Tampilkan postingan dengan label outdoor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label outdoor. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 Februari 2018
hoMYNGGU: Pilihan Olahraga (Saya) di Rumah
Sejak pertengahan tahun lalu, saya memutuskan untuk memasukkan jadwal olahraga ke rutinitas saya. Walau masih up and down moodnya, tapi posisinya semakin pasti dalam kegiatan saya. Karena saya ga mampu secara uang dan waktu untuk nge-gym di tempat gym di mal, maka saya gunakan berbagai support system yang murah meriah, baik itu outdoor maupun indoor. Banyak yang saya coba, secara saya bosenan juga, tapi akan efektif kalau konsisten dilakukan minimal 3 kali seminggu. Badan sudah mulai jompo, jadi harus banyak bergerak biar fit.
OUTDOOR
1. SENAM OTAK. Salah satu yang rutin saya lakukan adalah mengikuti senam warga setiap Sabtu jam 7-9 pagi. Dengan instruktur berusia 58 tahun dan sudah berpengalaman, ibu Iik memeragakan senam otak karena ada beberapa pelaku senam adalah ibu-ibu usia lansia. Berbeda dengan aerobik atau zumba, senam otak menggunakan hitungan 2-2 bukan 4-4, jadi kalau tidak fokus akan belibet kaki dan tangannya hehehe .... Apalagi kalau yang sempat lama ga senam, pasti keteteran napasnya, walau kalau dilihat gerakannya tidak heboh.
2. JALAN KELILING KALCIT. Kalau saya cukup dengan berjalan, beda dengan suami yang lebih memilih lari keliling kalcit. Dua keliling Kalcit bisa 30 menit berjalan, sedangkan kalau lari bisa dapat tiga keliling Kalcit. Biasanya saya pakai rute ini, kalau teman CFD saya di hari Minggu sedang berhalangan. Maklum, ibu-ibu cuma bisa keluar olahraga pas akhir pekan. Kalau hari sekolah kan jadi petugas persiapan anak-anak sekolah. ^^
*Sebenarnya kalau tinggal di bagian Green Palace bisa berenang juga, tapi karena saya tidak tinggal di bagian situ dan tidak bisa berenang juga, jadi yaaah ... begitulah. Sekarang, setiap Rabu di selasar taman Green Palace juga diadakan senam osteoporosis yang dimulai jam 10 pagi. Belum pernah coba juga sih. Walau belum usia lansia, kayanya ga ada salahnya ikut senam ini.
INDOOR
Olahraga indoor seringkali berarti olahraga di rumah. Waktunya mepet, cuma 30 menit, karena anak-anak kepo. Sedangkan kalau pas anak-anak sekolah, emak-emak cuma bisa olahraga di dapur.
1. SALSA. Ini senam loh, bukan maksudnya mau les tari salsa. Lagi-lagi ibu Iik sebagai instrukturnya dan memang ini spesialisasi beliau. Mulainya jam 4 sore sampai jam 5.30 di gym Green Palace setiap Selasa dan Kamis. Saya jadi harus nunggu barengan sih supaya bisa masuk ke sini. Hanya saja, karena barengan dengan jadwal ngaji anak-anak, yang sering terjadi adalah seusai senam saya tergopoh-gopoh ke masjid untuk menjemput sambil gendong yang bungsu, biar cepat. Nah, akibatnya, saya jadi suka flek darah. Makanya, saya belum ikutan lagi. Padahal ini juga sangat menguras keringat loh, baju bisa basah semua. Dan sangat bagus untuk pembentukan panggul ke bawah yang mulai berkibar-kibar. Saya pernah tanya ke Ibu Iik kenapa saya jadi flek, kata beliau ya sejatinya tidak ada yang boleh dilakukan secara terburu-buru. Mungkin juga karena rahim saya sudah turun, dipakai setengah berlari dan gendong-gendong, malah jadi tekanan di dalam perut saya. Jadi, ya sudah, saya senam di rumah saja.
