Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 April 2017

Everybody’s Hurt di “KARTINI”


"Ibuuu!" jerit seorang gadis kecil sambil ditarik-tarik dua anak laki-laki.
"Panggil Nyi!" kata salah satu anak laki-laki yang sepertinya sudah hendak remaja.
"Itu ibu kita!" tangis si gadis pecah. 

Film Kartini seolah hendak memberikan tempo lambat dengan sorotan kaki dan lutut yang bergantian memasuki lantai, tetapi yang terjadi tak lama dari itu adalah ... banjir airmata. 

Kartini yang disutradarai Hanung Bramantyo ini mengambil kisah Kartini sebelum menikah. Bahwa Kartini sejatinya telah menjadi 'Si Kartini' sejak kecil. Dia mengembangkan sayapnya sendiri dan kemudian tetap melambung terbang walau akhirnya menikah. 

Namun, Kartini tidak bangkit sendirian. Jika kunci menuju 'pintu keluar' kamar pingitan tidak diberikan oleh masnya, Kartono, mungkin dia masih merutuki dalam gelap terkait tradisi menuju seorang Raden Ayu. Dan Kartini mungkin tidak akan mendapat kesempatan meraih pendidikan Belanda saat kecil, jika romonya tidak menikahi seorang putri bangsawan sebagai istri kedua. 

Masing-masing generasi wanita Jawa dengan caranya sendiri berkorban demi kehidupan keturunannya yang lebih baik.

Beberapa waktu buat Daun Semanggi, ternyata Het Klaverblad merupakan nama pena Kartini bersaudari

Perjuangan yang nyata memiliki halangan yang nyata pula bagi Kartini, tetapi karena diambil dari kehidupan nyata, tak ada orang yang benar-benar ditokohkan jahat murni, semuanya memiliki alasan yang tak kalah pilu. Dengan kata lain, semua orang punya lukanya sendiri walau tujuannya sama. 

Film yang dibuka dengan airmata ini, ditutup dengan airmata pula. 

Sudah lama ingin lihat film Kartini, karena sempat ada penawaran pre screening bareng alumni FIB UI tanggal 7 April lalu. Sayangnya, waktunya ga cocok sama ibu-ibu. Eh masih diberi rezeki nonton saat tawaran pre screening muncul di grup Komunitas Emak-emak Blogger, boleh bawa teman lagi. Waktu dan tempatnya pun cucok. Dan saya pun cuss ke cinema XXI hollywood. 

Yang saya perhatikan di sini adalah Dian Sastro yang memang banyak menggunakan bahasa Belanda walau pernah berkeliaran di kampus yang sama dengan Distro di FIB UI, sayalah yang mengambil jurusan bahasa Belanda. Dan bagi saya, pengucapan Dian di film ini bagus sekali. Ga jadi deh mau saya kritik. Terbayang latihannya. 

Cara Hanung meramu momen-momen Kartini saat melahap buku dan berkorespondensi pun cukup menarik. Kita dibawa ke imajinasi Kartini dan kemudian turut merasakan besarnya keinginan Kartini untuk pergi ke Belanda.

Saya tergelitik ketika mendengar sebaris dialog saat ayah Kartini ditentang keluarganya terkait beasiswa pendidikan Kartini ke Belanda. "Kalau dibiarkan, nanti ditiru orang miskin. Nanti bisa ada anak tukang kayu jadi raja!" ^^

Saya punya kebiasaan tidak membaca siapa saja para pemainnya dalam sebuah film sebelum menonton, jadi saya terkaget-kaget bahkan hingga credit title. Eh ternyata ada Djenar, eh ternyata ada Reza Rahadian (orang ini ada di mana-mana yak), eh ternyata itu Acha Septiasa. Dan jangan lupa, Christine Hakim juara aktingnya. 

Keluar dari bioskop rasanya ingin segera melahap lebih banyak lagi tentang Kartini. Teringat akan buku kumpulan surat Kartini yang merupakan hadiah tapi lama tak disentuh. Belum lagi bakal ada novel Kartini  yang bersanding dengan filmnya dan akan diterbitkan oleh noura Publishing tak lama setelah filmnya resmi meluncur di bioskop-bioskop. Must have. Biar semangat jadi perempuan. 

