Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2018

KAMYStory: Menjelaskan ke Anak tentang Alkohol



Pagi itu selepas shalat subuh, terdengar bunyi dentingan lift. Lamat-lamat terdengar orang yang keluar dari lift mendekat ke arah lift. Ada beberapa orang, salah satu di antara tersedu-sedu. Lalu pintu unit dibuka. Rupanya tetangga yang mengontrak di depan unit. Tak perlu waktu lama, sedu-sedu itu berubah menjadi raungan. Saya dan Malika saling menatap tanpa bicara. Berusaha abai, fokus ke tugas masing-masing. Raungan yang kian menjadi itu kemudian berubah menjadi ...
HOEEEEK! HOOOEEEK!
Ada yang muntah.
D*mn


Jika bicara tentang alkohol, maka bisa dikatakan toleransi saya nol. Bukan dalam artian saya tidak kuat mabuk, tapi it’s a big no no for me. Masa lalu saya memang ada kenakalan yang saya lakukan, tapi yang berkaitan dengan mabuk, saya jauh-jauh. Ga mabuk saja sudah bandel, apalagi kalau mabuk.


Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal ini. Pertama, pengalaman saya mendapatkan beberapa pelecehan seksual oleh beberapa orang sewaktu saya kecil, membuat saya memasang alarm-alarm untuk beberapa hal yang mengingatkan saya tentang peristiwa itu. Salah satunya adalah alkohol, karena beberapa dari pelaku memang punya kebiasaan minum-minuman keras, walau saat mereka melakukan hal ‘itu’ pada saya mereka tidak dalam keadaan mabuk. Hal ini mengacu pada pembelaan orang-orang yang berkata bahwa mereka adalah peminum yang bertanggungjawab. Tetap bersahaja bagaimanapun keadaannya. Whatsoever. Buat saya, itu pepesan kosong.


Kedua, saya cocok dengan kisah seorang pemuda alim yang dijebak oleh seorang wanita. “Aku memberimu tiga pilihan untuk kau bisa keluar dari rumah ini, kau gauli aku, kau bunuh anak ini, atau kau minum khamr,” kata si wanita itu. Dan singkat cerita, si pemuda alim memilih meminum khamr karena mempertimbangkan hanya dia sendiri yang akan menanggung akibatnya. Ternyata dia berakhir melakukan ketiga pilihan tersebut.


Ketiga, suami saya memiliki sejarah persahabatan panjang dengan alkohol. Dan walau saya berusaha untuk selalu berpikir positif bahwa dia sudah tidak mengkonsumsi alkohol lagi, tapi sulit bagi saya untuk mempercayai bahwa teman-temannya juga sudah berhenti sama sekali. Biasa, kan, pergaulan mempengaruhi gaya hidup. Jadi ketika dia bercerita tentang masa lalu saat dia sudah terlalu mabuk untuk pulang ke rumah, biasanya dia akan dibawa kawannya ke rumahnya dan hal itu akan menggembirakan istri kawannya karena itu berarti suaminya tidak main gila dengan wanita lain. Seketika itu, saya langsung ketakutan. Man, bawa orang mabuk ke dalam rumah? Dan ada anak-anak di dalamnya? Ga cuma satu, tapi dua! Belum lagi istrinya berjilbab dan anak-anaknya sekolah di sekolah berbasis agama Islam. Bengong saya. Saya langsung merinding teringat bahwa pelecehan seksual yang saya alami pun terjadi di rumah sendiri.  Oleh sebab itu, saya pun menerapkan aturan. No drinkers allowed to come to my house and meet my kids. No way, jose.

Makanya doktrin tentang alkohol kepada anak-anak tidak semata-mata soal agama tetapi juga tentang hal lainnya.


“Nah itulah yang namanya orang mabok.”
Jawab saya ketika tetangga itu muntah-muntah dan Malika bertanya ada apa dengan dirinya. Lalu saya pun ceramah mulai dari segi medis hingga segi sosial. Bagaimana alkohol mempengaruhi tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan dan kadar berlebihan bagi tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Dan bahwa intinya lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Saya sengaja bicara panjang lebar semata-mata agar suami tidak mengeluarkan komentar-komentar seperti, “ah dianya aja cupu ga tahan minum” dan sebagainya.


“Mabuk itu apa sih?” tanya Malika di usia batita ketika dibacakan kisah-kisah nabi dan tengah menjelaskan tentang perilaku kaum-kaum sebelum datangnya nabi.
Keluar deh kbbi ala saya. Mabuk adalah kondisi yang disebabkan oleh minum-minuman keras.
“Minuman keras itu apa?”
“Yah, yang mengandung alkohol.”


Lain waktu, dia bertanya usai melihat iklan.
“Napza itu apa?”
“Narkotika, obat-obatan dan zat terlarang lainnya.” Jawab saya singkat.
“Apa itu?”
“Zat-zat yang disalahgunakan orang-orang untuk menjadi mabuk.”
“Obat batuk termasuk obat-obatan terlarang, ga?”
“Ya, ga. Untuk kondisi kesehatan, misalnya sakit memang menggunakan narkotika, tetapi hanya boleh dokter yang mengaplikasikannya. Kalau dipakai-pakai sendiri namanya penyalahgunaan. Itu yang ga boleh.”


“Kalau sudah umur 21 tahun, kita dah boleh minum alkohol?” tanya Safir usai menanyakan tentang tulisan “untuk usia 21 tahun ke atas” di lemari pendingin berisi minuman keras di salah satu swalayan.
“Secara hukum pemerintah sih begitu. Tapi menurut hukum Islam, mau umur berapa pun juga ga boleh minum alkohol.”
“Kenapa masih boleh dijual, padahal kan orang Islam ga boleh minum minuman keras?” timpal Malika.
“Karena yang tinggal di sini kan ga hanya orang Islam. Ga semua agama melarang minum minuman keras.” Saya sok cool.
“Padahal kan jelas ga membawa manfaat. Nanti malah nyusahin orang lain.” Sungut Malika.
“Yaah, kalau di negara-negara dingin seperti di Eropa kan minum alkohol membantu mereka untuk merasa hangat.”
“Tapi di sini kan panas,” Malika menjawab balik. “Memangnya ampunwa Nurul minum alkohol, kan di Inggris tinggalnya.”
“Ya, ga sih.” Kadang saya suka lelah meladeni pertanyaannya.
“Banyak orang yang minum-minum karena ingin terlihat gaya, dianggap bisa meredakan stress, bikin orang happy, karena pergaulan.”
Dan dia merengut dengan penuh ketidaksetujuan.


Saat saya berfoto untuk foto di atas, anak kawan saya yang kebetulan juga turut ikut olahraga bersama bertanya, “Emang itu apa?”
“Tempat orang minum bir.”
“Orang Islam boleh ga masuk ke situ?” dan tahu-tahu ibunya menodong saya untuk menjawab.
“Yaah, tempatnya sih ga melarang orang Islam untuk masuk. Mereka kan yang penting bisa bayar aja. Namun seharusnya, orang yang mengaku Islam tidak masuk ke situ.”


Lalu saya biarkan ibu dan anak itu melanjutkan perbincangan.


Pendidikan ini belum berakhir. Semakin bertambahnya usia, akan semakin banyak pertanyaan terkait hal ini yang terucap dari mulut anak-anak ini. Terkadang saya merasa, anak-anak bingung melihat ada begitu banyak larangan yang diterapkan di rumah tapi bertebaran dilakukan di luar sana.


Celetukan seperti, “Apa orangtuanya ga mengajari itu?” berulang-ulang mereka ucapkan untuk berbagai situasi. Bukan dengan nada sinis, tapi serius bertanya.  Yang lama-lama seperti mempertanyakan kenapa seperti hanya aminya yang melarang hal itu.


Saya rasa di satu fase, jika saya salah-salah mengaplikasikan hal-hal yang hendak saya tanamkan, justru rumah sayalah yang kemudian akan dianggap aneh oleh anak-anak karena membatasi diri. Sungguh, harapan saya semoga fase itu tidak pernah ada. Bahwa mereka tidak punya kebutuhan untuk mencoba hal-hal semacam itu. Karena saya ga yakin bakal kuat mengatasinya.


“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS: al Furqan: 74)

Jumat, 21 April 2017

JJS: 1 Ami dan 3 Anak di Big Bad Wolf Jakarta 2017


Kalau tidak dapat tiket VIP, ya ga datang.
Begitu saya membatin. Antara mau datang atau tidak. Maklum lokasinya jauh tenan, kayanya ongkos sama belanjaan bisa nyaris sama. Namun kurang dari seminggu dari acara preview Big Bad Wolf Jakarta 2017, saya mendapatkan email, tidak hanya satu tapi dua email yang menyatakan bahwa saya mendapatkan 1 tiket VIP. Artinya saya dapat 2 tiket yang berlaku masing-masing tiket untuk dua orang. Namun, karena teman-teman pecinta buku pun sudah dapat tiket VIP, jadilah hanya saya dan tiga anak yang meluncur ke ICE BSD City. 

1. Perbekalan
Saya menyadari bahwa biasanya di book fair semacam itu tidak boleh membawa makanan dan mnuman, jadi saya menghindari membawa berkotak-kotak fastfood untuk disantap. Jadi, saya siapkan bekal makanan berat di tas sekolah anak-anak agar mereka cukup diberi bekal untuk di perjalanan yang menurut google map akan tercapai dalam 1 jam 20 menit. Susu dan jus plus air mineral juga disediakan. Diumpet-umpetin sama tumpukan baju ganti, biar kalau diperiksa, ga ketahuan hehehe ... Strateginya  berhasil untuk anak 1 dan 2, sedangkan yang batita, terlewat jam makan siangnya dan akhirnya, muntaaah .... 


2. BSD itu Serpong ya ... Bukan Bintaro
Oke, ini mah sayanya aja yang dodol hehehe .... Pengemudi taksinya pun tidak mengerti bahasa Inggris. Saya bilang Ice BSD, dia pikirnya Ace B ... halah ... Dan karena ga nyambung inilah, taksi biru itu keluar di tol Bintaro. Dikasih google maps, ga paham. Gedubrak. 
Kenapa saya pilih taksi ketimbang taksi online? Yah, ga kenapa-napa sih, lebih gampang ketemu aja. Lagipula seringkali, anak-anak sok-sokan mau duduk di baris ke-3 tapi kemudian satu-satu balik ke baris tengah dengan muka pucat dan keluhan pusing ^^


Simak baik-baik aturan di BBW JAKARTA 2017 ya

3. Siang itu Jam Padat
Finally, kami sampai. Waktu menunjukkan pukul 1. BBW diselenggarakan di hall 7—10 Ice BSD City dan ada tiga acara yang digelar di Ice BSD. Saya sarankan, masuk ke hall 6 tempat Disney On Ice, jika menggunakan taksi online, karena pintu masuknya di hall 7. Kalau mengikuti marka jalan, kita akan berhenti di hall 10. 

