Tampilkan postingan dengan label perokok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perokok. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

Diary Sang Zombigaret: Membayar Dosa Masa Lalu si Gadis Perokok


Uhuk uhuk.

Suara batuk itu terdengar lagi di sela tawa mereka. Dua bocahku. Pilu rasanya hati ini setiap kali aku mendengarnya. Ketika kenyataan menghantamku seratus kali lebih hebat. Lebih nyata dari setiap ngilu yang kurasakan saat ini akibat efek kemoterapi. Ya, bagi seorang ibu, sakit anak adalah derita. Dan lebih menderita lagi jika sakit itu ditularkan oleh aku, ibunya sendiri.

Awalnya hanya pemeriksaan rutin anak-anak ke dokter anak langganan kami. Namun, melihat tubuh kedua anakku yang turun drastis berat badannya akhirnya pemeriksaan berlanjut menjadi rontgen dan kemudian suntik mantoux. Hasilnya, positif TB.

Aku langsung melirik suamiku dengan tatapan menuduh. Si perokok aktif dan pernah mengalami pengobatan TBC. Dengan kesal, aku turut memeriksakan diri. Namun, urutannya kini berbeda. Usai menjalani rontgen, aku menjalani serangkaian pemeriksaan darah. Aku curiga. Ada yang tidak beres. Tak banyak yang kupikirkan, karena aku fokus di pengobatan anak-anak yang harus disiplin selama enam bulan. Aku dialihkan dari satu dokter ke dokter yang lain. Entah kenapa, aku pun tak terpikir untuk bertanya sejak awal. Ketika akhirnya aku bertanya, ada sedikit sesal, karena jawaban panjang lebar si dokter hanya tersangkut beberapa kata di kepalaku. Kanker paru-paru. Dan ada TBCnya.Ternyata aku penyebabnya.

Pikiranku membawaku melayang pada perkataan abangku, “Bagi perempuan, sekali kamu merokok, maka tombol risiko kanker otomatis menyala.” Ucapannya  dua puluh tahun yang lalu, ketika mengetahui aku merokok.

Aku menolak mengindahkan protes bagian otakku yang lain, “tapi aku sudah berhenti merokok sepuluh tahun  yang lalu.”

Tak ada yang merokok di rumahku semasa aku kecil. Aku hanya melihat orang merokok ketika adik-adik ibuku datang. Namun, yang membuatku tertarik adalah ketika melihat kedua kakak perempuan papaku dan juga anak perempuannya merokok. Saat itu, usia 9 tahun, aku merasa mereka terlihat seperti perempuan berkelas nan dinamis. Memang di budaya Sumatra zaman dulu, para wanita dengan tingkat strata tinggi biasanya merokok sembari mengunyah sirih. Atas nama budaya aku bahkan mengidolakan salah satu tokoh perempuan cantik dalam kisah Jawa yang merangkap sebagai penjual rokok, ketika para lelaki mengantri untuk membeli rokok bekas hisapannya. Aku merasa terikat dengan sejarah saat memikirkannya.

Lalu rokok adik-adik mamaku lah yang menjadi modal awal saya mencoba merokok. Tidak ada yang mengajari. Aku belajar cara menyalakannya yang tidak seperti lilin. Tidak ada rekan kejahatan, hanya aku sendiri. Saat teman-teman SMP baru belajar merokok, aku justru menghindar dari mereka. Ah, norak, gue dah jago.

Aku memang pongah, sepongah ketika aku menyindir suami. “Gue dah move on. Kamu kok malah masih sibuk cari identitas diri?” Ya, saat itu aku sudah berhenti. Aku sudah bosan merokok. Lagipula di zaman sekarang merokok tidak lagi membuat aku terlihat keren atau berkelas atau dinamis. Kenapa? Karena aku lihat para ibu pengemis, gadis-gadis jalanan, mereka pun merokok. Aku hilang rasa. Itu semua omong kosong. Aku tak lebih dari seorang zombigaret. Berkeliaran dengan paru-paru rusak dan berdandan seolah aku keren.

 


Aku belum bebas. Seperti banyak penderita kanker lainnya, setiap manusia memiliki kemampuan masing-masing terkait organ tubuhnya. Ada yang sensitif, ada yang tidak. Ada yang merokok ratusan tahun tetapi masih hidup. Ada yang menjadi perokok pasif tetapi jadi penderita. Aku ‘hanya’ merokok lima belas tahun. Bukan perokok berat. Tapi, Tuhan berkata lain. Aku membayar dosaku.

Suamiku datang untuk merapikan selimut yang memeluk tubuhku. Dia kini berhenti merokok. Akhirnya. Dulu, aku takuti dia dengan masa depan anak-anaknya jika dia meninggal cepat. Namun, dia berkilah dengan jumlah asuransi yang akan anak-anak dapatkan. Ah, rupanya jika yang tercinta sakit parah akibat merokok barulah dia tergugah. Dia pun memulai hidup sehat. Sesehat-sehatnya.

“We will survive.” Bisiknya di sela nyaring pekik riang anak-anak yang tengah bermain di ruang tengah. Semoga.


Sumber foto: www.facebook.com/zombigaret