Tampilkan postingan dengan label apartemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label apartemen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

hoMYNGGU: Pilihan Olahraga (Saya) di Rumah



Sejak pertengahan tahun lalu, saya memutuskan untuk memasukkan jadwal olahraga ke rutinitas saya. Walau masih up and down moodnya, tapi posisinya semakin pasti dalam kegiatan saya. Karena saya ga mampu secara uang dan waktu untuk nge-gym di tempat gym di mal, maka saya gunakan berbagai support system yang murah meriah, baik itu outdoor maupun indoor. Banyak yang saya coba, secara saya bosenan juga, tapi akan efektif kalau konsisten dilakukan minimal 3 kali seminggu. Badan sudah mulai jompo, jadi harus banyak bergerak biar fit.

OUTDOOR
1. SENAM OTAK. Salah satu yang rutin saya lakukan adalah mengikuti senam warga setiap Sabtu jam 7-9 pagi. Dengan instruktur berusia 58 tahun dan sudah berpengalaman, ibu Iik memeragakan senam otak karena ada beberapa pelaku senam adalah ibu-ibu usia lansia. Berbeda dengan aerobik atau zumba, senam otak menggunakan hitungan 2-2 bukan 4-4, jadi kalau tidak fokus akan belibet kaki dan tangannya hehehe ....  Apalagi kalau yang sempat lama ga senam, pasti keteteran napasnya, walau kalau dilihat gerakannya tidak heboh.

2. JALAN KELILING KALCIT. Kalau saya cukup dengan berjalan, beda dengan suami yang lebih memilih lari keliling kalcit. Dua keliling Kalcit bisa 30 menit berjalan, sedangkan kalau lari bisa dapat tiga keliling Kalcit. Biasanya saya pakai rute ini, kalau teman CFD saya di hari Minggu sedang berhalangan. Maklum, ibu-ibu cuma bisa keluar olahraga pas akhir pekan. Kalau hari sekolah kan jadi petugas persiapan anak-anak sekolah. ^^

*Sebenarnya kalau tinggal di bagian Green Palace bisa berenang juga, tapi karena saya tidak tinggal di bagian situ dan tidak bisa berenang juga, jadi yaaah ... begitulah.  Sekarang, setiap Rabu di selasar taman Green Palace juga diadakan senam osteoporosis yang dimulai jam 10 pagi. Belum pernah coba juga sih. Walau belum usia lansia, kayanya ga ada salahnya ikut senam ini.

INDOOR
Olahraga indoor seringkali berarti olahraga di rumah. Waktunya mepet, cuma 30 menit, karena anak-anak kepo. Sedangkan kalau pas anak-anak sekolah, emak-emak cuma bisa olahraga di dapur.

1. SALSA. Ini senam loh, bukan maksudnya mau les tari salsa. Lagi-lagi ibu Iik sebagai instrukturnya dan memang ini spesialisasi beliau. Mulainya jam 4 sore sampai jam 5.30 di gym Green Palace setiap Selasa dan Kamis. Saya jadi harus nunggu barengan sih supaya bisa masuk ke sini. Hanya saja, karena barengan dengan jadwal ngaji anak-anak, yang sering terjadi adalah seusai senam saya tergopoh-gopoh ke masjid untuk menjemput sambil gendong yang bungsu, biar cepat. Nah, akibatnya, saya jadi suka flek darah. Makanya, saya belum ikutan lagi. Padahal ini juga sangat menguras keringat loh, baju bisa basah semua. Dan sangat bagus untuk pembentukan panggul ke bawah yang mulai berkibar-kibar. Saya pernah tanya ke Ibu Iik kenapa saya jadi flek, kata beliau ya sejatinya tidak ada yang boleh dilakukan secara terburu-buru. Mungkin juga karena rahim saya sudah turun, dipakai setengah berlari dan gendong-gendong, malah jadi tekanan di dalam perut saya. Jadi, ya sudah, saya senam di rumah saja.


2. YOUTUBE is MY PARTNER. Kalau di rumah tentu saja berteman dengan youtube offline ^^ ada beberapa channel yang saya suka.

a. AEROBIK dengan POPSUGAR. Channel ini mengusung aerobik yang ringan dan menyenangkan. Terkadang saya ikut senyum-senyum mendengar percakapan member popsugar-nya walau diulang-ulang. Nilai plus dari channel ini adalah, ia mencontohkan gerakan-gerakan sesuai level dan kemampuan. Jadi untuk satu gerakan, kalau ga bisa lompat bisa jalan di tempat, kalau ga bisa lurus kakinya, bisa ditekuk.  Jadi ga terintimidasi banget kita lihatnya.

b. ZUMBA dengan VIJAYA TUPURANI & LIVELOVEPARTY. Kalau lagi ingin nge-zumba, saya biasanya pilih dua channel ini. Tapi untuk Vijaya Tupurani ini harus pilih yang edisi group ya, kalau Cuma dia sendiri gerakannya susah banget. Kebetulan saya juga suka nuansa India jadi fun saja bagi saya dan ada gerakan-gerakan bahu yang khas. Sebenarnya saya pernah coba juga senamnya Bipasha Basu, tapi walau simpel tapi saya terintimidasi sama keseksiannya >.< Udah juga pakai jeans hotpants, tank top crop, rambut digerai berkibar-kibar dikasih angin-angin. Beuuuh ...

