama tidak olahraga. Ada tangga tinggi banget untuk mencapai tujuan, setelah menanjak, lalu turunan. Herannya, anak-anak ga merasa capek tuh (apalagi yang digendong), semangat menuruni tangga terlebih melihat terowongan berbentuk krokodil zaman dinosaurus. Mereka semakin jejeritan ketika tahu kemahnya di dekat sungai dan langsung menghambur ke sana. Sesuatu yang sudah bisa ditebak. Arusnya deras walau tidak dalam, jadi anak-anak tetap ditekankan main di antara bebatuan. Sekalian mandi lah di sungai. Walau kamar mandinya cukup bersih dan hanya perlu bayar kalau ada penjaganya, tapi airnya juga dingin banget.
Tenda yang saya dapat berukuran sedang. Sebenarnya dengan tiga anak dan satu keponakan, cocoknya tenda yang besar, tapi waktu itu kawan suami kadung pesan yang sedang, ga nyangka anak temannya banyak kali ya hehehe. Sudah ada dua kasur busa juga bantal. Suasananya kaya di rumah sendiri aja, tidur mepet-mepet hehehe ... Kalau mau shalat juga ada tempatnya, cukup apik karena dibuat semacam bilik bambu dan air wudhu yang mengalir terus. Mukenanya juga banyak.
Ketika malam mulai menggantung, anak-anak tidak berkurang excitement-nya. Mereka penasaran dengan berjalan-jalan dalam gelap hanya berbekal lentera led. Sementara orang dewasa mencoba membuat api unggun. Saat menyalakan api unggun juga jadi ekstra hati-hati karena ada anak-anak yang masih norak-norakna.
Sementara suami menyombongkan diri, “kalau kemping, teman-teman ayah semuanya makan masakan ayah. Ayah rajin masak soalnya.”
Saya nyengir saja mendengar si tuan besar yang suka banyak komplen soal masakan ini tapi ga mau cuci piring. Eh curcol. Ga tahunya beneran dia semangat pinjam kompor lalu mulai masak ini itu. Ga yang aneh-aneh sih, goreng daging burger (padahal dia ogah banget makan burger), bakar roti, masak air, bikin pop corn ... tumben lah saya makan sesuatu yang dia persiapkan sendiri. Kan saya jadi enak.
Ternyata semakin malam semakin dingin. Ya iyalah, namanya juga di gunung. Anak-anak sudah pakai kaos kaki dan jaket dua, dan mereka pulas banget tidurnya. Apa mereka cape juga setelah main di luar ya?
Keesokan harinya baru deh eksplor ke tempat lain di sekitar situ. Karena tempatnya juga dipakai untuk acara-acara gathering jadi pasti ada yang komersilnya. Salah satunya yang kami coba adalah dayung perahu.Dengan membayar Rp25ribu, kami sekeluarga bisa menggunakan perahu, dayung sendiri tapi yaa ... kayanya ga dalam sih situnya.
Viewnya luar biasa dengan hutan pinus dan ujung-ujung gunung yang terlihat, tiba-tiba saya teringat suatu tempat di pedalaman Amerika yang sering muncul di televisi. Indonesia ternyata juga punya pemandangan keren kaya gitu. Rasanya saya mau berlama-lama di situ, tapi saya ingat ada dua anak yang suka ga sabar pengen jumpalitan. Cocok buat melamun soalnya, eh tapi kalau musik kencang yang dinyalakan sound system di situ ga dinyalakan sih...
Destinasi selanjutnya adalah air terjun. Nah, ini jalannya rada kaya menembus hutan gitu. Ada jalan setapak tapi di tepi jurang. Jadi saya yang mudah tersandung ini lebih memilih menyerahkan si bontot ke suami daripada saya gendong sendiri. Keputusan memakai sepatu juga tepat, karena di beberapa tempat pijakannya licin. Setelah 15 menit menanjak akhirnya ketemu juga air terjunnya. Ga besar sih, tapi cukup untuk tempat main anak-anak.
Kayanya di tempat seperti ini ga perlu banyak tambahan sih ya. Setidaknya buat anak-anak, sungai dan lahan luas dengan pohon-pohon sudah jadi arena bermain yang ga habis-habis level kegembiraannya.
Hanya satu malam kami kemping dengan citarasa agak glamping. Sore itu, setelah siangnya kami main-main di tenda saja karena hujan, akhirnya saling berpamitan dengan kawan suami. Kalau dilihat dari gelagatnya sih, bakal ada lagi agenda kemping bareng keluarga. Hmm... mungkin tahun depan. Ke mana ya? Saya sih selama kamar mandi ok, no probs lah. Belum siap yang harus keruk-keruk tanah buat BAK dan BAB hehehe ...