Sesampai di sana, saya ambil tiket di stan Mandiri dan ternyata masih termasuk 25 orang pertama yang mendapatkan voucher RP50000,- untuk belanja di BBW. Alhamdulillah. Anggap aja diskon taksi offline hehehe

Lalu saya ambil lagi tiket di lobi BBW. Walau anak di bawah 12 tahun sebenarnya tidak pelu menggunakan tiket VIP pass, tapi ya saya tebus saja, siapa tahu dapat info (atau goodiebag) tambahan ^^

Setelah mengosongkan kantong kemih, waktunya anak-anak makan camilan sebelum masuk, sekalian melemaskan kaki setelah lama duduk di taksi. 


4. Baru berhenti Saat Keranjang Sudah Sering Jatuh
Begitu kami masuk, waaaah .... ini toh Big Bad Wolf. Rasanya ingin berenang-renang di antara buku-buku. Baru masuk, sudah menemukan yang menarik. Ada yang cemberut karena tidak langsung dapat yang disuka. Mereka bingung juga saat disuruh mencari buku tapi kenapa banyak sekali mejanya. Apalagi ketika saya beritahu bahwa buku anak yang terletak paling jauh dari pintu masuk itu, bermula dari belakang hingga ujung dekat kasir. Tapi senyum anak-anak merekah, ketika saya bilang, "Ambil saja mana yang suka, masukkan keranjang." Biarin deh, biar merasakan namanya belanja kalap. Tapi mereka yang dorong keranjangnya. 

Tadinya saya mau sok-sok an buka jastip buku, tapi ya ... yang datang ke preview itu banyak banget ya orangnya. Ini mah namanya curi start buka pameran hehehe .... orang lalu-lalang. Setiap kali saya memfoto buku untuk satu (ya, satu saja cukup) orang teman saya, saya pasti akan celingak celinguk menghitung anak. Yang di stroller juga dipastikan masih di tempatnya. Jangan sampai kalap buku, anak ga tahu nyantol di mana. 

Moral of tarik keranjang sendiri adalah, anak-anak itu jadi capek sendiri. Lelah, tak mau ambil buku lagi. Dan pada saat itulah, saya tanyakan kesungguhan mereka, mana yang lebih mereka pilih untuk dibeli. Tak lama, keranjang saya berkurang separuhnya. 

Awalnya saya menawarkan anak-anak untuk sekadar minum-minum di area makan di ujung lain dari kasir, tapi karena keranjang harus 'parkir' di dekat area bouncing (ya, ada tempat main di situ, seharga Rp60000 per orang) dan anak-anak jadinya malah mau main, saya pikir ah sudahlah langsung mengantri saja.

Penggila buku ya ketemunya di acara buku. Reuni singkat dengan Kak Aio


5. Ngantrinyaaa #auuwsome
Berdasarkan informasi dari tetangga yang sudah datang dari pagi, BBW yang juga disponsori sangat oleh Mandiri, menyediakan fastrack bagi pengguna mandiri debit atau kredit. Tapi ... ada caranya niy bapak-bapak, ibu-ibu ... Datangi stan mandiri yang terletak tidak jauh dari tempat antri, antri di sana untuk mendapatkan nota fast track dengan menukarkan poin fiesta Anda. Sebenarnya fiesta poin itu juga bisa digunakan untuk ditukar dengan buku-buku yang disediakan di stan Mandiri tersebut. Nah setelah dapat nota fasttrack, mengantrilah di tempat yang disediakan.

Kenyataannyaaaaa .... lorong fast track itu ga dijaga sehingga bercampurlah orang-orang antri di situ sehingga jadi puanjaaaaaang sekali. Banyak yang mengira bahwa mengantri di fastrack hanya cukup memiliki mandiri debit. Bukan oh bukan. Akhirnya saya stuck 2,5 jam ngantri. 

Saya teringat ibu-ibu hamil yang ketika sudah hampir mencapai lorong fast track barulah muncul petugas yang menanyakan apakah dia sudah memiliki nota fast track. Dilalah, ketika dia bilang tak punya dan hendak mengambil nota tersebut, layanan notanya sudah tutup. Ya ampuuun ... setelah dua jam ngantri tapi ga bisa masuk? 


Anak-anak? Hmm dari semangat maju sedikit demi sedikit. Lalu mulai usil masuk-masuk kolong meja. Nyanyi-nyanyi ga jelas. Saling bertengkar. Kelaparan, dan akhirnya saya keluarkan semua perbekalan di dalam tas. Suapin nasi, susu. Daripada jadi pada masuk angin. Karena AC  nya dingin juga loh walau dihuni begitu banyak orang. Cobaan banget niy buat anak n emaknya.

Cobaan tidak berhenti di situ. Setelah hampir sampai kasir setelah dua jam, anak-anak mulai mengeluh tidak senang, menganggap ini semua cobaan setan, meminta sesuatu yang ga jelas apa karena belum  bisa ngomong dan di antara keluhan itu ada yang pup aja gitu di popok ... Eeeaaa ... 

Walau kasir di depan mata saja, bisa lama loh ngantrinya. Ya, yang belanja bisa beberapa troli dan keranjang sekaligus, sedangkan kasirnya tuw kaya bagian kasir khusus layanan tunai dan keranjang. Ambil barang, ambil scanner, ketik spasi, taruh scanner, ah banyak geraknya. Plus jangan samakan dengan belanja bulanan ya, yang ada beberapa item yang sama. Kebanyakan dari belanjaan orang-orang yang beraneka ragam, jadi yah serasa manual lah. Belum lagi, sebentar-sebentar di sana –sini kasirnya melambaikan kartu SUPPORT. Komputer Error. Lelah menerima terlalu banyak uang hehehe ... 


6. Kamar Ganti Bayinya Mana? 
Alhamdulillah kelar juga bayar membayar. Alhamdulillah juga bawa stroller, belanjaan tinggal dicantel. Walau ada yang menyewakan sih troli gede dan ada porternya segala loh. Lalu ada juga layanan TIKI, yang habis belanja tinggal kirim, ga perlu tenteng-tenteng lagi. 

Tapi yang terpenting saat ini adalah toilet lagiii .... Si kakak kebelet pipis, yang anak tengah juga tapi begitu lihat antrian dan kenyataan bahwa anak cowo satu-satunya itu harus buang air kecil di kamar mandi wanita membuat dia urung. Jadi saya suruh si kakak antri dan urus sendiri sementara itu saya di luar ruang toilet mengganti popok di bungsu. Sambil ngumpet-ngumpet di balik stroller. Untung pup nya mudah dibersihkan (dengan menggunakan banyak sekali tisu basah ^^'). Si anak tengah saya minta memberi info kalau-kalau kakaknya sudah masuk toilet, karena sistem  toiletnya yang diputar keluar semprotan langsung ke arah ybsitu loh. Buat anak-anak kan suka ga pas ya. Jadi seusai urusan popok, saya langsung cari si sulung yang ternyata baru masuk dan akhirnya bisa bantu, sementara anak tengah jaga adiknya di stroller di salah satu pojokan toilet (ribet ya bok!). Si tengah kemudian saya paksa juga buang air kecil, di situ, Cuma yah basahin tisu deh. Daripada nyemprot ke muka ... Hadeuh, pe er banget ya nyediain toilet untuk anak-anak. 


7. Makan Malam Sekadarnya
Perjalanan pulang masih jauh, jadi saya pikir mau makan dulu. Tapi stan makanan di area lobi itu Cuma satu, So Nice. Begitu juga stan minuman. Ya sudahlah, daripada ga makan. Walau kayanya tema hari ini sosis dari pagi sampai malam hehehe .... Dan anak-anak on lagi. Jumpalitan ke  sana kemari. Sayanya? Lelaaah. 

BBW juga bekerja sama dengan Grab, jadi ga usah khawatir pulang ya. Tapi semalam saya naik taksi offline lagi, karena sempat ga ada yang mau ambil order saya. Begitu saya masuk taksi eh malah ditelepon sama driver Grab. Lah, ternyata belum tuntas saya cancel-nya. 


8. Kapok? 
Tahun ini, cukup ya ke BBW nya hehehe ... Nabung lagi untuk tahun depan. Memang sih ngantrinya bikin kapok, tapi buku yang didapat memang sesuai bayangan saya. Yang terjangkau, interaktif untuk anak-anak, dan unik buat kado hehehe dan selalu ada koleksi klasik yang memanggil-manggil saya untuk dibeli hihihi ... Percaya atau tidak, saya hanya beli koleksi Enyd Blyton untuk diri saya sendiri. Novel ga dilirik dulu, padahal banyak edisi boxset yang harganya waw murah banget. 

Next year, ke BBW nya sama orang dewasa aja deh. Biar begitu masuk langsung ada yang ngantri hhehe tinggal saya lari-lari cari buku. 

Kamis, 30 Maret 2017

KAMYStory: Ikatan Kakak-kakak Perfect tapi Saya Adiknya

Kakak beradik. Serupa tapi tak sama. 

Si penulis itu bertanya dalam status FB-nya. Persoalan terbesar apa yang dialami dengan saudara kandung?
Saya menulis, "merasa terdeterminasi oleh kakak yang kebangetan hebatnya"

Dan voila, saya tidak sendiri. Hingga kemudian terucaplah kata-kata di atas oleh salah seorang pemberi komentar, "Ikatan Kakak-kakak Perfect tapi Saya Adiknya" 

Saya geli setengah mati membacanya. Rasanya ngenes tapi bagaimana gitu. 
Saya punya tiga kakak. Lebih tepatnya dua abang dan satu kakak. Ketika saya bicara tentang kakak yang membuat saya terdeterminasi itu biasanya merujuk ke kakak saya, yang berada persis di atas saya. 

Sulitnya adalah, dia itu hebat segala-segalanya. Orangtua selalu memasang standar yang telah diraih kakak saya, untuk saya capai pula. Dan lama-lama aku lelah, karena memang tak kunjung bisa mencapainya.
Di kalangan ninik mamak saya lebih sering dikenal sebagai, "Ooooh, adiknya Dara,ya?"

Saya baru bisa terlihat setelah kakak saya kuliah s2 di luar negeri. Bayangin, perginya kudu keluar negeri lagi. Sedangkan gue ngedeprok aja di mari. ^^

Tidak hanya keluarga, teman-temannya pun begitu. Ketika saya berjalan, saya tak kaget lagi jika ada yang memanggil, "Dara!" dan saya jawab sambil terus berjalan, "Adiknya!"
Ironisnya, kakak saya selama ini malah merasa tumbuh tanpa pujian dari orangtua. Well, lebih tepatnya pujian orangtua itu ada, hanya saja tertuju semua ke saya. Dengan kata lain, salah alamat. Jadi, kepribadian dan prestasi kakak saya dipuja-puji di luar sana hingga saya sesak napas, kakak saya malah merasa rendah diri karena pujian dari orangtua sendiri tak pernah sampai padanya. 

Nah loh. Pelik lah hidup ini hehehe .... 

