Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Februari 2018

JJS: Lebih Akrab dengan Bakari di Faunaland, Ancol




Kami duduk berhadapan. Saling menatap. Sesekali ia tolehkan mukanya. Ingin rasanya membelai wajahnya yang terlihat mengantuk tapi hanya bisa kutempelkan tanganku di pembatas kaca. “Semuanya baik-baik saja. You’re safe here.” Kataku dalam hati. Lalu bola matanya bergulir, kembali jatuh ke pandanganku. Kemudian hening mengisi jarak di antara kami.
“Eh, lihat ada singa!” suara orang yang datang mengejutkanku. Ah, sudah ada pengunjung lain. Aku pun bergeser dan beranjak pergi.  Rindu sudah mulai merangsek dalam diriku.

Kami sedang berada di Faunaland yang terletak di dalam area Allianz Ecopark, Ancol. Jalan-jalan bersama keluarga suami. Taksi online mengikuti rambu-rambu petunjuk dan kemudian menurunkan kami di pintu samping Ecopark. Memang jadi jauh jaraknya menuju Faunaland yang kata tetangga saya serupa dengan Singapore Zoo. Ecopark sendiri tidak mengenakan biaya masuk, jadi dengan alam terbuka luas seperti ini, membawa sepeda dan perbekalan pasti akan menjadikan piknik kami berlangsung seharian. Sayangnya, hari ini tidak bawa sepeda. Tapi tak apa, bagi-bagi anak-anak outdoor seperti anak-anak saya, lahan terbuka ini sudah sangat menggoda bagi mereka untuk berekspresi.



Ada untungnya juga kami lewat samping, karena di tengah perjalanan kami melihat beberapa burung sejenis pelikan tengah bersantai di pinggir sungai. Burung yang sejatinya tidak akan kami lihat nongkrong begitu saja tanpa pengawalan ini tentulah menarik perhatian. Anak-anak berusaha mendekat, tetapi melihat reaksinya yang tidak terlalu suka didekati manusia, maka anak-anak hanya berjongkok melihat burung itu, sambil sesekali orangtuanya berfoto.




Akhirnya sampai juga di pintu masuk Faunaland. Tiap-tiap orang di atas usia 3 tahun dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 50000,- kalau bundling tiket dengan naik perahu, cukup bayar Rp.70000,-. Sedangkan tiket perahunya sendiri kalau eceran sebesar Rp.30000,- Tiket ini berlaku seharian, jadi kalau mau keluar masuk cukup perlihatkan bukti pembayaran dan cap. Tapi capnya agak mudah pudar, makanya simpan baik-baik bukti pembayarannya ya.


Sayangnya, begitu kami tiba, pertunjukkan burung baru saja selesai. Bird Show ini hanya ada di pukul 10 dan 14.30. Nah, kalau mau nunggu bird show ya kira-kira harus nunggu sekitar dua jam lebih. Hmmm bisa ga ya?


Adalah dua singa betina yang menyambut kami pertama kali. Singa-singa ini terlihat tidak agresif walau tengah rebahanan persis di samping pagar kawat. Jadi anak-anak pun bisa duduk manis menatapnya. Saya sudah ingatkan mereka agar tidak bersikap agresif, karena insting singa apalagi betina ya agresif. Secara ia kan pencari nafkah. Sebenarnya ada juga sisi kandang kaca, tapi singanya ga lagi di situ. Pembatas kaca ini memungkinkan pengunjung lebih dekat ke singa tapi tetap aman. Di samping kandang singa, ada kandang monyet putih. Terus saya mikir, apa si singa ga ngiler ya lihat monyet?



Setelah itu ada beberapa kandang-kandang kecil yang hewannya menarik. Tapi yang membuat saya senang adalah akhirnya bisa melihat tapir betulan. Tapir seperti halnya zebra masuk dalam kategori hewan ajaib menurut saya. Dan bisa melihatnya dengan tubuh tambun  dan bukan hanya di gambar yang selalu ada di peta-peta menunjukkan bahwa ia adalah hewan khas sulawesi, buat saya itu amazing banget. Sayang sendirian, mudah-mudahan si tapir bisa segera dapat pasangan.






Lalu ada juga hewan ternak yang bisa diberi makan dengan membayar Rp.10000,- seperti kuda poni dan kambing. Kuda poninya bisa dinaiki loh. Tapi bayar lagi.




Nah, bintang utamanya adalah another singa putih, namanya Bakari. Tapi kali ini ada jantannya, ditemani dua betina. Konon, singa putih ini hanya ada 10 di dunia. Bakari terlihat tenang dan ngiler lihat anak-anaknya. Surainya bergoyang lembut, memancarkan auranya.