Jumat, 03 November 2017
JJS: Ditinggal Suami Demi Sunrise di Dieng
![]() |
| SUNRISE di DIENG Photo Credit FB @herysogirkuswahyo |
“Kamu tahu ga kenapa aku ajak ke sini?” tanyanya tiba-tiba di tepi telaga Cebong.
“Ga,” aku melengos karena masih teringat rasa kesal semalam.
“Karena pertama kali aku dibawa ke gunung ya ke sini sama ibu.” Lalu raut merindu itu pun terlihat.
Sejak pertama kali ide ini dicetuskan oleh suami, saya agak-agak merasa tidak adil. Memang tujuan utamanya ke Dieng, tapi itu berarti tetap mampir ke Purworejo, kampung kedua orangtuanya dan tempat mereka dimakamkan. Bukan apa-apa sih, masalahnya ini sudah kali kedua kami ke Purworejo, sedangkan kampung mama papaku belum pernah dipijak satu kali pun. Dan ini sudah 9 tahun pernikahan. Terbayanglah saya kalimat-kalimat mama yang sudah bisa ditebak kalau beliau tahu saya ke sini. Maklumlah ya, namanya berkeluarga pasti kalau mau berkunjung jadi memikirkan apakah adil atau tidak ke orangtua.
Namun, begitu melihat ada seorang anak yang tengah merindukan orangtuanya plus dengan kenangannya, masa iya mau marah lama-lama. Sambil berdoa dalam hati, semoga disegerakan ada rezeki bisa ke kampung orangtua saya di Sumatera Barat dan Aceh. Demi menyenangkan orangtua.
Butuh dua jam untuk mencapai daerah Dieng dari Purworejo, area pegunungan yang semakin naik jalannya semakin jauh pandangan ini melihat tebaran ladang kentang di kiri kanan mobil.
Menara pandang Dieng menuliskan posisinya di ketinggian 1789 m dpl. Di situlah lapis pertama jaket anak-anak (dan saya) dipakai. Sekadar mencicipi mie ongklok dan french fries khas Dieng untuk pertama kali. Menara pandang itu sedang pembangunan di sisi-sisinya, mungkin di saat-saat tertentu spot itu banyak dicari oleh para wisatawan. Mau beli perlengkapan dingin di sini juga murah meriah.
Kabut mulai turun sehingga kami bergegas kembali ke mobil sebelum jalanan tertutup kabut. Wajar jika harus berhati-hati, jalanannya selain berkelok-kelok pun sempit dan truk atau bis berlalu-lalang.
Saat tiba di area kota, hujan rintik-rintik, menambah rimbun kabut-kabut yang mengambang di sekitar mobil. Saya yang jarang-jarang ketemu kabut pun menyempatkan berfoto. Jaket lapis kedua pun dipakai.
Kawasan Candi Dieng merupakan tujuan kami selanjutnya. Di dalam kawasan ini, ada beberapa candi, salah satunya belum selesai dibangun ulang karena ada satu baris bagian yang hilang. Kawasan ini menyenangkan karena tertata rapi, seperti taman. Walau kami masuk dari bagian belakang yang agak mencurigakan gitu jalannya, tapi begitu sudah masuk kawasan, terlihat cukup terawat. Anak-anak bebas berlarian ke sana ke mari sambil menghangatkan tubuh. Sementara suami sibuk mengambil gambar. Sinyal internet juga cukup bagus di sini, sehingga keponakan yang turut ikut bersama kami sempat-sempatnya update status.
Ada beberapa kawasan candi di Dieng, tapi tidak seluas kawasan Candi Dieng.
Setelah pembelajaran perbedaan agama dan keyakinan singkat pada anak-anak dari tur candi ke candi, maka berlanjut ke pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Saatnya mengunjungi kawah.
| Foto pakai masker di samping kawah Sikadang ternyata bisa bagus juga |
Walau penampakan depannya agak kurang meyakinkan, tapi kawasan Kawah Dieng Sikidang ini cukup sadar bahwa perlu menambah pengalaman bagi para wisatawan yang datang. Daerah sekitar kawah dipagari kayu, sedangkan di sana sini dibuat berbagai spot foto. Hanya saya bingung kenapa temanya harus romansa ya? Kawasan ini kan agak-agak berbahaya tapi ‘love’ di mana-mana ^^ Dengan masker yang sudah dibeli sebelumnya, aroma kawah ini memang kuat. Panasnya juga dimanfaatkan untuk merebus telur dan kemudian dijual. Hmm ... memangnya beda ya rasanya?
Kawah yang beberapa bulan lalu pernah meledak, Kawah Sileri pun kami datangi. Ketika kami datang berselang beberapa minggu sebelumnya juga meledak untuk pertama kalinya. Ada yang aneh ketika kami dalam perjalanan ke sana. Area kawasan Sileri letaknya jauh dari kota. Ladang luas atau pembangkit gas di kiri-kanan, lalu tiba-tiba ada waterpark. In the middle of nowhere. Dan itu berseberangan dengan kawah Sileri. Waterparknya besar juga, makanya terlihat canggung. Apa berenang di situ airnya hangat?
