Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Februari 2018

JJS: Lebih Akrab dengan Bakari di Faunaland, Ancol




Kami duduk berhadapan. Saling menatap. Sesekali ia tolehkan mukanya. Ingin rasanya membelai wajahnya yang terlihat mengantuk tapi hanya bisa kutempelkan tanganku di pembatas kaca. “Semuanya baik-baik saja. You’re safe here.” Kataku dalam hati. Lalu bola matanya bergulir, kembali jatuh ke pandanganku. Kemudian hening mengisi jarak di antara kami.
“Eh, lihat ada singa!” suara orang yang datang mengejutkanku. Ah, sudah ada pengunjung lain. Aku pun bergeser dan beranjak pergi.  Rindu sudah mulai merangsek dalam diriku.

Kami sedang berada di Faunaland yang terletak di dalam area Allianz Ecopark, Ancol. Jalan-jalan bersama keluarga suami. Taksi online mengikuti rambu-rambu petunjuk dan kemudian menurunkan kami di pintu samping Ecopark. Memang jadi jauh jaraknya menuju Faunaland yang kata tetangga saya serupa dengan Singapore Zoo. Ecopark sendiri tidak mengenakan biaya masuk, jadi dengan alam terbuka luas seperti ini, membawa sepeda dan perbekalan pasti akan menjadikan piknik kami berlangsung seharian. Sayangnya, hari ini tidak bawa sepeda. Tapi tak apa, bagi-bagi anak-anak outdoor seperti anak-anak saya, lahan terbuka ini sudah sangat menggoda bagi mereka untuk berekspresi.



Ada untungnya juga kami lewat samping, karena di tengah perjalanan kami melihat beberapa burung sejenis pelikan tengah bersantai di pinggir sungai. Burung yang sejatinya tidak akan kami lihat nongkrong begitu saja tanpa pengawalan ini tentulah menarik perhatian. Anak-anak berusaha mendekat, tetapi melihat reaksinya yang tidak terlalu suka didekati manusia, maka anak-anak hanya berjongkok melihat burung itu, sambil sesekali orangtuanya berfoto.




Akhirnya sampai juga di pintu masuk Faunaland. Tiap-tiap orang di atas usia 3 tahun dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 50000,- kalau bundling tiket dengan naik perahu, cukup bayar Rp.70000,-. Sedangkan tiket perahunya sendiri kalau eceran sebesar Rp.30000,- Tiket ini berlaku seharian, jadi kalau mau keluar masuk cukup perlihatkan bukti pembayaran dan cap. Tapi capnya agak mudah pudar, makanya simpan baik-baik bukti pembayarannya ya.


Sayangnya, begitu kami tiba, pertunjukkan burung baru saja selesai. Bird Show ini hanya ada di pukul 10 dan 14.30. Nah, kalau mau nunggu bird show ya kira-kira harus nunggu sekitar dua jam lebih. Hmmm bisa ga ya?


Adalah dua singa betina yang menyambut kami pertama kali. Singa-singa ini terlihat tidak agresif walau tengah rebahanan persis di samping pagar kawat. Jadi anak-anak pun bisa duduk manis menatapnya. Saya sudah ingatkan mereka agar tidak bersikap agresif, karena insting singa apalagi betina ya agresif. Secara ia kan pencari nafkah. Sebenarnya ada juga sisi kandang kaca, tapi singanya ga lagi di situ. Pembatas kaca ini memungkinkan pengunjung lebih dekat ke singa tapi tetap aman. Di samping kandang singa, ada kandang monyet putih. Terus saya mikir, apa si singa ga ngiler ya lihat monyet?



Setelah itu ada beberapa kandang-kandang kecil yang hewannya menarik. Tapi yang membuat saya senang adalah akhirnya bisa melihat tapir betulan. Tapir seperti halnya zebra masuk dalam kategori hewan ajaib menurut saya. Dan bisa melihatnya dengan tubuh tambun  dan bukan hanya di gambar yang selalu ada di peta-peta menunjukkan bahwa ia adalah hewan khas sulawesi, buat saya itu amazing banget. Sayang sendirian, mudah-mudahan si tapir bisa segera dapat pasangan.






Lalu ada juga hewan ternak yang bisa diberi makan dengan membayar Rp.10000,- seperti kuda poni dan kambing. Kuda poninya bisa dinaiki loh. Tapi bayar lagi.




Nah, bintang utamanya adalah another singa putih, namanya Bakari. Tapi kali ini ada jantannya, ditemani dua betina. Konon, singa putih ini hanya ada 10 di dunia. Bakari terlihat tenang dan ngiler lihat anak-anaknya. Surainya bergoyang lembut, memancarkan auranya.

Kandang Singa yang didatangkan khusus dari Afrika ini, hampir sepenuhnya dari kaca. Kecuali bagian yang tidak memungkinkan kontak dengan pengunjung. Areanya lebih luas. Dan tidak hanya bisa tatap-tatapan dengan singa putih dari dekat, kita juga bisa kasih makan. Gimana caranya? Ada sebuah corong yang berbentuk kayu tempat mentransfer daging ayam yang sudah disediakan petugas. Seru kaaan.... Kapan lagi bisa kasih makan singa?



