Kamis, 07 September 2017
KAMYStory: Alasan Saya Suka "Islam itu Ramah Bukan Marah"
Tidak banyak buku yang ketika dibaca dua atau tiga kali masih memberikan efek ‘waw’ atau bahkan lebih, apalagi kalau buku itu adalah nonfiksi. Dan buku ini salah satunya. Bahkan kalau saya biarkan tangan ini mengambil stabilo, maka sudah berhias warna warni di sana sini untuk kutipan-kutipan keren.
Irfan Amalee bukan orang baru bagi saya. Walau tidak pernah berurusan langsung dengannya, tapi kalau sudah mengemukakan gagasan itu rasanya ada harapan untuk dunia. Ulasan kegiatan beliau di bawah bendera Peace Generation tidak jarang membuat saya terharu. Apalagi kalau teringat sedang berada di dunia yang penuh caci maki.
Sedih loh begitu berhadapan dengan mereka yang suka melabeli negatif even on daily basic. Ada sekian banyak reaksi yang hendak saya lontarkan, yang jika tidak saya tahan bisa jadi saya pun telah serupa dengan mereka. Istigfar ... istigfaaar.
Apakah Rasulullah pernah marah? Tentu saja. Namun, secara keseluruhan, wajah Islam yang seperti apakah yang Rasulullah tampakkan dalam dakwahnya? Ramah atau Marah? Halus atau sindir-sindiran?
Kang Irfan mengambil peristiwa-peristiwa terkini yang kemudian disandingkan dengan cara Rasulullah bersikap dalam menghadapi berbagai hal saat melakukan dakwahnya. Dan tentu, sikap Rasullullah adalah sunnah bagi para pemeluk Islam, bukan? Seperti yang diingatkan kang Irfan dalam babnya berjudul, “Manakah Sunnah yang Lebih Utama, Janggut atau Senyum?”
Jika mengingat perilaku Rasulullah terasa jauh dan sulit, maka bukalah judul “Belajar dari Bapak Bangsa Kita ...” yang memaparkan tentang hubungan Soekarno-Buya Hamka, Muhammad Natsir-Soeharto, dll. Sebuah situasi yang walaupun berbeda pendapat tetapi tidak saling menghilangkan kemanusiaan di antara mereka. Seperti ketika saya bertengkar dengan kakak saya, walaupun pernah saya delete dari pertemanan di media sosial tapi saya menyadari bahwa yang namanya saudara lebih dari status perkawanan di dunia maya. Nah, bukankah sesama muslim itu bersaudara. Pada yang nonmuslim pun bersaudara dalam kemanusiaan.
Pertanyaan dalam judul “Apakah Kamu Tipe Kompor atau Tipe Jembatan?” ini menggema dari telinga hingga ke hati saya. Anak sulung saya tipe kompor, dan melihat dirinya, saya jadi terbayang orang-orang yang benar-benar senggol bacok di luar sana. Sebuah PR besar bagi saya ketika setiap kali si sulung melontarkan sesuatu pernyataan yang dia dengar yang kemudian disambut oleh adiknya secara mentah-mentah. Benar-benar momen saya diacuhkan oleh mereka yang tenggelam dalam praduga dan prasangka sedangkan saya sudah mengelilingi mereka untuk mengatakan bahwa itu tidak benar. Ini baru dua orang anak kecil loh. Gimana yang sudah dewasa? Oh help me God ... Menjadi tipe jembatan itu tidak mudah. Tidak diterima di sisi satu, dimusuhi di sisi lainnya. Maka, judul di atas berubah menjadi, “Beranikah kamu menjadi tipe jembatan?” di kepala saya .... Berani ga yaa ....? Tapi kalau ga berani, mau dibiarkan saja orang-orang pada bertikai?
Ada kutipan yang sangat saya suka dalam judul “Seberapa Pentingkah Membaca Bagi Kita?”:
“Berapa kali Allah dalam Al-Quran menyuruh ibu-ibu pakai kerudung?” Ibu-ibu diam karena tidak ada yang tahu.
“Hanya satu kali,” kata Pak Satia. “Tahukah ibu-ibu berapa banyak ayat yang memerintahkan membaca dan menulis?” Ibu-ibu dia karena tidak ada yang tahu. “33 kali!” lanjutnya.
Jadi, oleh karena menutup aurat sangat penting, maka membaca menjadi SANGAT PENTING yang dikuadratkan 33x. How big is that?
Saya semakin merasa menjadi butiran debu saat Kang Irfan menyebutkan bahwa Al-Thabari, seorang mufasir dan sejarawan Islam menulis 40 halaman setiap hari! Ya ampun, saya mau update blog seminggu sekali saja seperti sedang disuruh plank 3 menit. Maju mundur maju mundur, akhirnya ga jadi jadi.
Mau saya sih dituliskan saja semua di sini isi bukunya, tapi namanya membajak karya orang dong ^^’ Maka marilah membeli buku seharga Rp44.000,- ini di gelaran IIBF di JCC Senayan mulai tanggal 6-10 September ini. (Lha jadi jualan ^^’). Beli buku yang lain juga ya. Jangan lupa dibaca, jangan difoto doang. Ada begitu banyak hal yang tidak kita ketahui di luar sana. Banyak baca, banyak menulis biar berani jadi jembatan eh agen perdamaian (ngomong buat diri sendiri).