Sedangkan LiveLoveParty ini lebih terasa nge-dance-nya, teruus saya pilihnya karena dia juga ada cover lagu BIGBANG hehehe .... Ribetnya nge-zumba via youtube adalah sebentar-sebentar harus pilih mau video yang mana. Biasanya saya cuma nge-zumba lima belas menit, habis itu ganti olahraga yang lain.

c. YOGA dengan BOHO BEAUTIFUL. Saya hanya mengikuti yang seri mudah-mudahnya saja. Seringnya yoga bermanfaat untuk bikin badan enak ketika terkena pegal-pegal usai olahraga. Cuma terkadang suka baper lihat body intrukturnya yang kuruuuus banget.

d. AEROBICS ala FIGUREROBICS. Ini yang lagi saya tekuni sekarang. Masih belum bisa setiap hari sih. Figurerobics menawarkan olahraga yang tidak membutuhkan banyak space. Penting ya buat kami yang tinggal di unit yang super ‘luas’ ini. Walau tidak memakan tempat banyak, tapi dalam 30 menit, keringat maksimal keluarnya. Instrukturnya orang Korea jadi sembari ngikutin hitungannya terkadang saya merasa tengah wajib militer hahahaha ...

 Pertama kali ngikutin, kaki lemes. Selalu merasa ingin menyerah di menit ke-20, tapi belum pernah menyerah. Dua-tiga kali absen, kaki nyut-nyutan lagi. Figurerobics ini juga ada levelnya, tapi belum nyoba sih, wong yang level satu aja ga lulus-lulus kok ...


3. TABATA dengan Aplikasi
Saya pernah diberitahu sama tetangga soal workout di Youtube dengan tajuk Tabata. Ketika saya lihat, workout-nya mirip dengan aplikasi Leap Fitness Group, Tantangan Kebugaran 30 Hari-Latihan Rumahan.  Minus musik saja. Aplikasi ini saya pakai buat variasi setelah ngezumba. Cuma butuh 15 menit sih, tapi isi workoutnya alamakjaaan. Memang ada level-levelnya dan bisa memilih mau workout perut, lengan, kaki, atau seluruh tubuh. Kata yang memberi komentar sih disarankan jangan mulai dari level pemula banget, biar nendang. Biasanya ada 10-15 gerakan dan diakhiri dengan plank. Nah, plank ini yang ga nahan. Semakin hari semakin lama soalnya. Walau selalu ada hari istirahat setiap hari ke-5, tapi kalau sudah istirahat, posisi plank itu jadi susah lagi dikerjakan. Ini masih tantangan sih buat saya, ga kelar-kelar 30 harinya ^^ padahal sudah beberapa bulan lalu itu aplikasi nongkrong di ponsel.

Nah, kekurangannya olahraga di rumah adalah, ada risiko menginjak mainan anak hahahaha ... Pernah juga walau saya sudah di kamar tapi karena anak-anak dengar musiknya mereka olahraga-olahraga sendiri di depan pintu kamar, sambil cekakak-cekikik lalu jerit-jeritan. Sungguh mengalihkan konsentrasi ^^’


Hasilnya? Hmmm .... katanya sih jangan olahraga untuk menurunkan berat badan, tapi supaya badan sehat. Hehehe ... Ngeles banget yak.

Sempat dua bulan pertama, berat badan saya malah naik, minimal stagnan. Kata kawan sih, itu artinya jadi otot. Cuma kan bikin drop juga ya. Mau ga mau, pola makan emang harus diubah. Alasan emak-emak sebagai penghabis sisa makanan anak harus dikurang-kurangin. Jadi biasanya saya masak tiga cup beras untuk satu hari. Sekarang saya hanya masak 1,5-2 cup sehari untuk seluruh anggota keluarga. Ga makan malam, tapi makan sore. Dari pagi sampai sore ya sesuka saya makannya. Nah, makan sore ini juga ada syarat. Syaratnya jam 9 malam dah tidur. Kalau begadang ya berasa lapar lah. Anyway, semoga ikhtiar sehatnya semakin konsisten. Biar semangat menjalani hidup heheheh ... doakaan.



Kamis, 27 April 2017

KAMYStory: Memelihara Binatang di Unit Apartemen




"Ami ... lihat niy" seru Safir saat baru keluar dari pintu kelasnya di Gen Cerdik. 
Saya melihat sebungkusan plastik bening dengan air ... Itu kaan ... 
"Aku dapat ikan." Safir menuntaskan kalimat di pikiran saya. 
Waduh, mau ditaruh di mana lagi nih ikan.

Ikan pertama yang didapat Safir

Rumah kami atau lebih tepatnya unit kami di Kalibata City memang sangat selektif memilih apa yang berhak menetap di dalamnya. Saking 'luasnya' kami memilih tidak memiliki sofa, rak terbuka, dan meja. Jadi ketika si anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara ini mengusung kantong ikan dengan hati gembira, saya gundah.

Bagi saya, memelihara binatang adalah sebuah komitmen. Seperti yang ditekankan ibu saya setiap kali mengingatkan anak-anaknya terkait keengganannya memelihara kucing yang senantiasa datang silih berganti ke rumah. "Kalau binatang itu mati karena kita lalai, kita berdosa."

Maka saya pun bergidik. Ikan bukanlah keahlian saya. Dan ikan, lebih mudah mati ketimbang kucing. Bagaimana kalau ikan itu mati?

