Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

hoMYNGGU: Pilihan Olahraga (Saya) di Rumah



Sejak pertengahan tahun lalu, saya memutuskan untuk memasukkan jadwal olahraga ke rutinitas saya. Walau masih up and down moodnya, tapi posisinya semakin pasti dalam kegiatan saya. Karena saya ga mampu secara uang dan waktu untuk nge-gym di tempat gym di mal, maka saya gunakan berbagai support system yang murah meriah, baik itu outdoor maupun indoor. Banyak yang saya coba, secara saya bosenan juga, tapi akan efektif kalau konsisten dilakukan minimal 3 kali seminggu. Badan sudah mulai jompo, jadi harus banyak bergerak biar fit.

OUTDOOR
1. SENAM OTAK. Salah satu yang rutin saya lakukan adalah mengikuti senam warga setiap Sabtu jam 7-9 pagi. Dengan instruktur berusia 58 tahun dan sudah berpengalaman, ibu Iik memeragakan senam otak karena ada beberapa pelaku senam adalah ibu-ibu usia lansia. Berbeda dengan aerobik atau zumba, senam otak menggunakan hitungan 2-2 bukan 4-4, jadi kalau tidak fokus akan belibet kaki dan tangannya hehehe ....  Apalagi kalau yang sempat lama ga senam, pasti keteteran napasnya, walau kalau dilihat gerakannya tidak heboh.

2. JALAN KELILING KALCIT. Kalau saya cukup dengan berjalan, beda dengan suami yang lebih memilih lari keliling kalcit. Dua keliling Kalcit bisa 30 menit berjalan, sedangkan kalau lari bisa dapat tiga keliling Kalcit. Biasanya saya pakai rute ini, kalau teman CFD saya di hari Minggu sedang berhalangan. Maklum, ibu-ibu cuma bisa keluar olahraga pas akhir pekan. Kalau hari sekolah kan jadi petugas persiapan anak-anak sekolah. ^^

*Sebenarnya kalau tinggal di bagian Green Palace bisa berenang juga, tapi karena saya tidak tinggal di bagian situ dan tidak bisa berenang juga, jadi yaaah ... begitulah.  Sekarang, setiap Rabu di selasar taman Green Palace juga diadakan senam osteoporosis yang dimulai jam 10 pagi. Belum pernah coba juga sih. Walau belum usia lansia, kayanya ga ada salahnya ikut senam ini.

INDOOR
Olahraga indoor seringkali berarti olahraga di rumah. Waktunya mepet, cuma 30 menit, karena anak-anak kepo. Sedangkan kalau pas anak-anak sekolah, emak-emak cuma bisa olahraga di dapur.

1. SALSA. Ini senam loh, bukan maksudnya mau les tari salsa. Lagi-lagi ibu Iik sebagai instrukturnya dan memang ini spesialisasi beliau. Mulainya jam 4 sore sampai jam 5.30 di gym Green Palace setiap Selasa dan Kamis. Saya jadi harus nunggu barengan sih supaya bisa masuk ke sini. Hanya saja, karena barengan dengan jadwal ngaji anak-anak, yang sering terjadi adalah seusai senam saya tergopoh-gopoh ke masjid untuk menjemput sambil gendong yang bungsu, biar cepat. Nah, akibatnya, saya jadi suka flek darah. Makanya, saya belum ikutan lagi. Padahal ini juga sangat menguras keringat loh, baju bisa basah semua. Dan sangat bagus untuk pembentukan panggul ke bawah yang mulai berkibar-kibar. Saya pernah tanya ke Ibu Iik kenapa saya jadi flek, kata beliau ya sejatinya tidak ada yang boleh dilakukan secara terburu-buru. Mungkin juga karena rahim saya sudah turun, dipakai setengah berlari dan gendong-gendong, malah jadi tekanan di dalam perut saya. Jadi, ya sudah, saya senam di rumah saja.


2. YOUTUBE is MY PARTNER. Kalau di rumah tentu saja berteman dengan youtube offline ^^ ada beberapa channel yang saya suka.

a. AEROBIK dengan POPSUGAR. Channel ini mengusung aerobik yang ringan dan menyenangkan. Terkadang saya ikut senyum-senyum mendengar percakapan member popsugar-nya walau diulang-ulang. Nilai plus dari channel ini adalah, ia mencontohkan gerakan-gerakan sesuai level dan kemampuan. Jadi untuk satu gerakan, kalau ga bisa lompat bisa jalan di tempat, kalau ga bisa lurus kakinya, bisa ditekuk.  Jadi ga terintimidasi banget kita lihatnya.

b. ZUMBA dengan VIJAYA TUPURANI & LIVELOVEPARTY. Kalau lagi ingin nge-zumba, saya biasanya pilih dua channel ini. Tapi untuk Vijaya Tupurani ini harus pilih yang edisi group ya, kalau Cuma dia sendiri gerakannya susah banget. Kebetulan saya juga suka nuansa India jadi fun saja bagi saya dan ada gerakan-gerakan bahu yang khas. Sebenarnya saya pernah coba juga senamnya Bipasha Basu, tapi walau simpel tapi saya terintimidasi sama keseksiannya >.< Udah juga pakai jeans hotpants, tank top crop, rambut digerai berkibar-kibar dikasih angin-angin. Beuuuh ...

Sedangkan LiveLoveParty ini lebih terasa nge-dance-nya, teruus saya pilihnya karena dia juga ada cover lagu BIGBANG hehehe .... Ribetnya nge-zumba via youtube adalah sebentar-sebentar harus pilih mau video yang mana. Biasanya saya cuma nge-zumba lima belas menit, habis itu ganti olahraga yang lain.

c. YOGA dengan BOHO BEAUTIFUL. Saya hanya mengikuti yang seri mudah-mudahnya saja. Seringnya yoga bermanfaat untuk bikin badan enak ketika terkena pegal-pegal usai olahraga. Cuma terkadang suka baper lihat body intrukturnya yang kuruuuus banget.

d. AEROBICS ala FIGUREROBICS. Ini yang lagi saya tekuni sekarang. Masih belum bisa setiap hari sih. Figurerobics menawarkan olahraga yang tidak membutuhkan banyak space. Penting ya buat kami yang tinggal di unit yang super ‘luas’ ini. Walau tidak memakan tempat banyak, tapi dalam 30 menit, keringat maksimal keluarnya. Instrukturnya orang Korea jadi sembari ngikutin hitungannya terkadang saya merasa tengah wajib militer hahahaha ...

 Pertama kali ngikutin, kaki lemes. Selalu merasa ingin menyerah di menit ke-20, tapi belum pernah menyerah. Dua-tiga kali absen, kaki nyut-nyutan lagi. Figurerobics ini juga ada levelnya, tapi belum nyoba sih, wong yang level satu aja ga lulus-lulus kok ...


3. TABATA dengan Aplikasi
Saya pernah diberitahu sama tetangga soal workout di Youtube dengan tajuk Tabata. Ketika saya lihat, workout-nya mirip dengan aplikasi Leap Fitness Group, Tantangan Kebugaran 30 Hari-Latihan Rumahan.  Minus musik saja. Aplikasi ini saya pakai buat variasi setelah ngezumba. Cuma butuh 15 menit sih, tapi isi workoutnya alamakjaaan. Memang ada level-levelnya dan bisa memilih mau workout perut, lengan, kaki, atau seluruh tubuh. Kata yang memberi komentar sih disarankan jangan mulai dari level pemula banget, biar nendang. Biasanya ada 10-15 gerakan dan diakhiri dengan plank. Nah, plank ini yang ga nahan. Semakin hari semakin lama soalnya. Walau selalu ada hari istirahat setiap hari ke-5, tapi kalau sudah istirahat, posisi plank itu jadi susah lagi dikerjakan. Ini masih tantangan sih buat saya, ga kelar-kelar 30 harinya ^^ padahal sudah beberapa bulan lalu itu aplikasi nongkrong di ponsel.

Nah, kekurangannya olahraga di rumah adalah, ada risiko menginjak mainan anak hahahaha ... Pernah juga walau saya sudah di kamar tapi karena anak-anak dengar musiknya mereka olahraga-olahraga sendiri di depan pintu kamar, sambil cekakak-cekikik lalu jerit-jeritan. Sungguh mengalihkan konsentrasi ^^’


Hasilnya? Hmmm .... katanya sih jangan olahraga untuk menurunkan berat badan, tapi supaya badan sehat. Hehehe ... Ngeles banget yak.

Sempat dua bulan pertama, berat badan saya malah naik, minimal stagnan. Kata kawan sih, itu artinya jadi otot. Cuma kan bikin drop juga ya. Mau ga mau, pola makan emang harus diubah. Alasan emak-emak sebagai penghabis sisa makanan anak harus dikurang-kurangin. Jadi biasanya saya masak tiga cup beras untuk satu hari. Sekarang saya hanya masak 1,5-2 cup sehari untuk seluruh anggota keluarga. Ga makan malam, tapi makan sore. Dari pagi sampai sore ya sesuka saya makannya. Nah, makan sore ini juga ada syarat. Syaratnya jam 9 malam dah tidur. Kalau begadang ya berasa lapar lah. Anyway, semoga ikhtiar sehatnya semakin konsisten. Biar semangat menjalani hidup heheheh ... doakaan.



