"Terima kasih ya, bu." begitu kata kasir di supermarket satu-satunya di Kalibata City saat saya menyodorkan plastik berlogo serupa hanya saja sudah saya lipat segitiga ala Jepang.
Saya malah bingung, "kenapa?"
"Soalnya yang ada orang malah minta kantung plastik lebih untuk kantung sampah."
Saya tersenyum saja mendengarnya. Kadang bingung kok bisa ya kekurangan kantung sampah. Saya membiarkan diri menggunakan kantung plastik selama seminggu saja, rasanya lama betul menghabiskannya. Paling satu atau dua kantung plastik setiap hari.
Jarang menggunakan kantung plastik memang merupakan komitmen saya selama bertahun-tahun. Maunya siy tidak sama sekali. Namun, saya sering titip beli sayur ke Hery dan sering pula lupa memberikan kantung plastik/belanja untuk dia bawa. Jadilah saya masih menumpuk kantung plastik. Toh, masih perlu untuk pelapis tempat sampah saya, secara tinggal di rusun ga bisa buat lubang biopori hehehee.
Ada masanya saya ketiban banyak sekali kantung plastik dan merasa bersalah karenanya. Lalu kemudian saya mendapat jalan keluar. Tukang sayur langganan saya bertanya apakah saya punya ekstra kantung plastik. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jadilah saya telaten mengumpulkan keliman kantung plastik saya untuk diberikan ke tukang sayur itu.
Salah satu cara mengurangi penggunaan plastik adalah belanja bulanan. Belanja di akhir-akhir bulan justru membuat saya lebih banyak menggunakan plastik. Beli sedikit-sedikit tapi sering tapi ga pernah bawa plastik sendiri. Akhirnya numpuk deh. Tapi sekarang ga terlalu merasa bersalah lagi karena setiap kali lupa, selalu ada solusi agar si kantung plastik bisa lebih berguna. Sejatinya kita memang ga perlu sering-sering ingat kalau bukan tipe shopacholic kaya aku. Ke mana-mana bawa makanan dan minuman sendiri. Ga sebentar-sebentar jajan. Kemasan jajan itu bikin tempat sampah cepat penuh. Again, memang perlu latihan sih. Si Hery juga ga bisa hidup begini kalau ga disodorin kantung langsung. Keluarga saya di rumah juga ada yang merasa aku terlalu pelit atau aneh karena menolak banyak-banyak menggunakan kantung plastik. Jadi ingat kerutan di dahi mama saat saya memutuskan tidak membungkus kartu undangan pernikahan saya dengan amplop plastik. Tapi ya ga apa-apalah, tiap orang mudah-mudahan punya cara green-nya sendiri.
So, hidup dengan less plastic bag? No probs.
Kamis, 03 Juli 2014
Amy's Story: senyum dong, Amy
Hehehe, saya memang orang yang jarang senyum. Muka biasa aja. Ga terlalu mudah tertawa saat lihat sitkom atau stand up comedy. Makanya banyak orang mengira saya jutek di awal perjumpaan. Yah, didukung kontur muka juga sih.
Sejak anak-anak semakin lincah, saya juga merasa rahang saya semakin kencang. Paling terasa sih ketika bawa mereka keluar. Walau hanya di area Kalibata City, mengajarkan tata cara sekaligus mengamankan anak-anak saat jalan kaki di jalanan itu seperti menggembala kambing-kambing lemot. Yah, kaya Bitzerlah, si anjing penggembalanya Shaun the Sheep. Kudu galak. Sharp.
Muka nyaris militer ini juga saya gunakan saat mengawasi bermain. Saya memang sengaja tidak mengambil jarak terlalu dekat untuk mengamankan anak-anak, karena saya punya lebih dari satu. Mereka bisa bermain di ujung yang saling berjauhan. Nah, oleh sebab itu suara perut dan muka militerlah yang jadi andalan saya memberi peringatan.
Rupanya, saya jadi terlalu sering menggunakannya.