Namun saya bergeming. Saya tempatkan ikan hasil 'tangkapan' Safir di toples bekas selai, dan terenyuh saat Safir tak henti-hentinya memandangi ikan itu. Dibawanya toples itu di samping kasurnya yang tanpa rangka agar bisa dipandangnya sebelum tidur.

Esok harinya saya belikan makanan ikan. Malamnya, ikan itu mati. Duka pertama untuk anak itu. 

Kenangan dan keinginan untuk memiliki ikan tak kunjung padam walau sudah berulangkali saya katakan bahwa kami tidak memiliki prasarana yang memadai untuk itu. 

"Tunggulah ... Nanti... kalau kita sudah punya rumah di tanah. Barulah kita pelihara binatang...."
Namun, entah karena tren atau apa, tanpa dibeli pun, Safir tetap saja mendapatkan kantung-kantung berisi ikan. Dan walau telah berganti-ganti wadah, ikan-ikan itu singkat saja usianya. 

Kemudian, hari itu datang. TK nya melakukan outbond dan Safir sudah melihat anak-anak dari TK lain menenteng ikan sebelum pulang. Rasa kasihan melanda saya,  dan memberinya izin membeli ikan cupang dengan anggapan, setidaknya daya tahan ikan itu lebih lama. Eh ternyata, menjelang naik bus, Safir diberi tanda mata ikan mas. Tiga ekor ikan sekaligus. Dan saya pun pusing. Apalagi si ikan mas ukurannya cukup besar. Saya lalu mengeluarkan satu-satunya toples kue kering.

Saya gelisah. Bagaimana caranya agar ikan-ikan dapat bertahan hidup? 

Kegelisahan saya baru sirna setelah dua hari. Ketika suami berkesempatan membawa anak laki-laki saya itu ke ACE Hardware. Berdua saja. Ah ya, terkadang saya lupa, ketika sedang galau soal aksesoris rumah, jawabannya hanya satu, datang saja ke ACE Hardware. Saya sering terkejut melihat alat yang saya pikir hanya dalam bayangan, ternyata sudah diciptakan. Seperti penyedia puzzle pelengkap di setiap gambar yang belum sempurna. Apalagi letaknya tak jauh dari Kalibata City, hanya satu kali angkot, 15 menit. Benar-benar helpful place bagi kami.

Salah satu hasil perburuan di ACE Hardware. 

Tak butuh waktu lama, kedua lelaki di rumah saya itu pun pulang membawa dua fish bowl dan alat pencipta gelembung dengan bangga. Memang si ikan mas tidak bertahan lama, karena sempat salah asuhan. Tetapi kemudian, kami segera membeli ikan pengganti dan bertahan hingga sekarang. Sudah hampir 4 bulan. Tiga ikan ini menjadi penghuni tambahan di rumah kami. Walau tak bisa dielus, walau tak diberi nama, semoga cukup nyaman ya 'rumahnya'. Apalagi ACE Hardware tengah bersiap membuka gerai di Kalibata City Square, so excited to wait till June 2017.



Minggu, 20 November 2016

CREATIVITY IN A SQUARE: Syi’ar dalam Sepetak Kanvas – Qonita Farah Dian


sumber foto: Instagram @Qonita_farah_dian


Waktu sudah mulai mendekati pukul 11 siang, seorang wanita yang tadinya tengah sibuk dengan tube-tube cat acrylicnya di sebuah gazebo di pinggir kolam renang di Green Palace, Kalibata City, merapikan kembali bercak-bercak idenya lalu bersegera meluncur menjemput putra semata wayangnya pulang sekolah.

Namanya Qonita Farah. Setelah menerima pertemanannya di Facebook, saya terkadang membiasakan diri memanggil dengan nama aslinya ketimbang panggilan sayang para mama di sekolah yang sering melibatkan nama anak. Sejatinya kami bertetangga di Kalibata City, tapi baru bersua saat kedua anak kami berada dalam satu kelas di TK yang sama. Tak lama, kami pun bergabung di sebuah komunitas yang sama di Kalibata City, Friday Fun Club. Dari kegiatan FFC lah, saya baru mengetahui bahwa ibu ini adalah seorang pelukis.

Pertama kali mengetahuinya, I was like what .... ? Namun kemudian saya ingat reaksi para tetangga ketika saya katakan menerima orderan kue. Reaksi yang wajar terbentuk karena betapa ‘luasnya’ unit kami. Tetap saja, saya lama ternganga. Melukis adalah pekerjaan yang secara fisik membutuhkan ruang dan waktu. Beda dengan kue, yah sehari dua hari lantai berminyak. Setelah uang diterima, beres pula dapurnya ^^. Apalagi jika dibandingkan dengan aktivitas saya sebagai blogger atau editor, hanya perlu laptop. Itupun harus tunggu anak3 tidur, biar aman. But to paint, really?

“Seringkali kita menjadikan banyak hal dalam hidup sebagai alasan. ‘Karena menikah, jadi terbatasi. Karena punya anak, jadi terbatasi. Karena ruang sempit, jadi terbatasi’. Semua batasan itu sebenarnya hanya kita buat sendiri, yang akhirnya hanya membuat kita berhenti (boro-boro jalan) di tempat. Ketika teman-teman kita sudah ke bulan, kita tidak ke mana-mana.”