Jadi bagaimana kabar saya sekarang? Hmm ... yah lebih baik hahaha ... Mungkin setelah saya menetapkan bahwa "adikNYA" bukanlah kata milik, melainkan sebatas kata keterangan dalam silsilah keluarga bukan silsilah jalan kehidupan saya secara pribadi.

Apalagi setelah membaca  tentang cara kerja otak masing-masing individu. Kakak saya (dan juga ibu saya) adalah orang yang menjadikan prestasi sebagai mesin bahagianya. Orang-orang seperti ini senang mencapai sesuatu yang terbaik dan berharap diapresiasi, terutama oleh orang-orang terdekatnya. Sedangkan saya banyak menggunakan otak tengah, alias bisa semuanya tapi tidak jagoan. So, terimalah nasibmu, naaak. Cara kerja saya terbalik, apa pun hasilnya, yang penting progresnya membuat saya bahagia. Jadi menyandingkan kakak saya dalam sisi mana pun, apalagi dengan kacamata orang kebanyakan, tentulah saya kalah di mana-mana. Udah kalah, tidak bahagia pula. 

But it doesn't mean I hate her. Wong dia yang ngasuh saya.  Saya hanya perlu menerima diri saya apa adanya. Dan berbahagia atas apa pun yang diraih kakak (dan abang-abang) saya.  

Bagaimana dengan anak-anak?
Hmm, saya suka bingung sebenarnya. Misalnya: ga mau si bungsu dapat baju lungsuran terus (pengalaman pribadi), tapi baju kakak-kakaknya banyak yang masih bagus (mak irit lah). Ga pernah membandingkan, tapi anaknya minta disama-samain melulu, kalau ga disamakan dibilang ga adil. Hadooooh. Ini masih mending si bungsu belum bisa ngomong bener. 

Saya jarang kasih pujian but I said thank you karena saya merasa semua anak itu terlahir hebat. 

Ketika si sulung memberikan hasil ulangannya, yang saya cari letak kesalahannya. Coba ya, Amiiiii ....
Ketika saya tanya, "kok ini bisa salah?" 
"Iya, lupa" Jawabnya
"Kok bisa lupa?" Si Ami mulai nyebelin.
"Ya namanya juga orang, emang ga boleh salah?" Nah loh. 

Saya pusing deh. Saya sih pasrah lah kalau suatu hari anak3 saya pada komplain tentang berbagai kesalahan saya dalam pengasuhan. Eh, sekarang juga sudah sih. Hehehe .... Namun, dengan segala kekurangan saya, selalu berharap bahwa Tuhan selalu memberi perlindungan dan berkah pada anak-anak saya dan seluruh anak-anak di bumi. Untuk menjadi yang terbaik dari diri mereka, bagaimana pun orangtuanya. 

You don't have to be the best, but do your best and be happy.

Rabu, 04 Mei 2016

RABUku: Belajar Seks sejak Dini tanpa Heboh


Kalau baca berita akhir-akhir ini sedang ngeri-ngerinya ya, jangan-jangan memang betul bahwa Indonesia sudah darurat keamanan terutama untuk anak-anak dan wanita dengan banyaknya kasus perkosaan yang terjadi. Bagi mereka yang paham kondisi ini, berbagai cara dilakukan para orangtua untuk melindungi anak-anaknya, salah satunya adalah mengajari seks pada anak sejak dini.

Hah, kecil-kecil diajari seks? Seks itu alamiah. Itu yang saya pernah dengar terucap dari salah satu tokoh. Hehehe ... mungkin banyak yang tidak tahu bahwa kata ‘seks’ tidak melulu berarti ‘hubungan intim’. Seks itu adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh pada umumnya dan alat kelamin pada khususnya.

Bahkan dalam agama pun sebenarnya juga sudah ada semacam pendidikan seks sejak dini. Seperti memisahkan tempat tidur anak dari orangtua paling lambat di usia 7 tahun, memisahkan ranjang anak perempuan dan anak laki-laki bahkan sesama anak perempuan tidak boleh tidur dalam satu selimut. Dan masih banyak lagi.

Dr. Boyke Dian Nugraha dan Dr. Sonia termasuk dari mereka yang peduli bahwa sudah saatnya bagi masyarakat Indonesia untuk menyadari pentingnya pendidikan seks bagi anak. Jika seorang anak memahami arti tubuhnya maka dia pun akan menghargai tubuh orang lain sehingga masing-masing pihak saling menjaga. Mulai dari mengenali tubuhnya sendiri, hingga bisa melindungi dan menghargai tubuhnya. Hal itu niscaya akan mengurangi drastis tingkat pelecehan bahkan perkosaan.

Oleh sebab itu beberapa waktu lalu, buku “Adik Bayi Datang dari Mana?” diluncurkan. Dengan mengundang Maia Estianty sebagai endorser, Dr. Boyke dan Dr. Sonia ingin ke depannya anak-anak ini akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan menghargai satu sama lain.


Sejak kapan sih pendidikan seks harus diajarkan? Begitu si anak bisa berbicara, menurut Dr. Boyke, sewaktu saya bertanya dalam proses penulisan bukunya . Bagi para orangtua pasti mengalami kan ketika si anak mulai bertanya yang ‘aneh-aneh’ seperti “dari mana adik bayi berasal?”. Nah pada tahap ini sangat tidak disarankan berbohong tetapi juga bukan berarti vulgar. Nah, gimana caranya? Itulah gunanya buku ini.

Buku ini bisa digunakan baik untuk orangtua pun untuk anak karena memiliki lembar khusus di tiap bagian. Lembar orangtua dan lembar anak. Hal-hal yang dibahas dapat dikonsumsi untuk balita hingga remaja, mulai dari perihal mandi bareng, hingga menstruasi pertama. Bisa digunakan untuk anak laki-laki dan perempuan, mulai dari apakah anak laki-laki boleh main boneka hingga tumbuhnya jakun. Semuanya dibahas dengan pendekatan pengalaman pribadi alih-alih teori semata.

Sungguh menyenangkan saat saya diajak terlibat dalam penulisannya. Waktu itu saya tengah hamil besar anak ketiga dan banyak dari pertanyaan yang saya ajukan berasal dari pengalaman pribadi karena saya sudah punya sepasang anak laki-laki dan perempuan. Walau saya termasuk orangtua yang terbuka tapi ketika melihat anak-anak mau ciuman karena hendak meniru adegan Anna dan Kristoff di Frozen, saya pusing juga. Dan hal-hal lain yang mungkin kelihatannya sepele atau lucu ternyata bisa menjadi cikal bakal pelecehan jika tidak ditangani sejak dini.
Buku ini akan sangat bermanfaat untuk para orangtua yang peduli pada masa depan anak-anak dan untuk Indonesia yang lebih aman bagi semua.

Buku yang diterbitkan oleh Noura Books Publishing ini bisa didapatkan secara online di toko buku terdekat dengan harga Rp.59000,-. Selamat membaca ^^


Kamis, 11 Februari 2016

KAMYStory: Memisahkan Adik dari Kakaknya

Judulnya seakan kejam sekali ya saya hehehe ... Hal ini dikarenakan banyak orang yang bertanya kenapa saya tidak memasukkan si anak tengah ke playgroup yang satu yayasan dengan TK si sulung. Biar sekalian antarjemputnya. Lagipula kasihan kok si anak tengah ga sekolah sedangkan kakaknya asyik-asyikan di TK.

Memiliki kakak beradik yang akrab itu memang anugerah. Safir menyebut kata 'kakak' sebagai kata keduanya setelah 'ayah'. Dia selalu mengikuti yang dilakukan kakaknya. Hingga kemudian saya merasa ada semacam hubungan tidak sehat akibat keakraban ini.

Hal ini terlihat ketika bermain di taman. Jika bersama kakaknya, ketika ada anak kecil lain, si anak tengah akan beringsut ke kakaknya. Jika tidak ada kakak saat bermain di taman, si anak tengah akan seperti mainan kehabisan baterai. Ngegelendooot aja. Berbeda dengan kakaknya yang tak sungkan sok nimbrung. Memang sih si kakak ini memang cewe dominan dan suka mengatur, jadi deh makin ga inisiatif si anak cowo ini.

Kecurigaan saya semakin nyata saat saya masukkan keduanya ke Gen Cerdik untuk subjek yang sama pada awalnya. Dan benar saja, pada beberapa materi kreativitas, si anak tengah lebih suka melihat kakaknya saja alih-alih menciptakan sendiri. Setelah beberapa bulan di Gen Cerdik, saya pisahkan keduanya di salah satu subjek, dan nyatanya di rumah ketika si kakak tidak di rumah, si anak tengah bisa merangkai lego sesuai imajinasinya sendiri.

Kemudian si kakak sudah waktunya masuk TK Besar, si anak tengah masih di Gen Cerdik. Masih dengan misi memisahkan demi mengembangkan. Eh dilalah, si anak tengah kehilangan semangat belajar. Alasan dari dia sih macam-macam, tapi yang pasti adalah dia kehilangan kakaknya. Berbeda dengan kakaknya, si anak tengah ini tipe one on one. Dia banyak belajar kosakata dari kakaknya. Dia bukan anak yang mudah menyerap materi atau instruksi jika instruktornya sembari sibuk mengejar bocah-bocah kecil. Sehingga si anak tengah sering menghabiskan waktu duduk di pojokan sendirian. Dia lebih senang menghapal lagu-lagu yang dipelajari kakaknya di TK ketimbang yang dia pelajari sendiri. Kalau saya tidak menyebutkan subjek yang tepat mungkin saya tidak akan pernah tahu yang dia pelajari sendiri. Setelah tiga bulan yang terasa berat baginya, akhirnya saya hentikan program di Gen Cerdik. Daripada dia jadi ilfil disuruh berkegiatan bersama kawan-kawan seusianya.

Dengan menghentikan kegiatannya di Gen Cerdik, saya sebenarnya ingin menunjukkan sisi positif dari berkawan yang seringnya ditemukan di instanti pendidikan. Dia mulai resah ketika berulangkali menemani kakaknya menghadiri pesta ulangtahun kawannya--dan jadi berbagi goodiebag. Dia iri dengan kegiatan-kegiatan ekstra dari sekolah kakaknya setiap bulan. Tapi yang bikin sebal, ketika saya masukkan dia untuk ikut futsal, dia melempem lagi di pojokan. Minta ditemenin lah. Ngeliatin ibunya terus. Pelatihnya ga dianggap. Bilangnya sih malu. Tapi kalau kakaknya masuk ke lapangan, dia langsung on.

Awalnya saya pakai cara keras seperti langsung meninggalkannya di lapangan karena gemas dengan gayanya yang gelendat-gelendot mengeluh ini itu, tapi malah jadi drama. Kemudian saya baca: jika anak penakut mungkin karena Anda kurang menyemangatinya.

Jadi yah sudah, saya coba antar ke tempat futsal lebih awal. Ikut tendang-tendang bola sebentar. Menungguinya di luar lapangan dengan semangat tim hore. Hasilnya? Yaaah lumayan deh, setidaknya dia ga tidur-tiduran lagi di lapangan.