Kamis, 14 September 2017

KAMYStory: Tips Emak-emak Jadi Seksi Dokumentasi Sekolah


Sebenarnya ga tips banget sih, ini hasil saya jadi juru potret buku tahunan di TK anak-anak selama hampir tiga tahun berturut-turut. Saya pun bukan ahli motret dan sepenuhnya mengandalkan kamera suami yang di-auto 😅. Tapi demi efisiensi anggaran ya jadinya saya mengajukan diri. Sebenarnya sih karena rindu berurusan sama buku hehehe ... Nah dari pengalaman itu, ada beberapa hal yang saya catat untuk diingat.

1. Mengumpulkan Dokumentasi SELURUH kegiatan
I mean the whole activities. Makanya sekarang diusahakan setiap ada acara yang orangtuanya boleh nimbrung, saya datang untuk menambah koleksi foto. Kalau hanya ada guru-guru ya mau ga mau rada sabar-sabar kalau sudut pandangnya ga pas menurut saya. Biasanya saya mengingatkan ke ibu guru, paling tidak ada foto anak-anak bersama duduk manis (biasanya berlaku untuk kegiatan kunjungan). Foto dari walimurid pun ga serta merta saya hapus dari ponsel walaupun tidak ada foto anak saya. Tetap disimpan di folder laptop, siapa tahu dibutuhkan.




2. Pertajam Kemampuan Mengabsen Anak
Saat saya sempat mengambil foto di suatu kegiatan, penting untuk bisa tahu siapa saja yang belum difoto. Hal ini untuk menghindari para walimurid yang sedih melihat tak satupun foto yang di-share ada anaknya. Biasanya para orangtua bekerja ya. Jadi tanpa bermaksud pilih kasih, yang ga ada orangtuanya biasanya saya foto lebih sering. Bukan apa-apa, soalnya saya kan ala-ala jadi ga tentu sekali motret langsung bagus. Kalau fotonya hanya sekali lalu buram lalu si anak ga ada dokumentasi sama sekali oleh orangtuanya, niscaya begitulah ... pasti ada yang sedih. Malah tak jarang, karena sibuk foto anak orang, foto anaknya sendiri malah seadanya ^^’.

3. Konsep
Kalau ini terkait buku tahunan. Karena serba sederhana, konsep jadi harus kreatif. Dan konsep ini juga harus selaras sama layouter-nya. Biasanya demi penghematan, saya pilih konsep yang tidak pakai crop atau ilustrasi berlebihan. Layouternya pun gratisan, masa saya minta yang serba wah ini itu. Dua kali bikin buku tahunan TK, saya banyak mengkoreksi diri terkait konsep ini. Apalagi untuk anak TK memang yang paling penting adalah foto anaknya jelas dan bagus ekspresinya, which is sulit yaa ... anak-anak itu kalau difoto satu-satu itu gayanya kaya mau pasfoto, tegang tegap gitu. Mungkin karena bukan orangtuanya yang foto. Tapi kalau mengandalkan koleksi foto dari orangtua masing-masing, saya suka khawatir dengan inkonsistensi kualitasnya. Kan tiap orang punya definisi yang berbeda-beda.



4. More is Better
Harus selalu punya backup plans siy intinya. Mengambil foto sebanyak-banyaknya di setiap kesempatan dapat membantu saat terjadi error ketika sesi foto untuk buku tahunan. Yang paling sering sih ketika foto bersama ternyata banyak yang ga masuk. Sedangkan saya ga terlalu suka metode foto anak di-crop lalu dibuat seolah-olah hadir. Terlalu banyak efek. Antara ga suka sama ga bisa siy hehehe ... Jadi punya banyak koleksi itu sangat membantu, apalagi jika berasal dari kamera yang sama hihihi ...


5. Belajar Fotografi
Mau ga mau harus belajar cara foto sih. Mengandalkan auto kadang ga dapat hasil yang diharapkan. Apalagi suka dikritik sama suami. Ya cahaya lah, ya fokus. Padahal motretnya pun sudah kaya akrobat karena namanya anak-anak geraknya cepat dan tidak diduga, beda banget sama potret kue hehehe ... Makanya harus berani minta maaf juga kalau dikeluhkan para orangtua jika ada yang ga berkenan. Kan ga mentang-mentang proyek terima kasih, terus boleh sebisanya saja. Iya ga siy?


6. Pasrah Ga Punya Foto Diri
Walau termasuk anggota komite, yang namanya juru potret yah harus siap kalau pada akhirnya foto dirinya sendiri ga ada. Hahaha .... Yah sejak menghilangkan salah satu komponen tripod, dan belum beli lagi, jadi pasrah ajalah hahaha pure juru potret. Biar kalau mau disalahin, ga ada fotonya di buku tahunan. Lah malah mau kabur ^^.


Apa pun itu,  mudah-mudahan tahun ini bisa buat yang lebih baik. Semangat.


Jumat, 21 April 2017

JJS: 1 Ami dan 3 Anak di Big Bad Wolf Jakarta 2017


Kalau tidak dapat tiket VIP, ya ga datang.
Begitu saya membatin. Antara mau datang atau tidak. Maklum lokasinya jauh tenan, kayanya ongkos sama belanjaan bisa nyaris sama. Namun kurang dari seminggu dari acara preview Big Bad Wolf Jakarta 2017, saya mendapatkan email, tidak hanya satu tapi dua email yang menyatakan bahwa saya mendapatkan 1 tiket VIP. Artinya saya dapat 2 tiket yang berlaku masing-masing tiket untuk dua orang. Namun, karena teman-teman pecinta buku pun sudah dapat tiket VIP, jadilah hanya saya dan tiga anak yang meluncur ke ICE BSD City. 

1. Perbekalan
Saya menyadari bahwa biasanya di book fair semacam itu tidak boleh membawa makanan dan mnuman, jadi saya menghindari membawa berkotak-kotak fastfood untuk disantap. Jadi, saya siapkan bekal makanan berat di tas sekolah anak-anak agar mereka cukup diberi bekal untuk di perjalanan yang menurut google map akan tercapai dalam 1 jam 20 menit. Susu dan jus plus air mineral juga disediakan. Diumpet-umpetin sama tumpukan baju ganti, biar kalau diperiksa, ga ketahuan hehehe ... Strateginya  berhasil untuk anak 1 dan 2, sedangkan yang batita, terlewat jam makan siangnya dan akhirnya, muntaaah .... 


2. BSD itu Serpong ya ... Bukan Bintaro
Oke, ini mah sayanya aja yang dodol hehehe .... Pengemudi taksinya pun tidak mengerti bahasa Inggris. Saya bilang Ice BSD, dia pikirnya Ace B ... halah ... Dan karena ga nyambung inilah, taksi biru itu keluar di tol Bintaro. Dikasih google maps, ga paham. Gedubrak. 
Kenapa saya pilih taksi ketimbang taksi online? Yah, ga kenapa-napa sih, lebih gampang ketemu aja. Lagipula seringkali, anak-anak sok-sokan mau duduk di baris ke-3 tapi kemudian satu-satu balik ke baris tengah dengan muka pucat dan keluhan pusing ^^


Simak baik-baik aturan di BBW JAKARTA 2017 ya

3. Siang itu Jam Padat
Finally, kami sampai. Waktu menunjukkan pukul 1. BBW diselenggarakan di hall 7—10 Ice BSD City dan ada tiga acara yang digelar di Ice BSD. Saya sarankan, masuk ke hall 6 tempat Disney On Ice, jika menggunakan taksi online, karena pintu masuknya di hall 7. Kalau mengikuti marka jalan, kita akan berhenti di hall 10. 

Sesampai di sana, saya ambil tiket di stan Mandiri dan ternyata masih termasuk 25 orang pertama yang mendapatkan voucher RP50000,- untuk belanja di BBW. Alhamdulillah. Anggap aja diskon taksi offline hehehe

Lalu saya ambil lagi tiket di lobi BBW. Walau anak di bawah 12 tahun sebenarnya tidak pelu menggunakan tiket VIP pass, tapi ya saya tebus saja, siapa tahu dapat info (atau goodiebag) tambahan ^^

Setelah mengosongkan kantong kemih, waktunya anak-anak makan camilan sebelum masuk, sekalian melemaskan kaki setelah lama duduk di taksi. 