Ketika anak-anak usai nonton Monster University dari dvd, seperti biasa mereka reka ulang adegan favorit. Untuk film yang satu ini, mereka suka adegan ketika si monster berjingkat ke kamar tidur simulasi mencoba menakuti robot anak kecil. Awalnya masih dengan karakter asli. Mereka jadi monster, Amy jadi robot anak kecil yang teriak ketakutan. Lalu kemudian mereka modifikasi. Karakter robot diubah menjadi teriak marah atau galak. Ketawa sambil kaburlah mereka. Setelah beberapa kali, mereka minta diganti jadi robot baik. Saya pun menanggapinya dengan menjadi robot yang tertawa terbahak-bahak. Eh begitu saya tertawa, Safir menubruk saya sambil cium-cium, "Adek suka robot baik." dan setelah itu diulang lagi dan dicium lagi. Terus begitu.
Saya pikir ini emang Safirnya aja yang jadi sering cium-cium pascasapih. Lalu ketika saya perhatikan lagi adalah sepertinya dia lebih suka lihat Amynya tertawa.
Atau ketika di kesempatan lain, saya sedang tidak mood main sehingga tidak punya toleransi untuk main asal-asalan. Saya pun memisahkan diri ke kamar. Setelah beberapa saat dikunci, saya buka dan Malika masuk menunjukkan wajah tersenyum yang dia gambar di kotak tersenyum. Saya hanya mengangkat secuil bibir atas saat itu dan kembali bersikap acuh, tidur-tiduran sambil beresin file di hp. Safir datang sambil tiban-tiban dan cium-cium, pegang-pegang bibir. "Iiiih, apaan sih, Dek."
"Adek, cuka Amy." katanya sambil terus gusel-gusel. Amynya masih acuh.
"Aku kan sudah buatin gambar senyum. Jangan marah lagi dong ... " kata Malika.
Ini yang anak kecil siapa ya?
Yah, jadi Amy memang harus selalu ingat senyum dan tertawa. Lagian kasihan juga ya anak-anak, ga ada pilihan selain lihatin Amynya yang mood swing.
Aku akan berusaha, Naks. Fighting!!!!
Sejak anak-anak semakin lincah, saya juga merasa rahang saya semakin kencang. Paling terasa sih ketika bawa mereka keluar. Walau hanya di area Kalibata City, mengajarkan tata cara sekaligus mengamankan anak-anak saat jalan kaki di jalanan itu seperti menggembala kambing-kambing lemot. Yah, kaya Bitzerlah, si anjing penggembalanya Shaun the Sheep. Kudu galak. Sharp.
Muka nyaris militer ini juga saya gunakan saat mengawasi bermain. Saya memang sengaja tidak mengambil jarak terlalu dekat untuk mengamankan anak-anak, karena saya punya lebih dari satu. Mereka bisa bermain di ujung yang saling berjauhan. Nah, oleh sebab itu suara perut dan muka militerlah yang jadi andalan saya memberi peringatan.
Rupanya, saya jadi terlalu sering menggunakannya.
Ketika anak-anak usai nonton Monster University dari dvd, seperti biasa mereka reka ulang adegan favorit. Untuk film yang satu ini, mereka suka adegan ketika si monster berjingkat ke kamar tidur simulasi mencoba menakuti robot anak kecil. Awalnya masih dengan karakter asli. Mereka jadi monster, Amy jadi robot anak kecil yang teriak ketakutan. Lalu kemudian mereka modifikasi. Karakter robot diubah menjadi teriak marah atau galak. Ketawa sambil kaburlah mereka. Setelah beberapa kali, mereka minta diganti jadi robot baik. Saya pun menanggapinya dengan menjadi robot yang tertawa terbahak-bahak. Eh begitu saya tertawa, Safir menubruk saya sambil cium-cium, "Adek suka robot baik." dan setelah itu diulang lagi dan dicium lagi. Terus begitu.