Sementara si kakak punya pendekatan yang lebih menarik. Saat kami datang menjemput kakak di TK, si kakak mengajak adiknya memasuki seluruh ruang kelas dan menyuruhnya menyalami guru satu per satu. Jadi si anak tengah pun mulai berucap, ingin masuk TK seperti kakak. Namun saya bilang, "Tunggu. Dan kalaupun nanti masuk TK, kakak sudah tidak TK lagi di sana." dia sih angguk-angguk saja.

But again, memisahkan dua saudara ini ada efeknya juga. Seiring si anak tengah mencoba meningkatkan level kepercayaan dirinya, semakin sering pula mereka bertengkar. ^^` yah katanya berkonflik itu bagus biar belajar saling memahami hehehe ... Ah entahlah, pe er orangtua ga habis-habis hehehe

Rabu, 09 Desember 2015

RABUku: Emak-emak Belajar Hidup dari Rumi


Menyebut tokoh tasawuf ini kebayangnya bacaan beraaat banget. Namun, saat menerima buku ini .. Rasanya sayang kalau ga dibaca. Bukunya dikemas cantik dari luar sampai ke dalam.


Saat Festival Pembaca Indonesia akhir pekan lalu, ada talkshow buku ini. Saya semangat ingin pergi karena selain sudah lama ga main di komunitas buku, juga karena ingin bertemu mantan bos saya yang sekaligus penyusun buku ini, Pak Haidar Bagir.


Dan sebagai non pemburu tanda tangan, saya sudah sodorkan buku sebelum acara dimulai. Maklum bawa tiga anak, ga yakin bisa stay hingga akhir apalagi acaranya jelang makan siang.



Bertempat di tower 2 Synthesis Square Gatot Subroto, acara dimulai pukul 11.30 dengan dibuka oleh pengamat sastra Maman Muhiyaman. Dalam pembukaannya itu pak Maman berpendapat bahwa puisi-puisi Rumi yang dipilih dan diterjemahkan oleh Pak Haidar ini bukanlah puisi yang menganut paham "semakin rumit bahasanya, semakin tidak dimengerti, semakin bagus". Puisi-puisi Rumi begitu ringan hingga berbicara tanpa hijab. Seperti hati Rumi langsung bicarapada pembacanya. Memang karya Rumi umumnya mampu menggedor hati pembacanya.


Hal ini diamini oleh Pak Haidar. Kumpulan puisi ini berasal dari kumpulan cuitan Pak Haidar di twitter. Ditulis setiap jam 9 malam dan dinamakan "Rumi Night". Sesi ini diklaim sebagai sesi yang paling sering di retweet di akun beliau.  Seperti halnya siaran radio di atas jam 9 malam tentu bisa ditebak puisi macam apa yang dipilih. Puisi yang menggedor-gedor hati. Hati yang galau, hati yang kecewa, hati yang angkuh, hati yang minder ....


Sebagai seorang fast reader tentu tidak bisa menganut percepatan yang sama saat menikmati puisi. dalam tiga hari, saya pun belum tuntas membacanya. Bukan karena tidak paham, karena pak Haidar dengan terpaksa memberikan kesimpulan di setiap puisi Rumi. Kenapa terpaksa? Karena beliau tidak ingin membatasi persepsi pembaca dalam memahami puisi Rumi, tetapi karena banyak yang bertanya jadilah turut ditambahkan walau dengan font kecil dan warnanya terkadang saruh dengan latar belakang.


Oia kembali ke saya. Puisi-puisi itu lama tuntasnya saya baca karena di setiap usai membaca satu atau dua puisi, saya berhenti. Sesuatu memang telah menggedor hati saya. Hal buruk yang saya lakukan, ingin rasanya segera diperbaiki. Oleh sebab itu, saya menutup buku dan akan kemudian dilanjutkan setelah usaha perbaikan itu dimulai. Karena puisi-puisi Rumi mendorong kita memperbaiki diri, jadi kalau sekaligus dibaca akan overwhelmed.


Bahasanya? Tenang. Karena diambil untuk disiarkan lewat twitter maka Pak Haidar mau tak mau menerjemahkan dengan kalimat seefisien mungkin dan sesingkat mungkin jika tidak terpaksa membuatnya dalam dua kali cuit. Sehingga yang terjadi adalah penafsiran puisi Rumi yang mudah dipahami. Asal mau berpikiran terbuka, tidak merumitkan diri sendiri.


Seperti yang diduga sebelumnya, saya tak bisa hadir hingga usai. Saat pak Haidar tengah membicarakan destinasi tasawuf di Turki, saya harus undur diri. Anak-anak yang lapar bisa menimbulkan kekacauan hehehe ... Sampai berjumpa lagi, pak Haidar.


Jadi jika dikira emak-emak cuma tahan baca majalah atau novel-novel percintaan yang enteng, berarti harus coba baca kumpulan puisi ini. Sensasinya, rasakan sendiri ^.^

Kamis, 12 November 2015

KAMYStory: ‘Membaca’ Bersama Malika



Tanggal 12 november rupanya adalah Hari Membaca Nasional. Hmmm karena temanya KAMYStory, saya mau cerita tentang pengalaman membaca dengan anak pertama saya, Malika. Kenapa hanya anak pertama? Ya, karena dia yang paling lengkap fase-fasenya, sedangkan adik-adiknya cenderung mengikuti. ‘Membaca’ bersama Malika memiliki kenangan tersendiri, entah karena dia anak sulung atau karena dia Malika. Entahlah. Saya urutkan berdasarkan umur ya, mungkin ada juga yang mau  berbagi pengalaman membacanya bersama anak.

1.       0-1 tahun: Dari Nyanyian hingga Flash Card
Well, sebenarnya pas hamil pun saya sudah sering membacakan buku untuknya. Saya gunakan corong dari koran karena katanya suara saya jadi lebih bisa terdengar. Berbeda dengan suami yang bisa langsung ngomong di perut saya hehehe ... Setelah lahir, kebetulan saya dihadiahi boneka yang ada buku kainnya. Saya pikir kayanya tidak menarik jika hanya membacakan datar, akhirnya saya gunakan nyanyian. Malika termasuk anak yang cepat terhubung jika ada musik (lagi-lagi jangan-jangan karena saya perdengarkan Maxim dan Vanessa Mae saat hamil) dan dia suka pengulangan. Jadi tidak perlu punya banyak cerita, hanya cerita dari si boneka itu saja sudah membuat dia senang. Lembar angka-angka pun saya buat nyanyiannya.

2.       1-2 tahun: Satu Kalimat Satu Halaman
Saat saya hamil anak kedua, Malika baru saja lulus satu tahun. Dan saat itu dia sudah tidak lagi tidur di boksnya melainkan di kasur bersama kami. Mengulang rutinitas mama saya sewaktu kami kecil, saya bacakan surah-surah. Dan untuk ‘bacaan’nya saya gunakan flash card. Pilihan yang agak aneh sebenarnya hehehe ... well itu karena saya punya buku kecil untuk anak-anak berisi jenis-jenis serangga dkk. Jadi yah agak mirip flash card. Malam menjelang tidur adalah saat saya berulang-ulang menyebutkan nama-nama serangga dan bunga hehehe ... kayanya saat itu saya yang lebih sering tidur duluan.

Ketika hamil saya semakin besar, sehari-hari Malika sudah minta dibacakan buku. Waktu itu saya gunakan buku Seri Balitanya Dar! Mizan atau buku Noddy yang bahasa Inggris. Teksnya belum saya baca benar karena daya tahan Malika per halaman masih sangat rendah. Hanya bisa satu kalimat untuk satu halaman. Improvisasi sangat bermain di sini. Membuat nada baca naik turun. Yang pegal adalah, setiap buku harus diulang lima kali.


3.       2-3 tahun: Improvisasi Ala ala
Ada saatnya dia mulai mengeksplor sumber bacaan. Pernah dia minta dibacakan buku Pooh tapi saya hanya boleh bilang ‘kotak’. Dia hanya ingin nadanya. Kebayang ga, setelah baca buku 80 halaman dan hanya bilang ‘kotak’? Rasanya sulit banget move on dari kotak ketika diulang lagi bacanya tapi diganti dengan ‘bulat’.

Tidak hanya itu, dia juga minta dibacakan untuk buku aktivitas. Tentu tahu kan, kalau tulisan di buku aktivitas itu hanya berisi kalimat perintah yang sama di setiap halamannya? Nah, saya ga baca itu, saya jadikanlah itu sebuah cerita yang berkesinambungan antara satu gambar dengan gambar yang lain. Itu baru buku aktivitas, masih ada gambar anak-anak. Nah di hari lain, dia bawakan saya buku kreasi kue dengan fondant. Oalah, piye nyeritainnya.


4.       3-4 tahun: Kelihatan Hapalannya
Metode pengulangan masih dia terapkan hingga di usia ini, dan karena saya improvisasi dia suka protes jika ada yang salah atau berbeda. Dan karena improvisasi dan mau tidur itu bukan sahabat baik, saya selalu ketiduran dan kesulitan berpikir harus melanjutkan cerita dari mana, saya pun mulai membacakan cerita sesuai dengan tulisannya. Dan rupanya Malika memang kuat di hapalan. Dia bahkan bisa membacakan beberapa buku sendirian tanpa ada yang keliru kalimatnya.


5.       4-sekarang: Tak Ingin Berhenti
Malika masih belum bisa membaca tapi kosakatanya buanyak dan dia pun cerewet luar biasa. Kalau saya tidak membacakan buku sebelum tidur, nangisnya kaya apa ... Yah memang momen membaca buku selalu saya kondisikan sebagai momen netral. Mana bisa juga bacain buku sambil marah?

Pada usia ini, Malika memang jadi lebih spesifik bertanya. Kalau dulu baca cerita kami diinterupsi dengan dagelan dan tiba-tiba berkhayal ke mana-mana, sekarang dia benar-benar bertanya untuk setiap kata di setiap kalimat. Setelah dijelaskan dan ditanya lagi, dijelaskan lagi, ditanya lagi, dijelaskan lagi, akhirnya dia hapal. Daya tahan tiap halama lebih lama dan menuntut halaman yang lebih banyak. Apalagi saya baca untuk dua anak (yang satu lagi masih bayi, belum bisa minta) yang artinya setidaknya ada dua bacaan, kalau lagi senang bisa ada empat bacaan. Dan keluar kamar, biasanya tenggorokan saya kering. Belum lagi hapalan surah yang baginya menjadi lebih menarik kalau saya bacakan artinya. Ga bisa tiap hari sih saya bacain artinya, bisa gempor, karena ada sekitar 70an ayat yang dibaca. Lumayan juga ya punya anak, bisa baca juz ‘amma tiap hari ^^

Saya sebenarnya agak gimana gitu, membayangkan dia bisa baca sendiri nanti. Pasti akan ada lebih banyak pertanyaan. Dan mungkin dia akan mengurangi sangat mendekati saya dengan buku-buku barunya. Kok saya jadi sedih yak hehehe .... yah, walaupun sering bilang capek bacain buat anak sepanjang hari, tapi jika membayangkan momen itu tidak ada lagi, saya jadi merasa sunyi. ... Ternyata momen membaca itu bisa membawa efek romantis ya. Hmmm, Kira-kira dia mau gantian bacain buat saya ga ya?