![]() |
| Kawah Sileri. Tidak sebesar sikadang tapi auranya bikin deg-degan ngeri. |
Berbeda dengan kawah Sikidang, kawan Sileri ini malah terlihat seperti kawah mencurigakan. Tanah yang kami pijak semakin lembut seiring bertambah dekatnya kami ke tepi kawah. Tidak ada pagar kayu di sana. Begitu mulai terlihat tanah yang menghitam, saya meminta anak saya berhenti melangkah. Ngeri juga sayah hehehe ...
Dan tak butuh waktu lama, kami pun bertolak ke desa tertinggi di Dieng, desa Sembung.
| Dieng. Di mana-mana kentang. |
Mobil kami diberhentikan di depan gapura. Azan magrib berkumandang, langit sekejap menjadi gelap. Kami tidak bisa masuk ke penginapan yang dituju karena akan dilaksanakan hajatan alias ada panggung yang memblokir jalan. Para penjaga di sana mencarikan penginapan yang memungkinkan untuk kami pakai. Dan kami pun menunggu dalam balutan jaket dan sarung tangan. Kini dinginnya bukan main-main.
Akhirnya dapat juga kami satu rumah. Karena memang tidak bisa ke mana-mana juga, maka fokus kami adalah makan dan tidur. Terbayang harus bangun pagi-pagi sekali besok demi mengejar matahari terbit. Tapi dasar saya yang memang sulit tidur pulas di perjalanan, saya terbangun di tengah malam dan mencari makan malam yang memang sengaja saya minta dilebihkan belinya ke suami. Bolak-balik saya mencari, lalu saya tanya ke suami, eh sudah dia habiskan. Duh ... dingin-dingin begini ga ada makanan berat? Apalagi perut itu letaknya dekat sama hati, jadi kalau perut lapat, emosi pun menumpuk. Yah sudahlah, terpaksa tidur dengan perut minta-minta makan, membayangkan pecel ayam dan nasi hangat yang semalam dimakan. Dan dalam keadaan setengah tidur itu yang dipaksa-paksakan, saya lihat suami sibuk mondar-mandir dengan perlengkapan dinginnya lalu kemudian keluar kamar dan penginapan itu hening hingga waktu yang lama.
Saya terbangun dan usai shalat keluar kamar. Ternyata ... Ga ada siapa pun di luar kamar!
Rupanya suami, sepupu, dan keponakan sudah bertolak menuju Bukit Sikunir demi mengejar matahari terbit. Oke lah, bung .... Kita ditinggal .... Pasti ga mau disuruh gendong bocah dua tahun sambil hiking kan? Galau sih mau nyewa baby carrier .... Dan sekarang kami Cuma diminta senyum-senyum saja mendengar cerita mereka melihat sunset yang menurut suami agak berawan dan telat munculnya.
Toh, anak-anak disempatkan juga mampir ke Telaga Cebong yang merupakan kaki bukit Sikunir. Sepertinya warung-warung di sana hanya buka saat jelang matahari terbit untuk para wisatawan, karena ketika kami tiba, semuanya tutup. Di sekitar Telaga ada beberapa kemah di sana, wedew .... ga usah dibayangkan deh dinginnya kaya apa semalam. Kayanya hanya penyanyi dangdut yang joget di panggung semalam saja yang tidak merasakan menggigitnya hawa malam kemarin.
![]() |
| Telaga Cebong di Satu Sisi |
![]() |
| Telaga Cebong dari Sisi Lain |
Telaga Cebong ini ga ada yang spesifik sih, tamannya belum ditata, tapi kalau mau bengong-bengong sepi, di sini cocok. Suasananya quite, telaganya tenang. Kalau saya lebih lama di sini mungkin sudah dapat banyak ide tulisan.
| Lihat degradasi warna di telaga Warna |
Usai menyerahkan kunci penginapan, kami meroda hingga ke Telaga Warna. Sayang saya tidak turun karena si bayi tidur. Lagian saya buta warna, jadi agak sulit merasakan keindahan telaga yang konon memantulkan tiga warna yang berbeda. Sepertinya sudah di tahap Let It Go, yang penting suami senang. Kasihan kan sudah jadi pencari nafkah utama dan satu-satunya, tapi ga boleh menentukan sendiri mau liburan ke mana? Maklumlah, aslinya anak outdoor, jadi bertahun-tahun ga naik gunung tentu rindu juga .... Yah semoga semakin semangat menjalani hari.
