Tampilkan postingan dengan label suami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 November 2017

JJS: Ditinggal Suami Demi Sunrise di Dieng


SUNRISE di DIENG
Photo Credit FB @herysogirkuswahyo


“Kamu tahu ga kenapa aku ajak ke sini?” tanyanya tiba-tiba di tepi telaga Cebong.
“Ga,” aku melengos karena masih teringat rasa kesal semalam.
“Karena pertama kali aku dibawa ke gunung ya ke sini sama ibu.” Lalu raut merindu itu pun terlihat.


Sejak pertama kali ide ini dicetuskan oleh suami, saya agak-agak merasa tidak adil. Memang tujuan utamanya ke Dieng, tapi itu berarti tetap mampir ke Purworejo, kampung kedua orangtuanya dan tempat mereka dimakamkan. Bukan apa-apa sih, masalahnya ini sudah kali kedua kami ke Purworejo, sedangkan kampung mama papaku belum pernah dipijak satu kali pun. Dan ini sudah 9 tahun pernikahan. Terbayanglah saya kalimat-kalimat mama yang sudah bisa ditebak kalau beliau tahu saya ke sini. Maklumlah ya, namanya berkeluarga pasti kalau mau berkunjung jadi memikirkan apakah adil atau tidak ke orangtua.


Namun, begitu melihat ada seorang anak yang tengah merindukan orangtuanya plus dengan kenangannya, masa iya mau marah lama-lama. Sambil berdoa dalam hati, semoga disegerakan ada rezeki bisa ke kampung orangtua saya di Sumatera Barat dan Aceh. Demi menyenangkan orangtua.


Butuh dua jam untuk mencapai daerah Dieng dari Purworejo, area pegunungan yang semakin naik jalannya semakin jauh pandangan ini melihat tebaran ladang kentang di kiri kanan mobil.


Menara pandang Dieng menuliskan posisinya di ketinggian 1789 m dpl. Di situlah lapis pertama jaket anak-anak (dan saya) dipakai. Sekadar mencicipi mie ongklok dan french fries khas Dieng untuk pertama kali. Menara pandang itu sedang pembangunan di sisi-sisinya, mungkin di saat-saat tertentu spot itu banyak dicari oleh para wisatawan.  Mau beli perlengkapan dingin di sini juga murah meriah.





Kabut mulai turun sehingga kami bergegas kembali ke mobil sebelum jalanan tertutup kabut. Wajar jika harus berhati-hati, jalanannya selain berkelok-kelok pun sempit dan truk atau bis berlalu-lalang.


Saat tiba di area kota, hujan rintik-rintik, menambah rimbun kabut-kabut yang mengambang di sekitar mobil. Saya yang jarang-jarang ketemu kabut pun menyempatkan berfoto. Jaket lapis kedua pun dipakai.




Kawasan Candi Dieng merupakan tujuan kami selanjutnya. Di dalam kawasan ini, ada beberapa candi, salah satunya belum selesai dibangun ulang karena ada satu baris bagian yang hilang. Kawasan ini menyenangkan karena tertata rapi, seperti taman. Walau kami masuk dari bagian belakang yang agak mencurigakan gitu jalannya, tapi begitu sudah masuk kawasan, terlihat cukup terawat. Anak-anak bebas berlarian ke sana ke mari sambil menghangatkan tubuh. Sementara suami sibuk mengambil gambar. Sinyal internet juga cukup bagus di sini, sehingga keponakan yang turut ikut bersama kami sempat-sempatnya update status.






Ada beberapa kawasan candi di Dieng, tapi tidak seluas kawasan Candi Dieng.


Setelah pembelajaran perbedaan agama dan keyakinan singkat pada anak-anak dari tur candi ke candi, maka berlanjut ke pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Saatnya mengunjungi kawah.

Foto pakai masker di samping kawah Sikadang ternyata bisa bagus juga



Walau penampakan depannya agak kurang meyakinkan, tapi kawasan Kawah Dieng Sikidang ini cukup sadar bahwa perlu menambah pengalaman bagi para wisatawan yang datang. Daerah sekitar kawah dipagari kayu, sedangkan di sana sini dibuat berbagai spot foto. Hanya saya bingung kenapa temanya harus romansa ya? Kawasan ini kan agak-agak berbahaya tapi ‘love’ di mana-mana ^^ Dengan masker yang sudah dibeli sebelumnya, aroma kawah ini memang kuat. Panasnya juga dimanfaatkan untuk merebus telur dan kemudian dijual. Hmm ... memangnya beda ya rasanya?


