Begitu melihat dasbor kemarin, saya terpaku pada angka, 99 pos. Alias sudah 99 tulisan blog yang saya publikasikan. Dan tulisan ini adalah tulisan ke-100 saya di portal melatikoekieku.blogspot.com terhitung sejak kira-kira kurang dari setahun yang lalu. Harusnya bikin giveaway kali ya. Ah, tapi masih tingkat cere begini.
Yang hendak saya tulis pun juga remeh temeh. Sebagai amatiran, yang paling menyenangkan adalah melihat angka jumlah viewer. Mungkin rasanya seperti sedang di bursa saham dan melihat nilai jual saham yang kita miliki meningkat drastis. Angka-angka ini bisa jadi hiburan bagi saya yang sudah lama tidak melihat statistik. Tentu statistik yang satu ini lebih menyenangkan karena tidak terkait dengan unsur rugi juga biaya.
Dan yang mau saya ceritakan adalah posting blog saya yang mencapai angka seratus lebih. Yeah, I know, ini angka belum apa-apa dibanding blogger yang lain. Namun, bagi saya ini justru menarik karena hanya beberapa yang mencapai seratus lebih. Lebih tepatnya hanya dua. Hehehe ....
Suatu hari, saya iseng melihat perolehan viewer setiap posting dan saya terkejut ketika melihat sebuah posting dari beberapa bulan lalu yang tanpa diduga mencapai 100. Dalam dunia penerbitan kondisi ini disebut longlasting book. Postingan ini tentang nonton konser di MEIS, Ancol. Saat penerbitannya di hari pertama justru tidak serta merta menarik pembaca, tetapi rupanya postingan ini terus menarik pembaca. Inilah kondisi longlasting post. Padahal tulisan ini lebih berisi keluhan nonton konser di MEIS. itu pun sudah satu setengah tahun yang lalu. Hanya saja waktu hendak menonton, saya memang kesulitan mencari referensi tentang tempat konser favorit grup Korea. Dan mungkin karena ada beberapa artis yang hendak main di sana di bulan Maret dan Juni (Bruno Mars dan Taylor Swift), maka situs pencari google jadi lebih sering menayangkan blogku. Yah, semoga bermanfaat =)
Sedangkan postingan yang satu lagi merupakan kondisi buku meledak atau di dunia blog disebut blog meledak. Postingan ini meledak sejak hari pertama dan masih terus menjaring pembaca. Sebuah postingan blog untuk lomba kampanye antimerokok oleh Zombigaret. Lucunya tulisan ini bahkan sempat membuat kakak saya percaya. Untung belum sempat telepon mama, bisa jantungan dengar anaknya divonis kanker paru-paru. Jadi tulisan ini cukup made my day lah. Jarang-jarang bikin tulisan yang bisa bikin reaksi cukup signifikan hingga saya harus menuliskan di kolom komen bahwa itu adalah fiksi (yang dicampur banyak nonfiksi hehehe).
Anyway, love this new blog. Dan saya akan tetap menulis. Hingga anak-anak saya turut menjadi follower blog saya hehehe ... Jika umur saya panjang.
Tampilkan postingan dengan label zombigaret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zombigaret. Tampilkan semua postingan
Senin, 12 Mei 2014
Jumat, 02 Mei 2014
Diary Sang Zombigaret: Membayar Dosa Masa Lalu si Gadis Perokok
Uhuk uhuk.
Suara batuk itu terdengar lagi di sela tawa mereka. Dua
bocahku. Pilu rasanya hati ini setiap kali aku mendengarnya. Ketika kenyataan
menghantamku seratus kali lebih hebat. Lebih nyata dari setiap ngilu yang
kurasakan saat ini akibat efek kemoterapi. Ya, bagi seorang ibu, sakit anak
adalah derita. Dan lebih menderita lagi jika sakit itu ditularkan oleh aku,
ibunya sendiri.
Awalnya hanya pemeriksaan rutin anak-anak ke dokter anak
langganan kami. Namun, melihat tubuh kedua anakku yang turun drastis berat
badannya akhirnya pemeriksaan berlanjut menjadi rontgen dan kemudian suntik
mantoux. Hasilnya, positif TB.