Rabu, 30 Agustus 2017
RABUku: Asupan Bergizi dengan Komik Islami
Bulan Ramadhan lalu, abang saya beberapa kali mengirimkan kami komik-komik islami. Mungkin itu kata lain dari ‘rindu’. Maklum, abang saya masih menetap di negaranya Kate Middleton. Katanya sih sekaligus mendukung kawan-kawannya juga sesama komikus. Saya sering sekali melihat judul-judul berikut ini seliweran di timeline toko buku online saat membuka PO. Dan peminatnya banyaaak ....
1. Si Bedil: Mantap Qolbu (karya Seto Buje & Reyhan Senja)
Ternyata Si Bedil ini umurnya dah 2 tahun hehehe ... Komik ini berkisah tentang Bedil dan kawan-kawannya. Dalam banyak kesempatan, Si Bedil ini memang sosok ‘superhero’nya alias yang banyak ngasih wejangan ke kawan-kawannya. Namun, caranya ya kaya ke kawan sendiri lah. Tapi ada juga momen si Bedil salah. Wih ini yang dinanti-nanti saya. Biar lebih manusiawi gitu bagi saya. Terkadang karakter Ust. Thor-X muncul juga untuk memberi wejangan tambahan.
Yang saya suka dari komik ini adalah keringkasannya. Setiap fragmen hanya membutuhkan 4 (paling banyak 5) bahkan dua kotak. Selesai. Jadi terasa disentil-sentil terus tahu-tahu makjleb. Dan satu lagi kelebihannya, berwarna. Full. Dari depan sampai belakang.
Sasaran pembacanya. Kalau dilihat dari adegan-adegannya sih, di mana si Bedil ini anak mahasiswa, temanya rada dewasa ya. Tapi kalau baru dibaca pas kuliah rasanya telat banget. Paling ga anak-anak SMA dah mulai deh baca beginian. Soalnya entah kenapa anak SMP masih terlihat anak kecil di mata saya ^^’
Bonusnyaa ... Saya ga tahu ya apakah ini ada syarat dan ketentuannya, tapi sewaktu saya buka paketnya, juga sudah ada di dalamnya kaos hitam bertuliskan “LUPAKAN MANTAN, INGAT TUHAN” (lha kalau mantan pacar alias suami masa dilupain? ^^), pin, dan stiker. Memang Pionicon sendiri sebagai rumah kreatifnya menjual berbagai macam merchandise, bisa dilihat infonya di halaman paling belakang.
Buku ini ga tahu ada berapa halaman, ga ada nomor halamannya hehehe ... tapi ada 75 fragmen dan dapat dibeli dengan harga Rp.60000,-
2. Gambar itu Haram? (karya @bangdzia)
Buku ini datang hampir bersamaan dengan pertanyaan putri sulung saya sepulang mengaji. “Ami, kata ustazah kalau gambar ga boleh ada mukanya. Emang benar?”
Naah, saya suka kesulitan menjawab kalau pertanyaannya benar atau tidak, terlebih perihal agama. Dan anak-anak itu sulit menerima bahwa sebuah pernyataan dapat ditanggapi berbeda oleh ahli agama. Syukur saja, sebelum itu saya sudah dikirimi komik “Gambar Itu Haram?”. Jadi saya ada sedikit bekal untuk menjawab walau ga selengkap yang di komik.
Sebenarnya saya sudah lihat judul ini sewaktu Islamic Book Fair lalu di stan Al Kautsar yang menaungi penerbit Salsabila, hanya saja karena sudah lihat sampulnya bergambar wajah, saya berkesimpulan “oh ini buku mau menegasikan pendapat yang ga ada wajah niiiy”. Khawatir pembahasan yang ga seimbang, walau saya pelaku gambar yang berwajah, saya putuskan untuk menunggu review dari pembaca lain.
Dan saya salah. Komik dengan rating R+ alias untuk remaja 13+ ini justru memaparkan permasalahan ini dari berbagai sudut pandang. Soal pilihan dikembalikan pada pembaca. Semangatnya agar tidak saling bertengkar gitu looh. Dan sesuai dengan ratingnya, komik ini pembahasannya luas karena sarat sejarah juga, jadi harus dibaca dengan saksama. Buat saya yang sulit menghapal nama, nama-nama yang bertaburan di komik ini juga menantang bagi saya. Untung ga ada ujian terkait buku ini. Pasti ga lulus ^^’
Buku dengan halaman total 158 ini dapat dibeli dengan harga Rp.37.000,- Saya amaze lihat harganya. Soalnya bisa dibilang ini kaya buku pelajaran, isinya jauh lebih besar dari harganya.
3. Komik Peradaban Akhlak (karya vbi_djenggoten)
Komik yang satu ini hebohlah PO nya. Dan ketika para toko buku baru open PO, saya dah dapat doooong (sombong). Maklum ya, ini karya vbi_djenggotten, sudah kadung beken sangat orangnya. Sesuai dengan judulnya, dan subjudulnya: Kisah-kisah penuh hikmah orang-orang shalilh terdahulu, maka ceritanya ya bersetting masa lalu. Logonya “Bacaan Semua Umur” tapi saya baru baca logo ini setelah si sulung yang berusia 7 tahun membaca isinya ^^’
Metode gambarnya agak berubah ya dari “99 Pesan Nabi”. Sekarang kepala tokoh lepas dari badan. Jadi ketika si sulung membaca adegan seseorang digigit anjing hingga mati, dia membayangkan anjing itu menggigit hingga leher orang itu putus. Lha, jadi sadis ^^ Aku sih bilang ke dia, “Kayanya ga putus deh, kan emang gambarnya ga nyambung ...” (sambil merujuk komik yang disebut sebelumnya). Anaknya sih ngangguk-ngangguk aja, ga tahu deh apakah dia rela menukar bayangan yang sudah kadung terbentuk di kepalanya hehehe .... Pada beberapa fragmen ada yang perlu saya bahasakan ulang karena yah namanya juga yang dihadapi bocah 7 dan 5 tahun, kadang ga serta merta paham. Namun secara garis besar tetap nyaman dibaca untuk anak-anak kok.