Saya pikir ini emang Safirnya aja yang jadi sering cium-cium pascasapih. Lalu ketika saya perhatikan lagi adalah sepertinya dia lebih suka lihat Amynya tertawa.
Atau ketika di kesempatan lain, saya sedang tidak mood main sehingga tidak punya toleransi untuk main asal-asalan. Saya pun memisahkan diri ke kamar. Setelah beberapa saat dikunci, saya buka dan Malika masuk menunjukkan wajah tersenyum yang dia gambar di kotak tersenyum. Saya hanya mengangkat secuil bibir atas saat itu dan kembali bersikap acuh, tidur-tiduran sambil beresin file di hp. Safir datang sambil tiban-tiban dan cium-cium, pegang-pegang bibir. "Iiiih, apaan sih, Dek."
"Adek, cuka Amy." katanya sambil terus gusel-gusel. Amynya masih acuh.
"Aku kan sudah buatin gambar senyum. Jangan marah lagi dong ... " kata Malika.
Ini yang anak kecil siapa ya?
Yah, jadi Amy memang harus selalu ingat senyum dan tertawa. Lagian kasihan juga ya anak-anak, ga ada pilihan selain lihatin Amynya yang mood swing.
Aku akan berusaha, Naks. Fighting!!!!
Rabu, 02 Juli 2014
REVIEW: Dunia Ayah Dunia Papomics
A good husband is a good dad.
Belum diputuskan apakah kutipan di atas sejalan dengan yang akan dituliskan =P
Minggu lalu akhirnya membulatkna tekad jalan kaki 400 m dr Kalibata City ke Plaza Kalibata. Yah, secara peta memang bersebelahan, apalagi tower tempatku tinggal memang yang persis di sebelahnya. Namun, kami dipisahkan oleh rel kereta api dan lahan parkir, sehingga segitulah jarak yang ditempuh. Bukan perjalanan mudah karena sambil meninggalkan anak-anak dengan ayahnya yang artinya tidak bisa lama-lama dan belum lagi keadaan jalanan di luar Kalcit plus simpangan kereta adalah tanda di mana motor berkeliaran tidak tentu arah.
Tujuan besar saya adalah Gramedia. Eh? Emangnya ga ada toko buku di Kalcit? Ada sih, tapi kok tokonya kaya orang mau tutup usaha ya? Ga update. Ya terpaksalah saya ke Gramedia, yang godaan bukunya cukup besar hehehe. Saya ingin beli buku komik kompilasi Papomics dan Mamomics. Mamomics ini lebih dulu keluar. Dari judulnya yang tentang para jagoan komik ketika jadi ibu-ibu. Sudah lama saya menangguhkan membelinya eh rupanya keluar temannya, Papomics. Kali ini saya menjalani hari-hari penuh rasa tidak enak karena belum juga membelinya. Segitunya? Iya. Soalnya di Papomics ada karya abang saya, Muhammad Nurul Islam. Papomics sendiri merupakan kompilasi empat komikus jantan, Harris, Harry Martawijaya dan Oyasujiwo. Dan satu cara mendukung karya ini ya dengan membelinya. Beli loh ya, bukan pinjem, minta, apalagi fotokopi.
Karya abangku ini juga bukannya belum pernah aku lihat. Kebanyakan komiknya sudah dipublis di multiply. Yang menarik bagiku adalah prosesnya, seperti biasa. Komik ini dibuat oleh Roel saat memulai perantauannya di Luton, Inggris. Dalam rangka mendukung sang istri kuliah s2 jadilah si Roel ini meninggalkan karier profesionalnya sebagai nonkomikus dan pindah bersama bayi perempuan berusia 9 bulan, Khansa. Kondisi perekonomian Eropa saat itu sedang terpuruk sehingga sulitlah bagi Roel mencari pekerjaan. Ditambah daycare di sana tidak menerima anak di bawah dua tahun. Beda ya sama di sini, bisa terima dari umur 1 bulan. Jadi jobless dan harus berhadapan sama anak bayi di negeri orang, tentu sebuah adaptasi yang besar. Sedangkan untuk mengaplikasi sebagai ilustrator harus bersertifikat. Oleh sebab itu, sementara mengais kesempatan dan untuk menjaga pikirannya tetap waras, dia pun menyempatkan diri untuk membuat komik. Ngomik memang sudah menjadi bagian dari dirinya sejak kecil. Pernah mengisi kolom komik di Annida yang merupakan hasil iseng-iseng mengomikkan cerbung karya Helvy Tiana Rosa. Saya ingat waktu pertama kali mendengar kabar itu dari abang-abang saya. Tapi nanti ya ceritanya ...