Kawah yang beberapa bulan lalu pernah meledak, Kawah Sileri pun kami datangi. Ketika kami datang berselang beberapa minggu sebelumnya juga meledak untuk pertama kalinya. Ada yang aneh ketika kami dalam perjalanan ke sana. Area kawasan Sileri letaknya jauh dari kota. Ladang luas atau pembangkit gas di kiri-kanan, lalu tiba-tiba ada waterpark. In the middle of nowhere. Dan itu berseberangan dengan kawah Sileri. Waterparknya besar juga, makanya terlihat canggung. Apa berenang di situ airnya hangat?

Kawah Sileri. Tidak sebesar sikadang tapi auranya bikin deg-degan ngeri.



Berbeda dengan kawah Sikidang, kawan Sileri ini malah terlihat seperti kawah mencurigakan. Tanah yang kami pijak semakin lembut seiring bertambah dekatnya kami ke tepi kawah. Tidak ada pagar kayu di sana. Begitu mulai terlihat tanah yang menghitam, saya meminta anak saya berhenti melangkah. Ngeri juga sayah hehehe ...


Dan tak butuh waktu lama, kami pun bertolak ke desa tertinggi di Dieng, desa Sembung.

Dieng. Di mana-mana kentang.



Mobil kami diberhentikan di depan gapura. Azan magrib berkumandang, langit sekejap menjadi gelap. Kami tidak bisa masuk ke penginapan yang dituju karena akan dilaksanakan hajatan alias ada panggung yang memblokir jalan. Para penjaga di sana mencarikan penginapan yang memungkinkan untuk kami pakai. Dan kami pun menunggu dalam balutan jaket dan sarung tangan. Kini dinginnya bukan main-main.


Akhirnya dapat juga kami satu rumah. Karena memang tidak bisa ke mana-mana juga, maka fokus kami adalah makan dan tidur. Terbayang harus bangun pagi-pagi sekali besok demi mengejar matahari terbit. Tapi dasar saya yang memang sulit tidur pulas di perjalanan, saya terbangun di tengah malam dan mencari makan malam yang memang sengaja saya minta dilebihkan belinya ke suami. Bolak-balik saya mencari, lalu saya tanya ke suami, eh sudah dia habiskan. Duh ... dingin-dingin begini ga ada makanan berat? Apalagi perut itu letaknya dekat sama hati, jadi kalau perut lapat, emosi pun menumpuk. Yah sudahlah, terpaksa tidur dengan perut minta-minta makan, membayangkan pecel ayam dan nasi hangat yang semalam dimakan. Dan dalam keadaan setengah tidur itu yang dipaksa-paksakan, saya lihat suami sibuk mondar-mandir dengan perlengkapan dinginnya lalu kemudian keluar kamar dan penginapan itu hening hingga waktu yang lama.




Saya terbangun dan usai shalat keluar kamar. Ternyata ... Ga ada siapa pun di luar kamar!


Rupanya suami, sepupu, dan keponakan sudah bertolak menuju Bukit Sikunir demi mengejar matahari terbit. Oke lah, bung .... Kita ditinggal .... Pasti ga mau disuruh gendong bocah dua tahun sambil hiking kan? Galau sih mau nyewa baby carrier .... Dan sekarang kami Cuma diminta senyum-senyum saja mendengar cerita mereka melihat sunset yang menurut suami agak berawan dan telat munculnya.


Toh, anak-anak disempatkan juga mampir ke Telaga Cebong yang merupakan kaki bukit Sikunir. Sepertinya warung-warung di sana hanya buka saat jelang matahari terbit untuk para wisatawan, karena ketika kami tiba, semuanya tutup. Di sekitar Telaga ada beberapa kemah di sana, wedew .... ga usah dibayangkan deh dinginnya kaya apa semalam. Kayanya hanya penyanyi dangdut yang joget di panggung semalam saja yang tidak merasakan menggigitnya hawa malam kemarin.

Telaga Cebong di Satu Sisi

Telaga Cebong dari Sisi Lain



Telaga Cebong ini ga ada yang spesifik sih, tamannya belum ditata, tapi kalau mau bengong-bengong sepi, di sini cocok. Suasananya quite, telaganya tenang. Kalau saya lebih lama di sini mungkin sudah dapat banyak ide tulisan.