Saya jarang bertemu dengan pelukis atau seniman betulan. Yang pernah saya temui hanya seorang seniman dari kampung mama saya bernama Itji. Konon termasuk salah satu pelukis terbaik yang pernah ada di Indonesia. Dandanannya nyentrik dengan jaket biru. Saya pikir (dan dengan melihat banyak film tentang seniman) itulah pencitraan seorang seniman. Makanya saya agak sulit menyandingkan kata ‘pelukis’ dengan seorang ibu rumah tangga berparas ayu dengan tutur kata lembut itu.

“Dulunya sih pernah arsitek.” Selorohnya di awal-awal perkenalan kami.
Terkadang saya tidak tahan untuk kepo terkait latar belakang pendidikan tetangga saya di Kalibata City. Ada yang berbeda dari mereka, walau statusnya sesama ibu rumah tangga dengan kegiatan mayoritasnya adalah antar jemput anak.

Lakonnya sebagai arsitek tak lama memang disandang Mba Farah. Dinas suami mengharuskan dirinya turut berpindah-pindah kantor. Dari Jakarta, Jogjakarta, Semarang, lalu kembali lagi ke Jakarta. Hingga kemudian, dia memutuskan tak lagi menjadi pegawai kantoran. Namun, menjadi ibu rumah tangga sedangkan buah hati belum kunjung tiba, terkadang menimbulkan sepi di hati, itulah yang kemudian mendorongnya melukis di atas kanvas. Rupanya, memang tidak ada hal yang muncul secara mendadak.

“Alhamdulillah saat duduk di bangku SD, pernah beberapa kali menjadi juara di lomba gambar. Hanya saja kegiatan ini berhenti sama sekali begitu masuk SMP hingga kemudian duduk di bangku kuliah menekuni ilmu arsitektur. Ada banyak bekal yang didapat dari kuliah, mulai dari komposisi bentuk dan permainan warna. Setelahnya saya banyak membaca buku-buku tentang teknik melukis dan beberapa biografi pelukis. Namun, kanvas baru benar-benar menjadi fokus melukis pada tahun 2007 ketika pindah ke Semarang.”

“Pada tahun 2010, di Jakarta, saya mendatangi sebuah pameran yang diselenggarakan IWPI (Ikatan Wanita Pelukis Indonesia). Di sana, saya sempat berbincang-bincang dengan salah seorang pendirinya. Merasa diterima dengan hangat, saya pun bergabung.”

keterangan: sharing melukis di kegiatan FFC


Kini, fokus lukisan Mba Farah adalah di kaligrafi kontemporer yang dapat dilihat di Instagramnya @qonita_farah_dian Kalau diperhatikan, latar sebagai arsitektur senantiasa terbawa dalam lukisannya, apalagi ketika saya mendapat kesempatan melihat lukisannya saat masih berbentuk sketsa. Dengan segala garis-garis lurus itu ^^. Dan ada penggaris tergeletak di dekatnya.

“Tantangan melukis di kanvas adalah teknisnya alih-alih tahapannya. Coba-coba menggunakan cat minyak dan acrylic. Tapi karena kemudian saya punya bayi dan tinggal di unit yang terbatas, penggunaan cat minyak saya rasa terlalu tajam baunya sehingga khawatir akan berbahaya bagi kesehatan. Akhinya saya memilih acrylic yang lebih aman.”

“Ada masa-masa saya sempat mencari jatidiri dalam melukis. Namun yang paling utama dibangun adalah kepercayaan diri dalam melukis. Keisengan mengikuti seleksi golden box yang diselenggarakan Jogja Gallery dan kemudian diterima, sungguh menjadi alat pacu yang sangat berguna dalam proses saya menjadi pelukis yang lebih percaya diri dan kemudian menghasilkan karya-karya yang lebih baik.”

“Awalnya memang tidak PD untuk menjual, tetapi ketika sedikit demi sedikit karya saya terpasang di dinding rumah saudara saya, kawan, atau kerabat, itu menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan. Sehingga saya semakin semangat, semakin yakin dalam menggeluti passion ini.”

Dari sekian banyak genre lukisan, kenapa kaligrafi? Bukankah pencitraannya agak pasaran? Pikiran saya melayang ke kios-kios penjual bingkai.  Apalagi dengan latar belakang pendidikan yang terdengar keren itu.

“Mungkin faktor usia juga yang membuat saya memilih kaligrafi. Dengan melukis kaligrafi saya turut terlibat dalam syiar Islam. Saya berharap hal ini diridhoi Allah dan lebih bermanfaat bagi orang banyak sekaligus menjadi energi positif bagi diri sendiri.”

“Justru karena sadar orangtua sudah menyekolahkan hingga S2, alangkah kasihan mereka jika ternyata saya tidak menjadi apa-apa dalam artian tidak bermanfaat untuk orang banyak. Dan alhamdulillah keluarga, terutama suami , sangat mendukung dan tidak bosan-bosannya memberikan motivasi pada saya agar bisa terus berkarya.”

 Dari unit yang berluas tidak lebih dari 35m3 ini, menurut Anda berapa yang dia hasilkan setiap bulannya?

“Tidak pasti. Pernah mengalami pesanan hingga 25 lukisan ukuran kecil/sedang. Pernah juga tidak ada pesanan dalam sebulan. Namun, kalau dirata-rata sekitar 1—4 lukisan setiap bulannya.”
Ruang boleh terbatas, tetapi ide tak akan bisa dibendung. Mimpi tak akan pernah surut. Jika kita membiarkannya.

“Ide-ide kreatif memang biasanya lebih nyaman ketika dalam keadaan sepi, tapi pengerjaannya bisa kapan saja. Di depan TV bisa, di atas kasur pun oke.”

