Lintau adalah nama salah satu kampung di Sumatera Barat yang masuk wilayah Batu Sangkar. Sebagai anak yang tidak pernah tinggal di kampung, saya senantiasa merasa kagum melihat bagaimana keluarga besar mama saya tetap mempertahankan tradisi walau tinggal di perantauan. Tradisi di pertahankan saat pernikahan itu biasa, yang tidak biasa adalah bagaimana tradisi dan sistem adat dijalankan saat ada yang meninggal.
Pertama kali saya menyaksikannya adalah ketika nenek saya meninggal dunia. Oleh karena mama adalah anak perempuan tertua, maka serta merta datanglah seluruh adik dan ipar juga bako (sebutan untuk perempuan tertua dari pihak bapak, seperti mak tuo atau dalam ranah Jawa disebut Bu De) ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Hal itu dilakukan bukan semata-mata jiwa kemanusiaan melainkan sistem. Pihak bako wajib membawa segala sesuatu untuk keperluan jenazah, seperti kain kafan, bunga, air, dan sebagainya. Sedangkan adik dan ipar mama sibuk bertanya pada saya, "di mana mama menyimpan pelaminan?"
"Eh, pelaminan?"
Mama saya memang memiliki set pelaminan, belum lengkap semua sih. Beliau bercita-cita ingin menjadi penyewa pelaminan walau akhirnya pelaminan mama lebih sering dipinjamkan ketibang disewakan karena mama pun seorang bako utama (nah kalau ini beda lagi topiknya ya). Nah karena topiknya sedang berduka, saya bingung kenapa harus mencari pelaminan?
Rupanya ruang tempat nenek saya akan disemayamkan dihias dengan pernak pernik pelaminan. Seluruh dinding ditutupi kain dasar berwarna merah, oranye, dan kuning. Tema emas terlihat dominan seperti biasa, hanya saja nuansa hitam lebih banyak muncul ketimbang merah. Pada tengah-tengah langit-langit, persis di atas jenazah, ada hiasan utama dengan kaca-kaca di atas kain beludru. Hasilnya? Cantik.
Inilah cara orang Lintau menghormati seseorang yang meninggal. Lahir disambut dengan sukacita, begitu juga dengan saat berpulang ke hadirat-Nya.
Namun sistem adat tidak berhenti di situ, salah satu tradisi yang masih dipertahankan oleh para anak rantau ini adalah sistem berkunjung. Saya ambil contoh yang agak unik, beberapa waktu lalu Datuk yang merupakan adik nenek meninggal dunia. Kebetulan seluruh anak perempuan Datuk ini pun sudah lebih dulu meninggal, begitu juga istrinya. Jadi, satu hari setelah berpulang, mama dan keluarga besar melayat ke rumah duka. Istilahnya melayat anak, karena berasal dari satu 'rumah'. Hari berikutnya, anak-anaknya Datuk dan keluarga yang sudah melayat ke rumah Dayuk, yang datang ke rumah mama saya.
Lho, kok?
Ini namanya saling menghibur di antara yang berduka. Mama saya beserta adik-adiknya termasuk keluarga inti yang berduka, jadi rumah mama saya yang sekali lagi sebagai anak perempuan tertua menjadi base camp kedua.
Kunjungan pun tak sekadar kunjungan, ada bawaannya. Bagi keluarga inti atau bako harus membawa ayam jago kampung berwarna hitam. Nah, waktu nenek saya meninggal, rumah saya kebanjiran ayam hidup. Namun sekarang lebih sederhana, ada yang memberikan uang di amplop yang ditulis 'uang ayam'. Ada pula yang membawa ayam dalam keadaan sudah siap dimakan. Sedangkan untuk pihak di luar keluarga inti membawa beras atau beras ketan dan telur, jumlahnya sekitar 5 atau 7.
Kenapa?