Lihat degradasi warna di telaga Warna



Usai menyerahkan kunci penginapan, kami meroda hingga ke Telaga Warna. Sayang saya tidak turun karena si bayi tidur. Lagian saya buta warna, jadi agak sulit merasakan keindahan telaga yang konon memantulkan tiga warna yang berbeda. Sepertinya sudah di tahap Let It Go, yang penting suami senang. Kasihan kan sudah jadi pencari nafkah utama dan satu-satunya, tapi ga boleh menentukan sendiri mau liburan ke mana? Maklumlah, aslinya anak outdoor, jadi bertahun-tahun ga naik gunung tentu rindu juga .... Yah semoga semakin semangat menjalani hari.


Minggu, 27 Desember 2015

Kepada: Suami; Subjek: Pengajuan OPPO R7s; Dari: Istri


Dear Suami, 
Ingatkah kamu, delapan tahun yang lalu, persis di malam tahun baru, kamu bilang tak mampu membelikan cincin berlian tapi ingin menghabiskan hidup bersamaku? 

Setelah tujuh tahun menikah, memang belum ada berliannya. Aku pun tak meminta, karena ada yang lebih penting, aku perlu ponsel baru. Dan karena hanya kamulah si pencari nafkah, maka selain berdoa aku pun mengajukan pembelian ponsel yang pas untuk aku.  


Aku tak mau merepotkanmu, jadi aku sudah punya nominasinya, salah satunya adalah seri terbaru OPPO R7s


Sejak aku menemukan ponsel OPPO di sebuah ATM, tak kunjung lupa saat-saat menyentuhnya sebelum kembali ke pemiliknya. Dan ketika beberapa minggu lalu OPPO mengeluarkan seri terbarunya, aku jadi teringat lagi. 


Baiklah, kamu tentu tak mau membelikan sesuatu berdasarkan alasan emosional, kan? Tenang, aku sudah merangkum 7 alasan memilih OPPO R7s untuk ibu-ibu rumahan seperti saya. 



1. Kamera
Suami, kamu tentu ingat kalau aku suka menerima pesanan kue atau cupcake. Biasanya, aku akan menyelesaikan pesanan sebelum subuh agar bisa kamu foto usai shalat. Ingatkah kamu ketika kamu enggan melakukannya karena waktu itu hanya bermodalkan kamera saku digital. Sekarang memang sudah ada kamera yang bagus, sesuai kesukaanmu, tapi belakangan pekerjaanmu semakin menyibukkanmu  Jadi tak tega memintamu melakukan ini itu sedangkan anak-anak pun berebut perhatianmu. 


Dengan kamera belakang 13 mp dan kamera depan 8 mp milik R7s, hasil gambarnya tak perlu diragukan. Filter warena-warni yang dimilikinya membuatku tak perlu selihai dirimu untuk mendapatkan hasil gambar yang memukau. Aku mungkin tak perlu lagi menggotong hasil kue atau cupcake ke lorong apartemen karena pencahayaan di rumah tidak memadai karena kemampuan mengambil gambar HDnya sangat mumpuni. 


2. Kapasitas
Kamu juga tahu kan, ponselku merangkap alternatif bermain anak-anak saat akhir pekan. Namun memiliki anak lebih dari satu dan punya kesukaan dan kemahiran yang berbeda, aku menempatkan berbagai macam permainan edukasi tapi hasilnya? Ponselku jadi sering hang dan akhirnya anak-anak jadi senewen. 

Oppo R7s dilekngkapi prosesor delapan inti dan memiliki kapasitas sebesar RAM 4GB. Tak hanya itu OPPO R7s  bisa ditambahkan microSD hingga 128 GB. Mengunduh jadi secepat kilat, dengan kemampuan multitasking yang hebat, sudah pasti instagramku bisa aktif lagi. Bisa menggunakan jasa ojek atau taksi online lagi. Katalog kue dan cupcake-ku bisa tersimpan lebih banyak di sini. Dan ngeblog pakai smartphone ini ga perlu pakai ribet lagi. 


3. Kecepatan
Bisa jadi kamu sedang sengit karena melihatku sering memegang ponsel. Kamu khawatir aku akan lebih tenggelam dengan ponselku ketimbang bermain dengan anak-anak. Tahukah kamu, itu karena semua yang berjalan lambaaat di ponselku. Jika tidak aku pantengin, niscaya aku harus mengulang lagi dari awal. 


Kecepatan yang beberapa kali lebih baik ini membuatku bisa lebih cepat menuntaskan urusan. Urusan rumah tangga dan anak jadi lebih terukur. Tak khawatir dengan ponsel yang hang jika tidak sering-sering ditengok karena takut ngacir entah ke mana lamannya. 