Aku langsung melirik suamiku dengan tatapan menuduh. Si
perokok aktif dan pernah mengalami pengobatan TBC. Dengan kesal, aku turut
memeriksakan diri. Namun, urutannya kini berbeda. Usai menjalani rontgen, aku
menjalani serangkaian pemeriksaan darah. Aku curiga. Ada yang tidak beres. Tak
banyak yang kupikirkan, karena aku fokus di pengobatan anak-anak yang harus
disiplin selama enam bulan. Aku dialihkan dari satu dokter ke dokter yang lain.
Entah kenapa, aku pun tak terpikir untuk bertanya sejak awal. Ketika akhirnya
aku bertanya, ada sedikit sesal, karena jawaban panjang lebar si dokter hanya
tersangkut beberapa kata di kepalaku. Kanker paru-paru. Dan ada TBCnya.Ternyata aku penyebabnya.
Pikiranku membawaku melayang pada perkataan abangku, “Bagi
perempuan, sekali kamu merokok, maka tombol risiko kanker otomatis menyala.”
Ucapannya dua puluh tahun yang lalu,
ketika mengetahui aku merokok.
Aku menolak mengindahkan protes bagian otakku yang lain, “tapi
aku sudah berhenti merokok sepuluh tahun yang lalu.”
Tak ada yang merokok di rumahku semasa aku kecil. Aku hanya
melihat orang merokok ketika adik-adik ibuku datang. Namun, yang membuatku
tertarik adalah ketika melihat kedua kakak perempuan papaku dan juga anak
perempuannya merokok. Saat itu, usia 9 tahun, aku merasa mereka terlihat
seperti perempuan berkelas nan dinamis. Memang di budaya Sumatra zaman dulu,
para wanita dengan tingkat strata tinggi biasanya merokok sembari mengunyah
sirih. Atas nama budaya aku bahkan mengidolakan salah satu tokoh perempuan cantik
dalam kisah Jawa yang merangkap sebagai penjual rokok, ketika para lelaki
mengantri untuk membeli rokok bekas hisapannya. Aku merasa terikat dengan
sejarah saat memikirkannya.
Lalu rokok adik-adik mamaku lah yang menjadi modal awal saya
mencoba merokok. Tidak ada yang mengajari. Aku belajar cara menyalakannya yang
tidak seperti lilin. Tidak ada rekan kejahatan, hanya aku sendiri. Saat
teman-teman SMP baru belajar merokok, aku justru menghindar dari mereka. Ah, norak, gue dah jago.
Aku memang pongah, sepongah ketika aku menyindir suami. “Gue
dah move on. Kamu kok malah masih sibuk cari identitas diri?” Ya, saat itu aku
sudah berhenti. Aku sudah bosan merokok. Lagipula di zaman sekarang merokok
tidak lagi membuat aku terlihat keren atau berkelas atau dinamis. Kenapa?
Karena aku lihat para ibu pengemis, gadis-gadis jalanan, mereka pun merokok. Aku
hilang rasa. Itu semua omong kosong. Aku tak lebih dari seorang zombigaret.
Berkeliaran dengan paru-paru rusak dan berdandan seolah aku keren.
Aku belum bebas. Seperti banyak penderita kanker lainnya,
setiap manusia memiliki kemampuan masing-masing terkait organ tubuhnya. Ada
yang sensitif, ada yang tidak. Ada yang merokok ratusan tahun tetapi masih
hidup. Ada yang menjadi perokok pasif tetapi jadi penderita. Aku ‘hanya’
merokok lima belas tahun. Bukan perokok berat. Tapi, Tuhan berkata lain. Aku
membayar dosaku.
Suamiku datang untuk merapikan selimut yang memeluk tubuhku.
Dia kini berhenti merokok. Akhirnya. Dulu, aku takuti dia dengan masa depan
anak-anaknya jika dia meninggal cepat. Namun, dia berkilah dengan jumlah
asuransi yang akan anak-anak dapatkan. Ah, rupanya jika yang tercinta sakit
parah akibat merokok barulah dia tergugah. Dia pun memulai hidup sehat. Sesehat-sehatnya.
“We will survive.”
Bisiknya di sela nyaring pekik riang anak-anak yang tengah bermain di ruang
tengah. Semoga.
Sumber foto: www.facebook.com/zombigaret
Sumber foto: www.facebook.com/zombigaret
Langganan:
Postingan (Atom)