Walau Kartini tidak jadi mengambil beasiswa pendidikan ke Belanda, tetapi kini di Belanda justru tertera namanya sebagai nama jalan. Jadi bagaimana cara kita mengapresiasi perjuangan Kartini? Tentu lebih dari menjadikan tanggal 21 April sebagai hari kebaya nasional kaaan ^^

Menulisi Kutipan Kartini di tas. Iseng ^^

"kita bisa menjadi manusia sepenuhnya tanpa berhenti menjadi wanita sesungguhnya." R. A. Kartini. Namun semua itu perlu usaha, perjuangan. 

Seperti kata Mas Kartono, "jika cita-cita bisa dihadiahkan, kamu tidak akan bisa jadi Pandita Ramambai"





Minggu, 20 November 2016

CREATIVITY IN A SQUARE: Syi’ar dalam Sepetak Kanvas – Qonita Farah Dian


sumber foto: Instagram @Qonita_farah_dian


Waktu sudah mulai mendekati pukul 11 siang, seorang wanita yang tadinya tengah sibuk dengan tube-tube cat acrylicnya di sebuah gazebo di pinggir kolam renang di Green Palace, Kalibata City, merapikan kembali bercak-bercak idenya lalu bersegera meluncur menjemput putra semata wayangnya pulang sekolah.

Namanya Qonita Farah. Setelah menerima pertemanannya di Facebook, saya terkadang membiasakan diri memanggil dengan nama aslinya ketimbang panggilan sayang para mama di sekolah yang sering melibatkan nama anak. Sejatinya kami bertetangga di Kalibata City, tapi baru bersua saat kedua anak kami berada dalam satu kelas di TK yang sama. Tak lama, kami pun bergabung di sebuah komunitas yang sama di Kalibata City, Friday Fun Club. Dari kegiatan FFC lah, saya baru mengetahui bahwa ibu ini adalah seorang pelukis.

Pertama kali mengetahuinya, I was like what .... ? Namun kemudian saya ingat reaksi para tetangga ketika saya katakan menerima orderan kue. Reaksi yang wajar terbentuk karena betapa ‘luasnya’ unit kami. Tetap saja, saya lama ternganga. Melukis adalah pekerjaan yang secara fisik membutuhkan ruang dan waktu. Beda dengan kue, yah sehari dua hari lantai berminyak. Setelah uang diterima, beres pula dapurnya ^^. Apalagi jika dibandingkan dengan aktivitas saya sebagai blogger atau editor, hanya perlu laptop. Itupun harus tunggu anak3 tidur, biar aman. But to paint, really?

“Seringkali kita menjadikan banyak hal dalam hidup sebagai alasan. ‘Karena menikah, jadi terbatasi. Karena punya anak, jadi terbatasi. Karena ruang sempit, jadi terbatasi’. Semua batasan itu sebenarnya hanya kita buat sendiri, yang akhirnya hanya membuat kita berhenti (boro-boro jalan) di tempat. Ketika teman-teman kita sudah ke bulan, kita tidak ke mana-mana.”

Saya jarang bertemu dengan pelukis atau seniman betulan. Yang pernah saya temui hanya seorang seniman dari kampung mama saya bernama Itji. Konon termasuk salah satu pelukis terbaik yang pernah ada di Indonesia. Dandanannya nyentrik dengan jaket biru. Saya pikir (dan dengan melihat banyak film tentang seniman) itulah pencitraan seorang seniman. Makanya saya agak sulit menyandingkan kata ‘pelukis’ dengan seorang ibu rumah tangga berparas ayu dengan tutur kata lembut itu.

“Dulunya sih pernah arsitek.” Selorohnya di awal-awal perkenalan kami.
Terkadang saya tidak tahan untuk kepo terkait latar belakang pendidikan tetangga saya di Kalibata City. Ada yang berbeda dari mereka, walau statusnya sesama ibu rumah tangga dengan kegiatan mayoritasnya adalah antar jemput anak.