4. Desain
Ingat ketika aku menorehkan gincu di bibir, lalu anak kita bertanya, "kok Amy sekarang seperti wanita?" 
Itu karena aku tak pernah berdandan, tak sempatlah. Biarlah ponselku yang berdandan, agar lebih mudah mencarinya di antara lipatan popok dan tidak tertukar dengan milikmu. 


 Pilihan warna Rose gold dan Gold terlihat cantik dan memberi kesan beludru metalic. Pasti akan terlihat mencolok di dalam tas. Aku sih suka yang GOLD ^_~. 



5. Hemat Baterai
Iya, aku tahu, biaya IPL naik lagi, belum lagi TDL. Makanya aku perlu ponsel yang hemat baterai dan tak perlu waktu lama untuk dicharge. Aku tak ingin ponselku menjadi bebanmu. Dan baterai OPPO ini dilengkapi baterai besar 3070mAh dan memiliki fasilitas VOOC Flash Charge. Hanya perlu di-charge 5 menit, smartphone ini bisa digunakan selama dua jam waktu bicara. 


6. Layar Lebih Lebar
Aku pun suka kasihan ketika anak-anak saling beradu kepala saat menonton youtube dari ponselku sekarang. Mereka toh sudah semakin besar. Belum lagi jika si bayi ikut-ikutan. 

Layar tepi lengkung 5,5 inci membuat Oppo R7s sulit ditolak hehehe ... Pun tidak tebal karena menggunakan bezel layar ultra tipis 2,2 mm, sehingga tetap nyaman digenggam.


7. Hemat Ponsel
Tak perlu lagi dua ponsel, hanya perlu satu smartphone karena dengan kecepatan 4G, SIM ganda, dan perluasan slot kartu microSD, akan mengurangi keluhan aku soal kekurangan ponsel A dan ponsel B. Senang, kaaaan ^^

Jadi, suami, tahun akan segera berganti ... Semoga rezeki suami semakin dilancarkan. jangan lupa ya traktir istri, ga perlu traktir makan (lihat perut ^^') belikan smartphone yang ini saja yaa .... 


xoxo
Istri



Kamis, 12 November 2015

KAMYStory: Hari Ayah untuk Papa dan Suami

Banyak yang mengatakan bahwa sosok ayah bagi anak perempuan adalah semacam kata kunci saat si gadis memilih pasangan hidupnya. Papa saya adalah ampunek, datuk, dan bapak mertua bagi saya. Mengingat saya memang tidak pernah merasakan memiliki laki-laki tua bahkan mertua laki-laki pun saya tak pernah kenal.

Saat kecil, saya bukan penggemar papa saya. Eh dilalah ketika pilih suami, suami dan papa ternyata memiliki banyak persamaan. Pergaulan luas, suka jalan-jalan, suka motret, suka kerja, banyak kesendirian dari masa kecilnya, dan sama-sama bontott ... Dan lebih pentingnya lagi, masa kecil suami saya pernah diisi dengan banyak pengajian dan habib, walau setelah itu dia jadi bandeeeeeel banget. So, i think ... yah bolehlah. Setidaknya sudah punya dasar agama.



Papa memang bukan orang yang hangat. Adat keras memang sudah menjadi wataknya. Tapi  beliaulah yang menulari virus suka membaca. Koleksi bukunya belum bisa saya kalahkan.
Papa yang mengajari saya mengaji dengan metode hafidz sebelum metode ini nge-tren sekarang, namun karena sibuk, jadwal ini tidak selalu dilaksanakan. Saya curiga papa adalah hafidz karena terbiasa. Karena surah apa pun yang sedang saya baca, dia selalu menkoreksinya dari seberang ruangan, hingga saya memutuskan untuk mengecilkan suara tadarus. Dia bisa mengaji dengan merdu sambil mencuci baju hehehe ...

Dulu papa suka membawa kami ke tempat yang jauh untuk makan. Perut kami sampai keroncongan sangat setibanya di sana. Terkadang saya merasa berutang membawanya ke tempat-tempat yang makanannya enak.

Papa adalah yang tangannya dingin saat saya genggam ketika kecil, tidak seperti tangan mama yang hangat. Tangannya dingin karena air wudhu seolah mengendap di kulitnya karena seringnya beliau shalat. Dan cahaya fosfor dari jam tangannya, walau mengganggu tidur saya saat itu, tapi ingatan tentang itu tak pernah hilang.