Ga mungkin ada bird show kalau tidak ada koleksi burung. Dan burung-burung ini walau dirantai tapi nangkring di tempat terbuka. Tapi ada juga yang tidak dirantai seperti beberapa burung kakaktua. Kalau burung rangkong ya iyalah, kalau ga, bisa diculik orang nanti. Kan sudah mulai masuk hewan langka. Kakaktuanya juga ada yang cukup komunikatif sehingga mengundang tawa anak-anak. Karena berada di alam terbuka, saya tergoda memunguti bulu-bulu burung yang warna-warni itu. Masya Allah, rajin banget yang ngewarnain. Tak hanya itu, kami juga bisa berfoto dengan burung-burung nuri yang jinak banget. Gratis. Foto sama burung elang juga gratis. Sensasinya beda ya kalau sama burung elang.



Memang koleksi hewannya tidak banyak, tapi kemudian tempatnya yang asri dengan penataan kebun yang ciamik membuat tempat ini ga semudah itu ditinggalkan. Kami yang membawa bekal, menikmati makan di sana karena memang tidak ada yang jual makanan di dalam situ. Jangan lupa bawa salep antinyamuk. Selebihnya, anak-anak main bebas berkeliaran.  Dan selalu ingat jaga kebersihan.





Saat hendak shalat, kami keluar Faunaland dulu dan menemukan tempat shalat berupa pendopo kecil di samping. Sebenarnya di lobi juga ada musolla, dan pendopo tempat kami shalat itu sepertinya untuk karyawan pengelola. Tapi karena di situ, saya jadi ngeh dengan suara bising khas siamang. Rupanya ada semacam pulau kecil di antara sungai itu. Jerit-jeritan siamang itu jelas menarik perhatian pengunjung yang mungkin juga ga ngeh kalau ada mereka di sana. Dan dengan adanya  semacam dermaga, orang-orang pun jadi punya pertunjukkan yang bisa dilihat sambil duduk-duduk. Dan tidak hanya melihat siamang. Ikan-ikan cantik sudah berkerumun di sekitar dermaga. Warna merah, orange, putih, memadu cantik. Dan mulut-mulutnya seolah tak berhenti merasa lapar. Pakan ikannya juga bisa dibeli di petugas yang duduk tidak jauh dari peminjaman sepeda.



Tidak terasa sudah menit-menit menjelang pukul 14.30, kami berhasil berada di sini dua jam lebih. Tapiiiiii ... anak-anak sudah keburu ingin ke laut. Namanya juga ke Ancol ya, masa ga basah-basahan. Ya udah, skip deh bird show-nya. Dan pantai Ancol pun hanya selurusan dengan pintu masuk Ecopark, jadi kami cukup jalan kaki sebentar dah sampai.

Sementara anak-anak main air, saya sudah kangen mau ke Faunaland lagi. Mungkin bawa sepeda. Mungkin di jam yang lebih tepat. Suatu hari nanti .... Karena rindu itu berat, kasihan Bakari, biar saya saja yang datang lagi


Jumat, 19 Januari 2018

JJS: Yang Tertinggal di Pulau Pari




“Bismillahirramanirrahiim.” BYUUUUR!!
And there she goes. To the water.
Mungkin inilah rasanya liburan ‘syariah’. Pikir saya saat melihat satu per satu pengajar mengaji anak-anak saya lompat ke laut dari perahu dengan pelampung dan ... Gamis plus kaos kakinya.

“Subhanallah” dan “Masya Allah” berganti-gantian terucap ringan seperti air dari sekitar 15 pengajar Kalibata City Tahfidz Club yang ikut rihlah ke Pulau Pari dalam rangka ‘rebounding’. Gayanya sih sama saja dengan remaja zaman now, sibuk foto-foto juga, cekikikan juga, tapi ya masing-masing kelompoknya. Saya jadi teringat masa-masa saya masih langsing, saya ga begitu hahahaha ....


Awalnya saya agak ragu ketika mengajukan lokasi rihlah yang berbau laut. Yah, maksudnya nanti kasihan yang perempuan ga bisa ikutan snorkling karena kan baju nya nanti lepek. Tapi merekanya malah lebih prefer dapat vitamin sea, jadi ya sudahlah. Kebetulan dapat harga yang sesuai bujet, di bawah 6 juta utk 25 orang untuk 2 hari 1 malam.


Hari Jumat menjadi hari yang disarankan agen dari Kepulauan Seribunya, karena katanya Sabtu itu terlalu ramai. Dan memang, bertolak dari Kalibata jam 5.30, bisa sampai dengan lancar di pelabuhan Angke jam 6.00. Konon, di hari Sabtu, jalan menuju Angke itu macet parah loh. Terbayang, melihat kondisi jalanannya juga begitu, sempit.


Dari Angke menuju Pulau Pari membutuhkan waktu sekitar hampir 2 jam. Kami tidak pakai speedboat, perahu mesin biasa yang besar, tapi tetap dapat pelampung. Speedboat baru ada ketika akhir pekan, walau ketika di sana saya mendapat flyer terkait speedboat baru yang sudah standby sejak Jumat. Tentu harganya beda ya ...