Kandang Singa yang didatangkan khusus dari Afrika ini, hampir sepenuhnya dari kaca. Kecuali bagian yang tidak memungkinkan kontak dengan pengunjung. Areanya lebih luas. Dan tidak hanya bisa tatap-tatapan dengan singa putih dari dekat, kita juga bisa kasih makan. Gimana caranya? Ada sebuah corong yang berbentuk kayu tempat mentransfer daging ayam yang sudah disediakan petugas. Seru kaaan.... Kapan lagi bisa kasih makan singa?



Ga mungkin ada bird show kalau tidak ada koleksi burung. Dan burung-burung ini walau dirantai tapi nangkring di tempat terbuka. Tapi ada juga yang tidak dirantai seperti beberapa burung kakaktua. Kalau burung rangkong ya iyalah, kalau ga, bisa diculik orang nanti. Kan sudah mulai masuk hewan langka. Kakaktuanya juga ada yang cukup komunikatif sehingga mengundang tawa anak-anak. Karena berada di alam terbuka, saya tergoda memunguti bulu-bulu burung yang warna-warni itu. Masya Allah, rajin banget yang ngewarnain. Tak hanya itu, kami juga bisa berfoto dengan burung-burung nuri yang jinak banget. Gratis. Foto sama burung elang juga gratis. Sensasinya beda ya kalau sama burung elang.



Memang koleksi hewannya tidak banyak, tapi kemudian tempatnya yang asri dengan penataan kebun yang ciamik membuat tempat ini ga semudah itu ditinggalkan. Kami yang membawa bekal, menikmati makan di sana karena memang tidak ada yang jual makanan di dalam situ. Jangan lupa bawa salep antinyamuk. Selebihnya, anak-anak main bebas berkeliaran.  Dan selalu ingat jaga kebersihan.





Saat hendak shalat, kami keluar Faunaland dulu dan menemukan tempat shalat berupa pendopo kecil di samping. Sebenarnya di lobi juga ada musolla, dan pendopo tempat kami shalat itu sepertinya untuk karyawan pengelola. Tapi karena di situ, saya jadi ngeh dengan suara bising khas siamang. Rupanya ada semacam pulau kecil di antara sungai itu. Jerit-jeritan siamang itu jelas menarik perhatian pengunjung yang mungkin juga ga ngeh kalau ada mereka di sana. Dan dengan adanya  semacam dermaga, orang-orang pun jadi punya pertunjukkan yang bisa dilihat sambil duduk-duduk. Dan tidak hanya melihat siamang. Ikan-ikan cantik sudah berkerumun di sekitar dermaga. Warna merah, orange, putih, memadu cantik. Dan mulut-mulutnya seolah tak berhenti merasa lapar. Pakan ikannya juga bisa dibeli di petugas yang duduk tidak jauh dari peminjaman sepeda.



Tidak terasa sudah menit-menit menjelang pukul 14.30, kami berhasil berada di sini dua jam lebih. Tapiiiiii ... anak-anak sudah keburu ingin ke laut. Namanya juga ke Ancol ya, masa ga basah-basahan. Ya udah, skip deh bird show-nya. Dan pantai Ancol pun hanya selurusan dengan pintu masuk Ecopark, jadi kami cukup jalan kaki sebentar dah sampai.

Sementara anak-anak main air, saya sudah kangen mau ke Faunaland lagi. Mungkin bawa sepeda. Mungkin di jam yang lebih tepat. Suatu hari nanti .... Karena rindu itu berat, kasihan Bakari, biar saya saja yang datang lagi


Jumat, 03 November 2017

JJS: Ditinggal Suami Demi Sunrise di Dieng


SUNRISE di DIENG
Photo Credit FB @herysogirkuswahyo


“Kamu tahu ga kenapa aku ajak ke sini?” tanyanya tiba-tiba di tepi telaga Cebong.
“Ga,” aku melengos karena masih teringat rasa kesal semalam.
“Karena pertama kali aku dibawa ke gunung ya ke sini sama ibu.” Lalu raut merindu itu pun terlihat.


Sejak pertama kali ide ini dicetuskan oleh suami, saya agak-agak merasa tidak adil. Memang tujuan utamanya ke Dieng, tapi itu berarti tetap mampir ke Purworejo, kampung kedua orangtuanya dan tempat mereka dimakamkan. Bukan apa-apa sih, masalahnya ini sudah kali kedua kami ke Purworejo, sedangkan kampung mama papaku belum pernah dipijak satu kali pun. Dan ini sudah 9 tahun pernikahan. Terbayanglah saya kalimat-kalimat mama yang sudah bisa ditebak kalau beliau tahu saya ke sini. Maklumlah ya, namanya berkeluarga pasti kalau mau berkunjung jadi memikirkan apakah adil atau tidak ke orangtua.