Buku ini sepertinya hanya beredar di ranah online dan dijual dengan harga Rp47.000,- harga berubah-ubah sesuai jadwal diskon toko online ^^’
Nah, sekian review singkat dari saya. Dibeli ya komiknyaaa ...
Selasa, 29 Agustus 2017
SELASHAring: Anak dan Pameran Lukisan Istana ‘Senandung Ibu Pertiwi'
“Ami ini ga menepati janji!!” jerit si sulung ketika saya katakan mulai malas mau berangkat melihat pameran lukisan istana, “Senandung Ibu Pertiwi”. Bukan apa-apa, tapi hari itu terik sekali. Apa daya, hasil daftar online beberapa hari sebelumnya menunjukkan bahwa waktu yang memungkinkan adalah di jam 1-3 siang. Namun, melihat anak-anak yang sudah berganti pakaian padahal baru pulang sekolah, saya tak sampai hati juga.
Dan kami berempat pun melaju dengan kereta dari Kalibata ke Gondangdia. Sebentar saja. Setiba di sana sambung dengan bajaj menuju Galeri Nasional. Sekejap, kami sudah sampai. Kurang dari 45 menit lah.
Siang itu terlihat sepi. Mungkin karena hari kerja. Kami berjalan agak ke dalam karena gedung utamanya menjorok jauh dari pagar. Pak satpam yang baik hati mengingatkan kami untuk berjalan di bawah bayang-bayang gedung agar tidak kepanasan.
Terlebih dulu berbelok ke kiri untuk melakukan registrasi. Sebelum masuk antrian, saya menyerahkan tas dkk ke tempat penitipan. Petugas memastikan saya hanya membawa uang. Lipstik, pulpen, dan pensil yang kebetulan dipegang anak saya pun harus dititipkan. Ya iyalah, khawatir lukisan asli itu dicoret-coret. Setelah mendapat tas transparan berlogo Mandiri untuk tempat dompet dan ponsel, saya mendekati mas-mas berseragam BeKraf untuk menunjukkan bukti hadir saya via email yang ada di ponsel. Acara ini sejatinya gratiss ....
ATURAN
![]() |
| Patuhi aturannya sebelum masuk area pameran |
Ada sekitar 12 aturan sebelum memasuki ruang pameran, yaitu: tidak boleh membawa tas, tidak memakai topi, tidak mengenakan kacamata, tidak memakai jaket, tidak boleh membawa selfie stick, tidak boleh membawa binatang, kamera maupun kamera ponsel tidak diperkenankan menggunakan blitz, tidak boleh membawa makanan dan minuman, tidak boleh menyentuh karya, dan yang terakhir saya tekankan ke anak-anak, tidak boleh berisik. Setelah yakin anak3 paham dan sepakat dengan aturan tersebut, barulah kami ke gedung utama.
LUKISAN YANG MENARIK PERHATIAN ANAK
Diam-diam dalam hati saya berharap ada lukisan yang menarik perhatian anak-anak. Takutnya mereka kecewa Cuma disuruh lihat-lihat, ga ada arena bermain hehehe ... Begitu kami masuk, deretan lukisan yang terpampang terlebih dahulu adalah tema pemandangan alam. Pikir saya, wah permulaan yang tepat niy, kan anak SD suka gambar pemandangan. Gambar gunung dan sawah yang fenomenal itu juga ada kok.
![]() |
| Lukisan Pak Tino Sidin |
Dasar anak saya orangnya memang ga fokus, jadi kami cepat sekali beralih dari satu lukisan yang satu ke yang lainnya. Mereka hanya minta dibacakan judulnya untuk menambah pemahaman.
Yang menarik perhatian saya adalah ada lukisan Pak Tino Sidin. Waduh legenda masa kanak-kanak saya niy. Ternyata karya beliau ada juga di istana? Wah, kira-kira karya Pak Raden ada ga ya?
Lukisan pertama yang bikin anak saya loncat-loncat adalah “Bertamasya ke Dieng” karya Ries Mueller. Maklum, kami baru ke sana beberapa bulan lalu. Mereka jadi bisa lihat Dieng sewaktu belum ada banyak properti foto selfie di sana.
![]() |
| "Menunggu Hidangan" karya Frida Hoffeman. Buat saya lukisan ini seperti foto. |
Setelah menikmati serial kebaya cantik yang menampilkan berbagai macam potret diri wanita berkebaya, anak-anak ketemu lagi lukisan yang bikin mereka jingkrak-jingkrak. Kalau tidak ada pembatas besi, mungkin sudah dipeluk itu lukisan. “Gatotkaca dan Dua Putri Arjuna” karya Basoeki Abdoellah lah penyebabnya. Tatkala banyak orang terpesona dengan lukisan “Nyi Roro Kidul”, bahkan saya enggan memotretnya (takut sendiri), anak saya malah lebih suka lukisan Gatotkaca yang sixpack dan otot kering kaya Bruce Lee. Iyalah, mereka belum tahu soal Nyi Roro Kidul. Kalau dipandang-pandang, memang Pak Basoeki ini ahli membuat lakon dramatis, dark gitu. Seperti karyanya yang besar banget “Djika Tuhan Murka”. Bikin ingat kiamat sudah dekat.