Sesampainya di sana, sudah ada tur guide dengan gerobak dorong untuk membawakan tas-tas kita semua. Lalu kita pun dipandu menuju sebuah homestay. Penginapan di sana semuanya berbentuk homestay, mirip kaya waktu ke Dieng. Tapiiii ... standar kamar mandinya sederhana banget. Bersih sih, tapi keciiiil ^^


Sepeda menjadi transportasi utama di sana. Biasanya setiap rumah, sudah ada tempat parkir sepeda-sepeda yang bisa kita gunakan gratis sepanjang hari. Saya yang sudah lamaaa sekali ga naik sepeda harus mengalami serangkaian drama: setiap kali baru menggenjot pasti jatuh, ada yang menyapa langsung nabrak, ada yang menyalip langsung oleng dan nabrak. Tapi yah masa mau ditinggal di jalan sepedanya?



Pantai Perawan alias Virgin Beach menjadi destinasi pertama kami. Dan kemudian saya tahu kenapa Pulau Pari adalah tempat yang cocok untuk keluarga terutama dengan anak-anak yang masih kecil. Pantai yang landai menjadi andalan Pulau Pari. Pemandangannya buat saya pecinta laut tapi ga bisa berenang  tentu menyenangkan, karena airnya tenang tapi tetap luas dan bisa berjalan di air hingga jauh karena dangkal. Di sana sini disediakan spot foto seperti ayunan dan gazebo di atas air. Pasir putih dan tebaran rumah-rumah keong menjadi objek kesibukan anak-anak. Selebihnya mereka menikmati bermain air mumpung ga ada yang larang.



Pada kesempatan ini, saya hanya bawa si bungsu. Yang lain sama bapaknya hehehe ... Saya sih sudah kebayang, kakak-kakaknya pasti akan langsung menghambur ke air dan betah berlama-lama di sini. Di bagian pantainya juga banyak gazebo atau sekadar kayu untuk duduk-duduk di bawah pohon.


Usai shalat jumat di masjid yang persis di depan homestay kami dan menyantap makan siang yang sudah disiapkan katering di sana, kami melanjutkan kegiatan yaitu snorkling. Saya sih sudah niat mau nyemplung aja, ga mau snorkeling. Pengalaman diajarin snorkling di Pulau Umang ga berhasil karena kata instrukturnya saya berhalusinasi ^^ ya saya percaya aja sih, secara saya suka ngayal memang.


Perahu mesin membawa kami hampir setengah jam mencari titik yang tepat. Para peserta lain diberi briefing singkat terkait penggunaan perlengkapan snorkeling. Pengajar laki-laki langsung menyentuh air, sedangkan yang perempuan butuh waktu sejenak sebelum ikut nyemplung. Baju yang mereka pakai sepertinya sudah di-setting agar tidak berat saat terkena air walau mereka pakai celana panjang juga di dalamnya. Jarang-jarang kan lihat orang nyelam sambil pakai gamis lengkap dengan kaos kaki, ada yang puasa pulak.


Dengan dipancing potongan roti maka datanglah berbondong-bondong ikan-ikan cantik. Kegiatan lihat-lihat ikan ini mungkin terdengan sederhana tapi ga tahu kenapa, bisa lama loh mereka di air. Terkadang mereka naik ke perahu hanya untuk berjemur lalu masuk lagi demi dapat foto di bawah air oleh pemandunya. Saya? Nyemplung juga, tapi pegangan terus ke tangga hahaha .... demi konten.


Ada beberapa hal yang diingatkan pemandunya, seperti: Ga perlu lompat kalau mau masuk ke air, karena dangkal. Lalu ikan-ikan cantiknya ga boleh dibawa pulang yaaa ... waduh anak laki saya pasti kebelet mau ditangkap ikan-ikan cantik itu.


Rasanya ingin terperangkap di dalam laut lebih lama. Merasakan ekor-ekor ikan menggelitik tangan, tapi yah memang sudah waktunya kembali karena ada perahu lain yang datang. Terlalu ramai pun tidak akan menyenangkan bagi ikan-ikan itu.


Sekembalinya kami ke pulau pari, kami menolak beristirahat. Lanjuuut ke Star Island. Rupanya pantai ini banyak bintang lautnya. Bikin gemes ingin foto bareng. Namun perlu diingat, bintang laut itu ga bisa lama-lama diangkat dari air ya ... Ia makhluk hidup loh, bukan properti foto. Sayangnya di pantai ini kok ga terasa terlalu playful kaya di Virgin Beach ya... walau ada lebih banyak properti foto di sini. Tapi view menuju ke sananya lebih banyak hijau-hijau, bukan rumah penduduk. Kami pun tak lama di sana dan kembali ke Virgin Beach.




Di Virgin Beach kami mencoba naik perahu melintasi hutan bakau sambil menanti matahari terbenam. Amboooi .... Saya banyak berharap, baterai ponsel saya tidak habis di saat-saat indah itu... Sungguh menyesal tidak membawa power bank. Sesekali kami turun dari perahu dan nyemplung ke air karena mau foto-foto.




Malamnya kami kembali lagi ke Virgin Beach, hanya saja kali ini saya tidak mau lagi naik sepeda. Lecet sana-sini. Rupanya walau di kiri kanan jalan menuju Virgin Beach sudah bersiap tidur, tetapi di area pantai juga tidak sepi saat malam. Beberapa orang ada yang berkemah, sibuk bermain voli atau barbecue di sana. Suguhan ikan-ikan bakar juga berlimpah, bahkan kami dapat limpahan dari rombongan lain. Lumayan lah, buat menu sahur kawan-kawan yang masih lanjut puasa asyura nya.