Abang saya ini bukan orang yang suka bermain secara fisik, jadi saya sudah bayangkan bahwa dia akan banyak berkomunikasi dengan anaknya lewat gambar. Pasti lah dia mengalami masa-masa 'dianiaya' anak disuruh gambar ini itu. Ini tertuang dalam judul 'Anda Meminta Kami Menggambar'. Kisah Roel dan Khansa ini kalau dilihat dari kacamata dosen saya dulu, Pak Marahimin, bisa jadi sangat bagus karena memuat satu hal yang beliau sukai. Latar belakang. Perantauannya menjadi hal yang menarik di Papomics. Saya paling suka ilustrasinya tentang 'Rhyme Time'. Saat dulu diceritakan, saya terpikirnya sebuah kelas yang gimana gitu. Yah, mungkin karena yang cerita tukang gambar jadi ga valid ceritanya. Namun, di Papomics, saya bahkan jadi ingin membuat sudut rhyme time di Kalibata City. Hal sederhana, tidak perlu banyak peserta, tidak perlu bayar ... (cita-cita tinggi dari ibu-ibu yang galak).
Eh tapi ga adil dong ya cuma ngomongin abangku, kebetulan ada satu teman Roel yang saya kenal, namanya Haris Nurfadhilah. Dia membuka Papomics dengan gambaran ayah pada umumnya. Pergi gelap pulang gelap. Banyak lembur. Sedangkan dia sendiri memiliki dua bocah lelaki yang menunggu di rumah. Bukanlah hal baru lagi bahwa seorang ayah sejatinya tetap harus meluangkan waktu bermain dengan anaknya setidaknya 20 menit sehari. Itu kalau mau anak laki-lakinya jadi lelaki sejati. Ga mungkin semua belajar dari ibunya.
Lucu juga, mengingat konon si Harris ini sangat sibuk tetapi masih meluangkan waktu membuat komik tentang anaknya. I guess, ekspresi cinta memang harus terus diungkapkan. Toh, goresan cinta ayah ini menjadi kenangan manisnya setiap kali teringat anak lelaki keduanya yang kembali ke pelukan rahmatullah. Love in the hand of illustrators is begin from a scratch.
Lainlagi dengan Harry Martawijaya. Hampir mirip dengan abangku yang jadi full time dad, Harry ini bekerja dari rumah. Walau mati gaya saat harus ambil rapor yang isinya ibu-ibu semua atau kemudian dimafaatkan anak-anak sebagai kreator untuk berbagai kostum acara sekolah. Toh, butuh kekuatan super juga ketika 'Mama Pergi'. Namun, dia patut bangga pada dirinya yang tak pernah absen mengantar anak-anaknya, berada di rumah saat anak-anak tiba dari sekolah, dan tidak pernah ketinggalan segala rapat sekolah. Terdengar seperti ideal, tapi ada banyak kerja keras di belakangnya.
Lain lagi Oyasujiwo. Ilustrasinya menghiasi sampul depan Papomics. Di sini saya diumbar sebuah keriuhan keluarga beranak ... Empat. Dengan nama-nama yang unik. Ini ibarat keluarga Hoed versi komikus. Kalau baca deskripsinya mungkin banyak yang istigfar karena terkesan liar tapi saya juga mengalaminya dan merasa rada tenang membacanya. Saya rasa keluarga ini termasuk keluarga kreatif nan ceria, butuh banyak belajar kayanya sama mereka. Maklum, saya mungkin bisa main ekstrem dengan anak-anak tapi seketika emosi saya jadi drop dan kemudian merusak endingnya. Eh, curcol.