4. Baru berhenti Saat Keranjang Sudah Sering Jatuh
Begitu kami masuk, waaaah .... ini toh Big Bad Wolf. Rasanya ingin berenang-renang di antara buku-buku. Baru masuk, sudah menemukan yang menarik. Ada yang cemberut karena tidak langsung dapat yang disuka. Mereka bingung juga saat disuruh mencari buku tapi kenapa banyak sekali mejanya. Apalagi ketika saya beritahu bahwa buku anak yang terletak paling jauh dari pintu masuk itu, bermula dari belakang hingga ujung dekat kasir. Tapi senyum anak-anak merekah, ketika saya bilang, "Ambil saja mana yang suka, masukkan keranjang." Biarin deh, biar merasakan namanya belanja kalap. Tapi mereka yang dorong keranjangnya. 

Tadinya saya mau sok-sok an buka jastip buku, tapi ya ... yang datang ke preview itu banyak banget ya orangnya. Ini mah namanya curi start buka pameran hehehe .... orang lalu-lalang. Setiap kali saya memfoto buku untuk satu (ya, satu saja cukup) orang teman saya, saya pasti akan celingak celinguk menghitung anak. Yang di stroller juga dipastikan masih di tempatnya. Jangan sampai kalap buku, anak ga tahu nyantol di mana. 

Moral of tarik keranjang sendiri adalah, anak-anak itu jadi capek sendiri. Lelah, tak mau ambil buku lagi. Dan pada saat itulah, saya tanyakan kesungguhan mereka, mana yang lebih mereka pilih untuk dibeli. Tak lama, keranjang saya berkurang separuhnya. 

Awalnya saya menawarkan anak-anak untuk sekadar minum-minum di area makan di ujung lain dari kasir, tapi karena keranjang harus 'parkir' di dekat area bouncing (ya, ada tempat main di situ, seharga Rp60000 per orang) dan anak-anak jadinya malah mau main, saya pikir ah sudahlah langsung mengantri saja.

Penggila buku ya ketemunya di acara buku. Reuni singkat dengan Kak Aio


5. Ngantrinyaaa #auuwsome
Berdasarkan informasi dari tetangga yang sudah datang dari pagi, BBW yang juga disponsori sangat oleh Mandiri, menyediakan fastrack bagi pengguna mandiri debit atau kredit. Tapi ... ada caranya niy bapak-bapak, ibu-ibu ... Datangi stan mandiri yang terletak tidak jauh dari tempat antri, antri di sana untuk mendapatkan nota fast track dengan menukarkan poin fiesta Anda. Sebenarnya fiesta poin itu juga bisa digunakan untuk ditukar dengan buku-buku yang disediakan di stan Mandiri tersebut. Nah setelah dapat nota fasttrack, mengantrilah di tempat yang disediakan.

Kenyataannyaaaaa .... lorong fast track itu ga dijaga sehingga bercampurlah orang-orang antri di situ sehingga jadi puanjaaaaaang sekali. Banyak yang mengira bahwa mengantri di fastrack hanya cukup memiliki mandiri debit. Bukan oh bukan. Akhirnya saya stuck 2,5 jam ngantri. 

Saya teringat ibu-ibu hamil yang ketika sudah hampir mencapai lorong fast track barulah muncul petugas yang menanyakan apakah dia sudah memiliki nota fast track. Dilalah, ketika dia bilang tak punya dan hendak mengambil nota tersebut, layanan notanya sudah tutup. Ya ampuuun ... setelah dua jam ngantri tapi ga bisa masuk? 


Anak-anak? Hmm dari semangat maju sedikit demi sedikit. Lalu mulai usil masuk-masuk kolong meja. Nyanyi-nyanyi ga jelas. Saling bertengkar. Kelaparan, dan akhirnya saya keluarkan semua perbekalan di dalam tas. Suapin nasi, susu. Daripada jadi pada masuk angin. Karena AC  nya dingin juga loh walau dihuni begitu banyak orang. Cobaan banget niy buat anak n emaknya.

Cobaan tidak berhenti di situ. Setelah hampir sampai kasir setelah dua jam, anak-anak mulai mengeluh tidak senang, menganggap ini semua cobaan setan, meminta sesuatu yang ga jelas apa karena belum  bisa ngomong dan di antara keluhan itu ada yang pup aja gitu di popok ... Eeeaaa ... 

Walau kasir di depan mata saja, bisa lama loh ngantrinya. Ya, yang belanja bisa beberapa troli dan keranjang sekaligus, sedangkan kasirnya tuw kaya bagian kasir khusus layanan tunai dan keranjang. Ambil barang, ambil scanner, ketik spasi, taruh scanner, ah banyak geraknya. Plus jangan samakan dengan belanja bulanan ya, yang ada beberapa item yang sama. Kebanyakan dari belanjaan orang-orang yang beraneka ragam, jadi yah serasa manual lah. Belum lagi, sebentar-sebentar di sana –sini kasirnya melambaikan kartu SUPPORT. Komputer Error. Lelah menerima terlalu banyak uang hehehe ... 


6. Kamar Ganti Bayinya Mana? 
Alhamdulillah kelar juga bayar membayar. Alhamdulillah juga bawa stroller, belanjaan tinggal dicantel. Walau ada yang menyewakan sih troli gede dan ada porternya segala loh. Lalu ada juga layanan TIKI, yang habis belanja tinggal kirim, ga perlu tenteng-tenteng lagi. 

Tapi yang terpenting saat ini adalah toilet lagiii .... Si kakak kebelet pipis, yang anak tengah juga tapi begitu lihat antrian dan kenyataan bahwa anak cowo satu-satunya itu harus buang air kecil di kamar mandi wanita membuat dia urung. Jadi saya suruh si kakak antri dan urus sendiri sementara itu saya di luar ruang toilet mengganti popok di bungsu. Sambil ngumpet-ngumpet di balik stroller. Untung pup nya mudah dibersihkan (dengan menggunakan banyak sekali tisu basah ^^'). Si anak tengah saya minta memberi info kalau-kalau kakaknya sudah masuk toilet, karena sistem  toiletnya yang diputar keluar semprotan langsung ke arah ybsitu loh. Buat anak-anak kan suka ga pas ya. Jadi seusai urusan popok, saya langsung cari si sulung yang ternyata baru masuk dan akhirnya bisa bantu, sementara anak tengah jaga adiknya di stroller di salah satu pojokan toilet (ribet ya bok!). Si tengah kemudian saya paksa juga buang air kecil, di situ, Cuma yah basahin tisu deh. Daripada nyemprot ke muka ... Hadeuh, pe er banget ya nyediain toilet untuk anak-anak. 


7. Makan Malam Sekadarnya
Perjalanan pulang masih jauh, jadi saya pikir mau makan dulu. Tapi stan makanan di area lobi itu Cuma satu, So Nice. Begitu juga stan minuman. Ya sudahlah, daripada ga makan. Walau kayanya tema hari ini sosis dari pagi sampai malam hehehe .... Dan anak-anak on lagi. Jumpalitan ke  sana kemari. Sayanya? Lelaaah. 

BBW juga bekerja sama dengan Grab, jadi ga usah khawatir pulang ya. Tapi semalam saya naik taksi offline lagi, karena sempat ga ada yang mau ambil order saya. Begitu saya masuk taksi eh malah ditelepon sama driver Grab. Lah, ternyata belum tuntas saya cancel-nya. 


8. Kapok? 
Tahun ini, cukup ya ke BBW nya hehehe ... Nabung lagi untuk tahun depan. Memang sih ngantrinya bikin kapok, tapi buku yang didapat memang sesuai bayangan saya. Yang terjangkau, interaktif untuk anak-anak, dan unik buat kado hehehe dan selalu ada koleksi klasik yang memanggil-manggil saya untuk dibeli hihihi ... Percaya atau tidak, saya hanya beli koleksi Enyd Blyton untuk diri saya sendiri. Novel ga dilirik dulu, padahal banyak edisi boxset yang harganya waw murah banget. 

Next year, ke BBW nya sama orang dewasa aja deh. Biar begitu masuk langsung ada yang ngantri hhehe tinggal saya lari-lari cari buku. 

Rabu, 03 Februari 2016

What Big Momma Needs in 2016


Tahun baru, tantangan baru ^^ Khusus tahun 2016 insya Allah akan menjadi perdana saya sebagai ibu-ibu yang sibuk antar-jemput anak-anak. Dengan catatan kaki, tanpa kendaraan pribadi. Yap, dan dari sekarang selain mencari lokasi TK dan SD untuk anak pertama dan kedua saya yang lebih mudah dijangkau sambil bawa bayi tapi tetap bagus (teteup ...) saya juga memikirkan perlengkapan perang saya agar tidak rempong sana-sini. Selain menguasai jalanan sekitar rumah, pertengahan tahun ini saja saya sudah dihadapkan dengan empat rencana pernikahan sepupu. Thinking about looking pretty with breastfeeding gown while carrying three curious kids. Hmm ..sounds like a lots of homework. Tapi tenang ibu-ibu sekalian, lazada menyediakan banyak hal untuk dipertimbangkan.