Alasannya adalah ada ketentuan bahwa orang berduka tidak boleh ke mana-mana. Di Lintau sendiri proses orang melayat bisa sampai satu minggu. Nah, karena tidak bisa ke mana-mana, tidak bisa belanja dong. Makanya dibawakan makanan oleh keluarga-keluarga yang melayat.
Nah, karena sudah dibantu, maka sesuai tradisi pihak berduka pun membalas. Apa lagi ini? Khusus yang bawa ayam saja kok. Mereka yang membawa ayam diberi uang sebagai ucapan terima kasih. Nominalnya tentu lebih murah daripada harga ayamnya dan kemudian disesuaikan saja. Misal, ada yang kasih uang ayam sebesar Rp100000,- maka dibalas Rp50000,-. Kenapa tidak langsung bawa Rp50000,-? Itulah namanya disuruh berinteraksi. Kesannya ribet tapi ada maknanya bagi mereka yang ingin memahaminya hehehe ...
Semoga tradisi ini terus dijalankan dan diturunkan seperti ketika mama meminta kakak perempuan saya untuk datang ke rumah saat orang melayat. "Karena kamu anak perempuan tertua." Tempat tradisi dipertahankan. Sedangkan si adik seperti saya yah bagian mempromosikan lah hehehe ...
Tampilkan postingan dengan label minang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label minang. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Februari 2016
Kamis, 23 Juli 2015
KAMYStory: Uang Beras untuk Baby M
Silaturahmi saat lebaran sudah menjadi jadwal di rumah kami.
Hari pertama di rumah orangtua saya, hari kedua di rumah kakak tertua suami
(mertua sudah almarhum semua), dan hari ketiga adalah hari silaturahmi keluarga
mama saya. Hari ketiga ini persiapannya agak berbeda, mobil sewaan (karena saya
tidak punya mobil) dan beberapa kotak kue untuk dibawa ke rumah yang
dikunjungi. Mau tahu berapa rumah yang rutin kami kunjungi setiap hari ke-3
lebaran? Delapan. Yap. Berawal dari Klender, Duren Sawit, Pondok Gede, Bekasi,
Ciputat, lalu terakhir di Cilandak. Jatah 12 jam mobil sewaan terpakai semua.
Namun ada yang berbeda di lebaran tahun ini, pada beberapa
rumah, saya malah pamit dengan membawa sekantung beras. Saya ga minta loh. Ini
namanya uang beras dari Uwo untuk
baby M. Hadiah kelahiran bayi? Ga juga.
bukan habis antri beras lho ..
Uang beras adalah tradisi menghadiahi bayi yang baru lahir
ketika si bayi berkunjung ke rumah sang uwo untuk pertama kali. Istilahnya pertama
kali naik rumah uwo (kenapa naik? Karena kalau di minang kan pakai rumah
panggung). Jadi statusnya harus antara uwo ke cucu ya. Kayanya lebih spesifik
lagi ke cucu perempuan dari anak perempuan. Lazimnya di kampung malah tak hanya
beras melainkan juga kelapa yang sudah tua. Nantinya kelapa itu ditanam di
rumah sebagai tanda. Green living banget ga sih. Ada bayi lahir, disuruh tanam
kelapa hehehe. Tapi berhubung kami tinggal di kota dan saya tinggal di rusun,
yaaah agak sulit ya kudu tanam kelapa.
Uang beras ini adalah sedikit dari tradisi minang yang kadang-kadang
masih suka nyelip dalam keseharian kami yang katanya tinggal di kota ini. Ini
tradisi yang menyenangkan bagi saya, maklum ... lebaran, deketan sama tanggal
tua ... dapat beras dua kantung itu amanlah perut buat sebulan ke depan hehehe
makasih uwoooo ... (kata baby M)
Sabtu, 21 Juni 2014
Death: In Minang Tradition
It has been a long time since I wanted to write about it.