Anyway, ga rugilah bacanya. Mungkin para ibu jadi kepingin punya suami kaya mereka. Suami yang ga diem-diem saja di rumah. Yah, walau ga bantuin nyapu tapi setidaknya main sama anaknya. Main beneran loh ya, bukan mainan tablet. Karena pada saat-saat seperti itulah suatu hubungan anak dan ayah terjalin.
Kesulitan mencarinya? Hubungi saya saja, akan segera dikirim ke alamat anda hehehe .... (maklum abang saya kan jauh, ga bisa jualan langsung di sini)
Minggu, 29 Juni 2014
Menang Kalah Itu ...
Pagi ini saya membaca sebuah postingan yang menarik dari Gobind Vashdev. Alkisah ada seorang ibu didatangi dua anaknya yang hendak bertanding. Si ibu bingung harus membela yang mana, karena cintanya sama besar." Lalu disambung dengan kutipan, "saat mendoakan kemenangan itu artinya mendoakan kekalahan yang lain. Berdoalah untuk diberi kekuatan menerima apa pun yang terjadi."
Tulisan ini mengingatkan saya pada keseharian saya sebagai wasit 24 jam untuk dua bocah saya. Yang paling gres adalah ketika salah satunya berkata, "aku menang ... Kamu kalaaah."
Sejak dulu saya tidak suka orang-orang yang begini. Paling banyak di usia sebelum SMP. Rasanya pengen gue jitak aja. Oleh karena saya ga mau anak-anak saya dijitak orang lain, saya pun harus berulangkali mengingatkan mereka untuk tidak mengatakan hal itu. Merasa senang karena menang tentu boleh, tetapi jika kemudian meledek yang kalah itu yang ga boleh. Instead you may say, "great job for you. Congratulation."
Biasanya saya akan gunakan adegan dari seri tv Sofia the First. Ketika James yang menang melakukan selebrasi berlebihan saat bertanding hingga akhirnya teman-temannya tidak mau bermain dengannya lagi.
Sama seperti pilpres kali ini, baru kampanye saja dah ngenye-ngenyein lawan. Saya terbayang pertandingan bulutangkis Indonesia-Malaysia di mana terjadi persaingan suporter, siapa yang paling menyebalkan. Seandainya saya ada di bangku penonton dan teman-teman jiran saya berada di bangku penonton lawan, apakah saya akan ikut bersikap menyebalkan? Saya rasa tidak.
Karena pada pilpres ini walau saya senang dengan antusiasmenya, tapi sedih saja membayangkan ketika pemenangnya diumumkan, itu berarti kemenangan si pemilih bodoh atau pemilih sesat (sesuai tudingan pendukung lawan masing-masing). Lagian bagus kan ada pilihan lebih dari satu ketimbang cuma satu, katanya ga mau balik ke zaman orba kok ya suka banget bersikap menyebalkan?
Cerdas itu bukan yang semangat tunjuk-tunjuk tulang tengkorak sambil bilang, "Pikiiiir!!!" sombong sekali. Gue yg IQ nya selalu paling tinggi biasa aja tuh. Banyak sejarah orang pintar yang baru dipuja setelah mati, betapa banyak salahnya manusia dalam menilai orang lain.
Beriman itu sesungguhnya berasal dari hati. Toh saya pernah baca bahwa Tuhan telah menakdirkan pemimpin suatu bangsa. Jika presiden terpilih sejalan dengan iman yg diyakini, ya bagus. Jika tidak sejalan, berarti itu tantangan kita untuk belajar beriman lebih dalam lagi. Iman (seharusnya) tidak goyah dalam keadaan apa pun.