![]() |
| "Gatotkaca dan Putri-putri Arjuna" kebayang ga kalau anak-anak pose kaya gitu di samping lukisan "Nyi Roro Kidul"? |
Hampir dua puluh menit kami di situ. Mau foto-foto lama juga sulit karena si bontot minta digendong terus hehehe ... Inginnya sih ada lebih banyak lukisan, tapi apa mungkin kendala ruang ya ... Lukisan-lukisannya sepertinya memang banyak dari masa kepemimpinan Soekarno. Memang beliau pun terkenal karena jiwa seninya sih. Ada sudut yang menampilkan foto-foto Bung Karno dengan para pelukis. Dan ada timeline sejarah juga di tembok merahnya. Di sini area yang paling terang sehingga banyak yang berfoto di sana.
Ada satu lukisan yang saya pikir berasal dari masa kepemimpinan Soeharto, soalnya ada sosok yang mukanya mirip sekali dengan Pak Harto tetapi rupanya itu adalah karya Itji Tarmidzi bertajuk “Lelang Ikan”. Dan Itji Tarmidzi ini eksisnya di zaman Soekarno. Kok saya tahu? Soalnya Itji Tarmidzi ini masih ada hubungan saudara sama saya. Di masa tuanya, saya pun pernah bertemu pelukis sekaligus pemahat ini di kampung mama saya dengan jaket biru khasnya. Daaan, saya telat tahunya waktu di Galeri Nasional hahaha .. karena anak-anak sibuk minta dibacakan judul lukisan, saya jadi terlewat membaca nama pelukisnya. Padahal saya memang sempat mau cari hehehe ... mudah-mudahan tidak dianggap hoax sama niniak-mamak ^^
![]() |
| Jangan lupa isi buku tamu ya ... |
Apa saya harus balik lagi ya? Mau tahu kaya apa lukisannya? Termasuk dalam image spanduk besarnya juga di bagian depan Galeri Nasional. Penasaran? Datang saja, Pamerannya masih berlangsung sampai 30 Agustus koook ...
Info lengkapnya bisa tengok http://jadimandiri.org/
Label:
agustus,
basoeki abdullah,
dirgahayu 72th,
indonesia,
Jadi mandiri,
jakarta,
kementrian sekretaris negara,
kemerdekaan,
lukisan istana,
pameran lukisan,
senandung ibu pertiwi
Selasa, 08 Agustus 2017
SELASHAring: 1, 2, 3 Mari Menyusui ...
Kalau dipikir-pikir, status beranak tiga dan yang bontot sudah berusia lebih dari dua tahun, rasanya kurang cocok jika ikut acara Cerita Bunda bersama Prenagen lactamom yang diselenggarakan haibunda.com dan bekerja sama dengan Prenagen dalam rangka Pekan ASI Sedunia 2017 pada 05 Agustus lalu di cafe dia.lo.gue, Kemang. Namun, nyatanya walau ada begitu banyak informasi yang bertebaran tentang ASI, tidak sedikit para ibu yang mengalami kesulitan saat hendak memberikan ASI pada anaknya. Maka, dengan datang ke acara seperti ini, saya bisa mengupdate informasi ke kawan-kawan, syukur-syukur bisa berbagi pengalaman.
"Bagi ibu mungkin sudah menjadi pengalaman menyusui yang kedua atau ketiga, tapi bagi si anak itu adalah pengalaman pertamanya." kata Dr. Yolanda Safitri, MPH (M) Konselor Laktasi; Bunda International Clinic sebagai narasumber pertama.
Menyusui itu ternyata tidak seperti naik sepeda, karena melibatkan pihak lain sehingga butuh waktu untuk beradaptasi. Dan dari anak pertama hingga ketiga, cerita tentang menyusui tidak pernah sama.
Tantangan terbesar bagi saya usai melahirkan putri pertama saya bukanlah proses pelekatan bayi pada puting ibunya, melainkan tanggapan orangtua saya terkait ASI saya. Ketika bayi masih belajar dan belum berhasil, ASI diperah tapi cuma iseng-iseng basahin dasar botol, membuat saya akhirnya membeli susu formula. Kepala saya sudah pening dengan omongan sana-sini.
"Tenang aja, lambung bayi baru lahir itu baru sebesar kelereng." Itu kata kawan saya via message. Kalimat yang seperti guyuran air di gurun pasir. Saya tak lagi menyalahi diri sendiri, dan punya sedikit tenaga untuk mengumpulkan kepercayaan diri. Dan kuping perlahan tertutup dengan berbagai konten negatif. Fokus saling belajar bersama si sulung dalam menyusui.
Pada hari ketiga, ASI saya akhirnya keluar dengan normal. Walau salah satu putingnya perlu disedot oleh si sulung dengan sangat kuat selama satu minggu pertama dan itu rasanya ... luar biasa, seperti mau melahirkan saja ^^' Alhamdulillah masih kebagian kolostrum yang ternyata masih berproduksi hingga 5 hari setelah melahirkan.
Bagaimana dengan sufor yang dibeli? Saya berseru gembira ketika si sulung menolak diberi sufor, "YES!!!"
Tantangan berikutnya adalah menjadi busui yang bekerja. Seminggu pertama saya kembali bekerja, si sulung bingung puting, hingga saya pernah minta izin pulang lebih cepat untuk menyusui karena anak saya sama sekali menolak diberi ASIP. Dan beberapa hari, saya hipnoterapi, membisikinya selagi menyusu atau saat tengah ditimang hendak tertidur. "Kalau Ami kerja, Malika nyusunya lewat botol ya. Nanti Ami pulang, baru nyusu langsung lagi." Dan berhasil!