Lakonnya sebagai arsitek tak lama memang disandang Mba Farah. Dinas suami mengharuskan dirinya turut berpindah-pindah kantor. Dari Jakarta, Jogjakarta, Semarang, lalu kembali lagi ke Jakarta. Hingga kemudian, dia memutuskan tak lagi menjadi pegawai kantoran. Namun, menjadi ibu rumah tangga sedangkan buah hati belum kunjung tiba, terkadang menimbulkan sepi di hati, itulah yang kemudian mendorongnya melukis di atas kanvas. Rupanya, memang tidak ada hal yang muncul secara mendadak.

“Alhamdulillah saat duduk di bangku SD, pernah beberapa kali menjadi juara di lomba gambar. Hanya saja kegiatan ini berhenti sama sekali begitu masuk SMP hingga kemudian duduk di bangku kuliah menekuni ilmu arsitektur. Ada banyak bekal yang didapat dari kuliah, mulai dari komposisi bentuk dan permainan warna. Setelahnya saya banyak membaca buku-buku tentang teknik melukis dan beberapa biografi pelukis. Namun, kanvas baru benar-benar menjadi fokus melukis pada tahun 2007 ketika pindah ke Semarang.”

“Pada tahun 2010, di Jakarta, saya mendatangi sebuah pameran yang diselenggarakan IWPI (Ikatan Wanita Pelukis Indonesia). Di sana, saya sempat berbincang-bincang dengan salah seorang pendirinya. Merasa diterima dengan hangat, saya pun bergabung.”

keterangan: sharing melukis di kegiatan FFC


Kini, fokus lukisan Mba Farah adalah di kaligrafi kontemporer yang dapat dilihat di Instagramnya @qonita_farah_dian Kalau diperhatikan, latar sebagai arsitektur senantiasa terbawa dalam lukisannya, apalagi ketika saya mendapat kesempatan melihat lukisannya saat masih berbentuk sketsa. Dengan segala garis-garis lurus itu ^^. Dan ada penggaris tergeletak di dekatnya.

“Tantangan melukis di kanvas adalah teknisnya alih-alih tahapannya. Coba-coba menggunakan cat minyak dan acrylic. Tapi karena kemudian saya punya bayi dan tinggal di unit yang terbatas, penggunaan cat minyak saya rasa terlalu tajam baunya sehingga khawatir akan berbahaya bagi kesehatan. Akhinya saya memilih acrylic yang lebih aman.”

“Ada masa-masa saya sempat mencari jatidiri dalam melukis. Namun yang paling utama dibangun adalah kepercayaan diri dalam melukis. Keisengan mengikuti seleksi golden box yang diselenggarakan Jogja Gallery dan kemudian diterima, sungguh menjadi alat pacu yang sangat berguna dalam proses saya menjadi pelukis yang lebih percaya diri dan kemudian menghasilkan karya-karya yang lebih baik.”

“Awalnya memang tidak PD untuk menjual, tetapi ketika sedikit demi sedikit karya saya terpasang di dinding rumah saudara saya, kawan, atau kerabat, itu menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan. Sehingga saya semakin semangat, semakin yakin dalam menggeluti passion ini.”

Dari sekian banyak genre lukisan, kenapa kaligrafi? Bukankah pencitraannya agak pasaran? Pikiran saya melayang ke kios-kios penjual bingkai.  Apalagi dengan latar belakang pendidikan yang terdengar keren itu.

“Mungkin faktor usia juga yang membuat saya memilih kaligrafi. Dengan melukis kaligrafi saya turut terlibat dalam syiar Islam. Saya berharap hal ini diridhoi Allah dan lebih bermanfaat bagi orang banyak sekaligus menjadi energi positif bagi diri sendiri.”

“Justru karena sadar orangtua sudah menyekolahkan hingga S2, alangkah kasihan mereka jika ternyata saya tidak menjadi apa-apa dalam artian tidak bermanfaat untuk orang banyak. Dan alhamdulillah keluarga, terutama suami , sangat mendukung dan tidak bosan-bosannya memberikan motivasi pada saya agar bisa terus berkarya.”

 Dari unit yang berluas tidak lebih dari 35m3 ini, menurut Anda berapa yang dia hasilkan setiap bulannya?