Saya tahu ada yang tidak suka jika saya gunakan frase 'siapa pun presidennya'. Gimana ya, saya hanya berpikir, saya lahir dari generasi-generasi tua yang mengalami banyak sekali hal. Bergolak melawan penjajah, bangkit dari kemiskinan, kabur dari ancaman penggal oleh bangsa sendiri, hidup di luar negeri, kalau pas foto sekolah harus buka jilbab dan masih banyak lagi yang lain, tapi ada yang tidak berubah diucapkan dari generasi ke generasi, iman. Jaga imanmu.
Jadi pilihlah yang sesuai keyakinanmu. Lalu tepuktangan untuk siapa pun yang menang. Dan kemudian kembali lanjutkan tugas kita sebagai makhluk yang rahmatan lil alamin.
Tulisan ini mengingatkan saya pada keseharian saya sebagai wasit 24 jam untuk dua bocah saya. Yang paling gres adalah ketika salah satunya berkata, "aku menang ... Kamu kalaaah."
Sejak dulu saya tidak suka orang-orang yang begini. Paling banyak di usia sebelum SMP. Rasanya pengen gue jitak aja. Oleh karena saya ga mau anak-anak saya dijitak orang lain, saya pun harus berulangkali mengingatkan mereka untuk tidak mengatakan hal itu. Merasa senang karena menang tentu boleh, tetapi jika kemudian meledek yang kalah itu yang ga boleh. Instead you may say, "great job for you. Congratulation."
Biasanya saya akan gunakan adegan dari seri tv Sofia the First. Ketika James yang menang melakukan selebrasi berlebihan saat bertanding hingga akhirnya teman-temannya tidak mau bermain dengannya lagi.
Sama seperti pilpres kali ini, baru kampanye saja dah ngenye-ngenyein lawan. Saya terbayang pertandingan bulutangkis Indonesia-Malaysia di mana terjadi persaingan suporter, siapa yang paling menyebalkan. Seandainya saya ada di bangku penonton dan teman-teman jiran saya berada di bangku penonton lawan, apakah saya akan ikut bersikap menyebalkan? Saya rasa tidak.
Karena pada pilpres ini walau saya senang dengan antusiasmenya, tapi sedih saja membayangkan ketika pemenangnya diumumkan, itu berarti kemenangan si pemilih bodoh atau pemilih sesat (sesuai tudingan pendukung lawan masing-masing). Lagian bagus kan ada pilihan lebih dari satu ketimbang cuma satu, katanya ga mau balik ke zaman orba kok ya suka banget bersikap menyebalkan?
Cerdas itu bukan yang semangat tunjuk-tunjuk tulang tengkorak sambil bilang, "Pikiiiir!!!" sombong sekali. Gue yg IQ nya selalu paling tinggi biasa aja tuh. Banyak sejarah orang pintar yang baru dipuja setelah mati, betapa banyak salahnya manusia dalam menilai orang lain.
Beriman itu sesungguhnya berasal dari hati. Toh saya pernah baca bahwa Tuhan telah menakdirkan pemimpin suatu bangsa. Jika presiden terpilih sejalan dengan iman yg diyakini, ya bagus. Jika tidak sejalan, berarti itu tantangan kita untuk belajar beriman lebih dalam lagi. Iman (seharusnya) tidak goyah dalam keadaan apa pun.
Saya tahu ada yang tidak suka jika saya gunakan frase 'siapa pun presidennya'. Gimana ya, saya hanya berpikir, saya lahir dari generasi-generasi tua yang mengalami banyak sekali hal. Bergolak melawan penjajah, bangkit dari kemiskinan, kabur dari ancaman penggal oleh bangsa sendiri, hidup di luar negeri, kalau pas foto sekolah harus buka jilbab dan masih banyak lagi yang lain, tapi ada yang tidak berubah diucapkan dari generasi ke generasi, iman. Jaga imanmu.
Jadi pilihlah yang sesuai keyakinanmu. Lalu tepuktangan untuk siapa pun yang menang. Dan kemudian kembali lanjutkan tugas kita sebagai makhluk yang rahmatan lil alamin.
