Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2015

KAMYStory: Uang Beras untuk Baby M

Silaturahmi saat lebaran sudah menjadi jadwal di rumah kami. Hari pertama di rumah orangtua saya, hari kedua di rumah kakak tertua suami (mertua sudah almarhum semua), dan hari ketiga adalah hari silaturahmi keluarga mama saya. Hari ketiga ini persiapannya agak berbeda, mobil sewaan (karena saya tidak punya mobil) dan beberapa kotak kue untuk dibawa ke rumah yang dikunjungi. Mau tahu berapa rumah yang rutin kami kunjungi setiap hari ke-3 lebaran? Delapan. Yap. Berawal dari Klender, Duren Sawit, Pondok Gede, Bekasi, Ciputat, lalu terakhir di Cilandak. Jatah 12 jam mobil sewaan terpakai semua.

Namun ada yang berbeda di lebaran tahun ini, pada beberapa rumah, saya malah pamit dengan membawa sekantung beras. Saya ga minta loh. Ini namanya uang beras dari Uwo untuk baby M. Hadiah kelahiran bayi? Ga juga.


bukan habis antri beras lho ..

Uang beras adalah tradisi menghadiahi bayi yang baru lahir ketika si bayi berkunjung ke rumah sang uwo untuk pertama kali. Istilahnya pertama kali naik rumah uwo (kenapa naik? Karena kalau di minang kan pakai rumah panggung). Jadi statusnya harus antara uwo ke cucu ya. Kayanya lebih spesifik lagi ke cucu perempuan dari anak perempuan. Lazimnya di kampung malah tak hanya beras melainkan juga kelapa yang sudah tua. Nantinya kelapa itu ditanam di rumah sebagai tanda. Green living banget ga sih. Ada bayi lahir, disuruh tanam kelapa hehehe. Tapi berhubung kami tinggal di kota dan saya tinggal di rusun, yaaah agak sulit ya kudu tanam kelapa.


Uang beras ini adalah sedikit dari tradisi minang yang kadang-kadang masih suka nyelip dalam keseharian kami yang katanya tinggal di kota ini. Ini tradisi yang menyenangkan bagi saya, maklum ... lebaran, deketan sama tanggal tua ... dapat beras dua kantung itu amanlah perut buat sebulan ke depan hehehe makasih uwoooo ... (kata baby M) 

Minggu, 19 Juli 2015

Warna Warni Baju Lebaran, Rangkaian Pelangi Silaturahmi

Berbelanja baju saat lebaran seolah sudah menjadi tradisi sejak kecil. Bukannya hendak memaknai hari raya dengan berfoya-foya, tetapi kenyataannya memang orangtua saya hanya mau berbelanja baju anak-anak ketika menjelang lebaran, bukan di hari lain. Akhirnya jadi kebiasaan, kalau bukan untuk keperluan kerja, saya termasuk malas berbelanja baju.

Ketika saya beranjak remaja dan beneran menggunakan kerudung ke SMP negeri, baju lebaran tak lagi dibeli, melainkan dijahit. Tahun 90-an saat itu belum banyak menjual baju muslim untuk remaja. Momen-momen ini agak kurang menyenangkan bagi saya. Saya buta warna dan berkunjung ke toko bahan kain itu menyiksa. Otak ini serasa error. Jadi, biasanya saya minta kakak saya yang pilih motifnya, saya membedakan dari warna saja. Yah, dulu kami sempat kembar-kembaran gitu kalau lebaran. Eh semakin saya besar, saya semakin ingin berbeda. Demi menyelamatkan mata dan otak saya, biasanya saya pilih bahan polos. Tak hanya bahan yang ingin saya bedakan, tetapi juga modelnya. Pada usia SMA saya memang sedang giat bereksperimen. Maklum, masih remaja labil. Senang juga jadi yang beda sendiri di antara saudara-saudara yang berdatangan.

zaman masih lajang nih ... 