2. YOUTUBE is MY PARTNER. Kalau di rumah tentu saja berteman dengan youtube offline ^^ ada beberapa channel yang saya suka.
a. AEROBIK dengan POPSUGAR. Channel ini mengusung aerobik yang ringan dan menyenangkan. Terkadang saya ikut senyum-senyum mendengar percakapan member popsugar-nya walau diulang-ulang. Nilai plus dari channel ini adalah, ia mencontohkan gerakan-gerakan sesuai level dan kemampuan. Jadi untuk satu gerakan, kalau ga bisa lompat bisa jalan di tempat, kalau ga bisa lurus kakinya, bisa ditekuk. Jadi ga terintimidasi banget kita lihatnya.
b. ZUMBA dengan VIJAYA TUPURANI & LIVELOVEPARTY. Kalau lagi ingin nge-zumba, saya biasanya pilih dua channel ini. Tapi untuk Vijaya Tupurani ini harus pilih yang edisi group ya, kalau Cuma dia sendiri gerakannya susah banget. Kebetulan saya juga suka nuansa India jadi fun saja bagi saya dan ada gerakan-gerakan bahu yang khas. Sebenarnya saya pernah coba juga senamnya Bipasha Basu, tapi walau simpel tapi saya terintimidasi sama keseksiannya >.< Udah juga pakai jeans hotpants, tank top crop, rambut digerai berkibar-kibar dikasih angin-angin. Beuuuh ...
Sedangkan LiveLoveParty ini lebih terasa nge-dance-nya, teruus saya pilihnya karena dia juga ada cover lagu BIGBANG hehehe .... Ribetnya nge-zumba via youtube adalah sebentar-sebentar harus pilih mau video yang mana. Biasanya saya cuma nge-zumba lima belas menit, habis itu ganti olahraga yang lain.
c. YOGA dengan BOHO BEAUTIFUL. Saya hanya mengikuti yang seri mudah-mudahnya saja. Seringnya yoga bermanfaat untuk bikin badan enak ketika terkena pegal-pegal usai olahraga. Cuma terkadang suka baper lihat body intrukturnya yang kuruuuus banget.
d. AEROBICS ala FIGUREROBICS. Ini yang lagi saya tekuni sekarang. Masih belum bisa setiap hari sih. Figurerobics menawarkan olahraga yang tidak membutuhkan banyak space. Penting ya buat kami yang tinggal di unit yang super ‘luas’ ini. Walau tidak memakan tempat banyak, tapi dalam 30 menit, keringat maksimal keluarnya. Instrukturnya orang Korea jadi sembari ngikutin hitungannya terkadang saya merasa tengah wajib militer hahahaha ...
Pertama kali ngikutin, kaki lemes. Selalu merasa ingin menyerah di menit ke-20, tapi belum pernah menyerah. Dua-tiga kali absen, kaki nyut-nyutan lagi. Figurerobics ini juga ada levelnya, tapi belum nyoba sih, wong yang level satu aja ga lulus-lulus kok ...
3. TABATA dengan Aplikasi
Saya pernah diberitahu sama tetangga soal workout di Youtube dengan tajuk Tabata. Ketika saya lihat, workout-nya mirip dengan aplikasi Leap Fitness Group, Tantangan Kebugaran 30 Hari-Latihan Rumahan. Minus musik saja. Aplikasi ini saya pakai buat variasi setelah ngezumba. Cuma butuh 15 menit sih, tapi isi workoutnya alamakjaaan. Memang ada level-levelnya dan bisa memilih mau workout perut, lengan, kaki, atau seluruh tubuh. Kata yang memberi komentar sih disarankan jangan mulai dari level pemula banget, biar nendang. Biasanya ada 10-15 gerakan dan diakhiri dengan plank. Nah, plank ini yang ga nahan. Semakin hari semakin lama soalnya. Walau selalu ada hari istirahat setiap hari ke-5, tapi kalau sudah istirahat, posisi plank itu jadi susah lagi dikerjakan. Ini masih tantangan sih buat saya, ga kelar-kelar 30 harinya ^^ padahal sudah beberapa bulan lalu itu aplikasi nongkrong di ponsel.
Nah, kekurangannya olahraga di rumah adalah, ada risiko menginjak mainan anak hahahaha ... Pernah juga walau saya sudah di kamar tapi karena anak-anak dengar musiknya mereka olahraga-olahraga sendiri di depan pintu kamar, sambil cekakak-cekikik lalu jerit-jeritan. Sungguh mengalihkan konsentrasi ^^’
Hasilnya? Hmmm .... katanya sih jangan olahraga untuk menurunkan berat badan, tapi supaya badan sehat. Hehehe ... Ngeles banget yak.