Namun, begitu melihat ada seorang anak yang tengah merindukan orangtuanya plus dengan kenangannya, masa iya mau marah lama-lama. Sambil berdoa dalam hati, semoga disegerakan ada rezeki bisa ke kampung orangtua saya di Sumatera Barat dan Aceh. Demi menyenangkan orangtua.


Butuh dua jam untuk mencapai daerah Dieng dari Purworejo, area pegunungan yang semakin naik jalannya semakin jauh pandangan ini melihat tebaran ladang kentang di kiri kanan mobil.


Menara pandang Dieng menuliskan posisinya di ketinggian 1789 m dpl. Di situlah lapis pertama jaket anak-anak (dan saya) dipakai. Sekadar mencicipi mie ongklok dan french fries khas Dieng untuk pertama kali. Menara pandang itu sedang pembangunan di sisi-sisinya, mungkin di saat-saat tertentu spot itu banyak dicari oleh para wisatawan.  Mau beli perlengkapan dingin di sini juga murah meriah.





Kabut mulai turun sehingga kami bergegas kembali ke mobil sebelum jalanan tertutup kabut. Wajar jika harus berhati-hati, jalanannya selain berkelok-kelok pun sempit dan truk atau bis berlalu-lalang.


Saat tiba di area kota, hujan rintik-rintik, menambah rimbun kabut-kabut yang mengambang di sekitar mobil. Saya yang jarang-jarang ketemu kabut pun menyempatkan berfoto. Jaket lapis kedua pun dipakai.




Kawasan Candi Dieng merupakan tujuan kami selanjutnya. Di dalam kawasan ini, ada beberapa candi, salah satunya belum selesai dibangun ulang karena ada satu baris bagian yang hilang. Kawasan ini menyenangkan karena tertata rapi, seperti taman. Walau kami masuk dari bagian belakang yang agak mencurigakan gitu jalannya, tapi begitu sudah masuk kawasan, terlihat cukup terawat. Anak-anak bebas berlarian ke sana ke mari sambil menghangatkan tubuh. Sementara suami sibuk mengambil gambar. Sinyal internet juga cukup bagus di sini, sehingga keponakan yang turut ikut bersama kami sempat-sempatnya update status.






Ada beberapa kawasan candi di Dieng, tapi tidak seluas kawasan Candi Dieng.


Setelah pembelajaran perbedaan agama dan keyakinan singkat pada anak-anak dari tur candi ke candi, maka berlanjut ke pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Saatnya mengunjungi kawah.

Foto pakai masker di samping kawah Sikadang ternyata bisa bagus juga



Walau penampakan depannya agak kurang meyakinkan, tapi kawasan Kawah Dieng Sikidang ini cukup sadar bahwa perlu menambah pengalaman bagi para wisatawan yang datang. Daerah sekitar kawah dipagari kayu, sedangkan di sana sini dibuat berbagai spot foto. Hanya saya bingung kenapa temanya harus romansa ya? Kawasan ini kan agak-agak berbahaya tapi ‘love’ di mana-mana ^^ Dengan masker yang sudah dibeli sebelumnya, aroma kawah ini memang kuat. Panasnya juga dimanfaatkan untuk merebus telur dan kemudian dijual. Hmm ... memangnya beda ya rasanya?


Kawah yang beberapa bulan lalu pernah meledak, Kawah Sileri pun kami datangi. Ketika kami datang berselang beberapa minggu sebelumnya juga meledak untuk pertama kalinya. Ada yang aneh ketika kami dalam perjalanan ke sana. Area kawasan Sileri letaknya jauh dari kota. Ladang luas atau pembangkit gas di kiri-kanan, lalu tiba-tiba ada waterpark. In the middle of nowhere. Dan itu berseberangan dengan kawah Sileri. Waterparknya besar juga, makanya terlihat canggung. Apa berenang di situ airnya hangat?

Kawah Sileri. Tidak sebesar sikadang tapi auranya bikin deg-degan ngeri.



Berbeda dengan kawah Sikidang, kawan Sileri ini malah terlihat seperti kawah mencurigakan. Tanah yang kami pijak semakin lembut seiring bertambah dekatnya kami ke tepi kawah. Tidak ada pagar kayu di sana. Begitu mulai terlihat tanah yang menghitam, saya meminta anak saya berhenti melangkah. Ngeri juga sayah hehehe ...


Dan tak butuh waktu lama, kami pun bertolak ke desa tertinggi di Dieng, desa Sembung.