Setelah memiliki uang sendiri dan pakaian muslim semakin meluas wabahnya, saya lebih memilih membeli. Walau sebenarnya agak sulit jika menemani saya berbelanja baju lebaran karena biasanya saya sudah punya kriteria yang spesifik. Kriteria spesifik ini yang membuat saya tidak cocok jika harus beli baju seragaman sama suami. Ada terlalu banyak ego yang harus diruntuhkan #lebay. Namun, jika menengok kembali dokumentasi saat lebaran, rupanya saya banyak menggunakan warna merah dan hitam.

kembaran ungu sama suami, eh tapi anak-anaknya merah hitam juga ^^'

Umumnya orang-orang mengenakan warna putih atau warna-warna pastel sebagai WARNA KEMENANGAN. Selain sesuai dengan tema fitrah di hari raya, juga karena cuaca Jakarta yang panas ga cucok dengan warna hitam. Begini alasannya, pertama, saya menghindari baju putih. Sebagai orang minang tentu makanan lebaran sangat sarat makanan berminyak dan bersantan, daaan saya orangnya clumsy. Jadi yah kerudung putih, baju putih pasti berakhir dengan noda, walau mungkin hanya setitik. Kedua, hitam membuat saya terlihat langsing. Dari zaman masih langsing hingga langsung, saya memang lebih suka terlihat langsing hehehe ... Ketiga, kenapa merah? Ah, ga tahu deh kenapa. Padahal saya ngakunya pencinta biru loh, tapi malah jarang punya baju lebaran biru. Ya ga papa deh ya, lagipula paduan merah dan hitam itu warnanya orang minang juga hehehe ... Bahkan ketika akad nikah pun saya pakai baju hitam dan songket merah. Saya suka yang berbau melestarikan budaya seperti itu.  

sebenarnya roknya itu katanya rok bali tapi merahnya matching sama tema minang hehehe


Saudara-saudara saya pun tak kalah berwarna-warni. Saya termasuk orang yang menikmatinya, sampai hapal aliran masing-masing saudara. Senang mengetahui bahwa saudara kami memiliki selera yang berbeda-beda. Ada yang ikutin trennya sosialita, ada yang ikutin tren tanah abang, ada yang setia dengan model dari zaman dahulu kala tapi dengan modifikasi, sangat menarik. Apalagi sekarang tidak hanya baju yang menonjol, kerudung pun juga ikutan eksis. Bergo, pashmina, segiempat, campur-campur deh. Semua perbedaan itu, laksana pelangi bahkan mungkin lebih dari itu karena ada hitam dan putih. Warna warni itu saling berdampingan dengan harmoni yang indah dalam lantunan, “taqaballahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.” Semoga kita dipertemukan lagi di ramadhan mendatang. Amin.


hayo mana arah yang betul ^^



diambil dari www.warnawarnikemenangan.com


Ngomong-ngomong, bukan hanya kita yang merayakan kemenangan. DULUX pun turut merayakan WARNA WARNI KEMENANGAN 2015. Ikuti photo competition di www.warnawarnikemenangan.com di sana kamu bisa mengupload foto sambil bereksperimen dengan warna bingkai dan stiker lucu khas lebaran. Tak hanya itu, Dulux juga mengadakan promo warna warni kemenangan. Untuk setiap pembelian seharga Rp1000000,- akan mendapatkan voucher sebesar Rp100000,- mayan banget kan? Karena saat lebaran, rumah juga ingin dapat ‘baju’ baru loh ...

Informasi lain tentang Dulux silahkan ke sini yaa ... Ada banyak info dan tips seru dan menarik tentang dekorasi rumah loh.  


Kamis, 16 Juli 2015

KAMYStory: Rindu Parcel

Sewaktu saya masih kecil, kedatangan parsel menjadi salah satu yang dinanti. Dulu papa saya bisa mendapat lebih dari 10 parsel. Bagi kami yang sama sekali tidak dibelikan jajanan oleh orangtua, isi parsel adalah bonus yang datangnya setahun sekali. Menjelang lebaran, isi parsel itu pun mulai dibooking oleh masing-masing kami, si empat bersaudara. Psst, saya bahkan dulu pernah mengendap-endap mengambil isi parsel dan memakannya diam-diam di siang hari saat masih puasa :D Dan kini, i kind miss that things. Entah momen rebutannya atau item-nya. Sekarang, ketika beberapa hari menjelang lebaran dan saya yang menjadi orang yang berbelanja isi parsel atau bingkisan atau penganan untuk di rumah saat hari raya, saya jadi bernostalgia dengan makanan-makanan tidak sehat ini hehehe ....