Sabtu, 21 Juni 2014
Death: In Minang Tradition
It has been a long time since I wanted to write about it.
But I haven’t come to a funeral of my minang’s family member also for a long
time. It was when my grandmother died when I was just enter myself as a college student. At that moment, I
saw someone else’s death is more than a mourn but the spirit of helping to each
other.
Decoration
Death and decoration? Sounds not match to you, huh?Well,
this is why I love it. When somebody died, the room where the body lied was
covered by the same fabricue that we used for weddings. Not just the wall but also the roof. And the dominant color
for minang’s wedding is black. You might think it will be unsuitable because we
use lots of gold ribbon and glass deco which would make a blink-blink effect. But
actually when my mom explained the reason, I got the point. That death is a
glory path of human being, just like a birth. They whose has died has returned
to the Owner, God. It’s a celebration of life.
Well of course, it’s only happen for the high family. The higher
class is, the more beautiful the fabricues are.
The Donation
Unlike what I used to see here in Jakarta, we have rules and
manner about what to bring when you went into the mourn family’s member house.
We call it ‘takziah’. It means we come to the mourn house after the funeral.
And to go there we need to bring at least, uncooked rice or ketan with eggs.
And the eggs should be 5 or 7 or maybe 9. We usually would bring it in a large can plate
and cover it with wide white napkin or ‘kucuik’. if you want to improve your
donation then you may bring a chicken. In the old times, at least when my
granny died, people would bring a living chicken. Yup, in one week my house were
full of chicken. But now there are some improvement, you may cook it first.
Why is it matter? Well, it’s because the mourn family are
not allowed to cook or to go to the market. The old people said, “don’t let a
smoke come out of the mourn house.” At least for a week. That is why, the
neighbours would come and bring them food. This donation needs to be payed
back. There are certain numbers of money to give if you bring living chicken or
the cooked one. At least half of the real price. Let’s say a thank you fee. So,
if the neighbourhood in Jakarta would wait for the next tahlil and besek (other
than to pray), the minang’s family do the other way J.
The Place
Where do we go for takziah? Because we are mathriarchy, we
would come to the oldest sister or the oldest daughter of the death. Not the
husband, not the oldest brother, ladies only. It’s quite a problem when the
person died in Padang and we lives in Jakarta, and in order to find the closest
female relatives we even go to the cousins, although her son lives in Jakarta.
What an irony. But it’s true. That is why, to have a daughter in minang’s
family is a way to keep your family close.
That’s all I know about death in minang’s tradition. I hope I don't miss anything.
And
when I dreamed about my Aceh’s wedding when I was a kid, now I dreamed myself lying there
breathlessly under the blink-blink and the sewing of two tigers. And may I died
peacefully.
My Story: 33 dan Keinginan Mengurangi
Entah sejak kapan, tetapi perayaan ulangtahun sudah tidak
lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan hingga patut dirayakan. Bukannya saya
jadi bersedih sepanjang hari loh. Hari ulangtahun menjadi momen saya menghitung
berapa notifikasi dari kontak di facebook yang mengucapkan selamat ulang tahun.
Menghitung berapa orang yang peduli dan berapa persen dari mereka yang kemudian
akan hadir di pemakaman saya nanti. Yup, a birthday is very close with death’s
issue actually. Yang menyebalkan adalah, saya bahkan tidak pernah suka melihat
rapor saya selama 33 tahun ini. Jangankan yang 33 tahun, yang kemarin terjadi
saja saya tidak suka. Dan saya tidak yakin apakah mampu membayar semua dosa
masa lalu dengan ibadah mediocre. Saya rasa hanya itulah yang perlu saya
tingkatkan dalam hidup ini. Selebihnya, seperti melihat setiap sudut unit yang
penuh dengan barang, rasanya ingin sekali mengurangi atau bahkan membuang sepenuhnya
agar hidup ini lebih lega.