But I haven’t come to a funeral of my minang’s family member also for a long
time. It was when my grandmother died when I was just enter myself as a college student. At that moment, I
saw someone else’s death is more than a mourn but the spirit of helping to each
other.
Decoration
Death and decoration? Sounds not match to you, huh?Well,
this is why I love it. When somebody died, the room where the body lied was
covered by the same fabricue that we used for weddings. Not just the wall but also the roof. And the dominant color
for minang’s wedding is black. You might think it will be unsuitable because we
use lots of gold ribbon and glass deco which would make a blink-blink effect. But
actually when my mom explained the reason, I got the point. That death is a
glory path of human being, just like a birth. They whose has died has returned
to the Owner, God. It’s a celebration of life.
Well of course, it’s only happen for the high family. The higher
class is, the more beautiful the fabricues are.
The Donation
Unlike what I used to see here in Jakarta, we have rules and
manner about what to bring when you went into the mourn family’s member house.
We call it ‘takziah’. It means we come to the mourn house after the funeral.
And to go there we need to bring at least, uncooked rice or ketan with eggs.
And the eggs should be 5 or 7 or maybe 9. We usually would bring it in a large can plate
and cover it with wide white napkin or ‘kucuik’. if you want to improve your
donation then you may bring a chicken. In the old times, at least when my
granny died, people would bring a living chicken. Yup, in one week my house were
full of chicken. But now there are some improvement, you may cook it first.
Why is it matter? Well, it’s because the mourn family are
not allowed to cook or to go to the market. The old people said, “don’t let a
smoke come out of the mourn house.” At least for a week. That is why, the
neighbours would come and bring them food. This donation needs to be payed
back. There are certain numbers of money to give if you bring living chicken or
the cooked one. At least half of the real price. Let’s say a thank you fee. So,
if the neighbourhood in Jakarta would wait for the next tahlil and besek (other
than to pray), the minang’s family do the other way J.
The Place
Where do we go for takziah? Because we are mathriarchy, we
would come to the oldest sister or the oldest daughter of the death. Not the
husband, not the oldest brother, ladies only. It’s quite a problem when the
person died in Padang and we lives in Jakarta, and in order to find the closest
female relatives we even go to the cousins, although her son lives in Jakarta.
What an irony. But it’s true. That is why, to have a daughter in minang’s
family is a way to keep your family close.
That’s all I know about death in minang’s tradition. I hope I don't miss anything.
And
when I dreamed about my Aceh’s wedding when I was a kid, now I dreamed myself lying there
breathlessly under the blink-blink and the sewing of two tigers. And may I died
peacefully.
Senin, 17 Maret 2014
Undangan, antara Mengundang dan Diundang
Kata orang, orangtua dan anak yang memiliki karakter serupa biasanya sering terlibat perdebatan. Saya dan mama saya contohnya. Dan salah satu topik yang saya gemas untuk berdebat dengannya adalah soal undangan.
Oleh karena sistem matriarkat di Minang, mama saya menjadi semacam orang yang dituakan secara adat. Bako istilahnya. Fungsi bako ini seperti ibu kedua dala keluarga. Ibu suri kali ya.
Dan karena aturan matriarkat ini pula, tahta mama diturunkan pada kakak saya. Saya, di baris kedua. Toh, kata mama juga seharusnya memiliki kapasitas yang sama dengan kakak saya. Ini terkait dengan perbendaharaan nama saudara. Anaknya si anu, anak istrinya si anu, anak pamannya dari istri yang anu ... Budaya keluarga besar dan beristri banyak plus menikah antartetangga juga antarsaudara ini memang bikin bingung. Apalagi aturannya berbeda karena yang utama dilihat dari garis ibu. Belum lagi, saya buruk menghapal nama. Makanya awalnya saya santai-santai saja, karena toh tahtanya di kakak saya.