Selamat Hari Membaca Nasional ^^ 

Rabu, 06 Agustus 2014

Amy's Story: Mentil, Pascasapih

Saya kira napas lega itu akan benar-benar terhembus saat akhirnya Safir tidak menyusu selama 24 jam. Melakukan proses sapih ke anak yang 24 jam di hadapan itu ternyata tidak mudah. Awalnya dengan dalih sudah besar, proses menyusu itu diberi jarak. "Bambanya (nyusunya) nanti kalau malam" lalu "kalau ada ayah, ga bamba"--ayahnya selalu pulang saat anak-anak sudah tertidur jadi ini hanya berlaku saat akhir pekan. Hingga akhirnya proses 'bamba' itu tidak ada sama sekali.




Safir pun bukannya tanpa proses adaptasi. Saat hendak tidur siang karena hanya boleh 'bamba' saat malam, dia pun mencari cara. Tidur di dada hingga posisi andalan adalah memposisikan bibir saya tepat di pipi atasnya. Jadilah saya tidur dengan seonggok kepala keras nan berat (kepala Safir memang lebih besar dari Malika).




Setelah akhirnya seharian tidak menyusu, saya menantikan gelagat aneh. Saat proses sapih Malika memang lebih mudah. Hanya satu dua kali dia terbangun di tengah malam hanya untuk melihat puting sekejap dan kemudian tidur lagi. Sedangkan Safir? hmm ...




Sejak awal menyusu, Safir memang saya larang mentil. Tangannya tidak boleh sambil gerepe-gerepe puting lain. Jujur saja, badan saya cenderung bereaksi galak kalau digerepe-gerepe, apalagi sama ayahnya anak-anak :p. Jadi, saya sun saja tangannya. Eh, rupanya dia anggap itu pengganti aktivitas mentil. Dan sekarang saya menghadapi bocah yang ga bisa lihat Amynya duduk sama tinggi atau tidur-tiduran. Bawaannya mau pegang bibir. Dipencet-pencet kaya adonan klepon. Kalau ketemu komeda di sekitar bibir, dia akan serius mengoreknya. Terasa kulit bibir kering? Dia akan cabut semua hingga mulus a.k.a bibir saya perih semua. Kebayang kan pas puasa kemarin.




Dan bagi saya yang tangki cintanya bukan sentuhan, rasanya gatal seluruh kepala ketika harus lip service selama satu jam karena anaknya tidak kunjung bisa tidur. Hadooooh.




Pernah suatu malam saya marah. "Udah, jangan pegang-pegang lagi kenapa sih?" Safir nangisnya sedih banget (mungkin juga aksi manipulatif), "terus pegang apa, dong?" tanyanya sambil terus menangis. Aksi manipulatif berhasil. Ya suds, pegang pipi aja. Iya, pegang pipi, lama-lama merosot ke bibir juga.




Saat tertidur pun dia ternyata suka cari pegangan. Oleh karena biasanya saya sudah kabur dari sisinya, kakaknya kena ulah pula. Kalau sama ayahnya ga asik karena ada jenggot.




Tahu sih, kalau dia sudah mulai pegang-pegang artinya dia lagi bosan atau sedang ga enak hati. Cuma ya bete aja, lagi masak ditodong lip service. Emang gue cewe apaan?




Ah, sudahlah. setidaknya proses toilet trainingnya lumayan lancar dalam dua bulan ini. Guess, ga bisa dipaksakan semua berjalan baik, kan?




Meanwhile, harus berpikir cara lain untuk mengalihkan ketertarikannya itu. Semoga Amy yang malas ini diberi petunjuk

Senin, 07 Juli 2014

Amy's Story: Ternyata Dia Rindu Teman-temannya

Sudah hampir sebulan sejak Malika bagi rapor kelulusan playgroupnya dan kemudian memasuki masa postpone sekolah formal. Oleh karena kebetulan juga masa liburan sekolah, jadi ya Amy belum pakai jadwal belajar di rumah alias emang belum bikin. Homeschooling memang menuntut ibu yang rajin nan aktif juga gesit dan tetap ceria-kenapa juga gue milih yang susah gue aplikasiin ya?

Seminggu berlalu, Malika senang bisa libur. Ga usah sekolah lagi. Saya masih rutin bawa anak-anak main di taman. Pernah juga iseng bertiga pergi ke taman Honda, sekalian beli bahan kue. Lalu ikut Amynya antar kue ke Ampera, yah walau jadi muntah-muntah karena naik mobil AC pagi-pagi. Kebetulan di penghujung minggu itu, alias hari Jumatnya, teman sekolah Malika berulangtahun. Ambil spot di taman Green Palace, divisi apartemen betulan di Kalibata City. Jadi saya memang sejatinya tidak punya akses resmi ke sana. Berhubung ada yang ultah jadi bisa masuk deh. Area taman ini ada kolam renangnya. Oleh karena Malika dan Safir baru saja muntah-muntah di taksi, saya tidak bawa set nyemplung. Lagipula ada teman kuliah saya datang dari Belgia, masa saya sibuk pegangin anak-anak di kolam?

Toh, akhirnya pada main air juga. Ketika acara ulang tahun selesai, saya mengajak Malika pulang, ada banyak alasan selain supaya saya bisa punya waktu bersama teman saya, Malika dan Safir sudah biru bibirnya. Jadi yah emang harus pulang. Eh, rupanya si eneng protes. "Aku  kan mau main sama teman-temanku. Masa ga boleh? Aku kan sudah lama ga main sama teman-teman. Amy niy, masa Malika disuruh main sama adek terus?"

Yaaah, ada yang curcol niy. Dan saya tiba-tiba terlihat seperti ibu yang mengisolasi anaknya. Habis gimana dong, di lorong tempat kami tinggal tidak ada yang punya anak kecil. Mau main ke tempat temannya ada di tower sebelah, yang artinya harus janjian dulu. Dan kebetulan orangtuanya baru ngurus anak kedua jadi yah ga enak sebenarnya menambah kerepotan. Kalaupun main di taman, entah kenapa pilihan waktunya selalu pas taman sedang sepi. Jadi yah faktanya, Malika emang cuma main sama Safir. Tapi emang itu ga cukup?

"Safir itu bukan temanku. Dia adikku. Safir kan tinggal di rumah aku. Kalau teman itu yang tinggal di rumah lain." begitu protesnya suatu kali saya hendak memisahkan dia dan temannya yang tak sengaja bertemu di taman.

Ya baiklah ratu cerewet, sepertinya kamu memang suka sekolah. Tapi sekolah main. Memang tepatnya saya bergabung di komunitas tertentu supaya anak-anak bisa bersosialisasi. Melakukan hubungan riil dengan orang lain. Eh tapi datang bulan puasa, semua klub kegiatan anak mungkin jadi berkurang. Sabar deh ya ... Sebulan lagi deeeh. Self reminder buat diri sendiri supaya lebih giat cari komunitas. Sementara itu, saya bikin daftar korban kunjungan. Cari tempat teman atau kerabat yang punya anak dan bisa dikunjungi di hari kerja. Baru satu sih, maklumlah kalau puasa itu Amy harus reschedule banyak hal (jadwal masak n ngantuk juga berubah) realisasi schedule main anak masuk prioritas ketiga. Akibatnya mereka jadi makin susah tidur dan makin aneh-aneh mainnya.

Saat beberapa hari lalu ketemu temannya lagi, saya traktirlah main di mal. Ga papa lah, asal jangan tiap hari. Bangkrut.

Akhir pekan lalu, karena kebetulan ayahnya ada pekerjaan tambahan di hari Sabtu, saya bisa mengunjungi salah satu teman saya. Oh, Malika senang banget. Ngoceh melulu sepanjang perjalanan naik kereta dan angkot. Dan kalimat yang terus dia ucapkan dari berangkat hingga pulang adalah, "Malika ga nyebelin, jadi Amy ga marah." "Kok Amy bisa ganti-ganti gitu ya? Bisa marah. Bisa baik." "kalau Malika ga nyebelin, Amy jadi baik deh."

Ok deh, kenapa gue terdengar buruk gitu ya reputasinya. Hadoooh. Anyway, masih ada setahun lagi yang harus saya jalani sendirian. Mudah-mudahan Amynya bisa terus semakin baik.

Kamis, 03 Juli 2014

Amy's Story: senyum dong, Amy

Hehehe, saya memang orang yang jarang senyum. Muka biasa aja. Ga terlalu mudah tertawa saat lihat sitkom atau stand up comedy. Makanya banyak orang mengira saya jutek di awal perjumpaan. Yah, didukung kontur muka juga sih. 

Sejak anak-anak semakin lincah, saya juga merasa rahang saya semakin kencang. Paling terasa sih ketika bawa mereka keluar. Walau hanya di area Kalibata City, mengajarkan tata cara sekaligus mengamankan anak-anak saat jalan kaki di jalanan itu seperti menggembala kambing-kambing lemot. Yah, kaya Bitzerlah, si anjing penggembalanya Shaun the Sheep. Kudu galak. Sharp.

Muka nyaris militer ini juga saya gunakan saat mengawasi bermain. Saya memang sengaja tidak mengambil jarak terlalu dekat untuk mengamankan anak-anak, karena saya punya lebih dari satu. Mereka bisa bermain di ujung yang saling berjauhan. Nah, oleh sebab itu suara perut dan muka militerlah yang jadi andalan saya memberi peringatan.

Rupanya, saya jadi terlalu sering menggunakannya.

Ketika anak-anak usai nonton Monster University dari dvd, seperti biasa mereka reka ulang adegan favorit. Untuk film yang satu ini, mereka suka adegan ketika si monster berjingkat ke kamar tidur simulasi mencoba menakuti robot anak kecil. Awalnya masih dengan karakter asli. Mereka jadi monster, Amy jadi robot anak kecil yang teriak ketakutan. Lalu kemudian mereka modifikasi. Karakter robot diubah menjadi teriak marah atau galak. Ketawa sambil kaburlah mereka. Setelah beberapa kali, mereka minta diganti jadi robot baik. Saya pun menanggapinya dengan menjadi robot yang tertawa terbahak-bahak. Eh begitu saya tertawa, Safir menubruk saya sambil cium-cium, "Adek suka robot baik." dan setelah itu diulang lagi dan dicium lagi. Terus begitu.

Saya pikir ini emang Safirnya aja yang jadi sering cium-cium pascasapih. Lalu ketika saya perhatikan lagi adalah sepertinya dia lebih suka lihat Amynya tertawa.