- Saya ingin mengurangi makan ayam goreng, karena saya selalu menjadi orang yang paling banyak menghabiskan ayam goreng buatan saya sendiri. It tastes so good untill I feel guilty everytime I eat it.
- Saya ingin jadi orang yang mandi dengan garam dan keramas dengan jeruk nipis. Mungkin ini akibat sedikit green living yang saya jalankan, tubuh jadi terdorong untuk melakukan hal alami lainnya.
- Saya ingin mengurangi kadar emosional saya hingga titik ... nol, mungkin?
- Saya ingin mengurangi .... berat badan? Ah, sebal sekali melihat perut gelambir ini.
- Saya ingin mengurangi baca fb (terutama saat kampanye seperti ini :p)
- Saya ingin mengurangi malas saya
- Saya ingin mengurangi keinginan saya, dan langkah pertamanya adalah berhenti menulis ‘saya ingin’ sampai di sini. Just ... let it go ...
Karena mati tidak membawa apa pun selain amalan dan doa.
Tidak meninggalkan apa pun selain ilmu. And may God blesses us all.
Jumat, 13 Juni 2014
4th Hijab Fest in Bandung: Create Your Own Hijab Fest!
Yes, it was the fourth time! From May 29th till June 1st,
the hijabers located in SABUGA Bandung, Indonesia, could have their own show. This is
a place where you can meet the upcoming to be hijabers to the syar’i hijabers.
They all came with the spirit of respecting and sharing. The main idea of this
event is one: be proud of your hijab and be syar’ee (well they were two ^^).
With the ticket price IDR30000 for public and IDR5000 for
student, and FREE ticket for anyone who brought her new/old mukena to be
donated, the 4th Hijab Fest in Bandung gave everything you need to become a
better moslemah, inside and outside. How could it not be? The ustad parade,
hijab tutorial, the gathering on #OneDayOneJuz community, great discount for
branded hijab, family run, adzan competition for kids, hijab model competition,
and Tulus’ mini concert--presented by the icon of halal cosmetics, Wardah. Well, actually this was kind of weird. You know, we
were suppose to keep our eyes from men. But anyway, this thing encourage me to
one dream. One day, I will be the one on that stage. Representing a moslemah
musician with globalwide selling record
album. Anyone want to join me? It is our chance.
Thank God, Dewi Sandra as one one of brand Ambassador of
Wardah cosmetics entertained us as part of closing ceremony of Indonesia Hijab Fest. Looking beautiful
as always, Dewi Sandra showed that wearing hijab cost less than the bless she got
afterward. The road might be hard, but it is possible.
Talking about Wardah as the main sponsor of this event, we
could actually get a IDR10000,- discount from the ticket entry. Wardah itself
has standing still as the first and the most trust for everyone who want to
wear a halal cosmetics. Believe me, it’s different when you wear the other
cosmetics. It feels safe. It has strengthen its position by being a sponsor for
many events, even Indonesia Idol 2014. Wish Wardah could reach all the moslemah
around the world. You can find it online, gals! Try it.
Maybe you could ask Wardah to support you in your own HijabFest in your own town. In Indonesia itself, this kind of event has inspired
many cities and the amount is increasing. Why don’t you make it and tell us the
story?
If I had a chance to make one of Hijab Fest, I might add
something, like Wearing Hijab Competition. You know, who could finish first,
win! You know, wearing hijab is taking time. And for this kind of event I wish
I could have some special building for us to pray. Many events took this
subject in the last priority. Well, I need it big, comfy,easy to access, clean,
and secure. Sounds alot? But I’m sure you won’t refuse it, right?
The last thing I want to add in a hijab fest, at least for now, is to have
like a trading spot. Of course there are always something to sell, but what I
would like to add is the opportunity of
becoming online shop distributor. It reminds me of a friend of mine who is
doing business in hijab and has sent it overseas. I mean, wish the people who
had come to hijab fest will not only get knowledge, but also community, and a business
opportunity. It’s a full goodiebag.
So, come on, let’s do this ^^ Fighting!
Langganan:
Postingan (Atom)