Papa adalah orang yang sengaja mengeraskan suara mengajinya agar anak-anaknya dengar. Sempat saya merasa dilema saat subuh atau tidur siang. Rasanya masih ingin tidur tapi ada suara lantang papa mengaji. Ingin menutupi kepala dengan bantal tapi kok rasanya salah.

Ah padahal saya bukan penggemar dirinya, tapi ketika usia saya bertambah, entah kenapa banyak tentang dirinya yang muncul dalam ingatan saya.

Lalu bagaimana dengan suami? Rasanya saya harus menahan diri. Menahan diri tidak membandingkan dirinya dengan papa, sebanyak apa pun persamaannya, mereka berdua adalah orang yang berbeda. Yah, memang masih suka keceplosan hehehe ... Namun jika dibandingkan dengan saya, suami adalah orang yang cocok memberikan ilmu pada anak-anak. Saya hanya berharap, ketika anak-anak dewasa nanti, mereka akan mengambil banyak hal positif dari warisan ayah mereka. Mereka akan punya banyak cerita jika ditanya, apa yang kamu lakukan bersama ayahmu sewaktu kecil dulu. Bagi saya ini sebuah warisan.Warisan yang sedikit demi sedikit diberikan di masa-masa kanak-kanak mereka. Dan semoga suami akan selalu menjadi ayah mereka yang tangguh, hangat, lucu, pintar, baik hati, wawasan luas, dan terlebih lagi dekat dengan Allah SWT. Selamat hari ayah ^^







Rabu, 02 Juli 2014

REVIEW: Dunia Ayah Dunia Papomics




A good husband is a good dad.
Belum diputuskan apakah kutipan di atas sejalan dengan yang akan dituliskan =P
Minggu lalu akhirnya membulatkna tekad jalan kaki 400 m dr Kalibata City ke Plaza Kalibata. Yah, secara peta memang bersebelahan, apalagi tower tempatku tinggal memang yang persis di sebelahnya. Namun, kami dipisahkan oleh rel kereta api dan lahan parkir, sehingga segitulah jarak yang ditempuh. Bukan perjalanan mudah karena sambil meninggalkan anak-anak dengan ayahnya yang artinya tidak bisa lama-lama dan belum lagi keadaan jalanan di luar Kalcit plus simpangan kereta adalah tanda di mana motor berkeliaran tidak tentu arah.

Tujuan besar saya adalah Gramedia. Eh? Emangnya ga ada toko buku di Kalcit? Ada sih, tapi kok tokonya kaya orang mau tutup usaha ya? Ga update. Ya terpaksalah saya ke Gramedia, yang godaan bukunya cukup besar hehehe. Saya ingin beli buku komik kompilasi Papomics dan Mamomics. Mamomics ini lebih dulu keluar. Dari judulnya yang tentang para jagoan komik ketika jadi ibu-ibu. Sudah lama saya menangguhkan membelinya eh rupanya keluar temannya, Papomics. Kali ini saya menjalani hari-hari penuh rasa tidak enak karena belum juga membelinya. Segitunya? Iya. Soalnya di Papomics ada karya abang saya, Muhammad Nurul Islam. Papomics sendiri merupakan kompilasi empat komikus jantan, Harris, Harry Martawijaya dan Oyasujiwo. Dan  satu cara mendukung karya ini ya dengan membelinya. Beli loh ya, bukan pinjem, minta, apalagi fotokopi.

Karya abangku ini juga bukannya belum pernah aku lihat. Kebanyakan komiknya sudah dipublis di multiply. Yang menarik bagiku adalah prosesnya, seperti biasa. Komik ini dibuat oleh Roel saat memulai perantauannya di Luton, Inggris. Dalam rangka mendukung sang istri kuliah s2 jadilah si Roel ini meninggalkan karier profesionalnya sebagai nonkomikus dan pindah bersama bayi perempuan berusia 9 bulan, Khansa. Kondisi perekonomian Eropa saat itu sedang terpuruk sehingga sulitlah bagi Roel mencari pekerjaan. Ditambah daycare di sana tidak menerima anak di bawah dua tahun. Beda ya sama di sini, bisa terima dari umur 1 bulan. Jadi jobless dan harus berhadapan sama anak bayi di negeri orang, tentu sebuah adaptasi yang besar. Sedangkan untuk mengaplikasi sebagai ilustrator harus bersertifikat. Oleh sebab itu, sementara mengais kesempatan dan untuk menjaga pikirannya tetap waras, dia pun menyempatkan diri untuk membuat komik. Ngomik memang sudah menjadi bagian dari dirinya sejak kecil. Pernah mengisi kolom komik di Annida yang merupakan hasil iseng-iseng mengomikkan cerbung karya Helvy Tiana Rosa. Saya ingat waktu pertama kali mendengar kabar itu dari abang-abang saya. Tapi nanti ya ceritanya ...