“Suatu hari nanti, ingin sekali bisa  pameran tunggal di dalam dan di luar negeri. Punya galeri yang bisa menghidupi banyak orang. Juga bermanfaat untuk lebih banyak orang lagi. Ini mimpi atau khayalan ya? Entahlah hihihi ...”

Kata orang life begin at 40. Wawancara ini dilakukan pada Juli 2016 lalu, dan hari Minggu ini, di bulan November 2016, beliau akan berangkat ke Aljazair untuk pameran. Semoga semakin banyak dinding yang ‘bertasbih’ karenamu.
Doa terbaik untukmu, tetanggaku ....


Minggu, 08 Februari 2015

hoMYNGGU: Anak dan Lift


Tinggal di hunian vertikal, mau tidak mau harus menyadari bahwa ada tata cara yang berbeda dari hunian horizontal. Lebih terasa sih ketika harus berurusan dengan anak-anak. Membesarkan anak-anak dengan tetangga tidak hanya di kiri dan kanan, depan dan belakang tetapi juga atas dan bawah tentu bukan hal mudah. Tapi itu nanti saya bahasnya. Sekarang saya ingin membahas tentang sesuatu yang menjadi komoditas utama kami, lift.


Lift sudah menjadi keseharian kami, itulah gerbang utama kami. Biasanya dilengkapi dengan kartu akses. Membuat anak berteman dengan lift itu ada caranya dan seringkali baru ketahuan do’s and dont’s nya ketika sudah kejadian.

  1. TIDAK MELOMPAT Ini adalah seni mengajarkan anak tenang di dalam lift. Kalau sendiri, masih mending. Kalau sudah ada kakak or adiknya ini yang rumit. Mereka masih menganggap lift itu kotak ajaib yang bisa mengantar ke mana sja. (emangnya pintu ajaib Doraemon). Wajar sih mereka norak, tapi jangan kelamaan.
  2. JANGAN BERKELIARAN. Anak-anak cenderung tak bisa diam. Kalau lift kosong ya tidak masalah. Tapi kalau penuh, anak-anak suka hilang fokus dan malah keluar di lantai yang salah, sedangkan orangtua dengan anak biasanya mengambil posisi paling belakang. Akhirnya, ga kejangkau deh.
  3. TERJEPIT. Anak terjepit pintu lift? Jangan panik. Jika terjepit di antara dua pintu, segera pencet tombol buka. Jika terjepit di salah satu pintu, segera pencet tombol tutup.
  4. TERBAWA. Nah loh, anak masuk duluan, orang tuanya belum. Tindakan awal adalah segera pencet tombol buka. Namun, hal ini bisa gagal jika ada beberapa lift. Memang yang lebih heroik bin berisiko adalah menahan dengan tubuh orangtua sendiri. Toh, jika tidak memungkinkan, berdoa, dan lihat liftnya berhenti di lantai berapa saja. Kalau anaknya sendirian di lift tersebut, penting untuk tahu di lantai mana saja dia kemungkinan keluar dari lift. Namun, tak jarang Tuhan berbaik hati, anak itu kembali turun lewat lift dengan selamat sentosa. Karena biasanya CCTV tidak selalu standby di pos satpam terdekat.
  5. BAWA STROLLER. Bawa stroller ini agak-agak rumit. Kalau masuk duluan, tentunya posisinya harus paling belakang. Saat keluar, bersyukurlah jika ada orang baik yang menahan pintu—terlebih jika Anda sendiri ya. Namun, jika tidak ada, ya sudahlah ... Jika Anda berhenti di lantai paling bawah di mana semua orang turun, ya itu artinya Anda harus bersiap memencet tombol HOLD. Perlu diingat saat memencet, tangan yang satu lagi harus tetap memegang stroller dalam posisi siap. Ini perlu ketrampilan. Anggap saja Fast & Furios edisi stroller. Namun jika Anda turun di lantai tertentu dan banyak orang di lift tersebut, buatlah ingsutan sedikit demi sedikit mendekati lift. Jika tidak mungkin, maka ketika Anda harus keluar, banyak-banyak bilang ‘maaf’ dan ‘permisi’. Maklum, banyak orang yang kurang peka. Oh iya posisi stroller saat masuk harus menghadap pintu ya, itu artinya jika penuh maka si pemegang stroller harus berjalan mundur. Orang lebih berharap kita cepat keluar ketimbang sebaliknya. Again, banyak orang yang kurang peka.
  6. PEKA. Ini sebenarnya berlaku untuk orang dewasa tapi kayanya kesopanan ini harus diajarkan sejak kecil. Salah satu yang sering terlihat adalah jangan main gadget di lift. Bermain gagdet di lift akan menghalangi anak Anda untuk belajar soal kewaspadaan dan kepedulian di lift.
  7. ORANGTUA MASUK DULUAN. Kalau perlu jadi orang pertama di lift yang masuk dan menahan tombol HOLD dari dalam lift.
  8. HINDARI LIFT DENGAN ANTRIAN BANYAK. Ini untuk memudahkan poin di atas. Turut mengantri untuk masuk—walau muat, lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Lebih baik tunggu hingga mendapat giliran lift yang lebih sepi antrian masuknya.
     
    Apa sudah semua, ya? Hehehe .... mungkin ada yang mau menambahkan. Nantikan tulisan selanjutnya tentang adab di lift. (Udah kaya buku agama aja).

