Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Oktober 2015

KAMYStory: Have Fun di Wedding Photo Booth

Pergi ke pernikahan zaman sekarang harus sadar bakal ada photo booth kayanya. Persentase pernikahan yang saya hadiri dan menggunakan photo booth itu nyaris 100% loh, jadilah saya agak sok ribet nambahin alasan photo booth saat sedang memandangi lemari hendak mengenakan baju apa. Lagipula saya ingin foto yang tercetak itu tidak kaya foto abang-abang keliling yang kemudian teronggok ga jelas setelah dibeli karena pose kita ga uhuy. Pada akhirnya, kita sendirilah yang menikmati foto itu kan?

Ini ada sedikit kiat ala-ala saya have fun di wedding photo booth.

1. mix n match ga ada matinya
Kalau dulu, beda audience boleh pakai baju yang sama. Toh, ga bakal ketahuan kan. Nah, sedangkan di wedding photo booth ya ketahuan amat bajunya itu lagi itu lagi. Ketahuan sama diri sendiri siy, tapi ya jadi males lihatnya. Tapi ... masa harus beli baju baru terus siy? Eit, dari zaman baheula yang namanya mix n match ga pernah ada matinya. buat yang berjilbab kaya saya, perubahan itu bisa dilakukan dari pemilihan jilbab dan modelnya. Aslik, bisa lama di cermin cuma demi terlihat berbeda, foto yang berbeda. Kenapa jilbab atau atasan? Karena kalau yang diubah sepatunya ya ga kelihatan di foto, neng ...


2. ekspresinya mannaa ...
Ekspresi itu penting, bung. Or at least use the properties... memang ga semua photo booth menyediakan properti tambahan, But when it does, have fun with it. Buat gaya-gaya seru dengan kawan-kawan atau dengan keluarga. Yah, mungkin rada ga cucok kalau bawanya orang-orang tua zaman dulu hehehe ... (ini foto mama papaku banget hihihiy). Jadikan setiap foto adalah cerita yang berbeda.


3. duduk atau berdiri
Kayanya lebih enak berdiri, deh. Itu kalau saya. Soalnya saya punya bemper besar, jadi kalau difoto langsung dari depan gitu ga enak lihatnya. Kan kita ga bisa request mau dijepret dari arah mana. Apalagi kalau bawa anak, posisi duduk itu agak mati gaya. Mungkin bisa kombinasi kali ya, Ah, aku belum coba tuh ...


4. foto di awal acara
Buat saya yang bawa anak-anak lebih prefer foto di awal acara. Dengan catatan anak-anaknya ga habis ketiduran di taksi. Ntar yang ada muka-muka bete, menerawang ga jelas lagi. Foto di awal acara juga ceritanya menyelamatkan dandanan yang masih rapi. Kalau sudah ketemu makanan dan lain sebagainya, saya yang clumsy plus anak-anak biasanya dah ga karu-karuan deh visi misi berpakaiannya (kesannya parah banget gue hehehe). Ini juga cocok untuk orang-orang tua. Kalau di akhir acara ya kasihan lah ya ... udah malam, ngantuk, masih harus ngantri.

Yang seru itu kalau di akhir acara adalah bareng kawan-kawan. Biasanya kalau sama kawan, makin malam makin gokil. Never try it before, nyari temen mana lagi yang mau merit yaaa ....


5. dipajang atau di album?
Eaa album foto ... rasanya zaman dahulu banget ya. Saya sih kepikiran bikin semacam wall of fame untuk hasil photo booth di pernikahan selama satu tahun. Cuma belum sempat aja #alasan. Karena kebanyakan kan sudah ada frame yang bagus walau dari karton. Tapi foto kaya gitu kan mudah pudar, jadi kalau mau lebih awet ya masuk album.


But the again, it's all about having fun at someone you care's wedding, jadi ga usah dibawa serius amat. Kecuali kaya saya, miskin foto keluarga. Susah mau foto bareng. Ga punya tongsis, tripod rusak, jadi deeh selalu kehilangan satu member anggota keluarga di foto hihihiy.... Selamat pergi ke kondangan ^^

Minggu, 24 Agustus 2014

HOTEL REVIEW: NEW METRO HOTEL SEMARANG

Kalau dipikir-pikir enak juga ya punya saudara atau teman yang asli daerah tertentu. Jika sedang ada rezekinya bisa jadi alasan untuk keluar kota bareng keluarga. Kali ini, tujuan pernikahan di Semarang. Ini kali kedua datang ke Semarang untuk alasan pernikahan. Dan sudah tiga kali saya ke Semarang, hanya saja baru kali ini saya menginap di hotel.