Yang biasa saya booking diam-diam atau paling belakangan adalah:
1.       Coklat van houten
Tadi akhirnya saya beli juga deh coklat butir Van Houten. Kangen banget mau makan ini. Kayanya Cuma pas dibeli saat hari raya hehehe ... Sekarang sudah tidak dikemas dengan kaleng lagi, padahal waktu saya kecil dulu, kaleng ini saya jadikan tempat macam-macam saya lah .. biasa, anak prakarya.

2.       Snack Double Decker
Isi parsel biasanya besar-besar, nah salah satu yang menuh-menuhin tempat adalah snack Double Decker. Biasanya kotak yang besar itu berisi dua kantung. Saya bahkan memakannya bersanding dengan nasi hehehe macam abon saja. Dan bagi saya yang suka reuse, kotak Double Decker bagian belakang selalu ada prakaryanya.

3.       Permen FOXS Kaleng
Makan permen pun waktu saya kecil Cuma ada di momen tahunan ini. Jadilah saya kalap, bisa lebih dari tiga kali sehari. Permen dengan warna warni bening ini sensasinya adalah bisa jadi tajam banget ketika sudah  kecil. Saya bahkan pernah mengemutnya sambil tidur, syukur tidak tersedak.
seperti melihat koleksi batu akik 
(foto dari nestle.co.id)



Yang biasa diambil kakak-kakak saya terlebih dahulu adalah:
1.       Soda kaleng
Soda kaleng dingin itu the best banget gregetnya. Beda dengan yang botolan. Tapi saya jarang kebagian sih. Mungkin tidak terlalu suka juga.

foto dari wikipedia


2.       Buah kaleng
Nah abang-abang saya biasanya langsung pesta buah kaleng. Karena saya tidak suka buah olahan, saya lihatin aja deh hehehe ....

3.       Springles
Berbeda dengan saya yang suka manis ala-ala coklat, abang-abang saya sukanya yang asin. Nah springles inilah surga dunianya. Kayanya ledes mulut makanin beginian.

4.       Set Cangkir
selalu ngiler lihat beginian
(foto dari teaprtyideas.com)

I love tea set. Walau tidak menggunakannya secara langsung tapi saya pernah secara tidak sopan meminta pada mama, “Ma, kalau sudah meninggal, tea setnya buat aku, ya?”
Tea set sering pula menjadi isi parsel dan melihatnya membuat saya bercita-cita memiliki kafe dengan ragam koleksi tea set yang cantik. Tapi, mimpi itu tertahan sejenak karena di unit Kalibata City ga ada ruang untuk koleksi cangkir heheheh ....



Jadi, walau saat itu saya pikir ibu saya ga asyik karena ga pernah menyediakan makanan jajanan seperti itu di rumah sama sekali, hal itu membuat saya merindukan parsel-parsel ini. Ga perlu setiap hari. Setahun sekali pun, cukup.


Anyway .... setelah dipikir-pikir, saya jadi bertanya-tanya, kakak perempuan saya ambil apa ya? Kayanya dia jarang terlihat mengitari parsel ... ah iya ... dia sedang sibuk ditatar nenek atau mama di dapur ^^’ Okelah, adikmu menyusuuuuul .... 