Atau ketika di kesempatan lain, saya sedang tidak mood main sehingga tidak punya toleransi untuk main asal-asalan. Saya pun memisahkan diri ke kamar. Setelah beberapa saat dikunci, saya buka dan Malika masuk menunjukkan wajah tersenyum yang dia gambar di kotak tersenyum. Saya hanya mengangkat secuil bibir atas saat itu dan kembali bersikap acuh, tidur-tiduran sambil beresin file di hp. Safir datang sambil tiban-tiban dan cium-cium, pegang-pegang bibir. "Iiiih, apaan sih, Dek."
"Adek, cuka Amy." katanya sambil terus gusel-gusel. Amynya masih acuh.
"Aku kan sudah buatin gambar senyum. Jangan marah lagi dong ... " kata Malika.
 Ini yang anak kecil siapa ya?

Yah, jadi Amy memang harus selalu ingat senyum dan tertawa. Lagian kasihan juga ya anak-anak, ga ada pilihan selain lihatin Amynya yang mood swing.

Aku akan berusaha, Naks. Fighting!!!!

Rabu, 02 Juli 2014

REVIEW: Dunia Ayah Dunia Papomics




A good husband is a good dad.
Belum diputuskan apakah kutipan di atas sejalan dengan yang akan dituliskan =P
Minggu lalu akhirnya membulatkna tekad jalan kaki 400 m dr Kalibata City ke Plaza Kalibata. Yah, secara peta memang bersebelahan, apalagi tower tempatku tinggal memang yang persis di sebelahnya. Namun, kami dipisahkan oleh rel kereta api dan lahan parkir, sehingga segitulah jarak yang ditempuh. Bukan perjalanan mudah karena sambil meninggalkan anak-anak dengan ayahnya yang artinya tidak bisa lama-lama dan belum lagi keadaan jalanan di luar Kalcit plus simpangan kereta adalah tanda di mana motor berkeliaran tidak tentu arah.

Tujuan besar saya adalah Gramedia. Eh? Emangnya ga ada toko buku di Kalcit? Ada sih, tapi kok tokonya kaya orang mau tutup usaha ya? Ga update. Ya terpaksalah saya ke Gramedia, yang godaan bukunya cukup besar hehehe. Saya ingin beli buku komik kompilasi Papomics dan Mamomics. Mamomics ini lebih dulu keluar. Dari judulnya yang tentang para jagoan komik ketika jadi ibu-ibu. Sudah lama saya menangguhkan membelinya eh rupanya keluar temannya, Papomics. Kali ini saya menjalani hari-hari penuh rasa tidak enak karena belum juga membelinya. Segitunya? Iya. Soalnya di Papomics ada karya abang saya, Muhammad Nurul Islam. Papomics sendiri merupakan kompilasi empat komikus jantan, Harris, Harry Martawijaya dan Oyasujiwo. Dan  satu cara mendukung karya ini ya dengan membelinya. Beli loh ya, bukan pinjem, minta, apalagi fotokopi.

Karya abangku ini juga bukannya belum pernah aku lihat. Kebanyakan komiknya sudah dipublis di multiply. Yang menarik bagiku adalah prosesnya, seperti biasa. Komik ini dibuat oleh Roel saat memulai perantauannya di Luton, Inggris. Dalam rangka mendukung sang istri kuliah s2 jadilah si Roel ini meninggalkan karier profesionalnya sebagai nonkomikus dan pindah bersama bayi perempuan berusia 9 bulan, Khansa. Kondisi perekonomian Eropa saat itu sedang terpuruk sehingga sulitlah bagi Roel mencari pekerjaan. Ditambah daycare di sana tidak menerima anak di bawah dua tahun. Beda ya sama di sini, bisa terima dari umur 1 bulan. Jadi jobless dan harus berhadapan sama anak bayi di negeri orang, tentu sebuah adaptasi yang besar. Sedangkan untuk mengaplikasi sebagai ilustrator harus bersertifikat. Oleh sebab itu, sementara mengais kesempatan dan untuk menjaga pikirannya tetap waras, dia pun menyempatkan diri untuk membuat komik. Ngomik memang sudah menjadi bagian dari dirinya sejak kecil. Pernah mengisi kolom komik di Annida yang merupakan hasil iseng-iseng mengomikkan cerbung karya Helvy Tiana Rosa. Saya ingat waktu pertama kali mendengar kabar itu dari abang-abang saya. Tapi nanti ya ceritanya ...

Abang saya ini bukan orang yang suka bermain secara fisik, jadi saya sudah bayangkan bahwa dia akan banyak berkomunikasi dengan anaknya lewat gambar. Pasti lah dia mengalami masa-masa 'dianiaya' anak disuruh gambar ini itu. Ini tertuang dalam judul 'Anda Meminta Kami Menggambar'. Kisah Roel dan Khansa ini kalau dilihat dari kacamata dosen saya dulu, Pak Marahimin, bisa jadi sangat bagus karena memuat satu hal yang beliau sukai. Latar belakang. Perantauannya menjadi hal yang menarik di Papomics. Saya paling suka ilustrasinya tentang 'Rhyme Time'. Saat dulu diceritakan, saya terpikirnya sebuah kelas yang gimana gitu. Yah, mungkin karena yang cerita tukang gambar jadi ga valid ceritanya. Namun, di Papomics, saya bahkan jadi ingin membuat sudut rhyme time di Kalibata City. Hal sederhana, tidak perlu banyak peserta, tidak perlu bayar ... (cita-cita tinggi dari ibu-ibu yang galak).

Eh tapi ga adil dong ya cuma ngomongin abangku, kebetulan ada satu teman Roel yang saya kenal, namanya Haris Nurfadhilah. Dia membuka Papomics dengan gambaran ayah pada umumnya. Pergi gelap pulang gelap. Banyak lembur. Sedangkan dia sendiri memiliki dua bocah lelaki yang menunggu di rumah. Bukanlah hal baru lagi bahwa seorang ayah sejatinya tetap harus meluangkan waktu bermain dengan anaknya setidaknya 20 menit sehari. Itu kalau mau anak laki-lakinya jadi lelaki sejati. Ga mungkin semua belajar dari ibunya.

Lucu juga, mengingat konon si Harris ini sangat sibuk tetapi masih meluangkan waktu membuat komik tentang anaknya. I guess, ekspresi cinta memang harus terus diungkapkan. Toh, goresan cinta ayah ini menjadi kenangan manisnya setiap kali teringat anak lelaki keduanya yang kembali ke pelukan rahmatullah. Love in the hand of illustrators is begin from a scratch.

Lainlagi dengan Harry Martawijaya. Hampir mirip dengan abangku yang jadi full time dad, Harry ini bekerja dari rumah. Walau mati gaya saat harus ambil rapor yang isinya ibu-ibu semua atau kemudian dimafaatkan anak-anak sebagai kreator untuk berbagai kostum acara sekolah. Toh, butuh kekuatan super juga ketika 'Mama Pergi'. Namun, dia patut bangga pada dirinya yang tak pernah absen mengantar anak-anaknya, berada di rumah saat anak-anak tiba dari sekolah, dan tidak pernah ketinggalan segala rapat sekolah. Terdengar seperti ideal, tapi ada banyak kerja keras di belakangnya.

Lain lagi Oyasujiwo. Ilustrasinya menghiasi sampul depan Papomics. Di sini saya diumbar sebuah keriuhan keluarga beranak ... Empat. Dengan nama-nama yang unik. Ini ibarat keluarga Hoed versi komikus. Kalau baca deskripsinya mungkin banyak yang istigfar karena terkesan liar tapi saya juga mengalaminya dan merasa rada tenang membacanya. Saya rasa keluarga ini termasuk keluarga kreatif nan ceria, butuh banyak belajar kayanya sama mereka. Maklum, saya mungkin bisa main ekstrem dengan anak-anak tapi seketika emosi saya jadi drop dan kemudian merusak endingnya. Eh, curcol.

Anyway, ga rugilah bacanya. Mungkin para ibu jadi kepingin punya suami kaya mereka. Suami yang ga diem-diem saja di rumah. Yah, walau ga bantuin nyapu tapi setidaknya main sama anaknya. Main beneran loh ya, bukan mainan tablet. Karena pada saat-saat seperti itulah suatu hubungan anak dan ayah terjalin.

Kesulitan mencarinya? Hubungi saya saja, akan segera dikirim ke alamat anda hehehe .... (maklum abang saya kan jauh, ga bisa jualan langsung di sini)

Senin, 05 Mei 2014

Anak “Kampungan” yang Tinggal di Apartemen

Kids today? Bagi saya bukan berarti anak-anak yang menenteng gadget terbaru.

Sering sekali saya mendengar komentar orang-orang ketika melihat  Malika dan Safir antusias main di jalanan atau sangat menuntut mengajak ke taman saat berada di rumah nenek atau eyangnya, “Senang ya bisa main di luar. Kalau di apartemen ga bisa lari-lari.”


Saya sih senyum-senyum saja. Justru karena anak-anak  sering main di luar selama di apartemen makanya mereka berjiwa outdoor.




Kalau sudah ada di taman yang memang ada di setiap tower di lingkungan apartemen kami di Kalibata, itu artinya bebas bereksplorasi. Buka sandal dan merasakan setiap tekstur permukaan mulai dari semen, berbatu, rumput, berlumpur, hingga berkubang air;  mau lari, berjingkat, bergelantungan, bahkan merangkak pun boleh. Sebuah pemandangan yang sangat menggugah anak-anak kecil lain. Hehehe ....


Kalaupun terlanjur memengaruhi anak-anak lain, saya lebih sering menjawab sendiri dalam hati ketika para orangtua dan pengasuh mereka berseru, “Hei, kamu sudah mandi!” Yah, kalau dibawa ke taman jangan mandi dulu lah.


“Nanti baju kamu kotor.” Pakai Rinso, doong.


Eh, beneran pakai Rinso biar nodanya hilang. Kalaupun lupa segera mencuci usai dikotori anak-anak, noda yang samar-samar itu jadi cerita bagi saya ke anak-anak. “Tuh, lihat celana kamu sobek.  Jatuh di mana? Kenapa? Lain kali berarti kamu harus apa hayo?” atau “Nih, noda lumpur. Waktu main di mana? Bikin apa sih?” Dan seketika nuansa bermain di taman muncul kembali ketika kami kembali ke unit dalam bentuk cerita seru.


Seseru video yang diunggah Rinso Kids Project ini.






“Seberapa sering Anda melihat wajah bermain anak Anda?” Kalimat tanya yang tertulis di akhir video.


Saya menjawab sendiri. Sering. Saya menyadari tengah menciptakan syaraf-syaraf baru di otak mereka ketika melihat wajah-wajah mereka yang seolah ingin terus melebarkan senyumnya, jeritan-jeritan senangnya (yang mungkin mengganggu bagi orang lain), dan perasaan akan sebuah kebebasan. Atau ketika melihat mereka serius meniti sesuatu agar tidak jatuh. Dan wajah puas ketika berhasil melewati tantangan.