Dieng. Di mana-mana kentang.



Mobil kami diberhentikan di depan gapura. Azan magrib berkumandang, langit sekejap menjadi gelap. Kami tidak bisa masuk ke penginapan yang dituju karena akan dilaksanakan hajatan alias ada panggung yang memblokir jalan. Para penjaga di sana mencarikan penginapan yang memungkinkan untuk kami pakai. Dan kami pun menunggu dalam balutan jaket dan sarung tangan. Kini dinginnya bukan main-main.


Akhirnya dapat juga kami satu rumah. Karena memang tidak bisa ke mana-mana juga, maka fokus kami adalah makan dan tidur. Terbayang harus bangun pagi-pagi sekali besok demi mengejar matahari terbit. Tapi dasar saya yang memang sulit tidur pulas di perjalanan, saya terbangun di tengah malam dan mencari makan malam yang memang sengaja saya minta dilebihkan belinya ke suami. Bolak-balik saya mencari, lalu saya tanya ke suami, eh sudah dia habiskan. Duh ... dingin-dingin begini ga ada makanan berat? Apalagi perut itu letaknya dekat sama hati, jadi kalau perut lapat, emosi pun menumpuk. Yah sudahlah, terpaksa tidur dengan perut minta-minta makan, membayangkan pecel ayam dan nasi hangat yang semalam dimakan. Dan dalam keadaan setengah tidur itu yang dipaksa-paksakan, saya lihat suami sibuk mondar-mandir dengan perlengkapan dinginnya lalu kemudian keluar kamar dan penginapan itu hening hingga waktu yang lama.




Saya terbangun dan usai shalat keluar kamar. Ternyata ... Ga ada siapa pun di luar kamar!


Rupanya suami, sepupu, dan keponakan sudah bertolak menuju Bukit Sikunir demi mengejar matahari terbit. Oke lah, bung .... Kita ditinggal .... Pasti ga mau disuruh gendong bocah dua tahun sambil hiking kan? Galau sih mau nyewa baby carrier .... Dan sekarang kami Cuma diminta senyum-senyum saja mendengar cerita mereka melihat sunset yang menurut suami agak berawan dan telat munculnya.


Toh, anak-anak disempatkan juga mampir ke Telaga Cebong yang merupakan kaki bukit Sikunir. Sepertinya warung-warung di sana hanya buka saat jelang matahari terbit untuk para wisatawan, karena ketika kami tiba, semuanya tutup. Di sekitar Telaga ada beberapa kemah di sana, wedew .... ga usah dibayangkan deh dinginnya kaya apa semalam. Kayanya hanya penyanyi dangdut yang joget di panggung semalam saja yang tidak merasakan menggigitnya hawa malam kemarin.

Telaga Cebong di Satu Sisi

Telaga Cebong dari Sisi Lain



Telaga Cebong ini ga ada yang spesifik sih, tamannya belum ditata, tapi kalau mau bengong-bengong sepi, di sini cocok. Suasananya quite, telaganya tenang. Kalau saya lebih lama di sini mungkin sudah dapat banyak ide tulisan.


Lihat degradasi warna di telaga Warna



Usai menyerahkan kunci penginapan, kami meroda hingga ke Telaga Warna. Sayang saya tidak turun karena si bayi tidur. Lagian saya buta warna, jadi agak sulit merasakan keindahan telaga yang konon memantulkan tiga warna yang berbeda. Sepertinya sudah di tahap Let It Go, yang penting suami senang. Kasihan kan sudah jadi pencari nafkah utama dan satu-satunya, tapi ga boleh menentukan sendiri mau liburan ke mana? Maklumlah, aslinya anak outdoor, jadi bertahun-tahun ga naik gunung tentu rindu juga .... Yah semoga semakin semangat menjalani hari.


Jumat, 08 September 2017

JJS: Nyaris Terdampar di d'Kandang Farm


Setelah dipikir-pikir sepertinya sudah lama sekali kami tidak pergi ke tempat yang bukan mal jika akhir pekan datang. Kalau ga ke rumah nenek, ya ke rumah nenek hehehe .... atau mentok-mentok nongkrong di rumah dengan bujukan ke anak-anak bakal diizinkan main di Funworld. Lagian bingung juga mau nge-mal. Kalau buat makan-makan doang mah ga aci lah buat anak-anaknya Pak Hery. Akhirnya datang juga inisiatif dari Suami untuk mengajak kami sekeluarga ke d’Kandang Farm yang berlokasi di Depok.