Label:
anak,
belerang,
bukit sikunir,
candi arjuna,
candi gatotkaca,
dieng,
foto,
indonesia,
jalan-jalan,
jawa tengah,
kawah sikidang,
kawah sileri,
keluarga,
liburan,
matahari terbit,
orangtua,
suami,
sunset,
travelling
Jumat, 02 Juni 2017
JJS: Kedinginan di Pantai Anyer
Curah hujan masih tinggi, tapi keinginan Suami untuk piknik sepertinya tak terbendung lagi. Pilihannya, kehujanan di puncak atau kehujanan di pantai? Akhirnya pilih pantai, biar air ketemu air.
Perjalanan kali ini mengikutsertakan mama dan papa saya juga keponakan yang dapat tugas menyetir ^^’ Lewat jalur Banten, kondisi jalan cukup lancar dan berhenti makan siang persis di seberang menara mercu suar. Anak-anak sepanjang jalan sudah tidak sabar ingin ketemu laut, sehingga agak tidak fokus dengan makan siang.
1. MERCU SUAR – KARANG BOLONG
Usai makan siang, kami tidak langsung ke penginapan, melainkan mampir ke lokasi wisata zaman saya kecil, Karang Bolong. Sekitar 15 menit berkendara. Sesampainya di sana, sepi. Mungkin karena bukan musim liburan kali ya. Setelah membayar tiket masuk Rp15000,- per orang, kami pun langsung menuju TKP. Anak-anak seperti pemanasan dengan pasir pantai di sana. Belum sempat mengeksplor spot foto yang menarik lainnya, hujaaan. Padahal sepanjang perjalanan Jakarta-Anyer, cuaca senantiasa cerah. Jadilah kami yang belum sampai setengah jam di sana berlarian kembali ke tempat parkir. Hati-hati ya, tempat parkirnya harus menyeberang jalan soalnya.
Dari penglihatan singkat sih kelihatannya agak kurang digarap ya Karang Bolong ini. Konon ada kolamnya, tapi ya ga tampil gitu. Model kaya gini harusnya dibuat spot foto yang banyak. Spot foto yang sesuai dengan tema laut dan pantai ya.
2. NUANSA BALI COTTAGE
Setelah aksi lari-lari kecil ke tempat parkir, kami akhirnya balik arah menuju Nuansa Bali Cottage. Sesuai namanya, tempat ini didekorasi agar seolah-olah seperti di Bali. Cottage yang dipesan suami adalah cottage dua kamar dan dua kamar mandi yang salah satunya berada di samping dapur.
Hujan sudah reda. Anak-anak langsung menghambur ke pantai pasir putih.
Tak perlu lama, sudah disambut hujan. Mereka pun pindah ke kolam renang, tapi karena hujannya juga bersamaan dengan angin kencang yang dingin, tak butuh waktu lama mereka kembali ke cottage yang tidak jauh dari kolam dalam keadaan menggigil. Macam orang mandi di es saja hehehe ...
Hujan terus menderu hingga malam. Saya bersyukur karena membawa rice cooker dan mama membawa lauk, karena hujannya benar-benar bikin mager. Kami masih bisa menyantap makanan hangat di antara angin dingin yang masih berhembus kencang di luar sana.
Dengan cuaca mendung seperti ini, pupus sudah harapan memotret matahari terbit. Saat jalan pagi bersama anak pun, kami sempat kehujanan di tengah perjalanan pulang dan berteduh di salah satu atap warung yang belum buka.
Jalan pagi di pantai tapi pakai jaket hehehe .... sungguh bukan outfit yang sesuai.
Entah apa karena cuaca atau memang kebiasaannya, sarapan kami diantar ke cottage. Soalnya saya lihat tenda yang sejatinya menjadi tempat orang menyantap buffet tidak dibuka sejak semalam.
Jelang siang, cuaca baru agak bersahabat. Anak-anak menyempatkan naik trail. Saya tadinya mau foto di dermaga, tapi ditutup. Mungkin karena angin kencang jadi agak berbahaya jika beraktivitas di sekitar dermaga. Jadi saya perhatikan saja para pekerja yang tengah menyiapkan kursi di gedung aula yang disediakan Pesona Bali Cottage. Sepertinya akan ada acara ....
Matahari kian semangat bersinar, tapi kami sudah harus pulang. Sepertinya kita tidak berjodoh dengan awan merah muda dan jingga kali ini hehehe .... Ga papalah, yang penting ketemu pantai yang ada ombaknya.
Pulangnya, kami sekeluarga sakit semua. Masuk angin hihihiy ... oleh-oleh Pantai Anyer.
Label:
anak,
anyer,
cottage,
holiday,
hujan,
karang bolong,
keluarga,
laut,
liburan,
nuansa bali,
pantai,
penginapan,
serang
Langganan:
Postingan (Atom)














