Pagi pun menjelang dan saya mencoba menjelajahi sisi lain pulau Pari. Lebih ke arah matahari terbit. Adalah Bukit Matahari yang menjadi spot andalannya. Pantainya penuh sampah rumah kerang, sampah alami sih tapi kan sakit kalau terinjak. Namun, viewnya, luar biasa. Kamera ponsel jadi bisa menghasilkan foto bagus (menurut saya). Sambil menikmati matahari, saya melihat satu per satu pendatang baru bersandar di dermaga. Dan ternyata memang benar kata si agen, Sabtu menjadi hari yang ramai di Pulau Pari. Terlebih ketika kami melihat tidak hanya 2 tapi 6 kapal sekaligus datang, belum termasuk speedboat. Wow, sungguh kami lega bisa berkesempatan menikmati Pulau Pari tanpa harus berebutan spot.




Sengaja aku tinggalkan asa di pulau itu. Berharap bisa kembali sambil membawa anak-anak pecicilan yang tak ikut hari itu. They will love it. For sure.


Jumat, 10 November 2017

JJS: Sisi Lain Suami di Bumi Perkemahan Gn. Gede Pangrango



Saya baru saja datang ke lokasi pernikahan saudara sepupu saya dan sempat mencegat sang pengantin yang hendak naik mobil menuju rumah lain untuk berganti pakaian resepsi. Terburu-buru saya ucapkan selamat dan kemudian menghambur ke pelaminan mencari mak etek dan etek saya selaku orangtua pengantin untuk memberi salam selamat. Tak lupa saya menyalami satu per satu tamu yang semuanya saudara itu. Semua bingung melihat saya begitu terburu-buru kembali menuju arah keluar.


“Mau ke mana?” tanya mereka seragam.
“Mau kemping.”
Lalu sorot mata bergulir dari ujung kaki ke ujung kepala, mungkin dikira saya akan kemping dengan baju pesta ^^


Pernikahan yang dilangsungkan di Bekasi itu memang mendadak, nyaris bersamaan dengan keputusan suami untuk mengajak anak3nya kemping perdana. Melihat antusias suami membeli berbagai macam perlengkapan outdoor, mau disuruh diundur demi mengikuti perkawinan saudara dengan lebih khusyuk kok ya ga tega. Suami memang sejak masa muda senang kemping, dan paling tidak sejak berkenalan dengan saya, dia sudah tidak pernah lagi naik gunung. Hampir 10 tahun lah. Jadi kalau dia sudah bersiap, mungkin rindunya sudah membuncah. Walau anak yang terkecil baru saja menginjak dua tahun.


Kami buru-buru sebelum jalur ke arah puncak ditutup. Maklum akhir pekan. Suami juga sudah berjanjian dengan kawannya untuk ketemuan di TKP.
Setelah sempat nyasar mencari yang namanya Bumi Perkemahan akhirnya ketemu juga.


Dan yang pertama saya cari adalah, kamar mandi. ^^ sebagai orang yang hanya pernah satu kali kemping, kamar mandi di hutan itu agak gimana gitu ya. Namun, kami beruntung. Kawan suami sudah menyiapkan segala sesuatunya, terlebih karena dia pun membawa keluarganya. Posisi tenda di dekat sungai dan kamar mandi tapi tetap aman bagi anak-anak berkeliaran. Tenda dan kasurnya menggunakan jasa sewa di sana, jadi kita cukup bawa makanan. Walau makanan juga bisa beli sih hehehe ....



Setelah turun dari mobil di parkiran, saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya memang sudah lama tidak olahraga. Ada tangga tinggi banget untuk mencapai tujuan, setelah menanjak, lalu turunan. Herannya, anak-anak ga merasa capek tuh (apalagi yang digendong), semangat menuruni tangga terlebih melihat terowongan berbentuk krokodil zaman dinosaurus. Mereka semakin jejeritan ketika tahu kemahnya di dekat sungai dan langsung menghambur ke sana. Sesuatu yang sudah bisa ditebak. Arusnya deras walau tidak dalam, jadi anak-anak tetap ditekankan main di antara bebatuan. Sekalian mandi lah di sungai. Walau kamar mandinya cukup bersih dan hanya perlu bayar kalau ada penjaganya, tapi airnya juga dingin banget.



Tenda  yang saya dapat berukuran sedang. Sebenarnya dengan tiga anak dan satu keponakan, cocoknya tenda yang besar, tapi waktu itu kawan suami kadung pesan yang sedang, ga nyangka anak temannya banyak kali ya hehehe. Sudah ada dua kasur busa juga bantal. Suasananya kaya di rumah sendiri aja, tidur mepet-mepet hehehe ... Kalau mau shalat juga ada tempatnya, cukup apik karena dibuat semacam bilik bambu dan air wudhu yang mengalir terus. Mukenanya juga banyak.


Ketika malam mulai menggantung, anak-anak tidak berkurang excitement-nya. Mereka penasaran dengan berjalan-jalan dalam gelap hanya berbekal lentera led. Sementara orang dewasa mencoba membuat api unggun. Saat menyalakan api unggun juga jadi ekstra hati-hati karena ada anak-anak yang masih norak-norakna.
Sementara  suami menyombongkan diri, “kalau kemping, teman-teman ayah semuanya makan masakan ayah. Ayah rajin masak soalnya.”