Rinso Kids Project sendiri adalah program “penyadaran” bagi orangtua untuk melihat dari sudut pandang #kidsToday. Ada empat video yang diunggah, Wajah Bermain, Menjadi Anak Kecil, Anak-anak Perkotaan, dan Anak-anak yang Sibuk. Tiga di antaranya (Wajah Bermain, Menjadi Anak Kecil, dan Anak-anak Perkotaan) sangat berhubungan dengan saya. Maklum, kedua anak saya masih usia balita dan saya tidak terobsesi dengan segala les akademis guna menciptakan bayi genius.


Dalam video Anak-anak Perkotaan, sebenarnya lebih mewakili yang saya rasakan (atau mungkin yang dirasakan anak-anak). Ketika memiliki tempat bermain di mana tidak ada yang melarang ini itu atau bisa berjalan di trotoar dengan aman dari serangan motor yang tak terkendali lajunya, sehingga Amy tidak perlu senantiasa memasang muka militer setiap kali terpaksa keluar dari komplek apartemen hanya bersama anak-anak, dan yang lebih terpenting adalah lingkungan yang aman dari tindakan kriminal dan asusila.


Sedangkan di video Menjadi Anak Kecil, saya merasa Malikalah yang tengah bicara dengan saya ketika salah satu narasumbernya berkata, “Maka dari itu, kami butuh bantuan Anda. Karena ketika kami bermain pasti akan kotor dan berantakan.” Entah kenapa kalimat itu terjemah dalam otak saya menjadi, “Jangan marah-marah, Amy.”


Ya, baiklah. Kan ada Rinso.



Jumat, 31 Januari 2014

Amy's Story: Scheduling My Cellphone's Time

Go xi fa chai people =D

Well @kalibatacity feels like we are celebrating korean lunar  new year (is it the same?). Anyway, after three new years in three months, I've finally decided what my resolution is. Yup, just one.

 Actually I have plenty of them, but I prefer to announce just one resolution to the world.

My resolution for 2014 or whatever the latest year is to scheduling my cellphone's time. You may not know, but I used my phone to check my fb accound like hundreds of time in a day.

Am I famous? No.
Do I have lots of clients to be handled? No
Do I make money from it? Most of them, no.

And on the last new year eve, Malika told me and her father, "Ayah, stop smoking or you will be dead. Amy, stop playing around with your cellphone. play with me."

Bulls eye everybody.

It reminded me of one of the text of Melanie Subono that I edited a couple weeks ago. She wrote, Why do we bother to answer someone else outthere when you don't have any energy to give a nod, an answer to someone that sit in front of you?

 Admit it, we do that for many time yet we are not the one who to be called gadget generation. Can you imagine what it would be when our kids grow bigger? Maybe an exactly the same scene as the movie Wall E.

I am not proud of my habit. Many times I asked myself:
"Why do you have to pretend to be busy with nothing, while you are the one who decided to resign from your office and said will use your time to take care your kids?"
"Why do you have to act busy with business when actually you haven't have that much demand either for baking nor editing? Why don't use your spare time with your kids before you are really busy with business?"
"Why do you have to open your social media account when you don't updating them?"
"Why ... ?" oh why ....

But that many times I also smile to my tought and continued tapping. This is a real bad habit.

These weeks I've tried to make my cell's time efficiently valuable. I actually love when I posted a blog and then reading people's comments, getting too excited to keep the trending. maybe I should hold it a little while. A pause moment for three hours, maybe?

And to make it valuable, I have to make sure that I do something that has something to do with the business. Not just becoming a passive internet geeks, not getting quite smarter but surely not being more popular or richer. Hey, you need to make a mark of your own, right?

Sometimes I used my cell as a denial. Especially when I got sleepy by the afternoon while the kids were still on fire. Just to make my eyes open, I kept busy with my cell. But unfortunately, it won't do for the kids because you are not BEING with them. They became even more brutal by this.

You are welcome to be late for any news, but don't be late to recognize what had/is/will happen/ed with your kids. Oh, I understand this sentence so much, but again in the name of denial or excuses I said to myself, "But sometimes I need a break!" Too bad I took a too long break. And still not feeling grateful about it.

Yes, grateful. I need to learn more about that. I should have feel grateful when I haven't had big business yet, so I can focusing myself with me and my kids. There are lots of mental homeworks to be accomplished. This is the time, maybe one day you will busy with business but at that time your kids might become your extra hand. =D

I know what my problem is, but too lazy too change it.  I guess 'lazy' is the keyword for this year. No more laziness, Amy.

Keep the spirit. Burn it up! And run fast ... Beautifully ... And let your cells updating your social media, they can wait. They will follow. But never leave your kids.

Need to mark those sentences on my mind. That was my other brain who wrote it =P
Fighting, moms!



Kamis, 09 Januari 2014

Amy's Story: Try to Let It Go

Kids's hobby has become more expensive nowadays. I am talking about how kids are allowed to operate a digital camera by themselves.

Actually I don't really agree of letting Malika hold a camera by herself, but Malika has shown her interest on taking pictures in a very early age and her father is also like photography, that's why I let her do that.
I believe that when you decided to give something to your kids, you also give your heart to let it go, in case it broke or gone.  Ikhlas. Don't give them your home keys if you don't want to lose it. Don't give them things and threat them with a punishment.

I know that. I keep repeating in my head not to do anything that will make my kids less interest. Let them grow. I said repeatedly.

But when Malika was busy making selfie
pictures and she became too excited, the camera fell a couple times and at the last time it caused damage on the screen. I've seen this before but today was the worst and I am not sure that it will recover by itself (by another accident) just like before.

And when I mourned while holding the camera, Malika just said a quick 'sorry' and continued to play other thing. I was quite upset and asked her why did she feel easy about it. Didn't she know that it was valuable? And I have many sentences that my mom used to say everytime I broke things, it was in my tounge already. But Malika said, "I've said sorry and there is nothing I can do."

I felt like I want to bite her but I know it won't change a thing. Like she said, there is nothing we can do. And feeling unsatisfied, I decided not to play nor talk with her (and her brother) for almost an hour.

Well, I do have some housekeepings things to do, but at least I could do this and ignoring them that keep asking me to play with. And in my silence, my mind remembered my mom's childhood story.
My mom was born prematured, people said she looked like a rat because she was very small. But she survived but was finally able to walk by the age of four. As the oldest daughter in minang's society, my mom was asked to do houseworks in early age. And because her premature, she was hard to find her balance and kept breaking plates whenever she cleaned it. And that time, you should walk very far to the river to wash it. And my mom always remembered how her mom would get angry about it and would say mean words. While my father has almost the same story. He told us how his mom would take the breaking glass and tried to wipe it on his armpit just to scared him so he won't break it again next time. Such a horror.

But then my father said, that their parents had never learn about the life of things. When it broke or gone, it means it was the end of its life. And everything would died eventually. That's why, no need to feel hard about it.

This is true, but to really accept it, is hard to do. Hery himself is a person who can't keep his belongings. I barely found his childhood stuff, even his pictures, because he doesn't really pay attention about it. He has almost everything when he was kid but in the end he doesn't own it anymore. I said to him, if his wife doesn't has a life maybe he will lose it too.

While I like keeping things. Not because I have alot, but because I don't always have everything. And because I like to make some handy arts.

When I have kids, I am still not sure how am I suppose  to do. I mean, I've seen how my nephew got obsessed on everything and kept her belongings tight. Somehow, I don't really like it. But seeing how Malika (and Safir) could easily break things and still feel happy after that, is also annoyed me.

So after almost an hour, I finally say something to her.  that I was sad about the camera and she could not able to use it now. And if one day she will use a camera again (her father promised her intax cam on her birthday-hey I want it too), she need to promise to take good care of it. And when she saw tears in my eyes, at that time she also felt sad. I guess what really matter for her is not the thing but the human =) and who knows, maybe years from now she will capture many human soul from her camera.
#stilltrying
#my500words

Selasa, 07 Januari 2014

Make Your Weekend as You and Your Child's Time Only

Kalibata City is an affordable apartments' superblok that lied very close to the centre business of Jakarta. People who lived there usually uses this reason to make their arrival at home sooner.

At first many people doubt the convenience because the unit were very small. How can you build a family there, where it was hard for your kid to play around. Well, the kids might not have enough room to run around in the unit but they are able to do that at the play area in every tower.

So if you think that living in an apartment means a private living, think again.

It has been a common that in certain time, there will be lots of kids playing there. Before 9 am, the sun spots filled with babies. I think this is the time when we started to see the sun as a bless from God. Then by afternoon from 12-2 pm is the time for the kids to have lunch and play around before they take a nap. Last, from 4-5.30 pm is the time for the kids to have dinner after taking a bath.

The question is who will be the one that accompany them? Well, because we have a small unit, many parents choose not to have a nanny. We can see many hot mamas here. Young, casual, update with many parenting ideas, but there also the classic one. Though sometimes we would be able to see hot papas =P

Meanwhile for parents who both have carrier, they could choose daycare or asking their parents to take care their kid or hiring a nanny, either they are permanent or not. Sometimes I got confused when the kids started to look like their nanies. Or when the nanny herself was quite modest. Is she a nanny or a relative?
Unfortunately, I was the one who've been accused a nanny by a nanny supplier. Oh, God.

OK, what I am trying to say is because I see this kids everyday, I began to identified them from their accompanion. I am not trying to look down to mothers whose have carrier, I was one of you once. But I feel sad when weekend come, the escorts didn't change.

When it was only the mother, the grandmother, and the worst is only the nanny whose again standing beside the kids.
I know for you who has jobs, Friday in Jakarta is like hell. And it took lots of energy for you to get home and all you want to do in weekend is to relax a little bit.

But if you have toddlers, weekend has no difference than any other days. And that's why you should keep wake up early and change position with your nanny. Let them do the domestic things and you take the personal yet intimate part. Take your kids to the play area and play with them, so we,your neighbours, could know the kids' parents. Don't you think that your kids might also want their friends to know their parents?

Maybe you think that you will play with them at the mal later on. But giving the opportunity to feed your kids completely to their nanny even on weekend is a shame. Or when you keep busy with your gadget on your weekend while taking your kids playing, we can't feel you, your kids don't feel you.

You might think that the nanny is your other hand, but if you make it 24/7, you are going to lose your kids. And by the time you realise it, it will be too late. And loneliness is your only friend that you can afford.

 Do you think your nanny has giving the best parenting to your kids? Don't you want to complete it with your touch?
I've asked too many questions to myself. But who knows? Maybe I was wrong. Maybe the kids don't feel insecure without you by their side. Maybe I don't know what is your real problems?

I just feel, looking at myself, being there 24/7 for my kids, literally, I still found lacks of me. How can you do it if you never spend time with your kids?
An article once said that parents should give minimum 10 minutes everyday for their kids only. If you can't do that on workdays, it means you owe your kids 50 minutes undisturbed time. Minimum. Would you do that?