1. Diapers Bag in a Wedding Party? Why Not?
Well, make sure you have this one gorgeous bag, Jujube Bff The Queen Be. Penting bagi saya untuk dipertimbangkan karena alasan terpenting adalah itu ransel. Satu tangan sudah pasti untuk si bayi, satunya lagi adalah untuk menangani dua bocah pecicilan lainnya. Tak mungkin kan saya pilih tas jinjing. Alasan terpenting kedua adalah it should be pretty. Terlihat cantik bahkan untuk dibawa ke tengah ruangan pesta pernikahan. Berhubung tidak pakai tenaga pengasuh, jadi mau tak mau tas popoknya harus tenteng ke sana-sini dong. Kalau pakai model tas popok kebanyakan, saya takut orang-orang akan mengira suami saya digoda pengasuh anak yang cantik ^.~

Terbuat dari 100% poliester dengan empat kantong kecil untuk berbagai kompartemen, tas ini mudah dibersihkan dan bahkan aman masuk ke mesin cuci. Harganya. IDR3000000,- Mahal? Eh, orang-orang kan ga perlu tahu kalau itu tas popok. Kalau sudah tidak bawa popok juga masih pantes banget dibawa ke mana-mana.


2. Shoes that Strong Enough to Catch Your Kids but Still Looks Good in a Gown
Sepatu oh sepatu. Setelah berulangkali hamil dan melahirkan, ukuran kaki saya semakin tidak jelas. Memang sudah saatnya ganti sepatu dan sepatu yang sesuai dengan kriteria di atas adalah Sneakers. Cocok buat ibu-ibu cantik nan lincah hehehe .... Dan walau modelnya tertutup tapi tidak terlihat seperti sepatu orang sakit dan ga kalah gaya walau dipadu dengan gamis sekalipun. Plus model ini sedang diskon loh dari IDR600ribuan jadi IDR250000,-


3. Make Sure Your Lunch is Ready before You Go
First thing first setelah beribadah di pagi hari ya urusan dapurrr ... Saya sudah punya cukup panci dan perlengkapan makan lainnya. Yang saya tak punya adalah ... set spatula. Entahlah, ketika tahun berakhir, set spatula yang saya miliki berguguran satu per satu. Kebayang dong saya masaknya gimana ^^ Kalau mau lebih gesit di dapur ya peralatannya harus mumpuni seperti Oxone OX 953 Kitchen Stool Spatula. Lagi-lagi sedang diskon 40%  dan harganya jadi di bawah IDR 100000,- OMG

4. Reading while Waiting
Kadang-kadang ada saja kan yang membuat anak keluar dari sekolah lebih lambat dari biasanya. Ya pelajaran tambahan, ya ada yang ulangtahun ... Jadi deh, ibu-ibu bengong cantik. Nungguin anak sambil main ponsel? Ah, biasa. Baca buku dooong ^^ buku-buku parenting seperti Ayah Edy Punya Cerita dan Sekolah Berawal dari Rumah adalah cara tepat untuk mengisi baterai saya dalam menghadapi anak-anak.  Harganya mulai IDR30000,- paket internet bulanan saja lebih mahal hehehe ...


5. Let’s Play
Saat-saat akur antara tiga bocah adalah membiarkan mereka larut dalam lautan lego. Jadi, ibunya bisa lurusin kaki sejenak sambil curi-curi bobo siang. Ga bakal berebutan karena satu kotak ini banyak banget isinya.


Nah, lumayan kan amunisi ibu-ibu? Siapa bilang ibu rumah tangga itu lebih murah meriah hehehe ... Ayo terus semangat ibu-ibu! Akhir tahun masih lama, tapi liburan panjang kan selalu menanti dan dekat di kalender hehehe ... have a great day in lazada, always, friends ^^


Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X Lazada Indonesia. Yang diselenggarakan oleh ShopCouponsVoucher Lazada disponsori oleh Lazada Indonesia.

Senin, 21 Desember 2015

Tidur Lelap untuk Bayi Pintar dan Ibu Sehat

Jangan pernah meremehkan pentingnya tidur yang lelap. Deepak Chopra menjelaskan dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa saat seseorang tidur lelap, racun-racun dalam tubuh akan keluar. Sebaliknya saat seseorang tidak mengalami tidur yang berkualitas akan rentan terkena obesitas, peradangan, gangguan usus, bahkan Alzheimer. Nah, loh!


Padahal untuk ibu-ibu punya bayi seperti saya bisa tidur lelap bin pulas apalagi lama itu adalah peristiwa langka. Tahu dong kenapa, karena si bayi sebentar-sebentar bangun dan nangis. Saking langkanya kalau ditanya mau hadiah apa di Hari Ibu mendatang, tak sedikit yang bilang, "saya cuma mau tidur."


Nah, dalam rangka inilah produsen pospak pertama dan nomor satu di dunia, Pampers, mengadakan temu blogger ibu-ibu di Hotel Double Tree by Hilton Cikini pada Sabtu lalu. Dokter  Dr. dr. Soedjatmiko SpA (k), Msi, hadir sebagai pembicara pertama menjelaskan bahwa tidur adalah proses stimulasi. Bayi akan terganggu tidurnya dikarenakan dua hal, suara dan lingkungan. Suara meliputi bising, teriak, dan semacamnya, sedangkan lingkungan bisa dikarenakan panas, dingin, pakaian atau popok yang basah karena urin atau muntah.


Yang perlu digarisbawahi adalah sewajar apa pun bayi yang kerap terbangun, ternyata jika kondisi tidur pulas (kondisi REM dan non REM) tak kunjung bisa diraih bayi hingga usia dua tahun maka si anak akan mengalami gangguan dalam perkembangan emosi, fisik, hingga kognitif. Tuh, bahaya kan?


Siapa pun juga tak tega melihat bayi yang tidak nyaman tidurnya. Begitu juga dengan salah satu karyawan P & G. Beliau seorang kakek yang kasihan melihat cucunya tidur gelisah dengan popok kainnya. Lalu dia pun terpikir untuk menciptakan popok sekali pakai yang nyaman dipakai. Itulah asal muasal Pampers, 59 tahun yang lalu. Pionir sejati hingga kata 'pampers' menjadi jamak digunakan secara internasional alih-alih 'diapers'.


Artika Sari Devi selaku brand ambassador Pampers pun berbagi pengalamannya terkait membuat anak bisa tidur dengan nyenyak. Menurutnya ritual-ritual yang harus dijaga adalah memastikan anak kenyang, tirai ditutup dan penerangan diredupkan, dan jangan lupa membacakan cerita (eh sama dengan saya dong). Memastikan pakaian dan spreinya bersih terutama pospak sebagai bahan yang paling dekat dengan kulit bayi.


Ibu dari Abby dan Zoey ini menyebutkan bahwa anak pertamanya sempat mengalami dermatitis atopik. Yaitu sebuah keadaan si bayi mengalami biang keringat parah dan tidak bisa disembuhkan karena faktor keturunan. Time will heal, katanya ... Sehingga ketika Artika beralih ke Pampers terasa banget perbedaan kualitas tidur anaknya. Dilalah pas anak kedua tidak ada masalah sama sekali, jadi santai banget ....


Wah, jangan-jangan sama dengan #babyMeutia niy. Biang keringatnya parah banget dan walau dia termasuk bayi anteng walau gatal, saya curiga dia semakin sering bangun bukan hanya karena lapar tapi juga karena biang keringatnya merambah ke bokong. Sebagai pengguna pospak di saat anak tidur, makanya berusaha pilih pospak yqng bisa tetap nyaman digunakan dalam waktu lama. Nah, Dia mungkin bisa garuk-garuk kepalanya, tapi bokongnya? Pe er banget ^^' jadi kasihan.


Padahal aneh juga saya pikir, sudah pakai AC kok bokongnya malah keringetan? Ternyata, pospak yang saya pakai tidak se-breathable seperti Pampers. Butiran gel Pampers tidak hanya mengunci basahan lebih cepat, juga terbukti 99,9% kering. Eh ini ga cuma iklan. Pada even Pampers Baby Active ini ada pembuktiannya secara langsung. Saya kalau ga lihat sendiri juga suudzonnya ah itu pasti trik kamera. Eh ternyata beneran. Tak hanya itu, Pampers juga tidak menghalangi kulit bokong untuk bernapas. Demonstrasinya menarik deh, ada air hangat dituang ke Pampers, lalu dibalik dan ditutup gelas kosong, hasilnya? Berembun. Magic. Hehehe se-magic dokter Soedjatmiko yang sempat-sempatnya melakukan aksi sulap saat pembahasan materi.