Namun ketika kakak saya sempat menghabiskan beberapa tahun di luar negeri, saya merasa berkewajiban menghapal sanak saudara ini. Terlebih pada saat itu, Nyak Uwa saya (kakak papa saya) meninggal dunia. Dan pada saat itu saya melihat betapa pentingnya mengenal saudara. Nyak Uwa saya ini orang kaya hanya cobaan hidupnya luar biasa sehingga ketika dia meninggal dunia, anak-anaknya nyaris tidak tahu harus mengumumkan pada siapa saja. Sedangkan kalau di keluarga mama, pesan kematian itu bisa otomatis tersebar karena ada sistem yang dipatuhi. Toh, walau akhirnya papa dan kami anak-anaknya yang membantu saat persemayaman hingga tujuh hari tahlilan yang sempat menyedot seribu orang di rumah Nyak Uwa saya, rupanya banyak pula saudara atau kenalan yang pernah dibantu justru tidak tahu kabar meninggalnya Nyak Uwa saya. Padahal rumah mereka tidak jauh. Ironis.
Oleh karena itu, ketika kakak saya pergi, saya menikmati berkenalan dengan saudara terlebih para anggota saudara baru alias para menantu. Senang menghadiri perkawinan dan menyapa satu saudara ke saudara yang lain Yah, ceritanya mau menggaet calon pemilih baru. Halah.
Namun, sejak menikah ada yang berubah. Mama tak pernah lagi mengajak saya ke pesta pernikahan. Saya tahu siy alasannya, saya tak diundang. Ini aturan yang mama patuhi sejak di Belanda. Orang Belanda kala memberi undangan, nama yang tercantum adalah yang diundang. Tidak tercantum, ya tidak diundang. Anak sekalipun. Penganannya dibuat pas sesuai jumlah tamu. Naah kenapa sekarang berbeda? Sekarang walau di undangan tertulis Bpk. Teuku Rusli & kel., saya tidak termasuk di dalamnya. Saya sejatinya mendapat undangan khusus yang tertulis, Bpk. hery Kuswahyo & kel. Itu menurut definisi mama saya, walaupun anak dan menantunya ini tinggal satu rumah dengannya, tapi secara harkat beda rumah. Nah, siapa juga yang bakal kasih undangan seperti itu selain teman sendiri? I mean, terlebih jika tinggal serumah dengan orangtua dan nama yang tercantum kudu nama suami yang notabene adalah menantu tidak populer, belum lagi jika ternyata si punya hajatan adalah saudara jauuuuh. Agak sulit kayanya berharap dapat undangan bertuliskan nama kita. Perlu sosialisasi.
Akhirnya saya hanya bisa mesem-mesem saja di depan pagar ketika mengantar mama saya menaiki mobil adiknya yang kebetulan disopiri sepupu saya. Mereka biasanya kompak bertanya, "Kok, ga ikut?"
Saya jawab apa adanya, "Ga diajak." Dan kening mereka pun berkerut aneh.
Urusan diajak atau ga juga sering subjektif. Saya pernah kena cemberut para Etek-Etek karena dianggap telah memperkeruh suasana. Jadi ceritanya ada acara buka puasa bersama di antara adik-adik mama. Nah sebagai generasi kedua, biasa dong saya konfirmasi kedatangan para sepupu saya, biar tahu mau ngerumpi apa. Eh rupanya, salah satu adik (menantu sebenarnya, karena suaminya sudah meninggal) ga diundang. Alasannya (baru belakangan tahu), ga enak karena mereka lagi suasana berduka atau lagi repot-ini menurut yang ngundang. Lha, meneketehe. Lagian, si sepupu yang ga diundang ini sejauh percakapan saya baik-baik saja hingga tidak perlu tidak diundang. Ya suds, relakan saja saya ditunjuk-tunjuk.