Rabu, 15 Juli 2015

Resolusi Lebaranku: Berkawan dengan Kartu Kredit

Kartu kredit sudah menjadi masalah tahunan saya, rasanya sulit sekali menghabiskan satu bulan tanpa menggunakan kartu kredit. Saat-saat menjelang adalah momen yang biasanya saya tidak hanya menghabiskan uang tunai tetapi juga menghabiskan limit kartu kredit. Rasanya itulah saat yang tepat untuk memberikan hadiah pada semua orang, padahal kan eike bukan sinterklas. Mungkin terlalu gembira. Dan saya sangat mendukung saran Rasulullah untuk sering-sering memberikan hadiah pada saudara. Namun, kini, sepertinya saya harus mulai mengubah momen lebaran itu dengan lebih bersahaja. Anggap saja sebuah resolusi lebaran, bahwa arti kemenangan itu tidak selalu harus dinilai dari jumlah uang yang diberikan. Seringkali sebuah pemberian akan memberi makna lebih justru bukan karena harganya melainkan karena usahanya. Oleh karena itu, lebaran kali ini saya tidak akan mengumbar angpao, melainkan sebuah bingkisan lebaran.

Apa sih bingkisan lebaran? Kurang lebih mirip isi goodiebag anak-anak ulangtahun, hanya lebih sedikit. Ya, tanpa berbagai macam makanan ringan. Toh, di setiap rumah yang menggelar open house saat lebaran pasti sudah bertebaran makanan ringan. Kelebihan menggunakan bingkisan lebaran adalah kita bisa menekan biaya per orangnya ketimbang menggunakan metode angpao. Kebetulan di keluarga saya, belum rutin memberikan angpao pada para keponakan. Tugas itu masih dipegang oleh para datuk dan nenek. Mungkin juga karena jumlah krucilnya belum banyak dan para sepupu masih banyak yang lajang. So, mau menandingin datuk dan uwo kayanya ga elok ya, lebih baik buat sesuatu yang lain.

Salah satu keuntungan menggunakan bingkisan lebaran adalah saya bisa pakai kartu kredit. Nah, masalahnya kartu kredit siapa yang lebih enak dipakai, milik suami atau saya. Citibank atau CIMB?

Itulah gunanya membuka situs www.cermati.com. Yah, saya agak telat memang mengetahui tentang situs ini. Seharusnya saya membukanya saat hendak mengajukan aplikasi kartu kredit. Tak  tanggung-tanggung, ada 268 kartu kredit yang bisa dibandingkan! Saya nganga saja saat menscroll pameran kartu kredit itu. Kelamaan nganga saya baru belakangan tahu bahwa ada cara lebih mudah ketimbang ngescroll, apalagi  saya sudah tahu hendak membandingkan kartu kredit apa. Pada sisi kiri layar sudah ada kriterianya, tinggal centrang, dan tiba-tiba waktu terlipat.

Jika dilihat dari berbagai sisi, masing-masing memiliki kelebihannya.
Keunggulan CIMB Niaga
1.       Free biaya tahunan seumur hidup. Urusannya Cuma untuk bayar tagihan saja. Simple.
2.       Denda keterlambatannya ada minimumnya, yaitu Rp25000,- dibanding Citibank hanya ada pilihan Rp150000,- atau 3% dari transaksi.

Keunggulan Citibank:
1.       Promo kartu kreditnya lebih banyak ketimbang CIMB, ada buat FunWorld lagi. Pas buat keluarga.
2.       Penarikan tunai minimumnya lebih kecil daripada CIMB yaitu Rp50.000,-

Selebihnya sama. Lalu apa yang akhirnya saya pilih?


Ehem, pinjem punya suami dulu deh. Selain karena bintang reviewnya sedikit lebih baik dari pada CIMB (3,54 vs 3,38), juga karena ada promo Citibank di Farmers Market. Setiap pembelanjaan seharga Rp600000 akan langsung mendapat potongan Rp100000,-. Berlaku hingga 16 Juli 2015. Sebagai warga Kalibata City yang tidak mudik, momen libur lebaran ini Farmers lagi banyak-banyaknya diskon, jadi ada lebih banyak yang bisa dibelanjakan plus dapat potongan langsung dari kartu kredit. Jadi saya tetap bisa belanja bingkisan lebaran dengan harga yang dua kali lebih murahnya. Serasa jadi istri solehah hehehe. Wah, belanja bulanan buat bulan depan jadi maju deeeeh ^^’ 
Lomba Blog Resolusi Lebaran