Minggu, 01 Februari 2015

hoMYNGGU: Ketika Apartemen Mati Lampu



Duduk di lorong menjelang subuh dan mengetik. Itulah saya. Ngapain? Habis mati lampu mendadak dini hari tadi. Saya terbangun sudah ada lilin yang nyaris habis apinya dan pintu balkon sudah dibuka. Daaan mumpung anak-anak belum terbangun karena kepanasan, saya ke lorong. Di lorong lampu menyala dan di seberang pintu unit saya ada saklar. Mayan buat ngecharge laptop yang sudah bocor baterainya ini.


Jika ada yang pernah ke Kalibata City mungkin tahu betapa ‘besarnya’ unit kami. Belum lagi atap yang rendah. Jadi kebayang kan kalau mati lampu? Kondisi ini mungkin tidak berlaku bagi tower-tower apartermen ‘betulan’ di Green Palace. Biasanya dari dua sekring, hanya satu yang mati. Jadi masih bisa menyalakan AC.


Mati lampu di Kalibata City itu terjadi paling tidak setahun sekali di malam hari. Saat jelang hari Pahlawan atau Kesaktian Pancasila deh kalau tidak salah, saya lupa. Biasanya ada protokol dari kepresidenan untuk mematikan semua sumber cahaya dari jam 11-01 dini hari. Kenapa? Ya, karena saya tinggal di samping komplek Taman Makam Pahlawan Kalibata (komplek orang hidup berdampingan dengan orang meninggal), jadi pada salah satu hari yang saya sebut tadi biasanya ada upacara penghormatan yang dilakukan tengah malam.


Pernah pada suatu tengah malam itu, ada banyak protes dari penghuni. Kebanyakan menggunakan alasan anak, entah jadi rewel kalau bayi, atau ada yang langsung kambuh asmanya. Saya no comment deh, setiap orang kan punya definisi nyaman sendiri. Toh, saya punya cara sendiri mengatasinya, ya karena pernah ngalamin yang repot gitu pas mati lampu.

  1. Kebanyakan mati lampu sudah diberitahu sebelumnya. Jika mati lampu diadakan tengah malam, biasanya saya mendinginkan unit lebih awal dari biasanya. Jadi ketika mati lampu, sisa dinginnya AC masih bisa bertahan hingga paling lama dua jam, setelah itu baru dibuka jendela. Waktu itu, anak-anak masih tidur di ruang utama, jadi akses jendela ya langsung. Nah, kalau sekarang? Hmmm belum bangun sih anaknya.
  2. Kalau terlampau gelap, saya buka gorden sedikit agar mendapat cahaya lampu taman. 
  3. Jika terjadinya siang hari dan sudah diberitahu sebelumnya, saya prefer menghapus jadwal tidur siang anak-anak dan mengungsi main di taman bawah lalu ngadem di mal. Tapi ya mal biasanya juga ga adem-adem amat.
  4. Nah, agak repot ketika mati lampu pas anak-anak tidur siang. Tidurnya jadi sebentar. Selalu lupa mau beli kipas angin baterai.
  5. Kalau jadwal pematian listriknya kayanya bakal lama, ya sudah, ngungsi ke Tebet. Hahaha ....


Yah, saya belajar ga parno kalau AC ga nyala. Yang penting ga ada nyamuk. Repotnya mati lampu kan itu, ketemu nyamuk. Jadi yah alhamdulillah dapat yang lantai 10 hihihiy.... Keringat-keringat sedikit, ga papa lah ....  

Minggu, 18 Januari 2015

HOMYnggu: Mencoba Jasa Housekeeping



Di Kalibata City selain laundry, service AC, dan air juga gas, yang pasti digunakan setidaknya salah satunya oleh penghuni, penyedia jasa lainnya yang eksis adalah housekeeping. Sudah lama saya penasaran dengan apa yang bisa diberikan oleh jasa housekeeping. Housekeeping itu sendiri adalah jasa bersih-bersih rumah. Banyak digunakan bagi para pemberi sewa unit yang ingin mendandani unitnya sebelum ditunjukkan pada calon penyewa atau ketika si penyewa baru saja pergi.

 

Rasa penasaran akan housekeeping ini meningkat ketika trimester pertama saya. Rumah berantakan from top to bottom adalah alasannya, hanya saja saya ragu, housekeeping itu termasuk cuci piring n nyetrika ga ya?

 

Akhirnya kesampaian juga panggil housekeeping. Pasalnya, dalam rangka atur kamar anak-anak, kami pasang exhaust. Nah, bagian belakang exhaust itu persis di atas lemari pakaian yang nyaris kena langit-langit. Ceritanya mau sekalian bersihkan debu-debu yang ngendon di atas lemari sejak bertahun-tahun lalu itu. Maklum, kami tidak punya tangga. Mau ditaruh di mana juga.

 

Datanglah dua pekerja housekeeping itu sesuai dengan jadwal yang dijanjikan. Beda kali ya dengan housekeeping Amerika, yang pekerjanya malah mayoritas perempuan. Biasanya orang latin. Sedangkan di Indonesia malah cowo-cowok,

 

Hasil kerjanya? Hmm ... saya jadi teringat dengan salah satu pegawai hotel saat ke Malaysia. Rupanya dia lulusan SMK di daerah dekat rumahku di Tebet. Jurusan perhotelan. Nah si om housekeeping ini kayanya bukan jurusan perhotelan dan belum mendapat brief lengkap soal jobdesk housekeeping. Akhirnya hasilnya lebih mirip ketika kami meminta seseorang merapikan kamar horel. I must say, lebih rapi yang kerja di horel.