Lingkungan kantor pun mendukung, walau belum memiliki ruangan khusus tapi saya diberi waktu untuk melakukan pumping di jam kerja. Begitu sudah agak ahli, saya bisa memerah sambil bekerja atau bahkan saat rapat. Ketika satu kantor diwajibkan ikut pelatihan di luar kota, saya nyaris tidak mau ikut karena ASIP saya terbatas dan anak masih ASI Eksklusif. Namun pimpinan saya, dengan semangat 'tetap bekerja walau menyusui' mengizinkan saya membawa bayi dan suami saat itu bersedia mengambil cuti dadakan, dan karena bawa rombongan, saya pun diberikan satu kamar sendiri di hotel. Sungguh terharu saya dibuatnya.
Si sulung ini menjadi anak yang paling sebentar waktu menyusuinya karena di usia 10 bulan, saya sudah hamil lagi. Tanpa disapih, si sulung berhenti menyusu di usia 13 bulan.
Situasi saya saat melahirkan anak kedua agak berbeda. Sudah berhenti bekerja dan pindah ke rumah sendiri di usia bayi 40 hari. Saya pikir bisa jadi lebih fokus, tenang, dan sebagainya. Tapi ... eh ternyata ga juga loh. Karena si anak tengah ini, laki-laki, dan menyusunya bisa berjam-jam. Serius. Berjam-jam. Dari saya masih elus-elus ajak ngobrol, hingga ketiduran, lalu bangun lagi, itu anak masih saja nempel. Dan kalau saya lepas, anaknya bangun lalu minta nyusu lagi. Eh ya ampuuuun .... Mau minum saja ga bisa. Apalagi masih ada si kakak kecil. Dari dibujuk disuruh nonton sampai filmnya habis, belum kelar juga. Akhirnya si kakak turut nimbrung dengan mainannya di sisi lain ibunya. Menyusu sambil momong. Tak jarang menyusu sambil nulis blog, di hape jadul yang lemot, bisa loh jadi satu postingan. Masih syukur terkadang dikirimi sayur daun katuk sama mama. Dan kalau si ayah belum berangkat kerja, si sulung bisa memuaskan rasa bermainnya. Atau saya bisa sejenak membetulkan posisi tubuh saya yang kaku berjam-jam ketika si ayah memandikan anak cowok ini atau mengajaknya berjemur. Pada saat-saat seperti ini, dukungan walau remeh-temeh itu sangat berarti loh. Hasilnya, anak laki ini betah menyusu hingga usia 2,5 tahun.
Baru saja saya buang bra menyusui saya setelah 4 tahun digunakan, merayakan hari bebas menyusui, eh saya hamil lagi. Persis satu bulan setelah si anak tengah berhenti menyusu. Hampir-hampir mirip dengan salah satu narasumber Ilma Rineta (Co-Foundaer Circle of Moms) yang juga menyusui nonstop dari tahun 2012, tiga dari empat anaknya adalah laki-laki, dan gragas juga menyusunya ^^' . Saya Cuma bisa elus dada dengarnya.
Pada kehamilan ketiga ini saya cuek luar biasa. Gayanya petantang-petenteng. Ah, gue dah jago lah. Tapi eh tapi, untuk pertama kalinya saya merasakan puting lecet oleh bayi yang ga punya gigi. Badan masih remuk usai melahirkan, tulang punggung masih kram, payudara bengkak, dan sobek ... huaaa rasanya mau nangiiiis ... Butuh waktu seminggu baru bisa normal. Itulah namanya kualat ^^' Dan ternyata 75% ibu menyusui mengalami puting lecet. Jadi itu biasa, normal seperti halnya masalah lain dalam menyusui mulai dari berat badan bayi turun (selama belum 10% dari BB bayi masih dianggap normal), bayi sebentar-sebentar menangis (bukan karena ASI kurang, melainkan karena ASI mudah dicerna bayi), hingga bayi kuning (dikarenakan organ tubuh bayi pun masih belajar mengelola bilirubinnya). Jadi, ga perlu khawatir. Perbaiki lagi pelekatannya.
Bersyukur sudah tidak ada lagi lingkungan dengan konten negatif. Baik keluarga, kawan, hingga tetangga yang datang senantiasa membawa sesuatu yang mendukung saya selama menyusui di minggu-minggu pertama.
Tantangan saya di anak ketiga adalah gizi. Saya terbiasa menurunkan prioritas diri saya terkait gizi makanan karena saya sudah tidak ada waktu memasak untuk diri saya sendiri. Akhirnya makan ala kadarnya. Sehingga banyak asupan seperti zat besi dan kalsium yang sudah menjadi isu saat hamil anak ketiga, yang tidak terpenuhi. Hal ini yang membuat saya curiga apakah itu yang menyebabkan gigi-gigi pertama anak saya tidak tumbuh dengan bentuk sempurna. Tidak kotak mulus melainkan runcing-runcing gompal-gompal. Hadooh.
Tapi cukup sudah. Tiga pengalaman sudah lebih dari cukup bagi saya hehehe ...
Terkadang kita lupa, saat menjadi busui, kita pun masuk ke kalangan VIP di rumah tangga. Makanya memang harus selalu ingat bahwa di zaman sekarang ini support system untuk ibu menyusui sudah semakin membaik, seperti dengan begitu banyaknya pilihan susu khusus ibu menyusui yang rasanya pun enak. Konselor ASI bertebaran, seminar tentang ASI pun sering diselenggarakan, komunitas ASI juga beragam. Semoga dengan begini, para ibu menyusui semakin nyaman menyusui anaknya. Dengan perasaan bahagia dan penuh cinta.