Bukannya apa-apa, kalau saya yang usul, seringnya ditolak. Jadi yah mending tunggu kesiapan dari si pemegang duit, bukan?
Tarif belum mencapai Rp.100000,- saat saya mengorder taksi online untuk perjalanan dari Kalibata City ke d’Kandang Farm. Soalnya ketika dijalani, itu rutenya membingungkan hahaha. ... bersyukurlah ada GPS karena rambu-rambu menuju d’Kandang Farm menurut saya kurang banyak dan kurang representatif.


1. Meutia kena charge HTM


Letak d’Kandang Farm sendiri agak masuk ke perkampungan dan mojok. Jadi dari lahan parkir,  masih jalan sekitar 100-200 meter sebelum tiba di loket. Ternyata HTM telah diberlakukan sesuai tinggi badan. Dan Meutia berada di pas 80 cm, sehingga ikut membayar tiket masuk sebesar Rp.10000,-  Sudah termasuk dengan satu botol yogurt homemade untuk masing-masing tiket. Sebenarnya kalau datang lebih pagi antara jam 6-9 pagi di hari Minggu masuknya gratis loh.




2. Cocok untuk Piknik dan konten Instagram


Oleh karena tidak ada larangan membawa makanan, maka tempat ini enak banget kalau dijadikan area piknik. Saya bersyukur karena walau tidak bawa makanan, masih ada satu mobil saudara yang datang belakangan dan bawa makan. Nebeeeeeng! Mungkin karena banyak yang piknik, spot kuliner di sini tidak terlalu menonjol ya. Banyak rumah-rumah kayu yang berjudul warung makan tapi isinya kosong. Kalau mau makan pun cukup nyaman karena ada beberapa gazebo disediakan di sana. Namun, tetap jaga kebersihan yaaa ....

Nah, selain untuk piknik, bagi saya tempat ini cukup instagramable. Penataan taman yang ciamik dan tidak berlebihan menyediakan spot foto buatan, membuat d’Kandang Farm masih terlihat asri.



Untuk anak-anak? Ga usah ditanya. Saya bahkan begitu masuk langsung memberi peringatan, tidak boleh main air. Hal itu dikarenakan kami langsung disambut oleh spot air mancur yang memang dimanfaatkan oleh pengunjung kecil untuk bermain air. Main air bisa di mana aja lah. Saat ini, saya lagi ga mau ngurusin anak-anak dengan baju basah. Ada juga arena rumah bermain dari plastik , tapi karena pengunjung banyak kayanya ga seimbang deh. Toh, di rumah juga ada yang begituan hihihiy ...

Jadi lebih baik langsung ke wahana yang memang disiapkan oleh d’Kandang saja.

3. Rabbiton
Setiap wahana rupanya ada bayarannya. Ya iyalaaaah ....


Bisa terusan, bisa ga. Saya pilih yang ketengan saja. Seperti misalnya di arena Rabbiton yang dibayarkan hanya pakan, jadi mau berapa pun orang yang masuk ga masalah. Si bontot masih bisa menikmati lihat-lihat kelinci, kambing, ayam, burung kalkun, hingga kebo bule walau dia takut memberi makan mereka. Tidak seperti kakaknya, dua ember ludess sekejap.



4. Memberi Susu ke Anak Kambing


Bagi anak-anak, memberi susu ini hal baru. Tantangannya adalah, anak-anak kambing ini agresif. Jadi begitu masing-masing anak diberi botol yang sudah berisi susu formula, anak-anak kambing itu langsung menyerbu si pemegang botol.  Sontak hal ini membuat anak laki satu-satunya ngibrit sambil melempar botol susunya. ^^ Beda sama kakaknya ...

5. Naik Delman


Kalau yang ini paket murah meriah karena bisa ramai-ramai. Ada juga naik kuda perorangannya. Tracknya juga lumayan, lewat jalan yang ga akan dilewati orang-orang umum jadi bisa melaju kencaaang ^^

6. Yang  Tidak Dikunjungi
Ada juga wahana yang tidak kami kunjungi karena satu dan lain hal, seperti: panahan, naik kerbau, flying fox, menangkap ikan, dan arena permainan rumah balon. Soalnya waktu sudah sore dan d’Kandang ini tutup jam 4 sore. Jadi kami memanfaatkan waktu dengan bermain bebas. Keponakan bahkan mengeluarkan inline skate-nya, sedangkan anak-anak saya mencari binatang lain yang tidak dikandangi, seperti ... kucing. Suami sempat cari tempat makan, tapi hanya satu yang masih buka dan hanya tersisa nasi goreng. Rupanya kurang banyak kami  makan siang tadi karena anak-anak turut minta nasi goreng. Saya? Foto-fotolah ....