 

Okelah ternyata dua orang itu available untuk cuci piring dan cuci balkon. Balkon kami kecil dan ada mesin cucinya, jadi endapan mesin cuci suka menimbulkan lumut hanya saja rada rumit membersihkannya.  Selain membersihkan debu di atas lemari dengan penyedot debu, mereka juga menyikat kamar mandi, merapikan tempat tidur (kalau perlu ganti sprei), sapu, pel, dan lap-lap debu.

 

Nah untuk tiga tugas terakhir pun belum sekeren para seksi maid di film Devious Maid. Mereka datang dengan dua ember dorong untuk mengepel dan satu vacuum cleaner. Sedangkan di Devious Maid mereka datang  membaw a sekeranjang pembersih dan sarung tangan untuk membersihkan rumah-rumah orang kaya yang gedenya minta ampun. Bahkan pasien di Royal Pains membuka usaha housekeeping dengan pembersih alami buatan sendiri. Atau kaya direaliti shownya Nick Carter n Jessica Simpson, dalam satu hari si housekeeper bisa mencuci plus menyetrika baju Jessica yang dia buang begitu saja di ruang tengah selama seminggu atau sebulan gitu? Yah, sudah sampai ke sanalah mereka. Kita belum. Makanya ada spot yang tersisa seperti area exhaust kompor. Masih berminyak.

 

Overall yah lumayanlah kalau untuk bersihkan rumah kosong. Mungkin bingung juga mereka menata rumah saya yang penuh itu. Hanya saja catatan untuk para pebisnis di sana, kayanya perlu deh edukasi bersihin rumah yang betul, ga pakai banyak biaya kok. Ga perlu naikin biaya dari Rp60000,- juga bisa. Buktinya saya setiap hari juga ga digaji hehehehe ....

Selasa, 02 September 2014

KEPO: Perlu Ga, Sih?




Satu hal yang saya perlukan sebelum bertemu teman lama adalah KEPO. Awalnya saya tidak peduli, tapi kemudian saya kok jadi sering bring out a topic on a wrong table. Sering pula baru sadar ketika sudah ketemu faktanya.

Seperti wartawan infotainmen, setiap hari selalu ada pertanyaan lanjutan. Waktu kelar kuliah, pertanyannya gawe di mana? Setelah itu berlanjut, status apa? Single? Double? Triple?

Begitu semua sudah diketahui menikah, kayanya yang perlu diam-diam diketahui, masih nikah ga?

Nah, ga mungkin dong tanya langsung ke orangnya.

Pernah suatu kali saya bertemu teman SD (cewek), lalu pembicaraan kami ngalor ngidul membicarakan teman-teman SD yang lain. Begitu tercetus satu nama temen cowok yang tinggal di luar negeri dan katanya beberapa kali bertemu, saya lempeng saja. Setahu saya si temen cowok ini sudah menikah memang. Jadilah saya tanya, “si anu sudah punya anak blum?” Teman saya itu menggeleng. Eh rupanya beberapa bulan kemudian saya dapat undangan dari mereka berdua. Oalah rupanya teman saya yang tinggal di luar negeri itu sudah lama bercerai dan akhirnya malah nyangkut sama teman saya yang cewek itu.

Atau ada lagi keadaan canggung. Melihat teman saya yang diketahui sudah menikah datang bareng teman saya yang cowo ketika buka puasa bersama. Saya juga lempeng aja, toh kami memang akrab kalau berteman. Apalagi kalau masih teman sekolah (sebelum kuliah), pasti tinggalnya tidak jauh satu sama lain. Eh rupanya teman saya yang cewek itu sudah cerai juga dan lagi ‘dekat’ sama teman saya yang cowo—walau akhirnya ga jadi sih.

Atau ketika kita rajin nengokin FB. Suka ada pertanyaan, “perasaan kemarin unggah foto honeymoon sama orang yang begini-begini, eh tapi kok pas ketemu yang digandeng dan dikenalin kok beda ya?” Nah, loh.

Apalagi kalau punya penyakit hapal nama ga hapal orang, jeeeng! Bisa kejadian tuh sebut nama mantan pacar tahunan di depan suami yang sekarang. Haiyah.

Namun, ngulik-ngulik profl FB teman sebelum ketemu juga suka menimbulkan pertanyaan lain. Nah ini rada gosip karena suka nyentil SARA. Pertanyaan iseng “orang mana?” bisa merembet ke “agamanya apa?”. Nah yang terakhir ini biasanya saya tanya kalau emang mencurigai sesuatu. Bukannya mau diskriminasi, Cuma nanti kan ga enak kalau lagi ketemu saya ajak-ajak shalat terus orangnya ga mau karena emang beda kan jadi aneh. Belum kalau saya lagi keluar cerewetnya tiba-tiba ceramah pentingnya shalat berjamaah.

Ada pula pertanyaan yang maksudnya basa basi malah jadi bahan gosip. Misalnya ketika bertemu kenalan dengan anaknya untuk pertama kali, apa coba pertanyaan yang biasa muncul? “Mirip siapa ya?”

Ini kan pertanyaan iseng. Tapi bisa loh jadi bisik-bisik karena rupanya bukan anak kandung. Kalau di luar negeri mah biasa. Di sini? Padahal saya salut loh sama yang asuh anak.