Minggu, 05 Januari 2014

Amy's Story: Sending the Wrong Messages

It has been my issue for years that I in some situation such as PMS would become a monster in front of the kids. I've tried so many different ways to change or to delete it completely. Because it didn't has the same mission with my goal to become a nice yet good mother for my kids.

Until one day, I screamed at Malika, yelling at her, asking her the reasons she kept doing things that made me upset . Why did I put her in front of the bthroom. But Malika was just in her silence, staring at me with her big eyes, making me even more angry. And really wanted to make her cry and knowing that it wouldnot change anything than adding another lousy noise to your head.

I was asking myself, she always does this. I mean, did she understand the word 'why'? Even Safir could answer it before he reached two years old. How come she never get the point? She is three years old!

She is only three years old. My other side said with its lazy tone. Damn.

If there is anyone to blame, that it was me. It always me.

Suddenly I felt itch on my head. I tried to breath deeper and slowly. OK, it's time to change the strategy.

After everything calmed down, well me precisely, I asked Malika to have a conversation with me. I couldn't do this alone though I insisted not to live with my parents nor using a nanny. It was just me and the kids, so I let the kids participate.

On the second tought, I don't really want to be a perfect nice mother. I even don't know how to imagine that. I want my kids to see how their mother could fixed herself and growth. Because that's what life is about. You're making mistakes and then you learn from it and become a better person after. Hopefully.
So, that night, while lying down on bed, I asked Malika what did she feel when I get angry. She didn't answer.
I asked another question, why did she never answer me. She didn't open her mouth.

"Are you scared or angry?"
"Scared," she answered whisperly.

OK, one thing that I don't need from my kids is the fact that they are afraid of me. I need to repair this situation. I've sending them the wrong message.

Then I explained, that everytime she didn't answer me, her big staring eyes were making me more angry. "Whenever you scared, tell me and I won't get angry anymore."

She nodded at that time.

And after that night, she is being more vocal that she used to be. She gave lots of reasons which sometimes could be annoying. It is better to have an argue situation rather than a one side yelling. And if she has lost reasons, she will asking sharply, "am I not allow to say anything?"

At that time, I usually hold myself to ask her shut her mouth. Talk, girl. Don't be like me. Say whay you want to say. Don't keep it inside, like me. Or you will suffer the rest of your life. You will learn to talk wise earlier.

She dares to remind me whenever I get angry, in a soft and hard ways. She will be the one that defense her little brother when I feel upset with him. And Safir does the same after looking at his sister. He will be the one that screamed out loud when I began to yell at Malika. And sometimes when I tickled Malika, he will try to separate us. He tought I would hurt his sister.

Well, Malika still needs to learn more about being brave and being unpolite. It's a progress. So do I. At least now I have a human brake, untill I can disfunction my monster mode off.

But there are lots of homeworks that I need to be done while the kids is growing faster than my progress. The bigger they are, the mere challenges that I need to face. Truly, being a parents is the hardest work of all. And you can't expect big salaries or any other compliment. All you need to do is pray and keep doing your best. May our kids will be protected from any bad things inside and outside their home. May God keeps them safe.

Jumat, 13 Desember 2013

(Repost) Amy's Story: Aku Ada karena Aku Iri

(tulisan ini dibuat pada Agustus 2010. Masih kerja. Anak baru satu. Dan masih tinggal sama ortu. Lucu juga sbg pengingat ketika tanduk mulai kebanyakan tumbuh ketemu bocah-bocah tengil)
Postingan ini dibuat untuk menjawab postingan Roosie. Well, sebenarnya ga tepat juga disebut menjawab, melainkan hendak menunjukkan sisi lain untuk tema yang sama.

Aku adalah bungsu dari empat bersaudara. Walau lahir di negeri kompeni sana, tetapi fakta menunjukkan bahwa masa pertumbuhanku (dan hingga sekarang) adalah di Indonesia. Iya, Indonesia, tempat orang-orang bekerja untuk sesuap nasi, bukan untuk tujuan wisata liburan tahunan selanjutnya bersama keluarga. Kondisi ini menempatkanku pada status anak dari dua orangtua yang bekerja. Kala itu, tidak banyak orangtua yang bekerja dua-duanya. Setidaknya untuk angkatanku.

Sehingga aku selalu iri ketika main ke rumah teman selalu ada mamanya di rumah dan siap menyiapkan lauk tambahan untuk teman anaknya. Sedangkan aku, lauk sudah ada jatahnya masing-masing karena mama sudah masak jauh-jauh hari dan kalau ada teman mau makan di rumah cukup dikasih telor mata sapi (kebayang donk, aku makan ayam sedangkan temanku hanya makan telor).

Mama selalu menekankan untuk telepon ke rumah kalau mau pergi ke mana saja. Bahkan ketika handphone sudah bertebaran di mana-mana mama hanya ingin si anak yang menginfokan ke orangtua, bukan orangtua yang tanya-tanya. Kalau papaku sebaliknya. Dia masih mau mencari aku kalau aku pulang terlambat--waktu SD. Ketika sudah dewasa, papa biasanya tetap terjaga hingga aku tiba di rumah (walau dia tidak bilang, aku tahu dia sedang menungguku).

Sebagai anak dari kedua orangtua bekerja, aku tidak hanya menemukan bahwa aku jadi lebih mandiri, tetapi juga fakta aku sering diledek 'anak mba' sama guru-guru karena si mba yang akan datang kalau aku sakit di sekolah, juga fakta lain... tidak ada orang dewasa yang dapat melindungi aku di rumah. Harus sendirian berhadapan dengan om-om mesum di sekolah atau di rumah dengan kepolosan anak kecil dan buntutnya masih berjuang mengatasi trauma yang sering muncul terlebih setelah menikah (dan Hery jadi sering korban KDRT karenanya). Aku pun jadi parnoan.

Aku merindukan sosok ibu rumah tangga yang tetap bisa cari uang di rumah tetapi juga membuat kue paling lezat bagi anak-anaknya. Orang dewasa pelindungku.

Setelah menjadi orangtua di kota Jakarta yang kejam ini, praktis aku tetap harus bekerja dan meninggalkan Malika 12 jam setiap harinya. Keadaan ini senantiasa dibanding-bandingkan sama mama dulu. Ya iyalah, beliau bisa kerja dari jam 6 malam dan pulang jam 12 malam dengan gaji lebih tinggi. Itu di Belanda. Lha kalau di sini yang bisa begitu cuma pegawai klub malam.

Selama 12 jam itu, Malika akan bersama ayahnya hingga pukul 2 siang--karena Hery jadi asisten redaktur jadi ga perlu keluar pagi2. Pasca jam 2 akan diserahterimakan ke mama hingga aku tiba di rumah sekitar pukul 7 malam. Dan Malika tidur jam 9 malam.

Jadi kalau dihitung-hitung, waktuku bersama Malika tidak sebanyak ayahnya. Dan itu membuatku iri. Walau aku setiap hari telepon untuk menanyakan kondisi Malika (dan dikeluhkan sama mama), tetapi itu tidak sebanding dengan menyaksikan setiap hal baru yang dilakukan Malika. Padahal sekaranglah masa-masanya. Masa-masa menakjubkan melihat seorang bayi berjuang untuk bisa tengkurap lalu merangkak. Bayi yang begitu antusias untuk menikmati kehidupan.

Aku merasa berbuat begitu banyak karena dasar cinta. Tetap bekerja karena ingin Malika mendapat kehidupan yang lebih baik. Bangun tengah malam untuk perah susu hingga aku jadi kurang tidur. Tidak bisa ke mana-mana ketika weekend karena Malika belum bisa dibawa nonton bioskop dan tidak mau juga meninggalkan Malika di rumah saat weekend karena aku tidak bisa membelikan Malika waktu. Sedangkan Hery, tidak kekurangan jam tidur, jam kerja lebih sedikit, tetapi punya banyak waktu dengan Malika. Bahkan besok dia masih bisa nonton konser Ian Brown dan Kula Shaker.

Aku memang berusaha tetap ada karena aku iri. Walau itu berarti tidak pergi ke mana-mana tanpa Malika.

Betapa aku ingin mengamalkan sharing dari Gobind Vashdev, penuhi tangki cinta Anda. Karena aku tidak ingin mencintai Malika tetapi ingin Malika merasa dicintai.

Kamis, 12 Desember 2013

(Repost) Amy's story: Adaptation

I really want to write about this after I had a little bit rough discussion with a friend who is also a mom but avoid to meet her almost 1 year old kid with mine because of the pollution. Actually I want to make the argument longer by saying things like the pollutant in Kalibata is not as thick as Tj. Priok, I believe. I mean I'm not living in an industrial area. But, I prefer saying it here rather than in her status =D

No, actually this kind of thing makes me think twice. When I try to move a little backward then I will see that my friend consideration was fit to her. I mean she is not really a Jakartans and thinks that her campus is the center of civilitation, so I guess I should understand her uncovenience of things. When she said she doesn't want to make her baby uncomfortable, I believe it was her who feel uncomfortable. hey, my brother took his 9 months baby from indonesia all the way to england in a 16 hours flight.

To be able to adapt is every parents homework for their kids. If the parents feel fine, so does the kids. Well not every adaptation runs smooth, but you can through this, together.

Me my self is a kind of person who have a kind of level of insecure. I have problems with small area n crowded people inside it. So, I prefer getting on a cab rather than getting on somebody's livina with more than 10 peeps on it. That's why I don't really like a crowded neighbourhood. So when we attended arisan at north jakarta, I prepared myself a number of drinks. Because I know, the kids won't eat a thing due to the heat, the noisy, and all the 'sumpek' things. If it is important then u should attend it, I mean you can't say: i don't want to come to ur house because it's tiny and has no airconditioner. And you will never know what to prepared untill u really doing it.

For example when the first time Malika went to Bandung, she was still 4 months old. We were using office car and then a travel car to come back home. A day later, Malika cried all the time. At that day, we realized that a baby should have a massage after having a long travel especially when she was only on my arms during the road. Did I refuse to come to Bandung? No. I still did. And finally we have a better option to go there. By train. Because Malika oftenly throw up when using a travel car. U see? Small area, lots of people. That was my problem =D.

When Malika had a baby brother it took a long time for her to adapt. Especially we were moving in to the apartment just a month later. She didn't say she doesn't like her brother nor the house, when she could hardly sleep tight untill morning. Whining all the time. But did we move back to Tebet? No. at this situation, hugs and comforted words are really helpful. Though, it took me quite a  while before realizing it.

I remember one of Oprah show's about a dwarf family. Even they have their own house, they didn't design it in their standard. They were using normal standard. The father said that the reality out there is everything is normal standard, so they need to learn it first at home. That was bold for me.

It's like when u say to your kids, don't run or you will fall. I'd rather say, run and then u will learn not to fall, hard. But that's me. Because every kids are unique, then it makes every parents are unique. Enjoy the life lessons, parents =)

(as written on my fb's note March 16th)