Suami yang carikan. Urusan hotel memang saya serahkan padanya. Urusan saya adalah apa yang harus dibawa selama beberapa hari di Semarang. Mana yang lebih ribet? Ah, ga usah dihitung hehehe.



Metro Hotel Semarang terletak di Jl. Haji Agus Salim 2-4 Semarang 500139. Secara posisi, hotel ini berada di persimpangan. Di depannya ada pasar Johar dan tidak jauh dari situ ada Masjid Agung Semarang (beda loh ya dengan Masjid Agung Provinsi). Alasan suami memilih di situ adalah walau letaknya sebenarnya ujung ke ujung dari lokasi pernikahan yang berada di daerah Sumurboto atau biasa disebut bagian atas atau Selatan Semarang, tetapi kami akan pulang menggunakan kereta pada minggu pagi. Nah, karena pagi-pagi banget, ga mau lah kita ketinggalan kereta macam di Bandung tempo hari. Maklumlah bawa bocah-bocah. Nah, hotel ini tidak jauh dari Stasiun Tawang, pakai becak pun bisa. Sebenarnya ada sih hotel di seberang stasiun Tawang, tapi daerah di depannya suka banjir rob dan akses ke tempat wisatanya ga semudah di Metro Hotel.

Metro Hotel adalah salah satu hotel tertua di Semarang, jadi maklum gedungnya jadul. Beda jauh dengan banyak sekali hotel baru di Semarang yang dari desainnya sangat modern. Lampu luarnya dominan kuning, temboknya coklat, jadi yah sephia gitu deh. Interior lobinya lebih banyak menggunakan pendekatan Tionghoa ketimbang Belanda. Namanya juga Semarang.

Kami mendapat kamar superior karena diketahui membawa dua anak. Harganya Rp398000,- per malam (sudah termasuk tax kayanya). Begitu kami masuk ke kamar 2224 itu, saya cukup terkesan. Yah, walau katanya hotel tua tapi baunya ga tua. Bahkan ketika saya leyeh-leyeh di karpetnya pada dini hari sambil nge-net, ga tercium sedikit pun bau apek.

Lagi-lagi kami mendapat kamar hotel yang ukurannya lebih besar dari unit kami di Kalibata (itu mah tempat saya aja yang kekecilan). Ada satu tempat tidur ukuran gede banget. Dan sebuah sofabed. Tadinya suami akan tidur di sofa, tapi karena kasurnya pun lebar, kita berempat muat loh tidur di situ dan masih terasa lega. Beda ya bo, sama di rumah. Aih noraklah saya.
Kamar mandinya cukup praktis alias sempit. Pas bathtub, kloset dan wastafel. Emang dicari hotel yang ada bathtubnya, buat hiburan anak-anak.

Yang saya suka dari hotel lama adalah, AC nya ga kelihatan. Jadi saya ga perlu lihat boks AC karena mereka menggunakan AC tanam. Awalnya malah bingung bagaimana mengatur suhunya karena dingin banget. Ternyata dipasang di suhu 5 derajat Celcius, eh bujug. Ketika sudah dinaikkan ke 25 derajat Celcius pun saya kedinginan pada dini hari. Ya suds, saya matikan saja. Dan dinginnya masih mengendap hingga siang.

Penempatan lampunya juga efisien. Jadi yah ga model minimalis modern yang bentar-bentar pasang lampu kecil. Maklum, agak bete kalau terlalu kekuning-kuningan. Yang rada ga sepakat sih channel tivinya. Pakai kabel tv sih, tapi sedikit. Disney pun tak ada. Starworld apalagi. Adanya channel dewasa seperti HBO dan FOX. Nah yang ini masih mending di rumah deh walau remotenya lagi rusak hehehe ....

Sayangnya, karena mendapat kamar di lantai dua, view dari jendela yang lebar itu ga cantik. Terlalu dekat dengan kanopi hotel. Sehingga pandangan kami setara dengan tinggi kabel-kabel listrik yang melintang di jalan. Padahal kalau dari sisi, ini sisi yang tepat untuk melihat matahari tenggelam.

Secara umum menyenangkan lah. Hanya sempat kejadian salah informasi, dikiranya kami hanya menginap semalam, jadilah kami tidak bisa mengakses kartu kamar usai pulang jalan-jalan. Saya sendiri tidak sempat mengeksplor bagian lain dari hotel ini karena mengambil paket nonbreakfast.