Sempat dua bulan pertama, berat badan saya malah naik, minimal stagnan. Kata kawan sih, itu artinya jadi otot. Cuma kan bikin drop juga ya. Mau ga mau, pola makan emang harus diubah. Alasan emak-emak sebagai penghabis sisa makanan anak harus dikurang-kurangin. Jadi biasanya saya masak tiga cup beras untuk satu hari. Sekarang saya hanya masak 1,5-2 cup sehari untuk seluruh anggota keluarga. Ga makan malam, tapi makan sore. Dari pagi sampai sore ya sesuka saya makannya. Nah, makan sore ini juga ada syarat. Syaratnya jam 9 malam dah tidur. Kalau begadang ya berasa lapar lah. Anyway, semoga ikhtiar sehatnya semakin konsisten. Biar semangat menjalani hidup heheheh ... doakaan.
Minggu, 24 Agustus 2014
VENUE REVIEW: Menghadiri Pernikahan di The Centrum, Bandung
Beberapa waktu lalu suami mendapat undangan pernikahan rekan
kantornya di Bandung. Ini sudah kesekian kalinya sih ke Bandung dalam rangka
menghadiri pernikahan teman suami, maklum dulunya kuliah di negeri kembang ini.
Namun, baru yang satu ini bisa ditulis reviewnya, hehehe baru sadar blog.
Seperti kebanyakan pernikahan di Bandung, mereka sering sekali mengadakannya di kafe
atau restoran atau yah di rumah sekalian, yah setidaknya teman-temannya suami
banyak memilih di situ. Tidak seperti kebanyakan pernikahan di Jakarta yang
menggunakan gedung-gedung khusus untuk itu. Mungkin juga karena terkait jumlah
tamu dan area parkir.
The Centrum ini terletak di Jl. Belitung no. 10 Jawa Barat.
Posisinya menghadap taman musik (kebetulan saat digelar, bersamaan dengan
peresmian taman ini) dan di samping Taman Lalu Lintas. Yang artinya kawasan ini
sebenarnya cukup sepi kalau malam, mungkin karena taman musiknya belum jadi
titik temu kali ya ...
Para penerima tamu seperti biasa ditempatkan setelah pintu
masuk, tetapi kami tidak serta merta dapat melihat pengantinnya karena ada
tembok. Khas kafe privat lah. Kami digiring melewati jalur kiri untuk bisa
melihat ada apa di balik tembok itu. Ternyata sebuah area terbuka dengan
kolom-kolom di tepian dan kolam di tengahnya. Pelaminan itu sendiri terletak di
antara kolam.
Saya terbayang, mungkin kolom-kolom itu sebenarnya sejenis
gazebo beton pada fungsi awalnya. Sedangkan hanya beberapa sofa yang akan
bercokol di bagian sekitar tepi kolam. Pikir saya, wah pe er nih jagain anak-anak.
Maklum, tepian kolam hanya dibatasi dengan tali tambang dua tingkat.
Dekorasi sih kayanya minimalis yang manis, tidak ada unsur
kedaerahan tertentu yang ditonjolkan. Buffet di gelar di seberang kolam,
sedangkan ada masing-masing 2 ‘gubuk’ di kolom kiri dan kanan. Suasananya agak
santai ya, karena para tamu jadi melepaskan sepatunya saat berkumpul di
kolom-kolom tersebut. Untunglah saya ga pakai songket, hehehe. Meuni rempong.
Kalau dilihat dari luas tempat ini sih kayanya ga cocok ya
untuk 500 undangan. Ngeri kesenggol ke kolam. Namun, rupanya saya melupakan
sisi lain, bagian atas. Bagian atas ini dicapai melalui tangga di dua sisi
setelah pintu masuk, jadi yah saya agak keluar lagi dari area pengantin baru
bisa naik. Mungkin si pengantin juga tidak menyebar 500 undangan karena bagian
atas ini praktis sepi. Bisa jadi karena tidak ada konter makanan di sini. Tapi
bagian atas ini terasa lapang karena setara dengan kolom-kolom di bawahnya,
tapi yah ga pakai kolom melainkan meja dan kursi biasa. Mungkin buat yang
merokok lebih leluasa secara lebih berangin dan lebih dekat melihat pesawat
berseliweran. Letaknya lebih dekat ke bandara kali ya, kok ya gede banget itu
pesawat bolak balik?
Anyway, kayanya memang tempatnya ga cocok buat yang tema
tradisional yang pakai penari, nanti orang berebut lihat, eh nyemplung
hehehe.... Dan saya sebenarnya agak terganggu dengan fakta pada buka sepatu
saat lesehan, kesannya gimana gitu. Mix n match konsepnya agak ga match
(halah). Bisa jadi karena sayanya saja yang tidak terbiasa. ^^
Langganan:
Postingan (Atom)