Abang saya ini bukan orang yang suka bermain secara fisik, jadi saya sudah bayangkan bahwa dia akan banyak berkomunikasi dengan anaknya lewat gambar. Pasti lah dia mengalami masa-masa 'dianiaya' anak disuruh gambar ini itu. Ini tertuang dalam judul 'Anda Meminta Kami Menggambar'. Kisah Roel dan Khansa ini kalau dilihat dari kacamata dosen saya dulu, Pak Marahimin, bisa jadi sangat bagus karena memuat satu hal yang beliau sukai. Latar belakang. Perantauannya menjadi hal yang menarik di Papomics. Saya paling suka ilustrasinya tentang 'Rhyme Time'. Saat dulu diceritakan, saya terpikirnya sebuah kelas yang gimana gitu. Yah, mungkin karena yang cerita tukang gambar jadi ga valid ceritanya. Namun, di Papomics, saya bahkan jadi ingin membuat sudut rhyme time di Kalibata City. Hal sederhana, tidak perlu banyak peserta, tidak perlu bayar ... (cita-cita tinggi dari ibu-ibu yang galak).

Eh tapi ga adil dong ya cuma ngomongin abangku, kebetulan ada satu teman Roel yang saya kenal, namanya Haris Nurfadhilah. Dia membuka Papomics dengan gambaran ayah pada umumnya. Pergi gelap pulang gelap. Banyak lembur. Sedangkan dia sendiri memiliki dua bocah lelaki yang menunggu di rumah. Bukanlah hal baru lagi bahwa seorang ayah sejatinya tetap harus meluangkan waktu bermain dengan anaknya setidaknya 20 menit sehari. Itu kalau mau anak laki-lakinya jadi lelaki sejati. Ga mungkin semua belajar dari ibunya.

Lucu juga, mengingat konon si Harris ini sangat sibuk tetapi masih meluangkan waktu membuat komik tentang anaknya. I guess, ekspresi cinta memang harus terus diungkapkan. Toh, goresan cinta ayah ini menjadi kenangan manisnya setiap kali teringat anak lelaki keduanya yang kembali ke pelukan rahmatullah. Love in the hand of illustrators is begin from a scratch.

Lainlagi dengan Harry Martawijaya. Hampir mirip dengan abangku yang jadi full time dad, Harry ini bekerja dari rumah. Walau mati gaya saat harus ambil rapor yang isinya ibu-ibu semua atau kemudian dimafaatkan anak-anak sebagai kreator untuk berbagai kostum acara sekolah. Toh, butuh kekuatan super juga ketika 'Mama Pergi'. Namun, dia patut bangga pada dirinya yang tak pernah absen mengantar anak-anaknya, berada di rumah saat anak-anak tiba dari sekolah, dan tidak pernah ketinggalan segala rapat sekolah. Terdengar seperti ideal, tapi ada banyak kerja keras di belakangnya.

Lain lagi Oyasujiwo. Ilustrasinya menghiasi sampul depan Papomics. Di sini saya diumbar sebuah keriuhan keluarga beranak ... Empat. Dengan nama-nama yang unik. Ini ibarat keluarga Hoed versi komikus. Kalau baca deskripsinya mungkin banyak yang istigfar karena terkesan liar tapi saya juga mengalaminya dan merasa rada tenang membacanya. Saya rasa keluarga ini termasuk keluarga kreatif nan ceria, butuh banyak belajar kayanya sama mereka. Maklum, saya mungkin bisa main ekstrem dengan anak-anak tapi seketika emosi saya jadi drop dan kemudian merusak endingnya. Eh, curcol.

Anyway, ga rugilah bacanya. Mungkin para ibu jadi kepingin punya suami kaya mereka. Suami yang ga diem-diem saja di rumah. Yah, walau ga bantuin nyapu tapi setidaknya main sama anaknya. Main beneran loh ya, bukan mainan tablet. Karena pada saat-saat seperti itulah suatu hubungan anak dan ayah terjalin.

Kesulitan mencarinya? Hubungi saya saja, akan segera dikirim ke alamat anda hehehe .... (maklum abang saya kan jauh, ga bisa jualan langsung di sini)