So, it was a fun event. Baby Meutia ga rewel, digemesin sama Artika, difotoin sama ibu-ibu yang lain malah, pulangnya bawa Pampers sekantung. Alhamdulillah. Kado buat bayi, kado buat ibunya juga hehehe yuk bobo dulu ah. ^.^ Siapa tahu bisa foto Meutia lagi bobo cantik #pakaiPampers. Tanggal 22 Desember 2015 nanti bagi yang memiliki bayivberusia 0-36 bulan bisa upload foto si kecil dan testimoni ibu dengan hashtag #pakaiPampers ke wall fanpage Pampers Indonesia. Menangkan kesempatan untum si kecil jadi model di majalah Mother & Baby bersama Brand Ambassador Pampers Indonesia, Artika Sari Devi. Asyiik ^.^https://mobile.facebook.com/PampersIndonesia?fc=f&showPageSuggestions&_rdr

Rabu, 18 November 2015

RABUku: Mamomics part 2 – 9 Bulan Menanti Keajaiban


Ini adalah bentuk bayar utang setelah sebelumnya membuat review Papomics karena ada abang saya sebagai salah satu kontributornya, sedangkan di saat yang hampir bersamaan, Mamomics 2 pun terbit dan ada nama-nama yang merupakan sahabat abang saya dalam dunia perkomikan lagi-lagi menjadi kontributornya.


Dari dua seri Mamomics yang terpajang di rak toko buku, saya pilih yang kedua karena tema yang lebih spesifik juga terbitan yang lebih baru daaan saya yang juga baru lahiran anak ketiga #uhuk

Cerita kehamilan dan melahirkan selalu luar biasa bahkan dalam keadaan biasa-biasa saja. Namanya juga berpartisipasi langsung dalam proses penciptaan, itu kan sesuatu yang luar biasa, sehingga jika badan pun bereaksi luar biasa, itu wajar. Sebagai ibu beranak tiga, rasanya malu banget mau membanggakan diri. I mean, hamil dan melahirkan itu kan bukan prestasi. Walau perasaannya memang fantastis. Membaca cerita dari empat ibu dan satu lajang yang keibu-ibuan ini sebenarnya lebih menekankan betapa kita harus saling berempati dan bertoleransi setidaknya antarsesama perempuan. Jadi, ini bukan ajang pamer siapa yang paling menderita atau siapa yang paling gampang. Semuanya ada porsinya.

Setidaknya itu bagi saya pribadi.

Saat hamil anak ketiga, saya rasanya payah banget karena keluhan fisik yang tak kunjung usai. Namun, ketika baca cerita kehamilan Mba Harley yang ga hanya mual-mual dkk tapi juga sebentar-sebentar pingsan, i guess semua ada kesulitan dan kemudahan. Untuk mba Harley yang suka pingsang, senantiasa ada suami yang baik hati dan sigap menangkap. (eh iya tak?). Coba kalau saya yang begitu? Kebayang dong pingsan di antara dua bocah pecicilan di apartemen. >.< btw, abang saya jadi cameo di komiknya Bu Harley ini hihihiy ... telat banget ya.

Ketika saya agak sombong bercerita pergi ke RS naik ojek sendiri jelang melahirkan, rasanya saya mau edit ucapan saya ketika membaca kisah Dydy yang tidak hanya naik kereta tapi juga jalan kaki menuju RS sambil mules dan melahirkan sendiri karena sang suami menemani anak pertama yang sedang sakit. Maklum, tengah merantau di negeri orang. Kalau bagi sebagian orang, melahirkan ditemani suami itu rasanya ingin mencakar-cakar mukanya, bagi saya melahirkan ditemani suami itu ekstra kekuatan—ini kata seorang ibu di bus ketika saya hamil anak pertama. Jadi kalau ada yang melahirkan sendirian itu ...  hadeeeuh ...

Jika saya merasa beraaat hamil sambil ngurus dua balita, nah bayangkan ketika ada dua bocah di dalam perut seperti pengalaman kehamilan kedua mba Dyotami ... ga mau bayangin ah, linu perutkuuuh. Hamilnya pe er. Melahirkannya pe er. Ngurusnya apalagiiiih ....

Dan kalau menyimak komik hasil ga sengaja dengar dari ruang bersalin di sebelah Mba Ani usai melahirkan dengan segala kehebohan saat mengedan, lagi-lagi saya berucap alhamdulillah Cuma perlu satu kali buka jalan selebihnya menggelosor dengan sendirinya. Mulas? Ya iyalah. Mau hanya setengah jam seperti saya atau semalaman, yang namanya mulas mau melahirkan ya sakit.

Setelah melahirkan beberapa kali, saya suka ingat-ingat dulu ketika masih lajang apakah saya sudah sebijak Neng  Lia Hartati dalam memandang kehamilan dan ibu hamil secara umum? Ah, mungkin belum. Waktu itu saya belum banyak bergaul sama ibu-ibu sih, jadi bawaannya ingin komentar, “ah, ibu hamil lemes itu Cuma perasaan aja” dan bla bla bla omong kosong penuh kesombongan. Yak, sampai saya ketemu  hamil payah tanpa bisa saya hindari.

Akhir kata saya tak habis terkagum-kagum dengan ibu-ibu pengomik ini. Nemu di mana sih waktu ekstranya? Ngiri euy bisa gambar bagus ^^ Ada yang sederhana, ada yang detail, semuanya istimewa .... selanjutnya kira-kira temanya apa ya?

(eh beli dulu yang seri pertama hehehe ...)


Sabtu, 13 Juni 2015

Ibu Percaya Diri, Keluarga Bahagia

Ketika hamil anak ketiga, saya dilanda ketidakpercayaan diri. Berulang kali saya berniat mempertanyakan alasan Tuhan membuat saya hamil lagi padahal saya masih jauh dari kategori orangtua yang baik. Dan isu percaya diri ini sempat menjadi subjek utama kala saya mengalami early baby blues.

Undangan bagi para ibu-ibu blogger ke acara parenting class yang bertempat di Hongkong Cafe, pada 30 Mei lalu ini pun saya ambil dengan suka cita. Saya perlu mengosongkan gelas. Jumlah anak seringkali tidak menunjukkan kemahiran orangtua dalam mengurusnya. Walau bisa dikatakan, saya sudah khatam dengan ilmu parenting. Pada akhirnya, praktiknya tidak pernah mudah.

Bertajuk “Happy Mommy, Healthy Baby”, acara ini secara garis besar mengangkat tema kepercayaan diri. Saya membawa si bayi dan meninggalkan dua anak lainnya bersama ayahnya. Yah, anggaplah me time.

Acara yang dihelat mommiesdaily.com bekerja sama dengan Transpulmin Baby Balsam dan Kamillosan ini, diawali dengan presentasi dari psikolog Anna Surti Ariani S. Psi., M. Psi., Psi. Dengan mengangkat subjek “Ibu Percaya Diri, Keluarga Bahagia”, psikolog Anna hendak menunjukkan bahwa kepercayaan diri seorang ibu atau ayah memang memiliki dampak langsung atas terbentuknya keluarga yang bahagia. Seorang ibu yang mengalami depresi dapat menyebabkan anak mengalami gangguan psikologis. 


Dengan mengutip Van Leon, dkk (2013), seperti ini:
Orangtua yang mengalami depresi -> kurang memonitori anak -> anak remaja alami gangguan psikis

Walau toh psikolog Anna juga menyatakan bahwa orangtua yang tidak percaya diri tidak serta merta membentuk anak yang tidak bahagia. Kenapa bisa begitu? Karena ada juga orangtua yang walau tidak percaya diri namun tetap berusaha keras membahagiakan keluarganya. Yah seperti pohon dengan dedaunan yang rimbun tapi akarnya keropos dengan cepat.

Kunci dari sebuah kepercayaan diri ada tiga langkah; kenali karakter positif saya, yakini karakter positif tersebut, lalu jalani. Contohnya; pada suatu hari kita terkejut, “Eh, ternyata saya bisa sabar ya.” Langkah selanjutnya katakan, “Saya memang penyabar, kok” dan kemudian “saya akan terus bersikap sabar”. Gampang, kan. (LOL)

But don’t worry, bahkan seorang psikolog pun memaklumi bahwa ada kalanya seseorang mengalami naik turun emosi. Yang penting selanjutnya adalah kembali ke jalan yang benar, secepatnya. Pikirkan bahwa kebahagiaan anak-anak bergantung dengan cara saya mengatur emosi.

Ada pun ciri-ciri bahwa kita mengalami depresi adalah ketika ada rutinitas yang berbeda, misal menjadi sulit makan atau bahkan terus-menerus makan. Jadi jika Anda melihat diri Anda atau orang-orang di sekitar Anda menunjukkan gejala-gejala seperti ini, itu berarti orang tersebut butuh pertolongan.

Ada satu sesi menarik di acara ini, saat itu psikolog Anna meminta kita menuliskan 2-3 karakter positif yang sejatinya ada pada diri orangtua, menurut kita. Setelah menuliskan kata “sabar”, “kreatif” dan “hangat” di sebuah kartu yang bergambar manis, kami diminta mengumpulkannya lalu kemudian kartu tersebut diambil lagi secara acak.


“Tidak ada yang namanya kebetulan.” Kata psikolog Anna. “Yang Anda dapatkan adalah karakter positif Anda yang belum Anda ketahui atau mungkin sudah Anda lupakan.”