Lalu pernah ada juga, lagi-lagi acara bukber. Kali ini seorang Mak Datuk yang ajak. Aturannya sudah betul, telepon mama dan kemudian menitipkan satu kalimat, anak dan cucu diajak yaa.... Tapi karena mama menganggap saya akan kerepotan mengurus dua anak dan tidak akan fokus ibadah, maka saya tidak diberitahu. Hasilnya? Saya kena semprot sama para sepupu saya yang datang walau membawa anak. Lagian, kalau acara bukber gitu biasanya memang ga tarawih kok kitanya. Ibu-ibu mah tarawih sendiri di rumah jelang siapin sahur =P. Capek deeeh.
Lain ceritanya ketika abang tertua saya masih di Jakarta, mama selalu menelepon abang saya yang tinggal di Ciledug itu untuk menemaninya ke pesta pernikahan. Coba ya, Ciledug-Tebet.
Awalnya saya suka sewot sendiri. Oh, karena abang punya mobil, saya tidak. Oh, karena itu alasan mama biar bisa ketemu anak laki-lakinya. Stuff like that, sampai akhirnya saya memutuskan kesimpulan yang tidak terlalu berbau iri dengki =P Bahwa mama perlu status. Oleh karena mama mematuhi sistem undang-undangan itu, maka ketika mama mengajak abang tertua saya, dia menyelipkan status 'pengantar' pada dirinya (dan istrinya). Jadi bukan tamu tambahan. Ga ilegal karena mama papa saya sudah usia lansia dan tidak punya kendaraan pribadi.
Bagaimana dengan abang kedua saya? Yang masih lajang dan tinggal serumah? Dia juga diajak, sedangkan saya tidak, walau nebeng mobil tante. Well, pembelaan mama supaya abang saya yang waktu itu sempat lama freelance di rumah bisa bertemu kesempatan karier lain (jodoh mungkin, ya namanya juga ibu2). Oleh karena merasa telah menambah tamu ilegal, beliau menempatkan diri sebagai tamu legal yang tidak banyak makan. Karena intinya itu, jangan sampai tamu ilegal mengambil jatah tamu legal.
Lalu kenapa kakak saya tidak diajak? Toh, dia juga punya mobil. Well, karena (mungkin) bukan benar-benar punya kakak saya hehehe .... Lagian sungkan sama menantu, minta dianter-anter.
Lalu saya, ga punya mobil, bawa dua anak, lengkaplah keilegalan saya hehehe ....
Ya suds, anggaplah begitu skenarionya. Saya terima. Hingga kemudian saya dengar dari kakak saya (yup, bukan dari mama) bahwa sepupunya sepupu saya menikah. Secara hubungan darah sudah berseberangan karena antarmenantu, tetapi masih orang minang. Dan anaknya ini nyaris sebaya dan sering diajak serta dalam acara keluarga kami. Jadi ketika saya dengar dia menikah, bukannya ge er, tapi saya yakin suatu hari akan bertemu dengan percakapan, "Kok, uni ga dateng sih?" Sedangkan saya sudah malas menjawab, 'ga diajak' atau ngibul-ngibul yang lain. Akhirnya berkat investigasi kakak saya ke mama, saya tahu lokasi pernikahannya. Dan saya pun berangkat. Dan di sana, saya selamat dari pertanyaan yang di atas tapi kemudian kena pertanyaan lain dari mama, "Emangnya kamu diundang?" Haiyah. Biarlah Allah yang memaafkan dosa-dosaku U_U Pokoke saya ga maruk, ga bohong, ga lepas silaturahmi.
Oleh karena sistem matriarkat di Minang, mama saya menjadi semacam orang yang dituakan secara adat. Bako istilahnya. Fungsi bako ini seperti ibu kedua dala keluarga. Ibu suri kali ya.