“Tidak pasti. Pernah mengalami pesanan hingga 25 lukisan ukuran kecil/sedang. Pernah juga tidak ada pesanan dalam sebulan. Namun, kalau dirata-rata sekitar 1—4 lukisan setiap bulannya.”
Ruang boleh terbatas, tetapi ide tak akan bisa dibendung. Mimpi tak akan pernah surut. Jika kita membiarkannya.

“Ide-ide kreatif memang biasanya lebih nyaman ketika dalam keadaan sepi, tapi pengerjaannya bisa kapan saja. Di depan TV bisa, di atas kasur pun oke.”

“Suatu hari nanti, ingin sekali bisa  pameran tunggal di dalam dan di luar negeri. Punya galeri yang bisa menghidupi banyak orang. Juga bermanfaat untuk lebih banyak orang lagi. Ini mimpi atau khayalan ya? Entahlah hihihi ...”

Kata orang life begin at 40. Wawancara ini dilakukan pada Juli 2016 lalu, dan hari Minggu ini, di bulan November 2016, beliau akan berangkat ke Aljazair untuk pameran. Semoga semakin banyak dinding yang ‘bertasbih’ karenamu.
Doa terbaik untukmu, tetanggaku ....


Rabu, 18 November 2015

RABUku: Mamomics part 2 – 9 Bulan Menanti Keajaiban


Ini adalah bentuk bayar utang setelah sebelumnya membuat review Papomics karena ada abang saya sebagai salah satu kontributornya, sedangkan di saat yang hampir bersamaan, Mamomics 2 pun terbit dan ada nama-nama yang merupakan sahabat abang saya dalam dunia perkomikan lagi-lagi menjadi kontributornya.


Dari dua seri Mamomics yang terpajang di rak toko buku, saya pilih yang kedua karena tema yang lebih spesifik juga terbitan yang lebih baru daaan saya yang juga baru lahiran anak ketiga #uhuk

Cerita kehamilan dan melahirkan selalu luar biasa bahkan dalam keadaan biasa-biasa saja. Namanya juga berpartisipasi langsung dalam proses penciptaan, itu kan sesuatu yang luar biasa, sehingga jika badan pun bereaksi luar biasa, itu wajar. Sebagai ibu beranak tiga, rasanya malu banget mau membanggakan diri. I mean, hamil dan melahirkan itu kan bukan prestasi. Walau perasaannya memang fantastis. Membaca cerita dari empat ibu dan satu lajang yang keibu-ibuan ini sebenarnya lebih menekankan betapa kita harus saling berempati dan bertoleransi setidaknya antarsesama perempuan. Jadi, ini bukan ajang pamer siapa yang paling menderita atau siapa yang paling gampang. Semuanya ada porsinya.

Setidaknya itu bagi saya pribadi.

Saat hamil anak ketiga, saya rasanya payah banget karena keluhan fisik yang tak kunjung usai. Namun, ketika baca cerita kehamilan Mba Harley yang ga hanya mual-mual dkk tapi juga sebentar-sebentar pingsan, i guess semua ada kesulitan dan kemudahan. Untuk mba Harley yang suka pingsang, senantiasa ada suami yang baik hati dan sigap menangkap. (eh iya tak?). Coba kalau saya yang begitu? Kebayang dong pingsan di antara dua bocah pecicilan di apartemen. >.< btw, abang saya jadi cameo di komiknya Bu Harley ini hihihiy ... telat banget ya.

Ketika saya agak sombong bercerita pergi ke RS naik ojek sendiri jelang melahirkan, rasanya saya mau edit ucapan saya ketika membaca kisah Dydy yang tidak hanya naik kereta tapi juga jalan kaki menuju RS sambil mules dan melahirkan sendiri karena sang suami menemani anak pertama yang sedang sakit. Maklum, tengah merantau di negeri orang. Kalau bagi sebagian orang, melahirkan ditemani suami itu rasanya ingin mencakar-cakar mukanya, bagi saya melahirkan ditemani suami itu ekstra kekuatan—ini kata seorang ibu di bus ketika saya hamil anak pertama. Jadi kalau ada yang melahirkan sendirian itu ...  hadeeeuh ...