Dan saya dapat apa? “Menjadi pendengar yang baik bagi anak” dan “Menjadi fans no. 1 bagi anak” Hmmm .... Actually, saya agak-agak berair mata ini saat membaca tulisan ini tapi saya tidak yakin sudah melakukan kedua hal ini atau belum.


“Masih ada kejutan lagi,” seru psikolog Anna. Nah loh. “Rogoh bagian bawah kursi yang Anda duduki, di sana ada gulungan kertas bertuliskan karakter positif. Ingat, tidak ada yang kebetulan.”

Nah, di sini baru lucu. Tebak saya dapat apa? “Rapi” Doeeeng ... ketahuan sama kakak-kakak saya mah pada senang mereka.



 Setelah ditutup dengan cara yang menyegarkan, dr. Elizabeth Yohmi Sp. A sekaligus Ketua SATGAS ASI IDAI memberikan pandangan tentang kaitan ASI dengan kesehatan bayi. Pun pembahasan ini terkait dengan kepercayaan diri seorang ibu. Tentu banyak informasi yang bertebaran bahwa kebanyakan kasus ASI kurang disebabkan oleh kurangnya ilmu tentang ASI dan kepercayaan diri si ibu. Informasi yang dipaparkan oleh dr. Elizabeth lebih banyak mengulik rasa ingin tahu para peserta. Dr. Elizabeth menekankan bahwa proses Inisiasi Menyusui Dini adalah langkah awal kesehatan bayi. Toh, beliau juga menyatakan bahwa tidak ada yang namanya IMD gagal.

Kebanyakan para ibu yang baru saja melahirkan melorot kepercayaan dirinya saat mengetahui jumlah ASI-nya ‘sedikit. Padahal lambung bayi yang baru lahir hanya sebesar kelereng dan bayi dapat bertahan selama empat hari tanpa ASI, jika si ibu mengalami kesulitan mengeluarkan ASI. Hal ini pernah saya alami pada anak pertama. Maklum, namanya anak pertama. Ibu saya terus menceritakan bahwa abang sulung saya minum 100 cc ASI begitu baru lahir, jadi ketika beliau lihat ASI saya hanya mengotori dasar botol, saya langsung dianggap memiliki ASI kurang. Sempat hendak memberi susu formula tapi syukurlah anak saya tidak suka dan benar saja di hari keempat dengan berbagai usaha, anak saya bisa menyusu dengan benar.


Itulah mengapa sangat disarankan untuk mendatangi klinik laktasi dari sebelum melahirkan. Kondisi tubuh yang lelah akibat melahirkan, justru membuat ibu baru merasa kehilangan fokus dan kemudian kepercayaan diri. Pengetahuan sejak dini tentang ASI akan mengatasi hal itu.

Menyusui pun ada tekniknya, pelekatan yang tepat akan mengoptimalkan jumlah ASI yang keluar. Kasus bayi rewel saat atau sesudah menyusui bisa jadi disebabkan oleh posisi mulut bayi yang tidak tepat. Pelekatan yang tepat adalah ketika si bayi  juga turut menghisap aveola atau daerah sekitar puting, jadi tidak hanya puting yang masuk ke mulut. Salah pelekatan juga bisa menyebabkan lecet pada puting. Nah, ini yang saya alami pada anak ketiga. Siapa bilang saya sudah lulus menyusui? Hehehehe ...

Saya merasa tersentil ketika dr. Elizabeth menjelaskan tentang tata tertib menyusui. Menyusui sejatinya sebagai pererat hubungan antara ibu dan anak oleh sebab itu, jangan menyusui anak sambil main ponsel (jiaaah ini anak kedua banget). Saat menyusui adalah waktunya memaksimalkan kelima panca indera anak. Belaian, pijatan, tatapan, percakapan atau nyanyian adalah yang semestinya kita lakukan saat menyusui. Tapi gimana dook, dia nyusunya lama bingiiiit kan pegal. (alesaaaaan aja gue).

Saya rasa penjelasan dr. Elizabeth ini cukup ramah, mengingat beberapa waktu sebelum acara ini mulai ramai lagi mom war terkait ASI dan konsumsi susu sapi. Padahal sebagai penyandang jabatan Ketua SATGAS ASI, saya sudah khawatir bakal mendengar doktrin-doktrin ekstrem. Eh, ternyata tidak.


Walau saya tidak mengikuti games dan makan siangnya karena suami harus segera meninggalkan anak-anak di rumah demi urusan pekerjaan, saya yakin sudah mengantungi lebih banyak ilmu hari ini dari yang saya dapatkan kemarin. Kiddos, here I come. Thank you, mommies daily. 

Untuk info lebih lanjut tentang Transpulmin Baby Balsam dan Kamillosan silahkan ke:
www.facebook.com/KehangatanIbu atau di twitter @KehangatanIbu
 

Minggu, 03 Mei 2015

hoMYNGGU: My Mom is the New Kartini di Gen Cerdik

Ahad kemarin, tepatnya tanggal 25 April 2015 lalu, kelas aktivitas Malika dan Safir alias Gen Cerdik mengadakan acara menyambut hari Kartini. Sebenarnya karena menyandang institusi pendidikan non formal, awalnya pihak Gen Cerdik tidak berencana mengadakan acara semacam ini. Namun, karena terinspirasi surat Kartini yang mengangkat soal peran ibu sebagai sumber ilmu pertama bagi anak-anaknya, maka dibuatlah acara lomba kecil-kecilan dengan tema “My Mom is the New Kartini”.

Pengumuman untuk acara ini memang baru disampaikan secara lengkap beberapa hari sebelumnya, tapi syukurnya memang tidak ada hal yang kemudian memberatkan para orangtua, seperti misalnya harus bayar atau harus pakai baju adat. Justru orangtuanya yang semangat mau cari baju adat, maklum hari Kartinian pertama buat anak-anak. Dari Gen Cerdik rupanya punya juga link penyewaan baju adat, jadi para ortu tinggal mampir di Gen Cerdik untuk pilih-pilih baju yang sesuai minat dan ukuran.

Saya sih ga sempat urus-urus baju adat, secara baru lahiran juga. Niatnya Cuma ingin anak-anak ikutan lomba biar senang, ga senep karena acara bermain jadi agak terbatas pascakedatangan adik baru. Malika pakai kaftan saja, anggap saja Kartini dari Timur Tengah. Safir tadinya mau dipakein kostum Batman, tapi yang keambil Transformer, yah sudahlah.

Kami keluar unit sejak pukul 10-an. Acara di Gen Cerdik baru mulai pukul 14. Agak salah memulai hari yang berakibat anak-anak rewel karena belum makan dari pagi. Ngalor-ngidullah kami di bawa, eh kecuali saya yang sempat balik ke unit mau menyusui. Dari langit yang cerah hingga hujan deras. Dan sampailah kami di Gen Cerdik dengan nomor urut hadir 1 & 2.

Awalnya Safir ga mau ikutan lomba, biasalah begitu sampai di Gen Cerdik dia sesumbar ingin ikut lomba yang banyak. Lombanya sendiri direncanakan ada tiga macam, idenya adalah membuat para ibu senang; lomba pertama membuatkan makanan untuk bunda, lomba kedua free style make up dari ananda untuk bunda, lomba ketiga bunda memasang gambar anggota wajah dengan mata tertutup dipandu oleh anak & pendamping.

Rupanya antusias para orangtua memang besar, yang datang tidak hanya bocah-bocah berpakaian daerah tapi juga busana resmi lainnya, ada juga yang pakai baju santai. Ortunya juga begitu, ada yang dandan cantik, ada yang kucel kaya saya dan suami hahaha. Bebas lah, yang penting happy.

Saya sendiri sebenarnya lebih memikirkan bagaimana teknis perlombaan jika diaplikasikan pada saya yang bawa tiga anak dan dua di antaranya adalah siswa Gen Cerdik. Dan rupanya mestakung. Safir tidur. Begitu masuk ruang Gen Cerdik dan sambil menunggu anak-anak lain, dia goler-goler di karpet puzzle berukuran besar itu dan kemudian merem, tak terusik sama sekali. Lalu ada salah satu orangtua datang melihat Meutia yang masih berumur seminggu itu, ga hanya melihat tapi juga digendong dan selfie bareng suaminya eh tahu-tahu sudah dibawa aja Meutia di dalam sementara saya dan suami juga Malika siap menjalani lomba pertama kloter 1, menyiapkan makanan. Serasa punya satu anak hahaha ... Usai pembukaan dan pembacaan surat RA Kartini oleh Miss Rachmi sebagai CEO, lomba pun dimulai.




Makanan yang disiapkan juga bukan yang rumit, disediakan biskuit sandwich kopong, sedikit meses, sedikit parutan keju dan susu kental manis. Malika sudah punya ide sendiri, Amy hanya menanti, ayahnya jadi souz chef. Lalu taraaaa ... jadi deh. Walau tidak bisa langsung dimakan karena harus dinilai, tapi saya sih senang-senang saja makannya, lapar bo!