Dan karena aturan matriarkat ini pula, tahta mama diturunkan pada kakak saya. Saya, di baris kedua. Toh, kata mama juga seharusnya memiliki kapasitas yang sama dengan kakak saya. Ini terkait dengan perbendaharaan nama saudara. Anaknya si anu, anak istrinya si anu, anak pamannya dari istri yang anu ... Budaya keluarga besar dan beristri banyak plus menikah antartetangga juga antarsaudara ini memang bikin bingung. Apalagi aturannya berbeda karena yang utama dilihat dari garis ibu. Belum lagi, saya buruk menghapal nama. Makanya awalnya saya santai-santai saja, karena toh tahtanya di kakak saya.
Namun ketika kakak saya sempat menghabiskan beberapa tahun di luar negeri, saya merasa berkewajiban menghapal sanak saudara ini. Terlebih pada saat itu, Nyak Uwa saya (kakak papa saya) meninggal dunia. Dan pada saat itu saya melihat betapa pentingnya mengenal saudara. Nyak Uwa saya ini orang kaya hanya cobaan hidupnya luar biasa sehingga ketika dia meninggal dunia, anak-anaknya nyaris tidak tahu harus mengumumkan pada siapa saja. Sedangkan kalau di keluarga mama, pesan kematian itu bisa otomatis tersebar karena ada sistem yang dipatuhi. Toh, walau akhirnya papa dan kami anak-anaknya yang membantu saat persemayaman hingga tujuh hari tahlilan yang sempat menyedot seribu orang di rumah Nyak Uwa saya, rupanya banyak pula saudara atau kenalan yang pernah dibantu justru tidak tahu kabar meninggalnya Nyak Uwa saya. Padahal rumah mereka tidak jauh. Ironis.
Oleh karena itu, ketika kakak saya pergi, saya menikmati berkenalan dengan saudara terlebih para anggota saudara baru alias para menantu. Senang menghadiri perkawinan dan menyapa satu saudara ke saudara yang lain Yah, ceritanya mau menggaet calon pemilih baru. Halah.
Namun, sejak menikah ada yang berubah. Mama tak pernah lagi mengajak saya ke pesta pernikahan. Saya tahu siy alasannya, saya tak diundang. Ini aturan yang mama patuhi sejak di Belanda. Orang Belanda kala memberi undangan, nama yang tercantum adalah yang diundang. Tidak tercantum, ya tidak diundang. Anak sekalipun. Penganannya dibuat pas sesuai jumlah tamu. Naah kenapa sekarang berbeda? Sekarang walau di undangan tertulis Bpk. Teuku Rusli & kel., saya tidak termasuk di dalamnya. Saya sejatinya mendapat undangan khusus yang tertulis, Bpk. hery Kuswahyo & kel. Itu menurut definisi mama saya, walaupun anak dan menantunya ini tinggal satu rumah dengannya, tapi secara harkat beda rumah. Nah, siapa juga yang bakal kasih undangan seperti itu selain teman sendiri? I mean, terlebih jika tinggal serumah dengan orangtua dan nama yang tercantum kudu nama suami yang notabene adalah menantu tidak populer, belum lagi jika ternyata si punya hajatan adalah saudara jauuuuh. Agak sulit kayanya berharap dapat undangan bertuliskan nama kita. Perlu sosialisasi.
Akhirnya saya hanya bisa mesem-mesem saja di depan pagar ketika mengantar mama saya menaiki mobil adiknya yang kebetulan disopiri sepupu saya. Mereka biasanya kompak bertanya, "Kok, ga ikut?"
Saya jawab apa adanya, "Ga diajak." Dan kening mereka pun berkerut aneh.
Urusan diajak atau ga juga sering subjektif. Saya pernah kena cemberut para Etek-Etek karena dianggap telah memperkeruh suasana. Jadi ceritanya ada acara buka puasa bersama di antara adik-adik mama. Nah sebagai generasi kedua, biasa dong saya konfirmasi kedatangan para sepupu saya, biar tahu mau ngerumpi apa. Eh rupanya, salah satu adik (menantu sebenarnya, karena suaminya sudah meninggal) ga diundang. Alasannya (baru belakangan tahu), ga enak karena mereka lagi suasana berduka atau lagi repot-ini menurut yang ngundang. Lha, meneketehe. Lagian, si sepupu yang ga diundang ini sejauh percakapan saya baik-baik saja hingga tidak perlu tidak diundang. Ya suds, relakan saja saya ditunjuk-tunjuk.