Jumat, 02 Juni 2017
JJS: Kedinginan di Pantai Anyer
Curah hujan masih tinggi, tapi keinginan Suami untuk piknik sepertinya tak terbendung lagi. Pilihannya, kehujanan di puncak atau kehujanan di pantai? Akhirnya pilih pantai, biar air ketemu air.
Perjalanan kali ini mengikutsertakan mama dan papa saya juga keponakan yang dapat tugas menyetir ^^’ Lewat jalur Banten, kondisi jalan cukup lancar dan berhenti makan siang persis di seberang menara mercu suar. Anak-anak sepanjang jalan sudah tidak sabar ingin ketemu laut, sehingga agak tidak fokus dengan makan siang.
1. MERCU SUAR – KARANG BOLONG
Usai makan siang, kami tidak langsung ke penginapan, melainkan mampir ke lokasi wisata zaman saya kecil, Karang Bolong. Sekitar 15 menit berkendara. Sesampainya di sana, sepi. Mungkin karena bukan musim liburan kali ya. Setelah membayar tiket masuk Rp15000,- per orang, kami pun langsung menuju TKP. Anak-anak seperti pemanasan dengan pasir pantai di sana. Belum sempat mengeksplor spot foto yang menarik lainnya, hujaaan. Padahal sepanjang perjalanan Jakarta-Anyer, cuaca senantiasa cerah. Jadilah kami yang belum sampai setengah jam di sana berlarian kembali ke tempat parkir. Hati-hati ya, tempat parkirnya harus menyeberang jalan soalnya.
Dari penglihatan singkat sih kelihatannya agak kurang digarap ya Karang Bolong ini. Konon ada kolamnya, tapi ya ga tampil gitu. Model kaya gini harusnya dibuat spot foto yang banyak. Spot foto yang sesuai dengan tema laut dan pantai ya.
2. NUANSA BALI COTTAGE
Setelah aksi lari-lari kecil ke tempat parkir, kami akhirnya balik arah menuju Nuansa Bali Cottage. Sesuai namanya, tempat ini didekorasi agar seolah-olah seperti di Bali. Cottage yang dipesan suami adalah cottage dua kamar dan dua kamar mandi yang salah satunya berada di samping dapur.
Hujan sudah reda. Anak-anak langsung menghambur ke pantai pasir putih.
Tak perlu lama, sudah disambut hujan. Mereka pun pindah ke kolam renang, tapi karena hujannya juga bersamaan dengan angin kencang yang dingin, tak butuh waktu lama mereka kembali ke cottage yang tidak jauh dari kolam dalam keadaan menggigil. Macam orang mandi di es saja hehehe ...
Hujan terus menderu hingga malam. Saya bersyukur karena membawa rice cooker dan mama membawa lauk, karena hujannya benar-benar bikin mager. Kami masih bisa menyantap makanan hangat di antara angin dingin yang masih berhembus kencang di luar sana.
Dengan cuaca mendung seperti ini, pupus sudah harapan memotret matahari terbit. Saat jalan pagi bersama anak pun, kami sempat kehujanan di tengah perjalanan pulang dan berteduh di salah satu atap warung yang belum buka.
Jalan pagi di pantai tapi pakai jaket hehehe .... sungguh bukan outfit yang sesuai.
Entah apa karena cuaca atau memang kebiasaannya, sarapan kami diantar ke cottage. Soalnya saya lihat tenda yang sejatinya menjadi tempat orang menyantap buffet tidak dibuka sejak semalam.
Jelang siang, cuaca baru agak bersahabat. Anak-anak menyempatkan naik trail. Saya tadinya mau foto di dermaga, tapi ditutup. Mungkin karena angin kencang jadi agak berbahaya jika beraktivitas di sekitar dermaga. Jadi saya perhatikan saja para pekerja yang tengah menyiapkan kursi di gedung aula yang disediakan Pesona Bali Cottage. Sepertinya akan ada acara ....
Matahari kian semangat bersinar, tapi kami sudah harus pulang. Sepertinya kita tidak berjodoh dengan awan merah muda dan jingga kali ini hehehe .... Ga papalah, yang penting ketemu pantai yang ada ombaknya.
Pulangnya, kami sekeluarga sakit semua. Masuk angin hihihiy ... oleh-oleh Pantai Anyer.
Label:
anak,
anyer,
cottage,
holiday,
hujan,
karang bolong,
keluarga,
laut,
liburan,
nuansa bali,
pantai,
penginapan,
serang
Jumat, 26 Mei 2017
JJS: Mengurai Kisah Keong Mas di Taman Legenda TMII
Tujuan utamanya memang Taman Legenda, karena si sulung dapat dipastikan akan suka sekali. Maklum, penggila dinosaurus. Namun, sekaligus ingin menuntaskan rasa penasaran si anak tengah yang belum pernah nonton di Keong Mas, TMII sementara kakaknya sudah. Rasanya ga matching, tapi ternyata kedua tempat ini saling berhubungan satu sama lain.
1. Rasa Orde Baru di Keong Mas, TMII
Datang ke Keong Mas seharusnya sudah tahu jadwal film yang diputar apa saja dan jam berapa saja, karena setiap jam beda-beda temanya. Saat itu kami sesuai takdir saja hehehe dan dapat jadwal film berjudul “Mutumanikam Nusantara”. Yah film jadul lagi deh.