Jika saya merasa beraaat hamil sambil ngurus dua balita, nah bayangkan ketika ada dua bocah di dalam perut seperti pengalaman kehamilan kedua mba Dyotami ... ga mau bayangin ah, linu perutkuuuh. Hamilnya pe er. Melahirkannya pe er. Ngurusnya apalagiiiih ....

Dan kalau menyimak komik hasil ga sengaja dengar dari ruang bersalin di sebelah Mba Ani usai melahirkan dengan segala kehebohan saat mengedan, lagi-lagi saya berucap alhamdulillah Cuma perlu satu kali buka jalan selebihnya menggelosor dengan sendirinya. Mulas? Ya iyalah. Mau hanya setengah jam seperti saya atau semalaman, yang namanya mulas mau melahirkan ya sakit.

Setelah melahirkan beberapa kali, saya suka ingat-ingat dulu ketika masih lajang apakah saya sudah sebijak Neng  Lia Hartati dalam memandang kehamilan dan ibu hamil secara umum? Ah, mungkin belum. Waktu itu saya belum banyak bergaul sama ibu-ibu sih, jadi bawaannya ingin komentar, “ah, ibu hamil lemes itu Cuma perasaan aja” dan bla bla bla omong kosong penuh kesombongan. Yak, sampai saya ketemu  hamil payah tanpa bisa saya hindari.

Akhir kata saya tak habis terkagum-kagum dengan ibu-ibu pengomik ini. Nemu di mana sih waktu ekstranya? Ngiri euy bisa gambar bagus ^^ Ada yang sederhana, ada yang detail, semuanya istimewa .... selanjutnya kira-kira temanya apa ya?

(eh beli dulu yang seri pertama hehehe ...)


Jumat, 02 Mei 2014

Diary Sang Zombigaret: Membayar Dosa Masa Lalu si Gadis Perokok


Uhuk uhuk.

Suara batuk itu terdengar lagi di sela tawa mereka. Dua bocahku. Pilu rasanya hati ini setiap kali aku mendengarnya. Ketika kenyataan menghantamku seratus kali lebih hebat. Lebih nyata dari setiap ngilu yang kurasakan saat ini akibat efek kemoterapi. Ya, bagi seorang ibu, sakit anak adalah derita. Dan lebih menderita lagi jika sakit itu ditularkan oleh aku, ibunya sendiri.

Awalnya hanya pemeriksaan rutin anak-anak ke dokter anak langganan kami. Namun, melihat tubuh kedua anakku yang turun drastis berat badannya akhirnya pemeriksaan berlanjut menjadi rontgen dan kemudian suntik mantoux. Hasilnya, positif TB.

Aku langsung melirik suamiku dengan tatapan menuduh. Si perokok aktif dan pernah mengalami pengobatan TBC. Dengan kesal, aku turut memeriksakan diri. Namun, urutannya kini berbeda. Usai menjalani rontgen, aku menjalani serangkaian pemeriksaan darah. Aku curiga. Ada yang tidak beres. Tak banyak yang kupikirkan, karena aku fokus di pengobatan anak-anak yang harus disiplin selama enam bulan. Aku dialihkan dari satu dokter ke dokter yang lain. Entah kenapa, aku pun tak terpikir untuk bertanya sejak awal. Ketika akhirnya aku bertanya, ada sedikit sesal, karena jawaban panjang lebar si dokter hanya tersangkut beberapa kata di kepalaku. Kanker paru-paru. Dan ada TBCnya.Ternyata aku penyebabnya.

Pikiranku membawaku melayang pada perkataan abangku, “Bagi perempuan, sekali kamu merokok, maka tombol risiko kanker otomatis menyala.” Ucapannya  dua puluh tahun yang lalu, ketika mengetahui aku merokok.

Aku menolak mengindahkan protes bagian otakku yang lain, “tapi aku sudah berhenti merokok sepuluh tahun  yang lalu.”