Saya nyengir saja mendengar si tuan besar yang suka banyak komplen soal masakan ini tapi ga mau cuci piring. Eh curcol. Ga tahunya beneran dia semangat pinjam kompor lalu mulai masak ini itu. Ga yang aneh-aneh sih, goreng daging burger (padahal dia ogah banget makan burger), bakar roti, masak air, bikin pop corn ... tumben lah saya makan sesuatu yang dia persiapkan sendiri. Kan saya jadi enak.



Ternyata semakin malam semakin dingin. Ya iyalah, namanya juga di gunung. Anak-anak sudah pakai kaos kaki dan jaket dua, dan mereka pulas banget tidurnya. Apa mereka cape juga setelah main di luar ya?



Keesokan harinya baru deh eksplor ke tempat lain di sekitar situ. Karena tempatnya juga dipakai untuk acara-acara gathering jadi pasti ada yang komersilnya. Salah satunya yang kami coba adalah dayung perahu.Dengan membayar Rp25ribu, kami sekeluarga bisa menggunakan perahu, dayung sendiri tapi yaa ... kayanya ga dalam sih situnya.


 Viewnya luar biasa dengan hutan pinus dan ujung-ujung gunung yang terlihat, tiba-tiba saya teringat suatu tempat di pedalaman Amerika yang sering muncul di televisi. Indonesia ternyata juga punya pemandangan keren kaya gitu. Rasanya saya mau berlama-lama di situ, tapi saya ingat ada dua anak yang  suka ga sabar pengen jumpalitan. Cocok buat melamun soalnya, eh tapi kalau musik kencang yang dinyalakan sound system di situ ga dinyalakan sih...





Destinasi selanjutnya adalah air terjun.  Nah, ini jalannya rada kaya menembus hutan gitu. Ada jalan setapak tapi di tepi jurang. Jadi saya yang mudah tersandung ini lebih memilih menyerahkan si bontot ke suami daripada saya gendong  sendiri. Keputusan memakai sepatu juga tepat, karena di beberapa tempat pijakannya licin. Setelah 15 menit menanjak akhirnya ketemu juga air terjunnya. Ga besar sih, tapi cukup untuk tempat main anak-anak.




Kayanya di tempat seperti ini ga perlu banyak tambahan sih ya. Setidaknya buat anak-anak, sungai  dan lahan luas dengan pohon-pohon sudah jadi arena bermain yang ga habis-habis level kegembiraannya.


Hanya satu malam kami kemping dengan citarasa agak glamping. Sore itu, setelah siangnya kami main-main di tenda saja karena hujan, akhirnya saling berpamitan dengan kawan suami. Kalau dilihat dari gelagatnya sih, bakal ada lagi agenda kemping bareng keluarga. Hmm... mungkin tahun depan. Ke mana ya? Saya sih selama kamar mandi ok, no probs lah. Belum siap yang harus keruk-keruk tanah buat BAK dan BAB hehehe ...

Jumat, 03 November 2017

JJS: Ditinggal Suami Demi Sunrise di Dieng


SUNRISE di DIENG
Photo Credit FB @herysogirkuswahyo


“Kamu tahu ga kenapa aku ajak ke sini?” tanyanya tiba-tiba di tepi telaga Cebong.
“Ga,” aku melengos karena masih teringat rasa kesal semalam.
“Karena pertama kali aku dibawa ke gunung ya ke sini sama ibu.” Lalu raut merindu itu pun terlihat.


Sejak pertama kali ide ini dicetuskan oleh suami, saya agak-agak merasa tidak adil. Memang tujuan utamanya ke Dieng, tapi itu berarti tetap mampir ke Purworejo, kampung kedua orangtuanya dan tempat mereka dimakamkan. Bukan apa-apa sih, masalahnya ini sudah kali kedua kami ke Purworejo, sedangkan kampung mama papaku belum pernah dipijak satu kali pun. Dan ini sudah 9 tahun pernikahan. Terbayanglah saya kalimat-kalimat mama yang sudah bisa ditebak kalau beliau tahu saya ke sini. Maklumlah ya, namanya berkeluarga pasti kalau mau berkunjung jadi memikirkan apakah adil atau tidak ke orangtua.


Namun, begitu melihat ada seorang anak yang tengah merindukan orangtuanya plus dengan kenangannya, masa iya mau marah lama-lama. Sambil berdoa dalam hati, semoga disegerakan ada rezeki bisa ke kampung orangtua saya di Sumatera Barat dan Aceh. Demi menyenangkan orangtua.


Butuh dua jam untuk mencapai daerah Dieng dari Purworejo, area pegunungan yang semakin naik jalannya semakin jauh pandangan ini melihat tebaran ladang kentang di kiri kanan mobil.


Menara pandang Dieng menuliskan posisinya di ketinggian 1789 m dpl. Di situlah lapis pertama jaket anak-anak (dan saya) dipakai. Sekadar mencicipi mie ongklok dan french fries khas Dieng untuk pertama kali. Menara pandang itu sedang pembangunan di sisi-sisinya, mungkin di saat-saat tertentu spot itu banyak dicari oleh para wisatawan.  Mau beli perlengkapan dingin di sini juga murah meriah.





Kabut mulai turun sehingga kami bergegas kembali ke mobil sebelum jalanan tertutup kabut. Wajar jika harus berhati-hati, jalanannya selain berkelok-kelok pun sempit dan truk atau bis berlalu-lalang.