Tempat ini rupanya juga dijadikan tempat acara wisuda. Mungkin ruang serba gunanya cukup luas untuk itu.

Oh iya, ada satu kejutan. Saat check out, kami ga jadi naik becak karena hotel memberikan pelayanan antar ke stasiun. Gratis. Aih, terima kasih.

Bolehlah balik lagi ke sini ^^

Senin, 17 Maret 2014

Undangan, antara Mengundang dan Diundang

Kata orang, orangtua dan anak yang memiliki karakter serupa biasanya sering terlibat perdebatan. Saya dan mama saya contohnya. Dan salah satu topik yang saya gemas untuk berdebat dengannya adalah soal undangan.

Oleh karena sistem matriarkat di Minang, mama saya menjadi semacam orang yang dituakan secara adat. Bako istilahnya. Fungsi bako ini seperti ibu kedua dala keluarga. Ibu suri kali ya.  

Dan karena aturan matriarkat ini pula, tahta mama diturunkan pada kakak saya. Saya, di baris kedua. Toh, kata mama juga seharusnya memiliki kapasitas yang sama dengan kakak saya. Ini terkait dengan perbendaharaan nama saudara. Anaknya si anu, anak istrinya si anu, anak pamannya dari istri yang anu ... Budaya keluarga besar dan beristri banyak plus menikah antartetangga juga antarsaudara ini memang bikin bingung. Apalagi aturannya berbeda karena yang utama dilihat dari garis ibu. Belum lagi, saya buruk menghapal nama. Makanya awalnya saya santai-santai saja, karena toh tahtanya di kakak saya.

Namun ketika kakak saya sempat menghabiskan beberapa tahun di luar negeri, saya merasa berkewajiban menghapal sanak saudara ini. Terlebih pada saat itu, Nyak Uwa saya (kakak papa saya) meninggal dunia. Dan pada saat itu saya melihat betapa pentingnya mengenal saudara. Nyak Uwa saya ini orang kaya hanya cobaan hidupnya luar biasa sehingga ketika dia meninggal dunia, anak-anaknya nyaris tidak tahu harus mengumumkan pada siapa saja. Sedangkan kalau di keluarga mama, pesan kematian itu bisa otomatis tersebar karena ada sistem yang dipatuhi. Toh, walau akhirnya papa dan kami anak-anaknya yang membantu saat persemayaman hingga tujuh hari tahlilan yang sempat menyedot seribu orang di rumah Nyak Uwa saya, rupanya banyak pula saudara atau kenalan yang pernah dibantu justru tidak tahu kabar meninggalnya Nyak Uwa saya. Padahal rumah mereka tidak jauh. Ironis.

Oleh karena itu, ketika kakak saya pergi, saya menikmati berkenalan dengan saudara terlebih para anggota saudara baru alias para menantu. Senang menghadiri perkawinan dan menyapa satu saudara ke saudara yang lain Yah, ceritanya mau menggaet calon pemilih baru. Halah.

Namun, sejak menikah ada yang berubah. Mama tak pernah lagi mengajak saya ke pesta pernikahan. Saya tahu siy alasannya, saya tak diundang. Ini aturan yang mama patuhi sejak di Belanda. Orang Belanda kala memberi undangan, nama yang tercantum adalah yang diundang. Tidak tercantum, ya tidak diundang. Anak sekalipun. Penganannya dibuat pas sesuai jumlah tamu. Naah kenapa sekarang berbeda? Sekarang walau di undangan tertulis Bpk. Teuku Rusli & kel., saya tidak termasuk di dalamnya. Saya sejatinya mendapat undangan khusus yang tertulis, Bpk. hery Kuswahyo & kel. Itu menurut definisi mama saya, walaupun anak dan menantunya ini tinggal satu rumah dengannya, tapi secara harkat beda rumah. Nah, siapa juga yang bakal kasih undangan seperti itu selain teman sendiri? I mean, terlebih jika tinggal serumah dengan orangtua dan nama yang tercantum kudu nama suami yang notabene adalah menantu tidak populer, belum lagi jika ternyata si punya hajatan adalah saudara jauuuuh. Agak sulit kayanya berharap dapat undangan bertuliskan nama kita. Perlu sosialisasi.

Akhirnya saya hanya bisa mesem-mesem saja di depan pagar ketika mengantar mama saya menaiki mobil adiknya yang kebetulan disopiri sepupu saya. Mereka biasanya kompak bertanya, "Kok, ga ikut?"