Tak ada yang merokok di rumahku semasa aku kecil. Aku hanya melihat orang merokok ketika adik-adik ibuku datang. Namun, yang membuatku tertarik adalah ketika melihat kedua kakak perempuan papaku dan juga anak perempuannya merokok. Saat itu, usia 9 tahun, aku merasa mereka terlihat seperti perempuan berkelas nan dinamis. Memang di budaya Sumatra zaman dulu, para wanita dengan tingkat strata tinggi biasanya merokok sembari mengunyah sirih. Atas nama budaya aku bahkan mengidolakan salah satu tokoh perempuan cantik dalam kisah Jawa yang merangkap sebagai penjual rokok, ketika para lelaki mengantri untuk membeli rokok bekas hisapannya. Aku merasa terikat dengan sejarah saat memikirkannya.

Lalu rokok adik-adik mamaku lah yang menjadi modal awal saya mencoba merokok. Tidak ada yang mengajari. Aku belajar cara menyalakannya yang tidak seperti lilin. Tidak ada rekan kejahatan, hanya aku sendiri. Saat teman-teman SMP baru belajar merokok, aku justru menghindar dari mereka. Ah, norak, gue dah jago.

Aku memang pongah, sepongah ketika aku menyindir suami. “Gue dah move on. Kamu kok malah masih sibuk cari identitas diri?” Ya, saat itu aku sudah berhenti. Aku sudah bosan merokok. Lagipula di zaman sekarang merokok tidak lagi membuat aku terlihat keren atau berkelas atau dinamis. Kenapa? Karena aku lihat para ibu pengemis, gadis-gadis jalanan, mereka pun merokok. Aku hilang rasa. Itu semua omong kosong. Aku tak lebih dari seorang zombigaret. Berkeliaran dengan paru-paru rusak dan berdandan seolah aku keren.

 


Aku belum bebas. Seperti banyak penderita kanker lainnya, setiap manusia memiliki kemampuan masing-masing terkait organ tubuhnya. Ada yang sensitif, ada yang tidak. Ada yang merokok ratusan tahun tetapi masih hidup. Ada yang menjadi perokok pasif tetapi jadi penderita. Aku ‘hanya’ merokok lima belas tahun. Bukan perokok berat. Tapi, Tuhan berkata lain. Aku membayar dosaku.

Suamiku datang untuk merapikan selimut yang memeluk tubuhku. Dia kini berhenti merokok. Akhirnya. Dulu, aku takuti dia dengan masa depan anak-anaknya jika dia meninggal cepat. Namun, dia berkilah dengan jumlah asuransi yang akan anak-anak dapatkan. Ah, rupanya jika yang tercinta sakit parah akibat merokok barulah dia tergugah. Dia pun memulai hidup sehat. Sesehat-sehatnya.

“We will survive.” Bisiknya di sela nyaring pekik riang anak-anak yang tengah bermain di ruang tengah. Semoga.


Sumber foto: www.facebook.com/zombigaret

 

Jumat, 21 Februari 2014

Nonton Konser di MEIS? Hadooooh ...

Bruno Mars mau datang Maret ini? Yes! Terus, Juni nanti Taylor Swift datang ke Indonesia? Yuhuuu, yess!! Di mana, di mana? Di MEIS!!! ck, damn ... :-/

Bagi sebagian besar orang, nonton konser adalah hal menyenangkan yang kudu dilakukan sebelum menikah. Nah, saya terbalik. Menikah, biar gampang kalau mau nonton konser. Maklum, mantan pacar dulu reporter kolom lifestyle.
namun, dunia berputar. Si mantan pacar tidak lagi reporter lifestyle. Dan kini jika si istri hendak pergi, pertanyaan pertama adalah 'anak-anak bagaimana?' -_-

Guess, tidak semua bisa dipaksakan kehendaknya. Dua tahun lalu, saking ngebetnya nonton konser untuk pertama kali, demi boyband Korea, BIGBANG, saya kasih full service buat suami sebagai penjaga dua bocah. Hasilnya? Gue bangkruut ... Itu karena konsernya di MEIS, Ancol.