Lalu pernah ada juga, lagi-lagi acara bukber. Kali ini seorang Mak Datuk yang ajak. Aturannya sudah betul, telepon mama dan kemudian menitipkan satu kalimat, anak dan cucu diajak yaa.... Tapi karena mama menganggap saya akan kerepotan mengurus dua anak dan tidak akan fokus ibadah, maka saya tidak diberitahu. Hasilnya? Saya kena semprot sama para sepupu saya yang datang walau membawa anak. Lagian, kalau acara bukber gitu biasanya memang ga tarawih kok kitanya. Ibu-ibu mah tarawih sendiri di rumah jelang siapin sahur =P. Capek deeeh.
Lain ceritanya ketika abang tertua saya masih di Jakarta, mama selalu menelepon abang saya yang tinggal di Ciledug itu untuk menemaninya ke pesta pernikahan. Coba ya, Ciledug-Tebet.
Awalnya saya suka sewot sendiri. Oh, karena abang punya mobil, saya tidak. Oh, karena itu alasan mama biar bisa ketemu anak laki-lakinya. Stuff like that, sampai akhirnya saya memutuskan kesimpulan yang tidak terlalu berbau iri dengki =P Bahwa mama perlu status. Oleh karena mama mematuhi sistem undang-undangan itu, maka ketika mama mengajak abang tertua saya, dia menyelipkan status 'pengantar' pada dirinya (dan istrinya). Jadi bukan tamu tambahan. Ga ilegal karena mama papa saya sudah usia lansia dan tidak punya kendaraan pribadi.
Bagaimana dengan abang kedua saya? Yang masih lajang dan tinggal serumah? Dia juga diajak, sedangkan saya tidak, walau nebeng mobil tante. Well, pembelaan mama supaya abang saya yang waktu itu sempat lama freelance di rumah bisa bertemu kesempatan karier lain (jodoh mungkin, ya namanya juga ibu2). Oleh karena merasa telah menambah tamu ilegal, beliau menempatkan diri sebagai tamu legal yang tidak banyak makan. Karena intinya itu, jangan sampai tamu ilegal mengambil jatah tamu legal.
Lalu kenapa kakak saya tidak diajak? Toh, dia juga punya mobil. Well, karena (mungkin) bukan benar-benar punya kakak saya hehehe .... Lagian sungkan sama menantu, minta dianter-anter.
Lalu saya, ga punya mobil, bawa dua anak, lengkaplah keilegalan saya hehehe ....
Ya suds, anggaplah begitu skenarionya. Saya terima. Hingga kemudian saya dengar dari kakak saya (yup, bukan dari mama) bahwa sepupunya sepupu saya menikah. Secara hubungan darah sudah berseberangan karena antarmenantu, tetapi masih orang minang. Dan anaknya ini nyaris sebaya dan sering diajak serta dalam acara keluarga kami. Jadi ketika saya dengar dia menikah, bukannya ge er, tapi saya yakin suatu hari akan bertemu dengan percakapan, "Kok, uni ga dateng sih?" Sedangkan saya sudah malas menjawab, 'ga diajak' atau ngibul-ngibul yang lain. Akhirnya berkat investigasi kakak saya ke mama, saya tahu lokasi pernikahannya. Dan saya pun berangkat. Dan di sana, saya selamat dari pertanyaan yang di atas tapi kemudian kena pertanyaan lain dari mama, "Emangnya kamu diundang?" Haiyah. Biarlah Allah yang memaafkan dosa-dosaku U_U Pokoke saya ga maruk, ga bohong, ga lepas silaturahmi.
Langganan:
Postingan (Atom)