Tempat shalatnya juga nyaman, hanya becek banget di tempat wudhu perempuannya. Lokasinya juga ada beberapa, yang nyaman yang terletak di ‘dataran’ atas karena berada di atas kolam ikan.  Ada beberapa gazebo besar yang  sepertinya memang bisa digunakan untuk paket-paket gathering gitu.



7. Kok Ga Ada Taksi Ya?
Saat para sapi sudah kembali ke kandang (tapi masih bisa ditengokin), para sepupu masih asyik panahan di penghujung hari, kami berlima pun pulang. Jalan kaki menuju jalan raya sambil terus mencoba order taksi online, dan gagal .... lalu kami di tepi jalan itu berharap ketemu taksi atau angkot yang bisa membawa kami ke jalan yang lebih ramai, tetap saja, nihil. Si anak cowo sudah tidur terduduk memeluk tungkai ayahnya yang menggendong si bontot. Oh tidak, apakah kami terdampar di sini?



Tapi rupanya seorang anak ABG yang sedari tadi nongkrong bercandaan cekakak cekikik bersama teman-temannya menghampiri kami. Rupanya di daerah situ, sudah tidak ada lagi angkutan umum yang lewat jika sudah sore. Lalu dia menawarkan diri mengantarkan dengan motornya. Ojek dadakan. Bersama motor kawannya akhirnya kami bisa menemukan taksi yang sedang berhenti di tepi jalan. Ah, anak alay ini, ternyata Allah titipkan bantuan melalui mereka  ... terima kasih yaaa sudah melaju pelan-pelan dan mengingatkan kawannya juga untuk hati-hati karena bawa anak-anak.

Depok sore itu macet sangat. Mungkin itu sebabnya taksi online enggan mengambil. Yah sudahlah, lain kali bareng mobil rombongan saja biar tidak bingung pulangnya hehehe....


Jumat, 02 Juni 2017

JJS: Kedinginan di Pantai Anyer




Curah hujan masih tinggi, tapi keinginan Suami untuk piknik sepertinya tak terbendung lagi. Pilihannya, kehujanan di puncak atau kehujanan di pantai? Akhirnya pilih pantai, biar air ketemu air.
Perjalanan kali ini mengikutsertakan mama dan papa saya juga keponakan yang dapat tugas menyetir ^^’ Lewat jalur Banten, kondisi jalan cukup lancar dan berhenti makan siang persis di seberang menara mercu suar. Anak-anak sepanjang jalan sudah tidak sabar ingin ketemu laut, sehingga agak tidak fokus dengan makan siang.



1. MERCU SUAR – KARANG BOLONG
Usai makan siang, kami tidak langsung ke penginapan, melainkan mampir ke lokasi wisata zaman saya kecil, Karang Bolong. Sekitar 15 menit berkendara. Sesampainya di sana, sepi. Mungkin karena bukan musim liburan kali ya. Setelah membayar tiket masuk Rp15000,- per orang, kami pun langsung menuju TKP. Anak-anak seperti pemanasan dengan pasir pantai di sana. Belum sempat mengeksplor spot foto yang menarik lainnya, hujaaan. Padahal sepanjang perjalanan Jakarta-Anyer, cuaca senantiasa cerah. Jadilah kami yang belum sampai setengah jam di sana berlarian kembali ke tempat parkir. Hati-hati ya, tempat parkirnya harus menyeberang jalan soalnya.



Dari penglihatan singkat sih kelihatannya agak kurang digarap ya Karang Bolong ini. Konon ada kolamnya, tapi ya ga tampil gitu. Model kaya gini harusnya dibuat spot foto yang banyak. Spot foto yang sesuai dengan tema laut dan pantai ya.
 
2.  NUANSA BALI COTTAGE
Setelah aksi lari-lari kecil ke tempat parkir, kami akhirnya balik arah menuju Nuansa Bali Cottage. Sesuai namanya, tempat ini didekorasi agar seolah-olah seperti di Bali. Cottage yang dipesan suami adalah cottage dua kamar dan dua kamar mandi yang salah satunya berada di samping dapur.
Hujan sudah reda. Anak-anak langsung menghambur ke pantai pasir putih.




 Tak perlu lama, sudah disambut hujan. Mereka pun pindah ke kolam renang, tapi karena hujannya juga bersamaan dengan angin kencang yang dingin, tak butuh waktu lama mereka kembali ke cottage yang tidak jauh dari kolam dalam keadaan menggigil. Macam orang mandi di es saja hehehe ...


Hujan terus menderu hingga malam. Saya bersyukur karena membawa rice cooker dan mama membawa lauk, karena hujannya benar-benar bikin mager. Kami masih bisa menyantap makanan hangat di antara angin dingin yang masih berhembus kencang di luar sana.