Safir baru bangun menjelang lomba kedua kloter kedua, nah baru deh full team. Mata saya ditutup, tangan kiri gendong Meutia, tangan kanan berada di atas dua kertas a5. Ya, dua, karena saya memasang untuk dua bocah sekaligus. Ga perlu menang kan? Yang penting happy, kan acara keluarga. Dan begitu penutup mata dibuka, lha tinggal kami doang memang hahahaha. Sayang ga ada fotonya. Juru potret bantuin yang baru bangun tidur soalnya.

Malika sudah menanti-nanti apakah dia memenangkan sesuatu, saya menyiapkan dalam hati apa yang akan saya katakan padanya karena saya yakin kami tidak menang apa-apa. Hadiahnya tidak muluk-muluk, bukan trofi, ‘sekadar’ cetakan dino dan buku. Dan ketika semua pemenang diumumkan, Malika cengar-cengir saja karena tidak menang. Eh rupanya tim Gen Cerdik baik hati, semua anak dikasih hadiah. Yang bikin saya ge er adalah keluarga kami disebut pertama sebagai penerima hadiah apresiasi. Kata miss Rachmi sih karena mau repot-repot bawa bayi. Horeee ... akhirnya Malika dan Safir dapat hadiah juga, dari Manthilis lagi—ga sia-sia saya ga jadi beli waktu itu (lho?).

Oh iya, ada bonus keriaan lain. Photobooth. Anak-anak difoto satu persatu dengan studio dadakan. Agak telat si fotografer datangnya karena akhirnya ada anak yang sudah game over baju adatnya hehe .. but then again, ga masalah, yang penting happy. Malika dengan muka kucel dan rambut acak-acakan pun ikut bergaya. Safir masih belum tune in dari mimpinya, yah suds, liatin aja.


Dan hari yang sudah menjelang sore pun menghampiri, orangtua yang lelah dan tiga bocah yang masih terang benderang matanya karena dapat hadiah pun kembali ke unit. Mengerjakan proyek  manthilisnya ditunda hingga besok. Ga sanggup, euy. Biarlah kalau dianggap tidak sekeren Kartini, yang penting Amy mau istirahat dulu. Dan anak-anak pun tidur dua jam kemudian, sambil membawa kenangan tentang hari itu. Seperti kata Malika, “aku senang banget hari ini ... ikut lomba, bikinin amy kue, dapat hadiah lagi!”



Thank you, Gen Cerdik for the experience .... 

Kamis, 02 April 2015

KAMYStory: Insting Bersarang

Konon pada masa kehamilan ada sebuah insting yang muncul, yaitu insting bersarang alias nesting. Insting dimiliki pula oleh hewan. Saya jadi ingat kucing-kucing hamil yang suka berkeliaran di berbagai sudut rumah masa kecil saya, mencari spot terbaik untuk melahirkan. Pada saat-saat seperti itu, lemari baju adalah yang pertama yang harus diamankan. Jangan sampai lupa dikunci hehehe ... 


Insting ini tidak pernah  muncul di kehamilan pertama dan kedua, memang apa bedanya? Satu yang beda, saya di rumah sendiri. Sebelumnya kan di rumah orangtua, jadi yah secara tertulis bukan sebenar-benarnya sarang bagi saya.


Nah, di semester awal saya belum merasakan insting ini. Iya, rumah berantakan karena saya secara fisik tidak sanggup ngapa-ngapain. Semester kedua masih belum bisa ngapa-ngapain tapi saya mulai frustasi lihat rumah. Sampah dan cucian piring yang teronggok sampai pagi hingga mengundang kecoak kecil-kecil. Setrikaan menggunung, beneran kaya gunung karena nyaris mencapai atap. Serius. Saya pikir, ok i have enough. Sejak awal semester saya sudah mengiba pada suami agar dia mau mencuci piring karena saya tidak tahan baunya. Lumayan lah. Walau sekarang sudah jarang dia lakukan karena sudah keduluan sama saya. Bosen kali dia hehehe.


Lalu saya pun mengajak bicara salah satu bibi teman Malika yang kebetulan satu tower. Saya tahu setiap Sabtu dan Minggu dia libur tapi masih tetap di Kalibata City. Jadi saya tawarkan untuk ke unit saya di salah satu hari liburnya. Jobdesknya? Menyetrika yang utama, lalu menyapu dan mengepel. Bagi saya yang anti ART, ini langkah besar, bukan buat kemudian menjadi terbiasa dengan ART loh ya. Saya harus realistis sama kondisi saya dan kebersihan rumah. Ga perlu bersih-bersih amat, tapi kalau tidak ada yang menyapu dan mengepel setidaknya seminggu sekali, lantai rumah tuh bisa licin karena minyak dan mengundang serangga-serangga lain. Itu yang bikin sebal.


PR selanjutnya adalah tata ruang. Oleh karena akan ada makhluk baru penghuni unit kami, maka saya harus memikir ulang tentang susunannya. Maklum, tiap orang punya minimal ruang yang harus dimiliki dan itu perlu trik untuk mengaturnya di unit kami yang ‘gede’ banget ini. Dan karena saya pribadi yang berantakan, pe er ini jelas bukan pe er yang mudah. Lemari baju, kitchen set, dan rak yang ga seberapa ini menjadi tantangan bagi saya setiap minggunya. Ketika berhadapan dengan lemari baju, saya menghubungi teman sekaligus tetangga yang sudah diketahui tingkat neat freaknya. Via whatsapp saya foto lemari baju dan komentarnya, “kenapa ada panci di lemari baju, Amy?”


Wakaka malu deh. Jadi poin pertama dari membereskan adalah, mulai menaruh segala sesuatu di tempat yang sesuai dengan visi misinya. Misal, lemari baju ya buat tempat baju. Rak buku ya buat buku, bukan buat stok susu literan. Saya keluarkan dulu deh yang tidak berhubungan dengan tempatnya lalu menyusun hanya yang memang pantas dimasukkan ke sana.


Nah kemudian poin kedua adalah klasifikasi. Misal, mana baju kasual mana baju formal. Mana botol bumbu, mana kotak kontainer makanan, mana panci. Mana buku bacaan, mana buku aktivitas. Semua ini menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan. Merapikan satu baris rak saja bisa satu hari sendiri dan kemudian ngos-ngosan hingga beberapa hari mendatang. Hasilnya, lumayaaan.


Poin ketiga, mempertahankan. Nah ini yang sulit hahaha. Apalagi setelah itu baju-baju bayi mulai eksis dan semua mulai terasa nyata. Belum lagi, kami kan masih beraktivitas sebagai manusia hidup, jadi yaaah, gitu deh. Sekarang saya pusing lagi, bagaimana mengaturnya hehehehe .... cuma satu efek sampingnya, saya jadi tambah galak. Hadeeeuh ...


Moral of the story? Pindah rumah aja yuuuk :D


Sabtu, 23 Agustus 2014

Kebun Raya Bogor: Liburan para Bunda dan Anak-anaknya

Terkadang berteman itu terjalin ketika kedua anak kita saling berkawan di sekolah. Untuk kasus saya, kebetulan pula teman anak saya itu juga tetangga. Yah, beda tower di komplek Kalibata City ini. Dan ketika liburan sekolah (playgroup) datang, maka itu artinya PR tambahan bagi pemilik dua anak balita. Termasuk kami berdua, saya dan Farah (atau biasa saya panggil Bunda). Oleh karena itu, kami mulai merancang jadwal outing bersama. Ke tempat yang jauh dari Kalibata. Bertema piknik. Dan terpilih satu tempat. Kebun Raya Bogor.

Rasanya sudah lebih dari satu dasawarsa saya tidak pernah masuk Kebun Raya Bogor. Paling gres ya waktu SMU (sekitar berapa belas tahun yang lalu ya itu ^^’), itu pun ga greget karena terpaksa bete lihat yang bawa pacar. Dan memang Kebun Raya Bogor seperti menjadi pilihan bagi tujuan wisata keluarga, tur studi anak-anak SD, dan lokasi pre-wed. Lokasi pacaran? Huehehe ... mitosnya kan bakal putus.

Sabtu menjadi hari pilihan karena memutuskan akan menggunakan mobil Bunda dan tentu disopiri sang suami. Kami sekeluarga sih nebeng, paket hemat. Sengaja dipilih hari Sabtu, karena hari Minggu itu mobil dilarang masuk. Repot ya kalau bawa anak kecil jalan jauh. Mereka main sih kuat lama-lama, tapi kalau disuruh jalan kaki terlalu jauh ya jiper juga. Belum lagi kalau tiba-tiba hujan.