Saya jawab apa adanya, "Ga diajak." Dan kening mereka pun berkerut aneh.

Urusan diajak atau ga juga sering subjektif. Saya pernah kena cemberut para Etek-Etek karena dianggap telah memperkeruh suasana. Jadi ceritanya ada acara buka puasa bersama di antara adik-adik mama. Nah sebagai generasi kedua, biasa dong saya konfirmasi kedatangan para sepupu saya, biar tahu mau ngerumpi apa. Eh rupanya, salah satu adik (menantu sebenarnya, karena suaminya sudah meninggal) ga diundang. Alasannya (baru belakangan tahu), ga enak karena mereka lagi suasana berduka atau lagi repot-ini menurut yang ngundang. Lha, meneketehe. Lagian, si sepupu yang ga diundang ini sejauh percakapan saya baik-baik saja hingga tidak perlu tidak diundang. Ya suds, relakan saja saya ditunjuk-tunjuk.

Lalu pernah ada juga, lagi-lagi acara bukber. Kali ini seorang Mak Datuk yang ajak. Aturannya sudah betul, telepon mama dan kemudian menitipkan satu kalimat, anak dan cucu diajak yaa.... Tapi karena mama menganggap saya akan kerepotan mengurus dua anak dan tidak akan fokus ibadah, maka saya tidak diberitahu. Hasilnya? Saya kena semprot sama para sepupu saya yang datang walau membawa anak. Lagian, kalau acara bukber gitu biasanya memang ga tarawih kok kitanya. Ibu-ibu mah tarawih sendiri di rumah jelang siapin sahur =P. Capek deeeh.

Lain ceritanya ketika abang tertua saya masih di Jakarta, mama selalu menelepon abang saya yang tinggal di Ciledug itu untuk menemaninya ke pesta pernikahan. Coba ya, Ciledug-Tebet.

Awalnya saya suka sewot sendiri. Oh, karena abang punya mobil, saya tidak. Oh, karena itu alasan mama biar bisa ketemu anak laki-lakinya. Stuff like that, sampai akhirnya saya memutuskan kesimpulan yang tidak terlalu berbau iri dengki =P Bahwa mama perlu status. Oleh karena mama mematuhi sistem undang-undangan itu, maka ketika mama mengajak abang tertua saya, dia menyelipkan status 'pengantar' pada dirinya (dan istrinya). Jadi bukan tamu tambahan. Ga ilegal karena mama papa saya sudah usia lansia dan tidak punya kendaraan pribadi.

Bagaimana dengan abang kedua saya? Yang masih lajang dan tinggal serumah? Dia juga diajak, sedangkan saya tidak, walau nebeng mobil tante. Well, pembelaan mama supaya abang saya yang waktu itu sempat lama freelance di rumah bisa bertemu kesempatan karier lain (jodoh mungkin, ya namanya juga ibu2). Oleh karena merasa telah menambah tamu ilegal, beliau menempatkan diri sebagai tamu legal yang tidak banyak makan. Karena intinya itu, jangan sampai tamu ilegal mengambil jatah  tamu legal.

Lalu kenapa kakak saya tidak diajak? Toh, dia juga punya mobil. Well, karena (mungkin) bukan benar-benar punya kakak saya hehehe .... Lagian sungkan sama menantu, minta dianter-anter.

Lalu saya, ga punya mobil, bawa dua anak, lengkaplah keilegalan saya hehehe ....

Ya suds, anggaplah begitu skenarionya. Saya terima. Hingga kemudian saya dengar dari kakak saya (yup, bukan dari mama) bahwa sepupunya sepupu saya menikah. Secara hubungan darah sudah berseberangan karena antarmenantu, tetapi masih orang minang. Dan anaknya ini nyaris sebaya dan sering diajak serta dalam acara keluarga kami. Jadi ketika saya dengar dia menikah, bukannya ge er, tapi saya yakin suatu hari akan bertemu dengan percakapan, "Kok, uni ga dateng sih?" Sedangkan saya sudah malas menjawab, 'ga diajak' atau ngibul-ngibul yang lain. Akhirnya berkat investigasi kakak saya ke mama, saya tahu lokasi pernikahannya. Dan saya pun berangkat. Dan di sana, saya selamat dari pertanyaan yang di atas tapi kemudian kena pertanyaan lain dari mama, "Emangnya kamu diundang?" Haiyah. Biarlah Allah yang memaafkan dosa-dosaku U_U Pokoke saya ga maruk, ga bohong, ga lepas silaturahmi.