Pada kunjungan pertama bersama anak sulung, saya menyadari bahwa theater iMax ini kurang di-update judul-judul filmnya. Rasanya sayang, padahal teater ini keren banget loh, belum ada kayanya yang layarnya sebesar ini di bioskop-bioskop ibukota. Sebenarnya ada sih, film-film baru tapi kemunculannya ga selalu satu bulan sekali.
Sembari menunggu, anak-anak melihat koleksi keong-keong nusantara yang dipajang di sekitar kuris-kursi tunggu. Padahal Keong Mas itu kan berasal dari cerita rakyat ya? Kenapa ga ada ceritanya di sekitar sini?
Film dimulai. Dan memang rasa orde baru ya. In a funny way. Soalnya begitu melihat nama-nama yang muncul sebagai orang di balik layar kenapa jadi seperti melihat susunan kabinet ya? Hehehe .... Meski begitu, buat saya, film dokumenter ini digarap dengan baik. Ga asal jadi gitu loh. Dengan teknik kamera bergerak, film ini sukses membuat saya pusing dan kaki saya berdenyut ngeri saat menyunting ketinggian. Materinya sih tentang keberagaman nusantara, hanya beberapa daerah yang diangkat (ada beberapa seri sepertinya) dan masih ada Timor Timur ^^. Zaman sekarang kayanya boleh juga dibuat versi terbarunya, gampang kan sudah ada drone.
HTM: Rp.35000,-/orang
2. Taman Legenda: A Place for a Freespirited Kid, like mine
Usai makan siang di warung dekat Keong Mas, kami sekeluarga jalan menuju lokasi Taman Legenda. Jika mengikuti jalan mobil, letak Taman Legenda berada di belakang area Keong Mas, setelah melewati Klenteng. Dari area parkiran sudah terdengar ‘suara-suara’ dinosaurus yang membuat anak-anak tak sabar menuju lokasi.
Saat mencapai loket, ada beberapa item paket top up. Seperti ketika ke Mekarsari, tiketnya berbentuk gelang yang berisi saldo untuk pembayaran wahana-wahana di dalamnya. Tadi saya mau ambil tiket terusan senilai Rp125000,- tapi saya pikir-pikir kan ga mau berenang. Soalnya sudah siang dan berenang itu bisa menghabiskan banyak sekali waktu plus saya ga bawa baju renang untuk anak-anak. Akhirnya saya isi masing-masing gelang Rp100000,- toh bisa top up di dalam kalau kurang.
a. Petualangan Dinosaurus (Rp.25000,-/orang)
Tentu ini jadi wahana pertama yang dimasuki. Dengan robot-robot dinosaurus yang bersuara, bergerak-gerak kepalanya, bahkan ada yang menyemburkan air, si sulung senang bukan kepalang. Kecuali si anak tengah yang marah karena kaget. Area dinosaurusnya siy tidak besar, cepat habisnya. Si sulung dah komplen, “Hah, gini doang?” sebelum kemudian pandangannya terjatuh pada area Arkeolog Cilik alias area pasir. Sebenarnya itu area pasir yang ada ‘rangka’ dinosaurus yang tertutup, jadi bisa pura-pura tengah menggali. Kebetulan hujan turun, jadi semakin ada alasan anak-anak berlama-lama main di situ.
b. Andong (Rp. 20000,-/andong)
Kata suami saya, ini andong beneran karena rodanya dari kayu. Naik andong ini juga termasuk murah meriah karena hanya butuh top up dari satu gelang tapi bisa dinikmati beramai-ramai. Lumayan dapat dua putaran.
c. Mata Legenda (Rp20000,-/orang)
Saya selalu suka ferris wheel. Lebih tepatnya selalu suka foto dengan ferris wheel sebagai latar belakang. Pengen coba di seluruh dunia, tapi belum mampu hehehehe ...
Sebenarnya naik mata dewa ini lebih bagus saat malam. Namun, di hari-hari tertentu, Taman Legenda hanya buka hingga sore, seperti hari itu saya datang. Ruangnya benar-benar tertutup, jadi aman. Bisa lihat TMII dari ketinggian. Beda rasa dengan ketika naik kereta gantung sih.

d. Memberi Makan Binatang (Rp5000,-/pakan)
Anak-anak kemudian bingung mau masuk wahana apa lagi karena ada berbagai macam permainan. Mau naik komidi putar tingkat, saldonya ga cukup. Akhirnya saya tawarkan memberi makan binatang, dan mereka langsung bersorak gembira. Yang dihitung hanya pakannya, jumlah orang yang kasih pakan sih bebas. Jadi ketika memberi makan kelinci di dalam kandangnya yang cukup lapang, kami sekeluarga masuk dengan membawa dua gelas pakan saja. Si kecil juga bisa berinteraksi dengan kelinci yang memang kan ga agresif ya. Jadi suasana tenang, lucu-lucu gitulah.