Dengan cuaca mendung seperti ini, pupus sudah harapan memotret matahari terbit. Saat jalan pagi bersama anak pun, kami sempat kehujanan di tengah perjalanan pulang dan berteduh di salah satu atap warung yang belum buka.

Jalan pagi di pantai tapi pakai jaket hehehe .... sungguh bukan outfit yang sesuai.

Entah apa karena cuaca atau memang kebiasaannya, sarapan kami diantar ke cottage. Soalnya saya lihat tenda yang sejatinya menjadi tempat orang menyantap buffet tidak dibuka sejak semalam.



Jelang siang, cuaca baru agak bersahabat. Anak-anak menyempatkan naik trail. Saya tadinya mau foto di dermaga, tapi ditutup. Mungkin karena angin kencang jadi agak berbahaya jika beraktivitas di sekitar dermaga. Jadi saya perhatikan saja para pekerja yang tengah menyiapkan kursi di gedung aula yang disediakan Pesona Bali Cottage. Sepertinya akan ada acara ....




Matahari kian semangat bersinar, tapi kami sudah harus pulang. Sepertinya kita tidak berjodoh dengan awan merah muda dan jingga kali ini hehehe .... Ga papalah, yang penting ketemu pantai yang ada ombaknya.

Pulangnya, kami sekeluarga sakit semua. Masuk angin hihihiy ... oleh-oleh Pantai Anyer.

Jumat, 26 Mei 2017

JJS: Mengurai Kisah Keong Mas di Taman Legenda TMII



Tujuan utamanya memang Taman Legenda, karena si sulung dapat dipastikan akan suka sekali. Maklum, penggila dinosaurus. Namun, sekaligus ingin menuntaskan rasa penasaran si anak tengah yang belum pernah nonton di Keong Mas, TMII sementara kakaknya sudah. Rasanya ga matching, tapi ternyata kedua tempat ini saling berhubungan satu sama lain.

1. Rasa Orde Baru di Keong Mas, TMII
Datang ke Keong Mas seharusnya sudah tahu jadwal film yang diputar apa saja dan jam berapa saja, karena setiap jam beda-beda temanya. Saat itu kami sesuai takdir saja hehehe dan dapat jadwal film berjudul “Mutumanikam Nusantara”. Yah film jadul lagi deh.


Pada kunjungan pertama bersama anak sulung, saya menyadari bahwa theater iMax ini kurang di-update judul-judul filmnya. Rasanya sayang, padahal teater ini keren banget loh, belum ada kayanya yang layarnya sebesar ini di bioskop-bioskop ibukota. Sebenarnya ada sih, film-film baru tapi kemunculannya ga selalu satu bulan sekali.

Sembari menunggu, anak-anak melihat koleksi keong-keong nusantara yang dipajang di sekitar kuris-kursi tunggu. Padahal Keong Mas itu kan berasal dari cerita rakyat ya? Kenapa ga ada ceritanya di sekitar sini?

Film dimulai. Dan memang rasa orde baru ya. In a funny way.  Soalnya begitu melihat nama-nama yang muncul sebagai orang di balik layar kenapa jadi seperti melihat susunan kabinet ya? Hehehe .... Meski begitu, buat saya, film dokumenter ini digarap dengan baik. Ga asal jadi gitu loh. Dengan teknik kamera bergerak, film ini sukses membuat saya pusing dan kaki saya berdenyut ngeri saat menyunting ketinggian. Materinya sih tentang keberagaman nusantara, hanya beberapa daerah yang diangkat (ada beberapa seri sepertinya) dan masih ada Timor Timur ^^. Zaman sekarang kayanya boleh juga dibuat versi terbarunya, gampang kan sudah ada drone.
HTM: Rp.35000,-/orang

2. Taman Legenda:  A Place for a Freespirited Kid, like mine
Usai makan siang di warung dekat Keong Mas, kami sekeluarga jalan menuju lokasi Taman Legenda. Jika mengikuti jalan mobil, letak Taman Legenda berada di belakang area Keong Mas, setelah melewati Klenteng. Dari area parkiran sudah terdengar ‘suara-suara’ dinosaurus yang membuat anak-anak tak sabar menuju lokasi.