Saat tiba di area kota, hujan rintik-rintik, menambah rimbun kabut-kabut yang mengambang di sekitar mobil. Saya yang jarang-jarang ketemu kabut pun menyempatkan berfoto. Jaket lapis kedua pun dipakai.




Kawasan Candi Dieng merupakan tujuan kami selanjutnya. Di dalam kawasan ini, ada beberapa candi, salah satunya belum selesai dibangun ulang karena ada satu baris bagian yang hilang. Kawasan ini menyenangkan karena tertata rapi, seperti taman. Walau kami masuk dari bagian belakang yang agak mencurigakan gitu jalannya, tapi begitu sudah masuk kawasan, terlihat cukup terawat. Anak-anak bebas berlarian ke sana ke mari sambil menghangatkan tubuh. Sementara suami sibuk mengambil gambar. Sinyal internet juga cukup bagus di sini, sehingga keponakan yang turut ikut bersama kami sempat-sempatnya update status.






Ada beberapa kawasan candi di Dieng, tapi tidak seluas kawasan Candi Dieng.


Setelah pembelajaran perbedaan agama dan keyakinan singkat pada anak-anak dari tur candi ke candi, maka berlanjut ke pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Saatnya mengunjungi kawah.

Foto pakai masker di samping kawah Sikadang ternyata bisa bagus juga



Walau penampakan depannya agak kurang meyakinkan, tapi kawasan Kawah Dieng Sikidang ini cukup sadar bahwa perlu menambah pengalaman bagi para wisatawan yang datang. Daerah sekitar kawah dipagari kayu, sedangkan di sana sini dibuat berbagai spot foto. Hanya saya bingung kenapa temanya harus romansa ya? Kawasan ini kan agak-agak berbahaya tapi ‘love’ di mana-mana ^^ Dengan masker yang sudah dibeli sebelumnya, aroma kawah ini memang kuat. Panasnya juga dimanfaatkan untuk merebus telur dan kemudian dijual. Hmm ... memangnya beda ya rasanya?


Kawah yang beberapa bulan lalu pernah meledak, Kawah Sileri pun kami datangi. Ketika kami datang berselang beberapa minggu sebelumnya juga meledak untuk pertama kalinya. Ada yang aneh ketika kami dalam perjalanan ke sana. Area kawasan Sileri letaknya jauh dari kota. Ladang luas atau pembangkit gas di kiri-kanan, lalu tiba-tiba ada waterpark. In the middle of nowhere. Dan itu berseberangan dengan kawah Sileri. Waterparknya besar juga, makanya terlihat canggung. Apa berenang di situ airnya hangat?

Kawah Sileri. Tidak sebesar sikadang tapi auranya bikin deg-degan ngeri.



Berbeda dengan kawah Sikidang, kawan Sileri ini malah terlihat seperti kawah mencurigakan. Tanah yang kami pijak semakin lembut seiring bertambah dekatnya kami ke tepi kawah. Tidak ada pagar kayu di sana. Begitu mulai terlihat tanah yang menghitam, saya meminta anak saya berhenti melangkah. Ngeri juga sayah hehehe ...


Dan tak butuh waktu lama, kami pun bertolak ke desa tertinggi di Dieng, desa Sembung.

Dieng. Di mana-mana kentang.



Mobil kami diberhentikan di depan gapura. Azan magrib berkumandang, langit sekejap menjadi gelap. Kami tidak bisa masuk ke penginapan yang dituju karena akan dilaksanakan hajatan alias ada panggung yang memblokir jalan. Para penjaga di sana mencarikan penginapan yang memungkinkan untuk kami pakai. Dan kami pun menunggu dalam balutan jaket dan sarung tangan. Kini dinginnya bukan main-main.


Akhirnya dapat juga kami satu rumah. Karena memang tidak bisa ke mana-mana juga, maka fokus kami adalah makan dan tidur. Terbayang harus bangun pagi-pagi sekali besok demi mengejar matahari terbit. Tapi dasar saya yang memang sulit tidur pulas di perjalanan, saya terbangun di tengah malam dan mencari makan malam yang memang sengaja saya minta dilebihkan belinya ke suami. Bolak-balik saya mencari, lalu saya tanya ke suami, eh sudah dia habiskan. Duh ... dingin-dingin begini ga ada makanan berat? Apalagi perut itu letaknya dekat sama hati, jadi kalau perut lapat, emosi pun menumpuk. Yah sudahlah, terpaksa tidur dengan perut minta-minta makan, membayangkan pecel ayam dan nasi hangat yang semalam dimakan. Dan dalam keadaan setengah tidur itu yang dipaksa-paksakan, saya lihat suami sibuk mondar-mandir dengan perlengkapan dinginnya lalu kemudian keluar kamar dan penginapan itu hening hingga waktu yang lama.




Saya terbangun dan usai shalat keluar kamar. Ternyata ... Ga ada siapa pun di luar kamar!


Rupanya suami, sepupu, dan keponakan sudah bertolak menuju Bukit Sikunir demi mengejar matahari terbit. Oke lah, bung .... Kita ditinggal .... Pasti ga mau disuruh gendong bocah dua tahun sambil hiking kan? Galau sih mau nyewa baby carrier .... Dan sekarang kami Cuma diminta senyum-senyum saja mendengar cerita mereka melihat sunset yang menurut suami agak berawan dan telat munculnya.