Tapi kalau dalam kehidupan bertetangga, saya pikir perlu loh kepo. Apalagi saya yang tinggal di apartemen. Orang-orang yang tinggal di sini kan kadung berpikiran bahwa apartemen adalah area privat, padahal kenyataannya, kita hanya terpisah oleh dinding. Jadi ketika ada yang bertengkar, pasti terdengar. Dan bersikap acuh tak acuh malah bahaya. Siapa bilang karena yang bertengkar suami istri, kita ga boleh lerai atas nama urusan pribadi. Siapa yang tahu kalau ada kekerasan dalam rumah tangga? Makanya jika terdengar pertengkaran , terkadang saya pasang k uping. Ada yang pecah ga? Ada raungan kesakitan ga?

Kalau tidak berani ketok sendiri, telepon satpam. Menghindari hal-hal buruk. Kalau sudah bertengkar kan sahabatan sama setan, mana tahu ditutup matanya.

Saya malah pengen ada yang ketokin pintu kalau lagi cerewet banget sama anak. Biar ingat diri.

Well, anyway masih trial and error soal kepo ini. Terkadang memang suka lupa menahan diri ketika tahu salah teman bercerai, masih tanya lagi, “kenapa?”

Nah yang itu dah gosip deh.

Senin, 05 Mei 2014

Anak “Kampungan” yang Tinggal di Apartemen

Kids today? Bagi saya bukan berarti anak-anak yang menenteng gadget terbaru.

Sering sekali saya mendengar komentar orang-orang ketika melihat  Malika dan Safir antusias main di jalanan atau sangat menuntut mengajak ke taman saat berada di rumah nenek atau eyangnya, “Senang ya bisa main di luar. Kalau di apartemen ga bisa lari-lari.”


Saya sih senyum-senyum saja. Justru karena anak-anak  sering main di luar selama di apartemen makanya mereka berjiwa outdoor.




Kalau sudah ada di taman yang memang ada di setiap tower di lingkungan apartemen kami di Kalibata, itu artinya bebas bereksplorasi. Buka sandal dan merasakan setiap tekstur permukaan mulai dari semen, berbatu, rumput, berlumpur, hingga berkubang air;  mau lari, berjingkat, bergelantungan, bahkan merangkak pun boleh. Sebuah pemandangan yang sangat menggugah anak-anak kecil lain. Hehehe ....


Kalaupun terlanjur memengaruhi anak-anak lain, saya lebih sering menjawab sendiri dalam hati ketika para orangtua dan pengasuh mereka berseru, “Hei, kamu sudah mandi!” Yah, kalau dibawa ke taman jangan mandi dulu lah.


“Nanti baju kamu kotor.” Pakai Rinso, doong.


Eh, beneran pakai Rinso biar nodanya hilang. Kalaupun lupa segera mencuci usai dikotori anak-anak, noda yang samar-samar itu jadi cerita bagi saya ke anak-anak. “Tuh, lihat celana kamu sobek.  Jatuh di mana? Kenapa? Lain kali berarti kamu harus apa hayo?” atau “Nih, noda lumpur. Waktu main di mana? Bikin apa sih?” Dan seketika nuansa bermain di taman muncul kembali ketika kami kembali ke unit dalam bentuk cerita seru.


Seseru video yang diunggah Rinso Kids Project ini.






“Seberapa sering Anda melihat wajah bermain anak Anda?” Kalimat tanya yang tertulis di akhir video.


Saya menjawab sendiri. Sering. Saya menyadari tengah menciptakan syaraf-syaraf baru di otak mereka ketika melihat wajah-wajah mereka yang seolah ingin terus melebarkan senyumnya, jeritan-jeritan senangnya (yang mungkin mengganggu bagi orang lain), dan perasaan akan sebuah kebebasan. Atau ketika melihat mereka serius meniti sesuatu agar tidak jatuh. Dan wajah puas ketika berhasil melewati tantangan.


Rinso Kids Project sendiri adalah program “penyadaran” bagi orangtua untuk melihat dari sudut pandang #kidsToday. Ada empat video yang diunggah, Wajah Bermain, Menjadi Anak Kecil, Anak-anak Perkotaan, dan Anak-anak yang Sibuk. Tiga di antaranya (Wajah Bermain, Menjadi Anak Kecil, dan Anak-anak Perkotaan) sangat berhubungan dengan saya. Maklum, kedua anak saya masih usia balita dan saya tidak terobsesi dengan segala les akademis guna menciptakan bayi genius.


Dalam video Anak-anak Perkotaan, sebenarnya lebih mewakili yang saya rasakan (atau mungkin yang dirasakan anak-anak). Ketika memiliki tempat bermain di mana tidak ada yang melarang ini itu atau bisa berjalan di trotoar dengan aman dari serangan motor yang tak terkendali lajunya, sehingga Amy tidak perlu senantiasa memasang muka militer setiap kali terpaksa keluar dari komplek apartemen hanya bersama anak-anak, dan yang lebih terpenting adalah lingkungan yang aman dari tindakan kriminal dan asusila.


Sedangkan di video Menjadi Anak Kecil, saya merasa Malikalah yang tengah bicara dengan saya ketika salah satu narasumbernya berkata, “Maka dari itu, kami butuh bantuan Anda. Karena ketika kami bermain pasti akan kotor dan berantakan.” Entah kenapa kalimat itu terjemah dalam otak saya menjadi, “Jangan marah-marah, Amy.”


Ya, baiklah. Kan ada Rinso.