Saat mencapai loket, ada beberapa item paket top up. Seperti ketika ke Mekarsari, tiketnya berbentuk gelang yang berisi saldo untuk pembayaran wahana-wahana di dalamnya. Tadi saya mau ambil tiket terusan senilai Rp125000,- tapi saya pikir-pikir kan ga mau berenang. Soalnya sudah siang dan berenang itu bisa menghabiskan banyak sekali waktu plus saya ga bawa baju renang untuk anak-anak.  Akhirnya saya isi masing-masing gelang Rp100000,- toh bisa top up di dalam kalau kurang.

a. Petualangan Dinosaurus (Rp.25000,-/orang)
Tentu ini jadi wahana pertama yang dimasuki. Dengan robot-robot dinosaurus yang bersuara, bergerak-gerak kepalanya, bahkan ada yang menyemburkan air, si sulung senang bukan kepalang. Kecuali si anak tengah yang marah karena kaget. Area dinosaurusnya  siy tidak besar, cepat habisnya. Si sulung dah komplen, “Hah, gini doang?” sebelum kemudian pandangannya terjatuh pada area Arkeolog Cilik alias area pasir. Sebenarnya itu area pasir yang ada ‘rangka’ dinosaurus yang tertutup, jadi bisa pura-pura tengah menggali. Kebetulan hujan turun, jadi semakin ada alasan anak-anak berlama-lama main di situ.



b. Andong (Rp. 20000,-/andong)
Kata  suami saya, ini andong beneran karena rodanya dari kayu. Naik andong ini juga termasuk murah meriah karena hanya butuh top up dari satu gelang tapi bisa dinikmati beramai-ramai.  Lumayan dapat dua putaran.

c. Mata Legenda (Rp20000,-/orang)
Saya selalu suka ferris wheel. Lebih tepatnya selalu suka foto dengan ferris wheel sebagai latar belakang. Pengen coba di seluruh dunia, tapi belum mampu hehehehe ...




Sebenarnya naik mata dewa ini lebih bagus saat malam. Namun, di hari-hari tertentu, Taman Legenda hanya buka hingga sore, seperti hari itu saya datang. Ruangnya benar-benar tertutup, jadi aman. Bisa lihat TMII dari ketinggian. Beda rasa dengan ketika naik kereta gantung sih.



d. Memberi Makan Binatang (Rp5000,-/pakan)
Anak-anak kemudian bingung mau masuk wahana apa lagi karena ada berbagai macam permainan.  Mau naik komidi putar tingkat, saldonya ga cukup. Akhirnya saya tawarkan memberi makan binatang, dan mereka langsung bersorak gembira. Yang dihitung hanya pakannya, jumlah orang yang kasih pakan sih bebas. Jadi ketika memberi makan kelinci di dalam kandangnya yang cukup lapang, kami sekeluarga masuk dengan membawa dua gelas pakan saja. Si kecil juga bisa berinteraksi dengan kelinci yang memang kan ga agresif ya. Jadi suasana tenang, lucu-lucu gitulah.


Usai memberi makan kelinci, lanjut ke kambing. Kambing juga bukan kambing yang bisa kita lihat saat idul adha. Dari ukuran hingga tanduknya saja berbeda.



e. Taman Legenda (gratis)
Area Taman Legenda itu sendiri adalah area taman dengan varian air mancur. Ada patung-patung di situ yang masing-masing merupakan adegan-adegan dalam kisah Keong Mas. Jadi anak saya yang berjiwa bebas itu langsung menerjang Taman Legenda dengan tangan terbuka lebar, mengitari tanpa lelah setiap patung dan membaca keterangan kisahnya satu persatu. Cocok untuk santai-santai untuk para orang tua karena disediakan gazebo di beberapa tempat, tempat bagi anak-anak untuk berlarian bebas tanpa hambatan (entah berapa kali mereka keliling-keliling tempat yang luas itu), dan spot keren untuk foto-foto dengan landscape alamnya. Kalau tidak ingat hari sudah semakin sore, mungkin bisa lebih lama kami di situ.



f. Teater
Sengaja saya taruh di akhir wacana gratisan ini, sebagai ajang istirahat anak-anak sebelum pulang. Sebuah mini teater yang menayangkan film kartun tentang Keong Mas. Ilustrasinya bagus, dialognya dipahami anak-anak dan tidak lebay. Ruangannya cukup dingin (sekalian ngadem). Bagi anak-anak, serangkaian jalan-jalan ini disimpulkan dengan sempurna dengan film ini. Jadi mereka bolak balik mengaitkan dengan apa yang mereka temui selama berada di TMII. Ga nyangka ternyata bisa nyambung hehehe ....

Taman Legenda sudah hampir tutup, ketika saya menukar gelang, saya masih dapat sisa Rp15000,-/gelang. Rp.10000,- dari jaminan gelang, Rp. 5000,- sisa saldo. Lumayan kan kalau dikali 4. Next time mungkin coba yang terusan, dengan catatan harus dari pagi hehehe ...