Toh, anak-anak disempatkan juga mampir ke Telaga Cebong yang merupakan kaki bukit Sikunir. Sepertinya warung-warung di sana hanya buka saat jelang matahari terbit untuk para wisatawan, karena ketika kami tiba, semuanya tutup. Di sekitar Telaga ada beberapa kemah di sana, wedew .... ga usah dibayangkan deh dinginnya kaya apa semalam. Kayanya hanya penyanyi dangdut yang joget di panggung semalam saja yang tidak merasakan menggigitnya hawa malam kemarin.

Telaga Cebong di Satu Sisi

Telaga Cebong dari Sisi Lain



Telaga Cebong ini ga ada yang spesifik sih, tamannya belum ditata, tapi kalau mau bengong-bengong sepi, di sini cocok. Suasananya quite, telaganya tenang. Kalau saya lebih lama di sini mungkin sudah dapat banyak ide tulisan.


Lihat degradasi warna di telaga Warna



Usai menyerahkan kunci penginapan, kami meroda hingga ke Telaga Warna. Sayang saya tidak turun karena si bayi tidur. Lagian saya buta warna, jadi agak sulit merasakan keindahan telaga yang konon memantulkan tiga warna yang berbeda. Sepertinya sudah di tahap Let It Go, yang penting suami senang. Kasihan kan sudah jadi pencari nafkah utama dan satu-satunya, tapi ga boleh menentukan sendiri mau liburan ke mana? Maklumlah, aslinya anak outdoor, jadi bertahun-tahun ga naik gunung tentu rindu juga .... Yah semoga semakin semangat menjalani hari.


Sabtu, 28 Oktober 2017

Mengenang Pahlawan & Meneruskan Perjuangan di Haul ke-107 tahun Cut Nyak Meutia


“Dulu daerah ini merupakan penghasil gas terbesar ke-3 di dunia.” Kata papa sambil menunjuk sebuah area penampungan gas besar di sebelah kanan jalan.
“Sekarang diambil alih Pertamina. Mungkin untuk besi-besi tuanya.”
Penampungan gas itu tidak hanya satu, tapi tiga. Dan kini nasibnya terlantar karena gas sudah habis disedot. Hanya didampingi sebuah landasan udara yang juga menatap langit kosong.


Lahan seluas itu ... bahkan sapi-sapi yang berkeliaran pun terlihat kurus.


Nelangsa mengiringi perjalanan saya menuju Pirak, Aceh Utara. Jaraknya tidak sampai satu jam dari Lhokseumawe tempat saya dan keluarga menginap. Namun, dengan kondisi yang lancar seperti itu, satu jam berarti telah menempuh jarak yang begitu jauh.


Sejak Jumat sore, kami sudah tiba di bandara Malikussaleh. Sekilas seperti mudik bersama, tapi saya bukan termasuk orang berada, jadi dengan papa mama saya dan tiga anak saya minus bapaknya disponsori tiket gratis beserta hotel oleh sepupu saya yang juga datang bersama keluarga besarnya. Adalah Haul ke-107 tahun Cut Nyak Meutia yang diselenggarakan pada Ahad, 22 Oktober 2017 lah yang menjadi tujuannya.
Haul ini sejatinya diselenggarakan setiap tahun, tetapi tahun ini agak berbeda konsepnya. Niatnya adalah silaturahmi keluarga besar Cut Nyak Meutia dari berbagai penjuru di satu tempat yaitu, replika Rumah Adat Cut Nyak Meutia di Pirak. Dari berkumpul bersama itu, diharapkan dapat saling menyumbang ide (dan mungkin materi) untuk membangun Aceh Utara.



Mobil yang saya tumpangi akhirnya parkir di tanah lapang. Setelah menyapa para santriwati bercadar yang tengah menyapu sampah yang berserak di situ, saya pun masuk ke area rumah adat yang menghadap ke sawah luas. Para santri ini berasal dari pesantren milik Tgk. Muslim yang juga berlaku sebagai Ketua Panitia dan didatangkan untuk membantu berjalannya acara.


Di dalam area itu setidaknya ada tiga rumah panggung. Tidak semuanya berbentuk rumah sih, ada yang berbentuk balai, ada juga yang seperti saung besar.
Saya penasaran masuk ke Rumah Adat Cut Nyak Meutia yang katanya keponakan saya memberi sedikit sentuhan baru agar museum itu tidak monoton. Begitu saya masuk, seperti tengah masuk ke ruang keluarga. Foto-foto keturunan Cut Nyak Meutia bertebaran. Saya senyum-senyum sendiri melihat wajah-wajah yang saya kenal di sana. Ada juga gambar karya abang saya di sana. Padahal sudah lama dibuat dan tidak menyangka juga bakal dipajang di sana.



Namun kemudian saya terpikir, bagaimanakah rupa museum ini sebelum ditambahi foto-foto ini? Hampa?


Rumah itu terbagi menjadi lima ruangan. Ada ranjang di satu kamar, lemari-lemari di kamar yang lain. Selebihnya adalah ruang tanpa sekat yang memuat foto-foto dengan beberapa anak tangga sebagai pemisahnya.
Acara dimulai pukul 08.30 dengan doa bersama. Tak jauh dari panggung, ada panitia yang tengah sibuk memasak daging dari tiga sapi yang dipotong semalam. Dengan kayu bambu, panas apinya seolah bersaing dengan matahari yang kian terik.