Pagi itu ambil rapor dulu baru berangkat. Namun, karena kedua anak saya itu lama moodnya untuk sarapan akhirnya ga makan apa-apa deh. Hasilnya? Safir, si kecil, muntah-muntah saat mengemil makanan kecil di mobil. Baju cadangan habis, terpaksa pakai baju kakaknya. Dilalah, saya tidak bawa baju biseksual. Jadilah Safir menggunakan kaos bertuliskan, “Sorry, I Only Date Superhero”. Pink pula. Hadeuh. Safir memang sering dibilang anak perempuan sih, tapi kaaan ... Saya pun berpesan pada ayahnya untuk memotret sedemikian hingga agar tulisannya tidak terlihat. Biarin deh dilihat orang sekitar dan salah kaprah, asal jangan sampai terdokumentasi. Bisa jadi dosa seumur hidup.

Begitu keluar tol Bogor barulah kami ketemu macet. Dan macet yang teramat lama sehingga perut pun sudah keroncongan. Apalagi Bunda yang terus menerus ditagih tangki susu oleh si bayi, Fia. Malika, anak pertama saya, sudah mulai mual dan duduk dengan posisi ga jelas sama ayahnya di depan. Memang melanggar peraturan, toh mobilnya ga bergerak ini.

Akhirnya sampai di lokasi. Tadinya mau ke taman air, tapi akhirnya kami memutuskan untuk mengambil posisi di jantung Kebun Raya Bogor sejak dulu kala, lokasi dengan tanah lapang paling luas. Setibanya di sana, anak-anak seolah lupa dengan segala mual, lapar, dan lain sebagainya. Nasi hanya ditelan beberapa suap sudah jumpalitan ke sana ke mari. Malika lapar lihat pohon-pohon besar, dia ingin memanjatnya. Akhirnya saya tempatkan dia di salah satu cabang pohon dan dia berperan sebagai Bageera si macan kumbang di serial Jungle Book. 


Bagi kami, para ibu, ini saatnya sedikit ‘me time’. Anak-anak sibuk berlarian ke sana kemari, kami cari posisi untuk difoto. Iyalah, dengan lanskap sebagus dan sehijau ini masa sih kita ga bisa foto-foto? Masa sih Cuma anak-anak yang difoto? Lagipula anak-anak itu ga betah difoto terlalu sering, ya sudahlah, kebetulan. Inginnya foto pascawedding sama suami di salah satu bangku taman, tapi yah agak ga kesampean kalau yang itu. Para ayah kan jagain anak-anak. Kami juga bisa ngobrol sana situ tanpa kena intervensi dari anak-anak yang merasa kurang diperhatikan hehehe ....


Rencana kami ingin mengunjungi beberapa spot di Kebun Raya Bogor pun kami anulir karena yah namanya anak-anak ga mau terlalu banyak naik turun mobil. Mau ke museum zoologi juga ga jadi, karena sudah keburu laparrrr. Jangan biarkan emak-emak kelaparan.  Jadi, silahkan puas-puasin deh, bocah.

Setelah beberapa jam di sana (beneran!), sebelum pulang kami menyempatkan diri ke spot yang menghadap ke Istana Bogor. Sebenarnya hari itu Istana dibuka untuk umum tetapi jalan masuknya beda. Ya suds lah, foto-foto saja dulu dengan latar istana yang pernah dicoret-coret nenek Malika & Safir saat demonstrasi penggulingan Soekarno.

Lalu tujuan terakhir untuk anak-anak adalah ... memberi makan rusa. Kegiatan ini dilakukan di bagian luar Kebun Raya Bogor. Ini juga pause time buat Bunda, lumayan istirahat. Saya yang supervisi anak-anak.

Usai beli oleh-oleh, hujan pun turun. Alhamdulillah semua sudah selamat di mobil dan anak-anak tidur dengan lelap sampai tujuan.


Kapan-kapan jalan-jalan lagi yuuuk, Bunda .... 

Jumat, 21 Februari 2014

Nonton Konser di MEIS? Hadooooh ...

Bruno Mars mau datang Maret ini? Yes! Terus, Juni nanti Taylor Swift datang ke Indonesia? Yuhuuu, yess!! Di mana, di mana? Di MEIS!!! ck, damn ... :-/

Bagi sebagian besar orang, nonton konser adalah hal menyenangkan yang kudu dilakukan sebelum menikah. Nah, saya terbalik. Menikah, biar gampang kalau mau nonton konser. Maklum, mantan pacar dulu reporter kolom lifestyle.
namun, dunia berputar. Si mantan pacar tidak lagi reporter lifestyle. Dan kini jika si istri hendak pergi, pertanyaan pertama adalah 'anak-anak bagaimana?' -_-

Guess, tidak semua bisa dipaksakan kehendaknya. Dua tahun lalu, saking ngebetnya nonton konser untuk pertama kali, demi boyband Korea, BIGBANG, saya kasih full service buat suami sebagai penjaga dua bocah. Hasilnya? Gue bangkruut ... Itu karena konsernya di MEIS, Ancol.

MEIS atau Mata Elang International Stadium adalah versi indoor-nya pantai festival. Itu loh tempat dugem-dugem di pantai kalau ada DJ luar negeri konser. Tempat ini entah kenapa paling mulus di acc para artis luar negeri buat konser di sana. Padahal dari lokasi, ga ramah ibu-ibu banget! Ini alasannya:

1. Jauh
Ya, jauh banget. Ga hanya jauh dari pusat tapi juga jauh dari jalan raya. Jadi kalaupun mau menggunakan angkutan umum selain taksi bisa dibilang 'masuk bisa keluar sulit'. Taksi yang nongkrong pun mencurigakan semua. Ada kek pool resmi, blue bird kek, gamya kek, taxiku kek ... Kan kasihan para alay-alay yang nonton konser kudu jadi cabe-cabean dulu biar bisa pulang.

Ada sih yang nekat jalan kaki keluar Ancol, ya macet juga di dalam. Tapi di luar itu juga horor. Ancol dikelilingi jalur flyover dengan kali-kali dengan air hitam membentang di kiri-kanan jalan. Dan ... Minim pencahayaan. Ada siy tempat yang ramai lampu di dekat situ ... Night club .. Beuuh ...

Nah, kudu nunggu sampai pagi?

2. Berat di Ongkos
Oleh karena bawa keluarga, saya jadi banyak pengeluaran lain-lain. Ya penginapan (konon kalau ada yang konser di Ancol, hotel di sepanjang jalan Gunung Sahari pada penuh), sewa mobil (biar saya bisa pulang dengan selamat pascakonser), dan biaya lain-lain yang jumlahnya bisa sama dengan harga tiket yang sudah dibeli lewat calo. Malah lebih. Duh, benar-benar deh pengalaman pertama saya =).
Seharusnya pihak Ancol menyediakan angkutan internal yang tetap beroperasi hingga tengah malam. Biar sama-sama enak gitu.

3. Rugi Beli Seat di Balkon
Saya agak terkejut ketika mengetahui bahwa yang namanya seat di balkon itu benar-benar bagian balkon yang posisi duduknya tidak seperti stadium alias tidak miring. Jadilah para penonton meninggalkan kursi mereka dan merapat di pagar balkon. Untung gue ga beli di situ. Festival is the best lah.

4. Sistem Pintu Masuk dan Keluar yang Aneh
Waktu itu saya datang terlambat. Sudah jantung mau copot karena takut kebagian tempat yang ga bakal kelihatan TOP BIGBANGnya, saya jadi keder sama pintu masuknya. Mobil berhenti di lobi, tapi yang nonton kudu ambil pintu dari samping. Jadilah saya yang sudah lama sekali tidak olahraga, berlari masuk keluar cari pintu masuk. Dan MEIS itu settingannya mal. Mungkin ketika belum masuk, sengaja dibuat panjang rutenya biar muat.

Dan ketika konser usai, kita semua keluar dari berbagai pintu tapi begitu turun hanya bisa menggunakan satu akses. Ada satu sisi dengan dua eskalator dan tangga yang lebar di tengahnya. Anehnya, si tangga ditutup. Jadilah kita mengantri eskalator yang sempit dan ga dinyalain pulak. Sengaja dilamain kali ya, biar artisnya bisa aman tentram keluar venue =P
Bagi ibu-ibu kaya saya sudah sibuk lihat jam. Waktu itu, anak yang kecil belum 6 bulan jadi masih bangun tiap 2-3 jam.  Jadi, walau konsernya tepat waktu mulai dan selesainya, drama ngantri ini yang bikin malam terasa lammmaaaa ....

Ini sudah alhamdulillah, masih di Jakarta. Lha Justin Bieber? Sentul boook!

Nah yang kaya begini rasanya ingin coba nonton konser BIGBANG di luar negeri. Yang ga ada calo, akses transportasi umum oke (biar jauh dr pusat tapi transportasi oke mah ga masalah), pasti harganya ga beda jauh deeeh ...
Dan ketika saya lihat dua artis muda ini sudah konfirmasi mau datang dan manggung di MEIS, saya hanya bisa tarik pipi ... Siapa yang mau bayarin dan anterin gue, yak =D

*ikutan lomba blog aja dulu kali aaah ...