Usai memberi makan kelinci, lanjut ke kambing. Kambing juga bukan kambing yang bisa kita lihat saat idul adha. Dari ukuran hingga tanduknya saja berbeda.
e. Taman Legenda (gratis)
Area Taman Legenda itu sendiri adalah area taman dengan varian air mancur. Ada patung-patung di situ yang masing-masing merupakan adegan-adegan dalam kisah Keong Mas. Jadi anak saya yang berjiwa bebas itu langsung menerjang Taman Legenda dengan tangan terbuka lebar, mengitari tanpa lelah setiap patung dan membaca keterangan kisahnya satu persatu. Cocok untuk santai-santai untuk para orang tua karena disediakan gazebo di beberapa tempat, tempat bagi anak-anak untuk berlarian bebas tanpa hambatan (entah berapa kali mereka keliling-keliling tempat yang luas itu), dan spot keren untuk foto-foto dengan landscape alamnya. Kalau tidak ingat hari sudah semakin sore, mungkin bisa lebih lama kami di situ.
f. Teater
Sengaja saya taruh di akhir wacana gratisan ini, sebagai ajang istirahat anak-anak sebelum pulang. Sebuah mini teater yang menayangkan film kartun tentang Keong Mas. Ilustrasinya bagus, dialognya dipahami anak-anak dan tidak lebay. Ruangannya cukup dingin (sekalian ngadem). Bagi anak-anak, serangkaian jalan-jalan ini disimpulkan dengan sempurna dengan film ini. Jadi mereka bolak balik mengaitkan dengan apa yang mereka temui selama berada di TMII. Ga nyangka ternyata bisa nyambung hehehe ....
Taman Legenda sudah hampir tutup, ketika saya menukar gelang, saya masih dapat sisa Rp15000,-/gelang. Rp.10000,- dari jaminan gelang, Rp. 5000,- sisa saldo. Lumayan kan kalau dikali 4. Next time mungkin coba yang terusan, dengan catatan harus dari pagi hehehe ...
Label:
anak,
dinosaurus,
indonesia,
jakarta,
jalan-jalan,
keluarga,
keong mas,
legenda,
liburan,
piknik,
taman,
tamasya,
tmii
Rabu, 24 Mei 2017
RABUku: 30 PASPOR The Peacekeepers’ Journey
Buku ini saya bawa sebagai teman perjalanan saat hendak ziarah makam mertua di Jawa Tengah. Belum habis dibaca, karena ternyata waktu bersama keluarga tetap lebih menyita keseharian. Ini adalah seri ke-3 dari 30 PASPOR. Misi perdamaian menjadi alasan saya membeli lagi buku ini. Tentu saya berharap ada hal baru dari penceritaan buku ini. Sesuatu yang lebih.
J. S. Khairen lagi-lagi menjadi pengolah formula cerita. Yang bisa saya katakan, dia sudah sangat banyak berlatih. (lha lalu saya kapan berlatihnya?)
Tantangan pergi keluar negeri oleh Pak Rhenald Kasali telah mencapai ketenarannya hingga sebelum masuk pun, sudah banyak mahasiswa yang bahkan telah menyiapkan akan pergi ke negara mana. Dan kemudian aturan permainan pun berubah. Tidak hanya satu, tetapi dua negara. Bukan sekadar mengamati negara dengan persepsi sendiri, tapi juga membawa misi perdamaian. Harus membantu orang.
Kesannya sepele, tapi bagi banyak mahasiswa/i hal ini tidak sesederhana itu karena islamophobia tengah melanda Eropa.
Manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan, di hari-hari terakhir ada saja yang tertimpa musibah, entah itu harus menjalanakan operasi besar bahkan ada yang baru saja patah kaki, tapi semangat tidak luluh. Bahkan kalau perlu, tidak bilang-bilang dulu soal penyakitnya, karena takut tidak diizinkan.
Hal ini menjadikan kisah perjalanan ini lebih mendalam karena tertuang lebih banyak rasa. Makanya, hidung saya beberapa kali tergelitik menahan haru. Rupanya banyak yang menjadikan perjalanan ini sebagai momen kontemplasi diri, padahal tidak sedikit di antara mereka yang sudah berpengalaman travelling di Indonesia. Ketika prasangka baik berbuah kesialan. Dan ketika prasangka buruk ternyata hanyalah prasangka. Ada-ada saja cara Yang Maha Kuasa menyelipkan pelajaran dari sebuah perjalanan.
Asia Timur dan Eropa memang menjadi tujuan favorit, selain karena spotnya yang menggiurkan untuk dinikmati, kesempatan nyasar lebih sedikit. Ga terlalu rumitlah karena struktur yang lebih tertata. Para mahasiswa ini juga terlatih menggunakan couchsurfing. Sehingga ketika mereka tiba di negara tujuan, sudah tahu harus bertemu dengan siapa. Bedalah anak zaman sekarang, bingung komunikasi saja tinggal buka aplikasi We-Chat. Selain itu, menginap di hostel murah terbukti lebih memudahkan mendapatkan teman baru ketimbang mereka yang tinggal di hotel. Makanya, ada anak yang di tanah air sudah disiapkan hotel dan dilunasi orangtuanya, akhirnya memilih untuk belok ke hostel murah. Intinya, anak-anak secara kelompok cukup dibekali. Jadi ga serta merta disuruh pergi ke luar negeri. Apalagi ternyata masih ada saja anak yang bahkan belum pernah naik pesawat. Keberangkatannya nyaris gagal karena biaya. Entah rezeki apa yang membuatnya bisa menuntaskan tugas kuliahnya itu.
Lucunya, tidak ada mahasiswa dalam buku ini yang tergerus nasionalismenya sepulang dari perjalanannya. Malah sebaliknya. Ada syukur, ada asa.
I wonder, kira-kira tantangan apa selanjutnya di kelas Pak Rhenald Kasali? Akankah ada anak yang mengunjungi negara yang aneh, yang butuh transit berkali-kali, yang membutuhkan waktu berhari-hari perjalanan?
Oia, JS Khairen ini juga menerbitkan karya terbaru loh di Noura Publishing. Coba ditengok-tengok media sosialnya.
Langganan:
Postingan (Atom)






