MEIS atau Mata Elang International Stadium adalah versi indoor-nya pantai festival. Itu loh tempat dugem-dugem di pantai kalau ada DJ luar negeri konser. Tempat ini entah kenapa paling mulus di acc para artis luar negeri buat konser di sana. Padahal dari lokasi, ga ramah ibu-ibu banget! Ini alasannya:

1. Jauh
Ya, jauh banget. Ga hanya jauh dari pusat tapi juga jauh dari jalan raya. Jadi kalaupun mau menggunakan angkutan umum selain taksi bisa dibilang 'masuk bisa keluar sulit'. Taksi yang nongkrong pun mencurigakan semua. Ada kek pool resmi, blue bird kek, gamya kek, taxiku kek ... Kan kasihan para alay-alay yang nonton konser kudu jadi cabe-cabean dulu biar bisa pulang.

Ada sih yang nekat jalan kaki keluar Ancol, ya macet juga di dalam. Tapi di luar itu juga horor. Ancol dikelilingi jalur flyover dengan kali-kali dengan air hitam membentang di kiri-kanan jalan. Dan ... Minim pencahayaan. Ada siy tempat yang ramai lampu di dekat situ ... Night club .. Beuuh ...

Nah, kudu nunggu sampai pagi?

2. Berat di Ongkos
Oleh karena bawa keluarga, saya jadi banyak pengeluaran lain-lain. Ya penginapan (konon kalau ada yang konser di Ancol, hotel di sepanjang jalan Gunung Sahari pada penuh), sewa mobil (biar saya bisa pulang dengan selamat pascakonser), dan biaya lain-lain yang jumlahnya bisa sama dengan harga tiket yang sudah dibeli lewat calo. Malah lebih. Duh, benar-benar deh pengalaman pertama saya =).
Seharusnya pihak Ancol menyediakan angkutan internal yang tetap beroperasi hingga tengah malam. Biar sama-sama enak gitu.

3. Rugi Beli Seat di Balkon
Saya agak terkejut ketika mengetahui bahwa yang namanya seat di balkon itu benar-benar bagian balkon yang posisi duduknya tidak seperti stadium alias tidak miring. Jadilah para penonton meninggalkan kursi mereka dan merapat di pagar balkon. Untung gue ga beli di situ. Festival is the best lah.

4. Sistem Pintu Masuk dan Keluar yang Aneh
Waktu itu saya datang terlambat. Sudah jantung mau copot karena takut kebagian tempat yang ga bakal kelihatan TOP BIGBANGnya, saya jadi keder sama pintu masuknya. Mobil berhenti di lobi, tapi yang nonton kudu ambil pintu dari samping. Jadilah saya yang sudah lama sekali tidak olahraga, berlari masuk keluar cari pintu masuk. Dan MEIS itu settingannya mal. Mungkin ketika belum masuk, sengaja dibuat panjang rutenya biar muat.

Dan ketika konser usai, kita semua keluar dari berbagai pintu tapi begitu turun hanya bisa menggunakan satu akses. Ada satu sisi dengan dua eskalator dan tangga yang lebar di tengahnya. Anehnya, si tangga ditutup. Jadilah kita mengantri eskalator yang sempit dan ga dinyalain pulak. Sengaja dilamain kali ya, biar artisnya bisa aman tentram keluar venue =P
Bagi ibu-ibu kaya saya sudah sibuk lihat jam. Waktu itu, anak yang kecil belum 6 bulan jadi masih bangun tiap 2-3 jam.  Jadi, walau konsernya tepat waktu mulai dan selesainya, drama ngantri ini yang bikin malam terasa lammmaaaa ....

Ini sudah alhamdulillah, masih di Jakarta. Lha Justin Bieber? Sentul boook!

Nah yang kaya begini rasanya ingin coba nonton konser BIGBANG di luar negeri. Yang ga ada calo, akses transportasi umum oke (biar jauh dr pusat tapi transportasi oke mah ga masalah), pasti harganya ga beda jauh deeeh ...
Dan ketika saya lihat dua artis muda ini sudah konfirmasi mau datang dan manggung di MEIS, saya hanya bisa tarik pipi ... Siapa yang mau bayarin dan anterin gue, yak =D

*ikutan lomba blog aja dulu kali aaah ...