Lalu acara dibuka dengan penampilan dari kelompok rapai. Semacam grup perkusi khas Aceh. Tabuh-tabuh digantung dan kemudian dipukul dengan instruksi tertentu sehingga menghasilkan bunyi yang menggema hingga jauh. Anggotanya  terdiri dari bapak-bapak yang sudah beruban, tapi saya tahu untuk memukul rebana besar itu butuh kekuatan yang tidak sedikit. Kata papa, pertunjukan rapai juga bisa dibuat dua kelompok di mana satu kelompok dengan yang lain saling berbalas. Mungkin semacam balas pantun kalau di minang..


Setelah melewati lima sambutan dari Ketua Panitia, perwakilan keluarga Cut Meutia, perwakilan Gubernur, dan perwakilan Kapolres, yang membuat anak-anak gelisah karena lelah perjalanan, sebuah tausiah dari Teuku Nasrudin cukup menarik perhatian, untungnya dengan bahasa Indonesia. Mohon maaf, saya orang Aceh campuran hehehe ...


 “Teruskan perjuanganmu!” wasiat terakhir Teuku Cik di Tunong kepada Cut Nyak Meutia berulang kali diucapkan di setiap sambutan. Bahwa perjuangan tidak berhenti pada Cut Nyak Meutia, kita yang masih hidup pun juga punya tugas untuk berjuang.


Setelah acara pesijuak dan tari, akhirnya makan-makan ....


Para warga yang datang dan semakin banyak disuguhi nasi dengan lauk rendang sapi yang baru dimasak. Yang datang jumlahnya membludak, bahkan sampai ribuan sehingga berulang kali saya mendengar panitia meminta para pengunjung bersabar karena nasi sedang dimasak lagi dan lagi. Pihak keluarga dan undangan khusus masih aman karena telah disiapkan aneka makanan yang disiapkan sejak dini hari tadi. Sebagai orang yang ga tahan masak banyak, melihat piring-piring berisi lauk bertebaran itu rasanya takjub. Udang, cumi, ayam tangkap, ikan kayu, rujak aceh ... nyam nyam nyam ....


Sayangnya setelah makan, anak bungsu saya tepar di pangkuan saya. Sehingga praktis saya tidak bisa mobile menyapa para saudara, apalagi saya banyak tidak tahu nama-namanya. Alhamdulillah masih ada yang sudi menghampiri. Bukan silaturahmi kan kalau tidak menambah perbendaharaan anggota keluarga.


Saya pun dihampiri dua anak muda yang memperlihatkan kondisi makam Cut Nyak Meutia. Cut Nyak Meutia syahid saat penyergapan di hutan dan kemudian dikebumikan di tempat itu juga. Dan hingga kini, akses menuju makam Cut Nyak Meutia yang juga berdekatan dengan makam guru Cut Nyak Meutia, sulit dijangkau. Masih hutan belantara dan harus hiking sejauh 28 km. Saya teringat cita-cita yang dikatakan Tgk Muslim saat sambutan, “Tahun depan, bisa jadi kita selenggarakan di makam Cut Nyak Meutia.” Lalu mendadak lutut saya gemetar.


Papa dulu pernah berucap kalau dibuat jalan yang layak tentu dapat menjadi lokasi wisata ziarah. Tapi, untuk pembangunan jalan sederhana seperti tangga pun kan butuh kerjasama dengan berbagai pihak. Belum lagi soal Rumah Adat yang butuh upgrade dari isi maupun perawatan karena ada barang-barang yang hilang. Dari pihak Kapolres menyebutkan bahwa untuk pahlawan Aceh lainnya sudah dibuatkan semacam sosiodrama dan respons nya positif, jadi sepertinya untuk Cut Meutia sudah masuk dalam daftar. Entah kapan terealisasi.


Ketika kami pulang, tempat acara masih ramai orang. Saya menyesal juga tidak bisa memberi kontribusi yang berarti untuk kelancaran acara. Memang saya bukan panitia, tapi melihat kakak-kakak sepupu saya sibuk sekali, rasanya tidak sopan jika tidak turun tangan.



 Sebenarnya tanpa diketahui papa, saya dan kakak-kakak saya sempat kebagian tugas membuat undangan dan spanduk. Urusan desainnya menjadi tanggungjawab abang pertama dan kakak ketiga saya, sedangkan saya dan abang kedua terkait editorial. Tugas sederhana tapi karena melibatkan abang saya yang di Inggris sehingga selama satu minggu itu kami agak kagok waktu hehehe ... Jam 11 malam, ketika abang saya siap mendesain, kakak saya sudah ngantuk. Begitu subuh, kami siap memberi koreksi, abang saya yang di sana sudah ngantuk. ^^ Tentu bukanlah apa-apa dibanding yang dilakukan para seksi sibuk di Lhokseumawe. Terima kasih sepertinya tidak cukup. Walau menerima kritik sana-sini, mereka berusaha sebaik yang mereka bisa. Maafkan adikmu yang kurang tanggap ini, dan semoga semua usahanya diterima sebagai amal baik dan menjadi berkah.


Semoga semangat haul ini tidak berhenti sampai di sini, PR kita banyak. Kalau saling mencari cara agar bisa bekerja sama, pasti banyak hal yang dapat diwujudkan.